"Hinata-chan, kau baik saja? Aku dengar kemarin Gaara kesini dan…" jawabannya menggantung begitu melihat adegan itu...

Not Too Late To Wait

Story by : Shan Sin

Naruto© Masashi Kishimoto

GaaHina

Romance , Hurt/comfort

Warn : Typo, Alur ngebut, cerita boring and pasaran

Sebenernya ini fic terinspirasi dari lagu Cinta Datang Terlambat - Maudi Ayunda (Kalau ga salah Maudi Ayunda kann ya?)

But, happy reading ^^

"Hinata-chan, kau baik saja? Aku dengar kemarin Gaara kesini dan…" jawabannya menggantung begitu melihat adegan itu, Hinata sedang duduk di atas kasur dengan sebelah tangan dipegang oleh Gaara dan tangan lainnya Gaara gunakan untuk menyuapi Hinata, ah begitu romantis.

"Naru-kun? Ohayou Naru-kun!" sapa Hinata dengan senyum bahagia melekat diwajahnya dan, seburat merah itu kembali memenuhi wajah gadis tersebut hingga terlihat lebih manusiawi dibanding kemarin yang seperti mayat hidup.

"o-ohayou Hinata-chan, aku kesini hanya untuk mengantarkan bubur gandum yang ku buat khusus untukmu" kalimat Naruto sukses membuat Gaara memberi death glare terbaiknya.

"a-aku juga akan pergi, Sai menunggu ku di…"

"Naru-chan, kau lupa bawa ini" orang yang sedang dibicarakan masuk juga dengan membawa bingkisan.

"Hinata, sudah baikan?" Tanya Sai beralih ke Hinata.

"Sudah sedikit baikan Sai-kun, terimakasih apel kemarin" jawab Hinata dengan senyum yang mengembang.

"Itu kan aku yang suruh Hinata-chan…" jawab Naruto dengan mempuotkan bibirnya memberi kesan imut di mata para Seme dan fujoshi.

"Kami pamit Hinata, permisi" akhirnya Sai dan Naruto pun berlalu, suasana menjadi hening ketika pintu berbunyi debam pelan.

"Sai?" Tanya Gaara dengan tampang demi-kamisama-apa-kau-bercanda-?

"kekasih Naruto-kun" jawabnya dengan enteng.

"kenapa kau tidak merasa sedih melihat sahabatmu sendiri merebut orang yang kau taksir?" Tanya Gaara masih tidak percaya.

"Naru itu sudah kuanggap kakak, dan sekarang aku sudah mempunyai seseorang yang aku cintai, aku juga telah sadar kalau selama ini aku tidak mencintai Naruto-kun, aku hanya mengaguminya saja Gaara-kun" jawabnya dengan rona merah diwajahnya.

siapa pria itu? Apa aku keduluan lagi? , batinnya.

"dan satu lagi Gaara-kun"

"apa itu?"

"aku merelakan Sai-kun dengan Naru-kun karena aku… ADALAH FUJOSHI!" Teriaknya lantang kalau sudah mengenai tentang YAOI. Dan itu membuat Gaara jawsdrop.

Menjelang sore hari ke-empat setelah divonisnya Gaara, Gaara semakin gencar berada di dekat Hinata dan tidak mau membuang kesempatan-kesempatan yang ada untuk terus mengabadikan momen-momennya bersama Hinata agar Hinata tahu apa saja yang dilakukannya bersama Gaara – selama seminggu terakhir – saat dia mendapat mata baru.

Dan Hinata telah lebih pulih dari kamarin, sekarang dia berada di taman rumah sakit dan tentunya bersama Gaara disampingnya. Hinata sangat bingung, selama empat hari ini Gaara terus saja ada di dekatnya, tidak akan lama pisah dengan Hinata, bahkan saat Hinata bangun pun Gaara sudah ada di sampingnya.

"G-gaara-kun…" panggil Hinata.

"Ya?"

"t-tidak jadi"

"empat kali" jawabnya sambil menyubit hidung Hinata.

"a-apa?"

"kau sudah memanggilku dan bilang tidak jadi sebanyak empat kali Hinata-chan" jawab Gaara malas. Dan sekarang Gaara sudah memanggil Hinata dengan suffix chan.

"gomen, aku sebenarnya ingin bertanya" jawabnya dengan sedikit takut.

Baru ingin menjawab, tiba-tiba ada seorang anak yang berlari ke arah mereka, "Onii-chan tolong jika ada yang mencariku, bilang aku tidak ada" mintanya terburu-buru lalu langsung bersembunyi di belakang kursi Hinata dan Gaara.

Beberapa saat kemudian datang seorang perawat yang bertanya tentang anak kecil, Hinata membiarkan Gaara saja berbohong karena jika ia yang berbohong pasti akan ketahuan. Hingga perawat itu pergi dan meninggalkan mereka barulah anak itu keluar dari persembunyiannya, ia berterimakasih dan mereka pun berbincang-bincang bersama, setelah diketahui namanya adalah Matsuri.

"Matsuri-chan, sebenarnya kenapa kau dicari oleh suster itu?"

"Suster itu menyuruhku minum obat yang rasanya sangat tidak enak, aku tidak suka" jawabnya dengam menpoutkan bibirnya dengan wajah imut.

"Kau sakit apa?" Tanya Gaara penasaran akhirnya.

"entah, aku hanya tau ini sudah akhir"

"K-kau kanker?" Tanya Hinata dengan hati-hati takut pertanyaannya itu salah.

"haah...! Iya iya, aku baru ingat, iya itu kanker. Terkadang kepalaku sakiiit sekali"

Kanker otak stadium akhir fikir Hinata nanar.

"Kalau Onii-chan kenapa bisa buta?" Tanya anak itu dengan polos.

"Aku juga sama seperti kamu, hanya saja aku sakit disini" kata Hinata dengan senyum sambil menunjuk ke matanya.

"ooh… sabar ya Onii-chan, kata ibuku, yang sabar itu akan disayang sama tuhan, kalau tuhan sudah sayang, tuhan akan memberikan apa saja yang kita mau"

"Matsuri-chan memangnya kau mau apa?" mungkin saja aku dapat memberikan sesuatu yang dia mau, fikir Hinata.

"aku mau tuhan segera cabut nyawaku, agar okaa-san dan otou-san tidak perlu repot mengurusiku, aku merasa sudah merepotkan orang tuaku" jawabnya sedih. Mendengar itu, Hinata merasa matanya nanar dan setetes liquid bening sudah menetes dari pelupuk matanya, Gaara disana hanya dapat memeluknya agar Hinata dapat lebih tenang. Setelah itu Matsuri pergi karena tertangkap oleh sang suster yang tadi mencarinya.

Hening sejenak setelah Matsuri pergi.

"apa yang ingin kau tanyakan?" Gaara akhirnya buka suara.

"A-apa?"

"tadi kau kan ingin bertanya"

"ah iya, se-sebenarnya kenapa Gaara-kun selalu bersama ku, kau tahu Gaara-kun? Aku jadi memiliki firasat buruk. Kenapa tidak bekerja?"

"…." Gaara tidak menjawab. Bagaimana dia bisa menjawabnya? Apa mungkin dia akan menjawab dengan mudah kalau disini dia hanya tertinggal tiga hari lagi oleh karena itu dia ingin memberikan kenangan agar Hinata agar selalu mengenangnya? Apa mungkin dia menjawab seperti itu?. Huh! Andai saja dia tidak sakit, andai saja ada seorang pendonor, andai saja ia tidak usah pergi jauh, andai ia dan Hinata dapat menjadi sepasang kekasih, dan masih banyak perandaian yang ada dalam pikiran Gaara yang tidak dapat disebutkan.

"Gaara-kun?" Tanya Hinata. Membawa kembali Gaara dari khayalan yang dibuat oleh author seteres.

"hah? Uh… Tidak apa-apa"

Klik, klik, klik

Baru Hinata ingin bertanya pertanyaan itu lagi, tapi ada suara yang mengganggunya. "a-apa itu Gaara-kun?"

"aah… hanya sebuah kamera Hinata-chan"

"untuk apa?"

"hanya kenangan jika aku sedang tidak ada"

"Gaara-kun tidak akan meninggalkan aku kan?" katanya sambil memeluk lengan Gaara.

"aku tidak akan meninggalkanmu Hinata-chan" katanya sambil mengelus tangan Hinata dengan lembut, memberi ketenangan untuk Hinata.

"Gaara-kun, Naruto-kun pernah bilang untuk bergerak lebih cepat untuk mendapatkan orang yang kita cintai, oleh karena itu aku aka menyatakan perasaan ku" lalu Hinata menangkup pipi Gaara dan mencium pipinya dengan lembut di tambah seburat merah di pipinya dan juga Gaara yang shock.

"aishiteru Gaara-kun, janjilah jangan pernah meninggalkan aku"

"aku akan melakukan sekuat ku untuk bersama mu, hime" dan dengan itu mereka resmi menjadi sepasang kekasih.

Hinata merasa sangat nyaman berada dalam pelukan sang kekasih barunya, akhirnya impiannya menjadi kenyataan. Ternyata benar apa kata Naruto, kita hanya perlu lebih berani untuk mengungkapkannya. Namun Hinata tidak tahu apa yang akan terjadi tiga hari setelah ini.

Gaara yang kini sedang memeluk Hinata merasa ragu dengan apa kata Hinata, dia tidak bisa menjamin janji yang dibuat Hinata. Aku akan melakukannya selama tiga hari ini, batinnya.

"sekarang sudah sore hime, kau harus segera masuk"

"sekarang kenapa Gaara-kun yang perhatian, aku memang tidak berguna"

"kau tidak usah begitu, dengan kau ada di dekat ku, kau akan selalu berguna, dan aku akan selalu mencoba untuk menjadi berguna untuk mu Hinata" katanya sayu sambil memeluknya , karena mungkin nanti tidak akan seperti ini, batin Gaara.

Gaara bertambah parah, sekarang dia hanya dapat duduk di kursi roda, bersisa hanya satu hari lagi untuk menemani Hinata, entah apa yang dapat dia lakukan dengan kursi roda ini. Sekarang dia hanya dapat memandang Hinata yang sedang dituntun oleh Naruto menuju ke arahnya untuk memberikan kejutan untuk Hinatanya.

"terimakasih Naruto" katanya setelah Hinata dan Naruto sudah sampai di depannya.

"kapan pun kau butuh bantuan Gaara, katakan saja" dan Naruto pun tersenyum sayu lalu pergi meninggalkan mereka berdua di terangi terang bulan. Naruto tahu tentang Gaara, saat ia tahu itu adalah ketika tadi siang Gaara bercerita ingin memberikan memori yang terbaik untuk Hinata, saat itu Naruto hanya dapat menangis dan berjanji akan membantunya.

"Gaara-kun, buat apa kita disini?"

"aku ingin menghadiahkan sesuatu kepadamu"

"a-apa?"

Jreeng… suara gitar memulai sebuah lagu yang dinyanyikan sang Sabaku. Lagu romantis jepang berjudul Bokutachi no Uta

Tanpa disadari keduanya sudah bernyanyi bersama dengan linangan air mata, entah apa yang membuat Hinata merasa seperti ini terakhir kalinya mereka bertemu, yang pasti hatinya merasa sesak dan sakit. Dan Gaara, dia sebenarnya sangat tidak rela harus berpisah seperti ini, dia lebih berharap untuk tidak pernah bertemu dengan Hinata, namun tanpa adanya Hinata hidupnya tidak akan bisa seindah ini.

"jika kau mendapat kesempatan untuk hidup yang kedua, apa yang akan kau lakukan Hime?"

"entah, mungkin aku akan gunakan untuk terus bersama Gaara-kun" dengan senyum yang mengembang Hinata dapat berkata seperti itu, sedangkan Gaara hanya dapat tersenyum kecut mendengar apa yang dikatakan Hinata.

"jika aku tidak memiliki hidup lagi setelah esok, apa yang akan kau rasakan?" tidak kah Gaara merasa kalau pertanyaannya itu dapat membuat Hinata curiga.

"Aku pasti akan sedih, dan mungkin aku akan menyusul Gaara-kun untuk pergi-.

"Jangan! Jangan pernah lakukan itu, bagaimana pun yang terjadi kau harus hadapi itu, masih ada yang akan menjadi penyanggahmu ketika rapuh, Temari, Kankurou, okaa-san, otou-san, ojii-san, oba-san dan Naruto pasti akan terus mendukung hidupmu Hime. Lagi pula aku, sejauh apapun aku pergi kemanapun aku melangkah dan dimanapun aku adanya, aku akan tetap dan selalu ada di hatimu jika kau ingat aku" tanpa disadari, Gaara sudah memeluk Hinata dan menghirup aroma lavender rambutnya. 'aku pasti akan merindukan aroma menenangkan ini' batinnya miris.

Lama mereka berbincang namun Gaara rasa ini saatnya dia berpamitan dengan Hinata, dia rasa sudah cukup semua kenangannya untuk Hinata, semua yang dia lakukan selama ini, perjuangannya untuk memberikan Hinata yang terbaik, semuanya sudah selesai, dan besok, adalah harinya untuk pergi selama-lamanya.

"hime"

"y-ya Gaara-kun"

"besok 'kan hari operasimu, jadi jangan cari aku ya"

"k-kenapa? Gaara-kun tidak mau menemaniku operasi?"

"Jangan bodoh, aku akan selalu menemanimu. Setiap kau mengingat aku, aku akan selalu ada untuk mu" lalu sebuah ciuman mendarat di bibir Hinata, sebuah ciuman yang menggambarkan kesedihan dan perpisahan, sebuah kehangatan yang terakhir yang tidak akan ada untuk waktu kedepannya. sepersekian detik, ciuman itu lepas. Entah apa yang membuat Hinata menangis dan terus menitikkan air mata, yang pasti Gaara sekarang sudah merasa sesak.

Hinata terbangun dengan selang infuse yang membelit tangannya dan mata yang sudah diperban, efek obat biusnya masih bekerja dan membuat kepalanya pusing.

"Gaara-kun" panggilnya lirih. Ia takut jika pria itu tidak ada dan sudah pegi.

"ya Hinata, ada apa?" dan suara itu membuat Hinata sangat bahagia dan lega, dia dapat merasakan tangan lembut namun dingiin di tangan Hinata, dingin?

"Tanganmu dingin sekali Gaara-kun, kau kenapa?"

"hanya ketakutan dengan operasimu saja" dan Hinata merasakan pipinya tertarik membentuk senyuman.

"aku harus pergi sebentar Hinata, kau tunggu ya" dan tangan itu pun lepas dari tangan Hinata.

Kemudian suara pintu terbuka dan datang seorang dengan jas putih yang dapat di sinyalir adalah seorang dokter, dan di belakangnya otou-san dan okaa-san Hinata.

"nah, Hinata, sekarang aku akan membuka perbanmu" dan perban itu satu per satu terasa lebih tipis dan tipis, hingga mata Hinata tidak merasakan perban-perban tebal itu.

"sekarang coba buka matamu perlahan" kata orang yang Hinata kenal dengan nama dokter Tsunade. Dengan perlahan Hinata membuka matanya sesuai dengan instruksi dari sang dokter. Silau, itu yang pertama ia rasakan, tapi setelah membiasakan diri ia dapat melihat ayah dan ibunya tersenyum bahagia meski juga dilihatnya kesedihan yang mendalam.

"Hinata, yokatta" kata sang Ibu lalu langsung memeluk sang anak.

"kemana Gaara-kun? Apa ibu tidak bertemu dengan nya?"

"hime, Gaara-kun sudah pergi sejak tadi pagi" dengan suara yang serak sang ayah menjelaskan.

"ooh, dia sudah memberitahuku tadi kalau dia akan pergi, haah, aku tidak sabar ingin memberi tahu tentang ini"

Dan mendengar jawaban Hinata membuat orang tuanya kebingungan hingga mereka sadar akan suatu hal yang nanti akan disampaikan secara perlahan.

Setahun telah berlalu, dan Hinata sudah terbiasa dengan penglihatannya. Hinata sudah tahu dimana Gaara tinggal sekarang ini, yaitu tempat yang jauh dari Konoha. Dan disini lah dia, di bukit tempatnya dan Gaara biasa bersama selama setahun ini.

"Gaara-kun…"

"kau sedang apa disana? Aku sangat rindu Gaara-kun, kau tahu Gaara-kun, terus menunggu Gaara-kun kembali entah sampai kapan, mungkin selamanya aku akan menunggu" dia terus bergumam lirih.

"anak yang waktu itu kita temui, dia sudah meninggal dunia sehari sebelum aku dioperasi. (Berhenti sejenak Hinata menarik napasnya) haah... Dia telah memberikan hadiah dan pelajaran berharga untukku"

"anak itu… aku berharap dia baik-baik saja di alam sana, begitu juga Gaara-kun jaga dirimu disana, aku tidak akan terlalu merindukanmu agar kau tidak cemas" tanpa disadarinya sekarang wajahnya sudah dibanjiri dengan air mata yang banyak, sebanyak rindunya pada Gaara dan Matsuri.

"Gaara-kun tidak akan meninggalkan aku kan?"

"jika bisa, aku tidak akan meninggalkanmu Hinata-chan"

"aishiteru Gaara-kun, janjilah jangan pernah meninggalkan aku"

"aku akan melakukan sekuat ku untuk bersama mu, hime"

Menangis dan terus menangis, adalah pilihan yang diambil Hinata saat ini, dia sudah meringkuk di balik pohon sejarahnya dengan Gaara, terlalu banyak memori yang harus dikenang oleh Hinata hingga membuat matanya tidak henti mengeluarkan liquid bening yang berkilauan, hatinya sakit saat tahu apa penyakit Gaara dan kepergiannya Matsuri. Mereka berdua adalah orang yang disayangi Hinata.

Hari semakin sore dan dia beranjak untuk pergi. Angin menerpa wajahnya yang masih tercetak bekas tangisan. Wajahnya tersenyum, senyum bahagia. Hinata bahagia karena ia tahu disana Gaara sedang berjuang untuk kembali. Ia berjanji akan kembali secepatnya.

"Gaara-kun" sebutnya lirih.

Kini Gaara, kekasihnya masih belum kembali, tidak seperti penglihatan Hinata yang kembali setahun lalu. Matsuri, anak itu telah memberikan matanya yang indah untuk Hinata, katanya itu sebagai hadiah perpisahan darinya, dan itu membuat Hinata sedih mengetahui sang anak itu tidak dapat menemaninya menunggu Gaara-kun. Saat pertama tahu tentang Gaara yang pergi selama waktu yang tidak dapat dihitung, ia tidak tahu kemana dan bagaimana ia menjalani hidup sambil menunggu kepulangan sang pujaan hati. Namun sekarang dia tahu.. Ia akan mengingat tentang Gaara sebanyak Gaara mengingat tentangnya, dan akan menunggu Gaara sesabar seperti Gaara menunggunya sadar akan cinta Gaara.

"Ya... Aku akan menunggu Gaara-kun, aku akan terus mengingat mu dan menantimu, selama kau masih menjadi cintaku"

"Semampuku, aku akan coba Gaara-kun..."

END

Jawab Review

TikaChanpm, kann sudah ku bilang kalau alur ngebut hehe... Gomen kalau kurang bagus... *nunduk. Dan terimakasih sudah mau menjadi reader setia NTLT *hug #SKSD

And.. Gomen nee Riya-hime, niatnya sih happy ending.. Tapi.. Anu.. Itu.. Hm.. Apa ya? #AlasanGagal hehe.. Gomen karena membuat end yang (sepertinya) menggantung. Terimakasih reviewnya :D

Forum Sapa Author : mumpung chapter akhir.. Jadi kata-katanya lebih banyak

Kyowa Minna! O genki desu ka? Kali ini shan dateng lagi dengan ending dari cerita abal yang sebelumnya.. Yeeey...^^ Ending! *lebeh* -_-" akhirnya dapat selesai, dari kemari tuh saya (pura-pura) berpikir tentang mau kapan ya publishnya? Mau tunggu apa lagi? Mau dibawa kemana hubungan kita *eh!? #plak hehe.. Maklum, rapih TO! Jadi rada-rada gini deh. :D.

Terimakasih untuk review kalian, review dari kalian adalah semangat bagi saya! Dan terimakasih untuk para silent reader yang sudah membaca ini tapi tidak meREVIEW juga, semoga Tuhan menyadarkan kalian. *kode* Ehehe.. , Jadi..

Jangan lupa REVIEW!

Not Too Late To REVIEW, right?

Sampai berjumpa lagi di cerita berikutnya!