2nd Song
FOR THE NIGHT
Sung by AS ONE
Romance, Fluff | M | Yaoi/BL, HunHan, OOC, OC, AU, AT, bashing chara, typo(s)—This story and OC belongs to me. Sehun&Luhan belongs to God, himself and their family.
Cobalah membaca fanfic ini sambil mendengarkan lagu yang bersangkutan.
#HunHanAprilPassion
Sehun mengangkat gagang teleponnya.
"Ya, suruh seorang pelayan untuk datang ke kamarku!" katanya penuh dengan nada memerintah, "Pelayan baru yang beberapa hari lalu membersihkan kamarku."
Ia meletakkan gagang telepon itu ditempatnya.
Sehun kembali terfokus pada Macbook yang sedang di pangkunya. Entah apa yang ia buat di sana. Ia adalah seorang mahasiswa semester 4 jurusan musik modern. Kehidupan mewah adalah kesehariannya. Semua yang diinginkannya akan hadir hanya dengan menjentikkan jarinya, sekali saja.
Sangat sempurna!
(Sehun & Luhan)
You keep making my fly high
Your rough moves make me melt
I'll empty my last drink
Don't rush but lead me
(Sehun & Luhan)
"Ya! Disana! Ah—," rancau seorang pemuda cantik mendesah dengan frustasi.
Pemuda yang berumur lebih muda darinya, yang merupakan majikannya menusuk-nusuk lubang analnya dengan brutal. Oh apa yang dilakukan pemuda cantik itu? Saat itu ia yakin, setelah ini ia pasti akan di pecat oleh Ayah pemuda itu.
"Hyungnim, lubangmu aw membuatku ahh semakin gi ouhhh la…" Kali ini pemuda yang lebih muda—Sehun—mendesah disertai dengan rancauannya.
Tiap menit berlalu, ia makin tak terkendali. Bahkan Sehun sudah tak peduli jika ia ketahuan Ayahnya melakukan hal ini terhadap pelayan barunya, Luhan.
(Sehun & Luhan)
Come close to me, hug me, morning is coming
I might have you without anyone knowing
I think I'm ready to be with you
A night like tonight won't come again
You shouldn't worry about the time
Don't turn away, hurry and hug me baby
Baby baby ooh I Like it
Tell me how you like it,
Tell me how you like it, ooh Baby
(Sehun & Luhan)
Luhan mendorong sebuah meja beroda dengan berbagai alat pembersihan di atasnya. Ia tersenyum saat bayangan hari itu kembali melayang-layang di otaknya. Apa itu?
Ya, di saat Sehun bercinta dengannya malam itu. Tunggu! Apa dia bisa menyebut itu dengan kata `bercinta`?
Entahlah, tetapi saat itu Luhan sangat menyukai perlakuan itu. Sentuhan tangan itu, bibir Sehun yang mengulum bibirnya bahkan saat penis yang menumbuk kasar lubangnya. Semuanya terjadi begitu saja dan tentu itu sangat sulit untuk dilupakan.
Luhan tak dapat membayangkan bagaimana wajahnya akan bersemu saat bertemu Sehun nanti.
Ting tong ting tong…
Luhan menekan pintu bel pintu kamar Sehun. Ia menunggu beberapa saat hingga pintu itu terbuka untuknya.
Mereka menatap satu sama lain. Hening.
Sehun berbalik tanpa berkata sepatah kata pun. Luhan menghela napasnya. Ia mengikuti langkah Sehun yang memasuki kamarnya.
Mata rusa itu tak dapat melepaskan pandangannya barang sedetik dari sosok Sehun. Sosok yang sempat berada di atasnya dan membuatnya mendesah nikmat semalaman.
Luhan mulai merapikan kamar Sehun yang agak berantakan itu. Memunguti sampah, mengelap meja, membersihkan debu sampai mengelap bath tub akan dilakukannya.
Luhan menuju ke meja nakas yang berada di dekat ranjang Sehun. Ia merapikan sampah yang berceceran di atasnya. Sesekali mata rusanya melirik Sehun yang masih asik dengan Macbook –nya dan seakan mengacuhkannya, seakan tak ada seorang pun yang berada di tempat itu.
Setelah meja itu tampak rapi, Luhan mengambil pekerjaan selanjutnya. Mengelap meja itu kemudian ia menggunakan mesin penyedot debu untuk membersihkan debu.
Sehun melirik Luhan yang membelakanginya—sekilas. Ludahnya tertelan kasar. Matanya terfokus pada bokong Luhan. Ah—dia merindukan malam itu, tetapi ia tetap menjaga image di depan pemuda yang merupakan pelayannya. Bagaimanapun ia adalah `majikan`.
Luhan berbalik, Sehun kembali terfokus pada Macbook –nya, seakan menyembunyikan apa yang dipikirkannya barusan.
Selesai.
Sekarang Luhan menuju ke kamar mandi yang berada di kamar Sehun. Ia akan membersihkan bath tub juga akan mengepel lantainya.
"Kenapa dia memperlakukanku seperti itu?" gumam Luhan. Bibirnya mengerucut imut. Sebenarnya ia agak kecewa dengan sikap Sehun terhadapnya. Pemuda yang merupakan majikannya itu seakan menutup mata kalau mereka melakukan sesuatu yang sangat sulit dilupakan.
Sekelebat bayangan malam itu kembali melintas di benak Luhan. Saat Sehun menciumnya dan memaksanya untuk merebah di atas ranjangnya. Ia mengusap tengkuknya. Bulu kuduknya berdiri jika mengingat malam itu. Apa yang bisa dilakukannya? Bahkan Sehun seperti tak mengenalnya lagi. Menyebalkan!
Luhan melirik sebuah tiang—setinggi badannya—tempat menggantungkan mantel. Dasar bodoh! Kenapa Sehun meletakkan benda itu di luar kamar mandinya? Bukankah seharusnya ia meletakkan itu di dekat pintu masuk kamarnya?
Tunggu! Sebuah mantel coklat yang panjang menarik perhatian Luhan dan juga sebotol wine yang terletak di meja dekat kamar mandi.
Sebuah ide terlintas di benaknya.
(Sehun & Luhan)
Baby baby ooooooh I Like it if
If it's only for one night
It's late at night, I have to go home
What if they hear the sound of your breath?
I shouldn't get any drunker, I don't even trust myself
(Sehun & Luhan)
Sehun bangkit dari posisi duduknya. Langkahnya mengarah ke kamar mandi. Entah kenapa pelayan itu sangat lama menurutnya. Apa yang dia lakukan di sana? Sangat merepotkan!
"Apa yang kau—," Sehun terdiam.
Bagaimana tidak?
Ia melihat Luhan yang sedang menatapnya dengan tatapan seksi. Belum lagi dengan pakaian pelayan yang tampak berserakan di dekat bath tub. Sehun berani bertaruh, kalau Luhan telanjang saat itu. Pemuda yang merupakan pelayannya itu hanya menggunakan mantel miliknya sebagai penutup tubuhnya.
Lagi-lagi, Sehun menelan ludahnya dengan kasar.
Luhan mendekat. Tangannya terulur, meraba pundak Sehun. Dengan sedikit tenaga, pemuda cantik itu mendorong Sehun yang seakan terhipnotis. Ia mendorong Sehun sampai ke ranjangnya, kemudian merebahkan majikannya itu.
Tanpa berkata apapun, Luhan menindih tubuh Sehun, segera menyambar bibir si pemuda yang berposisi seme itu.
Setelah cukup lama, Sehun membalikkan posisinya terhadap Luhan. Sekarang ia yang memegang kendali. Kedua tangan Luhan ia kunci di atas kepala si pemilik tangan. Tangannya yang lain melepaskan kaitan kancing mantel yang dikenakan Luhan. Dan benar saja, seperti dugaan Sehun sebelumnya, ternyata Luhan tak mengenakan sehelai benangpun selain mantel musim dingin itu.
"Cih… Kau lebih liar dari yang aku bayangkan, Hyungnim." kata Sehun di sela ciumannya.
Permainan semakin jauh.
Sehun menempatkan tangannya di dekat lubang anal Luhan. Tiga jari siap ia masukkan ke dalam lubang itu. Dan tentunya itu tanpa sepengetahuan Luhan. Ya, saat ini Luhan masih sibuk memberi tanda di leher Sehun.
Krrkk…
Luhan menggigit leher Sehun. Bukan 3 jari yang dimasukkan, tetapi 5 jari sekaligus yang sontak membuat Luhan sangat terkejut. Lubangnya terasa panas. Sesuatu yang asing terasa mengaduk-ngaduk di dalam lubangnya itu.
Sehun memaju-mundurkan tangannya. Semakin lama, tempo yang diberikan semakin cepat.
"Ouhh… ya… di sanahh… ouhh…" desah Luhan. Tangannya makin menekan tangan Sehun. Ia terlalu menyukai permainan itu.
Tangan Sehun yang lain melebarkan kedua kaki Luhan. Tangannya yang semula berada di dalam lubang milik Luhan, ia keluarkan.
Plup…
Sehun mendorong penisnya dan masuk hanya dalam satu kali hentakkan. Ia menggerakkan pinggulnya dengan brutal. Walaupun ini yang kedua kalinya, tetapi lubang Luhan masih terasa menjepitnya.
Luhan? Ya, walaupun ini yang kedua kalinya, tetapi penis Sehun masih saja terasa sangat besar di lubangnya. Ini seperti membelah tubuhnya. Antara perih dan nikmat.
"Ahh.. Ahh.. Ahhh... Shh," suara desahan Luhan terdengar.
"Mendehhsah lebih kerashh babyhh!" kata Sehun. Dia menghentak-hentakkan penisnya lebih keras.
Belasan menit berlalu dengan suara desahan yang memenuhi seluruh sudut kamar milik Sehun. Beruntung kamarnya kedap suara. Jadi, mungkin suara-suara nista itu tidak akan terdengar sampai keluar.
"Arghh…" Itu adalah puncak dari Sehun—tentunya bersamaan dengan Luhan. Mereka mengerang dengan kencang, melepaskannya dengan perasaan puas antara satu sama lain.
Tubuh Sehun terjatuh di atas Luhan—menindihnya—sembari menghirup aroma tubuh Luhan.
"Besok aku akan mengundurkan diri." kata Luhan dengan napas yang masih belum teratur.
"Apa yang kau katakan huh?" tanya Sehun agak protes.
"Aku akan melupakan hari ini dan juga hari itu." sahut Luhan.
"Tidak, kau tidak akan pernah bisa lepas dariku Luhan." ucap Sehun sarkastik, "Kau sudah memulainya, maka kau akan sulit untuk mengakhiri ini." sambungnya kemudian menggigit pelan daun telinga Luhan hingga menimbulkan desahan lagi.
(Sehun & Luhan)
Oh you and me, you're my only one,
Oh yeah you and me, you're my all,
Oh everything's just alright,
Boy I need you so much, give it to me,
Want you tonight oh, yeah woo woo woo
I think I'm ready to be with you
(Ready to be with you)
A night like tonight won't come again
You shouldn't worry about the time
Don't turn away, hurry and hug me baby
Baby baby ooh I like it
(Tell me how you like it,
Tell me how you like it, ooh baby)
baby baby ooooooh
FIN
