"Lu.. Bagaimana kalau kita pergi ke namsan tower? Kau tahu? Aku sangat ingin pergi ke sana bersama mu.." Rengek Sehun,

"Wah.. Tumben kau merengek.. Kau tau,Hunnie? Kau sangat imut jika merengek.." Ucap Luhan..

"Baiklah.. Kita ke namsan tower.." Ucap Luhan semangat.

Sehun hanya tersenyum kecut melihatnya.

Please... Remember Me

Title : Please.. Remember me

Author : luluhanbyun

Rate : T

Maincasts : Oh Sehun x Xi Luhan

Pairing : Hunhan (Sehun x Luhan)

Genre : Romance gagal :v

(Warning! : typo persebaran, romance gak jadi, cerita gaje, genderswitch!)

"A-apakah kita harus menaiki itu?" Tanya Luhan dengan nada ketakutan sambil menunjuk kereta gantung diatas.

"Tentu saja hannie.. Bagaimana kita pergi ke namsan kalo tidak melalui itu?" Gemas sehun sambil mencubit hidung luhan kecil.

"Andwae!" Pekik Luhan ketakutan.

"Jadi, bagaimana cara mu kesana Lu?" Tanya sehun gemas.

"Dengan kaki.." Jawab Luhan pelan.

Langsung saja Sehun tertawa keras. Sangat keras. Bagaimana bisa Luhan ke sana jalan kaki. Sungguh, sehun tak habis pikir dengan jalan pikir Luhan. Luhan mengerucutkan bibirnya karena kesal dengan Sehun yang menertawainya. Sehun segera mulai mengangsur-angsur memelankan suara ketawa nya. Sampai dia tidak tertawa lagi.

Dia mengusap pipi Luhan pelan, membuat yang mempunyai pipi hanya diam merona.

"Aku tau akan ketakutan mu,Lu.. Tenang saja.. Semua akan baik-baik saja.. Aku ada di samping mu.." Ujar Sehun pelan sambil menatap dalam mata Luhan.

'Setidaknya sampai besok Lu..' Lirih Sehun pahit di dalam hati.

Luhan tersenyum manis, matanya melengkung karena eye smile nya.

"Baiklah!sehunnie! Lulu yakin jika terus bersama hunnie, semua akan baik-baik saja.." Ucap Luhan riang. Membuat Sehun semakin merasa bersalah.

'Semoga kau tanpa ku juga baik-baik saja,Lu..' Lirihnya lagi di dalam hati. Beda dengan keadaan hati nya, sehun malah tersenyum manis, berbeda dengan hati nya yang menjerit.

.

.

"Wah.. Itu toko apa, Hun?" Tanya Luhan saat hendak berjalan menuju cable car.

"Entahlah.."

"Ayo kita kesana, siapa tahu ada barang-barang yang menarik?"

"Lu, barang yang menarik itu ada di tower, padlock kecil itu.."

"Shiero! Pokoknya Lulu ingin ke toko itu!"

"Hmm.. Arraesso.. Arraesso.. Kita kesana.."

"Yeay!"

Mereka berdua pun masuk ke dalam toko bernuansa kartun itu,

"Omo omo! Daebaak!" Guman Luhan setelah melihat banyak karakter kartun di dalamnya,

"Jjinja.. D-daebak!" Guman Sehun juga setelah melihat tokoh favorite nya ada di setiap sudut ruangan itu.

"Selamat datang.." Ucap si penjaga toko ramah..

"A-ah.. Ne.." Jawab Luhan gugup.

"Apa yang kalian cari?" Tanyanya lagi, dengan sopan tentunya,

"Kami akan melihat-lihat dulu.." Ujar Sehun, sang panjaga tadi pun berlalu,

"Lihatlah,hunnie! Ada larva, kesukaan mu!" Seru Luhan, Sehun langsung menghampirinya.

"Aigooo... Kyeoptaa.." Gemas Sehun pada larva itu, maksudnya boneka itu.

"Aku ingin ini, Sehun.." Rengek luhan,

Sehun terkekeh, lalu mengusak kepala Luhan.

"Baiklah Lu, kita ambil yang itu.."

Mereka lalu pergi ke kasir, untuk membayarnya.

"Ini apa?" Tanya Sehun saat sang kasir memberi stiker larva mini padanya.

"Ini bonus. Toko ini baru di buka, dan pengunjung hari ini akan di beri bonus.." Ujar sang kasir tersebut,

"Ahh.. Gamsahamnida.. " Ujar Sehun tersenyum.

Setelah membayar semuanya, mereka keluar dari toko tersebut, dan mengantri untuk menaiki cable car.

Setelah lumayan lama menunggu, akhirnya mereka bisa menaikinya,

"Apa yang kau lakukan, Sehun?" Tanya luhan yang melihat sehun agak memanjat melalui gagang-gagang cable car itu.

Sehun dengan cepat menempel stiker larva itu, lalu lompat ke lantai cable car itu,

Menyebabkan kereta gantung nya mengalami sedikit pergoyangan (?).

"Aah! Sehun!" Pekik Luhan berjongkok, sungguh, melihat pemandangan yang indah ini saja sudah membuatnya ingin mati, ditambah lagi goncangan yang tiba-tiba tadi,

Sehun langsung memgang lengan Luhan, mengajaknya berdiri,

Luhan menurut saja, tapi matanya tetap tertutup rapat,

Melihat Luhan yang gemetar, langsung saja Sehun membawanya kedalam rengkuhannya.

"Se-Sehunn?"

"Hm, Lu? Waeyo?" Ucap Sehun pelan.

"Ke-kenapa kau memelukku?"

"Hh.. Kau seperti baru pertama kali ku peluk, hm?"

"T-tapi ini beda.. Ini di tempat umum.."

"Tak apa Lu.. Jangan pikirkan tempat apa atau dimanapun kita.. Yang penting kau nyaman. Benar kan?"

"Ne.. Aku sangat nyaman.." Jawab Luhan pelan sambil menenggelamkan wajahnya di dada bidang Sehun. Sehun juga tidak bisa menahan dirinya lagi untuk tidak mengecup puncak kepala Luhan.

Hatinya sangat . Mengingat bahwa dia akan meninggalkan Luhan.

.

.

.

Mereka sudah keluar dari cable car. Dan tentu saja merek terkagum-kagum dengan pemandangan yang ada. Sungguh sangat indah!

"Lu! Ayo berfotoo!" Seru Sehun mengeluarkan kamera nya.

"Ne,Hunnie!" Balik Luhan sekarang merapikan poni nya.

"Hana.. Dul.. Set!" "Jepreett!"

"Hahaha! Hunnie sangat Lucu disitu!" Ucap Luhan sambil terkekeh.

"Ayo ambil lagi" ajak Sehun.

"Hana..Dul..Set!" "Jeprett.."

Kali ini dua-duanya sedang membentuk tanda 'peace' melalui tangannya.

"Jeprett!" Di foto ini, Sehun sedang mencium pipi Luhan, dan Luhan menunjukkan wajah terkejutnya.

"Hahahahaa.. Liat Lu.. Kau sangat lucu disini!" Seru Sehun mengabaikan wajah cemberut Luhan.

"Hunniee!" Rengek Luhan.

"Haha.. Mian..mian.."

"Hunnie sih, kenapa tiba-tiba mencium pipi Lulu.." Gerutu Luhan.

"Seperti apa?" Tanya Sehun iseng.

"Seperti ini.." Ucap Luhan lalu mengecup pipi Sehun. Tak sadar akan perlakuannya.

"E-eh.. Mi-miaan.. A-aku hanya menirukan apa yang hunnie lakukan kepada ku.." Ucap Luhan malu dan menunduk. Tak lama, pipinya mulai bersemu.

"Tak apa Lu.. Aku senang dicium oleh mu.. Apalagi kalau disini.." Ucap sehun menunjuk bibir merahnya.

"Byuntae!" Pekik Luhan dan hanya di respon oleh Sehun dengan tawa nya.

.

.

"Lulu mau yang meraah.."

"Biru saja Luuu..."

"Meraah"

"Biruuu.."

"Aissh.. Kau kekanak-kanakan sekali luuu..."

"Pokoknya Lulu mau yang meraaahh.."

"Hhhh.. Bagaimana kalau ungu?"

"Ungu?" Tanya Luhan sambil menyeritkan dahi nya.

"Ungu?kenapa harus ungu?" Ulangnya lagi.

"Biru campur merah kan ungu.." Jelas Sehun.

"Jadi?"

"Maksudnya gini, Lulu ku sayang.. Kau lihatkan? Kalau ungu itu bagus, malah mengalahkan indahnya warna yang sebelumnya.. Begitu lah kita Lu, kita harus menciptakan yang baru juga, yang lebih bagus dari kita. Kita harus bisa membuat hidup kita menjadi lebih baik dengan bersatunya kita.. " Jelas Sehun panjang lebar. Mulutnya hampir bergetar menjelaskan itu semua, mengingat dia akan pergi meninggalkan luhannya ini.

"Baiklah.. Lulu mau yang ungu.." Ucapnya girang.

Merekapun membawa padlock ungu itu ke kasir dan membayarnya,

"Lulu mau yang nuliss.." Rengek luhan lagi, sehun terkekeh kecil lalu memberikan padlock serta spidol hitam itu.

"Luhan Sehun" begitulah yang ditulis luhan disana.

Nama mereka berdua.

"Aigoo.. Tulisanmu sangat jelek.." Ejek Sehun yang sebenarnya 'tulisanmu sangat cantik'

Luhan hanya tertawa tidak menanggapi ledekan Sehun.

Lalu mereka membawanya ke alam luas dimana tempat untuk mengunci padlock mereka itu.

"Katanya jika kau mengunci nya di tempat yang tinggi, harapanmu akan terjadi.." Ujar Luhan,

"Kau mau aku manjat?" Tanya Sehun dengan watados nya.

"Anio... Hehehe.. Baiklah kita pasang di tempat yang itu saja ya, Hunnie?" Tanya Luhan pada Sehun sambil menunjuk gagang besi yang tingginya tidak terlalu tinggi dan mendapat anggukan dari Sehun,

Mereka lalu sama-sama memasangnya,

"Saranghae Hunnie.." Ujar Luhan sambil mengecup bibir Sehun singkat.

"Nado Lu.. Nado.." Balas Sehun sambil memeluk Luhan dari belakang. Tidak memerdulikan keadaan sekitar.

.

.

.

.

Besoknya, tak ada percakapan diantara Luhan dan Sehun.

Sehun sedang mengemasi pakaiannya, yang akan dibawanya besok.

Itu penyebab nya dia tidak bisa bertemu luhan.

Sesekali dia mengeluarkan cairan beningnya ketika memasukkan barang-barang yang berhubungan dengan Luhan.

Dia sungguh tidak sanggup meninggalkan Luhan.

Sementara di rumah Luhan, luhan sedang sibuk dengan tugas rumahnya.

Mengerjakan tugas sekolahnya, dan mengerjakan presentasinya. Yang akan ditampilkannya besok di sekolah,

Dia sesekali menoleh ke jendela kamarnya yang terbuka dan mengarah langsung ke kamar Sehun,

'Apakah dia baik-baik saja? Kamarnya lempang sekali..' Batin luhan melihat kamar sehun yang hanya tinggal kasur,

Dia kemudian mengalihkan kembali pikirannya ke presentasi nya ini.

.

.

.

"Kemana Sehun? Apa dia terlambat?" Gumam Luhan pada dirinya sendiri.

Dia juga tak berhenti menatap bangku Sehun yang kosong, bangku disamping nya,. Kemana Sehun. Itulah yang memenuhi pikirannya.

Setelas 2 mata pelajaran berlalu, seorang namja masuk kedalam kelas. Dengan menggunakan seragam sekolahnya. Matanya juga sedikit membengkak. Ya, itu Sehun. Dia tersenyum, senyum yang sangat dipaksakan.

"A-annyeong.." Ucap Sehun sedikit bergetar. Matanya bertemu dengan mata rusa itu. Luhan hanya menatapnya dengan tatapan bingung.

"Mari ucapkan perpisahan pada teman kita, Oh Sehun, dia mulai besok tidak akan bersekolah disini lagi. Keluarganya akan pindah ke Amerika, ini adalah hari terkahirnya, di sekolah ini.. Jadi baik-baiklah, ne?" Ucap guru mereka tegas,

"Ne.." Ucap yang lain serempak.. Kecuali untuk Luhan. Dia hanya menatap kosong Sehun. Otaknya masih mencerna apa yang baru dikatakan Kim Seosangnim tadi.

'Pi-pindah? Sehun pindah?' Batin Luhan.

Matanya segera berair,

"Baiklah Sehun.. Duduklah di tempat mu.." Ujar Kim Seosangnim lagi,

Sehun mengangguk, lalu duduk di tempat biasanya, disamping luhan.

Sehun menatap rindu Luhan. Luhan hanya memalingkan wajahnya, tak mau Sehun tau kalau Dia sedang meneteskan air matanya.

"Lu..." Panggil Sehun pelan, tangannya hendak memegang tangan Luhan. Tapi apa daya, Luhan langsung menghempaskan tangan Sehun kasar.

"Diamlah. Aku mau fokus pada presentasi mereka.." Ucap Luhan bergetar acuh tak acuh, matanya berair dan akhirnya dia meneteskan air matanya. Sehun melihat itu, dia langsung menghapus air mata Luhan dengan ibu jari nya. Luhan hanya diam akan perlakuan Sehun. Ini adalah air mata sedih campur dengan marah.

"Uljima lulu.. Uljima.." Ucap Sehun bergetar, lagi-lagi, luhan menghempaskan tangannya.

"Baiklah, Xi Luhan," panggil kim seosangnim, luhan segera berdiri.

Dan langsung maju kedepan.

Bahkan mengucapkan kata 'Fighting!' Saja mulut Sehun tidak mampu.

Luhan maju kedepan kelas. Tiba-tiba saja pokok-pokok tentang presentasi nya yang sudah tersusun baik di otaknya hilang begitu saja. Bibirnya kelu untuk berbicara, otaknya juga lambat bekerja. Pendengaran nya juga tiba-tiba menjadi tidak tajam

Dia hanya terdiam mematung disana.

Dan langsung mendapatkan sorakan ejekan dari teman sekelasnya.

Luhan kembali pada dirinya,

Matanya berair. Bukan, bukan karena presentasi nya yang gagal. Tapi mengingat bagaimana nanti hidupnya tanpa sehun.

Meskipun ini kegagalan yang pertama baginya, tapi dia tidak peduli akan itu.

Dia kembali ke tempat duduknya, terdiam menatap kosong lurus kedepan.

Sehun berair lagi, dia segera menggenggam tangan Luhan, kali ini, luhan tidak menghempaskannya. Dia membiarkannya. Tapi, sampai pelajaran berakhir, Luhan hanya diam seperti batu dengan tatapan kosongnya.

Saat pulang pun dia mengabaikan Sehun yang terus mengajaknya pulang bersama,

Sampai-sampai sehun nekat dan langsung memeluk tubuh mungilnya. Karena bingung apa yang akan dilakukannya lagi.

Luhan sadar. Dia langsung berusaha keluar dari pelukan Sehun, yap, dia berhasil.

Dia langsung berlari, dengan air mata yang deras keluar dari mata rusa nya yang biasa mengeluarkan sinar-sinar keceriaannya.

Sehun selalu meneriakkan nama Luhan,

"Lulu! Berhenti lah! Aku bisa menjelaskannya!" Teriak Sehun yang sambil mengejar seorang remaja perempuan yang lari jauh di depannya.

"Menjelaskannya?! Menjelaskan apa!? Kau menganggap ku apa,eoh? Yeoja mu? Kau bahkan tak memberi tahu ku tentang kepindahan mu! Kau kira aku siapa!?" Lirih Luhan dengan nada meninggi, dia masih terus saja berlari. Sesekali, dia sedikit tergelincir karena jalanan yang licin.

"Lulu! Tolong! Berhentilah! Jalanan licin lu!" Pekik namja itu dibelakangnya. Lagi-lagi dia menghiraukannya,

Ya,jalanan di seoul memang sedang licin karena salju. Korea selatan memang sedang dalam musim dingin.

"Aku tak peduli!" Kali ini Luhan berteriak menjawab Sehun. Air matanya kian menderas, hingga mata nya buram dan sedikit kabur, tak sengaja, dia menginjak batu dan dikarenakan jalanan licin, dia tergelincir dan kepalanya mengenai bongkahan batu tadi, darah mengalir dari kepala bagian belakangnya, dia tak sadarkan diri.

"LULU!" Teriak namja itu histeris lalu berlari kearahnya, matanya segera berair dan mengeluarkan air mata,

"Lu! Bangun! Mian sayang, aku salah.. Bangunlah.." Ujar namja itu histeris sambil menepuk-nepukkan pipi Luhan, tak mendapat respon, dia langsung menggendong Luhan, darah bergelimang di baju seragamnya,

Dia segera membawanya ke rumah sakit.

Dia bahkan melupakan hp nya yang terjatuh disana.

.

.

.

"Hun, kita harus segera berangkat.. Pesawat akan terbang.." Ucap appa Sehun, Sehun hanya menghiraukan perkataan appa nya, dia terus menggenggam tangan Luhan yang kritis.

Luhan koma.

"Aku tidak bisa, appa.. Mengerti lah.." Ujar Sehun ditengah isakannya.

"Apa kau pikir Luhan akan mengingat mu, hahh? Setelah menderita penyakit itu? Ini permulaan yang bagus,Hun, dia tidak akan mengingatmu, jadi tak ada isak tangis lagi.. Pergilah Hun.." Ucap Kyungsoo sambil mengeluarkan tetesan air matanya.

Dia sebenarnya tak mau luhan dan sehun berpisah. Tapi ini permulaan yang bagus. Dengan begitu mereka berdua bisa sama-sama melupakan.

Sehun masih mematung, setelah itu, dia tersenyum lemah dan mengangguk, matanya berair lagi. Dia menatap wajah Luhan yang sedang koma ini,

Menyakitkan bagi sehun melihat keadaan luhan sekarang ini.

Sehun sedikit menunduk, lalu mengecup kening Luhan lama. Mungkin baginya ini adalah kecupan terakhirnya.

"Goodbye, Lu.." Lirih sehun di telinga Luhan,

Setelah itu, dia perlahan membalikkan badannya dan keluar dari ruangan ICU. Lagi-lagi, dia tidak bisa menahan air mata nya agar tak keluar.

Kenangannya bersama Luhan terus terputar di kepalanya.

Eomma dan appa nya baru keluar dari ICU setelah mengucapkan salam perpisahan pada Luhan yang tak sadarkan diri itu.

Lalu mereka ber tiga pergi ke mobil, dan menuju ke bandara dan segera terbang ke amerika.

10 tahun Sehun di amerika, dan dia sama sekali tidak bisa membuka hatinya untuk perempuan-perempuan disana. Dia masih tetap memikirkan Luhan, bayangkan jika kalian menjadi dirinya. Menahan rindu selama 10 tahun. Tidak mudah kan?

Akhirnya setelah memohon, dia diperbolehkan untuk bekerja. Appa dan Eomma Sehun sama sekali tidak memerbolehkan Sehun untuk bekerja. Dia diperbolehkan bekerja di toko Bubble Tea di Korea. Tentu saja Sehun langsung menyetujuinya. Mengingat bahwa Luhan juga yang dipikirnya masih berada di Korea.

Di pesawat, di tetap saja berdoa supaya dugaannya benar, bahwa Luhan masih di Korea. Dan, doa nya terkabul. Luhannya masih di Korea.

.

.

.

"Lu.. Kau sudah siap?" Tanya Sehun sambil memainkan gadgetnya.

Matanya sesekali melihat Luhan yang sedang merapikan diri di cermin.

Sehun tau, bahwa Luhan tidak yakin akan memakai pakaian itu. Pakaian yang sedikit terbuka. Dan Sehun juga benci jika Luhan memakai pakaian menjijikkan itu.

"Jangan pakai itu Lu.." Ucap Sehun pelan.

"T-tapi aku disuruh memakainya.."

"Siapa yang menyuruhmu memakai pakaian seperti itu?" Tanya sehun sambil meredam amarah nya.

"Seorang siswa memberiku pakaian ini, dan dia menyuruhku untuk memakainya.." Ucap Luhan.

'Aigoo.. Luhan masih saja tetap polos. Harusnya dia sadar kalo siswa itu hanya mau melihat lekukan tubuhnya..'

"Aku bilang jangan dipakai" ucap Sehun dingin.

"T-tapi, nanti dia bagaimana? Aku tidak ingin menyakiti hati nya.."

'Bagaimana dengan hati ku?' Batin Sehun lagi.

"Baiklah.. Kalau kau tetap ingin memakainya, pakailah coat mu.." Saran Sehun.

Luhan mengangguk dan langsung menyambar coat nya dan memakainya.

"Haa.. Begini lebih baik.." Ucapnya pada dirinya sendiri.

"Kajja, Sehun.." Ajak Luhan dan Sehun langsung bangkit dari sofa.

Mereka akan pergi ke tempat kerja Luhan. Di Perpustakaan.

Setelah dari sini, mereka akan pergi ke Sungai Han. Ya, Sehun yang meminta nya.

.

.

.

"Yahh.. Noona.. Kenapa noona tidak memakai baju pemberian ku itu..?" Tanya siswa mesum itu di depan Luhan.

Sehun hanya mendecih keras melihat namja ini.

"Noona pakai kok.. Hanya saja dibalik coat ini.." Ucap luhan pelan, wajahnya sedikit bersemu merah.

"Kalau gitu buka coat nya, noona.." Rengek namja byuntae itu.

Luhan perlahan mengangkat tangannya, jemari nya juga perlahan ingin membuka kancing coatnya yang paling atas.

Tapi, tangan putih Sehun langsung menahannya yang ingin membuka kancing hijau itu.

"Jangan.. Jangan dibuka.." Ucap Sehun tegas.

"Dan, kau. Carilah yang seusia mu.. Jangan terlalu mesum. Kau masih di JHS. Jangan berani-berani nya menggoda Luhan. Atau kau akan mendapatkan dirimu sendiri dengan tubuh tanpa kepala." Ucap Sehun dingin. Segera, namja itu langsung lenyap dari pandangan mereka berdua.

"G-gomawo Sehun.." Ucap Luhan pelan, dia menunduk untuk menyembunyikan pipi nya yang merah.

"Tak apa Lu.." Ucap Sehun. Amarahnya sudah mereda.

"Pekerjaan ku sudah selesai, Hun.. Kita akan kemana?" Tanya Luhan, dia berdiri dan merapikan barang-barangnya.

"Kita ke mall.." Ucap Sehun.

"Ke mall? Bukannya kau bilang kau ingin ke sungai han?"

"Tidak.. Tidak dengan pakaianmu yang seperti ini.."

"Tapi kan aku memakai coat?"

"Apa kau tidak gerah? Memakai coat di cuaca cerah seperti ini?"

"I-iya juga sih.. Baiklah, kajja Sehun.."

.

.

.

"Kau mau mengambil itu?" Tanya Sehun yang melihat Luhan sedang bimbang memilih crop tee yang sama modelnya, hanya saja beda warna. Yang satu warna putih, dan yang satu lagi warna peach.

"Jangan pakai crop tee.."

"Pakai ini.." Sambung sehun sambil memberikan sweater bewarna peach yang ada gambar boneka lucu di tengahnya.

"Sama saja jika kau memakai itu.. Itu juga terbuka.." Ucap Sehun seakan-akan tau apa yang dipikiran Luhan.

Luhan mengagguk lucu, dia membawanya ke kasir, Sehun mengikutinya dari belakang.

"Semuanya 200000 won. " ucap sang penjaga kasir.

Baru saja Luhan ingin mengambil dompet yang ada di tas nya, tapi, tangan Sehun langsung saja menjulur kan Kartu kredit nya.

"S-sehun"

"Hm?"

"Kenapa kau membayar nya? Kau tak perlu membayarnya, aku tadi baru saja ingin mengeluarkan dompet ku.."

"Aku hanya ingin membayar nya.. "

"huh.. dasar..." cibir Luhan yang hanya mendapatkan kekehan oleh Sehun.

"Cepat ganti bajunya, Lu.. aku akan menunggu mu.." Ucap Sehun usai tertawa.

"Ne, Sehunna.." ucap Luhan ceria lalu masuk ke dalam ruang ganti.

setelah mengganti pakaian terbuka tadi dengan sweater dan celana panjang bewarna hitam pekat tadi, Luhan keluar dari ruang ganti itu.

"Pantas saja siswa-siswa itu tergila-gila pada mu, Lu, bercermin lah, kau seperti bukan berusia 20 tahunan, tapi kau lebih mirip usia 15 tahunan.." ucap Sehun masih memandangi wajah baby face Luhan.

Luhan hanya tertawa kecil, dengan pipi yang bersemu merah tipis-tipis.

"wajahmu bahkan seperti tidak berubah Lu.. Hampir sama waktu kita sekolah dulu.." Lirih Sehun di dalam hati nya.

"Kajja Sehun.. kita kemana? Ke sungai han, bukan?"

"Anio.. Karena kita sudah terlanjur di mall, kita lebih baik menonton saja,,"

"Menonton? Bioskop maksudmu?"

"Iya Luhan.. jadi apa lagi?" ucap Sehun lucu melihat tingkah lucu Luhan yang seperti nya salah tingkah.

"Wae?" tanya Sehun,

"err.. a-ani.. aku hanya merasa aneh.. aku tidak pernah pergi ke bioskop bersama namja.. aku palingan pergi ke sana bersama Baekkie, Kyungie" ucap Luhan malu-malu, dia menundukkan kepalanya. Dia pikir Sehun akan tertawa sekeras mungkin, setelah mengetahuinya yang belum pernah kencan. Tapi sehun ternyata hanya tersenyum hangat.

Dia mengangkat wajah Luhan, agar menghadapnya.

"Kau berpikir aku akan mengetawai mu kan?" ucap Sehun tersenyum sangat lembut, tangannya perlahan mengusap pipi kanan Luhan.

Luhan mengangguk kikuk.

"Kalau begitu, aku beruntung, kan? bisa menjadi orang yang pertama mangencani mu?" ucapnya lagi lembut.

"I-ini kencan?"

"Tentu saja ini kencan, Lu.. " ucap Sehun sedikit terkekeh sambil terus mengusap pipi Sehun.

"A-aku.. e-emm.. a-aku belum browsing film apa yang bagus.." ucap Luhan salah tingkah. pipinya bersemu merah lagi karena usapan Sehun.

"itu tidak penting.." bisik Sehun,

"A-aah.. Sehun jangan terlalu dekat.. pipi ku selalu panas jika kau terlalu dekat.." ucap Luhan jujur. Sehun sedikit tertawa, dia kemudian menjauhkan jaraknya sekitar 30cm dari Luhan.

"Baiklah Luhan, Kajja,," ucap Sehun menarik tangan Luhan.

Kalau tadi dari tadi Luhan lah yang mengajak Sehun, kali ini sebaliknya.

.

.

.

"Kenapa harus film horror?" tanya Luhan saat sudah menempat kan bokongnya ke bangku bioskop. Mereka sudah di dalam bioskop, dan Sehun memutuskan untuk menonton film horror, "sshh.. film akan dimulai." bisik Sehun. Luhan hanya mempoutkan mulutnya.

Sehun memutuskan untuk menonton "Mercy", film horror asal negeri barat sana. ini adalah akal licik Sehun. Dia berharap bahwa Luhan akan memeluk nya saat hantu nya masuk.

Tapi...

Hantu nya bahkan sudah beberapa kali muncul. bahkan adegan mengerikan juga tak jarang muncul. Tapi, lihat lah reaksi Luhan. Dia hanya terus konsen dengan layar raksasa yang ada di depannya. Jika adegan seramnya muncul, dia hanya mengepalkan tangannya sambil sedikit menyipitkan matanya.

Sehun sebal. Dia bahkan tak menolah ke layar itu. pandangannya hanya tertuju pada yeoja di sampingnya yang sedang sibuk dengan film dan nachosnya.

'Dia sungguh tak takut.. haaa.. Gagal semua rencana ku..' guman Sehun. Dia sebal akan ulahnya sendiri,

Aneh bukan? ya.. bukan Oh Sehun namanya kalau bukan aneh.

"Sehun.." ucap Luhan yang pandangan nya masih tidak dialihkannya.

"Wae?" tanya Sehun kesal..

"Kau ketakutan ya? makanya kau tak melihat ke layar?"

"Ne! Aku ketakutan.." jawabnya ketus. Dia sangat kesal.

"Huuh.. baiklah.. kau bisa memelukku kalau ketakutan.." ucap Luhan. Dia sepertinya tak sadar apa yang baru saja dikeluarkannya dari mulutnya.

Sehun segera tersenyum manis. Bukan.. bukan.. bukan tersenyum manis. tapi tersenyum licik.

"S-Sehun! apa yang kau lakukan..?" pekik Luhan, saat Sehun yang tiba-tiba memeluk pinggangnya dan mendaratkan kepalanya di atas pundak Luhan,

"Kau bilang kalau aku takut, aku boleh memeluk mu, bukan?"

"tapi hantu nya bahkan belum muncul.. "

"tapi aku sudah takut.." rengek Sehun.

Luhan menghela nafasnya. Dia agak mendekatkan tubuhnya ke tubuh Sehun agar dirinya juga nyaman.

Lihatlah sekarang. Sehun menginginkan Luhan yang memeluknya, tapi, keadaan menjadi sebaliknya. Sehun yang memeluk Luhan.

.

.

.

"Aku aneh dengan mu.. kau namja yang aneh.." ucap Luhan sambil menyeruput Bubble Tea nya.

Mereka kini sudah ada di toko milik Orang tua sehun. Toko Bubble Tea.

"Aneh?" Sehun bertanya

"Entahlah.. aneh.. aneh saja menurutku.." ucap Luhan pelan.

'termasuk membuatku berdegup kencang hanya karena kau memelukku tadi.. kau sangat aneh..' batin Luhan.

'pelukannya tadi sangat hangat, aku seperti pernah merasakannya sebelumnya..' batinnya lagi.

Dia kembali mengingat nya lagi. dan, ya hal itu terjadi lagi.. Nyeri dan sakit kepala kembali menggerayangi kepala Luhan.

'Kau kedinginan?'

'Ya.. tapi tak apa kok hunnie..'

'aku tak percaya pada mu..' ujar namja itu lalu memeluk erat tubuh yeoja itu. pelukannya sangat hangat. mengalahkan dinginnya cuaca kota Seoul ini.

Suara-suara namja dan yeoja itu mulai terdengar oleh dirinya. Kepalanya juga semakin sakit. Sesekali tangannya juga memijit-mijit kepalanya.

"Kau tak apa, Lu?" tanya Sehun khawatir.

Kata-kata Sehun menyadarkan dirinya. Dia kembali pada tubuhnya. segera, dia langsung tersenyum.

"Gwenchanna?" tanya Sehun dengan wajah khawatirnya.

"Aku tak apa.." yakin Luhan sambil tersenyum teduh.

"Kau mau pulang? Ini sudah agak malaman.." ajak Sehun.

"Kau mengusirku?" canda Luhan.

"Aniooo.. bukan begitu maksudku.." kesal Sehun.

"haha.. aku bercanda Hunnie.." ucap Luhan sambil tertawa kecil.

"H-Hunnie?" Sehun gelagap mendengar nama kecilnya yang sudah sangat lama tidak didengarnya.

"Wae? Kau tak suka? aah- mian. aku tak aka-"

"tidak.. tidak.. aku sangat suka dengan panggilan mu itu.." potong Sehun sambil tersenyum senang.

"Benarkah?" ucap Luhan riang.

"Tentu saja.. Orang yang sangat kucintai dulu sangat senang memanggil ku dengan sebutan itu.." ucap Sehun riang.

Jleebbb!

Luhan seakan jatuh dari langit ke tujuh..

sangat sakit baginya..

Senyum Luhan memudar perlahan. matanya berair.

"Ya.. tentu saja dengan orang yang kau cintai itu." lirih Luhan. Dia menundukkan kepalanya. menahan agar tangisnya tidak keluar.

"Lu, kau tak apa?" tanya Sehun yang merasa ada yang aneh dengan tingkah Luhan.

"Ani.. aku tak apa.. Kau bisa mengantar kau pulang? aku sangat menginginkan bantal ku sekarang ini.." lirih Luhan.

'Lebih tepatnya aku ingin menenggelamkan kepala ku di dalam bantalku dan menangis sepuasnya..' batin Luhan.

Sehun mengangguk dan mendahului Luhan masuk ke dalam mobilnya.

.

.

.

"Kau yakin tak apa-apa?" tanya Sehun lagi. Dia terus memandang Luhan yang sedari tadi tidak mengangkat wajahnya.

"Aku tak apa.. Aku masuk dulu ya.." ucap Luhan buru-buru masuk ke dalam apartemennya.

Dia langsung menguncinya, dan langsung menuju tempat tidurnya.

Dia mulai menangis sekencang kencangnya.

Tak ada kata yang keluar dari mulutnya.

Dia tetap saja menangis.

Sakit baginya, Karena baginya ini adalah saat pertama dia mencintai seorang namja, dan untuk pertama kalinya juga dia sakit hati. hanya karena perasaannya sendiri,

.

.

.

annyeoooongg.. aku kembali lagiiiii^^

Ada yang rindu dengan epep ini? ._. engga ada ya? haha.. #ketawagaring

Maafya.. yang bosen sama ff ini.. maaf juga yang ga pengen flashbacknya sekaligus.. udah terlanjur dibuatinn ;'

Maaf juga karena mungkin lama kambek nya.. :" aku terlalu galau akan Chanyeol yang terlalu dekat dengan banyak yeoja.. :" galau men, galauuuu #abaikan

Nah.. yang nanya soal ulang tahun Sehun, itu mungkin ada di chap berikutnya.. dan mungkin chap depan bakalan jadi ending.. huhuhuhuuu :"

tapi, entar aku bakalan post story baruu :v ga ada yang mau baca ya? yasudahlah, #akutuhgabisadiginiin :"v

Kalau pengen nge kritik, langsung review aja ^^ kritik pedas juga gapapa, asalkan bahasa nya teratur (?)..

makasi sebelumnya sama yang udh review.. yang nge fav sm follow.. gomawo chingudeuuull..

yang baca juga jangan lupa review ya,, aku butuh review supaya semangat^^..

maaf ya ga sempat ngebales satu-satu reviewnya..

makasi juga silent readers.. review doong :"

baiklah kalau gitu..sampai jumpa di chap depan yaa^0^/

Annyeoooooonggg w