Malam itu angin terasa dingin meskipun musim telah berganti—Akashi melihat pesan dari Kuroko.
/Orang yang ku kenal?
Ya... orang yang kau kenal.
Akashi beranjak dari tempat duduknya, lalu pergi ke kamarnya.
Ia masih memikirkan pesan terakhir yang ia kirim Ke Kuroko, direbahkannya tubuhnya keatas ranjang lalu mencoba untuk memasuki ruang mimpi.
Dan detik berikutnya iapun terlelap.
Curse
A Kuroko's Basketball Fanfiction
Kuroko's Basketball © Fujimaki Tadatoshi
Curse © Kuroko Tetsuragi
Rate: T+
Genre: Horror, Psycological-thriller, Tragedy
Chapter 02: Ou no Shinjiteita mono (Emperor's Belief_01)
Pair in this Chapter: AkaKuro (YEAH!)
Note: Usahakan saat membaca ini anda memutar lagu ini, &Z (Aldnoah Zero) atau Tsuki Akari (Akame Ga Kill) ataupun Dareka, Umi wo (Zankyou No Terror)
Warning: OOC, YAOI, semua merk produk, game atau anime lain yang muncul di fanfict ini bukan milik saya!
Akashi membuka matanya pelan, tempat apa ini? Aksen eropa klasik terasa sangat kental di ruangan ini. Akashi tidak ingat kalau kamarnya seklasik ini.
"Ini dimana?"
"Ah... akhirnya kamu sadar juga. Akashi Seijuuro." Akashi menoleh kearah suara—disana ia melihat sosok berambut hitam yang mirip dengannya
Eh?
"Kau siapa? Ini dimana?" tanyanya panik—manik crimsonnya menatap kedua mata emas dari sosok berambut hitam tersebut, namun ketika ia berusaha untuk bangun dari posisi tidurnya.
Tubuhnya tidak bisa bergerak.
Apa maksudnya ini.
"Selamat datang di duniaku—namaku Noro. Kagerou Noro"
Akashi menatap pemuda berambut hitam itu... Kagerou.
"Kager...ou?" Nama yang aneh, itu yang ada dipikiran Akashi.
"Kau ingin keluar dari sini kan Akashi-kun?" Akashi menoleh kearah Kagerou lalu menjawabnya dengan jawaban yang singkat.
"Kalau begitu aku punya Game untuk mu."
"Game?"
"Ya... kau pasti mendapat pesan yang berisi sebuah ungkapan aneh—dari Kuroko Tetsuya."
Akashi menatapnya lagi, kali ini rasa kagetnya telah memuncak. Ia mengingat kembalin pesan yang dikirim oleh pacarnya tersebut.
"Aku Kagerou Noro—orang yang mengirimi pesan itu ke Kuroko Tetsuya. Nah pertanyaannya adalah..."
Akashi mencoba untuk tenang—ia sebisa mungkin mencegah agar tubuhnya tidak diambil alih oleh 'Bokushi' lagi. setelah ia bisa tenang, ia kembali menatap Kagerou.
"Pertanyaannya adalah... siapa yang akan mati?"
DEG!
Akashi tidak menyangka kalau persepsinya kemarin tentang pesan itu benar, orang ini akan membunuh seseorang yang dia yang Kuroko kenal.
"Aku tahu kau memberitahu Kuroko Tetsuya maksud dari pesan itu bukan? Jadi harusnya kau sudah tahu kan siapa yang aku maksud?"
Tentu saja Akashi tahu... dia tahu—pemuda ini menargetkan sang pirang dari Kaijou—mantan teman satu teamnya.
Kiseki no Sedai... Kise Ryouta.
Alasannya Kise adalah Jenius dalam basket—keberadaannya sangatlah penting (apalagi setelah ia bisa mengkopi semua kemampuan khusus para anggota lainnya termasuk emperor eyes miliknya) dan satu lagi alasan yang menurutnya konyol
Kise berambut pirang—emas (pertamanya ia kira itu honeyblonde).
"Ayolah Akashi-kun... kau ingin pulang bukan? Kau ingin pergi kan dari dunia ini."
Tentu saja... Akashi ingin pergi dari dunia ini.
Namun apa yang akan terjadi jika ia mengatakan jawabannya?
Apakah ia langsung membunuh si pirang itu?
"Tanpa kau mengatakannyapun aku akan membunuhnya... jadi kau tak usah khawatir... kau juga tak akan dikatakan pembunuh... karena yang tahu hal ini hanya aku dan kamu."
Akashi terus berfikir—apa ia harus mengatakannya atau tidak—dan tinggal di tempat ini selamanya.
Akashi membuka mulutnya pelan
"Kise... Kise Ryouta." Ia merutuki dirinya yang terlalu penakut sehingga ia mengatakannya—namun perlahan ia merasakan kepalanya berat.
"Dan untuk gamenya—semoga berhasil?" samar-samar ia mendengar suara Kagerou.
'Jadi... Gamenya baru dimulai.' Lalu semuanya menjadi gelap
Curse
Akashi merapihkan bukunya lalu berjalan keluar dari kelas—sudah dua hari sejak mimpi aneh itu—dan ia sekarang harus ke Kanagawa—untuk mengunjungi makam Kise.
Ia tidak bisa datang kemarin—karena ia baru mendapat pesan dari Kagami tadi malam.
/Akashi... Kise.
Ia masih ingat betul saat itu ia belajar untuk ujian tengah semester untuk besok.
Ada apa dengannya...?
Akashi sebenarnya sudah tahu, apa yang terjadi dengan Kise. Karena...
.
.
Ia telah bertemu dengannya—sang Kagerou, orang dibalik semua ini.
/Dia... meninggal, kemarin pagi. Dan tadi baru saja dimakamkan
Akashi perlahan membulatkan matanya—ia tahu Kise akan meninggal—ia mengingat kata-kata Kagerou
"Tanpa kau mengatakan jawabannya... ia juga akan meninggal."
Tapi yang Akashi kagetkan—secepat inikah?
Secepat inikah ia harus kehilangan salah satu sahabatnya?
Ya... Akashi tahu, ia tidak terlalu dekat dengan Kise—namun yang jadi masalah adalah.
Kuroko.
Kise sangat dekat dengan Kuroko—karena saat smp Kuroko adalah mentornya Kise. Kise juga terkenal sangat hormat dengan Kuroko, Kise juga terkenal overprotective dengan surai babyblue itu—bahkan melebihi dirinya.
Meskipun akhirnya ia lebih memilih senpainya dibanding Kuroko.
—Aku yakin ia pasti sedih sekarang. Itulah yang dipikirkan Akashi.
Akashi berjalan di koridor Rakuzan, ia sudah mengatakan pada teman-temannya di klub basket kalau hari ini ia tidak bisa hadir, karena ia harus pergi ke pemakaman temannya.
SKIP
Sesampainya di Tokyo, ia langsung pergi ke makam yang dikatakan Kagami.
Kenapa ia bertanyanya ke Kagami mulu? Ia tak tega menanyakannya ke Kuroko—apalagi Kasamatsu. Makanya ia menanyakannya ke kagami aja.
Setelah ia sampai disana—ia melihat sosok babyblue yang sedang berdoa disana.
"Kuroko."
Didekatinya pemuda itu. Lalu menyentuh pundaknya pelan, Kuroko menatapnya dengan tatapan temboknya seperti biasa—
Tidak.
Entah kenapa mata pemuda yang ada di depannya penuh rasa penyesalan.
"Aku tidak bisa... melindunginya." Suaranya terdengar serak dan lirih.
"Kalau saja... aku memberitahunya terlebih dahulu, kalau saja aku tahu gadis itu—"
"Tunggu... Gadis?"
Akashi menatap Kuroko dengan tatapan penasaran—setahunya yang dibalik semua ini adakah seorang pria—Kagerou.
Ia lebih baik menyimpan semua ini—ia tidak ingin menambah beban Kuroko.
Tanpa menyadari kalau jalan yang ia ambil salah.
Jika aku menjadi Akashi... maka akan ku katakan semuanya, kejadian kemarin pagi, mimpi itu dan juga sosok dari orang yang mengirim pesan aneh itu.
Tiba-tiba Akashi merasa lengan bajunya ditarik, ia kembali dari dunia lamunannya. Kuroko lalu berkata sesuatu.
"Jangan..."
Akashi menatapnya bingung. Jangan?
"Ada apa?"
Didekapnya pemuda bersurai biru yang ada di depannya ini, tanpa disadari rintik hujan mulai membasahi bumi.
"Jangan tinggalkan aku..."
Dan setelah itu hanya keheningan yang terjadi.
Karena hujan semakin deras, Akashi akhirnya menbawa pemuda itu ke sebuah bangunan dilkuar kompleks makam—sebuah cafe.
Dengan dua cangkir minuman—espresso dan camomile tea. Mereka masih diselimuti keheningan, hanya suara hujan yang terdengar.
"Kumohon."
Kali ini Kuroko kembali bersuara.
"Kau harus janji padaku..."
"Janji...?" Akashi semakin bingung, namun ia kembali diam.
"Kau tidak akan meninggalkanku..."
Akashi kaget, mana mungkin ia akan meninggalkannya?
"Tenang, mana mungkin aku meninggalkanmu—"
"KAU HANYA TAK TAHU!" tiba-tiba suara Kuroko naik satu oktaf dari biasanya. Akashi sedikit terkejut dengan perubahan nada bicara Kuroko, namun yang lebih membuatnya kaget adalah.
Pemuda yang di depannya ini menangis, air matanya mengalir dengan deras, pemuda bersurai merah itu memegang puncak kepala Kuroko, lalu perlahan memegang pundaknya yang bergetar.
Sejujurnya ini bukan pertama kalinya melihat Kuroko menangis di depannya—hanya saja kali ini berbeda.
Tangisannya terdengar memekikkan telinganya.
"Tenang saja Kuroko, aku akan selalu ada disisimu."
Pemuda didepannya masih menangis.
"Kau adalah korban selanjutnya Akashi-kun..." masih dengan sedikit isakan—ia memberitahu sebuah kebenaran yang mengejutkan sang crimson.
"Apa maksudmu... Kuroko?"
"Tadi pagi aku mendapat telepon dari Noro."
/"Yo... Kuroko Tetsuya, ini aku Noro. Bagaimana masih belum percaya dengan kutukan?"
/"Kau tak perlu menjawab pertanyaanku. Aku punya kuis untukmu, waktumu hanya 5 hari lagi."
"Eum." Jujur saja sebenarnya Kuroko takut dan ia sebenarnya ingin merekam suaranya, entah kenapa tiba-tiba tombol perekam suara tidak berfungsi.
/"Ini adalah cerita seorang raja yang berkuasa sangat lama, namun suatu hari sang raja dikhianati oleh seorang prajuritnya. Satu persatu pasukan mulai kehilangan kepercayaan terhadap sang raja, sang prajurit itu berkata. Raja yang sudah kehilangan kepercayaannya, lebih baik menghilang saja. Lalu prajurit itu mengakhiri hidup sang raja."
Kuroko tidak bereaksi apa-apa, karena tentu saja ia tahu ini berhubungan dengan teman-temannya—para Kiseki no Sedai
Dan orang yang memiliki posisi yang bisa diumpamakan sebagai raja tersebut adalah... 'dia'
"Kau jangan bercanda kan?"
/"Apa aku terdengan bercanda—mungkin kau tahu jawabannya... itu cepat sekali."
"Kumohon..."
/"Hmm?" Noro hanya terdiam menanggapi kata-kata yang keluar diseberang sana.
"Kumohon... siapa saja boleh, asal jangan dia."
/"Ternyata pertanyaanku terlalu mudah ya... kalau begitu sampai ketemu 5 hari lagi."
"Hei!"
Sambungan teleponpun terputus, hanya suara tuuut tuuut yang menjawab panggilan terakhir Kuroko sebelum akhirnya ia menaruh kembali telepon itu ketempatnya dan berjalan ke sekolah.
"Seperti itulah." Kuroko menghela nafas supaya ia bisa menceritakannya dengan tenang sementara Akashi hanya terdiam.
"Selanjutnya... aku ya? Tapi tenang saja!" Akashi menatap Kuroko, ia tersenyum lalu menepuk pelan kedua pundak pemuda di depannya itu.
"Kau harus percaya padaku, Kuroko... Aku yakin aku tak akan mati, aku kan terus disampingmu." Mata crimsonnya memancarkan keyakinan yang kuat—yang mampu membuat sosok babyblue didepannya ini tersenyum kecil.
"Aku percaya padamu... Akashi-kun."
"Ah hujannya sudah reda, ayo kita ke camp."
Sebenarnya Akashi punya dua alasan ke Tokyo. Satu ia ingin mengunjungi makam Kise karena kemarin ia tidak sempat mengikuti upacara pemakamannya, dua karena Camp pelatihan untuk WBC sudah dimulai, selama 3 minggu ia akan berada di Tokyo, bersama Kuroko-nya.
.
.
.
.
Hanya saja ada satu hal yang membuat Akashi membeku seketika, ia melihat sosok itu—Kagerou yang kini tersenyum iblis didepannya, dan ketika Akashi mengedipkan matanya.
Sosoknya menghilang.
Emperor's Belief—To Be Continued
Background Sound: Re:Start (Yakitate! Japan Ending 4)
YOOOOOOOOOOOOSSSSSHHHHHHHHHHHHHHHHHHHAAAAAAAAAAAA! Ktemu lagi dengan saya, Kuroko Tetsuragi adiknya Yata Misaki yang tak diakui (ngarep lo).
Oh iya dichap sebelumnya aku melupakan sesuatu yang sangat penting.
Saya lupa terimakashih untuk yang udah review
Makasih ya udah review ff ini baik yang prolog maupun Gold arc ataupun keduanya.
Emperor arc nya saiya bagi jadi dua—jadi dua chapter AkaKuro special untuk para AkaKuro shipper ^^ tapi tenang saja Akashi nggak mati kok... cuman, Lihat aja chap depan
Yaeh! Sampai jumpa Chap Depan!
Salam HOMRA
