Sepasang mata berwarna gray menatap sesosok pemuda berambut hitam dengan manik heterocrome (kiri emas, kanan hitam) senyum setan tak hilang dari wajah sang manik hetero ia menatap sang pemuda bermata gray itu lalu membisikan sesuatu di telinga sang pemuda.
"Ayo kita main..."
Nihil.
Tak ada respon yang diterima oleh san manik heterochrome—Kagerou
Pemuda itu hanya bisa diam—matanya abu-abunya seperti tenggelam dalam kegelapan.
"Kau membosankan, lebih baik aku pergi saja."
Curse.
A Kuroko no Basket fanfiction
Kuroko no Basket © Fujimaki Tadatoshi
Curse © Kuroko Tetsuragi
Chapter 03: Ou no Shinjiteita Mono (Emperor's Belief) Final Part.
Warning: judul anime, produck, game yang tercantum di fanfict ini bukan punya saya
Aku punya sebuah cerita.
Dulu... dulu sekali ada sebuah kerajaan yang tentram dan damai
Para pemail tim nasional jepang terus berlatih dengan giat agar bisa memenangkan pertandingan pertama yang akan berlangsung sekitar 3 minggu lagi.
Mereka masih tidak bisa memungkiri kalau mereka masih dirundung kesedihan—akibat meninggalnya sang perfect copy satu minggu yang lalu.
"Hoiii waktunya makan malam!" panggil Riko dari luar lapangan, terlihat para pemain timnas yang bertebaran dibawah langit senja.
"Hoy! Waktunya makan malam!"
Semua pemain yang tadinya tergeletak tak bernyawa—kecuali Akashi yang lagi bicara dengan pelatih—ya kelez Akashi ikut teler -.- langsung bangkit dari kuburnya *digeplakrame-rame* lalu berjalan keluar dari gym.
Kecuali satu orang.
Pemuda itu terdiam melihat sosok rambut merah-hitam itu lalu kembali menatap langit senja dari gym (gymnya kayak yang di INEGo Galaxy yang atapnya bisa dibuka tutup).
"Oi Takao, ngapain masih disana...?" suara lain membuyarkan lamunan sang pemuda. Ditatapnya sosok berambut hijau lumut dengan tap di kesepuluh jarinya—ah jangan lupa bulu matanya yang lentik menambah kesan fabulous*Dilempar* dari sang pemuda.
"Ah... Shin-chan rupanya... nggak ngapa-ngapain, yuk ke ruang makan. Ntar jatah kita dibabat ama AoKaga couple lagi." pemilik Hawk Eyes itu berjalan meninggalkan sosok hijau—Midorima yang menyusulnya.
'Ada apa dengannya—nodayo? Tapi bukan berarti aku khawatir—nodayo! Cuman penasaran aja'
Dalem hatipun masih Tsundere dasar. Duo combie dari Shuutoku itupun lantas pergi menuju ruang makan.
"Oi... okawari (nambah dong)"
"Gue nggak bakal kalah dari lo Dekil, ore mo okawari! (gue juga nambah!)"
Semua hanya terdiam melihat dua orang setan makan yang terus-terusan nambah—terlihat dari tumpukan piring yang ada disampingnya mereka.
"Okawari!"
"Okawari!"
"Okawari!"
"Okawari!"
"Okawari!"
"Okawari!"
"Okawari!"
"Okawari!"
"Yah sayang sekali tapi nasi karenya udah habis..." seru Riko memperlihatkan rice cooker yang udah habis isinya.
"Seperti biasa Kare buatanya Kagami emang enak!" komen Hyuuga sambil minum air.
"Haa~ kapan ya kantoku juga bisa bikin Kare yang enak kayak gini -_-" komen Kogane
"Oh... maaf ya kalau saya tak bisa masak!" komen Aida sambil cuci piring bekas makan tadi lalu pergi dari dapur. Diikuti yang lainnya.
Sesampainya di kamar masing-masing Akashi pun duduk di kursi lalu mulai membuka sebuah buku—
Mathematics for grade 2
Wanjirr Akashi—nggak di rumah, nggak di sekolah nggak di camp belajar mulu kerjaannya.
Kembarannya Shizuku lo ya!
"Kira-kira game apa yang akan diberikan ya?" tanya Akashi pada dirinya sendiri. Ia memutar-mutar pensilnya lalu kembali menjawab soal-soal yang ada dibuku itu.
Setelah beberapa jam berlalu—jam menunjukan pukul 22:00 Akashi memutuskan untuk tidur.
Curse
Sesosok pemuda membuka matanya—mata metal bluenya menatap kesekelilingnya—taman bunga?
"Pffffttt! Tempat apa ini? Cewek banget."
Tap
Tap
Tap
Pemuda itu mendengar suara langkah kali dari belakang—disana ada seorang pemuda bermata hitam dan emas berjalan dari arah yang searah dengan posisinya.
"Hmm?" pemuda itu berhenti sebentar lalu tiba-tiba muncul dihadapan sang metal blue.
"Selamat datang di duniaku."
.
.
.
.
.
"Takao Kazunari-kun."
Akashi terdiam sambil melihat sekelilingnya.
Tempat ini—kan
Teiko...
Pemuda berambut crimson itu menatap sosok babyblue yang ada di depannya kini, seragam teiko melekat sempurna pada pemuda berambut babyblue ini.
"Apa maksudnya ini." Ia melihat pakaiannya
Seragam—Rakuzan.
Eh? Bagaimana bisa dia menggunakan seragam SMAnya sementara Kuroko mengenakan seragam SMPnya.
Dia melihat sesosok crimson lainnya yang tiba disana terlebih dahulu
Itu...
Dia.
Dirinya saat masih SMP—lebih tepatnya Alter Egonya (A/N: untuk bedain—yang versi SMP tak tulis Seijuuro dan yang SMA di tulis Akashi.). Mata merah dan emas milik pemuda itu menatap sang babyblue yang tersenyum manis di depannya.
Ini tidak mungkin.
"Eh? Bagaimana—kau bisa tahu namaku?" Takao mundur beberapa langkah dari pemuda bermanik heterokromia itu.
"Hmm? Oh iya aku lupa memperkenalkan diri—namaku Noro, Kagero Noro." Mengulurkan tangannya.
"Salam kenal Takao-kun." Takao melihat sebuah gunting di tangan Kagerou
"Dan sampai jumpa."
Akashi mengikuti kemanapun kedua sosok masalalu itu pergi, sampai akhirnya Kuroko terdiam dan memandangi sebuah kotak berisi anak anjing yang sangat lucu.
"Panasnya... ya kan, Tetsuya?" Kuroko menatap mata heterokromia dari si crimson lalu mengangguk setuju.
"Maka dari ini aku benci musim panas."
Eh?
Kalau Akashi tak salah lihat kalender sekarang masih bulan Maret. Sang kapten Rakuzan itupun mengambil handphone (yang sejak kapan ada disana) lalu melihat tanggal—kedua mata Crimsonnya terbelalak.
12:05
August, 15th
Ini adalah pertengahan musim panas—lebih tepatnya ditengah-tengah libur.
Akashi melihat sosok Kuroko yang mengejar anak anjing yang kabur disertai Seijuuro dibelakangnya.
Tiba-tiba sebuah truck melintas, sementara pemuda itu masih ada di jalan
Sedetik kemudian yang dia lihat adalah.
"Huaaa~ aku pikir aku akan mati!"
"Hehehe maaf."
"Nggak kenapa kok, lain kali jangan gitu lagi ya!" Kagerou menatap senyum dari pemuda yang ada di depannya ini.
"Nee Takao-kun?"
Takao menatapnya dengan rasa penasaran, lalu kembali fokus ke kue-kuenya
"Nani?"
"Mau bermain game?"
Takao hanya bisa memiringkan kepalanya bingung, sekarang ia dan Kagerou sedang berada di sebuah ruang lengkap sengan satu buah tea set... dan juga kue-kue yang enak
'Whooaa kue-kue ini enak.'
"Game?" tanya Takao setelah ia memakan satu buah autumn cookies. Ia menatap Kagerou.
"Iya... Game."
Sosok pemuda biru tersebut berlumuran darah—sementara di depannya ada sosok pemuda bermata metal gray bergakuran hitam.
Gakuran hitam?
Itu kan seragam.
"Game over, king..."
Lalu semua menjadi gelap.
Akashi membuka matanya pelan, sekarang ia ada di sebuah ruang besar yang bukan kamarnya—tempat ini... disini ada 5 buah jam yang satu telah terlumuri darah.
"Saa... ayo kita mulai, new game."
"Ah!" Akashi kembali ke tempat ini, di sebuah taman dimana Kuroko akan menemukan sebuah anak anjing.
"Eh?"
Kuroko dan Seijuuro justru meninggalkan tempat itu tanpa melihat kearah anak anjing tersebut. Sampai mereka di persimpangan jalan dimana ada orang yang sedang merenovasi bangunan.
"Aku ingin kita taruhan." Kagerou menatap Takao yang masih dengan lahapnya memakan kue-kue itu.
"Enak ya?" tanya Kagerou sambil sweatdrop di tempat.
"Iya enak banget! Oh iya ngomong-ngomong taruhan apa ya?"
"Siapa yang akan mati."
BRUUUUUUUUUUUUSSSSSSSSH!
Kagerou harus merelakan wajahnya mendapat siraman hangat dari teh yang keluar dari mulut Takao.
"Haaaaaaa?"
"Aku bilang siapa yang akan mati."
"Oy! Yang serius donk!"
"Sekarang Akashi Seijuuro sedang bermain dengan kematian."
'Akashi?'
"Kau bisa lihat ini."
Dan Takao sukses membelalakan matanya kaget.
Disana ada dua orang Akashi—berseragam Teiko dan berseragam Rakuzan.
"Bagaimana? Kau kaget bukan?"
Takao hanya diam.
Namun suatu hari, ada seorang prajurit yang iri dan ingin menghancurkan sang raja
Seijuuro menatap kaget apa yang ada di depannya begitu pula Akashi.
Sosok babyblue itu tertusuk oleh salah satu besi baja yang lebarnya hampir 50 cm.
"TETSUYA/KUROKO!"
Hujan turun perlahan membuat darah itu mengalir mengikuti aliran air hujan, sekali lagi Akashi melihat sosok bergakuran hitam itu.
"King... Game Over... again..."
Seperti ingatannya dimainkan Akashi tetap tidak bisa mengingat seragam dari sekolah mana itu.
Akashipun merasakan semuanya berhenti, latar kembali berganti. Kini Akashi berada di sebuah trotoar, disana ada dirinya dimasa lalu. Kuroko yang hampir tertabrak truck.
Ia bingung.
Sejak kapan sudah banyak jam yang berlumuran darah seperti ini?
"Ayolah king, jangan main-main. Ingat ini adalah kesempatan terakhirmu. Kalau kau gagal lagi. Dia akan mati." Akashi terbelalak, ia lalu menyadari sesuatu.
Ia bisa bergerak.
Padahal waktu berhenti.
Itu artinya ia memiliki kesempatan—kesempatan terakhir untuk menghentikan permainan busuk ini.
Ia berlari menuju arah pemuda babyblue yang membatu itu lalu menarik pemuda itu ke trotoar.
Ia tak melihat dirinya dimasa lalu.
Bagai keajaiban datang—waktu kembali berjalan—membuatnya bertabrakan dengan ujung truck
Darah tersimbah kemana-mana, ke tiang listrik, ke rambu-rambu lalu lintas dan ke wajah putih pucat sang babyblue.
"!"
Akashi terkaget melihat apa yang ada di depannya itu, sepasang mata skyblue menatapnya dengan seringaian setannya.
"Oh my god, you win... King.. but, good bye."
Semuanya menjadi gelap.
Prajurit itu membuat sebuah kebohongan agar sang raja di benci oleh para prajurit lainnya. Saat itu sang raja benar-benar dibenci dan akhirnya berencana akan dihukum mati
"Bagaimana keadakan Akashi-kun?" pemuda berambut babyblue ini menatap resah pintu rumah sakit. Sudah seharian penuh ini Akashi dan Takao tidak sadarkan diri—maka dari itu mereka dibawa ke rumah sakit.
Sosok dokter keluar dari kamar tersebut menyebabkan semua orang bergerombloan kesana termasuk Kuroko.
"Tenang, tidak ada yang serius hanya saja—ini tergantung dari Akashi sendiri."
Semua menatap dokter tersebut dengan tatapan penasaran.
"Dia koma."
Sang prajurit memenggal kepala sang raja, namun kepalanya tak terpenggal. Menghanguskan badannya namun tak hangus sedikitpun
"Bagaimana keadakanmu Takao? Bukan berarti aku peduli padamu—nodayo!"
Takao menatap langit-langit rumah sakit.
"Nee, Shin-chan..."
"?"
"Menurutmu... siapa yang akan mati?" Matanya menatap Midorima dengan tatapan yang aneh, membuat sang shooting guard terkaget, namun tiba-tiba Takao tertawa.
"Ah... aku hanya bercanda, lupakan saja."
"Akashi koma." Takao menatap Midorima dengan tatapan super kaget, ia lalu menatap kembali langit-langit kamar yang putih.
"Oh..." Hanya itu saja yang keluar dari mulut Takao, ia menyeringai.
'Aku yang menang... Kau pikir kau bisa segampang itu membunuh teman-temanku?'
Sampai akhirnya sang raja diracuni, namun ia tidak mati.
.
.
.
.
Ia hanya tertidur bagaikan putri di dongeng sleeping beauty.
Emperor arc END
Yosha! Kembali lagi dengan saya Kuroko Tetsuragi desuuuuuuuu! Wah, chapter ini pendek.
Chapter depan akan masuk Clover arc/Lucky Arc/ Takao Arc. Arc yang paling panjang yang memakan mungkin sekitaran 4 chap!
Sampai jumpa lagi!
Omake
Sosok bermata crimson itu terduduk disebuah kursi di sebuah ruangan yang lumayan familiar dengannya. Di depannya ada Kagerou yang membersihkan katananya dengan gumpalan kapas ia lalu menatap sang crimson.
"Kau tak akan pernah bisa keluar dari dunia ini... Akashi-kun."
Sementara Akashi hanya terdiam...
Ia ingat... gakuran berwarna hitam itu...
.
.
.
.
.
Seragam Shuutoku.
Apa ini berarti ada orang lain yang ikut campur dalam game ini?
Omake End
