Kuroko menatap sosok crimson yang terdidur di depannya, alat bantu pernapasan dan alat-alat yang membingungkan lainnya tertempel sempurna.

"Kumohon bangunlah..."

.

.

.

.

"Akashi-kun."

Curse

A Kuroko no Basuke Fanfiction

Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi

Rate: T+

Genre: Psycological, Thriller, Horror, Game, Tragedy.

Chapter 04: Atarashī kiseki no kieta (The Disappeared of New Miracles)

Warning: judul anime, produk, game yang tercantum pada fanfiction ini bukan milik saya, TakaoArc!

Insert song: Kisetsu wa Tsugi-tsugi Shindeiku

Kisetsu wa tsugi tsugi shindeiku

Zetsumei no koe ga kaze ni naru

04:00 a.m

Midorima membuka matanya pelan, langit berbintang menghiasi indahnya malam... Midorima merutuk kesal.. mata emerladnya menatap langit yang masih gelap gulita ini.

Kenapa ia bangun sepagi ini?

Namun samar-samar ia mendengar suara bola basket yang berbenturan dengan tanah (Kamar Midorima dan Takao tepat di samping lapangan outdoor jadi ia bisa melihat lapangan dari balik jendelanya.)

Midorima yang penasaran dengan apa yang terjadi di luar beranjak dari tempat tidurnya—mengambil kacamata lalu berjalan keluar kamarnya—namun ketika ia menatap tempat tidur milik sang parten ia sedikit kaget.

Kosong—ia menatap jendela.

"Anak ituuuuu..." Midorima menatap kesal jendela itu.

Eh? Salah jendela apa Midorima? sampai-sampai kau mendesisi (?) kesal seperti itu.

Bukan jendelanya ding, tapi yang ada dibalik jendela.

"Dasar... diakan baru keluar dari rumah sakit—nodayo." Midorima berjalan keluar dari kamarnya. Sampai di lorong ia bertemu Kuroko.

"Midorima-kun mau kemana?" Midorima sedikit tersentak mendengar suara itu. Ia lantas melihat kesana-kemari sampai akhirnya sebuah suara menginterupsinya.

"Aku disini... Midorima-kun." Mata emerlardnya menangkap bayangan sosok babyblue.

"Haaa ternyata kau Kuroko, bikin kaget aja—nanodayo. Kau sendiri dari mana—nodayo. Bukan berarti aku perhatian padamu—nanodayo."

Kuroko hanya sweatdrop. Ia lalu menjawab

"Aku baru saja dari toilet, kalau Midorima-kun?"

"Si Takao-yaro itu... dia lagi main basket di luar, dingin-dingin gini. Dia kan baru keluar dari rumah sakit—nodayo!"

"Yasudah aku cari Takao dulu, mau aku marahi—nodayo!" tanpa menunggu komentar Kuroko, Midorima langsung pergi melewati sang babyblue begitu saja.

Iromeku machi no yoenai otoko

Tsuki wo miageta wa koko ja busui

Sampainya di lapangan ia melihat sosok berambut raven itu lagi ngos-ngosan.

"Aku bosan diem terus, males juga.. nggak bisa tidur lagi... tapi sekarang huaah capek banget... mana dingin lagi—" Takao menghentikan kata-katanya, ia merasa pundaknya disentuh seseorang. Ia lalu menatap pundaknya, sebuah tangan bertap menyentuhnya.

Ah dia tahu ini tangan siapa.

"Etto... Shin...Chan?"

Takao membalikkan badannya bisa di bilang sekarang Midorima marah level dewa.

Tatapan matanya bahkan lebih menyeramkan daripada Kageyama dari fandom sebelah. Ituuuu loooo Setternya Karasuno! Yang paling penasaran sama kekuatannya Chitoge yang suver—Chitoge siapa? Itu cewek yang spikenya bisa bikin Hinata nyungsep*—untung beach volley kalau enggak— -_- ok kembali ke topic.

"Oi Bakao... kau tahu ini jam berapa?"

"Eh? Etto setengah 3? Jam 3?"

Haaaa?

"Bakao kau disini dari jam berapa haa?" Midorima bertanya dengan nada yang lebih menusuk lagi.

"J...Jam... setengah dua."

What?

Berarti dia disini dari dua setengah jam yang lalu.

Ctak!

Sebuah jitakan mendarat mulus di puncak kepala sang raven—sementara yang dijitak hanya bisa mengaduh kesakitan, si hijau lumut malah mulai ancang-ancang untuk.

"KAU INI GILA APA?!"

Berteriak—untung dilapangan hanya ada mereka berdua saja—dan teriakan Midorima tak bergitu besar—nanodayo

"Kau cari mati apa? Kau itu kan baru keluar dari rumah sakit—nodayo! Kalau kau kenapa-kenapa lagi memang siapa yang paling khawatir—nodayo!"

Ups... Midorima kau harus mendikte apa yang kau katakan tadi—sementara Takao udah terdiam.

Kini Midorima terdiam.

"Siapa yang paling khawatir—jangan bilang Shin-chan?"

AhOh.. skak mat Midorima.

"Bu—bukan lah!"

"Ehhh? Jadi Shin-chan khawatir ni..." goda sang raven sementara Midorima semakin kelabakan.

Seme Tsundere... ini jarang sekali ada -_- biasanya yang ada itu Uke tsundere.

Doro ni ashi mo tsureru seikatsu ni

Ame wa Arukooru no aji ga shita

"Ayo kita balik..." Midorima berjalan lalu diikuti oleh sang raven. Sang raven melihat bulan yang bersinar di subuh itu.

"Nee Shin-chan... ngomong-ngomong ini jam berapa?"

"Jam empat pagi—nanodayo."

"Oh..." sang raven berjalan di belakang sang hijau lumut, baru saja berjalan beberapa langkah ia merasa kepalanya berat sekali—matanya berkunang-kunang.

"Are..." lama kelamaan ia tak bisa menjaga keseimbangannya.

'Cih sebenarnya aku ini kenapa sih?' batinnya sebelum ia kehilangan kesadarannya.

Apashii na me de samayou machi de

Kyoudo fushin no Innocent ekimae nite

Midorima menghentikan langkahnya, ia menoleh kebelakang.

"Mana Takao?"

Ia tak melihat Takao sepanjang lorong—ia lalu berbalik ke lapangan.

"Oi Taka—"

Ia kaget merasakan ada sesuatu yang mengganjal ujung sepatunya—ia menoleh kebawah.

"Oi Takao!"

Midorima berjongkok lalu memegang pergelangan tangan sang raven.

Dingin... tapi denyut nadinya masih ada.

"Fyuuh... syukurlah kupikir dia mati—nodayo."

Diangkatnya tubuh sang raven lalu dibawanya ke kamar.

"Inilah akibatnya kalau kau tak mau mendengarkan nasehat orang lain Bakao. Repotkan jadinya—nodayo."

Tak ada respon dari sang raven.

Midorima memasuki kamarnya, menidurkan sang raven ke tempat tidur. Ia lalu menghubungi rumah sakit.

"Bikin repot aja—nodayo."

Ia menaruh tangannya ke dahi sang raven.

"Suhu tubuhnya semakin menurun—nodayo"

Boku wa boku to yobu ni wa futashi ka na?

Hantoumei na Kage ga ikiteru fuuda.

"Lho Takao?"

Mata metal bluenya membulat sempurna melihat apa yang ada di depannya.

Surai crimson itu... mata semerah ruby itu.

"Akashi? Lo bukannya seharusnya kau koma?!"

Akashi terdiam lalu mendekat kearah Takao.

"Kau sendiri—kenapa bisa ada disini?"

Ame ni utaeba kumo ga wareru ka?

Nigiyaka na natsu no hikarabita inochi da.

"Wah~~ Takao-kun Ohayo...!"

Akashi berbalik menatap Kagerou yang tersenyum sambil menyapa Takao.

Apa Takao mengenal Kagerou.

"Ettto... Kage-chan bisa tanya sesuatu?"

Kagerou hanya menyeringai lalu meng-iya-kan pertanyaan Takao.

"Kenapa Akashi bisa ada disini? Setahuku dia Koma."

Tiba-tiba Kagerou terkikik kecil dan itu membuat Takao sedikit takut.

"Yang ada disini hanyalah 'jiwa'nya saja! Ya sama dengan mu—kau yang ada disini hanya jiwamu saja! Hahahahahahaha!"

Takao terdiam, ia menatap Akashi, menatapnya dengan tatapan apakah itu benar? Yang dijawab anggukan singkat.

"Lalu tubuhku?"

Kagerou hanya menyeringai sambil menaikkan pundaknya tanda tak tahu, ia lalu mendekati Takao ia membisikan sesuatu pada pemuda berambut raven itu.

"Saa Game time~~"

"Aku sudah mengirim pesan ke Kuroko Tetsuya—dan untuk minna-san yang ada disini—aku punya teka-teki yang harus kalian jawab. Dan jawabannya adalah orang yang akan mati minggu ini."

Takao dan Akashi terdiam, napas mereka tercekat—mereka benar-benar tegang. Nyawa teman-temannya ada ditangannya.

"Dia adalah Keajaiban, namun bukan keajaiban."

Keajaiban namun bukan keajaiban? Apa maksudnya itu?

"Times up. Aku tunggu jawabanmu Takao... jaa~"

Semuanya menjadi gelap.

Haikei ima wa shiki kako ni tsugu

Zetsuen no shi

Saite na hibi no saiakuna yume no

Zangai wo sutete wo ikezu koko de ikitaeyou to

Takao membuka matanya lagi, kali ini yang ia lihat adalah langit-langit berwarna putih, bau khas obat terasa sangat menyengat di hidung sang raven.

"Ah... aku masuk rumah sakit lagi ya." Pandangannya terlihat sangat sayu, ia menatap Midorima yang masuk keruangan itu.

"Bagaimana keadakanmu, Takao?" Pemuda berambut raven itu menatap surai hijau lumut itu dengan lemah.

"Aku nggak tahu, aku lelah sekali." Takao menatap langit-langit kamar rumah sakit.

Takao menutup matanya pelan, ia mengingat lagi kata-kata Kagerou tadi—"Dia adalah keajaiban namun ia bukan keajaiban."

Takao tiba-tiba membuka matanya dengan cepat.

"Jangan bilang—dia..."

Kousei hana wa saki kimi ni tsutau

Hensen no shi

Kunou ni mamirete nageki kanashi mi

Soredemo todaenu uta ni hi wa sasazu tomo

Keesokan hari Takao mendapat kabar bahwa sang Power forward bernomor 10 itu mengalami kecelakaan saat berlatih.

Tubuhnya tertimpa ring basket, menyebabkan sang PF meninggal ditempat.

"Maafkan aku... ini semua salahku. Aku tak sempat menyelamatkan Kaga-chin. Aku minta maaf."

Itu Murasakibara...

"Itu bukan salahmu kok Murasakibara..."

Kali ini suara Aomine yang terdengar—rival sekaligus seme dari sang PF.

Takao hanya terdiam—ia memilih untuk mengurung diri dikamar.

Ia tahu...

Semua terlambat.

"Sebenarnya apa yang terjadi!" teriaknya pada dirinya sendiri.

"Kenapa semua hal ini bisa terjadi—apa-apaan game ini!"

Tsukareta kao ni ashi wo hikizutte

Terikaesu yuuhi ni kao wo shikamete

Ikou ka modoro ka? Nayami wa suru kedo

Shibaraku senaka arukidasu senaka

"Kuroko—aku ingin bertanya sesuatu padamu?"

Kuroko menatap wajah sang raven dengan tatapan kaget—wajah Takao terlihat sangat kucal—dia terlihat sangat depresi.

"Apa-apan ini? Bagaimana hal ini bisa terjadi? Apa yang sudah kau lakukan?!"

Kuroko terbelalak mendengar pertanyaan Takao.

"Kuroko—aku tahu, apa yang kau dan Kagerou Noro-chan lakukan. Kalian bermain game dengan kita sebagai korbannya bukan?!"

Sekali lagi—mata biru Kuroko terbelalak mendengar pertanyaan Takao, bagaimana caranya Takao mengetahuinya.

"Aku bertemu dengan Akashi." Kuroko menatap Takao, tatapan Takao mulai melemah.

"Apa maksudmu?"

"Iya—aku bertemu dengannya—Akashi Seijuuro... gara-gara game memuakkan mu itu kita jiwanya terperangkap di 'dunia' itu selamanya."

"Hentikan game sialan ini! Kumohon..."

Kuroko hanya terdiam, ia lalu terduduk...

"Kalau saja..."

"Kalau saja aku bisa menghentikan game ini... akan kuhentikan dari awal!" Kini giliran Takao yang terdiam ia menatap Kuroko yang menunduk—pundaknya bergetar hebat, Takao bisa melihat tetesan air mata yang jatuh dari matanya.

"Bukan berarti aku menginginkan permainan ini—ini terjadi sesukanya."

Haikei ima wa naki kakou wa omou boukyou no shi

Saite na hibi ga saiaku na yume ga

hajimari datta to omoueba

Zuibun tooku da.

Takao menendang bola basket itu hingga menabrak tembok gym, apa yang harus ia lakukan?

"Bukan berarti aku menginginkan permainan ini..." Kata-kata Kuroko terus terngiang di kepalanya yang tiba-tiba terasa sangat sakit.

"Apa sudah aku lakukan...? apa yang sudah aku katakan?"

Ia telah mengatakan hal seburuk itu pada Kuroko. Ia tak memikirkan perasaan sang baby blue yang tersakiti akibat perkataannya yang sok tahu itu.

"Tapi kalau Kuroko sendiri tak tahu... siapa yang akan menolong kami?"

Jangan—jangan ada lagi yang mati.

Takao mengambil bola basket itu lalu memantul-mantulkannya ke tembok.

"Seseorang beritahu aku..."

Apa yang sebenarnya terjadi.

Douse hana wa chiri

Rinne no wa ni kaeru inochi

Kunou ni mamirete nagete kanashimi

Soredemo todaenu uta ni hi wa sasazu tomo.

"Kau nggak bercanda kan?" Takao menatap sosok Kagerou yang tersenyum iblis.

"Ya tentu saja... apa aku terlihat bercanda?"

Takao hanya mengeleng.

"Biar aku ulangi satu hal. Aku menyukaimu Takao, aku ingin kau tetap disini bersamaku selamanya."

Kisetsu wa tsugi-tsugi iki kaeru

Takao arc—To Be Continued

Yeaahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh chapter pertama TAKAO ARC! *ditimpuk karena berisik* ehehe gomen-gomen aku nggak bakal ribut lagi ssu.

Oh iya disini ada cinta segitiga! Mido-Taka-OC(Kagerou) hehehe... wah—wah wah bakalan ada NTR (non Hentai). —chap depan adalah inti dari Takao arc karena yang jadi korban di chap depan adalah.

Yup 100 untuk anda Midorima Shintarou!

Sampai jumpa chap depan

Takao Arc. Death Clover