"Hmmm... siapa yang bagus ajak main ya?"
Sosok berambut merah gelap itu berjalan menyusuri lorong sampai akhirnya ia bertemu dengan surai violet dari sang Center Yosen Gakuen.
"Oi, Main yuk!"
"Hn.. Ok" Jawabnya malas.
Curse
Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi
Curse © Kuroko Tetsuragi.
Rate: T+
Genre: Psychological, Thriller, Horror, Game, Tragedy, Angst
Chapter 06: The Last Story of Violet Titan.
Midorima membenarkan letak kacamatanya—lalu sesekali ia menguap. Ia benar-benar mengantuk
Tapi ia tidak boleh tidur! Ia harus keluar sebelum Takao sadar jika tidak...
"Pfft—jangan bilang kau menungguku seharian begitu! Hahahaha!"
Namun sampai sekarang tidak ada tanda-tanda sang raven akan sadar.
"Haa... mungkin aku butuh cafein—nodayo." Ia keluar dari ruangan Takao—disana ada Kuroko yang tertidur dipundak Aomine.
"Masih menunggu keterangan dokter? Lama sekali—nanodayo?"
"Mana gua tahu—hoaaamm gue ngantuk..."
"Kalau ngantuk ya tidur—Kuroko juga udah Tidur." Kata Midorima yang dibalas tatapan yang menyebalkan dari Aomine.
"Kalau gue tidur yang nopang ni palanya Tetsu siapa? Kan lu dah tahu gaya tidur gue gimana? Gue nggak mau ngebahayain Tetsu."
Ah iya juga—nodayo, Aomine itu kalau tidur emang tipe penghancur... namun akhirnya Midorima pergi dari tempat itu lalu kembali lagi dengan dua buah minuman kopi.
"Ini untukmu—nanodayo—tapi bukannya aku peduli padamu—nodayo." Aomine menerima kopi itu lalu meminumnya dan habis sekali teguk (whut?)
"Ah Sankyuu—akhirnya bisa melek lagi gue..."
"Haah.."
"Sebenarnya apa yang terjadi."
"Ukhh..."
"Eh... lo udah bangun ya Tetsu..." yang dibalas anggukan oleh sang phantom sixth man.
"Aomine-kun... bagainama keadakan Akashi-kun?" tanyanya, ia menatap sang surai dark blue itu tersenyum lalu mengelus kepala sang babyblue.
"Dia nggak kenapa-napa kok Tetsu! Santai saja." Sekali lagi Kuroko hanya mengangguk lalu ia berjalan ke ruangannya Akashi...
"Akashi-kun... jangan mati..."
Kuroko tahu Akashi disana sedang berjuang untuk melewati game itu, menurut petunjuk yang diberi oleh Kagerou—sebelum di beri racun sang prajurit mengajak raja bermain sebuah game.
Dan kemungkinan dibalik kesadarannya Akashi sedang mempertaruhkan nyawanya.
Namun hanya satu hal yang membuatnya tak mengerti.
Apa yang ada dipikiran Noro, apa yang diinginkannya
Apa tujuan game ini?
Kagami masih saja bermain one-on-one dengan Murasakibara—entah sejal beberapa jam yang lalu mereka bermain—mereka seperti tak ada lelahnya.
Murasakibara melihat ada yang aneh dengan hoopnya namun ia tak peduli, ia hanya bermain—sampai ia puas.
"Kau membosankan Kaga-chin, kemana kemampuanmu waktu itu? Bosan."
Krek
"Cih aku mau pergi aja..."
Krek.
Bruk!
"Are... suara apa it—" Murasakibara terdiam melihat apa yang ada di depannya.
"Kaga-chin?"
Ring yang ada di depannya ambruk dan parahnya—dibawah ring itu ada Kagami, darah mulai mengalir membanjiri tempat itu.
"Aku harus cepat-cepat menghubungi Kuro—nggak... aku hubungin Mido-chin aja."
Hujan turun sangat jelas di camp, Murasakibara yang mendapat giliran membersihkan gudang menemukan sebuah buku dan sebuah kaset.
Kaset apa ini?
"Ehh...kaset ini aneh... kayak benda jadull..." Murasakibara mengambil kaset itu lalu menatapnya dengan tatapan malas seperti biasa.
"Are... cara untuk menghentikan kutukan 25 tahun yang lalu...? ah aku Kasih Kuro-chin aja ah..."
"Oi Kok Murasakibara masih bisa bersikap seperti biasa...?"
"Iya ya... dia nggak syok atau gimana gitu kek... dia kan yang pertama kali lihat Kagami-san terbunuh...?" suara desas desis anak-anak smp Teiko yang lewat disana membuat Murasakibara mengurungkan niatannya untuk keluar, tangannya memegang knop pintu yang sudah agak karatan itu.
"Janhan bilanh Murasakibara-senpai itu nhhak punya hati lahi! Iya ya—dia aja pas bilanh Kahami-san terbunuh ekspressinya nhhak takut atau kahet..." sahut salah satu temannya yang agak kesulitan mengucapkan huruf G.
"Badannya aja udah kayak monster jangan bilang hatinya nggak ada lagi."
Bukan...
Bukan berarti Murasakibara tidak kaget...
Kaget? Tentu saja ia kaget... ia benar-benar kaget.
"Kaga-chin?"
Darah mulai membanjiri daerah tempat Murasakibara berdiri—sementara Murasakibara menatap apa yang didepannya dengan tatapan yang sangat kaget, tubuhnya bergetar dan ia bahkan tidak bisa menjaga keseimbangannya dan jatuh di hadapan mayat yang hancur tertimpa ring tersebut.
Ia sangat takut...
"Aku harus menghubungi Kuro—ah tidak aku hubungi Mido-chin aja... aku nggak mau Kuro-chin tambah tertekan..." ia menghubungi Midorima.
/"Moshi..Moshi"
"Ah Mido-chin"
/"Oh Murasakibara ada apa?"
"Kaga-chin..."
/"Ada apa dengan Kagami? Dan juga kalau mau ngomongin Kagami ngapain ke aku! Harusnya kamu itu hubungin Aomine atau nggak Kuro—"
"Kaga-chin... dia mati."
/"Apa?! Bagaimana bisa—nodayo."
"Aku tak tahu... dia mati begitu saja setelah tertimpa ring... semua itu terjadi cepat sekali..."
Murasakibara masih terdiam di gudang itu, ia membuka pelan knop pintu—bahkan suara pintu terdengar sangat panjang, ia lalu melangkah meninggalkan tempat itu—ah ia juga meninggalkan kaset itu ditempatnya.
"Bukan berarti aku tidak takut..."
"Justru aku takut kalau aku tidak bisa menahan rasa takutku makanya aku menyembunyikannya... kalau aku takut—aku tidak bisa menyampaikannya dengan benar."
Dia tetap berjalan sampai ia bertemu dengan Kuroko.
"Ara... Kurochin... konbanwa..."
"Konbanwa Murasakibara-kun."
"Kuro-chin... tadi aku menemukan sebuah kaset, judulnya aneh..."
"Judulnya aneh...?"
"Iya... kayak... cara menghentikan kutukan... atau apalah itu namanya..."
Kuroko terdiam mendengar kata-kata Murasakibara.
"Etto... Murasakibarak-kun... bisa kau ambil kaset itu?"
Murasakibara memiringkan kepalanya sedikit...
"Hee... untuk apa?"
"Aku sedikit penasaran dengan kaset itu. Bisa kan?" pinta sang babyblue yang dibalas anggukan singkat dari Murasakibara.
Murasakibara memasuki ruangan itu, lalu kembali dengan kaset itu.
"Ini..."
"Ah... Arigatou."
Tanpa banyak kata Murasakibara meninggalkan Kuroko disana.
"Ah... hari ini hujan lagi..."
"Dan hari ini ada pemakaman lagi..."
Sudah seminggu sejak sang shooting guard kiseki no sedai Midorima Shintarou meninggal akibat jatuh dari lantai 4 camp.
"Ternyata, Murasakibara-san itu bukan manusia ya!"
"Mana ada manusia yang biasa-biasa aja padahal udah ada tiga temannya yang meninggal dalam waktu kurang dari 1 bulan."
"Iya.. ya... idih apa jangan-jangan dia lagi yang ngelakuin semua itu... ia sengaja menghancurkan ring itu agar Kagami-san terbunuh."
"Oh iya saat Winter cup kan ia dikalahkan oleh kagami-san, mungkin ia iri jadi ia berusaha untuk membunuh Kagami-san."
"Ihh... seram ya! Sadis sekali, masak cuman hara-hara kalah dalam kekuatan dibunuh? Murasakibara-san benar-benar sudah tidak waras!"
"Hoi! Jangan mengada-ngada! Belum tentu kan Murasakibara-san yang melakukannya?!"
Murasakibara muak.
Ia tak ada niat untuk membunuh Kagami... terlebih lagi untuk apa ia membunuhnya?
"Murasakibara-kun... hari ini giliranmu membersihkan gudang."
Tanpa berbicara Murasakibara meninggalkan tempat itu menuju gudang.
"Gudang ini... kenapa selalu kotor..." ia berjalan sampai ia sadar ia terlilit kabel—ada satu lilitan dilehernya.
"Ah... apa ini—akhh..." ia menarik kabel itu yang selanjutnya malah tambah mengencang—mencekik leher sang titan.
"Eekhh ini apahhkk... ukkhh sesaakkhhh..." Murasakibara berusaha untuk melepas ikatan itu dari lehernya, namun ikatannya malah semakin keras membuatnya semakin tercekik.
"Ukhh..." ia masih berusaha melepaskan ikatan itu sebelum akhirnya ia kehilangan kesadarannya.
Tangannya terlepas dari genggaman kabel itu, kakinya sedikit melayang diudara dan wajahnya sedikit membiru.
Murasakibara Atsushi kehilangan nyawanya disini.
Keesokan harinya, hujan kembali turun dengan derasnya—di pemakaman banyak orang berpakaian hitam yang mengelilingi sebuah makam
—makam keluarga Murasakibara.
"Kasihan ya Murasakibara-san..."
"Iya ya..."
Kuroko hanya menatap pemuda-pemuda itu dengan tatapan yang agak kesal.
'Dasar munafik—didepan mereka bisa berkata seperti itu—mereka seenaknya berkata yang tidak-tidak tentang Murasakibara-kun...'
"Cih bocah-bocah munafik..."
The Last Story of Violet Titan End
TakaoArc—To Be Continued
HUUUUUUAAAAAAAAAAAAAAAAAA Apa yang aku tulis ini Nanodayo! Hah hah hah hah
Aku nggak banyak komen hari ini, makasih ya buat yang udah review...
Dan chapter ini ada omakenya...
Omake.
Kuroko memasukkan kaset itu ke sebuah tape lalu menekan tombol play.
[Halo... namaku Akashi Seijuuro—dari dua puluh lima tahun yang lalu.]
[Dua puluh lima tahun yang lalu kami mendapat kasus yang sama dengan kalian—setiap minggu akan ada teman kami yang meninggal—namun tahun itu tragedi kami hanya sampai Murasakibara—tidak seperti 50 tahun yang lalu...]
[Aku akan memberitahu cara untuk menghentikan kutukan itu—namun sebelum itu aku ingin menceritakan sebuah cerita...]
[Tentang seorang pemuda dan keajaiban.]
.
.
.
.
.
Omake End
