Kuroko memasukkan kaset itu ke sebuah tape lalu menekan tombol play.
[Halo... namaku Akashi Seijuuro—dari dua puluh lima tahun yang lalu.]
[Dua puluh lima tahun yang lalu kami mendapat kasus yang sama dengan kalian—setiap minggu akan ada teman kami yang meninggal—namun tahun itu tragedi kami hanya sampai Murasakibara—tidak seperti 50 tahun yang lalu...]
[Aku akan memberitahu cara untuk menghentikan kutukan itu—namun sebelum itu aku ingin menceritakan sebuah cerita...]
[Tentang seorang pemuda dan keajaiban.]
Curse
A Kuroko no Basuke Fanfiction
Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi
Curse
Rate: T+
Genre: Angst, Game, Horror, Psychological, Thriller, Tragedy.
Warning: judul anime, game, ataupun merk produk dan website yang tercantum di fanfic ini bukan milikku!
Chapter 01: A Boy and Miracles (TAKAO Arc Final Chap)
Dahulu kala, jauh dari pemukiman penduduk, hidup seorang pemuda berambut hitam dan bermata biru yang dingin bagaikan es batu, ia tinggal di hutan yang lebat tanpa ada satupun orang yang menyadarinya.
Pemuda itu menatap langit biru yang dihiasi awan-awan putih yang indah.
Kapan aku bisa melihat langit yang indah ini bersama teman?
Pemuda itu terus berharap dan berharap suatu saat nanti akan ada orang yang menemukannya
Suatu hari, ketika sang pemuda raven tertidur dihamparan rumput di depan rumahnya, ia mendengar suara berisik dari semak-semak yang ada di depannya.
Pertamanya pemuda itu sedikit bergetar—ketakutan
Apa jangan-jangan itu serigala?
Pikiran-pikiran aneh mulai bermunculan dari benak sang raven—namun semua berubah ketika ia mendengar suara.
"Ah~~ dimana ini... aku ingin pulang—nanodayo."
Tiba-tiba ia melihat seorang manusia dengan pakaian berwarna putih dengan celana hitam yang keluar dari semak-semak tersebut, ia berjalan mendekati sang raven namun baru beberapa langkah.
Dubrak!
Sosok pemuda itu terjatuh, ia terdiam diri disana, sementara sang raven masih berpikir.
Bagaimana bisa ia terjatuh padahal tidak ada apa-apa yang bisa membuatnya tersandung?
Pemuda raven itu mendekati sang pemuda yang masih dalam posisi terduduk tersebut, ia mengulurkan tangannya. Seketika mata mereka bertemu.
Metal blue dan juga hijau emerlard bertemu.
"Hei namamu siapa?" tanya sang raven pada surai hijau.
"Midori—namaku Midori—nanodayo."
"Ah Midori ya namaku [*]" Midori tersenyum lalu bersalaman dengan sang raven.
"Salam kenal [*]"
Sang pemuda akhirnya mendapat banyak teman, mulai dari Kise, Momo, Murasakibara, Makka dan si kembar yang tak mirip Aoi dan Kuroko. Ia hidup dengan bahagia dengan teman-teman mereka sampai suatu saat terjadi sesuatu yang mengerikan.
Satu persatu temannya mati. Mulai dari sakit, dimakan serigala ataupun jatuh dari tembing.
Bahkan ada yang bunuh diri.
Sang pemuda yang melihat teman-temannya yang mati satu persatupun menjadi stress ia berteriak.
"KU MOHON! SATU KALI LAGI! BIARKAN AKU BERMAIN DENGAN MEREKA SATU KALI LAGI!"
Keajaibanpun muncul keeseokan harinya semua terulang dari awal, awal pertemuannya dengan pemuda berambut hijau itu dan semuanya.
Tanpa henti bagaikan kaset rusak.
Bagaikan berputar pada pusat yang sama cerita ini bagai tak ada habisnya.
Ya dan cerita itu masih berlanjut...
Hingga sekarang
Curse
[Cerita itu masih berlanjut hingga sekarang. Dengan pemeran yang sama dan alur yang sama...]
Kuroko mendengarkan isi kaset itu dengan seksama, ia tidak mau melewati satu barispun
[Kamipun juga mengalami hal yang kalian alami sekarang, teman-teman yang mati secara misterius namun terlihat tersusun dan terencana. Namun saat itu kami bisa menghentikan mala petaka yang ada disana.]
[Ya, semua berakhir tahun itu karena aku membunuh [*] aku tak sengaja mendorongnya dari lantai 5 camp pelatihan.]
[Pertamanya aku merasa sangat takut... ahh aku telah membunuhnya... aku telah membunuh [*]... aku yang panik melihat kebawah... tidak ada apa-apa disana.]
[Lalu aku melihat sosok pria bergakuran hitam ia berkata—game restart... aku yakin game ini pasti akan berulang kembali makanya aku merekam apa yang masih aku ingat...]
[Jika kalian ingin menyelesaikan game ini... kalian harus membunuh [*]... kenapa aku bisa yakin kalau kalian harus membunuh [*]? Setelah aku membunuhnya aku menceritakan hal ini pada Aomine, kau tahu apa yang iya katakan? Ia bilangg 'siapa [*] aku tidak mengenalnya.' Dan aku bertanya pada semua orang... tapi mereka bilang mereka tidak mengenal [*]... [*] menghilang bagaikan ia tak pernah ada di dunia ini...]
[Dan [*] yang aku maksud itu adalah... Takao.]
[Kau harus membunuhnya—jikalau ingin game ini berhenti di tengah-tengah.]
Kuroko masih terdiam, ia tidak mungkin membunuh Takao...
Itu tidak mungkin.
Bagaimana bisa ia membunuh?
Tapi apakah ini cara satu-satunya untuk menghentikan game sialan ini?
Tiba-tiba Kuroko mendengar suara pintu yang terdecit—disana ia melihat Takao yang berdiam diri disana.
"Takao-kun..."
"Nee... Kuroko, apa benar yang ada di kaset itu? Jika aku mati apa game ini akan berakhir..."
"Kalau begitu..." Kuroko kaget melihat apa yang Takao bawa... pisau? Darimana ia mendapat benda itu. Mengarahkannya ke lehernya
"Tunggu dulu Takao-kun, yamete! (jangan!)" untung Kuroko segera menghentikan sang raven sebelum pisau itu menyentuh kulitnya yang putih mulus itu.
"Kenapa kau menghentikanku Kuroko! Kalau aku mati, game ini akan selesai bukan!"
"Dengar kata-kataku dulu Takai-kun! Mati bukanlah satu-satunya jalan untuk menyelesaikan semuanya!" Kuroko masih berusaha untuk menghentikan sang raven yang berniat untuk mengakhiri hidupnya.
"Kumohon... jangan lakukan ini..."
"Lalu membiarkan semuanya mati karena game ini? Jangan bercanda Kuroko! Aku tak mau melihat orang mati lagi! aku tak mau kehilangan lagi Kuroko! Shin-chan... Shin-chan saja sudah cukup!"
Pisau berhasil Kuroko ambil dari tangan Takao, ia menatap Takao yang terduduk sambil sedikit terisak.
"Kumohon Kuroko... ini cara satu-satunya bukan? Ya bukan! KUROKO JAWAB AKU!"
Kuroko hanya bisa terdiam, ia menatap Takao yang masih terisak—ia lalu mendekati Takao.
"Kau tidak ingin orang lain meninggalkan Kuroko—kau sendiri sudah dengar bukan, kalau aku mati game ini akan selesai, jadi—"
Kata-kata Takao terhenti ditempat.
Hangat.
Ia melihat darah yang mengalir dari tangannya, di perutnya tertancap pisau yang seharusnya ada di tangan Kuroko.
"Jika kau benar-benar ingin mati, mati saja sana... kalau perlu cepatlah membusuk..."
Takao kaget melihat apa yang ada di depannya.
Kuroko—bermata merah darah... dan kini sosok itu tersenyum padanya, ia tak tahu harus bilang apa?
Kuroko membunuhnya...
Sebelum kesadaran Takao benar-benar menghilang ia bisa mendengar kata-kata Kuroko.
"Nah, saatnya menjemput sang Raja..."
Lalu semuanya menjadi gelap
Curse
"Aku tidak tahu kantoku, yang aku tahu Takao-kun memberontak, ia ingin mati... aku sudah berusaha untuk menghentikannya."
Kuroko menatap mayat yang ada di depannya dengan tatapan sedih, apa yang terjadi.
Yang ia ingat Takao berusaha untuk bunuh diri.
"KUROKO JAWAB AKU!"
Ia tidak ingat apa-apa setelah kata-kata Takao itu, yang ia ingat adalah. Ia terbangun dan sosok berdarah Takao sudah ada di depannya—dengan pisau yang tertancap sempurnya di perutnya.
Bagaimana ini bisa terjadi...
Seseorang.
Beritahu aku...
Apa yang sebenarnya terjadi.
Curse
Aomine mendapat tugas untuk menjaga Akashi hari ini—sesekali ia menguap, tanda bosan.
"Che, kenapa dia harus dijaga, dia kan koma lagipula siapa yang ingin membunuhnya coba."
Aomine hendak pergi meninggalkan tempat itu sebelum Akhirnya sebuah suara mengagetkannya.
"Are? Aomine?"
Aomine melihat ke sumber suara, mata merah yang selalu tertutup itu kini terbuka.
"Oi, bagaimana keadakanmu Akashi?" dia kembali keposisinya.
"Aku baik-baik saja Aomine? Oh iya sudah berapa lama aku begini?"
Aomine menatap Akashi dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
"Satu bulan—ah tidak maksudku hampir satu bulan... tiga mingguan lah... atau mungkin memang satu bulan."
"Selama itu kah..."
Aomine hanya mengangguk. Akashi lalu berguman sembari memejamkan matanya.
"Kuharap Kuroko baik-baik saja..."
Curse
"Kau! Berani sekali!"
"Tentu saja aku berani Kagerou-kun, lagipula Takao-kun sendiri yang meminta kematian itu..."
Di sebuah tempat, penuh dengan boneka sosok berambut babyblue bermata merah itu hanya tersenyum menatap Kagerou yang hanya bisa menangis meratapi kematian Takao Kazunari.
"Kau sudah tidak bisa mengendalikan game ini, Kagerou-kun. Sekarang duduklah dengan tenang... dan lihatlah permainanku."
TakaoArc—End
YEAH! TakaoArc! End! Wah aku benar-benar berterimakasih atas partisipasi kalian terutama buat yang sudah review! Aku berterima kasih sangat...
Ah masuk Final Arc... ni... berarti ini fanfic udah mau tamat, Akashi sang King sudah sadar dari tidur panjangnya dan death game yang barupun akan dimulai.
Next—The Imitation Blue
Sedikit Spoiler—chap depan main pairingnya AoKuro (Friendship)
Jaaa neee~~~~~~~~~~~~~~~
Kuroko Tetsuragi The 'Daze'
