Pemuda berambut babyblue dan bermata merah ini tersenyum sedikit kearah sang raja dan satu lagi sosok berambut babyblue namun bermata biru muda—Akashi dan Kuroko
Sang babyblue menyeringai kecil lalu
"Saa... King... kita lihat apa kau bisa memenangkan game ini?"
Menghilang di telan bumi
Curse
Kuroko no Basuke no Fanfiction desuuuu~~~
Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi
Curse © Kuroko Tetsuragi
Rate: T+
Genre: Angst, Game, Horror, Psychological, Thriller, Tragedy, YAOI
Warning: anime, game, ataupun produk lain yang tercantum di fanfiksi ini bukan milik saya, itu adalah milik instansi masing-masing saya hanya meminjam nama saja.
Note: Di Chapter ini akan ada beberapa korban... #spoilerlewat
Special Pairing for today: AoKuro (Friendship) and of course AkaKuro!
Check this out! LAST CHAP!
"Kenapa kita ada di tempat ini?" Aida sweatdrop ditempat... ini bukannya taman bermain? Kenapa mereka bisa ada disini...
"Bukannya kita mau stalking Kuroko ama Akashi yang lagi kencan ha? Ahomine!"
Kali ini giliran Hyuuga yang greget, pasalnya yang ada di pikirannya cuman satu
"Lagipula kenapa aku juga harus ikut?" kali ini komentar keluar dari mantan kapten Kaijo, Kasamatsu Yukio.
'Mereka nggak mungkin kencan disini!' pikir Aida dan Hyuuga.
"Ah itu Tetsu..."
SERIUS!?
Mereka (minus Kasamatsu) menatap ujung jari Aomine tertunjuk—dan terang saja itu Kuroko dan Akashi, mereka nampak mengunggu seseorang.
"Mereka nungguin kita, ayo cepat..." sementara yang lain hanya cengo...
"Lha? Bukannya kita mau ngikutin mereka—kok malah kita yang kesana?"
"Ha? Maksud? Kan aku bilangnya... besok Tetsu ama Akashi mau jalan-jalan mau ikut nggak?"
Sial mereka salah faham -_-
Merekapun pergi ke tempat Akashi dan Kuroko duduk berdua.
"Yo Akashi... udah lama nunggunya..."
"Kau seperti biasa ngaret Aomine..."
"Yo Tetsu..."
"..." Sementara Kuroko hanya terdiam, dia masih anteng minum vanilla milkshakenya. Aomine yang sedikit kesal dikacangin akhirnya mencubit pipi sang babyblue.
"Aomine-kun ittai desu..."
"Siapa suruh kamu ngacangin aku Tetsu..." Sementara Aomine melepaskan cubitannya, Kuroko hanya bisa terdiam dengan wajahnya yang pokerface.
"Oh... maaf."
Aomine hanya bisa sweatdrop mendengar kata-kata yang terucap dari mulut sang bablyblue... kayak
Nggak niat!
"Ya sudah... kalau begitu kita mulai aja jalan-jalannya."
Mereka memulai jalan-jalan mereka dengan menaiki wahana-wahana yang extreme. Tak sesekali mereka muntah berjamaah karena menaiki wahana yang bikin pusing -_-
Tak terasa malampun tiba, Kuroko dan kawan-kawan memutuskan untuk naik biang lala...
Ini cuplikannya.
Di bianglala 1 ada Akashi sama rahasia dulu
Di Bianglala 2 ada Hyuuga ama Riko
Di Bianglalla sebut saja A dan B
Di bianglala 4 sebut saja C dan D
Di bianglala 5 Satsuki dan Sakurai
Di bianglala 6 kosong
Di biang lala 7 Aomine dengan... rahasia dulu.
"Haaa... males banget gue..."
"Kalau malas ya pulang sana, Aomine-kun..."
"Ya... nggak mungkin gue bisa pulang seka—TETSU!" Aomine hampir serangan jantung melihat sosok babyblue yang ada di depannya ini... Why?
"Lho bukannya lu sama Akashi? Kok lu ama gue?"
"Memang kenapa? Tidak boleh?" Kuroko masih anteng minum vanilla milkshakenya tanpa menghiraukan Aomine yang gelagapan.
'Bukan itu masalahnya tahu...'
Lho kalau Kuroko ama Aomine... Akashi sama siapa donk?
"Maa bisa dibilang seperti itu..." Akashi hanya tersenyum manis melihat sosok berambut hitam dan bermata metal blue yang ada di depannya ini.
"Jadi anak kuliahan itu ribet ya, Kasamatsu-san?"
Oh Ternyata dia dengan Kasamatsu Yukio, come back ke biang lala 7
"Nee, Tetsu... kok gue agak nggak yakin dengan situasi yang sekarang—semua mati dengan misterius setiap satu minggu—nee bagaimana menurutmu jika minggu ini gue yang mati..."
BRUUUUUUUUUSSHH
"OI TETSU! ANJIR LU KALO MAU NYEMBUR JANGAN KE GUE JUGA KALI!"
"Aomine-kun juga jangan nanya yang aneh-aneh! Nggak akan ada yang mati lagi!"
Kuroko membersihkan wajahnya (sekitaran bibirnya) dengan sebuah tisu lalu ia memberika 1 pack tisu untuk Aomine... raut wajahnya berubah jadi agak sedih.
"Nggak akan ada yang mati lagi—maka dari itu..."
"Ini bersihin dulu mukamu..."
"Lampunya indah ya..." namun tak berlangsung lama karena listrik tiba-tiba mati... semua menjadi gelap...
"Oi Tetsu lo dimana Oi—" Kata-kata Aomine terputus—tidak ada yang tahu apa yang terjadi disana.
Di biang lala enam yang entah kenapa kosong terlihat sedikit aneh, kau tahu kenapa?
Hilang...
Biang lala enam yang seharusnya ada diatas tempat Aomine dan Kuroko menghilang?
Apa memang ada?
Apa tidak?
Kemanakah hilangnya...
"Gelap sekali..." Kuroko hanya terdiam di tempatnya—ia tak berani bergerak ia takut terjadi sesuatu, ada sesuatu di sana.
"Nee, bagaimana menurutmu kalau minggu ini aku yang mati."
Jangan bercanda...
"Aomine-kun?"
Tak ada respon dari sang tan, napas Kuroko tercekat—rasa gelisah mulai menghampiri dirinya...
"Aomine-kun?"
Sekali lagi tak ada respon dari sang tan, membuat Kuroko semakin gelisah.
"Aomine-kun jawab aku... ini tidak lucu."
Listrik kembali menyala—apa yang dilihat Kuroko sudah cukup meyakinkan.
"Aomine...kun?"
Kenapa?
Kenapa hal ini harus terjadi?
Bukannya seharusnya game ini sudah selesai?
"Akh... ini... bohong bukan?"
Merah... darah ini asli..
Tidak
Kumohon...
"HUAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"
Curse
Akashi terdiam melihat apa yang ada di bianglala itu.
Sebuah besi menancap dengan sempurna... bagaimana bisa?
"Bagaimana ini, Dai-chan tidak bisa dihubungi." Momoi menatap biang lala yang tertancap besi itu dan berharap semoga itu bukan yang ditumpangi Aomine dan Kuroko.
Sayang harapanmu tak terwujud.
Drrttt Drrttt Drrrttt...
Akashi menatap layar handphonenya
Kuroko
Calling...
"Moshi-moshi..."
/"Ha... ha... ukh... hiks..."
Suara isakan?
"Kuroko kau kenapa?"
/"Akashi-kun..."
Kuroko masih memanggil namanya, ia juga masih terisak... itu membuat Akashi sedikit kaget.
"Kuroko jangan bilang..."
/"Akashi-kun... Aomine-kun dia..."
"Kuroko kau tenang dulu ok? Aku akan menyuruh petugas untuk membenarkan bianglala ini secepatnya..."
Tidak ada jawaban dari Kuroko, hanya suara isakan yang terdengar dar seberang sana.
"Apa yang terjadi Akashi-kun?" setelah memutuskan sambungan telepon, Akashi menghampiri salah-satu petugas, mengabaikan Riko.
"Ano... masih ada teman saya disana?"
"HEE? Bukannya sudah terevakuasi semua?"
"Tidak masih ada—di biang lala yang tertancap besi itu..."
Sang petugas menatap Akashi dengan tatapan horror
"YA TUHAN! Kalau begitu kami akan mengevakuasi mereka, kalian tunggu disini ya?"
Curse
Tes...
Tes...
Tes...
Di sebuah ruangan
"Ya... Akashi yang melakukannya... lebih dia membiarkan hal itu terjadi."
Kuroko terdiam, airmata masih mengalir disudut matanya.
"Tidak, Akashi-kun tidak mungkin seperti itu."
"TIDAK KUROKO! DIA TAHU! AKASHI-KUN TAHU KALAU HAL INI AKAN TERJADI! NAMUN KARENA AKASHI-KUN MEMBENCINYA MAKANYA IA SENGAJA TIDAK MEMBERITAHUMU AGAR KAU TETAP BERSIKAP SEPERTI BIASA DAN TIDAK TAHU KALAU DIA AKAN MATI..."
Kuroko terdiam menatap sosok babyblue bermata merah darah yang ada di depannya ini.
"Tapi aku masih tidak percaya..."
"Sekarang aku beri pertanyaan. Kau pacar Akashi? Namun kenapa dia biasa-biasa saja membiarkanmu dengan Aomine? itu karena Akashi tahu, kalau dia akan mati di biang lala itu! Dia tahu, bahwa ia akan mati di depanmu. Akashi itu munafik... ia sudah berencana untuk melakukan hal itu..."
Kuroko terdiam, ia masih mencerna kata-kata sang mata merah
Apa benar...
Apa benar Akashi-kun sengaja melakukan hal ini?
"Jadi, apakah kau mau membantuku?"
Diulurkan tangan sang babyblue, Kuroko hanya terdiam... tatapan matanya kosong.
Curse
Sudah seminggu semenjak kematian sang Ace dari Too, keadakan semuanya runyam.
Termasuk di Seirin.
"Lo Kuroko-kun mana?" Tanya Aida... ia tak melihat Kuroko hari ini—minggu lalupun juga—namun ia pikir Kuroko hanya bolos latihan.
"Kalau Kuroko saya tidak tahu Kantoku—sudah hampir seminggu dia absen.."
"Haaaaaaaa? Dia absen? Serius?"
"Hah..."
"Anno... sumimasen?" Semua menatap kearah pintu—di sana ada Momoi Satsuki, sosok berambut merah muda ini mendekat ke arah Riko dan Hyuuga.
"Kalau kau mencari Kuroko—dia tidak ada disi—"
DOR!
"KYAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"
"Kapten!"
"Hyuuga!"
Mereka semua menatap Momoi yang kini memegang sebuah pistol—
"Momoi-san apa kan kamu—"
DOR!
"Furihata!"
Mata pink Momoi terlihat seperti haus darah—
"Ayo bermain denganku..."
DOR
DOR
"Ahahahahahahahaha..."
DOR
DOR
DOR
DOR
"AHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA! MATI! MATI KALIAN SEMUA!"
DOR
"Kyaaaaaaaaa!"
Suara tembakan mengalun di Seirin... hingga tersisa sosok Aida Riko yang kini meringkuk ketakukan di pojokan.
"Ara... hanya kamu yang tersisa."
"Selamat jalan... Aida Riko."
DOR
Momoi melihat mayat-mayat yang ada di depannya ini dengan tatapan kosong—lalu tubuhnya kehilangan keseimbangan dan terkapar dilantai.
Dan darah muncul dari perutnya secara misterius.
Jangan bilang?
Curse
Pagi itu Momoi menyempatkan Seirin—untuk menemui Kuroko. Namun ketika dijalan ia mendengar anak-anak Seirin yang sedang membicarakan Kuroko.
"Apa hari ini Kuroko absen lagi ya?"
"Aku tidak tahu..." ia kenal—itu salah satu anggota tim basket Seirin—Furihata Kouki.
"Eh Tetsu-kun tidak sekolah?" Momoi lalu pergi dari tempat itu—tujuannya adalah rumah Kuroko.
Ia masuk ke rumah Kuroko dan terkejut melihat apa yang ada di depannya ini.
"Kyaaaaaa!"
Sosok kedua orang tua Kuroko, meninggal bagai habis dicabik-cabik hewan buas, tubuh mereka tidak terbentuk lagi.
"Tetsu-kun... Tetsu-kun!" Momoi yang panik langsung berlari ke kamar sang babyblue.
Brak!
Dibukannya pintu itu dengan kasar—disana ada Kuroko yang duduk dengan antengnya.
"Tetsu-kun..." sedikit mendekat—tiba-tiba ia sudah tidak melihat Kuroko lagi, ia membalikkan badannya.
"Momoi-san..."
Kuroko mendekapnya dari belakang—mata birunya berubah menjadi merah darah. Ia lalu membisikan sesuatu ketelinga Momoi sedangkan Momoi merasakan sesuatu yang hangat dan kental mulai keluar dari perut dan mulutnya. Darahkah?
Kuroko menancapnya—dengan pedang terkutuk Saika...
Dimana ia mendapatkannya.
"Nee Momoi-san..."
Kuroko memperdalam tusukan pedangnya membuat Momoi semakin kesakitan.
"Berikan tubuhmu untukku..."
FinalArc—To Be Continued
