Tifa merekrut empat orang pegawai baru. Yaitu Cloud sebagai bartender, Zack dan Reno sebagai host dan seorang pegawai wanita bersurai blonde bernama Elena.

Dua hari berlalu dan hari ini merupakan hari pertama kerja bagi keempat pegawai baru. Tifa memberikan penjelasan singkat bagi keempat pegawai itu dan meminta para hostess dan host senior untuk membimbing ketiga hostess dan host junior.

"Cloud, ikutlah bersamaku. Aku akan mengajarkan cara membuat minuman simple.", ujar Tifa pada Cloud.

Cloud berjalan mengikuti Tifa menuju meja bartender. Pria itu hanya mengenakan kemeja putih dengan celana hitam panjang dan name tag bertuliskan nama dan tulisan 'Trainee'.

"Kau pasti sudah mengenal jenis-jenis alkohol, kan ?, tanya Tifa.

"Hanya sedikit, itupun yang biasa kuminum."

"Apa yang biasa kau minum ?"

"Brandy, terkadang vodka atau sake."

Tifa mengangguk. Nama minuman alkohol yang disebutkan pria itu merupakan minum dengan kadar alkohol tinggi. Sepertinya, pria itu merupakan seorang yang memiliki cukup 'kuat' dalam meminum minuman beralkohol.

"Baiklah, aku akan mengajarkanmu cara membuat martini. Untuk mempermudah, aku sudah menempelkan label pada setiap botol alkohol."

Cloud mengangguk dan menatap Tifa seolah menunggu apa yang akan diucapkan Tifa selanjutnya.

"Kau hanya perlu mencampurkan 45 ml gin dan 15 ml dry vermouth. Ini daftar resep minuman, kau bisa menghafal nya.", Tifa menyerahkan selembar kertas. Bertuliskan daftar minuman dan resep nya.

"Terima kasih."

"Ya. Kau bisa mulai menghafal minuman sebelum bar buka."

Cloud mengangguk dan berjalan menuju salah satu meja sambil menghafal daftar minuman. Zack tampak menghampiri Cloud dan duduk disamping nya.

Cloud hanya melirik Zack sekilas dan tak menghiraukan Zack yang mencoba mengajaknya berbicara.

Tifa dapat menarik kesimpulan bila Cloud bukanlah orang yang suka berbicara dan merasa bersyukur karena memberi pekerjaan yang tepat bagi pria itu.

…..*…..

Bar kini mulai ramai dikunjungi oleh para pengunjung. Beberapa pria yang baru saja pulang kerja tampak menghampiri meja.

Seorang pria berambut panjang yang diikat duduk di meja bartender dan berhadapan dengan Tifa.

"Tuan Tseng, ingin minuman seperti biasa ?", sambut Tifa sambil tersenyum pada pria itu.

"Ya, seperti biasa."

Tifa segera mempersiapkan minuman untuk pria itu. Pria itu memesan 'Seventh Heaven Special', yaitu minuman racikan khusus berupa campuran vodka, gin, rum dan juice lime.

"Pria itu bartender baru ?", ujar Tseng saat Tifa menyerahkan gelas minuman pria itu.

"Ya, ini hari pertama nya bekerja."

Pria itu mengangguk dan menikmati minuman nya. Tifa membiarkan Cloud membuat minuman yang cukup mudah untuk dibuat sambil memberikan panduan pada Cloud.

"Kau Cloud mantan SOLDIER 3rd class, kan ? Senang bertemu denganmu disini.", ucap Tseng ketika Cloud menyerahkan gelas martini pesanan pria itu.

Cloud tersentak dan terlihat tidak nyaman. Tifa dapat menangkap bila pria itu terlihat tidak nyaman dan meletakkan botol rum yang sedang dituang nya ke dalam gelas.

"Ya. Senang bertemu denganmu.", jawab Cloud dengan wajah datar.

"Ah, Cloud, bisakah kau membuatkan Margarita dan Martini menyerahkan pada Aerith ? Klien nya memesan itu.". Tifa dengan sengaja menyuruh Cloud membuat minuman agar dapat menjauhkan pria itu dari Tseng.

Cloud berjalan melewati Tifa dan membuka lemari berisi minuman. Cloud terlihat lega dan Tifa menggantikan Cloud untuk melayani pria bernama Tseng itu.

…..*…..

Jam menunjukkan pukul setengah tiga pagi. Pelanggan terakhir baru saja pulang dalam keadaan mabuk dan hostess yang melayani nya membantu pria itu memesan taxi.

Tifa menyerahkan 'uang bonus' bagi para pegawai. Hari ini pendapatan nya meningkat berkat para host junior yang diturunkan ke jalan untuk menarik pelanggan.

"Cloud, ini bonus mu.", Tifa memberikan uang sebesar tujuh ratus lima puluh gil pada Cloud.

"Ya, terima kasih."

"Selamat malam.", ujar Tifa sambil berjalan menuju pintu keluar.

"Selamat malam, berhati-hatilah Tifa-san.", jawab beberapa pegawai.

"Kalian juga berhati-hatilah."

Tifa melambaikan tangan dan keluar dari bar. Ia masuk ke dalam mobil nya serta mengemudi menuju rumah nya.

Sepanjang perjalanan, Tifa seolah terbuai dalam khayalan. Tiba-tiba saja ia merasa konyol. Cloud bukanlah pria seperti yang awal nya dibayangkan nya. Ia berharap, bahkan sangat berharap bila ia dapat mendekati Cloud dengan mudah, namun mendekati pria itu tak semudah yang dibayangkan nya.

'Kurasa aku harus sedikit lebih agresif padanya', batin Tifa sambil mempercepat laju mobil menuju rumah nya.

Sesampainya di rumah, Tifa masuk ke dalam kamar dan tersenyum serta mengelus seorang gadis kecil bersurai hazel dengan lembut.

"Tifa-nee", gumam gadis kecil itu dan membuka mata nya perlahan.

Tifa meletakkan telunjuk di bibir nya.

"Ssh.. Tidurlah, Marlene-chan"

"Sejak tadi aku menunggu Tifa-nee."

Tifa tersenyum dan kembali mengelus kepala gadis itu serta sedikit memaksa gadis itu kembali memejamkan mata.

"Gomen ne, Marlene-chan. "

"Uh… tidak mau. Kenapa Tifa-nee harus pulang larut malam setiap hari, sih ?"

"Ini pekerjaan, Marlene-chan. Sekarang kau harus tidur, kalau tidak, aku tidak akan mengizinkanmu tidur di kamar ku malam ini."

"Tapi, Tifa-nee harus memelukku.", gadis itu merajuk dengan menggembungkan pipi dan membuat ekspresi wajah yang terlihat lucu. Tifa tersenyum dan mencubit pipi gadis itu dengan gemas.

Sebetulnya, ia merasa bersalah karena jarang menghabiskan waktu bersama Marlene. Walaupun gadis itu hanyalah anak adopsi seorang teman yang dititipkan padanya, namun ia merasa bertanggung jawab atas segala hal yang dialami gadis kecil itu.

Rasa keibuan seorang wanita seperti Tifa membuatnya menerima tawaran untuk merawat Marlene sementara, terutama setelah ia mendengar cerita mengenai Marlene yang tidak memiliki orang tua.

Tifa merasa benar-benar menyesal. Mungkin seharusnya waktu itu ia menolak tawaran untuk merawat Marlene dibandingkan memaksakan diri merawatnya dan membuat gadis kecil itu kesepian.

"Ah, aku harus mandi terlebih dahulu. Setelah ini aku akan memelukmu hingga tertidur."

"Janji ?", Marlene mengulurkan jari kelingking nya dari dalam bedcover yang menyelimuti tubuh nya.

"Aku janji.", Tifa mengaitkan kelingking nya.

"Oyasumi, Tifa-nee."

"Oyasumi, Marlene-chan", Tifa kembali mengelus kening gadis kecil itu sebelum berjalan menuju kamar mandi.

Tifa menepati janji nya dan berjalan menuju kasur serta memeluk Marlene. Gadis kecil itu telah tertidur dengan wajah yang begitu damai dan begitupun dengan Tifa yang langsung tertidur dengan lelap.

…..*…..

Tifa terbangun pukul enam pagi dan menyiapkan sarapan serta bekal untuk Marlene. Sebuah bus sekolah berhenti di depan rumah Tifa dan membunyikan klakson.

"Tifa-nee, aku berangkat dulu, ya. Jaa ne !", Marlene melambaikan tangan.

"Jaa ne, Marlene-chan", Tifa melambaikan tangan pada Marlene dan berdiri di depan pintu hingga bus bergerak meninggalkan rumah Tifa.

Tifa menutup pintu dan berjalan masuk ke dalam kamar nya serta kembali memejamkan mata. Dengan cepat, ia tertidur pulas walaupun sebetulnya ia berusaha keras agar tidak tertidur.

Tifa benar-benar suka berbelanja online. Ia bahkan membeli pakaian dan makanan ringan di toko online. Terkadang, ia juga membeli bahan makanan di toko online.

Kemarin Tifa membeli makanan ringan di toko online langganan nya dan seharusnya barang yang dipesan nya sampai hari ini. Dan, Tifa tak sabar menunggu barang itu sampai.

Tifa tertidur selama tiga jam dan terbangun. Ia melirik jam yang terpasang di dinding, jam menunjukkan pukul sebelas. Ia mendengar suara tetesan hujan deras dan berjalan ke arah pintu.

Terdengar suara bel yang ditekan dan dengan wajah mengantuk ia membuka pintu.

Hujan turun dengan deras dan ia terkejut menemukan Cloud yang berdiri di depan rumah dengan pakaian basah.

"Eh, Cloud ?"

"Paket untukmu, Tifa."

Tifa membuka pintu dan menerima bungkusan paket yang diserahkan Cloud. Cloud hendak mengeluarkan kertas dari kantung celana nya dan Tifa menghentikan pria itu.

"Cloud, masuk saja ke dalam. Diluar hujan dan pakaianmu basah."

"Tapi, aku harus segera pulang."

"Eh ? Kau masih harus mengantar barang ?"

"Tidak,ini kiriman yang terakhir."

"Sudahlah, ayo masuk. Tunggulah hingga hujan nya reda, setelah itu kau boleh pulang."

"Baiklah."

Cloud melepas alas kaki nya dan masuk ke dalam rumah Tifa. Tifa menyediakan sandal rumah sebagai ganti dan meminta Cloud menunggu di ruang tamu sementara ia mengambil handuk dan membawa nampan berisi dua gelas earl grey tea dan beberapa toples makanan ringan.

"Maaf, hanya ini yang dapat kuhidangkan untukmu.", ucap Tifa sambil meletakkan nampan diatas meja.

"Pakailah ini, maaf tidak ada pakaian ganti untukmu.", Tifa memberikan handuk bersih pada Cloud.

"Tidak apa-apa, maaf merepotkanmu."

"Ya, silahkan dimakan.", ujar Tifa sambil membuka toples.

Sebetulnya, Tifa merasa gugup walau ia tak memperlihatkan nya. Pria itu terlihat begitu tampan walaupun dengan tubuh yang basah. Dan kini pria itu melepas pakaian nya dan mengelap bagian atas tubuh nya dengan handuk.

Tubuh pria itu begitu seksi dan dapat membangkitkan gairah seorang wanita dengan lengan dan perut yang berotot. Selain itu, pria itu memiliki bentuk tubuh yang terkesan 'jantan', bahkan otot dada nya pun terbentuk.

Tifa menatap tubuh pria itu sedikit lebih lama sebelum akhirnya ia mengambil gelas teh miliknya dan meminum isi nya.

Cloud memakai kembali pakaian nya setelah menmbasuh tubuh nya yang basah dengan handuk yang disediakan Tifa.

"Cloud, kau masih bekerja mengantar barang ?"

"Ya.."

"Bukankah sekarang kau bekerja di bar mulai pukul lima sore ?"

Seolah memahami maksud dan arah pertanyaan Tifa, pria itu menjawab, "Ya, sekarang aku mengambil lebih sedikit pengantaran dibanding sebelumnya."

Tifa mengangguk. Ia tak mengerti mengapa pria itu bekerja begitu keras. Pekerjaan mengantar barang, terutama dengan mengemudi motor sudah cukup melelahkan. Ditambah dengan pekerjaan di bar yang memakan waktu tujuh jam.

"Kau memiliki keluarga, Cloud ?"

Pria itu tersentak dengan pertanyaan Tifa, tak menyangka bila tiba-tiba saja Tifa menanyakan hal itu.

"Ah, maaf. Aku tak seharusnya menanyakan privasi mu."

"Hanya ibu, ayah ku sudah lama meninggal."

"Begitukah ?"

"Ya, bagaimana dengan mu ?"

"Orang tua ku sudah meninggal dan aku tak memiliki saudara."

Pria itu mengangguk dan Tifa membuka toples berisi cookies dan memakan nya. Sejenak, ia teringat akan sekelebat masa lalu nya mengenai seorang anak laki-laki bersurai pirang yang merupakan tetangga nya.

Lebih dari satu dekade berlalu sejak kali terakhir Tifa bertemu dengan anak lelaki itu dan kini entah dimana pria itu berada. Sudah lama ia melupakan anak lelaki itu dan berusaha keras untuk tak mengingatnya akibat suatu kesalahan.

"Kau bilang, kau berasal dari Nibelheim, kan ?"

"Ya."

Tifa mengangguk. Ia teringat akan nyonya Striffe, tetangga nya yang membesarkan putra nya sendirian. Tanpa sadar air mata menetes dan mengaliri membasahi wajah Tifa dan membuat Cloud mengernyitkan dahi, tak tahu apa yang harus dilakukan.

Ingatan Tifa akan anak lelaki yang tinggal di sebelah rumah nya. Ia dan anak laki-laki itu merupakan teman dekat dan sering menghabiskan waktu bersama. Bahkan, saat ibu nya meninggal, anak lelaki itu menghiburnya dan menemani gadis itu ke gunung Nibel ketika gadis itu mengatakan ingin melewati gunung Nibel untuk bertemu dengan ibu nya yang sudah meninggal.

Anak laki-laki itu bahkan menolong Tifa ketika jembatan yang dilewati mereka hancur walau ia gagal menolong Tifa fan Tifa terluka parah.

Sejak itu, ayah nya melarang mereka bertemu ataupun bermain bersama dan seluruh penduduk desa menyalahkan anak laki-laki itu dan berasumsi bila anak laki-laki itu yang mengajak Tifa pergi ke gunung.

Dan kini, anak laki-laki itu berada di hadapan nya. Tifa benar-benar menangis, ia merasa bersalah, sedih sekaligus rindu. Ia menyesal tak melawan perintah ayah nya dan menjelaskan pada penduduk desa bila Cloud tidak mengajak Tifa pergi ke gunung Nibel.

"Cloud, kau masih mengingatku ? Aku Tifa Lockhart, gadis yang tinggal di sebelah rumah mu dulu."

"Kau mengingatku ?", pria itu terlihat puas.

"Ya. Maaf aku tak mengenalimu pada awal nya. Kau banyak berubah."

"Kau juga, terlihat berbeda dan lebih dewasa dibanding kali terakhir kita bertemu."

Tifa dan Cloud berpelukan melepas rindu. Air mata kembali mengalir dari pelupuk mata dan Cloud mengeratkan pelukan nya.

"Cloud, maafkan aku."

"Untuk apa ?"

"Untuk semua kesalahanku. Terutama ketika penduduk desa berpikir bila kau mengajakku pergi ke gunung Nibel, aku sama sekali tak melakukan apapun."

"Sudahlah, ini bukan salahmu."

Tifa mengeratkan pelukan nya. Mereka terus berpelukan hingga mereka merasa cukup dan melepaskan pelukan masing-masing.

Air mata Tifa telah kembali mengalir dan kini ia merasakan kelegaan. Kini, Tifa kembali menuangkan teh ke dalam gelas milik nya dan Cloud.

"Itu siapa ?", tanya Cloud sambil menunjuk sebuah foto Tifa dan Marlene yang dipajang di ruang tamu dengan ukuran yang cukup besar.

"Anakku, hehe…"

"Anak mu ?", suara Cloud meningkat dan ia terlihat sangat terkejut. Bahkan tanpa sadar ia lupa mengatupkan mulut nya. "Tapi usia mu…"

Tifa tertawa melihat reaksi Cloud yang benar-benar terkejut. Sikap Cloud masih tak berubah dibanding kali terakhir ia bertemu, hanya saja kali ini terkesan lebih suram.

"Tenang saja. Itu bukan benar-benar anakku."

"Lalu, siapa dia ?"

"Dia anak adopsi teman ku yang dititipkan padaku."

"Benarkah ? Mungkin aku juga bisa menitipkan anak adopsi ku padamu."

"Eh ? Kau juga mengadopsi anak ?"

Cloud menggeleng. Ia menatap Tifa sejenak dan berkata, "Sebetulnya tidak bisa disebut mengadopsi. Aku tanpa sengaja menemukan anak itu."

"Lalu kau merawatnya ? Kenapa kau tidak membawa nya ke panti asuhan saja ?"

"Mengapa kau bersedia merawat anak adopsi teman mu ?"

Tifa terdiam sejenak. Pria itu membalik pertanyaan nya sendiri dan kini Tifa benar-benar tak dapat menjawab. Ia sendiri bahkan tak tahu jawaban atas pertanyaan itu.

"Eh… karena kasihan, mungkin ?"

"Ya, aku juga merasa begitu pada Denzel."

"Denzel ? Anak adopsi mu adalah seorang anak laki-laki ?"

"Ya."

"Baguslah, akan lebih sulit bila seorang pria sepertimu membesarkan seorang anak perempuan."

"Entahlah. Bagaimana bila besok aku menitipkan Denzel padamu ?"

"Besok ? Boleh saja. Namun kenapa begitu mendadak ?"

"Besok jadwal pengiriman ku cukup padat dan aku mungkin tak sempat menyiapkan makanan untuknya. Kalau boleh, aku berharap kau membiarkan nya menginap."

"Tentu saja boleh. Bagaimana bila Denzel menginap dua hari di rumah ku ? Kau bisa beristirahat sejenak."

"Ya, terima kasih atas bantuanmu."

Tifa mengangguk. Tanpa terasa dua jam berlalu dan Tifa melirik keluar. Hujan sudah mulai reda dan kini hanya tertinggal gerimis.

Cloud berdiri di belakang Tifa dan menyerahkan handuk yang Tadi dipakainya pada Tifa..

"Terima kasih. Aku harus pulang sekarang."

"Tunggu, Cloud. Hujan masih belum benar-benar reda."

"Tidak apa-apa."

"Kau akan sakit. Lagipula, pekerjaanmu cukup berat, kan ? Akan sangat merepotkan bila kau sakit.", ujar Tifa dengan khawatir. Ia merasa terlalu sungkat untuk secara lugas mengatakan 'Aku mengkhawatirkanmu' dan memilih menggunakan kalimat yang berbelit-belit.

"Ya. Aku akan pulang saat hujan sudah benar-benar reda."

Tifa mengangguk dan mereka kembali berjalan ke ruang tamu. Tifa kembali menuangkan teh dan membuka paket yang tadi diantarkan Cloud. Paket itu berupa coklat dengan rasa teh hijau.

Tifa mengambil sedikit coklat itu dan menawarkan pada Cloud. Cloud menerima nya dan mereka menikmati coklat itu.

"Kalau boleh tahu, kenapa kau mengundurkan diri dari SOLDIER ? Bukankah kau selalu bercita-cita untuk menjadi anggota SOLDIER serta menjadi jendral perang hebat seperti Sephiroth ?"

Tifa hampir tersenyum saat menyebut nama Sephiroth. Sebetulnya, Sephiroth yang merupakan mantan host di bar nya dan Sephiroth yang dimaksudnya adalah orang yang sama. Ia tak tahu banyak mengenai latar belakang Sephiroth karena pria itu tak menulis banyak hal mengenai latar belakang nya saat melamar pekerjaan. Ia hanya tahu bila Sephiroth adalah mantan SOLDIER 1st class dan ia tak berniat bertanya lebih jauh.

"Itu karena SOLDIER tak sebaik yang kukira. Dan Sephiroth pun bukanlah manusia sempurna seperti dugaan ku."

"Maksudmu ?"

"Sebetulnya, SOLDIER merupakan sekelompok tentara khusus untuk melakukan 'pekerjaan di dunia bawah'. Aku merasa bersalah dan memutuskan mengundurkan diri."

Tifa memahami apa maksud Cloud dan ia takkan memberitahu siapapun mengenai hal ini walau Cloud tak mengatakan apapun mengenai hal itu.

"Aku takkan memberitahu siapapun, jadi tenang saja."

"Kurasa aku akan bergabung dengan AVALANCHE"

Tifa membelalakan mata seketika. AVALANCHE adalah organisasi teroris. Setidaknya, begitulah pemahaman yang ditanamkan Shinra Company pada masyarakat. Ia sendiri mendukung AVALANCHE dan bahkan ayah adopsi Marlene pun merupakan salah satu anggota AVALANCHE.

"Kau yakin akan bergabung dengan AVALANCHE, Cloud ?"

"Ya, aku sangat yakin."

Tifa mengangguk walaupun sebetulnya ia terlihat kecewa. Perlahan ia membuka mulut nya, memberanikan diri mengucapkan isi hati nya.

"Aku khawatir padamu, Cloud. Kuharap kau baik-baik saja setelah bergabung dengan AVALANCHE"

-To be Continued


Maaf kalau terkesan aneh di bagian satuan pengukuran minuman. Seharusnya pengukuran pakai satuan oz, cuma biar mudah di convert ke ml.

Karena tgl 6 UTS, author bakal update lagi sesudah UTS.

Thanks juga udah baca fict ini, author tetap mengharapkan kritik, saran & review.


Reply to review :


- Arunasachi-chan : Thanks udah review. Author seneng baca review & semangat nulis kalau baca review. Hehe..

- Mico.16 : bakal diusahaiin cepet update sesudah MID