Dua minggu berlalu dan kini hubungan Cloud dan Tifa semakin merenggang. Tifa selalu terlihat murung walau berusaha tersenyum pada para tamu. Bahkan, para pegawai juga dapat merasakan suasana tegang diantara Cloud dan Tifa yang seolah saling menghindar.

Tidak, bukan Cloud dan Tifa yang saling menghindar. Lebih tepat nya Tifa yang menghindar. Gadis itu selalu cepat-cepat pulang setelah membayar uang bonus para pegawai atau terkadang ia bahkan pulang sebelum bar tutup.

Tifa tak ingin terlalu lama bersama mungkin ia akan menghindar bila harus berpapasan dengan Cloud atau bertemu pandang. Namun ia juga harus menjaga profesionalisme dan ia tak bisa memecat Cloud begitu saja karena kinerja pria itu sangat baik dan pelanggan-pelanggan wanita di bar mulai mencari nya.

Tentu saja, Tifa sedikit cemburu ketika beberapa pelanggan wanita mengajak Cloud mengobrol atau bahkan secara langsung mengajak kencan. Namun entah kenapa Cloud selalu menolak dengan berbagai alasan.

Malam ini, Tifa memutuskan untuk berada di bar hingga bar itu tutup. Kemarin ia hampir menangis karena cemburu saat melihat Cloud mengobrol dengan akrab bersama beberapa pelanggan wanita serta menatap Aerith dengan tatapan lembut. Cloud juga tersenyum dan terlibat percakapan yang sangat menyenangkan bersama Aerith.

Tifa merasa ia harus berada di bar dan melupakan Cloud walaupun ia bertemu pria itu setiap hari. Sebagai langkah pertama, ia harus membiasakan diri bersama pria itu dan tak lagi peduli serta memikirkan pria itu.

Cloud pun sadar bila Tifa menghindari nya. Dua hari pertama, ia memutuskan untuk tak mengacuhkan Tifa dan berpikir bila mood gadis itu sedang buruk. Namun sudah dua minggu berlalu dan Tifa masih menghindari nya.

Ia mulai berpikir apabila Tifa tak tertarik pada nya, atau malah gadis itu salah persepsi akibat ucapan nya dua minggu yang lalu.

Cloud berusaha meyakinkan diri untuk mencoba menemui Tifa dan menjelaskan perasaan nya pada gadis itu. Ia takut bila Tifa akan menolak nya, namun ia juga tak bisa selamanya menyembunyikan perasaan seperti ini.

Tifa sedang berjalan menuju mobil nya dengan langkah pelan. Gadis itu tak terlihat tergesa-gesa seperti biasa. Cloud menguatkan diri nya untuk menyentuh lengan gadis itu dan memanggil nya.

"Ada apa ? Aku sudah memberi bonus mu hari ini, bukan ?", ucap Tifa tanpa menoleh menatap Cloud. Gadis itu tak berani menatap Cloud, mungkin ia akan segera menangis begitu bertatapan dengan pria itu.

"Tidak, bukan itu. Ada hal yang harus kubicarakan.."

"Katakan saja sekarang."

Cloud menatap sekeliling, "Aku tak ingin orang lain mendengar nya. Ikutlah bersama ku ke Midgar Tower"

"Maaf. Lain kali saja, Marlene sudah menunggu ku di rumah.", Tifa berusaha mengelak.

Bagi Tifa, segala hal sudah jelas. Tak ada lagi yang perlu dibicarakan. Dan ia merasa muak hanya dengan bertemu Cloud.

"Tifa. Aku ingin menjelaskan sesuatu padamu."

Tifa berpikir sejenak, bagaimanapun ia harus mendengarkan Cloud. Lagipula, sudah lama ia tak berkunjung ke Midgar Tower yang merupakan tempat yang terkenal romantis di Midgar. Banyak pasangan yang berkencan disana.

"Baiklah."

Tifa hendak berjalan menuju mobil nya. Namun ia teringat bila ia baru saja memasukkan mobil nya ke bengkel setelah mobil nya menabrak pohon akibat ia mengemudi saat mabuk. Untung saja ia tak terluka sama sekali dan hanya mendapat surat peringatan dari kantor polisi serta membayar denda.

"Cloud, maaf, bisakah aku ikut bersama mu. Aku lupa bila hari ini aku tak membawa mobil."

"Silahkan."

Tifa mengikuti Cloud yang berjalan menuju fenrir yang diparkir nya di parkiran bar. Tifa menahan nafas saat menatap sosok Cloud yang dengan cepat naik ke atas motor serta men-starter nya. Harus diakui bila Tifa masih mengagumi sosok Cloud yang terlihat keren dan jantan walau ia berusaha untuk melupakan pria itu.

Dengan gugup, Tifa naik ke atas motor dan berkata, "Sumimasen"

Tak perlu menunggu lama, Cloud segera menjalankan motor nya setelah yakin Tifa telah duduk dengan posisi yang cukup nyaman. Tifa meletakkan tangan nya di atas paha tanpa berniat memeluk Cloud.

"Kyaa !", Tifa menjerit dan segera memeluk Ckoud dengan erat ketika Cloud mulai menjalankan motor nya dan melajut dengan kecepatan tinggi seperti biasa.

Cloud sangat jarang membonceng seorang gadis di atas fenrir nya dan ia tersadar bila motor nya melaju terlalu cepat ketika mendengar teriakan Tifa.

Cloud segera memperlambat laju motor nya dan menoleh ke belakang, "Tifa, kau baik-baik saja ? Maaf karena sudah membuatmu ketakutan."

"Tidak apa-apa. Tidak perlu memperlambat motor mu.", ujar Tifa sambil melepaskan tangan dari tubuh Cloud dengan gugup.

"Itu… tolong jangan lepaskan tangan mu.", Cloud berkata dengan wajah memerah. Sejak tadi ia merasa gugup merasakan tangan Tifa yang sedang memeluk nya dengan erat.

"I-iya.", jawab Tifa dengan gugup. Wajah nya memerah dan tubuh Cloud terasa hangat dan berotot Tifa merasakan kenyamanan saat memeluk pria itu.

Angin bertiup cukup kencang dan terasa begitu menusuk kulit. Tifa mengeratkan pelukan nya pada tubuh Cloud dan jantung nya berdebar tak karuan. Tubuh pria itu begitu hangat Tifa merasa nyaman walaupun malam cukup dingin. Ia menikmati setiap detik yang berlalu bersama Cloud.

Midgar Tower sudah terlihat di kejauhan. Cloud mempercepat laju motor dan memparkir nya di tempat parkir. Sebetulnya Midgar Tower sudah tutup, namun bagian luar nya dapat diakses untuk umum.

Tifa melepaskan pelukan dari tubuh Cloud dan segera turun dari motor. Ia benar-benar merasa gugup bersama Cloud.

Tifa berjalan menuju salah satu kursi taman dan Cloud berusaha menyamakan langkah nya dengan Tifa. Mereka berdua berjalan berdampingan walau tak saling berbicara atau menatap.

Jantung Cloud berdebar kencang. Pikiran nya seolah kosong walau sebelum nya ia sudah mempersiapkan kata-kata yang akan diucapkan nya. Jantung nya semakin berdebar saat Tifa duduk di samping nya.

"Apa yang ingin kau katakan, Cloud ?", ucap Tifa.

"Aku ingin minta maaf karena telah menyakitimu."

"Kau tidak perlu minta maaf. Itu bukan salah mu", Tifa mengalihkan pandangan dari Cloud dan menatap puncak Midgar Tower.

"Selama dua minggu ini kau terus menghindariku. Aku pasti telah melakukan kesalahan hingga kau kesal."

Tifa membelalakan mata dan segera menatap Cloud. Ia tak menyangka bila Cloud memperhatikan nya dan menyadari bila ia sedang menghindari nya.

"Tidak. Sudah kubilang itu bukan kesalahanmu."

"Lalu kenapa ?", Cloud menatap iris Tifa dan menuntut penjelasan.

"Aku hanya sedang dalam mood yang buruk. Karena… aku baru saja patah hati.", Tifa menundukkan kepala dengan wajah memerah.

Cloud tertegun dengan ucapan Tifa. Saat ini, ia memiliki kesempatan untuk menyatakan perasaan nya. Namun ia ragu bila Tifa menolak nya.

"Tifa… sebetulnya, ada hal lain yang ingin kukatakan."

"Katakan saja."

"Aku jatuh cinta padamu, Tifa.", ucap Cloud dengan satu tarikan nafas. Ia memaksakan diri menatap Tifa walaupun dalam hati ia berharap Tifa tak menolak nya.

Tifa menatap Cloud dan segera memeluk pria itu. Air mata Tifa mulai menetes dan ia memukul punggung Cloud dengan keras.

"Baka ! Kau pasti bohong, kan ?"

"Aku serius, Tifa."

"Kau bilang menyukai gadis yang dewasa, lemah lembut dan keibuan. Aku tidak seperti yang kau deskripsikan."

"Kau adalah gadis yang kudeskripsikan. Kau ingat saat aku cemburu saat kau membicarakan Sephiroth hampir setiap hari ? Sebetulnya, itu karena aku menyukai mu."

Air mata Tifa mengalir semakin deras. Ia merasa bahagia, cinta nya tak bertepuk sebelah tangan.

"Sejak dulu, aku menyukai mu. Malam itu, aku begitu gugup dan ragu untuk menyatakan perasaan ku. Aku khawatir kau akan menolak ku."

"Baka ! Aku tak mungkin menolak mu !", ucap Tifa dengan suara meninggi.

"Kenapa kau menyukai pria seperti ku ? Aku SOLDIER yang gagal, uang ku tidak banyak dan tubuh ku juga tidak bagus seperti Sephiroth, idola mu."

"Jangan sebut-sebut nama Sephiroth !", pekik Tifa dengan wajah memerah. "Kau memang SOLDIER yang gagal,namun kau adalah pria dewasa yang tulus. Mungkin uang mu memang tidak banyak dan tubuh mu tak begitu tinggi, namun kau pria yang perhatian dan menyukai anak-anak. Mudah untuk menemukan pria yang mapan dan tampan dengan tubuh bagus, namun sulit menemukan pria yang baik."

"Tifa… aku ingin mengantarkan sebuah paket untuk mu.",Cloud merogoh saku celana nya dan melepaskan pelukan Cloud.

Tifa mengernyitkan dahi. Untuk apa Cloud mengantarkan paket di tengah malam ? Ia bisa saja mengirimkan ke rumah nya nanti.

"Ini paket untuk mu.", Cloud mengeluarkan sebuah kotak dengan kain beludru merah.

Tifa membuka kotak itu dan tak dapat berhenti tersenyum. Kotak itu berisi sebuah cincin emas dengan mata berlian.

"Kau suka dengan perhiasan yang bersinar, bukan ?"

"Cloud… arigato gozaimasu. Aku sangat menyukai nya.", Tifa kembali menitikkan air mata dan Cloud mengusap nya.

Jemari Cloud yang menyentuh wajah Tifa membuat wajah Tifa merona. Malam ini terasa bagaikan sebuah mimpi. Bila sebelumnya ia berpikir perasaan nya pada Cloud bagaikan sebuah kuncup Sakura yang baru mekar dan harus gugup, perasaan nya saat ini bagaikan bunga sakura yang mekar abadi.

"Tifa, aku benar-benar mencintai mu."

"Aku… juga sangat mencintai mu."

Tifa memakai cincin itu. Cincin itu terlihat bersinar indah di jari manis Tifa. Perlahan, dengan wajah merona Cloud mendekati wajah nya ke arah Tifa. Wajah Tifa pun memerah dan jantung nya semakin berdebar hingga ia merasakan bibir merah yang basah dan sensual meyentuh bibir nya.

Cloud memejamkan mata dan mengecup bibir Tifa selama beberapa detik. Ia dapat merasakan nafas Tifa yang hangat menyentuh kulit wajah nya. Cloud melepaskan bibir nya dan mendapati wajah Tifa yang memerah.

"Aku senang bertemu kembali dengan mu, kurir pengantar ku yang paling tampan.", ucap Tifa dengan wajah memerah.

"Mulai sekarang aku akan selalu menjadi kurir pengantar mu."

"Kurir pengantar ? Apa yang mau kau antarkan ? Aku sedang tidak berbelanja online."

"Cinta. Aku akan selalu menjadi kurir yang mengantarkan cinta untuk mu."

"Ah, Cloud."

Dan Tifa kembali memeluk Cloud. Ia merasa begitu bahagia bersama pria yang dicintai nya. Ia sangat mencintai Cloud dan begitupun dengan Cloud yang mencintai diri nya. Ia berharap, malam ini takkan berakhir.

-Owari-


Omake :

Dua tahun berlalu dan kini Tifa telah menikah dengan Cloud. Saat ini Cloud tak lagi bekerja di bar milik Tifa. Pria itu kini menjalankan usaha jasa pengiriman yang cukup laris dan memiliki banyak pegawai serta beberapa kantor cabang yang tersebar di Midgard dan daerah sekitar nya.

Usaha bar milik Tifa pun semakin berkembang dan Tifa tak lagi berada di bar hingga pukul dua pagi. Kini, Tifa menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengurus putra nya yang baru saja lahir.

Terdengar suara pintu yang terbuka dan Tifa tersenyum menyambut Cloud yang baru saja pulang.

"Lihat, sayang. Otou-san sudah pulang.", ucap Tifa pada sang buah hati yang tersenyum menyadari sang ayah yang sudah pulang.

Cloud segera menghampiri Tifa dan mengecup kening sang istri. Tak lupa, ia mengambil bayi di pelukan Tifa dan tersenyum menatap sang putra sambil mengelus rambut nya.

Secara keseluruhan, putra mereka memiliki wajah yang mirip dengan Cloud, terlebih dengan surai pirang. Namun ia memiliki iris hitam dan bibir tipis serta kulit yang putih seperti Tifa.

"Cloud-kun, kau pasti lelah, kan ? Kau harus tidur, besok kita akan menghadiri upacara kelulusan Denzel."

Cloud tersenyum dan segera meletakkan putra nya di keranjang bayi. Bayi itu mulai menangis dan seperti nya tak ingin segera lepas dari sang ayah. Namun bayi itu kembali diam setelah Cloud berusaha mendiam kan nya dengan menepuk-nepuk kepala bayi itu dengan lembut.

Tifa tersenyum menatap sang suami yang begitu terbiasa merawat sang putra walaupun bayi itu baru lahir sebulan yang lalu. Sejak menikah setahun yang lalu, Cloud begitu mempersiapkan diri hingga membeli banyak buku cara merawat bayi dan mempelajari nya walaupun saat itu Tifa belum hamil.

"Kau dan Denzel sudah makan, Tifa-hime ? Aku terus mengkhawatirkan kalian hingga tak bisa fokus dalam rapat.", tanya Cloud dengan nada yang terkesan berlebihan.

"Belum.", goda Tifa. Ia begitu senang meledek sang suami dan melihat ekspresi panik pria itu.

"Kalian belum makan ? Seharusnya tadi telepon saja aku, aku akan mengajak kalian pergi makan ke restaurant setelah rapat selesai.", Cloud terlihat panik.

Tifa terkekeh dan tersenyum menatap ekspresi panik Cloud yang terlihat lucu. Tifa mengulurkan tangan dan mencubit pipi Cloud, "Tentu saja kami sudah makan. Aku hanya bercanda tadi."

"Uh… dasar Tifa. Kau membuatku panik."

"Kau terlihat lucu saat sedang panik, lho."

Cloud melepaskan tangan Tifa yang mencubiti pipi nya dengan gemas hingga memerah serta mengecup bibir gadis itu. Tifa terbelalak, terlalu terkejut untuk menghentikan sang suami.

"Itu hukuman karena telah mempermainkanku.", jawab Cloud sambil menyeringai.

Tifa tersenyum dan kembali mencubiti pipi Cloud yang meringis. Kehidupan mereka terasa begitu sempurna setelah kelahiran buah hati mereka, dan setiap hari rasa cinta terus tumbuh di hati mereka berdua. Sang 'kurir' benar-benar menepati janji nya untuk tanpa henti mengirimkan cinta nya yang tak terbatas.

-Owari-


Author's Note :


Thanks udah menyempatkan diri baca fict ini & nge review. Maaf kalau fict ini sangat cepat & ga terasa romance nya.

Di beberapa chapter terakhir author kena writer block & mati ide. Author berharap dapat membuat fict yang lebih baik lagi nanti nya.