My Bestie's Bro
.
.
.
.
.
"Yap! Bagus! Kalian boleh istirahat selama 20 menit!"
Chanhyun menghela nafas lega ketika mendengar itu. Lalu dia merebahkan dirinya di lapangan berumput. Tiba-tiba Kyungin dan Sekyung menghampirinya dan menyodorkan minuman penambah ion tubuh. Dan tanpa babibu dia menyambarnya.
Kyungin dan Sekyung pun duduk di sebelah Chanhyun. "Bangun, heh. Rambutmu bisa kotor," ucap Sekyung. Chanhyun menggeleng sambil menutup botol minumannya. "Tak apa. Aku lemas tau."
Mereka sedang berada di lapangan di belakang sekolah mereka yang sangat besar untuk latihan cheers. Dan mereka sedang beristirahat untuk 20 menit ke depan. Bukan waktu yang lama. Tapi setidaknya 20 menit bisa menghilangkan ngos-ngosan dan rasa haus.
Sekyung memainkan pom-pom warna-warni di tangannya. Wajahnya terlihat lesu. "Kau kenapa?" tanya Kyungin. Sekyung memanyunkan bibirnya dan melempar pom-pom ditangannya ke sembarang arah. "Mama dan appa bertengkar lagi," jawabnya.
Mendengar itu, Chanhyun—yang sekarang sudah mengubah posisinya menjadi tengkurap—dan Kyungin mengambil posisi yang nyaman untuk mendengar cerita sahabatnya ini. "Mereka kenapa?" Chanhyun menopang dagunya.
Oh Sekyung. Dia lah gadis manis dengan kulit seputih salju yang dan bersurai coklat legam. Sekyung adalah anak temannya orangtua Chanhyun dan Kyungin—Oh Sehun dan Xi Luhan. Dia ini half-chinese karena ibunya bertanah kelahiran di Cina.
"Appa selalu pulang tengah malam," Sekyung mengawali ceritanya. "Sementara mama di rumah kewalahan mengurus adikku. Jadi mama protes kenapa appa selalu pulang tengah malam, kenapa appa mementingkan pekerjaannya daripada anaknya—yah begitulah."
Kedua gadis di depan Sekyung mengangguk-angguk paham. Mereka berdua tahu Sekyung baru saja mempunyai adik, Oh Hankyung yang masih berumur tujuh bulan. Chanhyun pun menepuk bahu Sekyung. "Sabar saja, oke? Ah bagaimana kalau habis latihan kita pergi ke kedai waffle?"
Sekyung langsung tersenyum sumringah. "SETUJU!"
.
.
.
Dering alarm di ponselnya membuat tidur nyenyak lelaki itu terusik. Ia mengerang sebal karena tidurnya sudah terganggu. Lalu tangannya meraba-raba meja nakas yang terdapat di samping kasurnya. Namun ia tidak menemukan ponselnya.
Ia pun merubah posisinya menjadi duduk, melempar selimutnya ke samping. Siapa tahu ponselnya berada di sana tapi—tidak ada. Ia mengangkat bantalnya dan ternyata ponselnya berada di balik bantal.
Dia mendengus. "Pantas saja bunyinya nyaring sekali di telingaku."
Pip.
Alarmnya pun berhenti berdering. Ia meletakkan ponselnya di meja nakas dan hendak melanjutkan mimpinya. Belum ada satu menit, lelaki itu kembali beranjak dari tempat tidurnya.
Lelaki bernama Kim Jongsoo yang kerap disapa Jongsoo itu melirik jam digital di meja nakasnya. Pukul 07.05 AM. "ASTAGA JAM SEGINI?!" Jongsoo menggigit jarinya.
Setelah itu, Jongsoo langsung menyambar handuknya dan melesat menuju kamar mandi namun—
CKLEK
SLETTT
BRUK!
"SHIT!"
Nice.
Saat dia membuka pintu kamar mandi dan hendak melangkah lebih dalam, ia menginjak sabun batangan lalu—bruk. Ia terpeleset dengan posisi tengkurap. Itu membuat dagunya membentur lantai.
"Aduh, aduh daguku—"
"What are you doing, Soo?"
Mendengar suara itu, ia menoleh ke belakang dan mendapatkan neneknya menatapnya dengan tampang bingung. Jongsoo pun langsung bangun dari jatuhnya(?) dan membungkuk kepada neneknya. "Selamat pagi, halmeoni!" serunya.
Neneknya mengangguk. "Kau sedang apa tengkurap di kamar mandi seperti tadi? Lantai itu dingin, kau tahu?" tanya neneknya, kini dengan bahasa Korea. Jongsoo menggaruk tengkuknya. Matanya melirik ke sana ke mari mencari alasan.
"Itu—itu... ah! Aku sedang mencari itu—uhm...odol! Ya, odol!"
"Odol—ASTAGA DAGUMU, SOO!"
Jongsoo menaikkan alisnya. Ia segera meraba dagunya dan membulatkan matanya ketika melihat tangannya berlumuran darah. Ternyata dagunya berdarah sampai menetes-netes. Neneknya memasang tampang malas. "Kau jatuh, ya."
Jongsoo hanya meringis sambil memegang dagunya.
Gagal deh sok cool-nya.
.
.
.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu membuat Chanyeol yang sedang berkutat pada layar monitornya, menoleh. "Ya, masuk!" serunya.
"Hai, hyung."
Setelah pintu terbuka, muncullah sesosok pria berkulit tan dengan rambut yang ditata bak seorang model. Padahal usianya tak lagi muda. Ia melangkah menuju meja kerja Chanyeol. Jongin—pria kulit tan tadi—mendudukkan dirinya di kursi seberang Chanyeol.
"Ada apa? Bukankah kemarin dokumen Cube Inc. sudah kuberikan?" tanya Chanyeol sambil melepas kacamata yang bertengger di hidungnya. Jongin menggeleng. "Bukan itu.."
Chanyeol mengernyit. "Lalu?"
"Ini soal perjodohan anak kita, hyung," ucap Jongin sambil memasang wajah serius.
"Pft—HAHAHAHAHAH."
Jongin membulatkan matanya ketika tawa Chanyeol pecah secara tiba-tiba. Padahal ia tidak melawak sama sekali tapi orang yang lebih tua dua tahun di atasnya itu tertawa terbahak-bahak sambil menepuk-nepuk tangan. Jongin menatap Chanyeol seperti what-the-hell.
Chanyeol mengusap air mata yang keluar dari sudut matanya yang diakibatkan karena tertawa terlalu keras. "Oke, maaf. Jadi omonganmu waktu itu kau sungguh tidak bercanda?" ucapnya. Wajahnya kali ini berubah serius.
Lelaki yang lebih muda mengangguk. "Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku, kau tahu."
"Meh. Baiklah—begini, sebenarnya aku setuju. Sangat setuju. Tapi kau tahu kan Chanhyun bagaimana?" Chanyeol mengibaskan tangannya. Jongin mengangguk. "Aku tahu. Bahkan yang menggantikan dia popok saat bayi adalah aku."
Chanyeol menopang dagunya di meja. "Putriku itu sangat cuek. Dia seperti belum tertarik dengan hal-hal seperti itu, Jongin. Mengurus diri saja sepertinya masih harus dibantu Baekhyun," tuturnya. "Berbeda sekali dengan Kyungin, kan?"
"Kyungin bahkan menggaet seorang anak ketua yayasan, hyung," Jongin berdecak-decak. Chanyeol membulatkan matanya. "Wow. Itu pasti karena dia seksi," ucap pria beranak satu itu.
Jongin memelototi Chanyeol. "Jangan macam-macam dengan Kyunginku!" ia mengepalkan tangannya seakan ingin memukul Chanyeol. Chanyeol terbahak. Jongin hanya mendengus. "Nah, jadi... bagaimana? Apa kau punya ide untuk membuat Chanhyun tertarik?" tanya Chanyeol sambil memainkan penanya.
Jongin bergumam panjang lalu sejurus kemudian dia menjentikkan jarinya.
"Aku ada ide!"
.
.
.
Ketiga gadis itu memasuki sebuah kedai waffle yang terlihat cukup ramai. Pengunjungnya kebanyakan adalah gadis-gadis remaja. Wajar saja, dari luar pun tempatnya terlihat menarik. Jadi siapapun—terutama para remaja—tertarik untuk mengunjungi kedai ini.
Chanhyun, Kyungin, dan Sekyung menduduki sebuah tempat duduk di dekat jendela. Tiba-tiba seorang pelayan menghampiri mereka. "Selamat sore, nona cantik~ kalian ingin pesan apa?" sapa pelayan laki-laki berwajah tampan itu.
Mereka terdiam menatap si pelayan dengan tatapan terpesona. Si pelayan hanya menggaruk tengkuknya. Risih. "M-maaf?"
Kyungin yang sadar terlebih dahulu. "Hei, hei, hei!" ia memukul-mukul meja. Chanhyun dan Sekyung mengerjap dan menggelengkan kepala mereka. "Sudah, kalian ingin pesan apa?" tanya Kyungin.
Chanhyun dan Sekyung pun menyebutkan pesanan mereka dan si pelayan mencatat. Disusul oleh Kyungin. "Itu saja? Ada tambahan?" tawar pelayan laki-laki berwajah tampan itu setelah mengulang pesanan mereka.
Mereka kompak menggeleng. "Baiklah, tunggu sepuluh menit, oke? Jika lebih dari duapuluh menit... kalian boleh menyuruhku melakukan apa saja dan aku akan menurutinya. Setuju?"
Para gadis itu saling menatap, lalu mengangguk. Pelayan itu pun pergi setelah memberikan seulas senyuman. Dan—
"AAAKKK—DIA GANTENG BANGEETTT!"—Sekyung
"OH TIDAK, DIA BISA MENGALAHKAN KETAMPANAN JUNSU OPPAAA!"—Kyungin
"Girls, calm down. Please."—Chanhyun
Sekyung langsung memekik tertahan dan menggigit jaketnya. Sedangkan Kyungin menggigit jarinya dan berkata seperti diatas. Dan Chanhyun... stay cool. Bukannya dia tidak terpesona, dia ini memang cuek tapi ia tetaplah perempuan namun Chanhyun memang begitu. Ia selalu stay cool apapun yang terjadi jika sedang di tempat umum dan banyak cogan. Seperti disini.
Beda kalau ini terjadi di rumah. Chanhyun akan mengoceh sendiri seperti "oh tidak wajahnya" "sialan dia tampan" "kau membuatku tidak bisa nafas" "oh jangan" dan sebagainya. Sampai pernah suatu hari Chanyeol dan Baekhyun kira anaknya itu marah pada mereka.
Kyungin mencibir. "Aku tahu kau ingin teriak," katanya. Chanhyun mengangguk antusias dan menaruh telunjuk di bibirnya. "Tidak untuk di tempat umum yang banyak ssang namja seperti ini, oke?" bisiknya.
"Jaim banget sih primadona sekolah," celetuk Sekyung tanpa mengalihkan pandangannya dari ponselnya. Chanhyun memutar bola matanya. "Aku belajar attitude, untuk apa aku capek-capek mengikuti itu kalau tidak mempraktekannya sehari-hari?"
Ngeles aja lu macem tukang becak.
Sekyung dan Kyungin hanya mengangguk-anggukkan kepalanya malas. Malas berdebat dengan primadona sekolah itu. "Yayaya baiklah, baiklah."
"Kyungin-ah," sahut Sekyung. Kyungin meresponnya dengan bergumam panjang sambil menatap layar ponselnya. "Bagaimana dengan sexy dance?" tanyanya.
Chanhyun mengamini. "Benar. Apa kau menerimanya?"
Kyungin meletakkan ponselnya dan menghela nafas. "Junsu oppa melarangnya," ucapnya. "TAPI GAIIIIISSS—" seru Kyungin sambil mengepalkan kedua tangannya di sebelah pipi. "—kata Shin ssaem jika aku ikut kompetisi itu peluangku jadi dancer tambah besar..."
"Harusnya Junsu oppa mengerti dong," Chanhyun menopang dagunya dan menaikkan alisnya. Sekyung menepukkan tangannya sekali, mengangguk setuju. "Setuju banget sama Chanhyun. Pacar yang baik itu harusnya pengertian.."
"Baiklah, aku akan bicara padanya lagi," ucap Kyungin sambil mengetikkan sesuatu di ponselnya. Lima manit kemudian, pesanan mereka datang dan yang mengantarnya pelayan-tampan itu lagi. "Jja! Ini pesanan kalian, girls!"
Pelayan tampan itu menaruh pesanannya di meja. Ketiga gadis itu menatap pesanan mereka dengan antusias. "Woaaa, kelihatannya enak!" Sekyung meraih pisau dan garpunya.
"Dilihat saja sudah enak, apalagi dimakan?" pelayan tampan itu tersenyum. "Ah, jika ada yang dibutuhkan lagi, panggil aku saja. Ini namaku," ia menunjuk name-tag yang tersemat di seragamnya. Jung Jaeyun. Ketiga gadis itu mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.
Pelayan tampan bernama Jaeyun itu pun berlalu setelah memberikan wink kepada ketiga gadis itu. Mereka pun meleleh seperti es krim yang didiamkan di tempat panas.
.
.
.
Kediaman keluarga Kim.
I'm gonna swiiiiing from the chandelieeer~ from the chandelieeerr~
Itulah yang terdengar dari salah satu ruangan di lantai dua di kediaman keluarga Kim. Pintu yang satu-satunya berwarna hitam dengan tulisan warna shock pink bertuliskan 'KYUNGIN IN DA HOUSE' 'DIZ IZ GURLZ ROOMZ' 'STAY AWAY, BITCH' 'KNOCK BEFORE OPEN THE DOOR PLS!' yang terlihat sangat mencolok. Dan kata-kata itu semuanya huruf kapital jadi terkesan nyolot.
Lalu terlihat seorang wanita dengan nampan di tangannya berjalan menuju ruangan yang notabene adalah kamar Kyungin. Sebelum membuka pintu, ia mengetuk terlebih dahulu—seperti yang ada tertempel di pintu. Karena tidak ada jawaban, ia pun membukanya saja dan terlihatlah dua orang gadis remaja sedang lip-sync lagu tadi dengan sisir.
Sekyung—salah satu dari dua gadis itu—yang terlebih dahulu sadar kalau ada yang datang, ia menyenggol pinggang Kyungin dan menyengir ke arah wanita itu. "Apa sih—LHO, EOMMA?!" pekiknya dengan mata melebar.
Wanita bernama Do Kyungsoo yang berstatus ibu dari Kyungin menghela nafas dan melangkah masuk. Berdecak-decak melihat kamar putrinya yang tidak ada bedanya dengan wilayah yang habis terkena tanah longsor. Amburadul emeseyu. "Ckckck, kamarmu ini. Kalau mau tidur bereskan, ya?" ucap Kyungsoo sambil menaruh nampan dengan dua gelas susu coklat hangat diatasnya.
"Iya, eommaaa~" sahut Kyungin malas lalu mematikan musiknya. Kyungsoo duduk di salah satu kursi. "Sekyung-ah, appa dan mamamu bertengkar lagi?" tanya wanita bermata bulat itu dengan wajah khawatir. Sekyung mengangguk lesu. "Bahkan mama mengancam divorce kalau appa membuat mama marah lagi, eomonim," ucap Sekyung.
Ya. Sekyung malam ini menginap di rumah Kyungin karena orang tuanya yang sedang bertengkar. Dia tidak mau mendengar perdebatan ibu dan ayahnya lagi. Maka dari itu ia memilih menginap disini saja.
Kyungsoo menaikkan alisnya mendengar ucapan anak temannya itu. "Astaga. Baiklah, nanti aku akan bicara dengan mereka," kata Kyungsoo. Sekyung mengangguk lagi. "Kyunginnie."
Merasa dipanggil ibunya, Kyungin yang sedang membaca komik menaruh komiknya dan menatap ibunya dengan pandangan ada-apa. "Ada berita bagus!" Kyungsoo menepukkan tangannya sekali. Anak gadisnya itu memasang ekspresi penasaran, Sekyung pun juga. "Apa itu?"
"Oppamu akan pulang besok."
"APA?!"
"KYUNGIN SEJAK KAPAN KAU PUNYA OPPA?!"
.
.
.
Chanhyun duduk di bangku halaman rumahnya sambil mengayun-ayunkan kakinya. Mukanya agak kusut karena mungkin ia lelah. Dia baru saja pulang main dari rumah Kyungin. Setelah ke kedai waffle tadi, mereka bertiga mampir ke rumah Kyungin. Niatnya sih sebentar saja, tapi namanya juga perempuan, kalau sudah ngerumpi seabad pun terasa semenit(?).
Kenapa ia tidak masuk ke rumahnya? Karena orang tuanya belum pulang dari kantor dan keluarga Park tidak mempunyai asisten rumah tangga jadi rumah saat ini kosong, pintu pun dikunci. Chanhyun sedikit takut karena rumahnya yang besar ini penerangannya hanya lampu dari jalanan.
Gadis berkelahiran September itu merogoh kantung roknya untuk mengambil ponselnya. Ia men-dial nomor ibunya. "Eomma, sudah sampai mana?"
"Tunggu sepuluh menit lagi. Eomma membelikanmu red velvet cake nih. Sabar ya, honey?"
Chanhyun memanyunkan bibirnya dan menghela nafas. "Baiklah. Bilang pada appa menyetirnya hati-hati—"
"CHANYEOL AWAS NENEK-NENEK—iya, Channie. Appamu baru saja hampir menabrak nenek-nenek!"
"Hihihi. Oke, kututup ya. Pulsaku mau habis."
"Yap. Sampai bertemu di rumah!"
Pip.
Sambungan pun terputus. Chanhyun buru-buru mengecek pulsanya. Benar saja, pulsanya hampir ludes. "Aku akan minta pada eomma," gumamnya. Setelah itu, ia memutuskan untuk bermain game di ponselnya saja.
Sepuluh menit berlalu dan suara klakson mobil mengalihkan pandangan Chanhyun dari ponselnya. Ia menoleh ke arah pagar dan disana terdapat ayahnya sedang membuka pagarnya yang sangat tinggi dan besar itu. Chanhyun pun beranjak dari duduknya, menghampiri ayahnya dan membantu buka pagar.
"Ah—hai, gadisku!" sapa Chanyeol ketika melihat putrinya itu. Mendengar sapaan Chanyeol yang seperti itu, Chanhyun mendengus. "Kau menggelikan, appa! Jangan panggil aku seperti itu!" serunya sambil mendorong pagar.
Pagar pun terbuka lebar. Sebelum Chanyeol kembali ke mobil untuk memasukkan mobilnya, Chanyeol menyerahkan kunci rumah kepada Chanhyun. Chanhyun pun membukakan pintu rumah dan ketika masuk rumahnya gelap gulita makanya ia menggunakan sinar dari ponselnya.
Mobil telah masuk, dari kursi depan turun seorang wanita dengan membawa beberapa tas dan sebuah plastik. Itu Baekhyun. Baekhyun menghampiri Chanhyun yang sedang membuka sepatunya. "Hai, sayang," sapa Baekhyun sambil meletakkan apa yang ia bawa di meja.
"Hai, eomma. Oh ya, mana red velvet-ku?" tanya Chanhyun sambil menengadahkan tangan kanannya. Baekhyun berdecak-decak. "Kau ini. Ada di plastik yang putih," Baekhyun menunjuk plastik yang dimaksud.
Chanhyun pun langsung melesat dan merogoh isi plastik yang sebenernya kotak yang berisi kue. "AH INI DIA!" seru gadis itu sambil mengeluarkan kue kesukaannya. Chanhyun mengambil sendok kecil sebelum ia duduk di sofa dan menghidupkan televisi.
Chanyeol tiba-tiba datang menghampiri. "Ganti bajumu dulu, Chanhyun-ah," ucap Chanyeol sambil menarik-narik seragam putrinya. Chanhyun merengek dan menepis tangan Chanyeol. "Sebentar dulu, appa! Dramanya sebentar lagi mulai~"
"Baiklah, baiklah..." kata Chanyeol melepas jasnya dan dasinya. Akhirnya pun ia ikut menonton bersama anak semata wayangnya itu. Tiba-tiba Chanyeol teringat sesuatu. "Ah, Chanhyun."
Putrinya merespon dengan menggumam tanpa mengalihkan pandangannya dari layar kaca. "Besok kau libur, kan?" tanya Chanyeol. Gadis di sampingnya itu pun mengangguk. "Jalan-jalan yuk?" Chanyeol mengulas senyumnya.
Chanhyun langsung menoleh dan menatap ayahnya dengan berbinar.
Satu...
Dua...
Ti—
"AYO! APPA, BESOK DI MAL XX ADA ARTIS YANG KUSUKA LAGI FANSIGN! TERUS—KUDENGAR RESTORAN YYY MAKANANNYA ENAK-ENAK! ADA FILM BAGUS YANG BARU RILIS! AYO KITA NON—"
"Hyunnie..."
"—JADI FILMNYA TUH TENTANG—"
"Chanhyun..."
"—GITU, APPA! SERU KAN?! BESOK NONTON FILM ITU, YAYAYA? BELI BONEKA YANG ITU—"
"PARK CHANHYUN!"
Chanyeol mengaum.
Chanhyun yang sedang berceloteh ria menghentikan celotehannya. "Maaf, appa," ia pun kembali ke posisi seperti semula. Chanyeol berdecak-decak. "Oke. Besok kita ke mal saja. Appa ingin berbicara denganmu," wajah ayahnya itu terlihat serius maka dari itu Chanhyun hanya mengangguk.
"Tapi... tumben sekali appa mau mengajakku pergi? Biasanya eomma yang mengajak pergi," ucap Chanhyun sambil mengunyah kuenya. Chanyeol mengalihkan pandangannya dari layar kaca. "Appa ingin ngobrol sesuatu lalu... appa rindu jalan-jalan berdua denganmu tau. "
Mendengar itu, Chanhyun mencibir. "Appa sibuk terus sih," gerutunya. Chanyeol terkekeh, ia mengusak rambut Chanhyun lalu mengecup pucuk kepala anaknya itu. "Jja. Appa mau mandi dulu," katanya.
"Kamar mandi di kamar appa sedang dipakai eomma kali. Ntar saja, sini temani aku nonton~" rengek Chanhyun dengan puppy-eyed-nya. Chanyeol tersenyum jahil, menggeleng. Ia pun membisikkan Chanhyun sesuatu sebelum melesat ke kamarnya.
"DASAR APPA MESUM!"
Kau tahu apa yang dikatakan Chanyeol?
"Appa mau buat adik bersama eommamu, tau."
.
.
.
Kyungin menatap kosong ke layar kaca, dagunya ia topang dengan tangan kirinya. Sedangkan Sekyung, posisinya juga sama dengan Kyungin. Mereka tengkurap di karpet kamar Kyungin sambil menonton televisi. Sebenarnya sih mereka tidak menonton karena mereka hanya menatap kosong layar kaca itu dan pikirannya kemana-mana.
"Apa kau serius... mereka akan dijodohkan...?" gumam Sekyung yang masih bisa didengar Kyungin. Maka dari itu Kyungin mengangguk pelan. "Ya..."
Sekyung mengubah posisinya, ia telentang dengan dua tangannya menyangga kepalanya dan menatap langit-langit kamar Kyungin. "Kita kan masih SMA? Kenapa abeonim dan eomonim menjodohkan mereka? Lalu Chanyeol abeonim pasti tahu kalau anaknya itu cuek banget soal pacar-pacaran meskipun kalo ada cogan suka keabisan nafas.." celoteh gadis itu.
"Seingatku sih... karena eomma dan appa, abeonim dan eomonim, itu dijodohkan saat masih seumur kita," ucap Kyungin sambil mengubah posisinya menjadi duduk. Sekyung mengernyit, tidak mengerti dengan ucapan Kyungin. "Huh? Jadi apakah orang tuamu dan orang tua Chanhyun bersaudara? Setahuku tidak—"
"Bukan begituuu, jadi appa dan abeonim itu bersahabat eh ternyata mereka sama-sama dijodohkan saat masih SMA. Lalu mereka berjanji akan melakukan yang sama kepada anak pertama mereka," jelas Kyungin dan Sekyung hanya mengangguk-angguk.
Sekyung terlihat berpikir. "Um... lalu oppamu seperti apa? Aku kaget banget dengar kau punya oppa," katanya sambil memainkan rambutnya. "Sebentar," lalu Kyungin mengambil ponselnya. Ia menekan-nekan sesuatu di ponsel touch-screen-nya itu.
"Nih," Kyungin menyodorkan ponselnya kepada Sekyung. Sekyung pun mengambil dari tangan pemiliknya. Di layar ponsel Kyungin, ada foto selca seorang lelaki mirip dengan ibu Kyungin, Kyungsoo.
1...
2...
3...
"INI OPPAMU?! MANIS BANGEEEEEETTTT!"
Dan Kyungin hanya bisa menutup telinganya.
.
.
.
Lelaki berusia enam belas tahun itu memandang koper-koper berjejer di depannya. Setelah itu, ia membuka lemari kayu besar yang sudah tidak ada isinya karena isinya—baju-baju miliknya—sudah dimasukkan ke dalam koper. Dan hanya ada satu stel baju yang diletakkan di meja. Dia menimbang-nimbang apalagi yang ketinggalan.
"Baju sudah semua... barang-barang kesayanganku... lalu apa lagi.." Jongsoo menggumam sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamarnya. Lalu ia menjentikkan jarinya. "Komik-komikku belum dimasukkan!" serunya.
Jongsoo pun membuka pintu kamarnya dan melongokkan kepalanya keluar lalu menoleh ke kanan dan kiri. Ia melihat seorang maid. "Maria!" sahutnya. Maid bernama Maria itu menghentikan langkahnya dan menghampiri Jongsoo. "Yes, Mr. Kim?"
"Um... can you help me?"
Maria mengangguk. "Sure. What is it?"
"I need a box to put my comics. If you don't know whereit is, just ask Uncle Jo, he might knows where the box is."
"Okay, Mr. Kim."
Setelah itu, Maria berlalu dan Jongsoo kembali menutup pintu kamarnya. Ia menyandarkan punggungnya pada pintu, menatap ke seantero kamarnya yang sudah dia tempati selama lebih dari sepuluh tahun ini. "Setelah sekian lama, akhirnya aku pulang..." ucapnya sambil tersenyum.
Kim Jongsoo.
Anak sulung dari Kim Jongin dan Do Kyungsoo, dinyatakan mengidap kanker otak saat usia tiga tahun. Tadinya Jongsoo hanya akan dirawat di Korea saja, tanah kelahirannya. Namun karena ayahnya, Jongin, yang saat itu berada di London begitu kalut setelah tahu kankernya sudah cukup parah, akhirnya dia dirawat di salah satu rumah sakit disana. Tempat neneknya tinggal. Bukan, Jongsoo bukan blasteran karena ayahnya memiliki ibu yang tinggal di London. Ia asli memiliki darah Korea dan berkewarganeraan Korea.
Lalu Jongsoo menerima berbagai perawatan, operasi, opname, kemoterapi, dan sebagainya selama enam tahun. Dan pada umur duabelas, Jongsoo dinyatakan sembuh total dari kanker otaknya. Harusnya, saat itu ia bisa kembali ke Korea, namun ternyata secara diam-diam neneknya mendaftarkannya di salah satu sekolah di London.
Setelah lulus junior high school, Jongsoo meminta kepada neneknya untuk pulang ke tanah kelahirannya karena ia sudah sangat merindukan ayah dan ibunya. Namun kali ini, ayahnya meminta Jongsoo untuk sekolah dulu selama setahun di senior high school. Jongsoo pun menurut.
Dan dia sekarang telah memasuki tahun kedua di SHS. Benar saja, ayahnya memintanya untuk pulang. Dan besok, ia akan kembali mengijak tanah Korea. "Aku penasaran sekarang Kyungin seperti apa," katanya sambil menerawang.
Jongsoo baru tahu tiga tahun yang lalu bahwa ia mempunyai adik perempuan yang beda setahun dengannya. Karena saat ia kecil, ia lebih sering berada di rumah sakit daripada di rumahnya sendiri sampai-sampai ia tidak tahu bahwa mempunyai adik.
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya. Segera saja, ia membuka pintu dan terlihat Maria dengan kardus di tangannya. "This is your box, Mr. Kim. You only need one, right?" maid itu menyodorkan sebuah kardus lumayan besar kepada Jongsoo. Jongsoo mengangguk. "Thanks, Maria!"
"My pleasure!"
Maid itu berlalu, Jongsoo menutup pintu kamarnya dan menuju rak dimana komik-komiknya disimpan. Ia pun memasukkan komik-komiknya ke dalam kardus. Begitu cepat karena ia harus tidur jadi nanti dia hanya tinggal berangkat.
.
.
.
-TBC/END?-
a/n: hehehe chap 2 updated! Yah, aku tau harusnya ff ini end saja karena reviewnya gak sampe duapuluh /pundung/ tapi aku udah terlanjur bikin sampe chap 3 jadi sayang sendiri(?) kalo gak dilanjut. Heheheh. Juga beberapa orang pasti kesel ff yang dia baca discontinue ((terlalu pede ff ini ada yang baca)) wkwk. Aku sih oke oke aja reviewnya dikit yg penting ada yang baca drpd numpuk di lappie mending dipost heheheheh :3
ok segitu aja. jan lupa review ok? kritik dan saran diterima, chingu-ya :3
