Title: The recipe
Genre: Fluff, romance, humor
Cast: Xiuhan and other member
Summary: Mari membuat kue bersamaku! Dengan resep spesial yang kubuat sendiri.
A/n: hallo? Adakah yang berpikir ff ini akan ada chap 2? Haha, karna chap ini genrenya 'bentrok' sama chap kemarin, SANGAT disarankan yang merasa masih terbawa suasana di chap kemarin untuk nenangin hati atau semacamnya dulu. Chap ini gak akan ada adegan yang bikin nangis menurutku. Bagi yang gak terpengaruh sama chap kemarin bisa langsung di lanjutkan.
XiuHan/Lumin.
.
.
-TSCBBST-
Hallo semua? Bagaimana kabar kalian? Aku Kim Minseok, hadir hari ini untuk berbagi sesuatu. Ngomong-ngomong, apa hari ini kalian bahagia? Itu harus karna aku tak ingin ada wajah cemberut dan bersedih hari ini. Jadi, aku harap kalian memasang senyum terbaik kalian, jika perlu tersenyumlah selebar Chanyeol.
Hari ini aku hanya ingin membagi resep cintaku pada kalian. Jangan berpikir kesana- kemari dulu. Ini hanya resep membuat kue, hanya saja kue ini di penuhi cinta. Bingung? Haha, aku juga sih.
Hmm, bagaimana menjelaskannya ya? Yang jelas kue ini tak dapat digambarkan dengan kata-kata. Sudahlah, aku tak ingin menambah durasi. Kalian akan mengetahuinya nanti. Jadi dengarkan dan perhatikan. Aku tak ingin mengulangnya.
Let's begin!
.
.
" Pertama-tama, satukan dua manusia hingga menjadi satu dan tak terpisahkan."
.
.
"Bagaimana menurut kalian?"
"Buruk."
"Apanya?"
"Itunya."
"Itunya? Itunya apa?"
"Itu, yang kau bilang tadi."
Luhan menghela nafas sedikit jengkel dan lelah, sedangkan tiga manusia lain sibuk membolak balik potongan puzzle yang berhamburan di meja.
"Aku serius, jangan mempermainkanku." Yang tertinggi dari tiga manusia itu menatapnya heran, sedangkan dua lagi tak terlalu peduli.
"Kami tidak mempermainkanmu. Lagipula, untuk apa bertanya tentang hal ini pada kami? Kau bisa menanyakannya pada orang yang lebih ahli." Jawab orang itu meninggalkan potongan puzzle di meja, memilih sibuk dengan remote tv.
"Ada dua masalah disini. Pertama, di tempat ini tidak ada orang yang ahli dengan masalah ini. Kedua, yang akan kuhadapi adalah Minseok. God! Kau taukan, bahkan Kris akan diam dan menelan bulat-bulat kekalahannya jika berperang mulut dengan mahluk setinggi 173 cm itu? Masa kalian tak ingin membantuku? Aku bisa kalah sebelum berperang."
Gantian manusia bermata sipit yang menatapnya heran.
"Lalu? Kalau Kris saja akan kalah apalagi kami?" tanyanya menyusul pemuda tinggi meninggalkan potongan puzzle, dan mulai berebut remote.
"Byun, kau membangkitkan jiwa pesimisku."
"Tepat! Jika kau sudah tau akan seperti apa hasilnya untuk apa meminta bantuan kami lagi?"
"Park, kau sama saja."
"Kau mempersulit masalah." Sahut manusia lain yang baru menyatukan potongan puzzle terakhir. "Kami bukan sekelompok cupid yang memakai popok merah muda dan membawa panah berbentuk hati di punggung kami. Sangat salah jika kau meminta kami membantu masalah percintaanmu."
Baekhyun dan Chanyeol terbahak mendengar kalimat 'sekelompok cupid yang memakai popok merah muda'. Membayangkan Baekhyun memakai popok saja sudah mengerikan, apalagi Chanyeol? Merah muda lagi?
Luhan mendengus kecil. "Kalau semua member ada di tempat ini aku tidak akan bertanya pada kalian. Sayang sekali yang tersisa ditempat ini hanya kita berlima."
"Lalu apa susahnya? Kau menyukai Minseok hyung dan akan menyatakan cinta padanya. Minseok hyung bukan gadis yang segalanya harus menggunakan cara romantis. Cukup bilang 'Minseok aku mencintaimu, jadilah kekasihku'"
"Do Kyungsoo, sudah kubilang yang akan kuhadapi adalah-"
"Kekasih?"
"…"
"…"
Ketiga pemuda yang duduk berjejer itu langsung menoleh kaget kearah suara serak orang yang baru terbangun dari tidurnya itu, sedangkan Luhan?
Pemuda itu terdiam dengan wajah yang perlahan terlihat pucat dan mata melotot. Lalu dengan perlahan, menoleh ragu ke arah yang sama dengan ketiga pemuda lain hanya untuk menemukan wajah tanpa ekspresi seseorang.
"Cara yang sangat payah untuk menyatakan cinta, Luhan."
Luhan meringis mendengar nada sarkatis itu, dan terbesit niat untuk memenggal Kyungsoo setelah ini. Apalagi melihat reaksi Minseok yang tidak bisa diartikan 'tidak' apalagi 'ya' untuk pernyataannya yang disebutkan lantang tanpa jeda oleh Kyungsoo.
Minseok berbalik, hendak kembali ke kamarnya dan melanjutkan tidurnya. Tak memberikan respon untuk pernyataan Luhan –yang diucapkan Kyungsoo-, membuat sebuah tanda tanya besar di atas kepala mereka. Tapi kemudian,
"Oh ya, mulai sekarang kau milikku Luhan."
"…"
"…"
Hening disana, keempat pemuda itu sibuk memproses apa yang baru dikatakan pemuda kecil itu. Tapi yang pasti, Kyungsoo akan berakhir di pelukan beringas penuh kebahagiaan Luhan sebentar lagi.
.
.
"Kedua, tambahkan semangkuk cinta, 2 kg kasih sayang, dan rasa percaya satu sama lain lalu aduk hingga rata. Oh, kalian bisa menambahkan gula sesuai selera."
.
.
Minseok menggaruk tengkuknya merasa geli saat setetes keringat mengalir turun disana. Nafasnya sedikit memburu dan beberapa bagian bajunya basah oleh keringat. Mulutnya terbuka membantu mengais udara yang terasa menipis di ruangan besar itu.
"Kau lelah?"
Minseok menoleh, menatap Luhan dengan mata menyipit sebelah akibat tetesan keringat disekitar matanya yang membuat matanya terasa sedikit perih.
"Tentu saja, menari sebelas menit tanpa istirahat membuat paru-paruku terasa kosong." Balasnya, membuat gerakan mengipas dengan tangannya di bagian leher. Luhan tertawa, lalu menarik Minseok turun dari panggung itu lebih cepat, sesekali tersenyum pada kerumunan fans yang berada didekat panggung.
"Mau kuberi nafas buatan?"
"Ya, dan setelahnya kau akan berada dirumah sakit."
Luhan tertawa lagi, menarik Minseok duduk di sebelahnya. "Itu akan menjadi berita menghebohkan untuk fans. 'Xi Luhan berakhir di RS akibat member nafas buatan untuk kekasihnya sendiri' akan terdengar lucu."
Minseok mendengus, tapi memilih mengakhiri pembicaraan tak jelas itu dengan meraih sebotol air mineral yang di sediakan di tengah meja tempat mereka berkumpul kemudian meminum isinya sedikit. Sesudahnya, ia meletakkan kembali botol itu agak sedikit ketengah.
Luhan yang melihat itu meraih botol air bekas Minseok dan menggenggamnya sembari menatap Minseok aneh.
Minseok menatap Luhan dan botol di tangan Luhan bergantian, kemudian menggeleng lalu merebut botol itu dan meletakkannya di tempat semula.
Luhan menatapnya heran, kemudian menarik lagi botol itu kehadapannya lalu menoleh pada Minseok dengan ekspresi menantang.
"Itu bekasku bodoh." Dengus Minseok, tapi tak berusaha merebut botol itu lagi. "Justru karna ini bekasmu harus diamankan."
"Kenapa?"
"Karna aku sayang kamu."
Minseok menatap Luhan datar, tak menunjukkan tanda-tanda tersipu atau sebagainya.
"Oke, karna jika ini bekasmu dan ada orang lain yang meminumnya maka akan terjadi ciuman tidak langsung diantara kalian." Ralat Luhan saat merasa gombalannya tak berpengaruh apapun pada Minseok.
"Tidak masuk akal." Balas Minseok lalu mengalihkan pandangannya pada dua MC acara yang sibuk berbicara satu sama lain. Luhan hanya tersenyum tipis, meminum air yang ada di botol bekas Minseok lalu meraih tissue didepan Tao yang berada di sisinya yang lain.
"Minseok." Panggil Luhan. Minseok menoleh, mendapati Luhan yang menyodorkan tissue padanya. Minseok tanpa ragu dan babibu meraih tissue itu dan mengelap wajah dan lehernya yang terasa lengket oleh keringat.
Setelahnya, ia menatap Luhan yang hanya diam sembari bermain dengan potongan kecil tissue tanpa ada niat mengelap wajahnya yang juga penuh keringat. Minseok masih lelah saat ini, jadi tanpa bicara ia mengelap wajah Luhan dengan tissue yang masih tersisa padanya.
"Kenapa tak mengelap wajahmu?" Luhan menoleh, menatap Minseok yang masih sibuk mengelap wajahnya lembut.
"Kau menghabiskan semua tissue yang ku ambil."
"kau bisa mengambilnya lagi."
"Member lain juga sudah menghabiskan yang lain."
"Lalu kau diam saat aku mengambil semua tissue ini?"
"Aku tau kau tak suka jika tubuhmu terasa sangat lengket dan gerah, jadi ya kuberikan semua."
Minseok menatap Luhan, merasa heran.
"Kenapa? Aku tak menerima jawaban ' karna aku sayang kamu' kali ini."
Luhan tersenyum lebar, lalu menjawab.
"Karna aku cinta kamu Minseok."
.
.
"Ketiga, tambahkan sebungkus pengertian agar lebih mengembang."
.
.
"Apa yang dikatakan manajer?"
Minseok menunduk, memainkan rubik Luhan yang sudah di acaknya. Alasan untuk tidak menjawab pertanyaan Luhan.
Luhan mengernyit, kemudian mendudukan dirinya di sebelah Minseok di atas tempat tidur Yixing. "Hey, kau belum menjawabnya."
"Apa nanti sore kau ada jadwal?" Tanya Minseok membuat Luhan terkekeh lalu merebut rubiknya dari tangan Minseok.
"Kau sedang berusaha mengalihkan pembicaraan." Balasnya mulai memutar-mutar benda itu, menyamakan setiap warnanya. Minseok diam, terlihat sedang berpikir.
"Kau belum menjawabnya Minseok." Ucap Luhan lagi, memutar rubiknya sekali lagi lalu meletakkan benda itu sembarangan saat warna mereka yang sudah kembali serupa di tiap sisi rubik itu. Minseok diam, ragu untuk membuka mulut.
"Aku-"
Tok tok tok..
"Minseok hyung, Tao memanggilmu. Dia ingin mengajakmu mandi bersama karna dia takut mandi sendiri."
Wajah Minseok berubah berseri seketika saat suara Kyungsoo, atau mungkin Yixing, atau mungkin Baekhyun terdengar samar dari balik pintu.
"Oke, bilang pada Tao tunggu aku di kamar mandi." Balas Minseok sedikit berteriak, tanpa menatap Luhan segera meloncat turun dari tempat tidur Yixing dan berlari keluar. Meninggalkan Luhan yang membeku dengan mulut sedikit terbuka, memproses sesuatu di otaknya yang cukup lambat.
Apa yang barusan terjadi?
Minseok mandi dengan Tao?
Lalu apa masalahnya?
Seperti ada yang aneh, tapi apa?
Pikir Luhan, pikir.
Luhan sibuk bertanya dalam hati tentang apa yang membuatnya merasa ganjal, sambil mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di dagu.
Hm, Minseok mandi dengan Tao?
Mandi dengan Tao?
Tunggu, mandi dengan Tao?
Mandi dengan?
APA!?
MANDI!?
"MINSEOKKK NOOO!"
Minseok yang mendengar teriakan melengking Luhan segera berlari dan menarik Tao ke kamar mandi yang mungkin tinggal lima langkah lagi dengan tergopoh-gopoh.
Tapi berhubung kapasitas otak Tao dan Luhan tak berbeda jauh, Tao hanya berdiri diam dengan wajah polos menatap Minseok yang sekuat tenaga menariknya. Masih memproses. Perbedaan tinggi ternyata mempengaruhi segalanya, terbukti dari tubuh Tao yang tak bergeser sedikitpun meski Minseok sudah kalang kabut menariknya.
"Ya! Kena kau!"
Minseok melempar tatapan membunuh pada Tao saat wajah Luhan sudah berada di belakangnya. Sedangkan Tao tetap dengan wajah 'Loading..'
"Jangan mencoba lari."
"Berisik."
Minseok mendengus jengkel, terlebih dengan kehadiran lengan Luhan yang terasa mencekik lehernya. Luhan tertawa, lalu melotot pada Tao untuk segera pergi. Yang hebatnya, langsung di mengerti oleh Tao tanpa perlu memproses.
"Kau mencoba membunuhku Luhan, khhh" Luhan terkekeh, lalu melonggarkan pelukannya di leher Minseok. "Kau belum menjawab Minseok, dan parahnya kau mencoba lari." Minseok mencibir dalam hati. Mengejek Luhan dan sikap ingin taunya yang berlebihan.
"Aku menunggu sayang."
"Aku dan menejer hanya membicarakan tentang pekerjaan."
"Aku tau, tak mungkin kalian membicarakan wajahku yang tampan. To the point Minseok." Minseok sekali lagi mendengus, kemudian pasrah saat merasa Luhan tak akan melepaskannya.
"Sebenarnya, manajer ingin aku menjadi salah satu pemain di MV yang akan dibuat. Dan disana aku akan dipasangkan dengan seorang gadis." Jawab Minseok, semakin kesini suaranya semakin mengecil. Jeda sebentar, Minseok menoleh ragu ke arah Luhan.
"Benarkah? Itu sangat bagus Minseok. Selamat!"
Minseok menatap Luhan aneh. "Kau tidak marah? Maksudku,aku akan tanda kutip bermesraan dengan seorang gadis. Aku tak ingin menjawab pertanyaanmu karna ku pikir kau akan marah dan cemburu. " Luhan kembali terkekeh.
"Memang, tapi untuk kali ini kasusnya berbeda. Bisa jadi dengan ini kau semakin sukses dalam karirmu, mungkin setelah ini semakin banyak tawaran untukmu. Tak ada alasan untukku cemburu jika memang kedepannya itu baik untukmu Minseok."
Minseok terdiam. Uhuk, apa yang baru berbicara itu Luhan? Dia bisa terdengar berwibawa?
"Tapi aku tak segan mendatangimu jika kau melakukan hal yang berlebihan dengan gadis itu. Ingat, aku akan selalu mengawasi."
Minseok diam dengan wajah flat. Sudahlah, Luhan tetap Luhan yang tak akan membiarkan bakpau ini 'bermesraan' dengan yang lain. Minseok serasa diberi harapan palsu.
"Dan kurasa Tao tak jadi mandi, bagaimana jika aku yang menggantikannya?"
"Kau akan berakhir mengapung di sungai Han Xi Luhan!"
.
.
"Tambahkan kejujuran, kurangi rasa cemburu, egois, dan jauhkan dari selingkuh."
.
.
"Kenapa wajahmu kusut begitu? Kau jadi semakin terlihat jelek."
Luhan menatap Kris sinis, merasa sedikit terhina. "Aku lebih tua darimu." Balasnya tetap dengan wajah sinis.
Semua terasa menyebalkan hari ini, matahari yang bersinar terik, tubuhnya yang berkeringat dan gerah, acara yang tak kunjung usai, tenggorokannya yang terasa tercekik, dan jangan lupa keberadaan makhluk berpipi bulat dengan jarak 100 meter darinya yang sibuk tertawa dengan orang lain.
Panas, tubuhnya serasa terbakar.
"Bisa di tebak kau sedang cemburu karna Minseok hyung sibuk dengan pemuda lain dan mengacuhkanmu."
"Bisa kau menjauh dariku? Kurasa kekuataan supranaturalmu di MAMA mulai menjadi kenyataan. Aku serasa terbakar hanya dengan mendengar perkataanmu."
"Dasar sensi." Kris menjauh setelah mendengar perkataan tak bersahabat Luhan, padahal ia masih ingin menggoda pemuda itu.
Luhan mengacak sedikit rambut pirangnya yang mulai basah, lalu menoleh lagi pada pemuda yang masih asik mengobrol dan tertawa dengan salah satu sunbaenya.
Ingin rasanya ia berlari kesana dan menggeret makhluk itu menjauh sesegera mungkin. Apalagi dengan keberadaan tangan 'lentik' seniornya yang dari tadi tak bisa diam merayap di tubuh pemuda berwajah serupa hamster itu.
Luhan semakin terbakar.
"Hey, kau terlihat semakin jelek kau tau?"
Wajah Kris muncul kembali di depannya lengkap dengan cengiran aneh. Untung Luhan dapat menahan tangannya yang serasa ingin melampiaskan rasa kesal dengan meninju wajah Kris, apalagi pemuda itu kembali menggodanya.
"Diam Kris, tidak lucu jika aku mengamuk disini." Kris terkekeh mengerikan, benar-benar ingin menggoda Luhan.
Dua orang yang sedari tadi mereka perhatikan tiba-tiba berjalan mendekat pada mereka. Dengan tangan yang berkaitan satu sama lain.
Luhan rasa ia sudah setengah matang sekarang.
"Halo Luhan, halo Kris." Kris membungkuk pada seniornya itu, sedangkan Luhan hanya tersenyum sedikit dan mengangguk kecil membalas sapaan itu.
"Minseok, kau sudah aman berkumpul dengan geng mu. Aku tak perlu khawatir kau di culik seseorang saat berjalan 100 meter melewati lapangan ini lagi." Minseok tertawa kaku, entah kenapa kalimat itu serasa seperti ingin menghinanya. "Hyung."
"Sudah ya, hyung juga akan kembali pada kumpulan pemuda berisik itu dulu." Heechul menunjuk pada kumpulan pemuda yang sedang tertawa ribut di sisi lain lapangan. Lalu menarik pipi kanan Minseok gemas.
"Sampai bertemu lagi, ku harap kau segera siap menjadi 'istiku' di WGM. Bye sayang!" Heechul mencolek dagu Minseok lalu menjauh dengan tawa mengerikan.
Hell yeah, Luhan mungkin sudah gosong sekarang. Rasa kesalnya sudah di ubun-ubun.
"Apa? Kenapa menatapku begitu?" Kris menepuk dahi dengan tangannya sendiri saat Mendengar pertanyaan Minseok lengkap dengan wajah polos itu. Tak peka, atau pura-pura tak peka? Wajah mengerikan Luhan sudah cukup menjelaskan bagaimana perasaan pemuda itu.
"Oh Kris, kurasa aku ingin menjadikanmu 'istriku' di WGM. Wajahmu terlihat imut dan mirip artis wanita idamaku."
Kris memasang ekspresi shock mendengar perkataan Luhan, lalu tak lama ekspresinya berubah jijik membayangkan dirinya menjadi seorang 'istri'. Sedangkan Minseok hanya diam, tapi bibirnya menunjukkan senyum simple.
"Aku rela menjadi pembantu exo sebulan full jika itu benar terjadi."
"Ya! Aku sedang cemburu kim!"
"Memang aku peduli?"
Kris menggerutu dalam hati, lalu mulai melangkah menjauhi dua orang yang sibuk berdebat itu. Daripada ia jadi bahan pelarian lagi.
"Kau mencoba selingkuh ya?"
"Hee? Selingkuh apanya? Kau yang terlalu mudah cemburu Luhan."
"Wajarkan jika aku cemburu? Heechul hyung itu ada rasa padamu Minseok. Dia bahkan ingin ikut WGM denganmu."
"Kau yang terlalu mudah cemburu."
"Oke kejujuran menang disini. Aku memang terlalu mudah cemburu."
"Kau marah ya?"
Grrr, dia masih bertanya? Apa semua belum jelas disini?
Luhan mengacak rambutnya frustasi. Minseok tersenyum kecil lalu merangkul Luhan.
"Tidak baik jika kau terlalu mudah cemburu Luhan."
"Lalu?"
"Jangan egois! Aku ingin kau minta maaf, kau yang salah disini."
"Memang aku peduli?"
"Kau akan mendapat ciuman dariku."
"Oke, aku minta maaf Minseok. Aku tak akan mudah cemburu lagi, tapi aku tak janji. Terimalah permintaan maafku yang tulus dari hati terdalamku ini. Sudahkan? Mana ciumanku? Oh, kau boleh memberi lebih dari ciuman. Aku akan menerima dengan senang hati."
"Dasar mesum!"
"Hanya untukmu sayang."
.
.
"Selanjutnya, panggang dengan kehangatan hingga matang."
.
.
Minseok menguap lebar, tangannya menggenggam jaketnya erat berusaha menjaga kesadarannya. Sial, tak bisakah mereka melakukan penerbangan pagi saja? Kenapa harus jam setengah sepuluh malam begini?
Minseok diam-diam berdoa agar pilot yang membawanya dan member lain tidak mengantuk di tengah-tengah perjalanan nanti.
Udara yang dingin dan langit yang menampilkan warna hitam itu tak terlalu berpengaruh pada aktivitas Bandar udara ini. Terbukti dari banyaknya manusia yang masih berlalu-lalang dengan kesibukan masing-masing.
Minseok menguap lagi, kepalanya mulai terantuk-antuk meskipun badannya tetap berdiri tegak diantara gerombolan manusia lain. Entah apa yang mereka tunggu, yang jelas lebih lama lagi mereka berdiri seperti ini Minseok akan segera tertidur.
Tubuh Minseok limbung kedepan, hingga membuat kepalanya terantuk punggung Jongin. Jongin menoleh, mendapati Minseok yang sudah setengah tertidur di belakangnya.
"Astaga hyung, apa kau sudah sangat mengantuk? Kita bahkan belum check in."
"Hmmhh, iya. Aku tidak ada tidur seharian ini, aku sangat lelah. Aku pinjam bahumu dulu Jongin." Jongin diam saja saat Minseok menyamankan kepalanya yang bersandar pada punggungnya. Sepertinya member tertua ini benar-benar kelelahan.
Minseok nyaris benar-benar tertidur jika saja seorang pemuda lain yang tadi berada jauh di belakang tak menghampirinya dan menariknya.
"Luhan, ada apasih?" tanyanya dengan mata sayu. Luhan menarik kepala Minseok dan membenamkan wajah Minseok di tengkuknya, kemudian perlahan menarik tubuh Minseok mundur.
"Jika kau mengantuk tidur saja. Aku yang akan menjagamu." Bisik Luhan, Minseok menurut saja. Ia menyamankan posisinya. Tidur berdiri dengan badan di peluk dan wajah yang terbenam di tengkuk Luhan entah kenapa membuatnya nyaman.
Luhan sendiri terlihat tak kalah mengantuk, matanya sayu dan wajahnya terlihat lelah. Tapi ia menyembunyikan wajahnya dengan menunduk.
Hampir lima belas menit di posisi itu, seseorang menepuk pundak Luhan. Luhan mengangkat wajahnya dan melihat Suho berdiri di depannya.
"Sekarang kita harus check in." Luhan mengangguk sekali, melepaskan pelukannya pada Minseok yang tertidur. Secara tak sengaja membuat Minseok terbangun.
"Check in?" Luhan kembali mengangguk sekali, lalu menggenggam tangan Minseok dan menariknya menyusul yang lain. Ia sedikit merasa kasihan melihat wajah mengantuk dan mata Minseok yang terlihat merah. Tapi mau bagaimana lagi, ini semua tuntutan pekerjaan.
"Kau sangat mengantuk?" Bisik Luhan, mendorong pelan bahu Minseok untuk berjalan di depannya. Minseok mengangguk singkat, terlalu malas untuk menjawab.
Ia belum puas, ia hanya tertidur lima belas menit tadi. Matanya sudah sangat berat dan ingin segera terpejam. Ia akan menghabiskan waktu selama penerbangan nanti dengan tidur, dan ia tak segan menendang keluar siapapun yang mengganggunya dari pesawat nanti.
"Kau tidak lelah?" Minseok balik bertanya, menatap sebentar wajah Luhan yang berada di belakangnya. Kemudian merogoh saku bagian dalam jaketnya, memastikan passport aman disana.
"Tidak, tapi aku mengantuk." Balas Luhan. Ia tersenyum singkat pada seorang fans yang mengambil sebuah foto darinya dan Minseok. Gerombolan member dan staff itu kembali berhenti, entah menunggu apalagi.
Minseok menguap lagi, rasa kantuk semakin menguasainya. Ia bahkan tak ambil pusing saat kedua lengan Luhan merengkuhnya dari belakang dan dagu Luhan yang bersandar nyaman di bahunya. Ia juga tak terlalu peduli dengan suara jeritan tertahan fans yang melihat posisinya dan Luhan malam itu.
Luhan menguap, menyamankan posisinya masih dengan memeluk Minseok.
"Kau tau Minseok?"
"Apa?"
"Malam ini udara sangat dingin."
"Aku tau, aku juga merasakannya."
"Tapi memelukmu aku jadi merasa hangat."
"Jangan menggombal, aku sedang mengantuk sekarang."
"Aku tidak menggombal."
"Bohong."
"Susah sekali meyakinkanmu."
"Terserah."
"…"
"…"
"Luhan."
"Hmm?"
"Kau benar, pelukanmu terasa sangat hangat untukku."
.
.
"Terakhir hias dengan romantisme, rasa peduli, dan potongan-potongan kecil perhatian. Agar tampilannya terlihat lebih manis."
.
.
"Kau kenapa?"
Minseok menatap Luhan heran saat pemuda itu meringkuk di atas tempat tidurnya sambil memegangi perut. Wajahnya sedikit pucat dan penuh keringat.
Luhan hanya menggeleng sambil meringis kecil, perutnya serasa terlilit dan panas.
"Sakit perut? Sudah ku bilang untuk tidak memakan mie yang sudah kadaluarsa itu. Kalau kau keracunan bagaimana?" Minseok mendengus, ia sudah memperingati Luhan untuk tidak makan mie tadi pagi. Dan bodohnya, hanya di anggap angin lalu oleh Luhan. Minseok kesal? Tentu saja!
Hey, jika Luhan benar-benar keracunan bagaimana? Minseok bisa menjadi duda sebelum waktunya! Hell yeah, pikiran yang terlalu dini mengingat Minseok bahkan belum menikah dengan Luhan -,-
"Jangan berisik Minseok. Kau menambah khh, menambah rasa sakitnya kau tau?" Tanya Luhan diiringi ringisan tertahannya. Minseok serasa ingin menyiksa Luhan saat mendengar nada menjengkelkan itu. Tapi ia sadar kalau Luhan sedang sakit sekarang, jadi ia memilih keluar dari kamar Luhan dan Yixing menuju dapur.
Minseok hanya mengambil segelas air hangat, ia tak berani memberi sembarang obat pada Luhan karna dia belum ingin menjadi duda. Yeah.
Setelahnya ia kembali ke kamar Luhan dan Yixing, memberikan air hangat pada Luhan yang masih meringkuk di atas tempat tidur.
"Ini minum. Setelah ini kita harus kerumah sakit."
Luhan mendudukkan dirinya di tempat tidur, lalu meminum sedikit air yang di bawa Minseok. "Perutku terasa sangat panas Minseok." Adunya, sambil meremas bajunya di bagian perut.
Minseok yang tadinya masih sedikit kesal jadi merasa tak tega. Ia mengelap wajah Luhan yang basah oleh keringat dengan handuk kecil yang tadi di bawanya.
"Kau terlalu susah di atur Luhan."
Luhan tertawa kecil, kemudian menarik Minseok tidur di sebelahnya lalu memeluknya seolah Minseok adalah guling lembut dan nyaman. Minseok memerah, posisi yang cukup mengerikan untuknya. Luhan sendiri hanya menyamankan posisinya dan mulai memejamkan matanya mencoba tidur.
"Hey, kita harus pergi ke rumah sakit."
"Tidak mau, besok juga sembuh. Biarkan aku tidur Minseok, aku mengantuk."
"Luhan,-"
"Diam, atau aku akan menciummu."
"Kau sedang sakit dan masih terpikir untuk menciumku?"
"Lalu apa? Kau ingin aku melakukan yang lebih?"
"Sial, kau sakit dan masih mencoba berkata mesum padaku?"
"Kau membuat perutku semakin sakit Minseok."
"Luhan,-"
"Cukup, aku mencintaimu. Selamat malam!"
Dan tak ada kesempatan untuk menjawab karna setelahnya wajah Minseok sudah tenggelam di dada Luhan.
.
.
Yap! Kue itu sudah siap!
Mungkin ada beberapa dari kalian yang berpikir 'sebenarnya ini kue apa?' atau 'memangnya bisa di makan?'
Haha, dari awal aku tidak berkata kue ini bisa di makan bukan? aku hanya berkata jika aku ingin membagi resep cintaku pada kalian. Yah, ini yang di namakan resep cinta. Setidaknya dengan mengikuti resep ini hubunganmu dan kekasihmu akan lebih istimewa dan tahan lama.
Haha, aku jadi terdengar chessy.
Sudahlah, aku hanya ingin berbagi tentang hal ini. Entah ini bermanfaat atau tidak. Sampai bertemu di lain waktu. Aku mencintai kalian semua.
.
p.s. jangan coba-coba mengikuti resep ini jika kalian belum punya kekasih.
.
END
.
.
Happy Birthday Luhan.
Chap ini aku ngarang banget, yang step terakhir itu apalagi. Derita orang gak bisa bikin kesan romantis ya gini u,u. dan chap ini gak ada sangkut pautnya sama chap kemaren. Haha, adakah yang percaya sama resep yang di bagikan tadi? Plis, ini cuman candaan doang xD.
Vert02 : haha, sebenarnya ff ini terispirasi dari video itu. Video yang bisa bikin terharu waktu pertama kali nonton XD. Di dukung juga video2 xiuhan lain yang berhamburan di youtube sebenarnya. Haha, selama paket internet, signal, dan ide mulus pasti per-lumin-an ini akan berlanjut. Kkk semangat ! XD
Kpowpers: Ah iya? Haha, makasih XD. Requestnya aku tampung dulu ya, waktu bikin chap kemarin mungkin jiwa melankonisku lagi membara sampe bisa bikin yg begituan. Mungkin bisa bikin yg kaya begituan kalo kumat lagi, dan mungkin bakalan lama u,u. kalopun bikin mungkin bukan tentang perpisahan mereka lagi, gak masalah kan? Kkk
Minxeok: duh maaf, aku gak maksud begitu *bow* apa chap ini bisa sedikit membantu menutup luka?
Makasih yg sdh review kemaren, gk bisa bales semua karna waktunya kepepet banget.
Happy birthday Luhan.
