'Akan aku lindungi dia dengan seluruh kekuatanku.'
Semuanya menatap sang poros yang masih menatap lurus ke depan hingga punggung kelima namja itu menghilang di tikungan trotoar.
'Jangan beritahu Kibum masalah Kyuhyun. Ini hanya diantara kita, Axis.'
Yunho, Hankyung, Yesung, dan Donghae mengangguk mendengar kaliamat 'Abstrak' itu. Kelima pasang mata itu berkilat terang.
Tap
"Ada yang ingin kalian ceritakan kepadaku, Sunbae-nim?"
Dan, kelima Cardinal itu sontak membalikkan tubuhnya begitu kalimat dingin itu terdengar di belakang mereka.
Disana, namja bertubuh pendek dengan seragam tingkat satu itu menatap mereka dengan seringaiannya.
"Sepertinya kalian menyimpan cerita yang menarik."
"Nuguya?"
Pertanyaan yang dilayangkan Donghae itu hanya ditanggapi dengan tawa lebar sang lawan bicara. Keempat Cardinal yang lain hanya menatap namja yang kini berjalan mendekat itu dengan sorot datar namun waspada. Pada awalnya, mereka mengira yang telah menyela pembicaraan mereka adalah namja aneh bernama Kim Kibum yang misterius.
Namun ternyata mereka salah.
"Suatu kehormatan bertemu dengan para Cardinal." Ucap namja itu sambil membungkuk hormat sekilas dengan senyum lembut lalu kembali bangkit dengan seringai di wajahnya.
"Kau temannya Kibum?" tanya Yesung kini menatap penasaran dengan namja asing di depannya. Semua yang ada disana juga memiliki pikiran yang sama.
"Rupanya kalian sudah bertemu dengan Kibum? Sungguh menarik~"
"Berhentilah basa-basi, bocah! Katakan siapa dirimu, dan mengapa kau bisa tahu tentang kami?" sahut Siwon dengan nada tajam yang masih ditahan untuk tidak terlalu keras. Beberapa siswa yang masih melintas, menatap mereka aneh.
"Hihihihi! Aku suka sekali melihat orang-orang yang penasaran. Membuatku senang dan sangat menghibur~"
Kelima Cardinal itu menatap murid tingkat pertama di hadapan mereka itu dengan sorot yang tidak bisa diartikan saat namja asing di depan mereka itu tertawa geli.
'Bagaimana, Siwon?'
'Pikirannya hanya dipenuhi hal-hal tidak penting.'
Yunho menggaruk kepalanya yang tidak gatal saat Siwon menjawabnya dengan gelengan kepala. Hankyung, Donghae dan Yesung hanya melayangkan pandangan bingung.
"Sunbaenim, aku bosan dengan pelajaran selama seharian ini di sekolah," ucap namja 'kekanakan' itu dengan raut innocent-nya yang dibuat-buat, "Bagaimana kalau kita bermain-main sebentar?"
'Lama-lama aku ingin membakar wajah menjengkelkan itu!'
'Tenanglah, Yesung-ah! Masih banyak orang disini.'
Hankyung menahan lengan Yesung yang sudah akan menerjang Hoobae yang masih bertahan dengan senyum kekanakannya itu.
"Ayo~ Tunjukkan padaku kembang api yang besar! Atau Kristal es yang cantik dengan pertunjukan cahaya yang menakjubkan! Oh! Atau tunjukkan padaku bagaimana mengendalikan manusia seperti mengendalikan boneka, lalu, BOOOM! Sang Poros mengakhiri semuanya, HAHAHAHA!"
Kelima namja tampan itu masih menatap datar namja asing yang kini tertawa ceria dengan nada menakutkan itu.
'Haruskah kita membereskannya sekarang?' tanya Donghae kepada keempat temannya melalui pikirannya.
'Jangan! Tunggu sebentar. Akan ada yang menarik sebentar lagi.'
Keempat namja itu mengangguk samar mendengar instruksi Siwon yang kini tersenyum mengerikan.
"Sunbaenim? Mengapa kalian diam saja~" ucap namja itu lagi dengan raut muka sedih, lalu tangannya menunjuk benda bulat oranye tepat di belakang kelima Cardinal yang masih bergeming di tempat mereka, "Kalian punya kekuatan matahari disana itu, kan? Show me!"
'Tunjukkan padanya, Timur.'
Donghae mengangguk ketika komando Siwon terdengar di dalam kepalanya. Namja tampan berwajah ikan itu memejamkan matanya sesaat kemudian membukanya dengan kilauan terangnya. Dan dalam sekejab, cahaya sore yang kemerahan itu menghilang dan digantikan dengan kegelapan total. Yesung dan Hankyung bergerak menuju namja asing yang masih terlihat senang itu dari dua arah yang berlawanan dengan bunga api biru dan pedang es di tangan masing-masing. Sedangkan Yunho berjalan santai sambil mengibaskan tangannya pelan, membuat semua orang yang tersisa di lapangan depan Spamcos High School itu seketika pergi meninggalkan gerbang.
Grep
Bruk!
"Kau bodoh, hah?! Bagaimana jika mereka semua membunuhmu?!"
Tepat sebelum api biru dan pedang es itu mengenai tubuh namja yang masih excited di depannya itu, tubuh itu di dorong keras ke arah samping, hingga terjatuh dengan suara berdebum, meninggalkan bongkahan es yang kini meleleh karena menabrak api biru yang kini padam itu.
Siwon masih tenang di tempatnya dengan senyuman licik tersungging di wajahnya, ketika melihat dua namja yang kini tersungkur di tanah dikelilingi oleh teman-temannya.
"Itu tidak akan terjadi, karena aku tahu kau tidak akan membiarkannya, Kim Kibum."
Kibum mendecih pelan mendengar perkataan namja di depannya. Namja berwajah dingin itu kemudian menarik tangan namja asing tadi untuk berdiri, lalu menatap kelima Cardinal di sekelilingnya datar.
"Wah, Kim Kibum. Kau tahu bahwa kami tidak berminat main-main dengan anak kecil, kan?" ucap Siwon sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya dan tetap bertahan dengan senyum mengerikannya. Keempat Cardinal yang lain juga tersenyum licik di tempatnya masing-masing.
"Ah, Sunbaenim~ Mianhaeyo. Anak ini memang terobsesi dengan kekuatan para Cardinal." Jawab Kibum masih dengan senyum dinginnya yang khas. Namja berwajah datar itu menarik tangan namja yang masih terkagum-kagum dengan para Cardinal itu dengan kasar. "Katakan sesuatu, Henry-ah!"
Namja yang masih bertahan dengan kikikannya itu kemudian membungkuk sekali lagi kepada lima namja di sekelilingnya, "Annyeonghaseyo, Henry imnida. Dan aku penggemar berat kalian, Sunbaenim~"
Yesung mendecih pelan sedangkan Yunho di sampingnya hanya tersenyum mengejek. Hankyung lebih memilih mengangkat bahunya tak peduli sementara Donghae mulai melambaikan tangannya, membuat langit berwarna hitam di atas mereka itu kembali berwarna oranye kemerahan khas sore hari.
"Kami tidak tertarik dengan fan-boy kekanakan sepertimu!" ucap Yesung dengan nada datar yang mengerikan.
"Benarkah? Lalu bagaimana dengan namja bernama Kim Ryeowook yang tadi kau goda itu? Bukankah dia lebih kekanakan dariku?"
"DIAM KAU, BOCAH SIALAN!"
Siwon merentangkan tangannya untuk menahan tubuh Yesung yang sudah akan menerjang ke depan. Sedangkan namja bernama Henry itu semakin tertawa lebar dengan wajah ceria.
Kibum menarik bahu Henry yang masih asyik terkikik dengan sedikit kasar hingga mambuat namja bermata sipit itu terhuyung kebelakang.
"Tidak usah dipikirkan. Aku bisa mengurus anak ini nanti." Ucap Kibum kini mulai menampilkan senyumnya, "Ah, ngomong-ngomong kalian belum menjawab pertanyaan Henry tadi. Ada sesuatu menarik yang ingin kalian ceritakan kepada kami, Cardinal?"
Semua terdiam sambil menunggu perintah Siwon yang juga masih terdiam di tempatnya. Namja tampan itu memberi isyarat kepada Yunho dengan ekor matanya saat sesuatu dari kepala Henry terbaca olehnya.
"Baiklah jika kalian tidak mau bercerita," Ucap Kibum lagi. Namja bertubuh pendek itu menoleh ke arah Henry yang masih memasang wajah cerianya, "Kurasa Henry sudah memperoleh informasi yang cukup. Kajja! Kita pulang, Henry-ah!"
"Tunggu sebentar."
Kibum menghentikan langkahnya yang sudah akan melewati gerbang Spamcos saat Yunho menghadangnya. Henry yang masih terlihat senang, hanya tertawa-tawa kecil di belakang tubuh Kibum.
"Apa kalian ingin mengatakannya―"
"Kau menjatuhkan ini saat terjatuh tadi, Henry-ssi."
Henry melebarkan matanya saat Yunho menyerahkan benda kotak kecil kepadanya, sebuah iPod. Kibum disampingnya hanya menaikkan sebelah alisnya saat kalimatnya sama sekali tidak digubris oleh Yunho.
"Ah! Gomawo! Selain hebat, kalian juga baik! Kereeeen~" ucap Henry sambil tersenyum lebar kepada Yunho yang juga tersenyum kepadanya.
"Terima kasih atas pujiannya, Henry-ssi. Sepertinya iPod itu sedikit lecet di ujungnya." Sahut Yunho dengan nada ramah dan wajah sedikit menyesal, "Lain kali berhati-hatilah. Maafkan kejadian tadi, Henry-ssi. LUPAKAN saja, arrasseo?"
Henry mengangguk sambil mengacungkan ibu jarinya. "Arrasseo! Hahaha~"
Kibum kembali menarik lengan Henry dengan sedikit kasar dan mulai berjalan melewati gerbang sekolah elit itu. Kedua namja yang sudah menghilang di tikungan gerbang itu tidak menyadari kilatan putih terang di mata setajam musang milik Yunho.
"Daebak, Yunho-ah~" ucap Donghae sambil menepuk bahu Yunho pelan, disusul Yesung kemudian. Hankyung dan Siwon juga tersenyum menatap temannya itu.
"Hei, seharusnya kalian berterima kasih kepadaku, brengsek. Aku yang tahu isi pikiran Kibum dan Henry itu!" sahut Siwon sambil melonggarkan ikatan dasinya.
"Yang penting anak itu sudah lupa kejadian hari ini dan tidak menceritakan apapun tentang Poros Ordinal kepada Kibum." Ucap Hankyung sambil menatap keempat temannya yang kini mengangguk kepadanya.
"Untuk apa susah-susah menyembunyikannya dari Kibum tentang Poros Ordinal?" sebuah suara terdengar dari balik tubuh mereka, "Aku sudah tahu semuanya, Cardinal."
Yunho melebarkan matanya ketika menatap namja tinggi dengan seragam Spamcos di depannya itu. Sedangkan keempat Cardinal yang lain hanya menatap namja tinggi yang kini berjalan mendekat itu dengan tatapan datar mereka yang biasa.
'Siwon, baca pikiranku sekarang!'
Siwon mengernyit mendengar perintah Yunho di sampingnya. Yesung, Donghae, dan Hankyung juga menatap sang pemegang kekuatan Utara itu dengan bingung.
Siwon menatap mata setajam musang itu dengan terkejut saat bayangan sosok namja yang masih berdiri di depannya itu terlihat sedang menangkap tubuh Kyuhyun dan mendorong tubuh yang tak sadarkan diri itu ke tangga hingga menimbulkan suara berdebum yang mengerikan. Yunho menatapnya dengan pandangan kalut yang kentara sekali namja itu juga merasakan hal yang sama dengan Siwon. Terkejut.
"Annyeonghaseyo, Shim Changmin imnida. Suatu kehormatan bisa berjumpa dengan para Cardinal."
.
.
THE POWER OF HIGH POLAR
Chapter 7: THE GUARDS OF AXIS
Genre: Romance, Friendship, Fantasy, Supranatural, School-life
Rating: T
Main Pair: WONKYU
Other Pair: YUNJAE, HANCHUL, HAEHYUK, YEWOOK
Warning: YAOI, BOYSLOVE, OOC, TYPOS
Summary:
Kekuatan matahari ada di tangan mereka. Namun persahabatan dan cinta sejatilah yang menjadi kekuatan terbesar yang mereka miliki nantinya.
DON'T LIKE DON'T READ
BabyWonKyu proudly presents
.
.
_Wonkyu_
Drrt drrt drrt
Audi Sport R8 putih itu berhenti tepat di depan salah satu rumah mungil di kompleks perumahan itu. Sang pengemudi meraih poselnya di dashboard mobil mewahnya sambil melepas kacamata hitam yang sejak tadi bertengger menutupi matanya.
From: Yunho
Eodiga?! Kau terlambat. Kami sudah berkumpul di atap sekolah. Ingat kesepakatan kita tadi malam, Choi Siwon.
Choi Siwon menghela nafas panjang sambil menyandarkan punggungnya di jok mobilnya setelah membaca pesan singkat dari ponselnya. Namja tampan itu menggerakkan jemarinya di atas layar sentuh ponselnya dengan lincah.
To: Yunho
Aku akan sampai dalam 10 menit.
Siwon buru-buru memasukkan ponsel mahal itu ke dalam saku blazernya lalu beranjak keluar dari mobilnya dan berjalan menuju rumah bercat putih bernomor 203 itu. Namja tampan itu sempat merapikan seragamnya yang jauh dari kata kerapian itu sebelum menekan tombol di sisi pintu.
Ting tong ting tong
Ceklek
"Selamat pagi, Sungmin Hyung. Aku kesini untuk menjemput Nona Ch―maksudku Kyuhyun."
06.30 Waktu Seoul.
Lalu lalang kendaraan mulai memadati kota tersibuk di Negara gingseng itu. Angin musim gugur yang sedikit dingin kini semakin sering berhembus, mengingat saat ini sudah memasuki bulan September.
Sungmin tersenyum ramah kepada namja tinggi di depannya yang sudah 'rapi' dengan seragam sekolahnya. Namja berwajah mirip kelinci itu membuka pintu lebih lebar untuk mempersilahkan Siwon masuk ke dalam.
"Selamat pagi, Siwon-ah." ucap Sungmin ramah sambil tersenyum saat mereka berdua sudah mencapai ruang tamu. "Ehm, sepertinya Kyuhyun hari ini tidak―"
Tap tap tap
"YA! MINNIE HYUNG! MENGAPA KAU TIDAK MEMBANGUNKANKU? AKU BISA TERLAMBAT KE SEKOLAH~"
Ucapan Sungmin terhenti saat suara langkah kaki dan pekikan merdu terdengar dari arah dalam, bersamaan dengan sesosok namja manis yang kini terlihat berlari kearah dapur untuk meminum segelas susu yang tersedia di atas meja makan. Seragamnya bahkan masih sangat awut-awutan dengan blazernya yang disampirkan sembarangan di samping ranselnya. Dan surai ikal coklatnya yang lembut itu terlihat sedikit berantakan.
"AKU ADA BANYAK PRESENTASI KELOMPOK DI KELAS HARI INI, HYUNG. DAN JIKA AKU ter-lam-bat―Ya! APA YANG KAU LAKUKAN DISINI?!"
Siwon tertawa geli melihat wajah manis Kyuhyun yang terkejut saat menatapnya. Sedangkan Kyuhyun hanya melebarkan matanya dengan sorot 'What the Hell' melihat senyum menjengkelkan Siwon yang masih berdiri di depan pintu.
Sungmin juga sedikit terkejut saat melihat dongsaengnya. Namun sesaat kemudian senyum menghiasi wajahnya saat melihat dongsaeng kesayangannya itu menatapnya dan Siwon bergantian.
"Mi-mianhae, Kyunnie. K-kau tertidur terlalu lelap tadi. Hyung tidak tega membangunkanmu."
Kyuhyun merengut mendengar penjelasan Sungmin. Namja manis itu berjalan ke arah ruang tamu dengan mata memicing menatap Siwon yang masih bertahan dengan senyum menjengkelkannya.
"Selamat pagi, Nona Cho~"
"Untuk apa kau kesini lagi?!"
"Tentu saja untuk menjemputmu."
Kyuhyun memutar matanya malas mendengar kalimat Sunbae menjengkelkan yang selalu mengacaukan hari-harinya di sekolah itu. Sedangkan Siwon masih bertahan dengan senyum gelinya menatap wajah yang terlihat semakin manis saat marah itu.
"Mwo? Sungmin Hyung! Mengapa kau masih belum bersiap-siap?" ucap Kyuhyun saat menyadari penampilan Sungmin yang masih mengenakan baju santai, "Ayo antar aku ke sekolah~ Aku bisa terlambat jika naik bis, Hyung. Jebaaal~"
Sungmin tersenyum simpul mendengar Kyuhyun yang merengek manja kepadanya. Namja itu mengacak surai ikal dongsaengnya pelan.
"Siwon sudah menjemputmu, Kyu. Sebaiknya kalian segera berangkat sebelum terlambat."
Ucapan Sungmin hanya dibalas senyum kemenangan dari SIwon, sementara Kyuhyun hanya menatapnya sengit.
"Andwaeyo! Lagipula aku tidak menyuruhnya menjemputku! Aku naik bis saja!" seru Kyuhyun sambil berjalan keluar rumah dengan kaki menghentak-hentak. Namun namja manis itu menghentikan langkahnya di ambang pintu saat angin musim gugur menerpa tubuhnya yang belum sempat memakai blazernya. Dingin.
Siwon dan Sungmin hanya memperhatikan tingkah namja manis itu dengan sabar. Tak lama kemudian Kyuhyun kembali berbalik menghadap dua orang yang masih bergeming di ruang tamu.
"Ku-kurasa aku a-akan―"
Siwon tersenyum lebar sambil melangkah ke samping Kyuhyun yang masih menatapnya takut dan was-was. Wajah manis itu terlihat sedikit memerah, entah karena udara dingin atau karena sesuatu yang lain.
"Jja! Kalian berangkatlah sebelum terlambat." Ucap Sungmin sambil menjangkau dasi Kyuhyun dan sedikit merapikan simpulnya.
"Kau tidak bekerja, Minnie Hyung?"
Sungmin tersenyum lagi lalu bergerak mengecup pipi dongsaengnya. Sedangkan Kyuhyun hanya memasang wajah cemberutnya yang membuatnya semakin terlihat imut.
"Hyung akan berangkat lebih siang, Kyu. Sudah! Siwon-ah, pastikan untuk sampai di sekolah dengan selamat, arra! Dan jangan mengebut di jalan."
"Beres, Sungmin Hyung." sahut Siwon sambil tersenyum.
"Baiklah~ Aku berangkat, Bunny!" ucap Kyuhyun sambil terkekeh lalu balas mengecup pipi Hyung-nya itu lalu memeluknya sekilas.
"Akh!"
Kyuhyun melepaskan pelukannya saat mendengar rintihan Sungmin saat tangannya menghimpit lengan 'Bunny' Hyung-nya. Namja manis itu menatap khawatir dan sukses terbelalak saat melihat lengan Hyung kelincinya itu terbalut perban kecil.
"Ada apa dengan lenganmu, Hyung?!" seru Kyuhyun dengan raut khawatir sementara Siwon hanya menatap lengan Sungmin dengan sebelah alis terangkat.
"Ah~ Gwaenchanayo. Ini hanya tergores saat menjemur pakaian. Kau tidak perlu khawatir seperti itu, Cho Kyuhyun!" sahut Sungmin sambil tertawa menjengkelkan. Kyuhyun masih menatapnya khawatir. "SUDAHLAH! SIWON, CEPAT BAWA ANAK INI KE SEKOLAH SEBELUM KALIAN TERLAMBAT!"
Kyuhyun hanya pasrah saat Sungmin mendorong punggungnya keluar rumah. Siwon membungkuk sekilas kepada Sungmin sebelum menangkap lengan Kyuhyun ke dalam gemggamannya dan menggiring namja manis yang terlihat menggeliat tak nyaman itu menuju mobilnya.
"Aku mau berangkat bersamamu hanya karena cuaca yang dingin. Jangan terlalu percaya diri, Wonnie Hyung!"
"Bilang saja kalau kau merindukanku, Nona Cho~"
"Hhhh~ Percuma saja aku bicara denganmu!"
"Nona Cho, kau belum memberiku ciuman selamat pagi seperti Sungmin Hyung tadi. Kita lakukan di mobil, ya?"
"KAU MAU WAJAHMU KUTENDANG DENGAN SEPATUKU INI, CHOI SIWON?!"
Sungmin tersenyum tipis mendengar 'perdebatan' kecil di depannya. Namja itu masih sempat tersenyum lebar sambil melambaikan tangannya hingga Audi putih itu menghilang di tikungan jalan. Senyumnya lama-kelamaan memudar, bersamaan dengan tangannya yang menyentuh luka 'kecil' di tangannya.
"Kyu…" ucapnya lirih sambil sedikit meringis saat luka itu terasa sakit, "Kau harus bahagia…"
Luka itu bukan luka yang ia peroleh dari saat menjemur pakaian. Sungmin tahu, lebih baik berbohong. Daripada harus mengatakan kenyataan yang mengerikan.
_Wonkyu_
Koridor-koridor Spamcos School terlihat ramai pagi itu. siswa-siswa berlalu lalang untuk menuju kelas mereka masing-masing. Ada yang mengobrol di pinggir-pinggir koridor untuk membicarakan pelajaran, PR, kekasih, atau hal yang disukai anak muda lainnya. Ada pula yang hanya sekedar menyapa teman-temannya atau berjalan sambil terkantuk-kantuk.
Dan ada pula yang berjalan dengan umpatan-umpatan tak jelas dari mulutnya, kaki menghentak-hentak, dan berjalan cepat sambil sesekali menabrak-nabrak siswa lain yang menatapnya aneh.
Siapa lagi kalau bukan Cho Kyuhyun.
"Jika saja Sungmin Hyung tidak lupa membangunkanku, aku pasti tidak berangkat bersama namja mesum itu! Aisssshh!"
Rupanya namja manis itu masih merutuki nasibnya yang harus kembali diganggu oleh namja mesum ersinya atau yang biasa dikenal dengan nama 'Choi Siwon'. Beberapa siswa yang ditabraknya terlihat berdecak sebal, namun melihat aura gelap yang menguar dari tubuh Kyuhyun, mereka lebih memilih meneruskan jalannya.
"Choi Siwon pabbo! Pabbo! Dia adalah orang paling pabbo di muka bumi ini!"
Lagi-lagi Kyuhyun mengacak rambutnya yang sudah berantakan karena ia tidak sempat menyisirnya tadi pagi, membuat surai ikal kecoklatan itu menjadi semakin berantakan. Namja manis itu kemudian mengusap bibirnya pelan seraya menghentikan langkahnya.
Apa Siwon menciumnya lagi pagi ini?
TENTU SAJA. Namja mesum bernama Choi SIwon itu tidak pernah main-main dengan ucapannya ternyata. Buktinya, sebelum turun dari mobil tadi, Siwon sempat mendaratkan ciuman singkat di bibirnya lagi dengan dalih ada serangga di wajahnya.
Ciuman ketiganya―Ah, bukan. Ciuman keempat sepertinya. Atau kelima? Keenam?
"Siaaal!"
Kyuhyun kembali mengusap wajahnya kasar saat ia bahkan tidak bisa mengingat lagi berapa kali Siwon mencuri ciumannya.
"PAGI, KYUHYUNNIEE~"
Sebuah suara nyaring yang tinggi terdengar begitu keras dari samping Kyuhyun. Membuat namja manis itu sempat terlonjak kaget. Dan wajah teman sebangkunya yang menatapnya ceria segera hadir di depannya saat ia menolehkan kepalanya.
"Kau tidak biasanya datang terlambat seperti ini. Waeyo?" tanya Ryeowook sambil sedikit bergidik ngeri melihat wajah temannya yang mendung itu.
"Aku sedang malas berbicara, Wookie!" sahut Kyuhyun ketus sambil melanjutkan langkahnya menuju kelas istimewa-nya. "Dan aku berniat membolos pelajaran musik pagi ini."
"MWO?!" seru Ryeowook sambil menyusul Kyuhyun yang sudah berjalan beberapa langkah di depannya, "Wae~"
"Aku sedang malas―"
"Hei, kalian berdua siswa kelas istimewa itu, kan?" ucapan Kyuhyun terhenti saat dua orang siswa berdiri di depannya. "Apa benar kalian menerima tantangan Big Bang di konser musim gugur nanti?" tanya yang bertubuh gemuk.
"Be-benar―"
"Kalian yakin? Mereka itu sangat hebat di bidang ini. kalian bisa malu jika kalah dari mereka." Sela yang bertubuh tinggi dengan menggebu-gebu, membuat Ryeowook yang kata-katanya sempat terpotong menatapnya aneh. "Mereka akan menjadikan kalian pelayan jika―"
"Itu tidak akan terjadi." Sahut sebuah suara di belakang Kyuhyun dan Ryeowook yang masih bergeming dengan ocehan dua siswa di depannya. "Mereka yang akan kalah dari kami."
"Yunho Hyung."
Yunho tersenyum simpul menanggapi panggilan Kyuhyun dan Ryeowook. Namja tampan itu terlihat keren dengan blazernya yang disampirkan begitu saja di atas bahunya.
"Kami hanya memperingatkan kalian. Sebaiknya kalian mundur daripada kalian menyesal nantinya." Ucap siswa bertubuh gemuk sambil menatap Yunho takut saat namja bermata musang itu menyeringai ke arahnya.
"Itu tidak mungkin terjadi. Benarkan, Kyuhyun-ah? Ryeowook-ah?" sahut Yunho yang hanya dibalas anggukan oleh Kyuhyun dan Ryeowook. "Daripada repot-repot memperingatkan kami, lebih baik kalian berdua membantu Ahjussi-ahjussi yang sedang membersihkan lantai disana."
Kedua siswa itu sontak mengangguk dan langsung saja berjalan menuju para Cleaning Service yang sedang mengepel lantai itu. Dan benar saja, kedua siswa itu kini mulai ikut mengepel lantai bersama petugas kebersihan itu. Kyuhyun hanya melongo menatap dua siswa itu, sementara Ryeowook hanya tersenyum lebar sambil mengacungkan ibu jarinya kepada Yunho.
"Wow~ kau mereka langsung menuruti kata-katamu, Hyung." ucap Kyuhyun sambil menatap Yunho dengan mata berbinar, sementara Yunho hanya tersenyum kecil.
"Tidak ada seorangpun yang bisa menolak pesona Jung Yunho, kalian harus tahu itu." canda Yunho sambil mengedipkan sebelah matanya, membuat dua Hoobae-nya itu terkikik. "Uhm, Kyuhyun-ah. Kau melihat Siwon. Bukankah tadi kalian berangkat bersama?"
Wajah Kyuhyun seketika menjadi suram lagi saat Yunho menyebut nama Siwon. namja manis itu memasang wajah cemberutnya yang membuat Ryeowook dan Yunho tertawa kecil di depannya.
"Memangnya aku ini asistennya apa?! Mana aku tahu dia dimana, Yunho Hyung!" sahut Kyuhyun ketus sambil memalingkan wajahnya yang memerah entah karena apa.
Yunho tersenyum geli melihat tingkah adik kelasnya itu, sementara Ryeowook berusaha menahan tawanya yang sudah hampir meledak.
"Padahal aku mau menyerahkan tiket Launching Starcraft II Limited Edition ini pada Siwon." ucap Yunho sambil menegeluarkan dua lembar kertas tebal dari dalam saku celananya dengan wajah sedih yang dibuat-buat. "Sepertinya aku harus memberikannya kepada orang la―"
"ANIYO!" Seru Kyuhyun dengan wajah berbinar cerah menatap kertas kecil yang masih dipegang Yunho. "Berikan satu untukku, Yunho Hyung~ Jebal~"
Ryeowook merengut saat ,enyadari tipu muslihat yang sedang dilancarkan Yunho. Namun namja mungil itu lebih memilih mengangkat bahu tak peduli, sementara Yunho terlihat tersenyum menang.
"Baiklah~ Kuberikan satu untukmu, tapi beritahu aku dimana Siwon, arra?"
"Siwon Hyung menuju ruang BK setelah aku mengusirnya tadi."
Yunho tersenyum lalu menyerahkan dua lembar tiket itu ke tangan Kyuhyun dan Ryeowook masing-masing. Kyuhyun terlihat sangat senang, sementara Ryeowook hanya memutar matanya malas. Setelah memastikan dua Hoobae-nya itu masuk ke dalam kelas istimewanya, Yunho sudah berniat akan berbalik dan menuju ruang BK sebelum sesuatu menghentikannya. Membuat senyumnya kembali mengembang.
'Dasar penjilat.'
Yunho hanya tersenyum melihat namja cantik yang melewatinya begitu saja dengan wajah datarnya yang biasa. Namun sebelum tubuh yang lebih pendek darinya itu berjalan semakin jauh darinya, Yunho segera menangkap lengan itu lalu menariknya mendekat ke arahnya.
'Lepaskan.'
Jaejoong mencoba menyingkirkan tangan yang masih mencengkeram lengannya itu, namun tenaganya jelas kalah dari namja yang masih tersenyum santai itu. sedangkan Yunho kini mulai mengarahkan wajah yang masih berpaling itu untuk menatapnya.
'Ikut denganku. Ada yang perlu kau lihat, Jae.'
_Wonkyu_
"Ck, kau terlambat 12 menit 37 detik dari janji yang kau ucapkan sendiri, Choi Siwon."
Siwon tersenyum mengejek mendengar ucapan Hankyung yang duduk tak jauh dari tempatnya berdiri. Namja cina itu melipat buku yang sedang dibacanya lalu berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju Siwon. Lalu mengambil berkas di tangan Siwon.
"Dimana dia?"
Hankyung memberikan isyarat dengan kepalanya sambil masih membaca berkas di tangannya. Siwon berjalan menyusuri atap sekolahnya yang luas itu. Udara dingin membuat uap-uap putih keluar di depan wajahnya.
Srak
Bruk
Siwon menghentikan langkahnya saat sesuatu dijatuhkan di depan kakinya. Donghae dan Yesung muncul kemudian. Namja tampan itu tersenyum miring menatap sesuatu di depannya.
"Ternyata mereka benar-benar tidak ada di Spamcos sebelum kita masuk kesini." Ucap Hankyung kini berdiri di samping Siwon. Donghae dan Yesung mendengarkan dengan diam.
Ceklek
Semua pandangan kini mengarah ke pintu yang baru saja terbuka di belakang mereka. Yunho terlihat kemudian, bersamaan dengan Jaejoong yang muncul di belakangnya.
"Bebaskan dia." Ucap Siwon sambil menunjuk sesuatu yang menyerupai bongkahan es di depannya. Yunho bergerak mendekat sementara Jaejoong masih menatap bingung pada kelima Cardinal di depannya.
Hankyung maju menuju 'sesuatu' di depan Siwon. Namja Cina itu menatap benda di depannya itu dengan iris berkilat putih terang tepat sebelum gerakan tangannya yang membuat bongkahan es itu terbelah dan pecah berkeping-keping. Yesung kemudian melayangkan bunga api birunya ke benda itu, dan seketika es itu meleleh. Menampakkan bentuk sesosok yang meringkuk di lantai keras yang dikelilingi oleh keenam namja itu.
Siwon menyeringai melihat tubuh yang masih tidak bergerak di depannya. Yunho hanya menatapnya datar.
"Bangunlah―" ucap Yunho dengan pandangan mata yang menampilkan kilauan putih terang. Jaejoong yang masih belum mengerti dengan apa yang ada di depannya hanya memperhatikan dengan diam. "―Shim Changmin."
Deg
Tepat saat sosok yang masih meringkuk di lantai atap itu membuka mata, Jaejoong membeku di tempatnya. Satu-satunya Ordinal itu menatap tak percaya pada apa yang ada di depannya. Tubuhnya gemetar.
Siwon menyeringai saat pandangannya bertemu dengan manik hitam yang masih menatap kosong ke depan itu. Tubuh yang sejak tadi diam itu masih basah disana-sini.
"Ini akibatnya jika menyakiti Ordinal-ku." Ucap Siwon datar sambil sedikit membungkuk untuk mengarahkan wajah namja yang masih menatap kosong di depannya.
"K-kembali-kan peng-lihatan-ku."
Siwon kembali berdiri saat kalimat lirih itu mengalun dari bibir Changmin yang masih tersungkur di depannya. Keempat Cardinal yang lainnya hanya menatapnya datar.
"Kau pantas men―"
Bruk
"APA YANG KALIAN LAKUKAN?!"
Siwon bangkit dari posisi jatuhnya sesaat setelah Jaejoong mendorong tubuhnya secara tiba-tiba. Namja cantik itu bergerak menopang tubuh Changmin yang masih lemah. Yunho menatap tak percaya pada apa yang dilakukan Ordinalnya itu, begitu juga dengan Hankyung, Yesung, dan Donghae.
"Jae―"
"Kalian semua bodoh." Sahut Jaejoong dengan nada datarnya yang kini berubah menjadi lebih lirih. Yunho yang kalimatnya sempat dipotong hanya menatapnya tak mengerti.
_Wonkyu_
Park Yoochun mengedarkan pandangannya ke kelas istimewanya dengan sorot datar. Guru muda itu menghela nafas panjang sambil meletakkan tumpukan bukunya di meja guru.
"Kemana pasukan berisik itu? Setengah dari kalian menghilang."
Heechul mengangkat bahunya tak tahu sementara Kyuhyun masih asyik di dunianya sendiri sambil memainkan selembar tiket di tangannya. Senyum tak lepas dari wajah manisnya sejak menerima tiket yang sangat ia idam-idamkan itu. Hyukjae dan Ryeowook hanya saling melempar pandangan bingung.
"Kyuhyun-ah, cepat hubungi kekasihmu itu. Siwon pasti datang jika kau yang menghubunginya."
Hening.
"Saem~ Aku bukan―"
"Kami akan mencari mereka, Saem. Beri kami waktu 10 menit." Ucap Ryeowook buru-buru sebelum teman sebangkunya itu meledak marah lagi. Namja mungil itu kemudian menarik tangan Kyuhyun berdiri.
"MWO?! Kau saja yang mencari mereka! Aku tidak mau, Wookie!" sahut Kyuhyun sambil menarik tangannya dari genggaman Ryeowook.
"Baiklah. Sementara kalian mencari mereka, aku akan mengambil beberapa partitur di ruang guru." Ucap Yoochun sambil meninggalkan meja guru dan berdiri di depan kelas yang hanya berisi 4 siswa itu. "Pastikan kalian sudah lengkap saat aku kembali."
"Ck! Merepotkan saja mereka itu." keluh Heechul sambil berdiri dari kursinya dan mulai berjalan ke depan kelas sepeninggal guru musik itu. Namja cantik itu berkacak pinggang di depan kelas sambil menatap tiga temannya yang tersisa. "Baiklah! Kalian cari mereka! Aku akan menunggu di kantin."
Hyukjae, Ryeowook, dan Kyuhyun sweatdrop mendengar perintah konyol itu. Kyuhyun segera berlari ke sisi Heechul dan mulai meniru gerakan namja cantik itu sambil menatap Ryeowook dan Hyukjae yang masih bergeming di tempatnya.
"Hyukjae Hyung dan Wookie! Kalian cari mereka! Aku akan menunggu di kantin juga."
"MWO?! Itu tidak adil. Guru Park menyuruh kita semua mencari mereka." Sahut Hyukjae sambil berjalan maju.
"Begini saja!" sahut Ryeowook menengahi perdebatan tidak penting di depannya, "Aku dan Hyukjae Hyung akan mencari di area depan, Heechul Hyung dan Kyuhyun mencari di bagian belakang Spamcos."
Heechul tampak berpikir sebentar, lalu namja cantik itu menganggu dan mengajak Kyuhyun berjalan keluar kelas. Meninggalkan Ryeowook dan Hyukjae yang masih berdiri di tempat mereka.
"Menurutmu mereka kemana, Hyung?"
Hyukjae menggeleng tak yakin sambil menatap keluar jendela. Langit diluar sana terlihat berwarna putih keabu-abuan. Cahaya matahari yang biasanya menyinari pagi itu kini tidak ada.
'Entahlah, Wookie. Perasaanku tidak enak.'
_Wonkyu_
"Jae―"
"Jangan mendekat!"
Yunho berhenti dari langkahnya saat seruan Jaejoong terdengar. Namja bersorot musang itu memejamkan matanya saat rasa sakit menyerang kakinya. Jaejoong yang masih bertahan dengan posisinya yang menopang tubuh Changmin juga terlihat menahan sakit di kakinya.
"Kau menyembunyikan banyak hal, Jaejoong." ucap Siwon sambil mengibaskan debu yang sempat menempel di blazernya ketika ia terjatuh. "Katakanlah."
Jaejoong menggeleng keras saat melihat kilatan terang di iris kelam Siwon di depannya. Namja cantik itu menatap Changmin yang masih bertahan dengan pandangan kosong. Sepasang iris di depannya itu gelap, tanpa sedikitpun cahaya.
"Donghae, kumohon."
Donghae hanya menatap doe-eyes milik Jaejoong dengan tatapan iba saat namja itu memohon padanya. Namja berwajah ikan itu menatap Siwon sebentar, dan hatinya lega saat Poros-nya itu mengangguk singkat. Dan dengan sekali usapan dari tangan Donghae di hadapan wajah Changmin, seberkas cahaya terang muncul disana dan seketika membuat tatapan kosong Changmin menghilang, digantikan sorot matanya yang biasa.
"Jaejoong?"
Jaejoong melepaskan tangannya dari tubuh Changmin saat namja di depannya itu sudah dapat melihatnya. Yunho menarik Ordinal-nya itu untuk berdiri di sampingnya, saat namja yang sejak tadi tersungkur di lantai itu juga berdiri di tempatnya.
"Jae, kumohon. Beritahu kami apa yang tidak kami tahu." Ucap Yunho lembut sambil menatap mata Jaejoong dalam-dalam. "Siapa dia? Mengapa dia mencoba mencelakai Kyuhyun tempo hari?"
"Jangan memaksanya bicara jika dia memang tidak mau mengatakannya, Yunho-ssi." Sela Changmin sambil berusaha melepas seragam blazernya yang basah terkena sisa-sisa es yang sejak dua hari lalu memerangkap tubuhnya itu. "Aku yang akan mengatakannya."
Hankyung dan Yesung kembali memasang posisi siaga saat Changmin mulai menatap keenam namja yang berdiri mengelilinginya.
"Kau sudah mengintai kami sejak lama, bahkan sebelum kami masuk ke Spamcos. Kau masuk ke Spamcos beberapa minggu sebelum kami." Ucap hankyung sambil mengacungkan beberapa dokumen yang diambil Siwon dari ruang BK tadi pagi. "Kau siapa? Darimana kau tahu tentang kami? Dan mengapa kau melukai Kyuhyun?"
Changmin tertawa ringan mendengar pertanyaan Hankyung. Namja tinggi itu kemudian menatap Jaejoong yang masih terdiam di samping Yunho yang mencengkeram tangannya protektif.
"Oh, jadi namanya Kyuhyun?" sahut Changmin sambil tersenyum menatap Siwon yang kini mulai bereaksi saat nama Kyuhyun disebut. "Nama yang manis untuk seorang Poros Ordinal."
Slap
Bruk
"CHANGMIN!"
Jaejoong berseru saat tubuh Changmin melayang kemudian jatuh kembali di lantai beton yang keras, menimbulkan bunyi berdebum yang keras. Hankyung menahan tangan Siwon yang sudah akan menyerang Changmin yang kini berusaha bangun dengan susah payah.
'Yunho, katakan pada Siwon, jangan melukai Changmin! Kumohon!'
Yunho menatap mata Ordinalnya yang sudah berkaca-kaca itu dengan sendu. Namja bersorot musang itu dilemma, entah siapa yang harus diturutinya saat ini, Porosnya tau Ordinalnya?
"Jangan berbicara macam-macam tentang Kyuhyun di depanku, Brengsek!" desis Siwon sambil berusaha melepaskan diri dari cekalan Hankyung. Iris kelamnya berkilat terang mengerikan.
"Sikap posesif sang Poros Cardinal yang sangat mengesankan. Kau tidak tahu apa-apa tentang Ordinal-mu, Siwon-ssi. Kau―"
Sret
Bruk
Tepat sebelum tubuh Changmin menyentuh tanah untuk kedua kalinya, Yunho menangkapnya dan membantu namja tinggi yang sudah kepayahan itu untuk berdiri. Siwon menatap sorot musang di depannya itu dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Biarkan dia menjelaskan semuanya dulu, Siwon. Jangan gunakan kekerasan, kumohon."
Siwon tersenyum sinis mendengar kata-kata Yunho di depannya. Hankyung melepaskan cekalannya saat Siwon sudah mulai bisa menenangkan dirinya. Donghae dan Yesung bergabung di sisinya kemudian.
Tap tap tap
Jaejoong melangkahkan kakinya menuju ke samping Yunho yang masih menopang tubuh Changmin. Satu-satunya Ordinal itu menatap keempat Caedinal di depannya dengan sorot sendu.
"Changmin adalah―"
"WAAH! DAEBAK! KALIAN SEMUA BERKUMPUL DISINI! PASTI AKAN ADA PERTUNJUKAN YANG HEBAT SEBENTAR LAGI~ Aku senang sekali~"
_Wonkyu_
"Ya! Cho Kyuhyun! Bisakah kau berjalan lebih cepat? Kau seperti kura-kura! Kajja!"
"Aku lelah dan aku lapar, Heechul-ah~"
Pletak
Kyuhyun hanya mengusap kepalanya yang dijitak 'pelan' oleh Heechul. Sedangkan namja berwajah cantik itu mulai berjalan lagi menyusuri koridor lantai empat yang saat ini dilaluinya.
"Jika kau memanggilku tidak sopan lagi, aku akan menjatuhkakanmu dari lantai 4 ini, Bocah Evil!"
Kyuhyun hanya merengut mendengar ucapan namja jadia-jadian di depannya itu. sudah lima menit berlalu sejak mereka keluar dari kelas untuk mencari teman-teman mereka yang 'hilang' entah kemana. Dan sampai sekarang, mereka belum menemukan satupun diantara mereka walau sudah mengelilingi sekolah luas ini hingga mencapai lantai 4 seperti sekarang.
"Kau lapar? Aku punya coklat!"
"Wow! Daebak, Heechul Hyung!"
Heechul memutar matanya malas begitu Kyuhyun sampai di sisinya dengan secepat kilat.
"Kau ini! Jika ada maunya saja memanggilku dengan benar, Aish!" ucap Heechul sambil menyerahkan dua batang kecil coklat ke tangan Kyuhyun. Namja manis disampingnya itu menerimanya dengan mata berbinar. "Yah~ matahari tidak muncul hari ini! Padahal aku suka sekali melihat bola besar kuning itu!"
Kyuhyun menatap Heechul yang kini bersandar di jendela kaca besar di sampingnya yang memperlihatkan langit kelabu musim gugur yang dingin. Hyung berwajah cantik itu terlihat menatap sendu lembaran abu-abu luas di depannya.
"Aku tidak suka matahari, membuat kulitku iritasi dan kemerahan. Tapi aku juga tidak suka gelap." Sahut Kyuhyun sambil ikut-ikutan menatap langit kelabu di depannya.
Heechul menatap Hoobae-nya itu sambil tersenyum simpul kemudian memasukkan potongan-potongan coklat ke dalam mulutnya sendiri.
"Kau tahu, aku bisa memanipulasi cahaya matahari, Kyuhyun-ah. Mau lihat?"
"Omong kosong."
"Ya! Jangan menghinaku. Kau akan takjub melihatnya. Aku ini Lord of the Sun, kau tahu?"
"Jangan membual, Hyung. Aku tidak percaya hal semacam itu."
"Kau mau lihat tidak?!"
Kyuhyun menatap Heechul dengan tatapan tidak mengerti. Namun pada akhirnya namja manis itu mengangguk sambil memakan satu potong coklatnya.
"Tapi tidak disini. Kaca sialan ini menghalangiku." Sahut Heechul sambil mengumpat kecil kepada kaca besar di depannya. "Bagaimana kalau kita ke atap? Disana pasti bisa."
Kyuhyun tampak berpikir sebentar sambil terus memakan coklatnya.
"Arrasseo. Kajja!"
_Wonkyu_
Semua mata menatap kearah dua namja yang kini berdiri di ambang pintu yang menghubungkan tangga dan atap luas itu. Semilir angin musim gugur yang dingin mengiringi keheningan itu.
"Wah wah~ Kemana saja kau, Shim Changmin? Dua hari kau menghilang dan melalaikan tugasmu."
Changmin melepaskan tubuhnya dari Yunho lalu bergerak menuju Kibum yang kini sedikit terkejut dengan penampilannya yang berantakan. Henry berdiri di belakangnya masih dengan senyum lebarnya yang ceria.
Kibum menagkap tubuh Changmin yang hampir ambruk di depannya, dan namja berwajah dingin itu sukses melebarkan matanya saat Changmin berusaha mentransfer apa yang ada di dalam kepalanya kepadanya. Semuanya tergambar jelas.
"Hhh, aku benar-benar mengakui kekuatan para Cardinal sekarang." Ucap kibum lagi sambil menopang tubuh Changmin yang kini bersandar di bahunya. "Tapi yang kalian lakukan salah."
"Apa maksudmu?" sahut Donghae dengan pandangan bingung.
"Boleh aku saja yang menjelaskannya, Kibum-ah!" seru Henry yang kini maju ke tengah-tengah dan berdiri diantara mereka.
Kibum mengangguk, membuat senyum lebar menghiasi wajah Henry. Namja bertubuh sedikit pendek itu kemudian memejamkan matanya sebentar, dan saat mata kecilnya kembali terbuka seringaian mengerikan menghiasi wajahnya.
'Dalam setiap pasangan mata angin, dalam setiap pasangan Cardinal dan Ordinal, kami selalu ada disana.'
'Kami menuntun mereka dan menjadi penunjuk mereka.'
'Kami tidak ada jika pasangan mata angin itu rusak atau terpisah.'
'Kami menunggu dari awal mula hingga pada akhir nanti, selama ikatan High Polar tetap ada.'
'Mengawasi para Axis hingga mereka menemukan kami.'
'Hingga mereka menyelesaikan semua tugas yang dibebankan kepada mereka.'
'Kami akan ada disana.'
'Karena kami adalah Guards of Axis yang akan selalu bersama mereka, sang pemegang kekuatan matahari. Selamanya.'
"Guard?" ulang Yesung dengan pandangan bingung yang sangat kentara sekali ketika kalimat panjang dalam kepalanya itu selesai mengalun. Kelima temannya juga melakukan hal yang sama, kecuali Jaejoong yang hanya diam di tempatnya.
"Yup. Kami adalah Guard para Axis." Sahut Henry yang kini sudah menampilkan senyumnya seperti semula. "Jadi, kalian tidak boleh menyakiti kami, seperti yang telah kalian lakukan kepada si tiang listrik."
Changmin mendecih pelan saat Henry mengejek namanya, sementara Kibum masih tenang memperhatikan raut terkejut kelima Cardinal di depannya.
"Kau tidak tahu bahwa Changmin adalah Guard untukmu dan Ordinalmu, Jung Yunho?"
Yunho sontak melebarkan matanya begitu mendengar ucapan Kibum. Jaejoong disampingnya hanya menundukkan kepalanya.
"Padahal Jaejoong-ssi sudah tahu hal ini sejak lama~" tambah Henry sambil melayangkan tatapan sedih ke arah Jaejoong yang masih menolak menatapnya. "Dan aku adalah Guard untukmu Yesung-ssi. Kalau Kibum adalah Guard untuk Donghae-ssi."
Kelima pasang mata itu sempat melebar terkejut mendengar penjelasan Henry. Semua ini begitu tiba-tiba untuk mereka.
"Lalu mengapa dia mencoba mencelakai Kyuhyun?" ucap Siwon sambil menatap ketiga namja yang menyebut diri mereka Guard di depannya.
"Selain untuk memastikan sesuatu, alasan lainnya adalah karena dia adalah Poros Ordinal yang selama ini kalian sembunyikan." Sahut Changmin yang kini mulai bisa berdiri sendiri di tempatnya. "Mengapa kalian berusaha menyembunyikan keberadaanya dari kami?"
"Karena kau berkata tidak ada Poros Ordinal pada awalnya." Sahut Yunho yang sudah berhasil mengatasi rasa terkejutnya.
"Ck! Ada banyak hal yang belum kalian ketahui, Cardinal! Banyak sekali~" ucap Changmin menanggapi perkataan Yunho. "Ada alasan mengapa gelar Poros Ordinal tidak boleh digunakan lagi."
"Katakan sekarang!" seru Siwon yang mulai tidak tahan dengan semua hal gila yang baru saja ia ketahui ini.
"Cho Kyuhyun yang kalian kenal itu, dia―"
"Kalian membicarakanku?"
Deg
Semua pandangan kini mengarah ke arah pintu yang terbuka dan sesosok namja yang menatap mereka semua dengan iris coklat karamelnya yang bingung. Kibum, Changmin dan Henry menatap Kyuhyun yang masih berdiri diambang pintu itu dengan tatapan takjub yang tidak bisa diartikan.
"Dia benar-benar ada di depan kita, Kibum-ah. Dia benar-benar Cho Kyuhyun."
Kibum hanya bergeming saat suara Henry terdengar di sampingnya. Namja berwajah dingin itu bergerak menuju tempat Kyuhyun berdiri lalu meraih jemari lentik namja manis di depannya yang kini menatapnya tidak mengerti.
"Akh!"
Semua yang ada di sana mulai bergerak di tempatnya saat suara rintihan Kyuhyun mulai terdengar bersamaan dengan namja manis itu yang memegangi kepalanya. Siwon yang lebih dudlu sampai, segera melepas tangan Kibum dengan kasar dan menarik tubuh Kyuhyun ke dalam pelukannya.
"Nona Cho, gwaenchana?"
Kyuhyun hanya menggeleng cepat masih memegangi kepalanya. Siwon dapat merasakan rasa sakit itu di kepalanya juga. Namja tampan itu manatap nyalang kepada Kibum yang juga juga masih terlihat shock di tempatnya.
"K-kembali ke kelas. W-wonnie Hyung."
Siwon mengangguk saat kalimat terbata Kyuhyun terdengar. Namja manis itu terlihat memejamkan matanya sambil mencengkeram blazer Siwon di depan dadanya.
"Yah! Kyuhyun-ah! Kau lari cepat seka―"
Heechul tidak sempat melanjutkan kata-katanya saat melihat Siwon menuntun Kyuhyun menuruni tangga begitu dirinya hampir sampai di atap. Hyukjae dan Ryeowook terlihat di belakangnya kemudian.
"Apa dia sakit lagi?"
"Ya, dia sakit lagi. Sekarang kembali ke kelas." Sahut Hankyung sambil menangkap lengan Heechul yang masih terlihat bingung di tempatnya dan menariknya menuruni tangga bersama yang lain.
Hyukjae melayangkan pandangan pertanya kepada Donghae yang hanya dibalas gelengan, semetara Ryeowook hanya menundukkan wajahnya saat Yesung mengajaknya turun bersama.
"Aku bisa merasakannya. Sesuatu yang sangat mengerikan."
Henry dan Changmin yang masih bertahan di tempatnya hanya menatap sendu Kibum yang masih menatap telapak tangannya sendiri.
_Wonkyu_
Suasana sore hari di Spamcos High School tidak pernah sesepi ini. Biasanya para Siswa akan berhamburan keluar gedung sekolah dengan riangnya, namun kali ini hanya beberapa saja yang melewati halaman depan luas itu. Kebanyakan siswa masih berada di dalam gedung sekolah. Udara dingin membuat mereka enggan berjalan di halaman luas yang basanya terasa hangat itu.
"Kau sudah merasa hangat?"
"Apa kau tidak bisa melihat kalau aku hampir mati kepanasan dengan semua ini, Woonie Hyung!"
Siwon tersenyum saat melihat wajah cemberut Kyuhyun di depannya. Namja tampan itu membenarkan letak syal abu-abu tebal miliknya yang kini terpasang di leher namja manis di depannya ini. Siwon kemudian memasangkan sebuah beanie rajut berwarna sama ke kepala Kyuhyun yang hanya mendapat respon gumaman tak jelas dari Kyuhyun. Beberapa pasang mata yang memperhatikan mereka tampak tak kuasa menahan kikikannya.
"Nah, sekarang kau tidak akan kedinginan, Nona Cho~" ucap Siwon sambil menatap hasil karyanya di hadapannya dengan puas. "Kajja, kita pulang."
"Aku tidak mau pulang bersamamu."
Siwon menaikkan sebelah alisnya saat kalimat yang sedikit teredam oleh lilitan syal tebal itu terdengar pelan di telinganya.
"Aku tidak akan membiarkanmu pulang sendiri dalam keadaan sakit, Nona Cho."
"Aku tidak sakit. Tadi pagi aku hanya lemas karena belum sarapan."
Siwon mengubah senyumannya menjadi seringaian menakutkan hingga membuat Kyuhyun memundurkan tubuhnya sambil bergidik ngeri saat Siwon mencondongkan tubuhnya ke arahnya.
"Pulang bersamaku atau aku akan menciummu disini sekarang juga."
"MWO?! KAU GILA YA?!" seru Kyuhyun hingga membuat beberapa siswa yang ada di Lobby Spamcos High School itu menatapnya aneh. Siwon hanya tersenyum geli melihat wajah memerah di depannya. Namja tampan itu kemudian menaril pergelangan tangan Kyuhyun dan mulai berjalan menyusuri halaman Spamcos. Angin musim gugur yang dingin menemani perjalanan mereka.
"Sial! Kalau bukan karena angin dingin ini, aku pasti bisa pulang sendiri."
Siwon hanya tersenyum mendengar gumaman kesal Kyuhyun di sampingnya. Namja tampan itu melambai sekilas saat Yunho melintas di sampingnya bersama Jaejoong yang mengekor di belakangnya. Hankyung, Donghae dan Yesung terlihat sedang berjalan bersama tak jauh di belakangnya. Heechul, Ryeowook dan Hyukjae juga terlihat baru keluar dari gedung utama beberapa saat kemudian.
"Mereka semua sudah disini sesuai harapanmu, Tuan. Bahkan kedua Poros itu."
Seorang namja paruh baya tersenyum sekilas melihat pemandangan siswa-siswa yang melintasi halaman luas yang terlihat jelas dari jendela ruangannya saat ini. sedang namja lain yang berdiri tepat dibelakang namja paruh baya itu hanya menatap datar pemandangan di bawahnya.
"Apa yang akan anda lakukan selanjutnya?"
"Kita tunggu sampai konser musim gugur." Ucap namja paruh baya itu dengan senyuman yang mulai memudar, "Kita akhiri semuanya disana."
.
Dia menyimpan sesuatu
Sesuatu yang bahkan belum pernah terpikirkan oleh siapapun
Termasuk para Cardinal
Dia menyembunyikan satu hal
Hal yang tak terbayangkan oleh siapapun
Termasuk dirinya sendiri
Gelar itu terkutuk karena suatu alasan
Alasan yang menyebabkan kehancuran ikatan High Polar semua mata angin
Hanya dia yang sebernarnya, yang mengetahuinya
.
.
.
Annyeong, my dear Readers
Another chapter is up. Just enjoy ^^
Para Guard sudah muncul. Tinggal Guard milik Hankyung dan Guard Poros. Adakah? Tunggu saja ;)
Sabar, semua misteri akan dijawab satu-satu. Jadi ikuti saja alur ceritanya dan pasti ada jawaban yang tidak terduga disana.
Wait next Chapter ;)
Ask me more on ask . fm by username: BabyWonKyu1013
We'll share together there ^^
Saya sudah berusaha update kilat, tapi FF ini jujur lebih membutuhkan pemerasan otak yang lebih. Hehehe
Tunggu FF saya yang lain, my dear readers #kiss
Setiap review readers adalah sumber perbaikan bagi saya. Jadi jangan sungkan bila ada yang tidak berkenan. XOXO for you all ^3^
Fic ini murni BOYSLOVE/YAOI bukan GENDERSWITCH, dan main pair disini adalah WONKYU ^^
FEEL FREE TO REVIEW ^^
Wonkyu is Love,
BabyWonKyu
