previously
Tapi baru saja Hinata akan menyusul memberikan ucapan terima kasih—karena teman-temannya sudah—bertepatan dengan itu si pirang di depan sana menoleh ke belakang. Tatapannya lurus ke Ino dan Sakura yang berisik di belakangnya. Ia merilis separuh senyumannya, yang lebar namun dingin. Lalu tiba-tiba tatapan matanya mendadak lebih terbuka dan hanya terarah padanya. Sudut bibir orang itu memanjang.
Hinata tersentak.
Tampan, tapi terkesan mengerikan; ada makna di baliknya.
Sedetik berikutnya si pemuda misterius itu memalingkan wajah. Ia unjuk gigi, membagi paras ramah, dan kemudian ia berucap pelan.
"Oh, ya. Maaf terlambat memperkenalkan diri. Namaku Naruto. Uzumaki Naruto. Salam kenal."
Dan satu persatu tragedi akan bermula dari sana.
.
.
Perjalanan yang ditempuh selama kurang lebih lima belas menit akhirnya membuahkan hasil. Naruto membawa Sasuke, Sakura, Hinata, Gaara dan Ino ke sebuah penginapan kayu. Bahan dasarnya terbuat dari batang pohon ulin—terlihat kokoh, berdiri tegak di atas wilayah seluas satu hektar ini. Penginapannya tak terlalu tinggi; hanya memuat tiga tingkat. Ditatanya pun dengan gaya lama, dan tampaknya benar-benar dibangun dengan pondasi yang diambil dari berbagai sumber daya di sekitar pantai.
"Tempatnya begini? Ukh..." Ino yang baru lihat tempat yang dikelola Naruto itu mengeluh pelan. Sakura menyenggol bahunya cepat-cepat, isyarat supaya si pirang itu tak terlalu berbisik keras. Mungkin karena saat ini langit sudah gelap dan hanya ada cahaya bulan, lampu jalan yang redup, dan juga lentera, tak heran penginapan ini terlihat agak menyeramkan dari kejauhan. Tapi siapa tahu, mungkin saja saat pagi menjelang kesan pertama yang mereka berlima tangkap sekarang bisa memudar setelahnya.
"Sudah sampai, dan silahkan masuk." Naruto meletakkan lenteranya di depan rumah sekaligus mematikannya—tentu karena sudah cukup banyak penerangan di sana—dan kemudian mendorong pintu besar di depan bangunan ini agar terbuka. Kelima sahabat itu masuk dan mengamati pemandangan di dalam dengan seksama.
Perabotan yang mengisi penginapan ini nyatanya tak jauh berbeda dari dugaan awal mereka. Masih begitu sederhana dan terlihat jelas kalau propertinya dibuat oleh tangan manusia awam yang tak kenal mode. Benar-benar timpang jauh dari gambar villa milik Hyuuga di pulau Ame yang mereka lihat di internet. Tapi syukuri sajalah, paling tidak mereka bisa beristirahat di tempat yang layak.
.
.
.
NO—WAY—OUT
Naruto by Masashi Kishimoto
AU—Alternate Universe
Zoccshan & Yukeh Presents...
(Sasuke—Sakura—Gaara—Ino—Hinata—Naruto)
.
.
two of ...
-penginapan-
.
.
Sekarang, di bawah keremangan cahaya lampu ruang tengah berdaya rendah, Uzumaki Naruto mendapatkan penjelasan mengenai kronologi mereka terdampar ke pulau ini; bahwa kelima tamunya ingin mencapai pulau Ame, namun karena sebuah kecelakaan mereka malah sampai ke pulau sepi bernama Iwaraku, yang jaraknya memang tak begitu jauh dari tanjung selatan pulau Ame. Gaara menjadi pencerita utama, sedangkan yang lainnya menambahkan komentar sesekali dengan raut sedih.
"Nah, kira-kira... apa di sini ada perahu yang bisa kami sewa untuk berlayar kembali ke Ame?" Sakura bertanya penuh harap. Tujuan utama mereka adalah berlibur di pulau indah; bukan cuma menghamburkan barang berharga di tengah lautan dan berakhir tidur di penginapan berbau apak—ya, entah kenapa hawanya agak sedikit berat di sini. Apa karena tak ada ventilasi atau jendela yang terbuka?
"Tentu saja ada. Aku punya sampan. Tapi sayang bahan bakarnya sedang habis. Harus menunggu kiriman dari kurir antar yang tinggal di tengah pulau."
Baguslah—Ino mendesah kecil. "Kira-kira berapa lama sampainya?"
"Aku tidak tau pastinya—dalam beberapa hari kupikir. Tapi kalian bisa tinggal di sini sementara waktu untuk menunggu kiriman bahan bakar datang."
Mereka berlima saling berpandangan dan mengangguk pasrah. "Mau bagaimana lagi?"
"Kalian butuh berapa kamar?" Ucap Naruto sambil membenarkan posisi duduk di sofa rotannya. Sakura, Ino dan Hinata yang mengisi sofa panjang di hadapan Naruto berdiskusi sesaat. Sedangkan dua lelaki yang sengaja berdiri—karena memang tak ada tempat duduk lagi—memutuskan berpikir dalam diam.
"Lima." Sasuke menjawab pasti.
"Bagaimana kalau dua saja? Perempuan dan laki-laki tempat tidurnya dipisah?" Sakura memberi usul. "Mungkin setelah kejadian tadi siang aku tak akan sanggup tidur sendiri."
"Aku setuju." Ino menelan ludah. Apalagi kalau mengingat penginapan Naruto yang terkesan gelap dan angker ini. "Aku mau tidur bersama Hinata dan Sakura."
"Ya, terserah." Kata Gaara menimpali. "Lagi pula uang tunai kita juga terbatas." Cuma ada dompet Hinata dan dirinya saja yang tersisa—dan tak ada ATM yang berguna untuk menarik uang. "Dan juga, berapa harga sewa kamar per malamnya?"
"Untuk bayaran tak perlu kalian pikirkan. Santai dulu saja di sini. Aku sudah cukup senang ada pengunjung yang mau menginap." Pria yang memiliki tiga garis halus di masing-masing pipinya tersenyum.
Dengan perundingan singkat akhirnya mereka sepakat menyewa dua kamar yang letaknya berdekatan di lantai dua. Mereka pun memasuki kamar masing-masing.
Sesudah menutup pintu, Sakura membanting tubuhnya di atas kasur berukuran besar yang tersedia di tengah ruangan. Ino langsung menjerit karena banyak debu yang bertebaran dari kasur itu dan menarik Sakura agar tidak rebahan di sana. "Argh, Sakura!""
Sakura cuma menjulurkan lidah sekalipun ia menyesal juga membenamkan wajahnya di lautan debu itu. "Sepertinya kita harus mengganti seprainya cepat-cepat."
"Hinata, bisa kau minta ke Naruto seprai baru? Sepertinya barang-barang di sini sudah lama tak dibersihkan..."
Hinata yang baru menaruh lipatan jaket lembabnya ke lantai sebelah pintu, menoleh. Dia mengangguk ragu dan kemudian membuka jaket tadi untuk kembali memakainya.
"Eh, buat apa dipakai lagi?" Ino menarik jaket Hinata dan melemparnya ke lantai. "Kotor, tau..."
"Tapi..." Hinata memeluk kedua lengannya sendiri. Dia merasa kedinginan dan malu karena hanya ditutupi oleh kaus tanpa lengannya yang berwarna putih juga celana pendek. Berniat mengambil jaket, paling tidak menutupi tubuh bagian atasnya, tapi Ino sudah terlebih dulu mendorongnya keluar kamar.
"Nanti kau kena penyakit kulit, Hinata-chan. Dan juga tak apa kan sekali-sekali pakai baju yang agak terbuka? Dadamu bagus; busungkan dong, jangan bungkuk." Ino berkacak pinggang, Sakura terkikik.
Dengan berat hati Hinata mengangguk. Benar apa kata Ino—soal penyakit kulit. Jaketnya saja sudah seperti ditepungi oleh debu begitu. Menghela napas, Hinata keluar kamar. Awalnya dia lega tak menemukan siapa pun di koridor remang-remang di lantai dua. Tapi saat dia menemui Sasuke yang kebetulan juga keluar kamar dengan tampang sedikit emosi, Hinata malah memalingkan badan, menyembunyikan pipi merahnya dan berjalan cepat. Malu rasanya memakai pakaian tipis dan mini seperti ini.
"Kau mau ke mana?"
Hinata berhenti dan menoleh cemas. "K-Ke tempat Naruto-san... mau minta seprai."
"Aku ikut."
"Eh? Kenapa?"
Pemuda raven itu berdecak kesal sambil menyisir poninya ke samping. Kelihatannya Sasuke awalnya mengira jika kamar yang ia tempati bersama Gaara akan menyediakan dua kasur single bed, bukan satu kasur besar yang bahkan muat untuk empat orang begitu. "Aku tak ingin tidur satu ranjang dengannya."
"G-Gaara-kun ya, maksudnya?" Hinata bertanya tapi kali ini Sasuke tak begitu mengabaikannya. "Kalau begitu... aku saja yang sekalian minta kunci kamar sebelah. Sasuke-kun cukup di kamar, nanti kuantarkan. Bagaimana?"
Sasuke menggeleng. "Aku akan ke bawah juga."
"B-Buat apa?"
"Menemanimu."
"Itu tidak perlu... a-aku kan mau ke bawah, jadi... sekalian, mungkin?"
"Aku juga ingin ke bawah."
"Tapi..."
"Kau pikir aku mau berlama-lama sekamar dengan orang itu?"
Hinata diam sebentar sambil menggigit bibir bawahnya. Kalau dia punya keberanian lebih, mungkin dia akan minta titip ambilkan seprai juga ke Sasuke—agar dia bisa cepat-cepat ke kamar untuk menutupi kulit bahu, punggung dan tangannya yang tak tertutup seutas benang.
"Jadi bagaimana? Ayo turun," Sasuke mendahuluinya menuju tangga arah turun, tapi Hinata di belakangnya menggeleng. Pria oniks itu geram juga lama-lama. "Kau ini kenapa sih?"
"Karena... k-karena aku tak nyaman jika turun bersamamu..."
Raut kesal Sasuke seketika mengendur. Diam sejenak, dia berdesis nyeri. "Baiklah... terserah. Aku titip kunci kamar. "
Sasuke kembali memasuki kamarnya dengan Gaara, dan Hinata melemaskan kedua bahunya yang tegang. Kenapa dia jadi menyesal ya jika memikirkan ulang kalimat yang sempat ia keluarkan tadi? Dia tidak salah kata, kan?
Daripada berlama-lama, lebih baik ia menuruni tangga dan mencari sosok Naruto yang katanya ada di bawah—sedang menyiapkan makan malam. Untuk detik ini Hinata kebingungan. Mata amethyst-nya sudah menyapu sekeliling lantai satu tapi tak menemukan pria itu di mana-mana. Apa pun yang bisa dilihat Hinata tampak mengabur karena minimnya cahaya. Maklum saja, bangunan ini berdinding kayu—begitu saja tanpa dicat, sehingga membuat semuanya tampak lebih temaram. Lampu yang menggantung di beberapa titik pun bersorot lemah, bukan suatu pertolongan bagi Hinata untuk bisa menatap dengan teliti. Samar-samar suara rumpian Ino dan Sakura terdengar dari atas, namun entah mengapa serasa berasal dari jarak yang jauh sekali. Sepi dan sunyi; yang bisa Hinata dengar hanya sisa-sisa rintik hujan di luar sana, juga suara berderak lirih entah dari mana—mungkin beginilah suara alami semua rumah kayu tua yang ia pijak ini.
Tanpa sadar Hinata mengusap kedua telapak tangannya di kedua lengan terbukanya yang mendadak mendingin. Ingin memanggil Naruto langsung dengan berteriak—agar ia bisa segera mendapatkan seprai dan kunci, lantas langsung kembali bersama Sakura dan Ino—namun itu tak sopan, rasanya. Jadilah Hinata melanjutkan langkah dan mencoba untuk melihat ke beberapa celah dari beberapa pintu yang terbuka.
Di bagian belakang, ada pintu yang terhubung dengan dapur. Di sana kosong. Cuma ada panci besar yang tertutup. Di bagian bawah ada api yang mungkin dihasilkan dari pembakaran batu bara. Hinata tak tau apa isinya dan tak berniat membukanya, karena itu ia beralih ke tempat lain. Kayaknya tidak jauh dari dapur dan ruang tengah, ia menemukan sebuah kamar yang tak terlalu ditutup rapat. Kemungkinan besar sih kamar Naruto. Tapi kenapa bagian dalam ruangannya seperti tak ada cahaya penerangan sama sekali—gelap begitu?
Dengan penuh rasa heran Hinata mencoba mendorong pintu kayu tersebut dengan kelima jarinya. Tapi ketika pintu nyaris terbuka dan cahaya dari luar memasuki kamar—
Ada tangan tan dari balik tubuhnya yang menarik kenop pintu. Begitu cepat dan kencang, hingga papan kayu itu kembali tertutup secara sempurna lagi. Suara tutupan pintu yang keras membuat Hinata terkejut dan memutar badan. Ada sosok Uzumaki Naruto di hadapannya. Pria itu tersenyum dalam diam. Tatapan yang cukup sayu menatapnya dalam.
Hinata yang syok lantas gentar dan berniat bergerak menyamping agar posisi mereka yang berhadapan tak lagi terlalu dekat. "M-Ma-Maaf... k-kupikir k-kau ada di sana, j-jadi—"
"Tak apa." Tangan Naruto menekan pundaknya, menghentikan pergerakannya dan membuat punggung Hinata menghimpit papan pintu. Lembut tapi seolah memaksa agar Hinata tak ke mana-mana dulu. Dan tidak tau kenapa, tangan Naruto yang ada di bahunya agak melorot, seolah-olah lagi membelai kulit putih Hinata dari atas ke bawah. Dan pria itu tak cuma melakukannya sekali, melainkan berkali-kali. Hinata merinding luar biasa, agak membatu juga. Lalu pemuda pirang itu tersenyum. "Asal tak kau ulangi lagi."
Hinata tak tahu dan Hinata tak paham. Yang jelas kakinya bergetar lemas dan jantungnya berdegup kencang tanpa henti. Wajah ramah Naruto di depannya pun tak menolong keadaan. Jadi ia cuma bisa meringis dan menunduk, hingga Naruto memundurkan langkah dengan sendirinya.
"Aku bukan orang yang rapi—di dalam sana berantakan dan kotor, hendak kubersihkan besok," Naruto menunjuk ke arah pintu yang tertutup dengan dagunya. "Nah, tadi kau mencariku, kan? Ada apa?"
Hinata menelan ludah, masih berusaha mengarahkan perhatiannya pada lantai. "Se-Seprai... dan kunci kamar baru."
"Jadi tiga kamar, ya?" Naruto menimbang-nimbang sesaat dan kemudian beralih ke papan gantungan kunci kamar yang ada di samping dinding pintu masuk. Ia ambil sebuah kunci berkarat dari sana dan mengambil beberapa kain bersih dari lemari yang terletak tak jauh dari tempat mereka berdiri. "Ini semua yang kau butuhkan. Oh, ya. Aku juga memberikan kalian handuk dan baju mandi. Kebetulan di sini aku punya banyak. Siapa tahu kalian membutuhkan pakaian sementara." Ia serahkan semua itu ke Hinata yang kelihatan agak keberatan membawanya—dia jadi menyesal menolak permintaan Sasuke untuk membantunya, karena saat ditawari bantuan oleh Naruto, jelas Hinata juga langsung menolak.
Sesampainya di lantai dua dengan susah payah. Hinata terlebih dulu ke kamar para perempuan untuk menaruh seprai baru dan segala macam barang yang diberikan oleh Naruto kepada mereka. Tapi tahu-tahu saat membuka pintu, yang ia temui adalah Sakura dan Ino yang sudah menatapnya dengan tatapan panik dan terkejut.
Hinata meletakkan barangnya di atas meja dan kemudian menelan ludah. "Ada apa?"
"A-Ada... bercak." Sakura menunjuk ke arah kasur mereka yang seprainya sudah ditarik setengah. Hinata ikut memperhatikan dan juga terperangah menatapnya.
Ternyata di balik seprai mereka, ada kasur kusam dengan corak warna merah kecokelatan dan kuning yang cukup luas. Yang merah kecokelatan begitu mencolok di bagian tengah, dengan beberapa tetes-tetes kecil di sekitarnya yang menuju ke tepi, sedangkan bercak yang kuning membentuk bulatan-bulatan besar tak beraturan di kasur, menjadi gradasi tersendiri.
Kalau yang kuning, itu bisa jadi bekas keringat.
Tapi kalau yang merah kecokelatan... itu apa?
.
.
no-way-out—yu-keh
.
.
Hujan kembali turun saat tengah malam. Menghujani atap tanpa henti dengan ribuan tusukan air dingin dari atas langit. Gemuruh awan terdengar kasar dan petir pun tak segan lagi menyambar ke mana-mana.
Dan di malam ini, entah sudah hitungan keberapa, gelegar petir kembali tercipta sampai kali ini Haruno Sakura pun bangun dari tidurnya. Gadis itu meringis pelan saat ia saksikan kedua temannya, yang telah memakai baju handuk dan bergulung selimut, masih tidur lelap di sebelah kanan dan kirinya. Ia yang saat itu berposisi di tengah kasur menelan ludah. Dia pandangi jendela kamar tanpa gorden yang memberikannya pemandangan ekstrim—menampilkan daun dan rerantingan pohon yang terombang-ambing oleh tamparan hujan dan angin, mengetuk-ngetuk kasar permukaan jendela, dan kadang diselingi oleh kilauan sedetik dari cahaya putih di luar sana.
Menakutkan.
"Ino, bangun dong..." Dia menggoyang-goyangkan tubuh si pirang, tapi nihil, menyahut pun tak Ino lakukan. Karena Hinata juga sama, tidak bisa bangun, akhirnya Sakura menghembuskan napas keras-keras lewat hidung dan memasang wajah merengut.
Rasanya tidak enak sekali kalau terbangun di tengah malam seperti ini. Suhu dingin yang tersedia sama sekali tak membantu, malah membuat Sakura tak bisa tidur nyenyak seperti biasa. Energinya seolah full sekalipun matanya masih meminta untuk kembali ditutup. Jadilah Sakura bangkit dari tempat tidur. Dia berjalan menyeret ke luar kamar dan memperhatikan keadaan sekitar yang cukup gelap. Inginnya ke bawah untuk mengambil air minum—mungkin di dapur ada persediaan. Tapi ketika ia baru meletakkan kaki di salah satu anak tangga, ada bebauan yang cukup mencolok di indra penciumannya. Begitu menusuk sampai keubun-ubun.
Bau busuk apa ini?
Sakura mual seketika. Terlebih lagi saat terbayang ulang pemandangan mengerikan di balik seprai yang sempat ia dan kedua sahabat perempuannya tiduri—banyak bercak aneh. Gaara dan Sasuke yang menelitinya sempat berkata kalau itu cuma kotoran sederhana. Tumpahan kopi atau mungkin kuah makanan, misalnya. Tapi Sakura tak mau percaya semudah itu—sekalipun mereka berlima setuju tak perlu membicarakan hal tersebut ke Naruto; takut pria itu tersinggung karena keluhan tak berarti mereka.
Tapi tunggu. Dibanding memikirkan hal tersebut, bau yang tadi ia cium semakin pekat dan menusuk. Sakura sampai menutup setengah wajahnya dengan kedua tangan.
Kenapa tiba-tiba bau bangkai? Apa bau itu berasal dari lantai satu? Ada apa di sana?
Sakura berniat memeriksa, tapi tiba-tiba saja tubuhnya luar biasa tersentak saat ia mengingat hal yang pernah ia dapati dari tontonannya di televisi. Bukannya ada yang pernah mengatakan bahwa bau bangkai adalah petanda kalau makhluk gaib ada yang sedang berdekatan dengannya?
Luar biasa merinding, Sakura urung ke bawah dan memilih memasuki kamar orang yang ada di dekat tangga. Awalnya dia nyaris memekik kencang karena sadar kalau ruangan yang ia masuki itu bukanlah kamar ia, Ino dan Hinata—dia salah kamar. Tapi karena tau bahwa orang yang sedang menempati tempat tidur besar itu adalah Uchiha Sasuke, Sakura langsung mendesah lega dan berjalan mendekat.
Dia mencoba menaiki kasur tanpa izin dan menyelinapkan tubuhnya di balik selimut Sasuke tanpa pikir panjang. Dia peluk tubuh pria itu erat-erat dan kemudian membenamkan wajah di dadanya. Namun hanya beberapa detik saja sebelum tidur, pelukan Sakura terlepas oleh kedua tangan Sasuke yang baru terbangun.
"Sakura?" onyx-nya menatap terkejut dan heran. "Apa yang kau lakukan? Kenapa di sini?"
"A-Aku..." suara Sakura terbata oleh rasa malu juga rasa takut yang masih terasa. Kedua pipinya memerah sangat, ketika menyadari bahwa ia baru saja memasuki kamar laki-laki dan langsung memeluk tubuhnya. "Di luar—aku mencium bau bangkai," akunya pelan.
Sasuke bergeming, masih tak melepaskan pandangan dari dua iris emerald yang menatapnya dengan rasa takut—namun sepertinya tak ada candaan di sana.
"Mungkin itu bau binatang yang mati membusuk," Sasuke meringsut menjauh, lantas terduduk di tepi ranjang. "Di sekitar rumah ini adalah hutan. Bisa saja bau bangkai bintang terbawa kemari oleh angin."
Untuk sejenak, Sakura terdiam. Mendengar penjelasan Sasuke, debar di jantungnya bisa perlahan kembali normal. Tidak mustahil juga, kan? Lumayan masuk akal. Namun tetap ada hal yang mengganjal di hatinya—entahlah kenapa.
"Kenapa kau keluar dari kamarmu?"
"Eh?" Sakura menatap Sasuke yang meliriknya dengan tatapan datar yang menjadi ciri khasnya. "A-Aku ingin mengambil air minum. Tapi kemudian bau itu tercium, dan aku…" suara Sakura semakin memelan dan tidak terdengar. Tiba-tiba ia sangat merasa malu karena telah bertindak konyol dan kekanakan. Apalagi di depan Sasuke—orang pertama yang paling tak ingin Sakura perlihatkan perilaku konyolnya.
Sasuke mengambil gelas yang tertaruh di meja kecil samping tempat tidurnya, lantas mengulurkannya ke Sakura. "Sebelum mandi aku sempat ambil minum dari dapur untuk persediaan. Ambil saja."
Dengan kikuk, Sakura menerimanya. "Terima kasih, Sasuke."
"Hn. Bawa saja ke kamarmu. Apa perlu kuantar?"
Sakura menggeleng, meski hanya karena satu pertanyaan simpel demikian, debaran jantungnya kembali berakselerasi, meski bukan karena takut. "Tidak usah."
"Baiklah."
Sekali lagi mengucapkan terima kasih dan selamat malam, Sakura beranjak dari ranjang, untuk kemudian melangkah dan keluar dari kamar tersebut. Di luar kamar Sasuke, gadis itu menghela napas dan mencoba menetralkan debaran jantungnya, dan ia genggam gelas berisi air putih itu dengan kedua tangannya.
Bau bangkai yang anyir masih tercium, namun ia bisa mengabaikannya.
.
.
no-way-out—zo-cc-shan
.
.
Sejak terbangun di pagi yang masih belia, Gaara sudah berpikir bahwa mereka tidak bisa berlama-lama menginap di penginapan Naruto. Selain pastinya merepotkan pemilik rumah, pastinya keluarga atau teman-teman mereka khawatir karena mereka tidak bisa dihubungi dengan apa pun. Naruto memang bilang bahwa pemasok bahan bakar untuk sampannya baru akan datang beberapa hari lagi, namun tak ada salahnya Gaara berusaha mencari pertolongan dari penduduk sekitar sini juga, kan?
Keluar dari kamar, ia berpapasan dengan Ino di lorong. Gadis tampak segar dengan tetes-tetes air yang membasahi wajahnya dan sebagian tubuhnya yang tidak tertutupi kaus longgar dan celana pendek. Gaara menebak pasti baju-baju itu dipinjamkan Naruto.
"Hei, Gaara," sapa Ino. "Naruto sedang memasak di dapur, dan dia bilang kita bersiap saja untuk sarapan bersama."
"Oke. Aku ingin mandi dulu."
Ino tampak mengusap-usap kedua pergelangan tangannya. "Keran tidak terlalu banyak mengalirkan air—aku merasa belum bersih sekalipun sudah mandi dan memakai sabun. Ya Tuhan, aku ingin segera pulang."
Gaara masih menatap Ino, untuk kemudian pemuda itu beranjak mendekat dan menyapukan jempol kanannya ke sisi leher Ino.
Sang gadis terkesiap dan menatap terkejut.
Gaara memundurkan diri, lantas mengangkat telapak tangannya dan memandang datar ke arah gadis di depannya. Ada segumpal kecil busa berwarna putih di jempol Gaara. "Sabun. Kau tidak benar-benar membersihkan dirimu."
Menghela napas yang tanpa sadar ia tahan, Ino tertawa kecil lantas mengusap lehernya sendiri. "Kupikir kau ingin menggodaku," ia menyikut Gaara yang seketika melengkungkan bibir ke bawah—ekspresi terganggu. "Mentang-mentang di sini tidak ada Sai."
Gaara mendengus, lantas mengalihkan pandang dan berjalan meninggalkan Ino.
"Ah ya! Naruto juga bilang sebelum mandi kau minta saja baju ke dia—kemarin dia hanya memberi pakaian pinjaman ke aku, Sakura, dan Hinata," ucap Ino menatap pada punggung pemuda berhelai merah yang masih melangkah dan tak menoleh.
Menghela napas, Ino melanjutkan langkah menuju kamar.
Mandi saja tidak nyaman sekali. Ia ingin segera keluar dari penginapan ini—ah, bukan; pulau ini.
.
.
no-way-out—yu-keh
.
.
Sarapan berjalan dengan lancar dan tenang. Obrolan didominasi oleh Naruto, Sakura, dan Ino, dengan ketiga remaja yang lain sesekali menimpali. Naruto ternyata berumur tiga puluh dua tahun—berbeda sepuluh tahun dari mereka semua. Merupakan pribadi yang baik dan ramah. Terbukti jelas dari dia yang begitu welcome pada lima orang asing yang baru saja dia tampung kemarin sore. Pemuda itu juga tampaknya ceria—senantiasa tertawa dan melontarkan candaan yang membuat Ino terkikik atau Sakura yang tersenyum kecil.
Namun Hinata belum berani untuk mengarahkan pandangannya ke pemuda berhelai pirang itu. Bayangan malam sebelumnya senantiasa terlintas, dan entah mengapa masih membuatnya merinding tanpa sadar. Cara Naruto menatapnya, tersenyum, atau bahkan telapak tangan yang membelai bahunya. Mungkin Hinata hanya terlalu malu karena kemarin adalah untuk pertama kalinya ia berada sedemikian dekat dengan lawan jenisnya, ditambah juga untuk pertama kalinya tangan kaum adam menyentuhnya dengan cara demikian.
Aku sangat berlebihan—pikir gadis itu, menghela napas, lantas menyendok makanan yang berada di mangkuknya.
Sup miso dengan campuran daging yang teriris kecil dan kotak. Tidak buruk untuk mengawali hari, rasanya. Hinata mengarahkan satu sendok sup ke mulut, lantas mengunyahnya. Terkejut dalam hati ketika merasakan kenikmatan yang memanjakan indera pengecapnya. Kaldu yang kental, mi yang empuk, dan daging yang kenyal dan berasa.
Meski tinggal sendiri, sepertinya Naruto cukup mandiri dan bisa memasak dengan baik.
"Apa kau suka, Hinata?"
Hinata hampir menjatuhkan sendoknya ketika suara itu terdengar—namun buru-buru ia menguasai diri. Ia menoleh, dan mendapati Naruto yang berhenti berbicara dengan keempat temannya, kini menatapnya dan tersenyum. Saat pertama kali memasuki rumah ini, mereka berenam memang sudah tukar-tukaran nama, wajar jika Naruto tau namanya.
Tapi... tidak tau kenapa pertanyaan Naruto tadi seperti ada yang janggal.
Membalas senyum pemuda itu, Hinata mengangguk kecil. "Enak, Naruto-san. Kau pintar memasak, terima kasih."
Wajah Naruto tampak lebih ceria oleh senyum lebarnya. "Begitu? Syukurlah. Di pulau kecil ini termasuk susah mendapatkan bahan makanan—tapi untung aku masih punya persediaan yang baru kudapat sebelum kalian kemari."
Hinata mengangguk, dan kembali menunduk menyuapkan satu sendok supnya. Ia suka dengan dagingnya—sepertinya direbus lama hingga seluruh kuahnya meresap sempurna. Hinata melanjutkan makan dengan diam, sembari sesekali memerhatikan obrolan yang dilontarkan teman-temannya, dan sesekali mengomentari. Hingga obrolan berhenti ketika Gaara tiba-tiba berdiri dari kursinya.
"Aku mau keluar sebentar," ucapnya, lantas tanpa menunggu respon yang lain, segera ia berbalik dan melangkah.
"Mau ke mana, Gaara?" tanya Sakura, namun tidak mendapat respons. "Ada apa?"
Ino menyikut pinggang Sakura dan memberi senyum penuh arti. "Apa kau tidak mau cari tau sendiri? Sekalian jalan-jalan dengan dia."
"Ish, Ino hentikan," matanya tanpa sadar melirik ragu ke arah Sasuke, namun pemuda itu hanya diam dan tetap menikmati sarapannya yang masih tersisa. Hela napas kecewa pada akhirnya yang terhembus dari hidung Sakura.
"Mungkin Gaara-kun hanya ingin melihat-lihat sekeliling..." ucap Hinata menyampaikan pendapat.
"Apa tak apa?" tanya Ino ragu, menatap ke arah pintu depan yang baru saja dilewati Gaara. "Dia belum terlalu mengenal daerah ini."
"Mungkin sebaiknya kau susul dia, Hinata," usul Sakura. "Pasti lebih baik jika tidak sendiri di tempat asing."
"E-Eh?"
"Tidak perlu," ucap Sasuke datar, meminum air putih di gelas miliknya. "Dia bukan balita."
"Apa kau yakin, Sasuke?" tanya Naruto, menatap Sasuke. "Bagaimana jika dia tersesat? Aku bisa saja menemaninya tetapi ada yang harus kulakukan. Jadi mungkin benar, Hinata saja yang menyusul."
Hinata sudah berdiri dari duduknya dan benar-benar hendak menyusul Gaara, sebelum ia kembali terduduk secara paksa ketika tangannya ditarik sedikit keras.
"Tidak perlu," ucap Sasuke, memandang datar ke arahnya sembari melepas pegangannya di pergelangan tangan Hinata. "Dia bisa menjaga dirinya sendiri."
"Bagaimanapun ini daerah asing," desak Ino. "Bagaimana jika terjadi apa-apa dengannya?"
Tampak kesal dan penat, akhirnya Sasuke berdecak lelah. "Baiklah aku yang akan menyusulnya, jika itu bisa membuat kalian tenang."
"S-Sasuke-kun biar aku saja—"
"Kau di sini saja, Hinata," ucap Sasuke, dengan nada yang mengindikasikan bahwa ia tidak ingin berdebat lagi. "Aku akan menjaga rambut merah itu. Lagipula hal buruk apa yang bisa terjadi di pagi hari cerah seperti ini?"
Hinata hanya memandang Sasuke dan tidak membalas. Namun jika dipikir-pikir, Sasuke memang benar. Meski pulau ini adalah dikelilingi oleh hutan dan semak di mana-mana, mereka akan aman. Hal buruk seperti apa yang mungkin bisa terjadi? Hewan buas? Memikirkannya saja terasa berlebihan dan konyol.
.
.
no-way-out—zo-cc-shan
.
.
Sisa-sisa hujan hari sebelumnya terlihat jelas di tanah yang becek dan pepohonan yang basah, sesekali meneteskan air dari ujung dedaunannya. Bau tanah tersentuh hujan sangat terasa menguar di udara. Hujan memang telah berhenti, dan kini pagi tampak cerah dan terang oleh sinar matahari yang terpancar di langit tanpa awan setitik pun. Begitu khas musim panas—entah mengapa hari sebelumnya cuaca bisa demikian ekstrim.
Melintasi hutan lebat yang berada di sekitar rumah Naruto, pada akhirnya Gaara menjejakkan kaki di wilayah pesisir. Ia menoleh ke belakang, menatap hutan lebat yang ada di belakangnya. Rumah Naruto tak tampak, tertutupi oleh pohon-pohon tua dan rimbun yang ada. Heran juga, bagaimana pemuda itu bisa tahan hidup sendiri demikian? Seingat Gaara, belum satupun rumah lain yang ia lihat di pulau ini, begitu pula dengan manusia yang menghuninya.
Mengalihkan pandang, Gaara menatap ke sekitar. Di sinilah kemarin ia dan yang lain terdampar. Iris jade-nya memandang ke lautan yang berkelip tertimpa sinar mentari. Lautan yang tampak tenang dengan ombak-ombak kecil—sangat kontras dengan apa yang terjadi di hari sebelumnya. Batas horizon tampak di sana, dan tidak ada pulau lain, atau perahu lain, yang terlihat olehnya dan bisa ia mintai tolong.
Mustahil kalau tak ada rumah penduduk lain, kan? Pasti ada walaupun ia tak tau dimana tempatnya. Karena pemikiran tersebut pemuda itu memutuskan untuk melangkah menyusuri pesisir. Udara terasa sejuk, angin berhembus lirih menggerakkan helai-helai merah di sekitar kepala dan wajahnya. Meski memakai sandal, kakinya masih menginjak tanah pesisir berkerikil putih yang becek dan melekatkan pasir-pasir halus di telapak kakinya. Pantai yang indah, pulau yang tenang.
Terlalu tenang hingga Gaara merasa seakan hanya ia yang hidup di sana.
Entah sudah berapa lama ia melangkah menyusuri pesisir, hingga pandangannya mengarah ke suatu koordinat di depan sana. Seorang laki-laki tampak berjalan pelan keluar dari arah hutan, dengan punggungnya yang memikul potongan-potongan kayu. Segera saja Gaara mempercepat langkah, bahkan berlari, sembari berteriak. "Tunggu."
Objek panggilannya berhenti melangkah dan berbalik. Rupanya seorang laki-laki berusia sekitar lebih dari separuh abad. Ia menatap Gaara dengan tatapan heran, menanti pemuda itu untuk berhenti berlari dan sampai di depannya.
"Maaf mengganggu," Gaara mengangguk sejenak sebagai salam hormat. Gaara ingin langsung bertanya to the point. Mungkin bapak itu tau penduduk lain yang menyediakan jasa sewa perahu untuk menyeberang ke pulau Ame. Kalau tempat ini adalah wilayah kepulauan, aturannya pasti ada banyak nelayan atau sampan lain yang bisa ditumpangi, kan?
Tapi kalimat itu batal keluar karena sejenak lelaki itu hanya mengamati Gaara lekat-lekat. Tatapan heran tak luntur dari ekspresi di wajahnya yang telah renta. "Aku tak pernah melihatmu sebelumnya, Nak."
Sekali lagi Gaara mengangguk. "Saya, dan teman-teman saya, terhempas ke pulau ini karena badai kemarin. Sebenarnya kami ingin menuju pulau Ame, namun kendaraan dan barang-barang kami tersapu ombak badai."
"Ah," lelaki tua itu mengangguk-angguk. "Badai kemarin memang sangat menakutkan. Aku terpaksa libur mencari kayu," kembali ia mengarahkan pandangannya ke Gaara. "Lantas di mana kalian menginap?"
Gaara menunjuk ke arah belakang secara acak. "Seorang warga pulau ini berbaik hati memberi kami tumpangan untuk beberapa hari. Namun kami tidak ingin merepotkan dan lebih baik segera ke pulau Ame."
Laki-laki tua itu menatap ke arah yang ditunjuk Gaara. Ekspresinya tampak bingung. "Aku tidak ingat di daerah sekitar sana ada rumah penduduk," gumamnya, tampak mengingat-ingat. "Ah, apa aku saja yang sudah pikun?"
Gaara tersenyum kecil. "Orang yang menolong kami tinggal di pondok tengah hutan. Namanya Uzumaki Naruto."
Seketika lelaki tua itu kembali menatap ke Gaara. Tatapan heran tadi kini berbalur dengan ragu dan tidak percaya. "Maaf, apa kau bilang?"
"Uzumaki," ulang Gaara. "Kami tinggal di pondoknya. Tapi kami ingin segera pergi, jadi bisakah Anda memberitahu—"
"Ya… ya..." laki-laki itu menggumam, kedua irisnya yang hitam di lindungan kelopak mata yang keriput, tampak sedikit membesar. Ia menggeleng-geleng pelan dan berjalan mundur. "Sebaiknya begitu, Nak. Sebaiknya kalian segera pergi dari sana."
Gaara mengernyit. Mengapa Bapak tersebut tiba-tiba bersikap demikian? Beliau tampak bergetar, langkah mundurnya tertatih, dan ia menatap Gaara dengan tatapan seakan-akan Gaara adalah hantu yang muncul di pagi hari yang cerah dan terang.
"Pak—"
"Tak ada yang mendekatinya," bapak tersebut kembali bergumam, tampak terdengar seperti meracau dalam tidur, meski matanya terbuka lebar. "Tak ada satu pun yang berani mendekatinya."
Semakin heran Gaara merasa, dan semakin tidak mengerti apa yang harus ia ucap atau lakukan. "Tolong jelaskan—"
"Dia berbahaya," cetus lelaki tua itu dengan raut pucat. "Kalian harus segera pergi dari sana. Harus!"
Dan tanpa berucap apa pun lagi, tanpa menunggu Gaara menyelesaikan ucapan dan permintaan tolongnya, lelaki itu berbalik dan segera berlari. Sesekali tampak oleng karena beban kayu yang ia pikul di punggung. Dan Gaara hanya berdiri, terdiam, dan menatap.
Mengapa bapak itu bereaksi demikian?
Mengapa ia lari terbirit-birit seakan-akan ada sesuatu menakutkan yang mengancamnya?
Dan apa maksud semua ucapannya?
"Berbahaya…?" tanpa sadar Gaara bergumam, meski demikian ia tetap tidak mampu menangkap maksud ucapan orang tadi.
Pundak Gaara dipegang dari belakang, dan hampir ia terlonjak karena terkejut jika tidak bisa segera menguasai diri. Ia menoleh, dan melihat Sasuke berdiri di belakangnya. Segera dia tepis tangan Sasuke dari pundaknya.
"Apa yang kau lakukan di sini? Semua mengkhawatirkanmu," ucap Sasuke, menatap Gaara dengan ekspresi kesal yang ditunjukkan samar oleh wajahnya.
Bagaimana mungkin ia seakan harus menjadi pengasuh pemuda itu? Mencari-cari pemuda itu dan berjalan hingga sejauh ini dari pondok?
"Mencari pertolongan," jawab Gaara singkat, lantas berbalik dan kembali melangkah menuju arah pulang.
"Siapa yang kau minta tolong di sini? Terumbu karang?"
"Diamlah."
Sasuke mendengus. Walau keduanya adalah teman, namun tetap saja ia dan Gaara sering kali berselisih atau saling melempar sarkasme terhadap satu sama lain.
"Aku tak bisa diam saja dan menunggu sampan Naruto terisi bahan bakar," jawab Gaara menjelaskan ketika mereka berjalan menuju pondok. "Bagaimanapun kita harus pergi dari sini."
"Ya, tapi ini pulau asing, dan kau baru saja keluyuran sendiri dan membuat cewek-cewek itu kelabakan."
Gaara diam sebentar. "Siapa yang menyuruhmu mengikutiku?"
"Ino dan Naruto—terutama."
Gaara tak merespons. Dia berdecih dalam hati. Mana mungkin Sakura memedulikannya, kan? Ada Sasuke di sini.
Dan sesudahnya, perjalanan kembali menuju pondok dihabiskan keduanya dengan keheningan. Tak banyak bahan obrolan, jika pun ada pasti obrolan itu segera mati jika yang mengucapkannya adalah dua pemuda irit kata seperti mereka.
Menatap ke arah hutan yang akan ia lalui dan akan menampakkan pondok Naruto, Gaara tak bisa mengalihkan pikirannya dari apa yang baru saja dia dengar dari orang tua asing yang baru ia temui.
.
.
see you
.
.
our notes
(Z) Terima kasih ya buat reviewers dan readers yang masih mau nungguin fict ini. Thanks juga buat konkritnya, sangat membantu hehe. Semoga masih mau menunggu chap depan yang akan datang :D
(Y) Notes dariku, ini fanfic crime, dan kami ga pilih kasih ama chara. Jadi brace yourself terhadap chara death di sini ;)
.
.
thanks to
Rasha Boudellaire, Bayangan semu, Anezt, kyucel, Cahya Uchiha, Chacha Rokugatsu, leh uga, yooo. vvv, Beefly Maru Rui, L lawliet22, Jason Voorhees, aalmira, azmirhmadisha, MegumiTwister, undhott.
.
.
warm regards,
Zoccshan & Yukeh
