Suasana disana hening. Tidak ada deru angin musim gugur yang biasanya berhembus kencang dan dingin. Tidak ada kicau burung yang biasanya terdengar dari arah taman satu lantai di bawah ruangan itu. Bahkan, tidak ada suara detak jarum jam. Karena waktu masih tidak bergerak saat itu.

Bahkan suara nafas disana seakan tertahan.

"Baiklah." Ucap seseorang yang kini berdiri di depan beberapa siswa yang terduduk manis di kelas itu. "Aku tidak tahu harus memulai dari mana."

Park Yoochun menatap ketiga belas murid di depannya. Pandangannya mengisyratkan suatu kekalutan dan kebingungan yang kentara.

"Saem, kami bisa menjelaskannya."

Yoochun menatap salah satu muridnya yang kini mengangkat tangannya itu. Lalu guru muda itu kembali menundukkan wajahnya sambil menghela nafas. Namun sekejab kemudian, namja itu kembali bergerak menatap murid-muridnya.

"Oke! Jelaskan padaku semuanya!" ucap Yoochun lagi menanggapi perkataan Minho di depannya. "Apa kalian sebenarnya? Apa yang terjadi dengan Kyuhyun disana tadi? Benda apa yang tadi bercahaya itu? Dan―dan―Aish! Seharusnya aku mengambil liburan!"

Ketiga belas siswa itu hanya menatap sang guru yang kini mulai mondar-mandir tidak jelas di tempatnya. Mereka mengerti, Yoochun pasti terkejut menyaksikan semua yang terjadi di dalam Laboratorium .

"Apa kalian seorang dewa? Atau manusia super hasil rekayasa para ilmuwan gila Korea Utara? Oh! Aku sudah menduga―"

"Ck! Diamlah dan dengarkan saja jika mau tahu penjelasan kami, Saem!" ucap sebuah suara yang seketika membuat Yoochun yang sejak tadi mondar-mandir di tempatnya, kini terdiam menatap mata musang yang berkilat terang itu.

Hankyung, Donghae dan Yesung masih terdiam di tempat mereka. Ordinal mereka juga melakukan hal yang sama. Para Guards, mereka juga masih tidak berkata apa-apa. Kejadian di Laboratorium itu membuat mereka semua masih diambang perasaan shock.

Terlebih saat melihat mata merah mengerikan itu.

Seakan semuanya terulang.

"Kami adalah para Axis. Seperti yang kau lihat, kami dianugerahi kekuatan istimewa, kekuatan Matahari. Dan ini semua menggelikan!" ucap Yesung pada akhirnya sambil menumpukan tangannya di meja.

Yoochun masih terdiam di tempatnya.

"Dan jangan menatap kami seolah kami adalah pengendali elemen seperti di serial animasi Avatar the Legend of Aang!" tambah Heechul sambil menampakkan wajahnya yang galak saat Yoochun menatapnya dengan tatapan takjub dan aneh. "Kami juga manusia biasa, Sonsaengnim!"

"K-kalian―La-lalu mengapa benda itu dan semuanya―"

"Itu adalah sumber kekuatan mereka, Park Sonsaengnim." Kali ini Kibum yang berbicara. Namja itu berdiri dari bangkunya lalu berjalan menuju tempat duduk Minho di bagian depan. "Di dalamnya adalah Pecahan Kristal High Polar yang merupakan penyimpan energy terbesar untuk digunakan para Axis nantinya."

Yoochun masih ternganga di tempatnya saat Kibum mengambil bandul perak berkilau itu dari tangan Minho. Taemin yang duduk di sebelah Minho masih saja menatap ke arah Minho yang kini mulai memijat perutnya yang tadi terluka.

Sedangkan para Cardinal dan Ordinal disana juga terdiam di tempatnya. Mereka juga terkejut sama hal-nya dengan Yoochun. Hal itu memang karena mereka juga belum mengetahui kebenaran ini semua.

"Mana ada energy tersimpan di dalam sebuah Kristal seperti itu? Itu sama sekali tidak masuk akal dan pemikiran."

Semuanya kini menoleh ke arah Hankyung yang masih tenang di kursinya. Namja berwajah Cina itu bersedekap dan menatap lurus ke arah papan tulisdi depannya.

"Jaga ucapanmu, Hankyung-ssi! Kau tidak seharusnya meremehkan ―"

"Henry! Cukup!" Changmin kali ini yang berbicara. Namja tinggi itu menarik tangan Henry sedikit kasar hingga membuat rekannya itu kembali terduduk di bangkunya. "Kau benar, Hankyung-ssi. Semua ini memang tidak masuk akal. Jadi terima saja."

"Bagaimana kami bisa menerima hal yang tidak jelas seperti ini? Sia-sia saja!" kali ini Donghae yang berbicara. Namja bermata ikan itu menatap datar semua orang di depannya. Hyukjae yang berada di sampingnya menatapnya tidak percaya.

"Donghae benar. Semua ini tidak ada gunanya." Kali ini Yunho yang menyahuti, namja itu menyeringai di tempatnya. "Kami tidak mau membuang-buang energy hanya untuk sesuatu yang tidak masuk akal."

"KAU―"

"Lagipula," lanjut Yesung dengan muka datarnya. "Semua itu rasanya bukan urusan kami."

BRAK!

"KALIAN MAU LARI BEGITU SAJA SAAT ADA ORANG YANG AKAN MENGHANCURKAN KALIAN DAN SEISI DUNIA INI DALAM KEGELAPAN ABADI?!" seru Taemin yang sudah tidak tahan mendengar kalimat-kalimat di sekitarnya. Minho berdiri dari tempatnya untuk menenangkan Taemin sebelum tangannya kembali di tepis oleh namja pendek itu.

"KALIAN TIDAK SEHARUSNYA MEREMEHKAN KEKUATAN HIGH POLAR, TANPANYA KALIAN BUKAN APA-APA. TANPANYA, KALIAN HANYA SEKUMPULAN ANAK-ANAK BIASA YANG NANTINYA AKAN MENYAKSIKAN DUNIA INI BINASA DALAM KEGELAPAN YANG DICIPTAKAN OLEHNYA!"

"Taemin―"

Changmin mulai bergerak untuk menghentikan Taemin yang masih tidak bisa menguasai dirinya. Sedangkan keempat Cardinal disana hanya menatap para Guards yang terlihat kewalahan itu dengan seringai di wajah mereka masing-masing.

'Teruskan―' ucap Hankyung di dalam pikirannya. Pandangannya masih datar ke arah depan. '―dan dapatkan informasi sebanyak-banyaknya.'

'Tentu saja.'

"KALIAN AKAN MELIHAT BAGAIMANA KALIAN AKAN DIHANCURKAN DAN DUNIA TEMPAT KALIAN TINGGAL INI AKAN TENGGELAM SELAMANYA OLEH KEGELAPAN YANG SUATU SAAT AKAN DICIPTAKAN OLEH POROS ORDINAL―"

"CUKUP!"

Semua perhatian kini jatuh kepada namja yang sejak tadi terdiam seribu Bahasa di tempatnya. Yunho yang ada di depannya menatap Ordinal-nya itu dengan heran.

"Kalian tidak berhak bicara seperti itu, Guards." Ucap Jaejoong sambil menatap tajam para Guards di depannya. Namja itu tampak meringis sambil menumpukan kedua tangannya ke atas meja. "Kalian tidak punya hak menghina nama Poros Ordinal. Kalian―"

"Jae!"

Yunho segera menahan tubuh gemetar Jaejoong saat Ordinal-nya itu mulai limbung di tempatnya. Rasa sakit itu kembali datang.

"K-kalian tidak tahu apa-apa tentang Poros Ordinal!" lanjut Jaejoong sambil mencengkeram tangan Yunho yang menopangnya. Doe-eyes-nya menatap tajam kepada para Guards yang menatapnya terkejut.

"Apa yang kau―"

"SUDAHLAH KALIAN SEMUA!" seru Yoochun hingga membuat Taemin yang masih melotot ke arah Jaejoong kini terdiam. Semua murid di depannya itu kini kembali tenang di bangkunya. "Aku tidak mengerti apa yang kalian bicarakan, oke!"

Hyukjae hanya menggeleng kepada Ryeowook dan Heechul yang menatapnya tidak mengerti. Sementara para Cardinal masih bertahan di posisi mereka masing-masing. Semuanya masih hening. kekuatan Hyukjae masih bekerja. Waktu masih berhenti.

Yoochun menatap ketiga belas muridnya sambil menghela nafas. Entah bagaimana ia bisa berhadapan dengan ketiga belas 'manusia' di depannya ini. Bahkan ia belum mengira-ngira 'apa' sebenarnya Siwon dan Kyuhyun yang saat ini masih berada di ruang kesehatan.

"Aku tahu, semua ini bermula dari Kyuhyun." Ucap Yoochun sambil mengeluarkan selembar kertas dari balik saku jas-nya. "Walau aku tidak tahu apa yang terjadi padanya dan apa masalahnya pada kalian, tapi kumohon. Setelah ini kita harus bersikap seolah tidak ada yang terjadi. Seolah kejadian hari ini tidak pernah terjadi dan hanya mimpi."

Semuanya masih tenang mendengarkan perkataan Yoochun. Guru muda itu mulai bergerak ke tengah kelas lalu menghampiri Kibum yang masih memegang bandul perak itu, kemudian meraihnya ke tangannya sendiri.

Yoochun memperhatikan bandul perak itu sebentar. Bandul itu cukup berat dengan diameter sekitar 5 cm dengan bentuk bulat berukiran aneh di permukaannya. Dan ia sangat yakin sekali telah melihat sekelebat cahaya biru terang terpantul dari benda di tangannya itu, lalu―

Trang!

"Sonsaengnim!"

Semuanya hampir bergerak keluar bangkunya masing-masing saat tiba-tiba Yoochun menjatuhkan bandul itu ke lantai bersamaan dengan tubuhnya yang sedikit limbung.

"Gwaenchana. Aku hanya tiba-tiba kehilangan keseimbangan saja. Aku tidak apa-apa." Ucap Yoochun saat Hankyung sudah tiba di sampingnya dan hendak menopang tubuhnya.

Semuanya menatap skeptic ke arah guru musik mereka itu.

"Aku baru saja membaca catatan wali murid Kyuhyun di lembar biodatanya. Kurasa aku tahu solusi yang tepat saat Kyuhyun berubah menjadi mengerikan lagi."

Yoochun menatap ketiga belas pasang mata itu dengan sendu. Beberapa muridnya itu mengangguk, membuatnya tersenyum tipis. Namun senyumnya sirna saat pandangannya kembali tertuju di bandul perak yang kini sudah ada di tangan Kibum lagi.

Sekilas saja. Walau hanya sekilas, Yoochun bisa memastikan bahwa yang tadi dilihatnya itu adalah nyata.

Cahaya merah yang gelap. Segelap dan sepekat warna darah.

.

.

THE POWER OF HIGH POLAR

Chapter 10: THE HAPPINESS OF CARDINAL

Genre: Romance, Friendship, Fantasy, Supranatural, School-life

Rating: T

Main Pair: WONKYU

Other Pair: YUNJAE, HANCHUL, HAEHYUK, YEWOOK

Warning: YAOI, BOYSLOVE, OOC, TYPOS

Summary:

Kekuatan matahari ada di tangan mereka. Namun persahabatan dan cinta sejatilah yang menjadi kekuatan terbesar yang mereka miliki nantinya.

DON'T LIKE DON'T READ

BabyWonKyu proudly presents

.

.

_Wonkyu_

Tes

Tes

Bruk

Siwon tersentak saat tiba-tiba tubuh yang masih satu syal dengannya itu kini terjatuh dengan posisi bersimpuh di sampingnya. Tangan pucat itu masih berada dalam genggamannya.

"Nona Cho―" ucapnya lirih sambil menatap was-was ke arah Kyuhyun yang masih terdiam bersimpuh di sampingnya.

Siwon menatap nyalang pada Jonghyun yang masih berdiri di depannya. Beberapa siswa yang melintas mulai berhenti dan menatap mereka bingung. Beberapa dari mereka mulai berjengit takut mekihat tumpahan darah di bawah tubuh Kyuhyun yang masih bersimpuh.

"Apa yang kau lakukan, Brengsek?!" desis Siwon menatap tajam Jonghyun yang masih bergeming di tempatnya. Namja juga terlihat terkejut dengan apa yang dilakukannya.

Tanpa berpikir panjang, Siwon segera bergerak untuk memeriksa keadaan Ordinal-nya. Namja manis di sampingnya itu masih menunduk disampingnya. Kedua tangan mereka masih bersatu. Dan dengan sangat yakin, Siwon bisa merasakan suhu jemari lentik dalam genggamannya itu mulai mendingin.

"Nona Cho," ucap Siwon sambil mulai berusaha melepaskan genggaman tangannya untuk meraih wajah yang masih menunduk itu, sebelum―"

'JANGAN LEPASKAN TANGANMU DARINYA, SIWON!'

Suara seruan Yunho terdengar di dalam kepalanya, tepat saat Siwon akan melepaskan tangannya. Dari tempatnya, Siwon dapat mendengar beberapa langkah di belakang tubuhnya dan lebih banyak langkah lagi yang bergerak menjauhinya.

Semua orang yang tadi berkerumun di sekelilingnya kini berjalan menjauh darinya dengan langkah ringan. Seperti terhipnotis.

Kekuatan sang Utara, Siwon bisa merasakannya.

"Hankyung Hyung, bawa anak itu pergi dari sini secepatnya."

Hankyung segera menarik Jonghyun yang masih bergeming di tempatnya kemudian melesat ke tepi lapangan dan menyerahkan anak itu ke tangan Henry. Yesung dan Donghae bergerak cepat menuju Siwon dan Kyuhyun yang juga masih terdiam di tempatnya. Hyukjae kembali melambaikan tangannya dan waktu disana berhenti untuk kesekian kalinya.

Siwon mempererat genggaman tangannya saat jemari pucat yang semakin mendingin dalam genggamannya itu mulai berusaha melepaskan diri darinya.

"Lepaskan tangan kotormu dariku!"

Dan semuanya kembali tercekat saat kalimat tertahan yang tajam itu mengalun dari mulut seorang Cho Kyuhyun yang biasanya manis dan sangat lugu. Namun Kyuhyun yang ada di depannya itu adalah Kyuhyun yang lain.

Kyuhyun yang kembali mengerikan.

"Tidak! Aku tidak akan pernah―"

"SIWON!"

Yunho seketika berseru saat Siwon tersungkur di tanah sesaat setelah tubuhnya di dorong dengan begitu keras oleh Kyuhyun dengan kekuatan yang entah datang dari mana.

"Jaejoong-ssi, ambil kesadarannya!" seru Hankyung yang sudah kembali mengurus Jonghyun.

Jaejoong bergerak cepat menuju Kyuhyun yang kini mulai berdiri di tempatnya. Namja manis itu mulai menengadahkan kepalanya dan menatap Jaejoong dengan matanya. Membuat kilatan terang di Doe Eyes Jaejoong itu menghilang seketika dan pergerakannya terhenti. Jaejoong terdiam menatap mata bulat besar di depannya.

Warnanya semerah dan segelap warna darah.

Bruk!

"JAE―"

Srak!

Donghae dan Yesung segera bergerak menangkap tubuh Yunho yang tiba-tiba terlempas hanya karena satu lambaian tangan milik Kyuhyun yang bahkan tanpa menatapnya. Poros Ordinal itu masih menatap Jaejoong yang kini bersimpuh di depannya.

Semua yang ada disana masih menahan nafas menanti apa yang akan terjadi selanjutnya. Bahkan Siwon tidak mampu bergerak dari tempatnya saat melihat mata merah itu.

Jaejoong mengeratkan kepalan tangannya yang gemetar saat matanya tidak bisa berpaling dari mata Kyuhyun. Namja cantik itu gemetar hebat dan takut dengan warna merah pekat itu. Sedangkan Kyuhyun, sang Poros Ordinal itu masih menatap Jaejoong tenang.

Tes

Tes

Dan mata Jaejoong yang awalnya bersinar penuh ketakutan itu seketika membelalak saat menyaksikan beberapa tetes air mata mengalir dari iris merah gelap Kyuhyun.

"S-sakit." ucap Kyuhyun lirih masih menatap Jaejoong yang bersimpuh di depannya. Semua yang ada disana menatap keduanya dengan pandangan tidak mengerti. "Kumohon. Ini sakit sekali~"

"K-kyu―"

"KUMOHON! HENTIKAAAA―"

Grep

Semuanya terdiam dan hening saat sepasang tangan itu menjangkau tubuh Kyuhyun yang masih bergetar dan mendekapnya erat. Tidak menghiraukan rontaan dan pukulan-pukulan yang jujur saja membuat tubuhnya sakit, karena ia tahu, yang di dekapnya saat ini bukanlah Kyuhyun yang lembut dan galak seperti biasanya.

"Saem?"

Ucap Ryeowook lirih sambil mengambil langkah maju. Namun baru beberapa langkahnya, Yesung sudah menarik tangannya dan mengisyaratkan untuk tidak mendekat.

"Cho Kyuhyun, dengarkan aku." Ucap Yoochun masih mempertahankan pelukannya di tubuh Kyuhyun yang juga masih meronta hebat di dekapannya. Muridnya itu masih meronta dalam pelukannya. Guru muda itu sebisa mungkin meraih wajah Kyuhyun untuk menatapnya. "Dengarkan aku, Kyu!"

"APA YANG DILAKUKANNYA?!" seru Siwon saat tubuhnya ditahan oleh Hankyung dan Donghae. Ia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang terjadi di depannya.

Yoochun menatap mata merah di depannya tajam begitu ia sudah mendapatkan kontak. Dengan perlahan diusapnya wajah datar dan dingin di hadapannya.

"Cho Kyuhyun, kau harus bahagia~"

_Wonkyu_

"Kau yakin tidak perlu kami temani?"

Donghae memperhatikan Siwon yang kini sedang meletakkan tubuh Kyuhyun yang lemas ke kursi depan mobilnya. Memasangkan sabuk pengaman lalu membenarkan posisi kepala sang Poros Ordinal yang terkulai agar bisa nyaman di bantal kecil yang terletak di sandaran jok mobilnya.

"Tidak perlu. Aku bisa sendiri." Sahut Siwon sambil menatap keempat temannya yang berdiri di depannya. "Terima kasih, Guys."

Keempat namja penguasa mata angin utama itu tersenyum simpul mendengar kalimat SIwon. Satu per satu dari mereka memberikan tepukan ringan di bahu sang Poros.

Setelah mengalami kejadian menegangkan menghadapi Poros Ordinal untuk kedua kalinya, mereka semua berakhir disini. Masih di halaman perkir Spamcos yang sudah sangat sepi. Langit diatas mereka sudah gelap total, mengingat saat ini sudah menunjukkan pukul 7 malam.

Sesaat setelah Yoochun menghentikan Kyuhyun, para Guards muncul lalu memulihkan energy dalam tubuh Kyuhyun yang entah mengapa sangat berlimpah namun tidak stabil. Para Ordinal yang lain, walau mereka terkejut, mereka lebih memilih lebih tenang dan mencoba terbiasa dengan hal semacam ini. Ryeowook sesegera mungkin menghilangkan bekas-bekas 'tragedi' sore itu dan waktu kembali di jalankan oleh Hyukjae beberapa saat kemudian.

"Bagaimana dengan Jaejoong?" tanya Siwon terlebih kepada Yunho. Namja bersorot musang itu memilih menatap kearah mobilnya yang terparkir tepat di belakang Audi putih Siwon lalu menghela nafas.

"Dia menolak bicara sepatah katapun." Sahut Yunho sambil mengeratkan blazernya untuk menghalau udara dingin. "Aku akan menanyainya besok."

Siwon mengangguk lalu kembali menatap ketiga temannya yang lain. Sorot kelamnya yang tadinya meredup kini kembali menajam.

"Bagaimana anak itu bisa mengingat kejadian di laboratorium? Bukankah Yunho sudah menghapus semuanya?"

"Awalnya kami juga kaget." Ucap Hankyung sambil memasukkan kedua tangan kedalam saku blazernya. "Tapi jika kau ingat, Siwon. Lee Jonghyun yang hampir saja dilukai oleh Kyuhyun, berhasil kau selamatkan saat kau datang pertama kali. Dia lari keluar Lab sebelum kami tiba. Dan saat Yunho memerintahkan semua penghuni kelas 1-D untuk melupakan semuanya, Lee Jonghyun sudah tidak ada disana."

Donghae dan Yesung mengangguk membenarkan ucapan Hankyung.

"Hankyung benar." Kata Yesung, " Kami terlalu terfokus kepada Kyuhyun hingga melupakan anak itu."

"Benar. Awalnya kami juga sudah berpapasan dengannya di depan Lab. Namun begitu melihat dan mendengar keributan yang lebih berbahaya di dalam, kami melupakannya begitu saja." Ucap Donghae sambil mulai memasangkan beanie di kepalanya.

Siwon mengangguk lagi lalu kembali menatap wajah damai Kyuhyun yang masih tertidur di mobilnya. Bukan hanya Siwon, semua yang ada disana juga menatap namja manis itu. Wajahnya memang damai dan manis jika seperti ini. Namun mereka semua bisa bergidik ngeri saat melihat mata merah itu menghiasi wajah kekanakannya yang akhirnya berubah menjadi mengerikan.

"Dia kesakitan tadi." Semuanya mengalihkan pandangannya ke arah Yunho yang masih menatap sendu sang Poros Ordinal. "Dia memohon, bukan? Kau bisa merasakan sakitnya, Siwon?"

Siwon terdiam di tempatnya. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Tangan kanannya mengepal erat di atas mobilnya.

"Kau tidak bisa, kan?" tanya Yunho lagi kali ini dengan senyuman. Hankyung, Donghae, dan Yesung masih terdiam di tempatnya. "Karena rasa sakitnya dipindahkan kepada kami para Cardinal."

"Apa?!" seru Siwon sambil menatap keempat Cardinal di depannya dengan pandangan tidak percaya.

Keempat temannya itu hanya terdiam di tempatnya. Tidak ada yang berbicara diantara mereka.

"Masalah Siwon sunbae yang tidak bisa merasakan apa yang dirasakan Kyuhyun, hal itu karena kendali dari Poros Ordinal sendiri."

"Kristal High Polar yang ada dalam bandul ini hanya milik para Cardinal. Kristal milik Ordinal, seperti yang pernah ditunjukkan Kibum kepada kalian di lapangan basket tempo hari hanyalah replica yang kami buat."

"Kristal High Polar para Ordinal sudah dihancurkan olehnya. Dan empat tangan mata angin pendukung itu sudah tidak ada dalam system mata angin."

"Bandul ini hanya akan bisa memberikan kekuatan kepada para Cardinal dan tidak berlaku untuk Ordinal. Para Ordinal, akan sepenuhnya berada dalam kendalinya. Kendali Cho Kyuhyun."

"Dan suatu saat, ikatan antara kalian akan benar-benar terputus sesuai tujuannya."

"Kyuhyun tidak mungkin berbuat seperti itu. Kyuhyun adalah dirinya sendiri. Yang tadi mengerikan itu bukanlah dia! Para Guards seolah menyalahkan semuanya pada Ordinal-ku!"

Yunho menghela nafas keras mendengar tanggapan Siwon setelah mereka berempat mengulang apa yang disampaikan Minho di kelas tadi siang.

"Aku tahu, Siwon. Kami semua tahu." Ucap Hankyung pada akhirnya sambil tersenyum menatap Siwon lalu sedikit beralih menatap wajah damai Kyuhyun yang terlelap. "Kami lebih mempercayai kau dan Kyuhyun dari pada para Guards."

Siwon menggeleng ragu sambil berusaha mengusap wajahnya. Uap-uap putih keluar dari hidung dan mulutnya pertanda udara yang semakin dingin.

"Jangan pikirkan apapun lagi. Ini semua sudah selesai." Donghae ganti tersenyum lebar kepada keempat rekannya. "Kini kita sudah tahu bagaimana cara menghadapi Kyuhyun saat berubah mengerikan."

"Ikan mokpo ini benar." Sahut Yesung, semua yang ada disana tertawa mengejek melihat wajah kesal Donghae. "Dan mencari kebenaran tentang semua ini."

_Wonkyu_

Hangat.

Sinar matahari pagi itu bersinar redup dan menimbulkan suasana yang hangat. Sangat cocok untuk pagi seperti ini. Terlebih lagi, sangat cocok untuk melanjutkan tidur dan menunda waktu bangun hingga siang atau sore nanti.

Cho Kyuhyun membuka matanya perlahan saat bias sinar hangat itu memaksa masuk ke dalam matanya yang tadi masih tertutup. Iris coklat caramel itu sedikit menyipit saat suasana kamarnya yang terang menyapa penglihatannya.

"Kyunnie, kau sudah bangun? Lekaslah mandi dan sarapan, Kyu."

Kyuhyun bisa mengenali itu suara Sungmin. Saat pandangan buramnya sudah berakhir, namja manis itu bangkit dari posisi berbaringnya dan segera dihampiri pusing yang menghampiri kepalanya.

"Hyung, boleh aku ijin bolos sekolah? Kepalaku pusing~"

"Benarkah? Aigoo. Kau beruntung sekali, Kyunnie." Ucap Sungmin setelah sesaat lalu melayangkan pandangan khawatir kepada Kyuhyun, namun seulas senyum menghiasi wajah nya kemudian.

"Beruntung?" ulang Kyuhyun tidak mengerti sambil menyingkirkan selimut dari kakinya. Sungmin mengangguk ceria lalu meletakkan segelas susu hangat di meja nakas.

"Kau tidak ingat sekarang hari Minggu?"

"MWO?! MINGGU!" seru Kyuhyun tidak percaya. Mata bulat besar itu kemudian beralih menatap kalender duduk di meja belajarnya dan sukses melebar saat tanggal yang menunjukkan hari ini ternyata dicetak dengan warna merah. "YEAAYY! AKHIRNYA HARI MINGGU!"

Sungmin terkekeh pelan di tempatnya melihat tingkah lucu Kyuhyun yang kini mulai mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi dengan wajah yang berbeda 180 derajat dari wajah lemasnya tadi.

"YA! Kau ini! Mana ekspresi lemasmu saat bilang pusing tadi?! Kau berbohong, ya?!"

"Aniyoo!" sahut Kyuhyun segera saat Sungmin menjitak kepalanya ringan. Namja manis itu berusaha melindungi kepalanya dari jitakan Sungmin yang terus menjadi. "Tadi aku memang sempat pusing! Tapi segera hilang saat tahu kalau sekarang libur!"

Sungmin mengehentikan kegiatannya menjitak kepala Kyuhyun lalu duduk di sisi ranjang dan menyerahkan segelas susu hangat ke tangan dongsaengnya itu.

"Habiskan lalu mandi, oke! Kemudian sarapan di bawah!"

"Okee!" sahut Kyuhyun semangat. "Setelah sarapan aku akan berkencan dengan PSP dan Starcraftku. Ah~ Aku sudah tidak sabar untuk memainkannya!"

"Kau kelihatan senang sekali, ya?" ucap Sungmin lagi sambil tertawa dan mengacak surai ikal Kyuhyun yang berantakan.

"Tentu saja aku senang!"

Tentu saja namja manis ini senang. Bagaimana tidak senang jika ia bisa terbebas dari kesibukan sekolah, bebas dari tugas-tugas, bebas dari PR, bebas dari hal-hal aneh, bebas dari Choi Siown yang selalu mengganggu hari-harinya. Mengingat Sunbae mesumnya itu Kyuhyun jadi mengingat kejadian terakhir yang ia alami. Siwon dan ia berjalan bersamaan sepulang sekolah dengan berbagi syal dan sarung tangan, lalu―Kyuhyun terdiam sesaat. Ia sama sekali lupa apa yang terjadi setelahnya.

Ah! tidak penting, begitu batinnya. Yang penting baginya saat ini adalah ia bisa bermain game sepuasnya seharian tanpa mengalami gangguan dari―

"Selamat pagi, kau tidur nyenyak tadi malam? Apa kau mimpi indah?" sahut sebuah suara dari arah pintu kamar. " Nona Cho?"

Deg

Kyuhyun hampir saja menyemburkan susu yang saat ini sedang diminumnya begitu mendengar suara menjengkelkan yang sangat di kenalnya itu. Sungmin terkekeh sambil memberikan selembar lap kepada dongsaengnya.

"KAU―" seru Kyuhyun sambil menunjuk namja tinggi yang berdiri bersandar di puntu kamarnya dengan senyum miringnya yang khas dan menjengkelkan. "APA YANG KAU LAKUKAN DI RUMAHKU?!"

Siwon mengangkat bahunya sambil bersedekap. Namja tampan itu tampak berbeda dengan penampilannya yang tidak mengenakan seragam sekolah. Sebuah kemeja abu-abu casual dan jeans hitam membalut tubuhnya yang terlihat semakin tinggi dan atletis dengan pakaian itu. Sebuah cardigan putih melingkar di daerah bahunya, membuatnya semakin tampan.

Oke! Kyuhyun mengakui bahwa namja mesum di depannya itu terlihat tampan hari ini.

"Baiklah! Aku akan menyiapkan sarapan di bawah dan Siwon―" Siwon menegakkan posisi berdirinya saat Sungmin berjalan ke arahnya sambil membawa gelas susu yang sudah kosong. "Pastikan 'Nona Cho'mu itu segera mandi!"

"YA! SUNGMIN HYUNG! SUNGMIN HYUNG! JANGAN TINGGALKAN AKU DENGAN NAMJA MESUM INI~"

Sial! Sungmin malah mengomel dan meninggalkannya sendiri dengan namja yang sangat suka sekali menganggu hari-harinya termasuk di hari libur seperti sekarang, begitu batin namja manis yang kini mulai was-was di atas ranjangnya saat Siwon berjalan mendekat kearahnya dengan perlahan.

"Mengapa wajahmu memerah seperti itu, Nona Cho?" ucap Siwon begitu ia mendudukkan diri di sisi ranjang Kyuhyun sementara si pemilik ranjang memilih beringsut menjauh ke sisi yang lain dengan mencengkeram selimutnya erat-erat di depan dadanya. "Apa kau terpesona dengan penampilanku hari ini?"

"Si-siapa yang terpesona, Pa-pabbo!" sahut Kyuhyun segera masih berusaha menjaga jarak sejauh mungkin dari Siwon. "Menjauhlah! Aku mau turun dan mandi!"

"Mengapa tidak turun saja sekarang?"

"BAGAIMANA AKU BISA TURUN JIKA KAU BERBARING DISANA, CHOI SIWON?!"

Siwon tertawa saat suara galak itu kembali di dengarnya. Ia kemudian menyamankan dirinya di ranjang itu dan menutup jalan bagi Kyuhyun untuk turun dari ranjang berukuran Queen Size itu.

"Jika mau turun, kau harus melewatiku dulu, Nona Cho." Ucap Siwon santai sambil menumpukan kepala ke atas tangannya.

Kyuhyun menggertakkan gigi-giginya karena jengkel yang teramat sangat dengan makhluk di depannya ini. Setelah menghela nafas dan men-death glare namja tampan namun menjengkelkan di depannya, akhirnya Kyuhyun bergerak dari sudut ranjangnya dan mulai merangkak diatas ranjang. Berhenti sejenak ketika dekat dengan Siwon lalu kembali membuang nafas panjang dengan pandangan was-was kepada namja yang kini masih menatapnya dengan sebelah alis terangkat.

"Jangan coba-coba melakukan hal yang macam-macam di kamarku, Wonnie Pabbo." Ucap Kyuhyun mulai merangkak melintasi tubuh Siwon yang telentang di depannya. "Atau aku akan―"

Grep

"KYAAAAA! APA YANG KAU LAKUKAN?!"

Seketika Kyuhyun berseru saat tubuhnya di peluk begitu saja oleh SIwon tepat di pinggangnya saat akan melewati tubuh namja tinggi itu. Lihat saja posisinya sekarang, tubuhnya yang kini berada di atas tubuh Siwon yang terlentang. Sangat dekat, bahkan bisa dibilang full interacted dan intim dengan Siwon. Bahkan, wajah mereka hanya dipisahkan beberapa centi udara kosong.

"Nona Cho, aku merasa kurang sehat dan aku perlu 'vitamin' harianku sekarang juga~" ucap Siwon sambil mengeratkan pelukan tangannya di pinggang ramping Kyuhyun yang masih menatapnya horror dengan wajah memerah sempurna.

"Lepaskan! Ja-jangan macam-macam, Wonnie Hyung! Bagaimana jika Sungmin Hyu―"

"Sungmin Hyung sedang memasak di bawah. Dia tidak akan kesini."

"A-aku harus―"

"Kalau tidak memberiku 'vitamin', maka kita akan berposisi seperti ini seterusnya, Nona Cho."

"Kau gila, Choi Siwon! A-aku be-belum sikat gigi! Ya, benar. Aku belum sikat gigi."

"Tidak masalah, Nona Cho. Aroma bangun tidurmu seperti bayi. Aku suka~"

Habis.

Alasan Kyuhyun habis untuk menghadapi namja mesum di bawahnya ini. Namja manis itu menggigit bibir bawahnya untuk mencari ide sementara matanya mencoba menghindari tatapan geli Siwon dibawahnya.

"Oh~ Aku merasa semakin sakit~" ucap Siwon dengan suara lemas yang dibuat-buat. Kyuhyun menatapnya khawatir kemudian, membuat Siwon tersenyum menang di dalam hatinya.

"Baiklah! Baiklah!" ucap Kyuhyun pada akhirnya. "Ta-tapi sebentar saja―"

Cup

Kyuhyun kehilangan kata-katanya saat bibirnya dibungkam oleh bibir Siwon. Namja manis itu memejamkan matanya saat Siwon menarik tengkuknya kebawah dan ciuman itu menjadi semakin dalam.

"Mmph! Sudah! Sebentar saja! Aku harus man―"

Grep

Bruk

Tubuh ramping yang sudah akan bangkit itu kini kembali terhempas ke atas ranjang dengan posisi terlentang. Kemudian Siwon kembali memerangkap tubuh yang kini ada dibawahnya itu sambil memposisikan telapak tangannya di leher belakang Kyuhyun.

"Wonnie―"

Cup

Kyuhyun kembali membelalak saat bibirnya kembali dibungkam oleh Siwon. Kali ini ciuman itu sedikit menuntut dan membuat nafasnya sedikit terengah.

Namja manis itu tidak menyadari apa yang dipasangkan Siwon di lehernya. Sebuah liontin perak kecil dengan bandul biru jernih yang bercahaya.

Pecahan batu High Polar para Cardinal.

'Nona Cho, ini adalah pecahan kebahagiaan dari kami. Semoga kau selalu bahagia.'

_Wonkyu_

Audi putih itu berjalan pelan di daerah taman yang terletak di pusat kota. Udara pagi yang masih segar membuat suasana disana terasa sangat sejuk dan sedikit hangat karena sinar matahari yang bersinar redup. Beberapa pejalan kaki nampak berlalu lalang. Ada yang sekedar lari pagi atau mengajak hewan peliharaannya masing-masing.

"Suasana pagi hari diluar rumah sangat menyenangkan, bukan, Nona Cho?" ucap Siwon riang sambil tetap mengemudikan roda mobilnya dan sesekali menengok ke samping kanannya.

Kyuhyun. Namja manis itu masih bertahan di posisinya, yaitu menatap keluar jendela. Mata bulat coklatnya sedikit berbinar menatap keramaian dan kesejukan taman yang terletak di sepanjang sungai Han. Ia memang jarang sekali menghabiskan waktu libur di luar rumah. Biasanya ia akan sibuk 'berkencan' dengan PSP atau game console lainnya di hari libur seperti ini.

"Nona Cho?"

Kyuhyun kembali menghela nafas jengah saat mendengar panggilan Siwon di sampingnya. namja manis itu tetap tidak bergerak dan masih bertahan menghadap ke luar jendela mobil sport mewah itu. motif lainnya adalah untuk menyembunyikan wajahnya yang masih memerah karena mengingat kejadian pagi tadi.

Bagaimana Siwon memeluk tubuhnya…

Lalu menciumnya dengan lembut…

Dan kemudian menciumnya lagi dengan sedikit―menuntut.

Kyuhyun menyentuh bibirnya sendiri dengan tangan gemetar. Oh, sial! Bahkan ia masih bisa mengingat rasa ciuman 'hangat' pagi―

Grep

"APA YANG―"

"Apa ada yang lebih menarik diluar sana dibanding aku, Nona Cho?" tanya Siwon dengan tatapan dalam yang sukses membuat wajah Kyuhyun memerah lagi. Telapak tangan besar itu menggenggam pergelangan tangan kanan Kyuhyun dengan erat.

"A-aku se-sedang menikmati pemandangan luar, Pabbo!" sahut Kyuhyun sekenanya sambil berusaha berpaling dari sepasang iris kelam yang bisa membuatnya seakan meleleh itu.

Siwon tersenyum lalu mengacak surai ikal coklat itu dengan gemas hingga membuat pemiliknya menggerutu.

"Kau memikirkan kejadian tadi padi, heum?" tanya Siwon sambil mendekatkan wajahnya ke arah Kyuhyun yang reflex memundurkan tubuhnya.

"A-apa?! Ten-tentu saja tidak!"

"Kau yakin? Apa perlu kita mengulanginya la―"

"TIDAK MAU, CHOI MESUM! PERGILAH!"

Siwon kembali tertawa terbahak-bahak melihat wajah merah dan kesal namja manis itu. Sangat lucu dan menggemaskan. Kyuhyun, namja manis itu kini merengut tak jelas sambil menggembungkan pipinya kesal.

"Sebenarnya kita mau kemana sih?! Kau mau menculikku, ya?!" ucap Kyuhyun sambil menolehkan kepalanya ke luar jendela lagi. Siwon mulai melepas sabuk pengamannya. "Mengapa kau suka sekali mengganggu hari-hari tenangku―"

Sreeet

Bruk

Kyuhyun kembali memundurkan tubuhnya saat Siwon bergerak mendekat ke arahnya. Sangat dekat, hingga membuat punggung Kyuhyun membentur pintu mobil di belakangnya. Sepasang iris kelam itu kembali menatap tajam dan dalam iris coklat di depannya.

"Bukankah sudah kubilang―" ucap Siwon sambil menggerakkan tangannya sambil melepas seatbeat Kyuhyun lalu mengembalikannya ke tempatnya semula di belakang bahu Kyuhyun. "―kau harus terbiasa dengan kehadiranku di sisimu setiap saat, Nona Cho~"

Kyuhyun hanya membeku di tempatnya saat Siwon mulai menggerakkan tangan untuk mengusap dagunya lembut. Rasanya Kyuhyun bisa saja kehilangan jantungnya saat itu. karena benda yang terletak di dada kirinya itu terus saja berpacu dengan sangat cepat hingga hampir keluar. Dan namja manis itu kembali memejamkan mata saat Siwon mulai mengangakat dagunya.

"Uhm, mengapa kau menutup matamu seperti itu, Nona Cho?" tanya SIwon tidak mengerti. Kyuhyun sontak membuka matanya. "Padahal aku hanya ingin memastikan liontin pemberianku ini terpasang dengan baik di lehermu."

Pletak!

"Bisakah kau memeriksanya dengan cara yang biasa saja, Choi Pabbo?!"

Siwon mengusap puncak keplanya yang terkena jitakan 'lembut' Kyuhyun. Namja tampan itu mengaduh pelan sambil mulai membuka pintu mobilnya untuk menyusul Kyuhyun yang lebih dahulu keluar.

"Waaaah! Segar sekaliii~ Hahahahaha~"

Kyuhyun yang sudah keluar dari mobil segera saja merentangkan tangannya sambil menegadahkan wajahnya untuk menikmati hangatnya matahari pagi. Surai ikal kecoklatannya itu bertiup lembut saat diterpa angin. Jangan lupakan wajah manisnya yang terlihat damai.

Hal itu mau tak mau membuat sebuah senyum menawan terukir di wajah Siwon. Ordinal-nya itu terlihat semakin manis dengan sweater merah hati dengan motif hati berwarna putih. Dan jika Siwon tidak salah lihat, ada sebuah penutup kepala di belakang sweater manis itu. Sebuah penutup kepala dengan hiasan telinga kucing.

Pluk

Dengan sekali gerakan, Siwon memakaikan penutup kepala itu ke kepala Kyuhyun. Membuat wajah manis itu terlihat semakin manis dengan topi telinga kucingnya.

"Nah, begini kau tidak akan kedinginan, Kucing manisku~" ucap Siwon sambil menarik tangan Kyuhyun memasuki taman di depannya. Beberapa orang menatap mereka dengan kikikan geli.

"Yah! Kita mau kemana, Wonnie Hyung?!"

_Wonkyu_

"Hei, Heechul Hyung. Bisakah kau mengaturnya menjadi sedikit lebih hangat lagi? Disini mulai dingin."

Heechul merengut mendengar perkataan Ryeowook di sampingnya. Hoobae-nya itu menatapnya dengan pandangan memohon. Namja cantik itu menatap Hankyung sekilas dan namja cina yang duduk tak jauh darinya itu mengangguk singkat.

Maka, Heechul menegadahkan kepalanya ke atas dan menatap matahri yang mulai meredup di lebaran biru langit. Dengan sekali lambaian tangan, bola besar kekuningan itu kini terlihat semakin bersinar terang dan seketika suasana menjadi lebih hangat. Kilatan putih terang tergambar di sepasang manik namja berjuluk Cinderella itu.

"Wah! Kau memang hebat, Heechul Hyung! Bagaimana kalau sekarang redupkan lagi karena aku mulai gerah~"

Heechul mengeplak kepala Donghae begitu namja itu selesai mengutarakan kalimatnya. Donghae yang tidak terima malah mengatai Heechul dengan sebutan 'nenek sihir'. Jadilah dua orang itu kini saling mengejar seperti anak kecil.

"Ordinal-mu itu gampang sekali marah, kau tahu?"

Hankyung hanya menghela nafas sambil menutup buku yang dibacanya begitu kalimat Yesung terdengar. Namja berdarah Cina itu beranjak dari tempat duduknya lalu dengan sekali lambaian tangan, air minum yang ada ditangan Hyukjae melayang tiba-tiba lalu dengan gerakan yang lain, air itu jatuh membeku membentuk suatu lapisan es licin di tanah berumput yang akan dilewati oleh―

BRAK!

BRUK!

"Yah! Appo~" seru Heechul saat tubuhnya jatuh tengkurap dengan tidak elit di tanah. Donghae disampingnya juga tak beda jauh dengannya, jatuh dengan posisi terduduk.

"Hankyung Hyung, apa yang lakukan pada minumanku?!" seru Hyukjae sambil menatap Donghae yang yang terlihat masih mengaduh dan mengelus pantatnya yang mencium tanah. "Kau membuat dua orang itu kesakitan."

"Itu sebanding dengan tingkah mereka yang kekanakan, Hyukjae." Sahut Hankyung santai lalu bergerak menuju Heechul yang masih enggan beranjak dari posisi tengkurapnya.

"Kekanakan apanya?! Kau tidak lihat aku kesakitan?!" seru Heechul dengan wajah jengkelnya.

Hankyung tersenyum simpul lalu mengulurkan tangannya dan menarik Ordinal-nya itu bangun. Heechul hanya mengomel pelan sambil membersihkan pakaiannya dari rumput-rumput yang menempel. Hyukjae segera menolong Donghae sambil menahan tawa. Sementara Yesung dan Ryeowook masih terpingkal-pingkal di tempatnya.

"Tentu saja aku bisa merasakan sakit yang kau rasakan, Matahariku." ucap Hankyung kalem sambil membelai tangan Heechul lembut, hingga membuat namja cantik di depannya itu blushing separah-parahnya. "Tapi sepertinya tidak ada luka yang berarti, jadi kurasa aku tidak akan peduli."

"MWO?!"

"HAHAHAHAHAHA~"

"Hyungdeul? Kalian juga disini?"

Semuanya mengalihkan pandangan mereka ke arah suara itu berasal. Beberapa dari mereka sempat terkejut sesaat, namun beberapa saat kemudian mereka tersenyum.

"Siwon! Kyuhyun! Kemarilah~ Kalian terlambat 10 menit!" seru Hyukjae sambil melambaikan tangannya. Donghae disampingnya juga melakukan hal yang sama.

"Apa yang kalian lakukan disini?" tanya Kyuhyun sambil mencoba melepaskan lengannya dari tangan Ryeowook yang mulai menyeretnya menuju tikar piknik di bawah pohon maple yang mulai menguning.

"Kami sedang piknik~ Kajja! Kau harus mencoba Sandwich yang telah aku buat, Kyu~"

Siwon tersenyum sekilas melihat wajah Kyuhyun yang terlihat jengkel saat Ryeowook menyuapinya sepotong Sandwich. Heechul menarik tangannya dari Hankyung lalu menginjak kaki Cardinal-nya itu keras-keras hingga membuat Hankyung mengaduh kesakitan. Sementara Donghae dan Hyukjae mulai bergabung makan.

"Hei, Choi Siwon! Lihat itu, bahkan Ryeowook belum pernah menyuapiku seperti ia menyuapi Kyuhyun! Aku cemburu!" ucap Yesung dengan wajah cemberut seraya menyiku lengan Siwon.

"Kau tidak berpengalaman, Yesung Hyung! Menyedihkan!" sahut Siwon sambil menyeringai meremehkan. Yesung mendecih mendengarnya.

"Yuck! Aku tidak mau jika ada sayurnya, Wookie!"

"Hei, bocah evil! Sayur bagus untuk pertumbuhanmu, Pabbo!" seru Heechul sambil menyuapkan satu potongan besar Sandwich ke mulutnya sendiri. Sepertinya namja cantik itu masih badmood karena perlakuan Hankyung tadi.

"Aku bisa tumbuh walau tanpa daun hijau tidak enak itu! Andwaee!" sahut Kyuhyu lagi sambil menyingkirkan tangan Ryeowook yang masih menyuapinya. "Biarkan aku makan sendiri!"

"Tidak! Kau harus makan sayurnya juga!"

"Kubilang aku tidak suka!"

Sret

Heechul menarik tangannya yang ditepis begitu saja oleh Kyuhyun saat dirinya hendak menyuapkan sepotonh selada kepada Kyuhyun. Namun Kyuhyun yang tetap bersikeras tidak mau, malah menepis tangan itu hingga garpu yang dipegang Heechul itu menggores tangan Hyukjae yang berniat akan memisahkan mereka.

Tes

Semua yang ada disana melebarkan matanya saat cairan merah pekat itu menetes dari punggung tangan Hyukjae yang tergores. pandangan mereka bukan terfokus pada tangan yang terluka itu, namun terlebih kepada Kyuhyun yang menatap luka itu tanpa berkedip.

Donghae segera menarik tangan Hyukjae dan berniat menutupinya dari pandangan Kyuhyun, sebelum―

Grep

"Tanganmu berdarah, Hyuk Hyung~"

Tangan pucat itu lebih dahulu menggenggam pergelangan tangan Hyukjae sebelum Donghae sempat menariknya.

_Wonkyu_

Tap

Tap

Tap

Langkah kaki itu terhenti diikuti berhentinya langkah kaki yang lain tepat dibelakangnya.

"Sudah kubilang jangan mengikutiku."

Yunho tertawa pelan mendengar kalimat datar dan pendek di depannya. Namja itu melepas hoodie yang dipakainya kemudian menyerahkannya kepada namja di depannya.

"Pakailah. Ini akan mengurangi rasa dinginmu."

Jaejoong menghela nafas panjang tanpa sedikitpun berniat menerima Hoodie yang diulurkan Cardinal-nya itu. Tanpa berpikir panjang, Yunho segera menarik lengan Jaejoong hingga namja cantik itu menghadapnya dan dengan cepat memakaikan hoodie putih itu ke tubuh yang lebih pendek darinya itu.

"Kau masih kedinginan?"

"Apa tujuanmu mengajakku kesini, Jung Yunho?"

Yunho kembali tersenyum saat Hoodie itu sudah terpasang sempurna di tubuh Jaejoong, walau sedikit kebesaran. Jaejoong masih menolak menatapnya.

"Kita akan bersenang-senang disini." Jawab Yunho dengan nada ceria dan sebuah senyuman yang berhasil membuat Jaejoong menatap Cardinal-nya itu dengan sorot tidak mengerti.

"Percuma saja." Ucap Jaejoong sambil menepis tangan Yunho yang hendak memegang wajahnya, membuat Yunho sedikit terkejut dan bergeser beberapa centi dari tempatnya berdiri, "Aku… sudah lupa bagaimana caranya bersenang-senang."

Grep

Jaejoong terkejut saat Yunho menarik tangannya dan membawanya menyususri lapangan berumput itu. berjalan menuju sebuah pohon maple besar di sana.

Bruk

"Yun―"

"Kau lupa cara bersenang-senang?" sahut Yunho segera dengan sorot musangnya yang tajam menatap doe-eyes yang ia perangkap di pohon besar itu. "Akan aku tunjukkan bagaimana cara bersenang-senang! Akan aku tunjukkan bagaimana cara tersenyum dan tertawa! Akan aku tunjukkan pula bagaimana cara mencintai, Kim Jaejoong!"

"Percuma. Aku tidak mau bersenang-senang sementara―"

"SEMENTARA APA?! SEMENTARA APA, KIM JAEJOONG?!" seru Yunho pada akhirnya. Membuat namja cantik di depannya itu membelalak terkejut dan gemetar.

"K-kau tidak akan mengerti―"

"Benar! Aku tidak akan pernah mengerti." Sahut Yunho cepat sambil menundukkan wajahnya putus asa. Jaejoong menatapnya bingung saat Yunho menariknya ke dalam pelukannya.

"Yunho―"

"Biarkan seperti ini, Jae. Biarkan aku tenggelam dalam ketidakmengertian ini." ucap Yunho lirih masih memeluk tubuh Jaejoong yang kini terdiam di tempatnya. "Aku tidak akan menggunakan kekuatanku sedikitpun untuk memaksamu berbicara tentang apa yang tidak aku mengerti. Aku akan menunggumu mengatakannya dengan kemauanmu sendiri."

Sret

Jaejoong melepaskan pelukan itu dengan cepat hingga membuat Yunho jatuh terduduk di tempatnya. Namun Cardinal-nya itu, walaupun terjatuh, wajahnya tersenyum lembut sambil menatapnya. Senyum yang membuat Jaejoong melihat sesuatu itu sekali lagi.

Cinta.

Seperti sinar terangyang ia lihat di mata Siwon untuk Kyuhyun. Cinta sejati yang mengikat Cardinal dan Ordinal-nya.

Bruk

"Jae―"

"Semua ini bermula dari tragedy yang terjadi 5 tahun lalu."

Yunho menatap tak percaya kepada namja cantik yang kini terduduk di depannya. Ordinal-nya itu bersimpuh tanpa menatapnya, kedua tangan dan bahunya bergetar menahan isakan yang ditahannya.

"Yang―yang bisa kukatakan hanyalah―kau harus percaya padaku, Yunho. Dia―dia tidak seperti yang dituduhkan para Guards. Dia tidak seburuk itu. Ta-tapi Poros Ordinal tidak bisa dihentikan. Dia tidak akan berhenti hingga tujuannya tercapai―"

"Tidak." Sela Yunho sambil memegang kedua bahu yang bergetar itu. telapak tangannya kemudian mengusap air mata yang mengalir di wajah Jaejoong. "Kami bisa menghentikannya. Kami menemukan cara bagaimana cara menghentikan Kyuhyun."

"Apa?"

Yunho tersenyum lembut kemudian menarik lengan Jaejoong untuk berdiri.

"Kami memberinya kebahagiaan, Jae. Kami menitipkannya dalam sebuah benda perak yang yang indah."

_Wonkyu_

"Hyuk Hyung! Tanganmu berdarah!" ulang Kyuhyun sambil mendekatkan telapak tangan Hyukjae yang masih berdarah di ujungnya itu ke wajahnya. "Kita butuh plester!"

Semuanya masih hening di tempatnya saat Kyuhyun mulai cemberut karena tidak ada yang menggubris ucapannya.

"Ya! Wookie! Cepat cari plester! Darahnya sudah mulai banyak keluar!"

Ryeowook menatap teman sekelasnya itu dengan tatapan antara takut dan terkejut. Namja mungil itu memastikan sekali lagi bahwa iris coklat caramel di depannya itu tidak berubah menjadi merah.

"Tidak perlu, Kyu. Begini saja." Ucap Donghae sambil mengarahkan punggung tangan Hyukjae yang berdarah kearahnya lalu mengusapnya menggunakan sapu tangan yang ia ambil dari balik sweaternya.

"Hyuk Hyung mianhae~" Ini semua gara-gara kau, Heechul Hyung!"

Siwon segera menarik tangan Kyuhyun dari sana dan mulai membersihkan sisa-sisa Sandwich yang belepotan di sekitar mulut Ordinal-nya itu. Sambil memastikan liontin perak dengan bandul biru cemerlang itu masih melingkar sempurna disana.

"Sudahlah, Nona Cho. Ini semua memang salah Noona jadia-jadian itu. Kau tidak perlu bersedih."

"HEI, Jaga ucapanmu, Choi Siwon! Kau mau kulempar dengan garpu ini?!" sahut Heechul setelah berhasil mengatasi rasa terkejutnya.

"Oh~ Coba saja, Noona. Paling-paling aku akan melemparnya balik ke arah 'Pangeran' Cina-mu ini~" sahut Siwon sambil menyeringai menatap Hankyung yang mulai bergerak menuju Hyukjae. Yesung dan Ryeowook terkikik di tempatnya. Begitu juga dengan Kyuhyun yang masih berada di samping Siwon.

"Sudahlah! Sebaiknya kau meminta maaf pada Hyukjae. Semua ini memang salahmu."

Heechul merengut mendengar perintah Hankyung. Lalu namja cantik itu meminta maaf kepada Hyukjae yang kini mulai terkikik melihat wajah kesal Heechul sementara Donghae dan Hankyung membantu membalut luka di tangannya dengan plester yang diberikan Yesung.

"Hentikan itu, Wonnie Hyung!" ucap Kyuhyun dengan nada galak saat Siwon masih saja mengusap-usap pipi dan wajahnya dari bekas Sandwich. Namja manis itu mendorong-dorong wajah Siwon yang dekat dengannya agar menjauh. "Kau membuatku malu!"

Siwon tersenyum miring lagi lalu mendekatkan wajahnya yang masih saja di dorong-dorong oleh tangan Kyuhyun. "Wajahmu masih kotor, Nona Cho. Apa perlu kubersihkan dengan mulutku―"

Plak!

Semua yang ada disana menahan tawanya saat Kyuhyun menimpuk wajah tampan di sampingnya itu dengan kain lap yang ada di depannya.

"Jangan berbicara hal yang memalukan, Choi Pabbo!" ucap Kyuhyun sarkastik sambil berkacak pinggang. Namja manis itu kemudian melebarkan matanya saat melihat seseorang yang berjalan menuju mereka. "AH! Yunho Hyung dan Jaejoong Hyung juga datang ya?"

Yunho melambaikan tangannya riang membalas ucapan Kyuhyun. Sementara Jaejoong hanya melengos dan memilih duduk di dekat batang pohon bersama Ryeowook yang segera saja menawarinya Sandwich.

"Apa aku ketinggalan sesuatu?" tanya Yunho sambil menatap Siwon yang masih sibuk menyingkirkan lap dari wajahnya.

"Ya. Kau ketinggalan sesuatu yang besar." sahut Heechul sambil melahap satu potong Sandwich lagi.

"Benarkah? Apa itu?"

"Kau melewatkan adegan Kyuhyun melempar Siwon dengan kain lap, Yunho-ah~"

Ucapan Hankyung itu sukses membuat semua yang ada disana kembali tertawa. Siwon hanya bisa mendeath glare teman-temannya itu. Namun senyumnya kembali mengembang saat melihat Kyuhyun juga tertawa di sampingnya.

"Lain kali kau harus melemparnya dengan sesuatu yang lebih berat, Kyu. Ehmm… seperti piring ini contohnya." Ucap Yunho dengan senyum sadisnya hingga membuat Kyuhyun dan yang lainnya semakin terpingkal-pingkal.

"Bagaimana kalau di lempar dengan naskah drama ini, hmm?"

Sebuah suara membuat mereka menolehkan kepala ke arah samping. Dan mereka sukses terkejut melihat siapa yang berdiri disana.

"PARK SONSAENGNIM!"

Yoochun tersenyum melihat wajah terkejut murid-muridnya. Guru muda itu kemudian mengeluarkan beberapa eksemplar kertas dari dalam tas tangannya.

"Oke! Karena semuanya ada disini, bagaimana kalau kita segera memulai latihan drama musical kita~"

"MWO?!"

_Wonkyu_

"MERAYU?!"

Yoochun mengangguk mendengar seruan kesepuluh muridnya. Namja itu membaca naskah di tangannya sebentar lalu kembali menatap semua muridnya yang duduk manis di depannya.

"Karena aku memasukkan tokoh seorang yang romantis di dalam naskah, maka aku butuh pemeran yang bisa menggunakan kata-kata manis untuk merayu sang Putri."

"Putri?!" seru Heechul tiba-tiba. "Saem, bolehkah aku yang menjadi Putrinya? Aku mohon~"

"Baiklah! Kau boleh menjadi contoh Putri." Sahut Yoochun sambil berpikir sejenak. Heechul berseru riang di tempatnya. "Tapi tetap akan ada pemilihan untuk peran itu nantinya, Heechul-ah."

"Aku tidak mau menjadi seorang Putri." Ucap Kyuhyun sambil menatap aneh Heechul yang masih senang di tempatnya.

"Aku juga tidak mau!" sambung Ryeowook.

"Aku juga! Aku akan jadi pangeran!" kali ini Hyukjae yang berbicara.

"Baiklah! Baiklah!" seru Yoochun sambil menepuk tangannya. "Heechul-ah, kemarilah dan kita lihat bagaimana calon-calon Pangeran merayumu."

Akhirnya Heechul duduk di samping Yoochun sementara yang lain terlihat tidak bersemangat di tempatnya.

"Aku tidak mau merayu nenek sihir."

"YA! AKU DENGAR ITU, KEPALA BESAR!"

Yesung terlonjak di tempatnya saat suara Heechul yang menggelegar terdengar memenuhi bagian taman itu.

"Kita mulai darimu, Yunho-ah."

Tap tap tap

Yunho melangkah perlahan menuju hadapan Heechul yang sedikit terpana melihat wajah tenang dan serius namja bermata musang itu. Setangkai mawar yang entah ia dapatkan dari mana kini disodorkan ke depan wajah Heechul, membuat namja cantik itu merona sekilas.

"Senyummu hari ini sangat indah, Bunga Mawarku. Apakah itu mengisyaratkan kehidupanmu yang indah? Hal itu membuatku bahagia hanya dengan melihatnya." Ucap Yunho lembut dengan tatapan musangnya yang memikat. "Itulah mengapa aku meminta kesediaanmu untuk membawamu ke dalam kebahagiaan abadi. Jadi, maukah kau menjadi pendamping―"

Duagh!

"Jangan berkata seolah-olah kau akan melamarku, Beruang Pabbo!" ucap heechul setelah melayangkan sebuah tendangan ke wajah Yunho hingga membuat namja itu tersungkur di tanah.

"YA! Memangnya siapa yang mau melamarmu, Noona?!" balas Yunho sambil mengusap wajah tampannya yang sedikit kotor. Semua orang di belakangnya tertawa terpingkal-pingkal melihatnya.

"Kau panggil aku apa?!"

"Sudahlah! Yunho kembali ke tempatmu." Ucap Yunho sambil mencoret nama Yunho dari daftarnya. "Kata-katamu memang seperti kalimat lamaran dibanding rayuan, Yunho-ah. Selanjutnya, Lee Donghae."

Bruk

Donghae berlutut dengan bertumpu pada salah satu kakinya. Dengan telapak tangan kanannya yang ia letakkan di atas dada kirinya. Kedua mata ikannya bersinar sendu. Membuat semua yang ada disana menatapnya terpana.

"Hanya dengan berada di sisimu saja sudah cukup untukku. Aku tidak mengharapkan untuk berpisah darimu lagi, My Princess. Dan untuk semua itu, aku rela melakukan apapun walau harus merelakan nyawaku sendiri. Asal itu untukmu. Dan aku akan memerimamu apa adanya."

Hening.

Yang terdengar hanya suara desau angin yang mengalir. Kata-kata itu seakan menghanyutkan semua yang ada di sana.

"Kata-katamu memang bagus, Donghae-ya." Ucap Yoochun sambil membenarkan letak kacamatanya lalu menghela nafas panjang, "TAPI SEHARUSNYA KAU MENGUCAPKANNYA KEPADA SANG PUTRI! BUKAN KEPADA HYUKJAE!"

"Hehehehe~"

Hyukjae tertawa canggung dan salah tingkah sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal saat melihat Donghae masih berlutut menghadapnya dengan satu tangan terulur kepadanya.

"Aku mengucapkannya kepada sang Putri, Sonsaengnim. Kepada Putri paling anggun dalam hatiku." Sahut Donghae masih terpaku menatap Hyukjae yang kini terlihat menundukkan wajahnya malu.

Pletak!

"Pabbo Hae!"

"Selanjutnya! Hankyung!" seru Yoochun mencoba mengabaikan Donghae yang masih berusaha menutupi kepalanya dari jitakan Hyukjae yang terlihat sangat malu.

Heechul menegakkan posisi duduknya saat Hankyung bergerak menuju posisinya. Hyukjae menghentikan kegiatannya menjitaki kepala Donghae. Yesung dan Ryeowook berhenti tertawa.

Tap

Semuanya memperhatikan Hankyung yang kini berdiri di depan Heechul yang menatapnya berbinar. Jaejoong memperhatikan mereka sambil menggeleng, sementara Kyuhyun dan Ryeowook saling menatap.

"Seorang Putri yang sejati tidak mengharapkan pujian dari siapapun." Ucap Hankyung sambil menatap datar Heechul. Kedua tangannya membentuk posisi bersedekap di depan dadanya. "Keindahan yang dimilikinya sudah cukup untuk dirinya sendiri dan ia tidak memerlukan pujian dari siapapun lagi."

"Ke-kereeen~" ucap Heechul dengan mata bebinar menatap Hankyung yang kini beranjak kembali ke tempatnya sementara yang lain hanya sweatdrop memandang Putri jadi-jadian itu. "DIA COCOK SEKALI JADI PANGERAN, SAEM!"

Yoochun mengusap wajahnya kasar sambil menggeleng putus asa menatap Heechul yang masih tersenyum aneh di tempatnya.

"Ini semua tidak akan berhasil. Selanjutnya―"

Grep

Tap tap tap

"Eh! Apa yang kau lakukan, Wonnie Hynung?!"

Siwon tidak menghiraukan rontaan Kyuhyun di belakangnya saat ia berdiri dan menarik tangan pucat itu untuk maju kedepan.

"Kalian semua payah!" ucap Siwon dengan seringaiannya. Tangannya masih menggenggam tangan Kyuhyun yang kini mulai meronta. "Akan kutunjukkan bagaimana cara merayu yang sebenarnya."

"Woooooo~"

Kyuhyun menatap aneh teman-temannya yang mulai bersorak untuk Siwon. Namja manis itu sukses terlonjak saat sebuah tangan melingkar di pinggangnya.

"Pertama―" ucap Siwon sambil mengeratkan lingkaran lengannya di pinggang Kyuhyun. Semua yang ada disana memperhatikan dengan tertarik. "Pastikan sang Putri tidak lepas dari hadapanmu."

Ryeowook terkikik melihat wajah Kyuhyun yang mulai memerah saat Siwon menarik pinggangnya mendekat.

"Kedua―" ucap Siwon lagi, kali ini sambil meletakkan telapak tangan kirinya di leher belakang Kyuhyun yang masih berusaha melepaskan diri darinya. "Pastikan sang Putri menatap tepat di matamu."

Hyukjae memekik tertahan saat Siwon mendekatkan wajah Kyuhyun untuk menghadap wajahnya. Donghae disampingnya malah bersiul tak jelas menyaksikan adegan itu.

"APA YANG KAU LAKUKAN, PABBO?!"

"Ketiga―" ucap Siwon lagi tanpa menghiraukan Kyuhyun yang masih meronta dalam pelukannya. "Sentuh wajahnya denga lembut. Hingga ia tenang."

Kyuhyun menghentikan kegiatan merontanya saat iris kelam di hadapannya itu menatapnya sendu seakan membuat semua otot dan tulangnya meleleh dan hilang fungsi. Dan saat jemari besar itu membelai kedua pipinya lembut, Kyuhyun tahu bahwa sebentar lagi jantungnya akan segera melompat keluar karena berdetak sangat cepat.

"Dan, tanpa harus berkata-kata manispun―" ucap Siwon lagi sambil membelai belahan bibir ranum merah muda di depannya. Semuanya memperhatikan mereka tanpa berkedip, bahkan Yoochun sekalipun. "Sang Putri akan jatuh ke tanganmu."

Cup

"HUWWAAAA! KAU AKAN MATI, CHOI PABBO!"

_Wonkyu_

Srak

Srak

Bruk

Srak

"Bisakah kau berjalan yang biasa saja?"

Kyuhyun menghela nafas keras sambil mengusap wajahnya kasar, lalu mengusap bibirnya lebih kasar lagi. Berani-berani namja mesum itu menciumnya di depan umum, bahkan di depan Park Sonsaengnim! Begitu batinnya. Mungkin setelah ini ia akan merencanakan sebuah rencana pembunuhan untuk membinasakan namja tampan namun menjengkelkan itu!

"Choi Siwon Pabbo! Pabbo! Pabbo! Pabbo! Pabbo! Pabbo!..."

Kim Jaejoong menghela nafas jengah mendengar gerutuan namja yang berjalan di belakangnya itu. sudah sejak 15 menit yang lalu mereka berdua berjalan menyusuri bagian selatan taman untuk mencari bunga Crysan putih yang tumbuh disana. Yoochun memerintahkan mereka untuk mengumpulkan semua bunga yang ada di taman itu untuk dipilih sebagai bahan musical. Jadilah mereka dipisah-pisah seperti sekarang. Dan ia harus berpasangan dengan Kyuhyun, karena namja yang masih menggerutu tak jelas di belakangnya ini menolak dipasangkan dengan Siwon.

Sungguh namja yang aneh dan kekanakan, batin Jaejoong.

"…Pabbo! Pabbo! Pabbo!―"

"Hentikan itu!"

Kyuhyun menghentikan gerutuannya saat Jajejoong menatapnya tajam dengan wajah kesal.

"Aku sedang kesal, Jae Hyung! jadi jangan menggangguku!" ucap Kyuhyun sambil merengut menatap doe-eyes di depannya.

"Kau mengganggu. Berhentilah menggerutu." Sahut Jaejoong pendek lalu melanjutkan langkahnya. Membuat Kyuhyun hanya menatapnya sambil cemberut lalu kembali melangkah dengan kaki menghentak keras.

Jaejoong menghela nafas lagi.

"Kau tidak mengingatnya, kan?" ucap Jaejoong tiba-tiba sambil menghentikan langkahnya. Kyuhyun juga berhenti dan menatapnya bingung.

"Mengingat apa, Hyung?"

"Kejadian 5 tahun lalu." Jaejoong memberanikan diri menatap iris coklat caramel yang masih menatapnya bingung itu.

"Kejadian―"

"Kau―" sahut Jaejoong sambil mencengkeram bahu Kyuhyun erat-erat, membuat namja manis di depannya itu semakin menatapnya bingung. "―tidak boleh mengingatnya, Cho Kyuhyun!"

"Jae―"

"Wah~ wah~ Lihat nona-nona manis ini~"

Sebuah suara dan beberapa langkah kaki membuat kedua namja itu menolehkan kepalanya kesamping. Mata mereka melebar melihat beberapa namja dewasa yang tertawa pelan sambil menatap mereka dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Kalian tersesat, nona-nona manis? Butuh bantuan kami? Akan kami tunujkkan jalan tercepat keluar dari sini~ HAHAHAHA!"

"Siapa ka―"

Jaejoong menarik tangan Kyuhyun kemudian menyeretnya ke balakang tubuhnya. Sementara beberapa namja yang bisa dipastikan para preman itu menatap mereka dari ujung rambut hingga ujung kaki.

"Pergilah. Jangan ganggu kami." Ucap Jaejoong sambil merentangkan tangannya untuk menghalau Kyuhyun yang hendak maju.

"Wahaa~ Nona itu galak juga ternyata~"

"HAHAHAHAHA!"

"Diam! Kami bukan 'nona'!" seru Kyuhyun dengan nada sedikit gemetar. "Kami ini namja dan kami tidak takut pada kalian!"

Salah satu dari preman itu bergerak mendekat dan spontan Jaejoong menundurkan langkahnya. "Kalian namja? Benarkah? Mengapa wajah kalian sangat cantik, hmm~"

Slap

Jaejoong menepis tangan kasar yang hendak menyentuhnya. Kyuhyun di belakangnya mulai gemetar.

"Kalau begitu―" ucap salah satu preman yang lain lalu dengan sekali tarikan, direngkuhnya tubuh Jaejoong sementara preman yang lain menggapai tubuh Kyuhyun. "―mari kita buktikan kalian ini benar-benar namja apa yeoja~"

"HAHAAHHAHAHA!"

Bruk!

"Kyuhyun!"

.

Mereka belajar hal baru

Bahwa ketakutan, kesedihan, kegelapan, dan keputusasaan

Dapat dikalahkan oleh sekeping kebahagiaan

Hanya satu keeping…

Dan mereka juga mempelajari

Bahwa semua tidak dinilai berdasarkan cerita

Masih ada bukti tersembunyi yang akan menjelaskan semuanya

Kristal Ordinal itu tidak ada

Mereka bilang dihancurkan

Mereka bilang dimusnahkan

Mereka bilang ditiadakan

Tapi mereka tidak memperhitungkan

Mengapa Kristal itu sengaja di dihilangkan

Mengapa Kristal merah High Polar milik para Ordinal, diambil dengan sengaja dari system mata angin

Poros Ordinal tahu apa yang ia lakukan

Begitu pula semua saksi dalam tragedy 5 tahun yang lalu…

.

.

.

Annyeong, my dear Readers

This is an awful late update! Mianhae #CryHard

.

Jaejoong tahu sesuatu yang tidak diketahui Axis yang lain. Ia dan Kyuhyun terhubung oleh satu ikatan Abstrak?

Apakah itu?

Wait next chapter :)

Sabar, semua misteri akan dijawab satu-satu. Jadi ikuti saja alur ceritanya dan pasti ada jawaban yang tidak terduga disana.

.

Ask me more on ask . fm by username: BabyWonKyu1013

We'll share together there ^^

Saya sudah berusaha update kilat, tapi FF ini jujur lebih membutuhkan pemerasan otak yang lebih. Hehehe

Tunggu FF saya yang lain, my dear readers #kiss

Setiap review readers adalah sumber perbaikan bagi saya. Jadi jangan sungkan bila ada yang tidak berkenan. XOXO for you all ^3^

Fic ini murni BOYSLOVE/YAOI bukan GENDERSWITCH, dan main pair disini adalah WONKYU ^^

FEEL FREE TO REVIEW ^^

Wonkyu is Love,

BabyWonKyu