Tok tok tok
"Silahkan masuk."
Pintu besar coklat itu terbuka sesaat setelah suara rendah dari dalam ruangan itu terdengar. Sesosok namja masuk dan berjalan menyeberangi ruangan luas itu lalu berhenti begitu kakinya sudah berjarak beberapa meter dari meja berlatar belakang jendela kaca besar.
"Ada keperluan apa anda kesini―" ucap namja paruh baya yang duduk di kursi besarnya di belakang meja. "―Park Sonsaengnim?"
Park Yoochun membungkuk dalam sekilas lalu menatap mata namja paruh baya yang masih duduk tenang di tempatnya. Seorang namja lain berpakaian rapi berdiri di samping namja paruh baya itu.
"Maaf jika saya lancang. Tapi bolehkah saya bertanya secara langsung kepada anda," ucap Yoochun dengan nada sesopan mungkin, "Adakah tujuan tertentu anda menempatkan para murid baru ke dalam satu kelas yang sama, Kepala sekolah?"
Lee Sooman, namja paruh baya itu tersenyum mendengar perkataan salah satu staf gurunya. Ia kemudian keluar dari kursinya dan berjalan pelan menuju guru muda yang masih berdiri di tempatnya.
"Apa anda sudah melihatnya, Park Sonsaengnim?"
Yoochun menatap tidak mengerti pada namja peruh baya di depannya.
"Kau beruntung bisa menjadi satu-satunya orang di Spamcos yang mengajar mereka, Park Sonsaengnim. Harusnya kau bangga." Ucap kepala sekolah dengan senyum di wajahnya. Yoochun masih terdiam ditempatnya. "Kau tidak tahu kekuatan apa yang―"
"Maaf, kepala sekolah. Saya sudah melihat semua kekuatan Matahari itu."
Lee Sooman terdiam saat Yoochun menyelanya walau masih dengan suara yang sopan. Namja itu kemudian menatap guru muda itu dengan tatapan tajam.
"Anda merencanakan sesuatu kepada mereka?" tanya Yoochun lagi, mengabaikan tatapan terkejut sang kepala sekolah. "Anda merencanakan semua ini sejak awal?"
Kepala sekolah itu berjalan menuju jendela besar di depannya lalu menatap kebawah dimana para murid sedang berhamburan keluar mengingat bel pulang sekolah baru saja dibunyikan. Namja berpakaian rapi yang bisa dipastikan asisten sang kepala sekolah itu terlihat mengikuti pergerakan atasannya.
"Aku hanya ingin mereka saling membantu." Ucap sang kepala sekolah dengan tatapan masih tertuju pada beberapa kelompok siswa di halaman luas di depannya.
"Mengapa harus mereka? Mereka masih anak-anak yang bahkan belum tahu apapun." Sahut Yoochun bersamaan dengan satu langkah kaki maju. "Apa ada sesuatu yang akan mereka hadapi nantinya? Bagaimana caranya agar mereka bisa melalui semua ini, Kepala Sekolah?!"
"Aku memang tidak salah memilihmu sebagai guru penanggungjawab di kelas special itu, Guru Park." Namja paruh baya itu berbicara tanpa mengalihkan perhatiannya pada halaman luas jauh dibawahnya. Beberapa kerumunan membuatnya tersenyum. "Yang bisa kau lakukan adalah memberikan segel kepada Poros Ordinal itu. Sebelum semuanya semakin mengerikan."
Yoochun sedikit terkejut saat sang Kepala Sekolah mengeluarkan sebuah liontin perak dari dalam saku jas-nya. Benda perak itu berkilau menyilaukan saat cahaya matahari sore menyorotnya.
"Tuan!"
Namja berpakaian rapi yang sejak tadi berdiri di sisi meja, kini sedikit berseru, pandangannya mengarah kepada halam luas di lantai bawah. Yoochun seketika juga terkejut saat melihat kerumunan di halaman luas itu. Dan disana ia dapat melihat jelas Kyuhyun yang terdiam di tempatnya disamping Siwon. di depan mereka berdua, berdiri sesosok siswa yang terlihat baru saja melemparkan bungkusan cairan ke tubuh Kyuhyun.
"Itu darah! Kita harus―"
Lee Sooman menahan tubuh asistennya yang sudah akan melesat menuju pintu. Namja paruh baya itu menggeleng pelan lalu menatap penuh arti kearah Yoochun yang masih tercengang di tempatnya saat kerumunan di halaman luas di depannya itu kini mulai bubar dan beberapa murid istimewanya yang lain mulai mendatangi tempat itu.
"YUNHO!"
Yoochun seketika berseru saat melihat tubuh Yunho terlempar akibat lambaian tangan Kyuhyun. Beruntung Donghae dan Yesung berhasil menangkap tubuh temannya itu.
"Kau punya sesuatu yang bisa menghentikan Cho Kyuhyun saat ini, Park Sonsaengnim." Ucap Kepala sekolah sambil menatap tajam Yoochun yang sudah hampir saja beranjak dari tempat itu. "Pergilah kepada para Guards dan pasangkan batu Cardinal disini."
Yoochun menatap tak mengerti saat sang kepala sekolah menyerahkan liontin itu ke tangannya.
"Dan pastikan kau punya cukup Cinta dan kebahagiaan seperti yang disarankan wali murid Kyuhyun. Maka kegelapan dalam diri anak itu bisa dihentikan."
.
Langkah itu terlihat santai namun pelan, menandakan sang pemilik langkah kini sedang berjalan sambil menerawang. Daun-daun kering bertebaran di sekitar kaki berbalut pantofel hitam itu.
"Ikan mokpo ini benar." Sayup-sayup terdengar suara dari arah parkiran siswa. "Dan mencari kebenaran tentang semua ini."
"Daripada mencari kebenaran―" langkah itu akhirnya berhenti di depan beberapa mobil yang masih terparkir di lapangan luas itu. "―lebih baik kalian mencari apa kesalahan di balik semua yang terjadi pada Kyuhyun."
"Park Sonsaengnim?"
Yoochun tersenyum sekilas di balik wajahnya yang nampak lelah untuk membalas sapaan lima murid istimewanya yang kini menatapnya sedikit terkejut.
"Ini sudah menjelang malam, kalian pulanglah!" ucap Yoochun sambil sedikit menampilkan wajah galak saat kelima namja muda di depannya itu membungkuk sopan kepadanya. Matanya kemudian menyorot sosok yang masih terlelap di jok audi putih di sampingnya. "Bagaimana Kyuhyun?"
Kelima muridnya itu terdiam, membuat Yoochun kembali tersenyum tipis.
"Saem, apa yang sebenarnya kau maksud dengan kebahagiaan untuk menghentikan Kyuhyun? Bukankah itu sesuatu yang tidak bisa dengan mudah kita berikan padanya jika kita tidak ada di sekitar Kyuhyun?"
Yoochun melangkah semakin mendekat seraya menelusupkan telapak tangan kirinya ke dalam saku mantelnya saat pertanyaan Hankyung ditujukan padanya. Siwon, Yunho, Donghae dan Yesung memperhatikannya dalam diam. Guru muda itu tersenyum tipis sesaat setelah melirik wajah damai Kyuhyun yang masih terlelap.
"Donghae-ah, hal apa yang menurutmu menyenangkan atau membahagiakan?" tanya Yoochun kini menatap muridnya yang menatapnya dengan mata ikannya yang bingung.
"Hmm, aku suka melihat bintang atau semua yang terang. Itu membuatku senang." Sahut Donghae seadanya, "Memangnya kenapa, Saem?"
Yoochun tersenyum lagi.
"Hankyung, bagaimana denganmu? Hal apa yang membuatmu senang?" tanya Yoochun lagi tanpa menjawab pertanyaan Donghae.
"Aku senang jika tahu sesuatu atau ilmu yang baru."
"Yesung-ah?"
"Aku suka melihat orang yang menentangku menderita. Itu membuatku puas." Jawab Yesung dengan seringaiannya. Yoochun memutar bola matanya sekilas.
Yunho diam sebentar saat pandangan Hankyung jatuh kepadanya. Namja bersorot musang itu mengangkat bahunya santai. "Well, aku senang jika orang-orang yang kucintai juga senang."
Dan kini, baik Yoochun maupun keempat murid disampingnya itu menatap namja yang masih terdiam di tempatnya. Iris kelamnya menatap sendu pada namja manis yang terkulai lemas di jok mobilnya.
"Aku bahagia saat berada di dekatnya." Ucap Siwon lirih masih terpaku pada Kyuhyun di depannya. "Aku bahagia melihat segala ekspresinya."
Semuanya terdiam mendengar kalimat lirih yang jarang sekali keluar dari bibir seorang murid liar dan berandal seperti Choi Siwon. Bahkan angin dingin disana juga hening seolah mendengarkan.
"Aku bahagia memiliki Cho Kyuhyun dalam hidupku."
"Memang benar apa yang dikatakan wali murid Kyuhyun, Park Sonsaengnim. Satu-satunya hal yang bisa menghentikan Kyuhyun adalah Cinta dan Kebahagiaan. Karena dua hal itulah yang telah hilang dari dirinya di masa lalu. Cinta dan Kebahagiaan yang sejatilah yang bisa mengalahkan kegelapan dalam dirinya."
"Dia menginginkan bandul Cardinal ini. Agar bisa menghancurkan Kristal Biru ini sehingga tujuannya tercapai. Namun, jika para Cardinal tahu, jika para Cardinal sadar, maka mereka bisa menitipkan kebahagiaan dan cintanya dalam batu ini untuk menyegel kegelapan Poros Ordinal."
Semua yang ada disana terpana melihat cahaya biru terang yang terpancar dari benda kecil yang kini ada di tangan Yoochun. Cahaya biru indah yang hampir membuat seluruh lapangan parkir itu berbias kilau biru terang.
Yoochun menatap sendu kelima murid istimewanya yang kini menatap tak percaya dengan benda perak kecil yang dibawanya. Guru muda itu menghela nafas saat kalimat Kepala Sekolah dan Minho masih terngiang di telinganya.
"Walau kalian mengucapkannya dengan tidak berminat, namun inilah kebahagiaan sejati kalian. Kalian menyimpannya di liontin ini." ucap Yoochun kini mengarahkan telapak tangannya ke hadapan Siwon. "Kalahkan kegelapan dalam diri Poros Ordinal kalian dengan cahaya kebahagiaan ini."
Siwon menerima benda perak dengan bandul biru yang masih berkilau terang itu dengan ekspresi takjub, begitu juga dengan keempat temannya yang lain. Yoochun menepuk bahu muridnya itu pelan.
"Sekarang kalian pulanglah. Ini sudah hampir melewati jam malam." Ucap Yoochun sambil melangkahkan kakinya menuju area parkir guru. Guru muda itu sudah akan mengeluarkan kunci mobilnya sebelum―
"Park Yoochun Sonsaengnim―" Yoochun menghentikan langkahnya begitu seruan Siwon terdengar di belakangnya. "―Siapa anda sebenarnya?"
Yoochun menoleh sebentar, lalu kembali melanjutkan langkahnya. Seulas senyum terukir di wajahnya.
.
.
THE POWER OF HIGH POLAR
Chapter 12: THE SEAL AND THE TASK
Genre: Romance, Friendship, Fantasy, Supranatural, School-life
Rating: T
Main Pair: WONKYU
Other Pair: YUNJAE, HANCHUL, HAEHYUK, YEWOOK
Warning: YAOI, BOYSLOVE, OOC, TYPOS
Summary:
Kekuatan matahari ada di tangan mereka. Namun persahabatan dan cinta sejatilah yang menjadi kekuatan terbesar yang mereka miliki nantinya.
DON'T LIKE DON'T READ
BabyWonKyu proudly presents
.
.
_Wonkyu_
"Lihatlah~ Mengapa kau selalu ketakutan saat melihatku, Kyunnie sayang?"
CRACK!
Suara cermin yang retak semakin lebar kembali memecah keheningan di salah satu kamar mandi lantai dua itu.
Bruk
Tap tap tap
"Kau tumbuh menjadi namja yang manis, Kyunnie~"
"J-jangan me-mendekat."
Cho Kyuhyun jatuh terduduk di tempatnya. Kakinya terasa sudah tidak mampun menyangga tubuhnya lagi saat kepalanya serasa dipukuli dengan kayu besar dan lehernya tercekik sesuatu yang panas. Sedangkan namja berpakaian sebagai petugas kebersihan itu kini mulai berjalan mendekat dan menundukkan tubuhnya.
"Kami merindukanmu, Kyunnie Baby~"
Slap
Namja bertopi itu terlihat menyeringai saat telapak tangannya ditepis keras oleh namja manis yang terduduk di depannya, begitu ia akan menyentuh wajah yang terlihat memucat itu.
Kyuhyun masih bergetar menahan sakit yang mulai memenuhi kepalanya saat namja di depannya itu kini mulai duduk di depannya.
"Kau ingat paman, kan?" tanya namja itu sambil melepas sarung tangan hitamnya. Kulit tangannya yang pucat menampakkan sebuah tattoo di punggung tangannya. "Kyunnie ingat siapa paman, kan?"
Kyuhyun menggeleng keras sambil mencengkeram kedua sisi kepalanya. Kedua lututnya menempel erat di dadanya sendiri saat punggungnya sudah terpojok di pintu. Kepalanya luar biasa pusing dan seluruh tubuhnya bergetar hebat dan panas.
"Paman hanya meminta satu hal padamu, Kyunnie sayang~" ucap namja itu lagi kini sudah akan menyentuh wajah Kyuhyun yang masih menunduk di tempatnya. "Dimana kau sembunyikan Kristal merah itu, hmm?"
"A-aku akan mem-bunuhmu!"
Namja itu kembali menyeringai melihat wajah menderita di depannya.
"Jika kau tidak mau memberikannya, maka Paman akan…" Namja itu menyeringai saat tangannya yang bertatto aneh itu akan meraih leher Kyuhyun di depannya, sebelum―
Slash!
Tubuh namja itu terpental jauh kebelakang hingga membentur dinding dan memecahkan pot bunga disana. Tangan bertatto yang tadi akan digunakan untuk mencekik leher Kyuhyun itu terlihat dipenuhi cairan berwarna merah. Kyuhyun masih bertahan di posisinya.
"Ternyata mereka sudah meletakkan segelnya, ya? Ckckck~ Mereka sudah bertindak jauh diluar dugaan kami, Cih!" ucap namja itu lagi kini bangkit dan bergerak maju menuju namja manis yang masih menunduk di depannya. "Mereka pikir aku tidak bisa menyentuhmu dengan―"
SLAP
BRUK!
Tubuh namja yang baru saja bangkit itu kembali terpental ke belakang sesaat sebelum kalimatnya selesai.
"Benar." Ucap sebuah suara, "Kau tidak akan pernah bisa menyentuh Ordinalku!"
_Wonkyu_
Tap
Yunho menghentikan langkahnya saat namja yang sejak tadi ada di belakangnya juga berhenti. Sorot musangnya menatap doe-eyes di belakangnya itu tidak mengerti.
"Ada apa, Jae?"
Kim Jaejoong menarik telapak tangannya yang sejak tadi digenggam Yunho. Namja cantik itu menumpukan salah satu tangannya di dinding koridor sementara ia mengatur nafasnya yang mulai patah-patah.
"Kau lelah? Gwaenchana?"
Yunho menatap Ordinal-nya skeptic saat namja manis di depannya itu mengangguk singkat. Namun sang penguasa kekuatan utara itu tahu dengan jelas jika Ordinal-nya itu tidak baik-baik saja. Ia dapat merasakannya saat rasa sakit mulai menjalar di kepalanya.
"Jae―"
"Kau pergilah duluan menyusul Siwon! Pastikan Kyuhyun baik-baik saja." Ucap Jaejoong sambil menatap tajam mata Yunho di depannya. "CEPATLAH, JUNG YUNHO!"
Yunho mau tak mau mengangguk dan segera melesat menuju tujuannya semula setelah menarik tubuh Jaejoong dan mendudukkan Ordinal-nya itu di salah satu bangku yang ada di koridor. Jaejoong menghela nafas panjang saat Yunho sudah tidak terlihat di tikungan koridor.
Sejak Siwon merasakan firasat yang buruk beberapa saat yang lalu di kelas, Jaejoong juga merasakan seluruh tubuhnya bergetar hebat entah karena apa. Keringat dingin terus saja mengalir adri seluruh pori-pori tubuhnya, dan hatinya dipenuhi perasaan yang membuatnya tidak nyaman.
Perasaan ini, adalah ketakutan. Ketakutan yang sama persis seperti saat itu.
Saat tragedy lima tahun lalu.
"Jaejoong-ah, gwaenchana?" seru sebuah suara dan beberapa langkah kaki terdengar kemudian.
Jaejoong berdiri dan mengisyaratkan keenam namja di depannya itu untuk melanjutkan langkahnya. Donghae yang tadi sudah akan menolongnya kini hanya menatapnya tidak mengerti. Hankyung mengangguk dan kembali melanjutkan langkahnya disusul semuanya.
"Donghae, Hyukjae!"
Langkah kaki itu kembali berhenti ketika suara Jaejoong kembali terdengar. Dua orang yang dipanggil menatap namja cantik yang masih terlihat meringis kesakitan itu dengan bingung.
"Aku perlu bantuan kalian berdua."
_Wonkyu_
"Hmm~ Suatu kehormatan bisa bertemu langsung dengan Poros Cardinal."
Choi Siwon menatap tajam dan waspada kepada namja yang kini membungkuk sopan kepadanya. Siwon melirik sekilas pada tangan namja di depannya itu yang masih berdarah. Ia tahu benar, namja yang memakai seragam petugas kebersihan di depannya ini bukanlah orang biasa.
Tap
Blash
Bruk
Siwon kembali menyerang dengan kibasan tangannya, membuat namja di depannya itu kembali terpental.
Tanpa pikir panjang, Siwon memanfaatkan waktu untuk memeriksa keadaan Kyuhyun yang masih meringkuk di belakangnya. Ordinal-nya itu tampak masih tidak bereaksi apapun dengan tatapan kosong ke bawah. Kilau cahaya biru terlihat si sela-sela dadanya. Yang terhalang tangannya.
"Siwon!"
Siwon mengalihkan pandangannya ke arah pintu dan mendapti teman-temannya berdiri disana, menatapnya bergantian dengan namja yang masih berusaha berdiri di depannya.
'Siapa dia?'
'Aku tidak tahu. Yang pasti, aku akan menghancurkannya karena telah membuat Kyuhyun-ku ketakutan!'
Yunho bergegas menuju Kyuhyun yang masih terduduk di sudut ruangan lalu menundukkan diri di depan namja manis itu.
"Kalian memang menakjubkan, para pemilik kekuatan Matahari." Ucap 'petugas kebersihan' itu saat ia sudah bisa berdiri lagi. Semua yang ada diruangan itu memasang posisi siaga. "Tapi, dengan kondisiku seperti sekarang, kurasa aku tidak bisa melawan kalian."
"Kau akan membayar semuanya, Brengsek!" seru Siwon bersamaan dengan Hankyung dan Yesung yang kini maju dan akan menerjang sebelum―
'BERHENTI! KALIAN TIDAK INGAT UNTUK MENYEMBUNYIKAN KEKUATAN DI DEPAN KYUHYUN?! DIA MASIH ADA DAN MASIH SADAR!'
Bola api dan kepingan es itu menghilang begitu saja saat tiba-tiba saja Ryeowook berdiri di tengah sambil merentangkan tangannya. Siwon menurunkan tangannya saat Yesung menarik Ordinal-nya itu dari tempatnya.
Yunho masih beratahan di posisinya duduk di depan Kyuhyun sambil menempatkan kedua telapak tangannya menutupi kedua telinga Kyuhyun.
"Cepat atau lambat―" ucap namja asing itu saat tubuhnya sudah berdiri sepenuhnya, wajahnya yang sedikit tertutup topi terlihat menyeringai sambil mengarahkan telapak tangannya yang berdarah mendekat ke wajahnya lalu menjilati darah yang mengalir disana. "―Dia akan mengetahuinya. Dan saat hal itu terjadi…"
Namja itu mundur beberapa langkah masih menatap keenam siswa didepannya, lalu pandangannya beralih kepada Kyuhyun yang masih bergeming di tempatnya.
"…kalian akan menyesal."
Slam!
Hankyung dan Yesung melesat ke depan saat namja asing itu bergerak cepat keluar melalui jendela di belakangnya. Namun, saat dua namja itu sudah sampai di tepi jendela, disana sudah tidak ada apa-apa.
Siwon terdiam sejenak di tempatnya menatap jendela yang sudah kosong itu. Kata-kata namja asing itu sedikit membuatnya―
"Kau takut?"
Siwon mengalihkan perhatiannya kepada Yunho. Namja bersorot musang itu terlihat menopang kepala Kyuhyun yang sudah lemas di depan dadanya. Siwon segera mengambil alih tubuh Ordinal-nya itu sambil melayangkan tatapan bertanya kepada Yunho.
"Aku baru saja menghapus ingatannya. Kau tenang saja." Ucap Yunho seakan mengerti apa yang sedang dipikrkan Siwon.
Siwon menatap iris coklat caramel yang setengah terbuka di depannya. Nafas tubuh dalam pelukannya itu terlihat patah-patah dan berat.
"Nona Cho?" ucap Siwon pelan sambil menepuk pipi pucat itu agar segera sadar.
Yunho beranjak menuju wastafel dan berdiri menatap cermin retak di depannya. Kedua tangannya bertumpu pada meja washtafel. Perlahan, cermin retak itu kembali ke bentuknya semula. Dari cermin yang sudah normal itu, Yunho bisa melihat aliran kecil cairan berwarna merah pekat mengalir di sudut bibirnya.
"Yunho?!"
Hankyung berseru saat menyadari apa yang terjadi pada temannya, semua yang ada di sana menatap Yunho dengan tatapan khawatir dan bingung sementara namja bermata musang itu hanya tertawa ringan sambil mengusap darah yang mengalir dari mulutnya.
"Terlalu hebat, bukan?" ucap Yunho sambil menekan kran air lalu membasuh tangannya yang terkena darah disana, lalu mengusap mulutnya sendiri untuk menghilangkan darah dari sana. "Dia tidak melakukan apa-apa tapi berhasil melukaiku seperti ini."
Siwon menatap tidak mengerti saat Yunho mendudukkan diri di depannya dan Kyuhyun yang masih lemas. Yesung menghentikan tangan Ryeowook yang sudah akan maju berniat untuk menyembuhkan luka apapun yang diderita Yunho.
"Apa yang terjadi padamu?" tanya Siwon kepada Yunho yang kini menatap Kyuhyun yang masih terdiam di dalam pelukan Siwon.
"Sesuatu dalam dirinya mencoba melawan saat aku menghapus ingatannya tadi, Siwon." Jawab Yunho sambil menatap tajam Siwon di depannya. "Apapun itu, kekuatannya sangat besar dan mengerikan."
Heechul terlihat terkesiap di tempatnya saat jemari Kyuhyun mulai bergerak. Hankyung menarik lengan Ordinal-nya agar lebih mendekat kepadanya.
"Sekarang aku mengerti mengapa Park Sonsaengnim memberikan liontin itu sebagai segel. Mungkin jika benda itu tidak ada, aku bisa saja terbunuh tadi." Lanjut Yunho sambil mengusap sudut bibirnya dari darah yang masih mengalir.
Semua yang ada di ruangan itu menatap namja manis yang kini mulai membuka matanya lebih lebar. Tatapan mereka adalah tatapan yang tidak dapat diartikan dan penuh dengan… ketakutan.
"Wonnie Hyung?"
_Wonkyu_
"Selamat siang dan terima kasih, Sonsaengnim~"
Suasana salah satu kelas di koridor lantai satu itu kembali ramai dan heboh begitu sang guru keluar dari kelas dengan label 1-D di atas pintunya. Beberapa siswa segera saja berhambur keluar untuk menikmati istirahat pertama di hari itu.
"Aku keluar dulu. Aku sudah tidak tahan ingin ke kamar mandi~"
Cho Kyuhyun terkikik pelan melihat Ryeowook berlari secepat kilat keluar kelas sambil menggeliat aneh menahan sesuatu yang sejak tadi ditahan teman sebangkunya itu. Namja manis itu membereskan beberapa alat tulis dan bukunya yang berserakan diatas meja sisa-sisa pelajaran Matematika yang sangat disukainya.
"Kyu, bisakah kau jelaskan nomor dua ini? Penjelasan Kim Sonsaengnim sama sekali tidak masuk ke dalam kepalaku!"
Kyuhyun kembali ke posisi duduknya saat Lee Jonghyun tiba-tiba duduk di bangku depannya dan menyodorinya buku tulisnya.
"Ya, Jonghyun-ah! Bukankah kau yang menanyakan soal ini ke Sonsaengnim tadi?" ucap Kyuhyun sambil menatap Jonghyun yang mulai nyegir salah tingkah di depannya. "Mengapa kau bertanya lagi kepadaku, eoh?"
"Penjelasan guru tua itu sama sekali tidak jelas, Kyu. Aku lebih suka dijelaskan oleh Kyuhyun Sonsaengnim!"
"HAHAHAHA!"
Kedua orang itu tertawa bersama kemudian sibuk dengan soal Matematika di depan mereka. Kyuhyun terlihat menerangkan dengan serius, sementara Jonghyun mendengarkan dan memperhatikan tangan Kyuhyun yang menulis beberapa angka di bukunya. Beberapa siswa yang masih ada disana juga terlihat bergabung dan beberapa lagi mulai menyalin tulisan angka-angka yang ada di papan tulis.
Mereka murid yang giat.
Ya. Tentu saja, karena besok mereka akan melaksanakan kegiatan Ulangan Mid-Semester mereka. Ada alasan dibalik giatnya setiap siswa, mana mungkin mereka giat jika tidak ada kegiatan 'mengerikan' yang disebut ulangan itu.
Tap tap tap
Kyuhyun menghentikan kegiatan menulisnya sementara Jonghyun yang tadi serius mendengarkan kini menatap temannya itu aneh.
"Waeyo, Kyu?"
"Diamlah di tempatmu dan katakan padanya bahwa aku sudah pergi, arra?!"
Jonghyun melongo mendengar kalimat cepat dari bibir Kyuhyun. Ia sudah akan menanyakan apa maksud perkataan temannya itu sebelum―
"Nona Cho~ Hei, kalian lihat Nona Cho?"
Semua perhatian kini beralih kearah pintu dimana sesosok namja tinggi dengan seragam awut-awutan seenaknya masuk dan berdiri di depan kelas sambil mengedarkan mata ke seluruh penjuru kelas yang masih hening menatapnya.
"Hei, kau! Kau tahu dimana Nona Cho-ku?"
Choi Siwon mengangkat sebelah alisnya saat namja yang ditunjuknya itu menggeleng kaku di tempatnya dengan pandangan takut kearahnya. Namja tampan itu bergerak menuju bangku yang biasanya ditempati Kyuhyun.
"Dimana Nona Cho dan temannya yang pendek itu? Uhm, Lee Jonghyun?"
Jonghyun seketika berdiri dari kursinya dan menatap Sunbae di depannya takjub.
"Si-siwon Sunbae, kau tahu namaku?" ucap Jonghyun terbata dan melupakan apa yang tadi dilakukannya begitu saja. "Aku tidak menyangka murid popular sepertimu bisa tahu namaku. Kau tahu darimana, Siwon Sunbae?"
Siwon menatap datar namja di depannya sambil memutar bola matanya malas. "Itu tidak penting. Sekarang katakan padaku dimana Nona Cho-ku!"
Jonghyun sudah akan mengatakan sesuatu tepat sebelum sebuah cubitan mendarat di kakiknya.
"K-kyuhyun maksudmu? D-dia―dia keluar bersama Ryeowook t-tadi. Hehe."
Kyuhyun menghela nafas lega mendengar perkataan Jonghyun. Namja manis yang sejak tadi meringkuk dibawah mejanya itu kini merangkak pelan kearah samping. Dia hanya perlu melakukannya dengan lembut dan cepat. Maka, ia akan terbebas dari namja mesum itu dan bisa istirahat tanpa gangguan bersama PSP-nya tercinta yang akhir-akhir ini jarang tersentuh olehnya.
"Benarkah?"
"Y-ya. Begitulah~"
Kyuhyun bersorak riang dalam hati dan berterima kasih kepada Jonghyun yang telah bersedia menolongnya dari―
"Benarkah itu, Nona Cho?"
Oh, sial!
Kyuhyun membeku saat wajah yang sangat ingin dihindarinya itu kini terpampang jelas di depan wajahnya yang masih meringkuk di bawah meja. Wajah tampan namun menjengkelkan itu tersenyum miring menatapnya.
"Hehe~ Annyeong, Wonnie Hyung~" ucap Kyuhyun salah tingkah sambil menampilkan senyum gugupnya saat Siwon juga ikut masuk ke kolong mejanya. Namja manis itu hendak menjauh, namun tidak ada jalan keluar baginya karena tembok di belakangnya dan meja yang ada di atasnya.
"Kau berusaha bersembunyi dariku, Nona Cho?" tanya Siwon sambil mencondongkan tubuhnya mendekat hingga membuat namja manis di depannya itu gelagapan.
"A-aniyo!" shut Kyuhyun cepat-cepat sambil tetap berpikir bagaimana cara keluar dari kolong meja ini.
"Lalu mangapa kau ada di bawah meja ini, hmm?"
"Aku… aku se-sedang mencari alat tulisku yang terjatuh, Hyung. Ya, tadi ada di sekitar sini. Dimana ya~"
Siwon tidak bisa menahan tawanya melihat ekspresi gugup di wajah Kyuhyun yang begitu menggemaskan. Sedangkan Kyuhyun, namja manis itu kini memutar otak sambil terus mengedarkan pandangan di sekeliling kolong mejanya berpura-pura mencari alat tulisnya yang bisa ia pastikan tidak kan pernah ditemukan sampai kapanpun.
"Aku akan membantumu~"
"Eh. Tidak perlu, Wonnie Hyung!" sahut Kyuhyun cepat-cepat sesekali memundurkan tubuhnya agar tidak terlalu dekat dengan SIwon yang semakin masuk ke kolong mejanya. "A-ada perlu apa kau kesini?! Bukankah kantin ada di samping kelasmu?!"
"Aku kesini untuk menemanimu, Nona Cho. Bukankah sudah berulang kali kukatakan bahwa aku akan selalu berada di sisimu?"
Kyuhyun terdiam mendengar kalimmat panjang Siwon. Namja manis itu merengut lucu kemudian.
"Tapi jika terus-terusan begini―" ucap Kyuhyun pelan sambil menundukkan wajahnya yang dapat Siwon lihat sedikit merona merah. "―orang-orang akan mengira kita adalah―"
"Sepasang kekasih, begitu?" sahut Siwon sambil tersenyum geli. Kyuhyun menatapnya dengan iris coklat karamelnya yang membesar dan kedua pipi gemuknya yang merona. "Kau kan memang kekasihku, Nona Cho~"
Pletak!
Siwon meringis pelan saat Kyuhyun menjitak kepalanya 'lembut'. Namja manis itu memalingkan wajahnya yang sudah memerah sempurna.
"Ja-jangan bicara sembarangan, Pa-pabbo~"
Siwon melirik wajah merah di depannya dan sukses terkejut melihat rona merah dipipi gemuk Kyuhyun. Ia kemudian tersenyum lembut tanpa Kyuhyun menyadarinya karena namja manis itu masih sibuk berpaling menyembunyikan rona wajahnya.
"Ah, lihat! Itu alat tulis yang kau cari, Nona Cho!"
"Eh?"
Cup
Siwon tidak bisa untuk tidak meraih wajah manis yang masih merona di depannya dan mendaratkan sebuah ciuman di bibir ranum Kyuhyun. Kyuhyun yang terkejut dan tidak bisa lari kemanapun, kini hanya bisa terdiam saat Siwon semakin menarik tengkuknya untuk memperdalam ciumannya.
Namja manis itu tidak menyadari kilau biru indah yang terpancar dari liontin yang masih terpasang rapi di lehernya.
'Kuberikan kepadamu, Ordinal-ku. Kuberikan padamu kebahagiaan selalu melingkupiku saat berada di dekatmu dan saat melihat wajahmu. Kuberikan untuk menutupi kegelapan dalam dirimu, Nona Cho~'
"Hei, Jonghyun-ah. Apa yang mereka lakukan dibawah sana?"
"Entahlah. Sepertinya mereka sedang mencari alat tulis yang terjatuh."
_Wonkyu_
Suasana di halaman belakang Spamcos High School yang luas itu kini terlihat sejuk walau sedikit dingin. memang awal-awal musim gugur seperti ini suhu udara Korea Selatan memang belum mencapai dingin yang maksimum. Membuat beberapa siswa sekolah All-boys elit itu kini lebih banyak menghabiskan jam-jam istirahat mereka yang kata mereka sangat kurang itu di halaman luas dengan aksen perbukitan kecil yang dihiasi banyak pohon maple dengan daun coklat keemasan yang berguguran.
Kim Heechul memperhatikan namja di sampingnya yang 'masih' asyik dengan buku di tangannya. Wajahnya yang serius dan sedikit dihiasi uap-uap putih dari nafasnya terlihat semakin menarik perhatian namja cantik yang sejak tadi memperhatikan namja cina itu diam-diam.
Heechul menengadahkan wajahnya dan menatap sinar redup bola kuning besar yang tersembunyi diantara awan-awan, lalu memejamkan matanya. Dan saat matanya terbuka bersamaan dengan kilatan terang putihnya, sinar itu semakin bersinar dan membuat suasana yang tadinya sedikit dingin kini mulai menghangat.
Tan Hankyung menghentikan kegiatan membacanya saat merasakan suasana di sekelilingnya menghangat. Sang pemegang kekuatan Selatan itu menatap Heechul yang duduk di sampingnya.
"Kau kedinginan?" tanya Hankyung pendek sambil membenarkan letak kacamatanya.
Heechul terlihat salah tingkah di tempatnya sambil memfokuskan matanya di buku yang sejak tadi pura-pura dibacanya. "Ti-tidak! A-aku hanya merasa kau yang kedinginan ka-karena banyak uap y-yang keluar da-dari nafasmu!"
"Uap nafas bukan sepenuhnya tanda kedinginan." Ucap Hankyung masih menatap datar namja di sampingnya. "Itu adalah salah satu bentuk kondensasi udara pernafasan karena suhu udara yang rendah di sekelilingnya."
Heechul merengut sambil menghela nafas. "Kalau tidak mau hangat ya sudah! Aku akan membuat bola kuning itu menghilang da―"
Bruk
"Tidak perlu menggunakan kekuatanmu untuk membuat hangat, Kim Heechul." Ucap Hankyung cepat dan berhasil menyela kalimat Heechul. Namja Cina itu kini menjatuhkan dan menyandarkan kepalanya ke bahu namja cantik yang kini menatapnya tak percaya. "Begini saja sudah hangat."
Dan, Heechul hanya bisa merasakan aliran darah semakin banyak di wajahnya, hingga membuat roma merah itu semakin jelas terlihat. "Pa-pabbo."
"Lihat mereka itu! Romantis, eoh?"
Lee Hyukjae terkikik kecil mendengar kata-kata Donghae di sampingnya. Sudah sejak tadi mereka duduk di dahan pohon maple ini dan memperhatikan Hankyung dan Heechul di bawah tanpa sepengetahuan kedua namja itu pastinya.
"Hankyung Hyung itu, walau terlihat cuek, namun ternyata dia orang yang romantis, ya?"
Donghae mengangguk masih sambil tersenyum geli melihat Heechul yang salah tingkah. Namja berjuluk ikan itu kini mulai memetik beberapa daun maple kekuningan disekitarnya lalu menjatuhkannya bersama daun-daun lain yang berguguran.
"Kita bisa ketahuan jika terus disini." Ucap Hyukjae sambil menatap Donghae yang masih asyik menjatuhkan beberapa daun kering, "Bisa-bisa Hankyung Hyung mengubah kita menjadi manusia salju jika mengira kita mengintip disini, Hae."
Donghae menghentikan kegiatannya lalu menatap namja yang duduk di sampingnya. Penguasa kekuatan Timur itu kemudian menggenggam lengan Ordinal-nya erat.
"Hae?"
"Apapun yang terjadi, aku akan melindungimu, Hyukkie." Ucap Donghae dengan raut serius, sementara Hyukjae hanya terdiam dengan wajah memerah. "Termasuk jika Hankyung Hyung mengubah kita menjadi boneka salju, aku melawannya dengan kekuatanku! Aku akan melindungimu!"
Hyukjae tertawa sambil menjitak kepala Donghae pelan hingga membuat Cardinal-nya itu sedikit terhuyung di tempatnya.
"Kata-katamu itu sudah seperti Choi Siwon saja, Hae! Kau memang ahli menirunya, hahaha!" ucap Hyukjae sambil menutup mulutnya menahan tawa.
"Apapun untukmu, Nona Lee~"
"Hei, aku tidak mau dipanggil seperti itu!"
"HAHAHAHAHA!"
"KALIAN BERDUA BERISIK!"
Seru Yesung sambil mengibaskan tangannya dan sukses membuat pohon besar di depannya itu bergoyang dan―
Bruk
Bruk
Hankyung segera bangkit dan menarik Heechul sesaat sebelum dua tubuh itu mendarat di tempatnya semula, dan menatap dua orang yang baru saja terjatuh dari atas pohon itu dengan tidak elit.
"Apa yang kalian lakukan diatas, hah?" seru Heechul sambil berkacak pinggang di depan kedua Hoobae-nya yang masih belum bangkit dari posisi jatuhnya.
Hyukjae membuka matanya dan menemukan dirinya dan Donghae jatuh dalam posisi yang―ehem―
"Ah! Mianhae, Hae."
Dongahe menahan pinggang Hyukjae yang sudah akan bangkit dari atas tubuhnya, membuat namja bergummy smile itu menatapnya dengan muka memerah sempurna.
"Apa yang kau lakukan, Yesung Hyung?!" seru Ryeowook yang sudah akan bangkit untuk menolong Donghae dan Hyukjae, namun pergerakannya terhenti saat Yesung menahan lengannya. "Lepaskan! Mengapa kau suka sekali melihat orang lain menderita hanya untuk kesenanganmu sendiri, huh?!"
Yesung hanya menatap datar namja mungil yang masih mengomel padanya dengan wajah kesal. Namja berkepala besar itu kemudian mengangkat bahunya santai.
"Itu memang kesenanganku, Wookie-ah. Kau keberatan memiliki Cardinal dengan sifat buruk sepertiku?"
Ryeowook terdiam sambil menatap lengannya yang masih ditahan Yesung.
"Api memang punya sifat merusak dan menghancurkan, bukan? Kau tidak suka? Maka pergilah, aku tidak akan menahanmu." Ucap Yesung lagi dengan wajah mendung sambil melepaskan cekalannya di lengan Ryeowook.
Ryeowook menahan tangan yang sudah akan terlepas dari lengannya. Namja mungil itu kemudian tersenyum lembut.
"Kalau begitu aku tidak akan pergi." Ucapnya berhasil membuat Yesung menatapnya terkejut. "Jika kau merusak dan menghancurkan sesuatu nanti, maka aku akan memperbaikinya untukmu, Hyung."
Yesung kembali mengembangkan senyumnya lalu mengacak surai hitam di depannya. Keduanya kembali memperhatikan Donghae dan Hyukjae yang masih bertahan di posisinya. "Setidaknya perbuatanku membuat kedekatan si Ikan dan si Monyet semakin baik."
"Dasar Hyung kepala besar itu suka sekali melihat yang lain menderita. Aish~"
Grep
Yunho sudah akan bangkit dari posisi duduknya dan hendak menolong dua temannya yang baru saja terjatuh dari atas pohon, namun pergerakannya terhenti saat lengan blazernya ditarik oleh seseorang.
"Jaejoong-ah?" ucap Yunho terkejut saat tiba-tiba Jaejoong muncul di belakangnya tanpa is sadari. "Kau darimana? Kau menghilang di jam pelajaran ketiga hingga istirahat."
"Kau baik-baik saja?" tanya Jaejoong dengan nada bicaranya yang datar seperti biasa. Doe-eyes itu menatap lurus ke mata musang di depannya. "Kau terluka?"
Yunho mengambil alih tangan pucat itu lalu tersenyum.
"Apa aku terlihat sedang terluka? Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja, Jae." Ucap Yunho mau tak mau tersenyum melihat sorot khawatir di mata Jaejoong.
"Kau terluka. Aku bisa merasakannya."
"Kau mengkhawatirkanku? That's sweet, Jae~"
Yunho tertawa sambil mengacak surai lurus hitam Jaejoong di depannya. Sedangkan Jaejoong hanya memalungkan wajahnya yang mulai memerah dengan sedikit salah tingkah. Tawa Yunho berhenti saat melihat wajah Ordinal-nya yang kembali suram.
"Kau yang menyelamatkanku. Aku tahu itu, Jae. Kau jenius, memanfaatkan kekuatan cahaya dan waktu milik Donghae dan Hyukjae." Ucap Yunho sambil meletakkan kedua tangannya di atas bahu kecil Jaejoong yang kini mulai menatapnya.
"Jika hanya mengandalkan kekuatan segel, kau tetap bisa terbunuh." Ucap Jaejoong berusaha menyingkirkan tangan Yunho dari bahunya. "Lagipula aku melakukannya untuk keselamatanku sendiri."
Yunho kembali tersenyum lembut melihat ucapan malu-malu di depannya. Ia tahu benar bahwa Jaejoong sedang berbohong. Dan hatinya tidak berhenti berbunga-bunga menyadari betapa pedulinya Ordinal-nya ini padanya sekarang.
"Terima kasih telah melindungiku, Jae."
Jaejoong menatap sorot musang di depannya terkejut saat kalimat bernada pelan itu terdengar di telinganya. Dan tubuhnya serasa tidak bisa bergerak saat jemari Yunho mulai meraih leher belakangnya dan mendekatkan wajahnya. Begitu nafas hangat itu sudah terasa di depan wajahnya, Jaejoong memejamkan matanya sebelum―
"HEI, KALIAN BERDUA! CEPAT KEMARI SIWON DAN KYUHYUN SUDAH DATANG!"
Yunho tersenyum tipis saat Jaejoong mendorong tubuhnya keras dan mendahuluinya menuju tempat teman-temannya yang lain berkumpul.
_Wonkyu_
"MWO?! DITOLAK?!"
Hankyung mengangguk singkat mendengar seruan Kyuhyun dan Ryeowook yang kini menatapnya dengan tatapan kecewa. Yunho yang duduk di sampingnya mengambil alih kertas-kertas di tangannya kemudian.
"Dia adalah masterpiece di bidangnya. Tidak semua orang bisa memintanya menjadi seorang guru atau instruktur." Ucap Yunho sambil menunjukkan beberapa lembar kertas yang berisi beberapa foto seorang namja kepada teman-temannya yang lain yang duduk melingkar.
Semua murid istimewa itu menghela nafas mendengar penjelasan Yunho. Sudah sejak beberpa menit yang lalu mereka duduk melingkar di bawah salah satu pohon maple di lapangan berumput itu. Beberapa siswa yang lain juga nampak menghabiskan waktu istirahat di halaman belakang luas itu.
"Hebat sekali Park Sonsaengnim itu, memberi tugas yang sangat sulit seperti ini~"
Heechul mengeluh keras di tempatnya diikuti anggukan Hyukjae dan Ryeowook di tempatnya.
"Lagipula untuk apa mencari instruktur musical di luar? Memangnya Park Sonsaengnim tidak bisa mengajar kita tata cara musical untuk konser musim gugur?" tanya Ryeowook kepada Hankyung dan Yunho yang duduk di depannya.
"Kau ingat tantangan geng norak dan murahan tempo hari, Ryeowook-ah?" tanya Donghae balik dengan wajah sedikit aneh saat mengucapkan kalimatnya. "Sepertinya Park Sonsaengnim tahu mengenai tantangan ini."
"Lalu?" sahut Kyuhyun sambil berusaha menyingkirkan lengan Siwon yang bertengger di atas bahunya. semua yang ada disana menatap pasangan poros itu dengan sorot yang sudah kebal.
"Maka dari itu, Nona Cho-ku yang paling manis~" ucap Siwon sambil menahan tangan Kyuhyun yang masih berusaha menyingkirkan tangannya. "Kita harus segera mendapatkan masterpiece itu sebelum geng Cheerleader itu mendahului kita."
Hankyung mengangguk di tempatnya sementara Yunho berusaha menahan tawanya melihat Kyuhyun yang menatap namja disampingnya dengan tatapan jengkel setengah mati.
"Kuberitahu kalian―" kali ini Yesung yang menyahut dengan wajah anehnya yang biasa. "Orang yang sedang kita perjuangkan untuk menjadi instruktur musical kelas kita ini adalah mantan instruktur pribadi Big Bang. Hal itu yang membuat geng sialan itu memenangkan konser tahunan Spamcos tiap tahunnya."
Beberapa anggukan paham terlihat di wajah mereka. Kini mereka kembali memandangi beberapa lembar foto yang tergeletak di depan Hankyung dan Yunho.
"Dia masih muda, kukira. Mungkin tidak terpaut jauh dengan umur Park Sonsaengnim."
Ucapan Heechul membuat Kyuhyun menghentikan kegiatannya menyingkirkan lengan Siwon yang kini melingkar di pinggangnya. Namja manis itu meraih satu lembar foto lalu menatapnya.
"Sepertinya aku mengenal―"
Sret
Kyuhyun menghentikan kalimatnya begitu Yunho menarik foto itu dari tangannya dan mengumpulkannya bersama foto-foto yang lain lalu memasukkannya kembali ke dalam map.
"Sudah cukup, Kyu. Jangan terlalu memikirkan namja ini~" ucap Yunho sambil tersenyum lebar.
Kyuhyun cemberut sesaat namun pada akhirnya mengangguk dan kembali meneruskan kegiatannya yang tertunda, yaitu menyingkirkan lengan Siwon dari pinggangnya. Siwon menatap Yunho sekilas dan teman sekelasnya itu menggeleng pelan lalu mengalihkan tatapannya ke Jaejoong yang duduk tak jauh darinya. Namja cantik namun pendiam itu lebih memilih berpaling.
"Apa ini berarti kita gagal menjalankan tugas dari Park Sonsaengnim?"
"Kita tidak boleh menyerah begitu saja." Sahut Hankyung menanggapi pertanyaan Hyukjae. "Kita harus mencoba cara lain, sebelum Big Bang mendahului kita."
"AH! Aku tidak mau Big Bang mengalahkan kita! Apalagi membayangkan wajah Jiyoung yang mengejek kekalahan kita~" Heechul kembali mengeluh sambil meremas daun-daun yang berguguran di sekitarnya.
"Kemarin aku, Yunho, Siwon, Donghae dan Yesung sudah mencoba ke kediamannya dan hanya ditemui pelayannya dan landsung ditolak." Ucap Hankyung lagi sambil menghela nafas dan melepas kacamatanya. "Mungkin karena kami hanya anak SMA yang terlihat tidak penting."
"Tapi tenang saja~" sahut Yunho dengan senyumnya lagi membuat wajjah-wajah suram di sekelilingnya menatapnya, "Ada satu lagi cara yang bisa kita lakukan untuk mendapatkan instruktur itu."
Semuanya menatap namja bermata musang itu dengan tatapan penasaran. Kyuhyun dan Siwon yang sejak tadi sibuk dengan dunianya sendiri kini pun mulai menghentikan kegiatannya, begitu pula Jaejoong yang sejak tadi terlihat melamun, kini mulai menatap penasaran kepada cardinal-nya itu.
"Dan kurasa ini tujuan Park Sonsaengnim menyuruh kita berpasangan."
_Wonkyu_
"Mereka anak-anak yang baik. Aku bisa merasakan kemurnian persahabatan dan cinta diantara mereka." Ucap sebuah suara di ruangan yang terletak jauh diatas gedung Spamcos yang berbatasan langsung dengan halaman belakangnya yang luas. "Benarkan, Park Sonsaengnim?"
Yoochun mengangguk singkat sambil tersenyum menatap kelompok siswa yang terlihat sedang berdiskusi di halaman luas yang terlihat jelas dari tempatnya berdiri saat ini.
"Apa tidak apa melakukan semua ini, Kepala Lee?" tanya Yoochun sambil mengalihkan pandangannya kepada namja paruh baya yang berdiri di sampingnya. "Maksudku, apa tidak apa-apa untuk Kyuhyun?"
Lee Sooman tersenyum masih menatap halaman luas di depannya. Namja paruh baya itu kemudian menatap guru muda di sampingnya.
"Mereka sudah bergerak, Guru Park. Bahkan mereka berani muncul di Spamcos kemarin. Kita tidak bisa tinggal diam bahkan sampai membiarkan mereka membawa Kyuhyun."
"Tapi bagaimana jika jika saat disana, mereka―"
"Kau tidak perlu khawatir, Park Yoochun." Sela Kepala sekolah lagi masih dengan senyum di wajahnya. "Saat tahu siapa mereka sebenarnya, 'Dia' akan melakukan hal yang sama seperti yang kau lakukan."
"Yoochun menatap naja di depannya itu tidak mengerti. "Hal yang sama?"
"Ya, hal yang sama." Ucap Kepala sekolah lagi sambil kembali menatap ke arah halaman belakang sekolahnya. "Melindungi mereka."
Yoochun menghela nafas sambil mengikuti arah pandang sang Kepala Sekolah. Guru muda itu menatap sendu kesepuluh murid istimewanya yang masih asyik berdiskusi. Ya, entah karena apa. Sesuatu jauh di dalam hatinya memerintahnya untuk peduli dan melindungi anak-anak yang baru di kenalnya beberapa bulan itu.
"Apakah mereka menyadari bahwa mereka akan menghadapi bahaya besar, sebentar lagi?" tanya Yoochun kalem dengan pandangan lurus ke depan. Surai hitamnya bergerak pelan saat angin yang berhembus sedikit menerbangkannya.
"Tidak." Sahut kepala sekolah. "Tapi beberapa dari mereka mungkin bisa merasakannya. Mereka dikaruniai kekuatan Matahari. Kau tidak perlu terlalu mengkhawatirkan mereka, Park Sonsaengnim."
Yoochun mengangguk lagi. Seulas senyum tergambar di wajahnya saat samar-samar dilihatnya Kyuhyun sedang melayangkan jitakan ke kepala Siwon.
"Lagipula, jika terjadi sesuatu, aku sudah mengutus mereka berlima untuk menjaga mereka."
Yoochun menolehkan kepalanya ke belakang mengikuti arah pandang sang kepala sekolah. Kelima siswa yang sejak tadi berdiri disana itu kini mengangguk tegas saat Yoochun menatapnya.
"Mulai sekarang, jangan pernah lepaskan pandangan kalian pada Cardinal dan Ordinal kalian, Guards."
_Wonkyu_
"APAAAA?! PESTA DANSAA?!"
Donghae dan Yesung menutup telinga mereka mendengar teriakan keempat namja di depannya. Sementara Hankyung, Yunho dan Siwon tetap tenag di tempatnya. Mereka sudah menduga bahwa reaksi ini akan datang.
"Ma-maksudmu kita harus berpasangan menghadiri pesta dansa yang diadakan orang itu?" ucap Ryeowook dengan wajah tidak percaya.
"Bukankah kita semua namja? Bagaimana mungin sepasang namja diijinkan masuk ke pesta dansa?!" lanjut Hyukjae sambil menatap meminta penjelasan kepada kelima Cardinal di depannya.
"Dan ja-jangan bilang salah satu dari pasangan harus crossdressing! Kalian tidak akan bertindak sejauh itu, kan?" kali ini Kyuhyun yang berbicara dengan sedikit terbata.
"Aku tidak percaya ini." ucap Heechul dengan tatapan mata yang sulit diartikan. "TAPI INI SEMUA DAEBAK! AKU SUDAH TIDAK SABAR MENCOBA CROSSDRESSING!"
Semua yang ada disana hanya melongo dan sweatdrop melihat tingkah Heechul. Hankyung mengusap wajahnya pelan melihat kelakuan Ordinal-nya. Jaejoong hanya menghela nafas panjang di tempatnya dan tetap diam walau jelas sekali terlihat bahwa namja cantik itu juga terkejut setengah mati.
"Apa tidak ada acara lain?"
"Hanya ini satu-satunya cara agar bisa bertemu langsung dengannya dan memintanya menjadi instruktur kita secara langsung." Ucap Yunho menimpali kalimat putus asa Kyuhyun dengan sebuah senyuman lebar.
"No no no no! Aku tidak mau ikut jika begini. Tidak mau, TITIK!" lanjut Kyuhyun dengan raut muka tegas. "Mana mungkin aku berdandan seperti yeoja. Iuuuh~"
"Aku juga!" seru Ryeowook meniru pendapat teman sebangkunya.
"Baiklah~ Tapi kita harus pasrah jika Big Bang mendapatnya lebih dulu." Sahut Siwon dengan senyuman miringnya. Kyuhyun bergidik ngeri melihat senyuman berbahaya itu.
Ini dilemma. Ryeowook, Kyuhyun, dan Hyukjae saling bertukar pandang bingung sementara yang lain masih bertahan di tempatnya. Heechul masih terlarut dalam dunianya sendiri membayang bagaiman jika ia mengenakan gaun seperti Cinderella, sepertinya.
"Aku tidak mau Big Bang mengalahkan kita."
"Aku juga. Tapi bagaimana ini~"
Hyukjae menatap dua Hoobae di depannya dengan tatapan pasrah.
"Jadi?" ucap Donghae memecah diskusi kecil di depannya.
"Jadi~ Jadi~ Apanya, Hae Hyung?!" sahut Kyuhyun dengan wajah galak hingga membuat Donghae sedikit terlonjak di tempatnya. Yunho dan Siwon tertawa pelan. "Bagaimana jika kalian yang crossderssing? Kurasa itu ide yang bagus! Aku mau pergi jika begini."
Donghae melirik keempat temannya yang lain. Yunho dan Siwon hanya menyeringai menatapnya sementara Hankyung dan Yesung terlihat menahan tawa.
"Itu tidak masalah." Jawaban santai Siwon membuat Kyuhyun, Ryeowook, Hyukjae, dan Heechul, bahkan Jaejoong menatapnya dengan terkejut. "Tapi setiap dari kkalian tetap harus berpasangan dengan kami."
"Baiklah! Itu juga tidak masalah un―"
Sret
Ucapan angkuh Kyuhyun terhenti saat Hyukjae menarik lengannya untuk mendekat kepadanya dan Ryeowook.
"Ada apa?!"
"Errr, Kyu~ Coba pikir sekali lagi." Ucap Hyukjae pelan sambil sesekali menatap kelima namja yang masih santai di belakangnya. Kyuhyun menatapnya tidak mengerti. "Bayangkan jika mereka memakai gaun dan berjalan sambil mengamit lenganmu. A-apa menurutmu itu tidak aneh?"
Kyuhyun membayangkan bagaimana dirinya sedang berdiri di tengah lantai dansa dengan Siwon sebagai seorang 'yeoja' tinggi dengan gaun putih tanpa lengan yang menampilkan lengan tangannya yang berotot besar dan sedang berdansa dengannya. Lalu semua orang akan menatapnya aneh dan berkomentar bahwa betapa buruknya penampilan pasangan dansanya.
Ryeowook dan Hyukjae hanya saling memandang saat melihat Kyuhyun mulai menggelengkan kepalanya sendiri dengan ekspresi yang tidak bisa di jelaskan.
"Sialan~" umpat Kyuhyun pelan sambil mengusap wajahnya kasar.
Siwon bangkit dari posisi duduknya lalu bergerak cepat menarik tangan Kyuhyun hingga berdiri. Semua yang ada disana menatapnya tertarik.
"Apa yang kau dilemakan, Nona Cho~" tanya Siwon sambil menarik tangan kanan Kyuhyun lalu mengalungkannya ke lehernya.
"A-apa yang kau lakukan, Wonnie Hyung!" seru Kyuhyun sambil menatap horror namja tampan yang kini mulai menarik tangan kirinya yang tadi berusaha mendorong dada bidangnya untuk bergabung dengan tangan kanannya yang melingkar di leher Siwon.
Siwon hanya tersenyum lalu melingkarkan kedua lengannya di pinggang ramping Kyuhyun. Donghae dan Yesung muali bersiul di tempanya begitu Siwon mulai melangkah ke depan dan kebelakang lalu bergerak memutar.
"Kau hanya perlu memelukku seperti ini nanti." Ucap Siwon lembut sambil mengarahkan wajah Kyuhyun yang berpaling darinya. "Dan aku yang akan memandu dansa kita, Nona Cho~"
Kyuhyun hanya bisa terpaku menatap iris kelam yang seakan melelehkan semua tulangnya itu dan membiarkan Siwon kembali menggiringnya ke dalam dansa Waltz yang bahkan belum pernah di lakukannya.
Semua yang ada disana bertepuk tangan dan bersorak.
_Wonkyu_
BRAK!
Ruangan dengan penerangan minimal itu terbuka dan beberapa langkah terdengar kemudian. Bayangan dua orang namja dewasa terlihat sedikit tidak jelas di ruangan temaram itu.
"Aku hanya menyuruhmu menangkapnya, tidak melukainya, dasar bodoh!"
Sebuah suara terdengar dengan nada penuh amarah bersamaan dengan bunyi sesuatu yang jatuh.
"Ma-maafkan saya, Tuan. Tapi anak itu terus saja melawan dan mencoba menghentikan kami." Jawab sebuah suara dengan nada takut.
"Dimana dia sekarang?!" ucap suara keras itu lagi dengan penekanan di setiap nada bicaranya.
Tidak terdengar apapun lagi dari pembicaraan itu. Kali ini yang terdengar adalah derap langkah yang semakin mendekat. Semakin dekat dan mendekat, hingga akhirnya ruangan temaram itu kini sedikit terang karena lampu yang tiba-tiba menyala.
Segalanya tampak sedikit menyilaukan.
"Jaejoong-ah? Gwaenchana?"
Jaejoong kecil mengerjabkan matanya dan kemudian kembali beringsut ke pojokan ranjang yang tadi menjadi tempatnya berbaring. Tubuhnya bergetar hebat dan matanya menatap namja di depannya dengan tatapan takut.
"Kau tidak perlu takut, Jaejoongie. Aku tidak akan menyakitimu, aku hanya ingin membawamu pulang. Kajja!"
Jaejoong kembali menggeleng cepat saat telapak tangan besar itu sudah akan menjangkaunya. Air matanya sudah menganak sungai dan bibirnya mulai bergumam tak jelas.
"Aku tidak mau kau sakit dengan luka-luka itu, Jaejoongie. Ayo kita pulang dan mengobati lukamu, arra?"
"Kyunnie~ Kyunnie~ Hiks."
Namja dewasa itu menghela nafas panjang lalu mendudukkan dirinya di sisi ranjang. Wajahnya tampak sendu dan khawatir menatap anak di depannya.
"Lupakan Kyunnie, Jae~" ucap namja itu sambil menarik tangan Jaejoong yang sudah penuh luka mamar di sana-sini. "Kau harus terbiasa hidup tanpanya."
"Apa maksudmu melupakan?!" sahut sebuah suara lantang dari balik pintu ruangan luas itu. Seorang namja lain dengan pakaian serba hitam masuk dan berdiri dengan angkuh di depan ranjang. "Biarkan dia tahu hal yang sebenarnya bahwa Kyunnie-nya yang lugu dan menggemaskan itulah yang telah menyebabkan semua kekacauan dan kerusakan ini!"
"TIDAK! KYUNNIE TIDAK MUNGKIN MELAKUKAN ITU SEMUA! KALIAN SEMUA TIDAK TAHU―"
Grep
Jaejoong kecil kehilangan kata-katanya saat namja yang sejak tadi duduk di sisi ranjangnya itu kini memeluknya erat dan menutup kedua telinganya.
"Apa yang bicarakan, brengsek?" ucap namja yang masih memeluk tubuh Jaejoong dengan tatapan mematikan kepada rekannya yang baru masuk itu. "Dia hanya anak-anak!"
Namja berbaju hitam itu tertawa mengejek kemudian. "Anak-anak? Anak-anak kau bilang? Lalu bagaimana dengan seorang anak kecil yang berusaha menjatuhkan seluruh dunia ke dalam kegelapan disana itu, hah?"
"Kau―"
"MATILAH!" seru Jaejoong tiba-tiba sambil berusaha melepaskan dirinya dari pelukan namja di depannya. Dua namja itu menatapnya terkejut. "KAU PANTAS MATI KARENA TELAH BERANI MANGATAKAN HAL YANG TIDAK BENAR TENTANG KYUNNIE! MATILAH!"
Bruk
Namja berbaju serba hitam itu jatuh tak bergerak begitu saja begitu kalimat jaejoong sepenuhnya terucap. Sedangkan namja yang sejak tadi memeluk Jaejoong itu kini mengeratkan pelukannya saat melihat kilatan terang di mata namja kecil yang sedang di peluknya. Sesekali melirik rekannya yang sudah tergeletak tak bergerak di lantai. Namja itu sudah mati.
"Ayo kita pulang, Jae~." Ucap namja itu sambil membelai punggung Jaejoong yang masih bergetar di tempatnya. "Paman Zhoumi akan mengantarmu pulang."
Ruangan itu memburam dan akhirnya menghilang sama sekali berganti menjadi ruang yang lebih terang dengan banyak rak buku di sekitarnya.
Siwon melepaskan genggaman tangannya dari tangan Jaejoong di depannya. Namja tampan itu mengatur nafasnya sendiri sambil sesekali mengusap keringat dingin yang mengalir di wajahnya. Pandangannya tak lepas dari namja yang masih terdiam sambil terengah di depannya.
"Kenapa?" tanya Jaejoong dengan kalimat datarnya. Matanya menatap tajam iris kelam di depannya. "Kau terkejut karena sedang berhadapan dengan seorang pembunuh?"
Siwon menggeleng lalu berdiri dari posisi duduknya yang semula. "Tidak. Jika aku jadi kau, aku juga tidak akan berpikir panjang untuk menghabisi namja itu."
Jaejoong mencengkeram blazernya sendiri mendengar kata-kata Siwon. Seluruh tubuhnya gemetar.
"Siapa Zhoumi? Apa dia bagian dari mereka?" tanya Siwon sambil menyodorkan sebotol air mineral ke hadapan Jaejoong yang masih menolak menatapnya. Perpustakaan Spamcos itu masih sepi, mengingat sekarang jam pelajaran masih berlangsung.
"Dia paman yang mengasuhku dan Kyuhyun dulu. Masalah dia baik atau jahat, kau akan segera tahu sebentar lagi."
Siwon mengusap wajahnya kasar saat lagi-lagi jaejoong memberinya jawaban yang menggantung. Sementara itu Jaejoong masih terengah di tempatnya sambil sesekali meremas dadanya sendiri, mencoba menghalau rasa sesak disana.
"Baiklah. Sekarang kita kembali ke kelas, Kajja!" ucap Siwon sambil meyodorkan tangannya hendak menuntun Jaejoong yang terlihat masih kepayahan di tempatnya.
"Kau duluan." Sahut Jaejoong sambil menatap telapak tangan Siwon di depannya. "Aku tidak mau dikira membolos pelajaran bersamamu."
"Cih! Aku hanya tidak mau meninggalkanmu sendirian disini. Bisa-bisa Yunho membunuhku jika aku meninggalkan Ordinalnya sendirian dalam keadaan seperti ini."
"Pergilah!"
Siwon akhirnya hanya menatap datar namja di depannya sambil mengangkat bahunnya. Setelah mengucapkan terima kasih dan sekali lagi menawarkan kembali bersama―namun kembali ditolak oleh Jaejoong―akhirnya Poros Cardinal itu meninggalkan perpustakaan itu.
Jaejoong bangkit dari kursinya dan mencoba berjalan keluar juga. Namun baru beberapa langkah, kakinya sudah lemas dan tubuhnya kembali limbung―
Grep
Namja cantik itu mencengkeram lengan sosok yang menopang tunuhnya hingga tidak terjatuh menerjang kerasnya lantai di bawahnya.
"Ini yang kusesalkan seumur hidupku. Inilah sisi lain kegelapan dalam kekuatanku." Ucap Jaejoong tersendat diiringi air mata yang mulai mengalir dari Doe-eyesnya. "Aku seorang pembunuh~"
Yunho membawa wajah Ordinal-nya untuk menghadapnya lalu mengusap air mata yang mengalir disana. Kemudian dipeluknya erat untuk menahan isakan Jaejoong yang perlahan makin keras.
_Wonkyu_
"Kerja kelompok dimana?"
Ryeowook menyembunyikan tubuhnya di belakang tubuh Kyuhyun begitu kalimat tenag bernada mengerikan itu terdengar di telinganya.
"Di rumah Jonghyun. Jadi, kau tidak perlu mengantarku pulang hari ini, Wonnie Hyung." ucap Kyuhyun sambil tersenyum menatap wajah Siwon yang terlihat tidak yakin.
"Apa namja pendek ini juga ikut?" tanya Siwon sambil menunjuk Ryeowook yang masih menyembunyikan diri di belakang punggung Kyuhyun.
"Hei, si-siapa yang kau bilang pendek?" sahut Ryeowook dengan nada sedikit takut tanpa sekalipun menatap mata Siwon . "K-kau saja yang ter-lalu tinggi!"
"Apa―"
"Sudahlah kalian berdua!" sela Kyuhyun sambil menahan tubuh Siwon yang sudah akan maju menuju teman sebangkunya itu. Ryeowook terlihat mencibir menang saat Kyuhyun mendorong tubuh Siwon menjauh.
"Aku akan ikut dan menemanimu sampai selesai, bagaimana, Nona Cho?"
"MWO?! Itu tidak perlu, Hyung! Jonghyun akan memberi kami tumpangan ke rumahnya dan aku sudah menghubungi Singmin Hyung untuk menjemputku saat selesai." sahut Kyuhyun cepat saat mendengar ide gila Siwon. bisa-bisa ia tidak jadi kerja kelompok jika Siwon ikut. Membayangkannya saja sudah membuatnya ngeri.
"Aku tidak mau pergi dari―"
"Ya~ Ya~ Ya~ Kau tidak akan pernah pergi dari sisiku, aku sudah sering mendengarnya, Hyung."
Kyuhyun memutar matanya malas melihat seringaian Siwon di depannya. Gerbang Spamcos High School saat ini sudah mulai sepi.
"Baiklah~" ucap Siwon pada akhirnya dengan wajah muram. Kyuhyun terlihat girang di tempatnya. "Tapi beri aku ciuman di pipi dulu, oke?"
Kyuhyun menghentikan kegiatan tersenyumnya dan segera mengubah ekspresi wajahnya menjadi masam begitu mendengar kata 'ciuman'. Siwon di depannya hanya nyengir menang.
"Bukankah kau sudah mendapatkannya di kelasku tadi pagi, Wonnie Pabbo?!"
"Ka-kalian ber-ciuman d-di kelas?"
Kyuhyun menghentikan kegiatannya mendorong-dorong tubuh Siwon begitu kalimat tersendat Ryeowook terdengar. Namja manis itu terlihat salah tingkah di tempatnya sementara Ryeowook menatapnya tak percaya.
"Wae?" sahut Siwon. "Kau juga harus mencobanya dengan Hyung berkepala besarmu itu, pendek."
"Siapa yang kau bilang pendek?!"
"Sudahlah!" seru Kyuhyun sambil merentangkan kedua tangannya di antara Siwon dan Ryeowook. Namja manis itu kemudian meletakkan kedua tangannya di bahu Siwon lalu sedikit berjinjit dan mendaratkan sebuah kecupan kilat di pipi Siwon.
Siwon yang merasa benda lembut itu menyentuh pipinya segera membawa tubuh Kyuhyun ke dalam pelukannya dan mempertahankan pelukan itu seraya mengabaikan rontaan Kyuhyun.
'Jaga dia untukku, Pendek. Pastikan dia baik-baik saja. Aku mohon.'
Ryeowook merengut mendengar kalimat SIwon di dalam kepalanya lalu membalas tatapan iris kelam Siwon yang masih memeluk teman sebangkunya itu.
'Tentu saja. Kyuhyun itu sahabatku. Aku pasti menjaganya! Kau tidak perlu mengingatkannya!'
Siwon tersenyum lalu melepaskan pelukannya dan segera dihadiahi injakan keras di kakinya oleh Kyuhyun, hingga membuatnya meringis kesakitan. Sedangkan Kyuhyun dan Ryeowook hanya tertawa-tawa melihat wajah kesakitannya lalu bergerak menuju mobil yang terparkir di seberang jalan dan menghilang di baliknya.
"Kau tidak perlu khawatir berlebihan, Siwon."
Siwon tersenyum tipis sambil mengikuti pergerakan mobil abu-abu yang membawa Kyuhyun dan Ryeowook. Yunho berdiri di sampingnya sambil memasukkan tangan ke dalam saku celananya. Hankyung, Donghae dan Yesung tiba beberapa saat kemudian.
"Yunho benar. Ordinal-ku pasti akan menjaganya." Sahut Yesung yang berdiri di sisi kanannya.
"Ya. Aku hanya tidak mau sesuatu yang buruk terjadi lagi." Ucap Siwon sambil menatap keempat temannya. Senyum menghiasi wajahnya. "Kurasa kita harus berbelanja tuxedo untuk pesta dansa kita, benar kan?"
"HAHAHAHAHA!"
Kelima murid tampan itu tertawa mengingat acara besar yang akan mereka hadiri lusa. Mereka tidak sabar melihat Ordinal mereka melakukan crossdressing. Pasti sangat menyenangkan.
"Uhm, permisi, Siwon Sunbae."
Siwon dan keempat namja disampingnya itu menolehkan kepalanya saat suara yang tidak asing terdengar di belakangnya. Kelima pasang mata itu membelalak melihat namja yang berdiri kikuk di depannya.
"Kau tahu dimana Kyuhyun dan Ryeowook? Aku sudah menunggu mereka lama sekali di tempat parkir. Mereka akan ke rumahku untuk kerja kelompok sore ini."
Lee Jonghyun menatap bingung kelima namja di depannya yang menatapnya dengan sorot yang tidak bisa diartikan.
.
Para Cardinal tidak pernah membayangkan
Seberapa besar kekuatan yang ada dalam diri'nya'
Seberapa mengerikan apa yang tertidur dalam diri'nya'
Bahkan kebahagiaan dan cinta mereka pun masih sangat kurang untuk menyegel kegelapan itu
Kegelapan yang katanya akan menelan dunia dalam kehancuran
Butuh lebih bayak Cinta dan kebahagiaan sejati untuk menghentikan kegelapan itu
Mereka harus belajar segalanya
Termasuk mempelajari masa lalu dan belajar bagaimana cara melindungi
Karena, semakin terang cahaya yang mereka hasilkan
Semakin gelap pula bayangan yang tercipta karenanya
.
TBC
.
.
Annyeong, my dear Readers
Another Chap is up very very late ToT ! Just Enjoy T.T
.
Park Yoochun, Instuktur musical, Lee Sooman, dan Lee Jonghyun. Mereka semua menjadi sorotan dalam chapter ini.
Siapa yang membawa Kyuhyun dan Ryeowook jika Jonghyun masih ada di sana?
.
Wait next chapter :)
.
Promotion!
I've made an Instagram account. I'll publish some pics about all pairing there, about my FF cover, etc. or some drabble pics ^^.
Follow me on my IG with username: babywonkyu
GOMAWOO ^^|
.
Sabar, semua misteri akan dijawab satu-satu. Jadi ikuti saja alur ceritanya dan pasti ada jawaban yang tidak terduga disana.
FF ini dimungkinkan akan selesai dalam 20 chapter. Semua alur sudah disiapkan hingga akhir. Bagi yang merasa FF ini terlalu berbelit-belit, saya mohon maaf. Tapi alur ini sudah sangat cepat untuk menyelesaikan semua misteri yang sudah disiapkan.
So, yang sabar, ya #plak
.
Ask me more on ask . fm by username: BabyWonKyu1013
We'll share together there ^^
Saya sudah berusaha update kilat, tapi FF ini jujur lebih membutuhkan pemerasan otak yang lebih. Hehehe
Tunggu FF saya yang lain, my dear readers #kiss
Setiap review readers adalah sumber perbaikan bagi saya. Jadi jangan sungkan bila ada yang tidak berkenan. XOXO for you all ^3^
Fic ini murni BOYSLOVE/YAOI bukan GENDERSWITCH, dan main pair disini adalah WONKYU ^^
FEEL FREE TO REVIEW ^^
Wonkyu is Love,
BabyWonKyu
