"Paman, dimana―"
Kalimat yang diucapkan dengan nada bergetar itu terhenti. Namja kecil yang duduk diatas ranjang besar itu menatap namja dewasa yang masih mengompres luka-luka di tangannya.
"Ssshh~ Jangan memikirkan hal yang berat, Jaejoongie. Semua baik-baik saja."
Kim Jaejoong memperhatikan namja di depannya dengan sorot tidak mengerti. Namun, pada akhirnya ia diam dan membiarkan lelehan bening kembali mengaliri wajahnya. Namja yang sejak tadi duduk di pinggir ranjang sambil mengompres beberapa luka memar di lengan pucat kecil itu, kini menatap Doe-eyes yang basah di depannya. Ia kemudan mengusap air mata di wajah itu.
"Ada apa?"
"A-aku i-ingin ber-temu Kyunnie, Paman~ K-kyunnie~Hiks." Racau Jaejoong kecil sambil sesenggukan menahan tangisnya. Sebelah tangannya yang juga penuh luka kini ia gunakan untuk menutupi matanya yang basah.
"Kyuhyunnie baik-baik saja, percayalah." Ucap namja tinggi itu sambil tersenyum masam, "Sekarang dia sedang tertidur nyenyak di suatu tempat."
"Be-benarkah?!" sahut Jaejoong antusias dengan mata membesar, namja kecil itu mengusap air matanya saat sang paman mengangguk. "Dia baik-baik saja, kan? Mengapa dia tidak pulang bersama kita? Aku mau bertemu dengannya! Aku―"
Tok tok tok
Pintu putih besar itu terbuka sesaat setelah beberapa kali diketuk dari luar. Jaejoong yang tadi tidak sempat melanjutkan kata-katanya, kini menatap penasaran pada seseorang yang masuk ke dalam kamarnya.
"Tuan, sudah saatnya kita pergi."
Namja tinggi yang sejak tadi duduk di sisi Jaejoong mengangguk lalu bergerak menatap Jaejoong yang membalasnya dengan tatapan bingung.
"Jae, paman harus pergi sekarang." Ucap namja itu sambil menggenggam tangan Jaejoong erat, pandangannya meredup. "Kau baik-baik saja disini, oke?"
"Andwae! Kajima, Paman! Jangan tinggalkan aku sendiri seperti Kyunnie meninggalkanku! Kajima~"
"Tidak akan. Paman akan mengawasimu dari jauh. Kau harus melanjutkan hidupmu… sendiri."
Jaejoong mulai panik ditempatnya. Walau masih kecil, ia tahu benar jika kata-kata pamannya ini adalah kata-kata perpisahan.
"Kajima~"
"Tuan, kita harus pergi sekarang."
Namja tinggi itu mengangguk mendengar perkataan namja yang masih berdiri di belakangnya. Ia kemudian meraih tangan kecil Jaejoong dan meletakkan sebuah liontin disana. Bandul merahnya berbinar sesaat saat tiba ditangan pucat Jaejoong.
"Akan sangat indah jika batu merahnya dikenai cahaya. Kau bisa menggunakannya saat memerlukan perlindungan. Pastikan kau punya cukup cahaya untuk menerangi warna merah gelapnya, Jaejoongie~"
Jaejoong menatap liontin merah di tangannya dengan tidak fokus. Namja kecil itu masih tidak mau ditinggalkan siapapun saat ini. Sang 'Paman' yang melihat pandangan khawatir Jaejoong segera memeluk Jaejoong lagi. Sembari membisikkan…
"Kita akan bertemu lagi saat semuanya menyadari kegelapan seperti dirimu."
.
"Jaejoong-ah, kau baik-baik saja? Kau terlihat kesakitan."
Jaejoong mengangguk singkat kepada dua namja di depannya yang saat ini menatapnya dengan sorot khawatir. Namja cantik itu mencoba bangkit dari tempat duduknya dan menatap ke ujung koridor, dimana beberapa saat yang lalu teman-temannya yang lain berlarian menyusul Siwon yang merasakan firasat buruk pada Kyuhyun.
"Kau perlu sesuatu? Kami bisa mengantarmu ke ruang kesehatan jika perlu."
Lee Hyukjae mengangguk membenarkan ucapan Donghae di sampingnya. Jaejoong menegakkan posisi berdirinya sesekali meringis pelan saat dadanya mulai sakit dan sesak. Hyukjae sudah akan menarik tangannya untuk menggiringnya ke ruang kesehatan tepat sebelum―
"Apa itu?!" seru Donghae sedikit terkejut saat Jaejoong mengeluarkan sebuah liontin berbandul merah dari balik seragamnya. Bukan itu yang membuat Donghae berseru, namun bersamaan dengan Jaejoong mengeluarkan liontin itu, suasana di sekelilingnya menjadi menggelap.
Matahari yang tadi menggantung disana, kini tidak ada.
"Aku butuh kekuatan cahayamu, Donghae-ya." Ucap Jaejoong sambil menatap tajam mata ikan Donghae di depannya. "Dan pengendalian waktu milikmu, Hyukjae."
Donghae dan Hyukjae menatap Jaejoong yang kini menarik liontin merah dari lehernya dengan sekali sentakan. Cahaya merah redup memancar dari liontin yang terlihat tidak asing itu.
"Aku tidak mengerti apa yang sedang kau bicarakan, Jaejoong." ucap Donghae sambil menatap teman sekelasnya itu dengan pandangan yang sulit diartikan.
Hyukjae masih terdiam di tempatnya. Kedua matanya berkilat terang melihat bandul merah di tangan Jaejoong.
"Hae, berikan cahayamu disini. Aku butuh energinya." Ucap Jaejoong sambil menatap Donghae yang masih bergeming di tempatnya. "Hyukjae, aku―"
Sret
Jaejoong kehilangan kata-katanya saat tiba-tiba Hyukjae merebut liontin dari tangannya. Pemegang kekuatan waktu itu menatap batu merah kecil itu dengan pandangan aneh.
"Hyukkie, apa yang kau lakuka―"
"Sangat besar~" sahut Hyukjae tiba-tiba sambil menatap Donghae dengan senyuman lebar yang menakutkan, "Aku bisa merasakan kekuatan yang besar disini."
Donghae menatap Ordinal-nya dengan bingung. Begitu juga dengan Jaejoong. Namun sepertinya Jaejoong lebih bisa menguasai keterkejutannya dan segera beranjak menuju Hyukjae untuk merebut kembali liontinnya, namun―
Bruk
Sret
Donghae bergerak secepat kilat menangkap tubuh Jaejoong yang tiba-tiba terlempar saat hendak mencapai Hyukjae. Kedua namja itu menatap sang pengendali waktu dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Hyukkie―"
"Kau lihat ini, Hae. Aku bisa merasakan kekuatan mengalir dalam diriku." Ucap Hyukjae lagi sedikitpun tanpa rasa bersalah karena telah membuat Jaejoong tersungkur di lantai. "Bagaimana jika berbalik atau maju ke masa yang lain, agar tidak perlu menyelesaikan semua permasalahan ini, hmm? Itu ide yang bagus."
'Jangan biarkan dia mengendalikan masa lalu dan masa depan.'
Donghae menatap namja yang masih ada di sampingnya dan Hyukjae bergantian. Pengendali kekuatan cahaya itu tampak bingung. Jaejoong menatapnya tajam sambil mencengkeran lengan blazernya kemudian.
'Cepatlah, Lee Donghae! Atau dia akan mengubah sesuatu di masa yang lain dengan kekuatannya!'
Donghae beranjak dari tempatnya dan secepat mungkin bergerak merampas liontin perak itu dari tangan Hyukjae.
"Apa yang kau―"
"LEE HYUKJAE, DENGARKAN AKU!" seru Dongahe sambil mencengkeran kedua lengan Ordinal-nya yang masih berusaha memberontak darinya. "Kau lupa apa tujuan kita? Kita semua akan menyelamatkan Kyuhyun! Kau lupa?!"
"Hae―"
"Lupakan apapun yang ada di dalam kepalamu tadi. Kita bersama-sama melakukan ini semua, Hyukkie. Aku akan selalu ada di sisimu."
Jaejoong terdiam melihat Donghae yang kini memeluk Hyukjae yang mulai tenang. Perasaan lega memenuhi hatinya melihat kegelapan berhasil menghilang dari Hyukjae. Pandangannya jatuh pada liontin yang kini ada dalam genggaman Donghae.
"Ugh!"
Namja cantik itu mencengkeram dadanya sendiri saat rasa sakit itu datang. Hanya satu hal yang ada dalam pikirannya saat ini. Yunho.
"Jaejoong-ah! Mi-mianhae―"
"Aku perlu energy cahaya milik Donghae." Ucap Jaejoong memotong ucapan Hyukjae sambil berusaha bangkit dari posisinya. "Sekarang!"
Donghae mengangguk dan dengan sekali lambaian tangan seberkas cahaya putih terang muncul dari atas telapak tangannya. Dan tepat mengenai liontin berbandul merah yang sedang di pegangnya. Seluruh koridor gelap itu berpendar terang.
Hukum Relativitas Khusus milik Einstein menjelaskan bagaimana pengaruh kecepatan cahaya dalam dilatasi waktu
Einstein mengatakan, materi tercepat di alam semesta adalah Cahaya
Cahaya mampu mendilatasi waktu hingga membuatnya bisa bergerak lebih cepat, lebih lambat, dan bahkan diam
"Hyukjae, hentikan waktu di sekitar liontin itu." ucap Jaejoong lagi yang dibalas dengan anggukan Hyukjae. Namja bergummy smile itu kemudian mengibaskan tangannya pelan dan segalanya yang bergerak menjadi diam.
Donghae menatap tak percaya saat cahaya ditangannya juga diam tak bergerak, seakan beku. Materi berkecepatan tertinggi itu kini terdiam karena pengaruh kekuatan Hyukjae. Membuat energinya tetap disana. Semakin besar-dan besar.
Energi terbesar alam semesta dirumuskan Einstein berbanding lurus dengan massa dan kuadrat kecepatan cahaya
Jaejoong tersenyum simpul saat sakit di dadanya mereda. Walau ia bisa merasakan sesuatu mengalir di sudut bibirnya, ia akhirnya lega karena bisa mengerti hubungan yang selalu diajarkan pamannya dulu. Juga secara tidak langsung diajarkan kepada setiap siswa melalui mata pelajaran Fisika.
Hubungan untuk mencegah kegelapan dan menyelamatkan siapapun yang terjebak di dalamnya.
"Jaejoong-ah! Kau berdarah?!"
"Gwaenchana, Hyukjae-ah." sahut Jaejoong pelan. Doe eyes-nya menatap matahari yang mulai muncul kembali. "Semuanya sudah selesai."
.
.
THE POWER OF HIGH POLAR
Chapter 13: THE DARKNESS OF ORDINALS
Genre: Romance, Friendship, Fantasy, Supranatural, School-life
Rating: T
Main Pair: WONKYU
Other Pair: YUNJAE, HANCHUL, HAEHYUK, YEWOOK
Warning: YAOI, BOYSLOVE, OOC, TYPOS
Summary:
Kekuatan matahari ada di tangan mereka. Namun persahabatan dan cinta sejatilah yang menjadi kekuatan terbesar yang mereka miliki nantinya.
DON'T LIKE DON'T READ
BabyWonKyu proudly presents
.
.
_Wonkyu_
Jalanan utama di kota terpadat di Korea Selatan itu kini mulai ramai dengan lalu lalang kendaraan. Tidak heran, karena jam-jam seperti ini adalah jam-jam semua kegiatan selesai di Negara gingseng itu. para pekerja pulang, para siswa selesai belajar, dan mereka semua akan berbondong-bondong ke rumah untuk menghabiskan waktu dengan keluarga mereka.
"Aku lapar. Bisakah kita membeli sesuatu untuk dimakan dulu?"
"Hh. Sabarlah sebentar, Kyu. Jonghyun pasti menyiapkan sesuatu untuk dimakan di rumahnya. Benarkan, Jonghyun-ah?"
Kyuhyun menggembungkan pipinya saat permintaannya tidak dituruti oleh dua temannya yang kini tersenyum geli menatapnya. Ryeowook yang ada di sampingnya kini mulai merangkul bahunya untuk menghibur.
"Ayolah~ Jangan cemberut seperti itu. Bisa-bisa pacar mesummu itu memakanmu hidup-hidup jika kau cemberut seperti ini, Nona Cho~"
"Mwo?!"
"Kau terlalu imut jika cemberut dengan muka seperti itu, Nona Cho~"
"Wookie!"
"HAHAHAHAHA~"
Kyuhyun lagi-lagi dibuat super jengkel oleh kelakuan dua temannya yang masih tertawa. Bahkan Ryeowook dan Jonghyun kini saling ber-high five ria melihat wajahnya yang memerah. Dirinya lapar dan dua temannya ini mengganggunya. Membuatnya mood bertambah jelek sore ini.
"Kau tenang saja, Kyu. Aku sudah menyiapkan banyaaaaak sekali makanan di rumah." Ucap Jonghyun sambil tersenyum lebar. Kedua temannya yang duduk di jok belakang itu menatapnya berbinar juga. "Kalian bisa makan sepuasnya nanti."
"Wah! Daebak, Jonghyun-ah!" sahut Kyuhyun antusias. "Aku memang sudah lapar sekali~"
"Aku tahu kebiasaanmu~ Hahaha~"
Ryeowook tertawa melihat kelakuan dua teman sekelasnya ini. Namja mungil itu menatap keluar jendela sementara Jonghyun dan Kyuhyun mulai mengobrol lagi. Jalanan yang sedang dilaluinya kini mulai lenggang, mungkin sudah masuk kompleks perumahan tempat Jonghyun tinggal. Jalan satu arah itu terlihat tenang dengan beberapa pepohonan di sekitarnya.
Ketenangan ini, tidak biasa. Begitu batin namja mungil itu.
"…Ah! Aku juga tidak tahu! Bagaimana mungkin aku mengenakan gaun! Itu konyol sekali, kan?!" ucap Kyuhyun sambil mengacak rambutnya sendiri sementara Jonghyun menahan tawa di tempatnya.
"Hahaha! Kalian harus bertanya pada Noona-noona di butik nanti."
Lamunan Ryeowook terhenti mendengar percakapan di sampingnya. Jonghyun terlihat masih menahan tawa sementara Kyuhyun terlihat menekuk wajahnya lagi.
"Itu memang merepotkan. Aish!" ucap Kyuhyun lagi sambil bersedekap. "Pokoknya aku tidak mau memakai warna Pink!"
"Ehm… Kurasa kau harus memakai warna biru." Sahut Jonghyun dengan raut berbinar. "Itu cocok dengan bandul di liontinmu, Kyu."
Deg
Ryeowook terhenyak di tempatnya. Tawanya menghilang.
"Tunggu. Darimana kau tahu mengenai pesta dansa dan liontin milik Kyuhyun?" tanya Ryeowook sambil menatap tajam Jonghyun yang terdiam di tempatnya. Kyuhyun yang juga tersadar kini juga menatap teman sekelasnya itu bingung. "Kami tidak pernah membicarakannya denganmu, kan?"
"Jonghyun-ah?"
Kyuhyun menatap Ryeowook yang mulai mencengkeram lengannya sedikit erat. Teman sebangkunya itu menatap tajam Jonghyun yang masih terdiam di kursi depan disamping supirnya. Matanya berkilat putih terang.
BRAK!
_Wonkyu_
Ckiiit!
Dua buah mobil berhenti mendadak di depan gerbang Spamcos High School yang saat itu sudah sepi. Hanya beberapa siswa saja yang masih ada di sekolah elit terkemuka itu.
"Cepat masuk! Kita masih bisa mengejar mereka!"
Kelima namja yang tadi berdiri di depan gerbang, kini mulai berpencar masuk ke dalam dua sedan yang dibawa oleh Hyukjae dan Heechul. Donghae segera mengambil tempat di samping Hyukjae sementara Yunho mengambil tempat di belakangnya. Hankyung tanpa pikir panjang segera masuk ke dalam mobil Heechul bersama dengan Siwon dan Yesung di belakangnya.
Dalam sekejab, kedua mobil itu sudah melesat meninggalkan pelataran Spamcos yang luas. Meninggalkan Lee Jonghyun yang menatap kepergian mereka dengan pandangan bingung.
"Ada apa sebenarnya? Mungkin mereka terburu-buru." tanya Jonghyun pada dirinya sendiri. "Terburu-buru menyelamatkan sang putri yang diculik~ HAHAHAHA!"
Seringaian lebar ganti menghiasi wajah bingung Jonghyun. Namja itu kemudian meraih ponselnya dari dalam sakunya dan menggerakkan jarinya di layar sentuh itu lalu menempelkan benda kecil itu ke telinganya sendiri.
"Semua yang kau perintahkan sudah terlaksana." Ucap Jonghyun sambil tersenyum lebar kepada lawan bicaranya yang entah siapa di line seberang. "Sang putri sudah pergi menuju―"
Bruk
Kalimat itu tidak sempat mencapai akhir saat tubuh pembicaranya kini terkulai tak bergerak.
"Ck! Anak ini memang merepotkan sejak awal." Ucap sebuah suara begitu tubuh lemas Jonghyun jatuh ke dalam pelukannya. "Pertahanan pikirannya lemah hingga mudah diambil alih oleh mereka."
Kim Kibum menatap Taemin yang masih menggerutu di tempatnya dengan mata memutar malas. Namja berwajah dingin itu kemudian meraih ponsel Jonghyun yang terjatuh di tanah dan mengambilnya. Senyum dinginnya mengembang saat melihat ternyata panggilan itu masih belum terputus.
Taemin menatap tajam Kibum yang kini mulai mengatur tombol Loudspeaker di ponsel itu. Keduanya kini tersenyum mengerikan.
"…Hei, bocah! Kau masih disana?! Mengapa kau diam?"
Kibum menaikkan kedua alisnya saat bertukar pandang dengan Taemin yang masih menyangga tubuh Jonghyun yang sudah tidak sadarkan diri. Kedua Guards itu mengangguk.
"Aku disini―" ucap Kibum dengan santai sementara Taemin tertawa pelan di tempatnya. "―Untuk melindungi para penguasa mata angin. Kau dengar aku, Equators?"
"Guards?"
Pip
Sambungan telepon terputus saat Kibum menekan tombol merah. Namja berwajah dingin itu kemudian menatap Jonghyun yang masih terkulai lemas di tangan Taemin.
"Pikirannya diambil alih dan ingatannya tentang kejadian Kyuhyun di laboratorium dikembalikan padanya." Ucap Kibum sambil menatap Jonghyun sebentar lalu beralih menatap gerbang Spamcos yang sudah sepi.
"Semoga Minho, Changmin, dan Henry sampai tepat waktu. Juga para Axis."
_Wonkyu_
Sedan hitam itu melaju kencang membelah jalanan kota Seoul yang padat. Matahari sudah hampir tenggelam di ufuk barat dan langit bersiap untuk berubah menjadi gelap.
"Penglihatan dan perasaan bisa dimanupulasi olehnya, Jaejoong-ah. Kau yakin ini firasatmu?"
Jaejoong menatap datar namun tajam pada Changmin yang duduk di sampingnya. Henry memperhatikannya dari jok depan sementara Minho masih sibuk dengan mengemudikan mobil dengan kecepatan luar biasa ini.
"Jangan banyak bicara dan jalankan saja mobilnya."
Henry membalikkan badannya menghadap depan lagi saat tatapan mengerikan Jaejoong jatuh kepadanya. Changmin menghela nafas dan kembali bersandar di kursinya. Jaejoong kembali menatap jendela di sampingnya.
"Mengapa kau tidak memberitahu Cardinalmu, Jaejoong Hyung?" tanya Minho tanpa mengalihkan perhatiannya pada jalanan di depannya. "Setidaknya para Cardinal bisa mengatasi Equators nanti."
"Aku bisa menghadapi Equators dengan kekuatanku sendiri!" sahut Jaejoong cepat dengan nada tajam sedikit keras.
Semua yang ada disana memperhatikan dengan sedikit bergidik ngeri saat secara tidak sengaja melihat kilauan putih terang mengerikan di Doe-eyes Jaejoong.
"Lagipula, aku tidak mau Yunho terluka lagi." Lanjut Jaejoong singkat dan lirih, namun masih bisa di dengar oleh ketiga Guards disana. Namja cantik itu mengepalkan kedua telapak tangannya erat-erat. "Aku tahu dia terluka. Aku―tidak mau kehilangan siapapun lagi."
Walau dikatakan dengan sangat lirih dan hampir tak terdengar, Changmin, Henry, dan Minho tersenyum simpul mendengar kalimat itu.
Sementara itu…
"Apa kau bisa merasakan dimana Ordinalmu, Yesung Hyung?"
Yesung menggeleng mendengar pertanyaan Siwon disampingnya. Namja berkepala besar itu sama bingungnya dengan Poros Cardinal yang sejak tadi tidak berhenti mengumpat di tempatnya. Hankyung masih tenang di tempatnya walau tidak dapat dipungkiri namja itu juga terlihat khawatir, sementara Heechul masih konsentrasi dengan jalanan di depannya.
"Ikuti saja jalan ini." ucap Yesung sambil memijat kepalanya yang mulai pusing karena terlalu bingung dengan semua ini. "Jangan berhenti."
"Aku bodoh!" ucap Siwon sambil mendaratkan kepalan tangannya di kaca jendela di sampingnya. "Bagaimana aku tidak melihat siapa pengemudi mobil itu."
Yesung menatapnya sekilas lalu kembali memijat kepalanya. Uap-uap putih berterbangan di depan wajahnya karena udara yang mulai dingin.
"Apa itu mobil yang sama?" Semuanya kini beralih menatap Hankyung yang masih tenang di tempatnya. Namja berkaca mata itu menatap sendu jalanan di depannya. "Apa itu mobil yang sama seperti yang hampir mencelakaimu dan Kyuhyun saat kalian akan makan di restaurant dulu, Siwon?"
Deg
Hati Siwon mencelos mendengar kalimat Hankyung. Namja tampan itu mengusap wajahnya kasar. Ia ingat benar bahwa ia sudah menghancurkan mobil yang hendak menabraknya dengan Kyuhyun waktu itu. Membuatnya ringsek hingga tak berbentuk. Namun itu memang mobil yang sama.
"Mereka mengincar Kyuhyun dari awal! Sial!" umpat Siwon sambil menggebrak kaca mobil di sampingnya lagi terlalu keras, hingga membuat mobil itu sedikit oleng karena kekuatannya.
"HEI, CHOI PABBO! AKU TAHU KAU SEDANG BINGUNG! TAPI BISAKAH KAU MEMBIARKANKU MENYETIR AGAR BISA MENYELAMATKAN KYUHYUN SEGERA?!" seru Heechul saat bisa mengendalikan mobilnya ke jalur yang benar setelah beberapa saat lalu sempat oleng keluar jalur.
"Dan bisakah kau menyetir agak cepat, Noona?! Cara mengemudimu seperti siput, kau tahu!" sahut Siwon sambil sedikit menendang kursi yang diduduki Heechul.
Hankyung hanya menghela nafas mendengar perdebatan tidak penting itu. Tapi setidaknya suasana tidak sesuram tadi berkat perdebatan ini.
"Kau bilang aku apa?!"
"Apa ada yang salah, hah?!"
"Yak! Berhentilah!" seru Yesung yang sejak tadi masih memijat kepalanya pusing. Penguasa kekuatan api itu menatap tajam Siwon di sampingnya. "Kalian membuatku semakin pusing! Jika kalian berdebat lagi, aku akan―Ugh!"
Siwon mengubah tatapan jengkelnya saat Yesung mulai mengerang di tempatnya sambil memegangi dadanya. Hankyung juga reflex menoleh ke belakang.
"Yesung-ah, gwaenchana?!" seru Hankyung khawatir sementara Yesung hanya menggeleng cepat sambil meringis memegangi dadanya yang terasa semakin sakit.
"Ryeowookie…"
_Wonkyu_
BRAK!
Mobil sedan abu-abu itu keluar haluan seketika setelah sebelumya oleng dan akhirnya menabrak pembatas jalan lalu berhenti seketika saat terhalang pohon besar di depannya. Menimbulkan suara yang sangat keras.
"Mianhae, Kyu. Tapi kau harus tidur dulu."
Ryeowook menyandarkan tubuh Kyuhyun yang sudah diam tak begerak di salah satu batang pohon tepi jalan yang hanya diterangi satu sorot lampu jalanan. Keadaan di sekelilingnya mulai gelap karena senja. Namja mungil itu meremas dada kirinya sendiri yang terasa sakit karena membentur body mobil tepat saat ia mencoba keluar beberapa saat yang lalu. Merasa ada sesuatu yang basah, Ryeowook melepas blazer seragamnya dan benar saja, cairan merah pekat berhasil menembus kemeja putihnya.
"Aish! Pasti tergores." ucap Ryeowook sedikit meringis meremas kemejanya yang sudah memerah karena bercak darah. Namja mungil itu memeriksa tubuh temannya yang sudah 'tidur' tak bergerak di depannya dan sedikit menghela nafas lega saat tidak menemukan luka apapun di tubuh Kyuhyun.
"Seharusnya kau tidak melakukan itu, Ryeowookie." Ryeowook menolehkan kepalanya ke belakang mendengar suara yang sebenarnya sangat mirip dengan suara Jonghyun teman sekelasnya. "Uhm, atau harus kupanggil The Ordinal of Northwest?"
"Kau siapa?"
'Jonghyun' bergerak mendekat dengan sedikit tertatih dan meringis memegangi bahu kanannya yang sepertinya cedera karena kecelakaan tadi. Namja itu menyeringai kemudian saat melihat Ryeowook mulai berdiri di depan tubuh Kyuhyun yang terduduk tak sadarkan diri.
"Aku Lee Jonghyun, teman sekelasmu, Wookie~."
"Kau bukan Jonghyun." Sahut Ryeowook tajam sambil memasang posisi siaga saat namja mirip Jonghyun di depannya itu mendekat lagi. "Dan tak akan kubiarkan kau menyentuh Kyuhyunnie."
"Haha! Kesetiaan dan persahabatan yang indah." namja yang masih sangat mirip dengan Jonghyun itu kini menarik sesuatu dari wajahnya, lalu dengan sekali sentakan wajah Jonghyun menghilang dan digantikan dengan wajah asing yang terlihat menakutkan dengan seringaiannya. "Sejak dulu aku selalu membenci yang namanya cinta dan persahabatan."
Sret
Brak!
Tidak ada waktu bagi Ryeowook untuk menghindar dari kekuatan itu. dan namja mungil itu hanya mengerang lemah saat tubuhnya terlempar sedikit keras ke tanah. Sang penguasa kekuatan penyembuhan itu bangkit masih sambil memperhatikan Kyuhyun yang masih tidak bergerak.
"Apakah hanya seperti ini kekuatan Ordinal yang legendaris? Hanya seperti ini, hah?!" seru namja asing itu diikuti tawa keras yang membahana di jalanan sepi dan temaram itu.
Ryeowook menatap namja yang masih tertawa di depannya. Memperhatikan tingkahnya dengan seksama kalau-kalau dia akan menyakiti Kyuhyun. Menurutnya, namja asing itu tidak terlalu berbahaya. Umurnya bahkan mungkin tidak berbeda jauh dengannya. Wajahnya masih terlihat sangat muda dan kekanakan.
"Jika kau tetap berdiri disana, maka aku akan dengan mudah membawa pergi Poros Ordinal darimu, Ryeowookie~"
"JANGAN MENYENTUHNYA, KUBILANG!"
BRAK!
Tubuh yang sudah hendak menyentuh Kyuhyun itu seketika terlempar dan terbanting ke tanah dengan keras. Ryeowook menatap Kyuhyun yang masih terdiam tak bergerak dan memastikan temannya itu tidak bangun atau terluka sedikitpun.
"Aku akan melindungimu, Kyu." Ucap Ryeowook sambil membawa tubuh lemas itu ke dalam pelukannya dengan erat. "Aku sudah berjanji kepada Siwon Hyung untuk melindungimu."
"Itu tidak akan terjadi jika aku merebutnya darimu!"
Ryeowook melompat ke samping saat serangan dari namja asing itu kembali terarah kepadanya. Sedikit saja, tubuh Kyuhyun yang masih ada dalam pelukannya hampir diambil sebelum―
Sret
Tubuh Ryeowook sukses membeku saat tubuh yang sejak tadi dipeluknya itu kini tidak ada. Dan saat akan menoleh kebelakang, sesuatu yang keras mendarat di leher belakangnya. Namja mungil itu kemudian ambruk di tempatnya.
"Bagus. Sekarang bawa Poros Ordinal ke mobil. Aku akan bermain-main sebentar dengan sang Barat Laut."
Namja yang Ryeowook yakini sebagai sopir yang tadi menyetir mobil itu kini membawa tubuh Kyuhyun yang ada dalam gendongannya dan mulai melangkah menuju mobil yang masih sedikit berasap di bagian depannya.
"Ja-jangan bawa―"
Sret
Bruk
Kalimat itu tidak sempat dikatakan dengan lengkap saat tubuh Ryeowook kembali terpental ke belakang dan jatuh di aspal jalanan sepi itu dengan keras. Namja asing tadi melangkah mendekat ke arahnya sambil tertawa mengejek. Sedangkan namja yang lebih besar tadi kini sudah memesukkan tubuh Kyuhyun ke dalam mobilnya.
"Ayo! Lawan aku dengan kekuatanmu, Kim Ryeowook!" ucap namja itu dengan suaranya yang terdengar seperti suara anak-anak. Ryeowook hanya bisa melihat kaki namja di depannya karena posisinya yang masih meringkuk di aspal."Kau terluka, kan?! Ayo sembuhkan dirimu sendiri dan bertarung melawanku! Dasar lemah!"
Ryeowook bisa merasakan cairan merah pekat semakin banyak meresap keluar melalui dadanya. Sepertinya lukanya semakin terbuka lebar. Pandangannya mengabur.
"Dengan kekuatan pas-pasan seperti ini, kau sama sekali tidak pantas menjadi pelindung Porosmu, Kim Ryeowook." Ucap namja itu lagi sambil tertawa licik. "Bahkan kau tidak pantas menyandang gelar sebagai Ordinal."
Krek
"Aakhh!"
"Kau lemah dan―"
Slap
Bruk!
Ryeowook masih bisa merasakan sakit di telapak tangannya saat namja asing itu menginjaknya dengan keras. Namun beberapa saat kemudian, injakan itu menghilang entah kemana. Bersamaan dengan tubuhnya yang diangkat menjadi terduduk.
"Kim Jaejoong?!"
Jaejoong menatap tajam namja asing di depannya dengan mata berkilat putih terang. Sementara Henry dan Changmin sedang menopang tubuh Ryeowook.
"Wah, tidak kusangka aku akan bertemu denganmu disini~"
Jaejoong masih bergeming di tempatnya saat namja di depannya itu berkata sambil tersenyum mengerikan.
"Apa yang kau inginkan?" ucap Jaejoong datar tanpa beranjak dari tempatnya.
"Bukankah sudah jelas. Aku akan mengambil kembali Poros Ordinal." Sahut namja itu sambil bangkit dari posisi jatuhnya, lalu menatap remeh ke arah Ryeowook yang kini mulai bisa berdiri. "Dan untuk mengatakan kepada namja disana itu betapa lemahnya dia sebagai seorang Ordinal yang―"
"DIAM!"
Tes
Tes
Henry dan Changmin sukses terjatuh di tempatnya saat Ryeowook yang tadi ada diantara mereka kini maju dan menatap tajam namja asing yang juga terlihat terkejut di tempatnya. Jaejoong mencengkeram dadanya sendiri saat rasa sakit mulai terasa di sana.
"Apa yang k-kau―" namja asing itu tercekat melihat darah yang menetes semakin banyak dari mulut dan hidungnya sendiri. Hingga membuat cairan merah pekat itu mengotori seluruh telapak tangannya dan turun ke tanah.
"Ryeowook, hentikan!" kini Jaejoong yang berseru sambil menggoncang tubuh Ryeowook yang masih bergeming menatap namja asing di depannya. Changmin dan Henry masih terdiam di tempatnya.
"Uhuk!"
Bruk
Namja asing itu kini tersungkur di tanah masih dengan darah yang keluar dari mulut dan hidungnya. Wajahnya pucat pasi dan wajahnya meringis menahan sakit.
"Dia dihancurkan―" ucap Henry sambil menatap Ryeowook yang masih tenang menatap kesakitan di depannya. Seulas senyum mengerikan terukir di wajah sang Ordinal yang memiliki kekuatan menyembuhkan itu. "―dari dalam."
"Henry-ah! Panggil Cardinalnya cepat!" seru Jaejoong yang merasa usahanya gagal untuk menghentikan Ryeowook yang masih tenang dan seakan tidak menyadari keributan di sekitarnya. "Sebelum dia membunuhnya!"
Henry mengangguk dan hendak melangkahkan kakinya, namun belum sempat kaki itu melangkah, tiba-tiba―
"HENRY!"
Changmin sebisa mungkin menangkap tubuh Henry saat tiba-tiba rekannya itu terlempar dari tempatnya.
"Tidak ada yang boleh mengganggu Kyuhyunnie!" ucap Ryeowook masih bertahan di posisinya menatap namja asing yang masih kesakitan di depannya. Jaejoong sudah tersungkur beberapa meter dari tempatnya semula. "Dan tidak ada yang boleh menghina kami!"
"Dia dikuasai kegelapan." Ucap Henry lirih sambil bangkit dari posisi jatuhnya. "Aku tidak bisa menyegel kekuatannya kecuali Yesung sunbae."
Jaejoong bangkit seraya mencengkeram dadanya sendiri, merasakan betapa sakit dan panasnya sesuatu berkilau indah namun penuh kegelapan yang mengalung di dadanya.
"Rusak. Aku akan merusak semua system organmu~" lanjut Ryeowook sambil tersenyum lebar melihat darah yang semakin banyak mengalir dari namja yang masih duduk di depannya. "Dan kau akan mati karena telah berani membawaku dan Kyuhyun dalam situasi seperti ini."
Terlalu fokus dengan objek di depannya, membuat Ryeowook tidak menyadari Jaejoong yang melesat ke arahnya. Namja cantik itu sudah akan mengambil alih kesadaran Ryeowook. Namun, kegelapan bisa melihat kemanapun kau bergerak, dan pada akhirnya, Ryeowook menyadarinya dan dengan sekali sentakan, ditepisnya tangan Jaejoong yang sudah akan menyentuhnya hingga―
Bruk!
Grep
"Yunho?"
Yunho tersenyum sekilas saat Jaejoong yang ada di dalam pelukannya menatapnya terkejut. Setelah menurunkan tubuh Ordinalnya, Yunho menatap tajam Doe-eyes di depannya.
"Berikan liontin merah itu. Kita harus memulihkan Ryeowook segera."
Sementara itu, Yesung berlari secepat kilat saat melihat Yunho menangkap tubuh Jaejoong. Dan dengan sekali tarikan, dibawanya tubuh Ryeowook ke dalam pelukannya.
"LEPASKAN! AKU HARUS MENGHABISI NAMJA ITU! DIA BERENCANA MENCELAKAI KYUHYUN, YESUNG HYUNG! AKU HARUS―"
"Tidak!" seru Yesung masih berusaha menahan pelukannya. "Tenangkan dirimu, Wookie! Kau tidak perlu melakukannya!"
Ryeowook menghentikan rontaannya begitu cahaya menyilaukan itu menyita perhatiannya. Tak jauh darinya terlihat Donghae dan Hyukjae dengan bola cahaya di depannya. Bergerak pelan diatas tangan Jaejoong yang diatasnya terdapat liontin dengan bandul merah gelap.
Semuanya masih diam di posisinya masing-masing saat menyaksikan bagaimana cahaya terang menyilaukan itu menyinari liontin merah gelap yang makin lama makin terang dan berpendar merah.
Itu Kristal Ordinal.
Minho datang beberapa saat kemudian lalu menyerahkan Kyuhyun yang terkulai lemah di gendongannya ke tangan Siwon setelah berhasil menghentikan Equators yang tadi membawa Kyuhyun.
"Sudah saatnya dia melawan."
_Wonkyu_
Tap
Tap
Tap
Spamcos, 06.00 pagi waktu Seoul.
Ryeowook melangkahkan kakinya dengan tidak bersemangat sama sekali. Dia menghabiskan waktu hampir lebih dari 20 menit untuk berjalan dari gerbang Spamcos ke dalam kelasnya. Sungguh waktu yang sangat fantastic untuk berjalan dengan kecepatan seperti siput. Namja mungil masih setia menundukkan wajahnya tanpa melihat ke depan. Untung saja sekolah itu masih sepi. Jika tidak, maka bisa dipastikan ia akan menabrak-nabrak orang-orang di sekelilingnya.
"Dia sekarat. Kemungkinan karena kerusakan system organ dan kehabisan darah."
"Itu adalah kekuatanmu yang lain, Ryeowook-ah. Kekuatanmu yang ada di sisi gelap. Jika kau bisa menyembuhkan segala luka dan kesakitan, maka kau juga punya kekuatan untuk melukai seseorang sesuai kehendakmu."
Duk
Ryeowook membenturkan kepalanya pelan ke arah pintu lokernya yang masih tertutup. Kepalanya pusing dan tubuhnya kembali gemetar ketika pikirannya kembali memutar ulang kejadian kemarin.
"Aku monster." Ucapnya lirih sambil membuka pintu lokernya dengan malas.
Ia sama sekali tidak menyangka bahwa sisi gelapnya sedemikian menakutkannya. Sangat menakutkan.
"Eh? Apa ini?"
Begitu loker itu terbuka, hal pertama yang dilihatnya adalah sebuah rangkaian bunga pita kecil dengan tali satin halus di kedua sisinya. Setahunya, itu adalah gelang Prom yang biasa dikenakan para gadis… dan sebuah kartu.
Tidak perlu memikirkan yang kemarin. Kita akan menghadapi dan melalui apapun bersama. Karena aku akan selalu ada di sisimu.
PS: Gunakan gelang ini di acara malam ini, oke? ^^
-Yesung-
Ini ajaib. Entah kemana perginya muka suram Ryeowook tadi. Sekarang yang ada di wajahnya adalah senyum lebar dan semburat merah di kedua pipinya.
Namja mungil itu tidak menyadari seseorang yang dari tadi memperhatikannya sambil menyadarkan punggungnya di belakang loker tak jauh disana. Yesung menatap Ordinalnya yang masih saja tersenyum itu dengan sendu. Seulas senyum juga tergambar di wajahnya.
_Wonkyu_
Ceklek
Hyukjae membuka pintu kelasnya dan tidak ada siapapun yang menyambutnya. Biasanya sudah banyak temannya yang datang, namun hari ini ia sengaja berangkat lebih pagi. Bukan karena ada ujian atau apa, namun berdiam diri di rumah semakin membuat pikirannya melayang kemana-mana dan terus mengingat kejadian kemarin.
"Inilah kegelapan dalam kekuatan kalian, Para Ordinal."
"Kekuatan kegelapan yang merupakan kebalikan dari kekuatan yang telah dianugerahkan kepada kalian."
Bruk
Hyukjae mendudukkan tubuhnya di bangkunya dengan sedikit keras lalu membenamkan kepalanya di lipatan tangannya diatas mejanya sendiri.
"Bagaimana mungkin aku bisa memiliki kekuatan mengerikan itu?"
Sang pengendali waktu itu mengacak rambutnya frustasi. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa ada kekuatan lain bersemayam dalam dirinya. Ia sudah sangat ketakutan dan sering kali khawatir dengan kekuatannya sendiri sebagai penghenti waktu. Namun saat tahu sisi lain kekuatannya adalah memutar bailkkan waktu membuatnya semakin kacau. Bahkan kemarin ia hampir saja melukai Jaejoong.`
"Sialaaan―" umpatan Hyukjae terhenti saat matanya menatap papan tulis di kelasnya. Mengapa ia baru menyadarinya? Papan tulis yang seharusnya bersih itu kini tertera tulisan berukuran sedang di tengahnya…dan sebuah rangkaian bunga pita berwarna cream. Itu gelang Prom!
Jangan memasang muka seperti itu dan tersenyumlah. Aku suka senyummu, Hyukkie ^^
Jangan terlalu memikirkan yang kemarin. Kita bisa melalui semuanya. Fighting!
PS: Ready for our prom to night? I'll wait you.
-Donghae-
Hyukjae buru-buru bangkit dari kursinya, berlari ke depan papan tulis dan secepat kilat menyambar gelang pita yang tergantungdi sisi papan tulis. Matanya menatap tak percaya benda di tangannya dan tulisan di papan kelasnya bergantian. Senyumnya lama-lama semakin lebar dan wajahnya memerah.
Donghae membalikkan tubuhnya yang sejak tadi berdiri di samping jendela kelas 2-C dan berjalan menuju kelasnya sendiri sesaat setelah memastikan melihat senyum Hyukjae. Namja berwajah ikan itu tersenyum simpul mengingat senyum Ordinalnya yang sangat disukainya.
_Wonkyu_
Srak
Srak
Kim Heechul membolak-balik buku soal di depannya dengan tidak bersemangat. Sudah sejak beberapa menit yang lalu namja cantik itu duduk di bangku kelasnya yang masih lenggang. Beberapa teman sekelasnya menatapnya aneh dan hanya geleng-geleng kepala melihat namja cantik yang masih setia bertopang dagu dengan tatapan kosong itu.
"Ini takdir para Ordinal. Hal mengerikan ada dalam setiap kekuatan yang kalian miliki."
"Kau bisa menebaknya sendiri, Heechul sunbae. Apa kekuatan kegelapan yang ada padamu. Kau bisa membuat matahari kesukaanmu itu mati dan padam seketika, dan jika itu terjadi, semuanya berakhir."
Kalimat Minho masih terngiang dengan begitu jelas di telinganya sejak semalam. Bahkan selama semalaman ia tidak bisa tidur sama sekali, alhasil sebuah lingkaran hitam di bawah matanya tercipta. Sangat mengerikan jika membayangkan ia dapat memadamkan benda bulat kuning kesukaannya itu. Bukankah itu sumber kekuatan para Cardinal dan Ordinal? Dan jika musnah, lalu bagaimana dengan mereka? Bagaimana dengan dunia? Bagaimana dengan cahaya? Sungguh hal itu membuat Heechul ketakutan hingga―
"…HEECHUL-SSI KAU DENGAR AKU?! Kau melamun, ya?!"
Heechul sontak melompat di tempatnya begitu sebuah seruan terdengar di sampingnya. Namja cantik itu mengusap dadanya pelan sambil melotot menatap teman sekelasnya.
"KAU PIKIR AKU TULI, EOH?" seru Heechul sambil mengusap telinganya kasar. "APA MAUMU, PARK JUNGSOO?!"
Jungsoo―Ketua OSIS Spamcos yang biasa dipanggil Leeteuk―itu tersenyum meminta maaf sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Heechul masih bertahan dengan wajah kesal dan galaknya.
"Seseorang menitipkan ini agar diberikan kepadamu." ucap Leeteuk kalem sambil meyerahkan sebuah buku tebal bersampul biru tua dengan tulisan besar 'FISIKA' disana, membuat Heechul semakin tidak berminat.
"Ck, menganggu saja." Ucap Heechul setelah berhasil mendudukkan diri lagi setelah mengusir Leeteuk dengan 'lembut'. Namja cantik itu menatap malas buku di depannya, namun sebuah kertas yang terselip di sana membuatnya mau tak mau membuka buku laknat itu.
Otak manusia hanya mampu menampung informasi kurang dari 1 persen. Maka jangan memikirkan apapun tentang semalam, arra! Lebih baik kau latihan soal Fisika yang kuberikan ini."
Heechul memutar matanya malas membaca tulisan rapi di depannya. Namun senyum mau tak mau terukir di wajahnya yang sejak tadi mendung.
Aku tidak mau pergi ke Prom dengan seseorang yang berwajah stress, jadi Rileks dan jangan menganggap semuanya terlalu rumit.
Sampai jumpa nanti malam, Matahariku.
-Hankyung-
"Satu lagi, Heechul-ssi. Sepertinya gelang bunga ini juga untukmu. HYAAA, HEECHUL-SSI! MENGAPA WAJAHMU MEMERAH SEPERTI ITU!"
Hankyung tersenyum tipis begitu mendengar seruan Leeteuk yang terdengar dari kelas sebelah. Beberapa pekikan senang yang sangat ia yakini suara Heechul terdengar kemudian di kelas 3-A di samping kelasnya hingga membuat beberapa teman sekelasnya di 3-B terlonjak. Namja Cina itu melanjutkan kegiatan membaca bukunya dengan seulas senyum di wajahnya.
_Wonkyu_
Bruk
"Hei, berjalanlah yang benar!"
Kim Jaejoong hanya membungkuk sekilas saat namja di depannya itu menegurnya karena tak sengaja di tabraknya. Namja berwajah cantik dan dingin itu kembali melanjutkan langkahnya menyusuri halaman utama Spamcos yang luas dan sudah sedikit ramai dengan siswa-siswa lain. Beberapa siswa menegurnya beberapa kali saat lagi-lagi ia tidak sengaja menabrak mereka lagi, dan Jaejoong hanya bisa membungkuk minta maaf dengan wajah datar lagi. Pikirannya berkelana kemana-mana.
"Kau sudah lihat, Jaejoong Hyung? Sekarang kegelapan ini semakin pekat."
"Butuh lebih banyak crystal Ordinal dan cahaya untuk menghalau ini semua. Liontinmu itu saja, tidak akan cukup. Sama sekali tidak cukup."
Pluk
Jaejoong sontak tersadar dari lamunannya saat sebuah amplop putih kecil mendarat mengenai wajahnya. Namja cantik itu menatap tak peduli pada amplop kecil di kakinya dan sudah akan melanjutkan langkahnya, namun amplop kecil itu seakan punya kaki dan mengikuti kemana kakinya melangkah. Dengan alis terangkat sebelah, akhirnya ia memungut kertas kecil itu.
Jangan pikirkan perkataan Para Guard, Jae. Dan jangan pikirkan kegelapan. Ingatlah bahwa masih banyak cahaya terang di sekitarmu. Kau tidak sendirian. Kita akan mencari sisa Kristal Ordinal yang lain. Dan aku akan selalu melindungimu, okay?
Jadi tersenyumlah, aku tidak mau jika berdansa dengan Princess yang tidak bisa tersenyum nanti malam ^^
Can I have this dance? See ya to night ^^
-Yunho-
Tepat saat semua tulisan itu sudah terbaca oleh Jaejoong, sebuah gelang berhiaskan Bunga pita buatan melayang dan jatuh dengan lembut tepat di atas kertas putih itu. Jaejoong menatap gelang Prom itu sekilas, masih dengan wajah datarnya. Lalu dengan cepat dilipatnya kertas itu lagi dan dimasukkannya ke dalam saku blazernya bersama dengan gelang Prom yang entah datang dari mana itu. Jaejoong kembali melangkah, namun langkah itu terlihat ringan dan berbeda dengan langkah lesunya tadi. Dan seulas senyum tergambar di wajahnya kemudian, menemani perjalanannya melintasi halaman luas Spamcos.
"Mengapa kau menyembunyikan senyum manis itu sekian lama?"
Yunho tersenyum tipis sambil menumpukan kedua lengannya di balkon lantai empat Spamcos. Satu dari banyak siswa yang melintas di halaman luas di depannya itu membuat senyumnya tak bisa menghilang dari wajahnya.
_Wonkyu_
"MWO! KAU JUGA?"
"Kyaaaa! Aku juga lhooo~"
Cho Kyuhyun memperhatikan ketiga teman anehnya yang masih saja berteriak girang di tempatnya dengan pandangan aneh. Namja manis itu terlihat menekuk wajahnya dengan tangan bersedekap dan bibir mengerucut.
"Aku tidak percaya Hankyung akan memberiku surat 'romantis' ini~"
"A-aku juga tidak menyangka Yesung Hyung akan memberiku kartu ini."
Heechul dan Ryeowook terlihat excited di tempatnya, hingga membuat beberapa pengunjung kantin menatap mereka aneh. Hyukjae juga masih senyum-senyum tak jelas saat Ryeowook dan Heechul kembali memekik saat ia bercerita mengenai apa yang diperolehnya tadi pagi.
"KYAAA! BUKANKAH MEREKA ROMANTIS?!" seru Heechul sambil mengaduk makanannya dengan bersemangat.
" Kau benar, Heechul Hyung." sahut Ryeowook sambil terkikik.
"Aku jadi tidak sabar nanti malam~"
"Aku juga―"
Brak!
"YA! BISAKAH KALIAN TIDAK RIBUT DAN MEMBIARKANKU MAKAN DENGAN TENANG, HYUNGDEUL?!"
Ketiga namja itu terdiam saat Kyuhyun menggebrak meja di depannya dan menatap mereka dengan tatapan mengerikan. Namja manis itu terlihat kesal dengan wajah memerah.
"Hei, bocah evil! Kau ini kenapa sih? Kami sedang senang tau!" sahut Heechul dengan pandangan sengit.
"Kalian bertingkah seperti yeoja yang baru saja menerima surat cinta!"
"KAMI MEMANG MENERIMA SURAT CINTA!"
Kyuhyun hampir melonjak di tempatnya mendengar seruan ketiga temannya yang sangat bersamaan. Namja manis menutup kedua telinganya, begitu pula dengan beberapa siswa yang duduk tak jauh dari meja mereka.
"Kalian ini norak sekali sih?" ucap Kyuhyun kesal sambil melayangkan death glare kepada ketiga teman anehnya yang kini kembali ke dalam wajah bahagia yang menurutnya sangat menjengkelkan.
"Ya! Cho Kyuhyun, kau pasti juga menerimanya dari Siwon, kan? Jadi jangan seenaknya mengatai kami!" sahut Ryeowook sambil memukul pelan lengan Kyuhyun di depannya.
"A-aku―"
"Ryeowookie benar! Pasti pacar mesummu itu mengirimimu surat yang lebih romantis dan lebih norak daripada milik kami!" kini Heechul yang menimpali sambil melingkarkan lengannya di bahu Kyuhyun dan menariknya hingga namja manis itu memekik karena tercekik.
"YA! HEECHUL HYUNG, LEPASKAN!"
"Ah, Jaejoong-ah!" seru Hyukjae sambil beranjak dari tempat duduknya dan kembali lagi dengan menarik Jaejoong yang terlihat kelimpungan karena tangan Hyukjae yang melingkar di bahunya dan menjaga nampan makan siangnya agar tidak tumpah.
Jaejoong melepaskan tangan Hyukjae dengan sedikit kasar begitu ia sudah duduk dan berhasil menyelamatkan isi nampannya yang hampir tumpah. "Ada apa?"
"Mana? Perlihatkan kepada kami~" ucap Hyukjae sambil tersenyum aneh, dan membuat Jaejoong menatapnya risih dengan wajah datarnya. "Yunho memberimu surat juga, kan? Juga gelang Prom?"
Keempat namja itu menahan tawa saat melihat wajah Jaejoong yang tampak memerah. Namja cantik itu memalingkan wajahnya sekilas.
"I-itu bukan urusan kalian." Ucap Jaejoong pendek sambil mulai mengambil sumpitnya.
"Ayolah, Jaejoong-ah~ Biarkan kami membaca apa yang ditulis Beruang Pabbo itu untukmu!" ucap Heechul disertai anggukan penuh harap Hyukjae dan Ryeowook, sementara Kyuhyun masih berusaha melepaskan tangan Heechul yang melingkar di bahunya.
"Tidak."
"Ayolah, Jae Hyung~ Perlihatkan kepada kami suratnya~"
"Aku akan pindah ke tempat lain saja."
"Eh tunggu, apa itu!"
Perkataan Hyukjae sontak membuat semuanya mengalihkan pandangan ke arah ujung meja. Namun disana tidak ada apa-apa, dan―
"Huwaaa! Ternyata Jaejoong juga dapat!" seru Hyukjae setelah secepat kilat mengambil amplop putih dan gelang Prom dari saku blazer Jaejoong saat ia mengalihkan perhatian tadi. Jaejoong melebarkan matanya melihat amplop putih yang kini ada di tangan Hyukjae. "Ayo, kita baca apa isinya!"
"Hei, kembalikan!"
"Huwaaaaa~ Manis sekali~"
Tap tap tap
Kyuhyun mengendap-endapkan langkahnya meninggalkan keributan yang mencuri semua perhatian siswa di kantin itu. Meninggalkan Hyukjae, Heechul, dan Ryeowook yang masih asyik membaca tulisan Yunho, sementara Jaejoong terlihat pasrah di tempatnya dengan wajah kesal.
Drap drap drap
Kyuhyun menetralkan nafasnya yang terangah setelah berlari dari kantin ke lantai dasar dengan kecepatan super. Uap-uap putih keluar dari hidung dan mulutnya karena udara dingin.
"Apa-apa'an mereka itu? Aish! Dasar noraaaak!"
Namja manis itu tampak menggerutu entah pada siapa. Lihat saja wajah kesalnya yang lucu, pipinya menggembung dan bibirnya mengerucut seraya mengeluarkan umpatan-umpatan kecil. Jangan lupakan langkahnya yang menhentak-hentak kesal sambil sesekali menendang-nendang apa yang ada di depannya.
Sepertinya Poros Ordinal ini sedang kesal karena melihat keempat rekannya yang menerima surat aneh dari pasangan Prom mereka masing-masing nanti malam.
Lalu apa yang salah?
Tentu saja salah. Karena dia sendiri belum menerima apapun dari pasangannya.
"Mengapa aku memikirkan hal itu, sih?" ucap Kyuhyun pada dirinya sendiri saat ia kini sudah ada di koridor panjang yang masih sedikit ramai itu. "Bukankah itu bagus karena namja mesum itu tidak lagi mengangguku! Ya, benar. Harusnya aku senang~ Hahaha!"
Beberapa siswa yang ada di dekat Kyuhyun kini tampak terkikik geli melihat tingkah aneh namja manis yang masih setia mengomel pada dirinya sendiri itu. Dan mereka akan pura-pura tidak melihat saat iris coklat caramel itu menatap mereka dengan sengit.
"Itu berarti Siwon Hyung sudah tidak lagi mengejar-ngejarku. Huwaa senangnya~" ucap Kyuhyun lagi sambil berputar riang di tempatnya.
Ia sangat senang saat namja pengganggu itu tidak muncul sedikitpun padanya hari ini. Bahkan tadi pagi, Siwon tidak datang menjemputnya dengan alasan bangun kesiangan, dan akhirnya ia bisa berangkat ke sekolah dengan riang tanpa gangguan namja tampan namun mesum itu.
Tap
"T-tapi―" Kyuhyun menghentikan langkahnya sambil menggigit bibir bawahnya. Wajahnya yang tadi riang kini terlihat sedikit mendung. "Mengapa rasanya berbeda? A-aku merasa…tidak…spesial~"
Kyuhyun menggelengkan kepalanya cepat berusaha menolak pikirannya sendiri. Namun rasa tidak enak itu kembali lagi dan lagi. Seolah memaksanya untuk terus mengingat masa-masa saat Siwon ada di sekelilingnya. Karena sekarang rasanya…hampa.
"Kurasa aku sudah gila."
"Kyuhyun-ah! Ah, akhirnya aku menemukanmu!"
Kyuhyun menolehkan kepalanya kesamping dan disambut Yoon Doojoon, teman sekelasnya yang kini berdiri sambil terengah.
"Ada apa mencariku, Doojoon-ah?" tanya Kyuhyun sambil menepuk bahu Doojoon.
"Park Sonsaengnim menyuruhmu menemuinya di ruang musik." Ucap Doojoon, "Sekarang!"
"Mwo? Sekarang?"
Sepeninggal Doojoon, Kyuhyun segera berlari menuju ruangan musik yang biasanya digunakan untuk kelas special mereka. Dalam perjalanan, namja manis itu mulai menerka-nerka ada keperluan apa hingga guru musiknya itu memanggilnya. Mungkin keperluan konser musim gugur, begitu batinnya. Sepanjang perjalanan mencapai ruang musik Kyuhyun sedikit terkagum melihat bunga-bunga mawar putih yang tumbuh di sisi koridor panjang yang dilaluinya. Tak heran mawar putih itu tumbuh subur disana, mengingat lambang Spamcos adalah bunga mawar putih.
Dan Kyuhyun suka itu, karena bunga mawar putih adalah kesukaannya.
Tap
Langkah Kyuhyun terhenti saat dirinya sudah berjarak beberapa langkah dari pintu ruang musik. Mata besarnya menyipit melihat tulisan yang ditempel di pintu ber-cat putih di depannya.
RUANG MUSIK DALAM PERBAIKAN
SEMENTARA PINDAH KE RUANG 12
"Mwo? Benarkah?" gumam Kyuhyun pada dirinya sendiri. Wajahnya kembali cemberut.
Namja manis itu kemudian berbalik dan berjalan lagi menuju ruang 12 yang terletak tak jauh dari sana. Untung saja, pindahnya tidak terlalu jauh, begitu batinnya. Jika jauh maka ia akan kelelahan dan ia tidak suka itu.
Ruang 12
Kyuhyun tersenyum saat label kelas itu sudah terlihat di matanya. Namja manis itu bersenandung pelan sambil mempercepat langkah.
MOHON MAAF, RUANG MUSIK DIPINDAHKAN KE RUANG 35 KARENA KEPERLUAN RENOVASI
"Dipindah lagi?"
Memang, Spamcos sedang mengadakan renovasi besar-besaran untuk menyambut konser musim gugur yang akan berlangsung akhir bulan ini. Mungkin pihak sekolah mengiginkan sekolah elit ini tampak lebih mewah di mata para orang tua dan wali murid saat acara nanti.
Setelah menghela nafas sebentar, Kyuhyun kemudian melanjutkan langkahnya menuju tangga. Ruang 35 terletak di lantai tiga. Itu jauh, dan Kyuhyun tak suka. Sangat terlihat raut galak di wajah manis yang mulai memerah karena cuaca dingin itu.
"Jika saja bukan perintah dari Park Sonsaengnim, aku tidak mau melakukan ini!" omel Kyuhyun sambil menghentak-hentakkan langkahnya di tangga. Sepertinya mood-nya sedang tidak bagus.
33… 34… 35
"APA-APA'AN INI?!"
Kyuhyun sontak menutup mulutnya sendiri saat beberapa siswa kelas tiga menatapnya aneh. Namja manis itu membungkuk meminta maaf kepada para Sunbae-nya, mengingat lantai ini adalah area ruang kelas 3.
RUANG MUSIK UNTUK SEMENTARA DIPINDAHKAN KE RUANG YANG BELUM BISA DITENTUKAN
"Kau mencari sesuatu, Hoobae?"
Kyuhyun membalikkan badannya saat suara lembut di belakangnya itu terdengar. Disana berdiri seseorang dengan senyum malaikatnya.
"A-aku sedang mencari ruang musik, Sunbae." Jawab Kyuhyun sambil membungkuk sopan sekilas kepada siswa kelas tiga di depannya.
"Panggil 'Leeteuk Hyung' saja." Ucap namja itu lagi masih dengan senyum lembutnya, membuat Kyuhyun menatapnya kagum. "Kau Cho Kyuhyun itu, kan?"
"Nde, H-hyung. Darimana kau tahu?" tanya Kyuhyun yang sedikit terkejut, Leeteuk hanya tersenyum.
"Mana mungkin aku tidak tahu namamu jika benda itu ada disana."
Kyuhyun menaikkan sebelah alisnya dan mengikuti arah yang ditunjuk Leeteuk. Dan―
"M-MWOOO?!"
Bagaimana Kyuhyun tidak berseru kaget jika tepat di depannya kini―atau lebih tepatnya di halaman utama Spamcos yang luas―tergelas sebuah banner sebesar setengah lapangan luas itu, berwarna putih dengan tulisan hitam besar-besar di atasnya dan juga sebuah foto berukuran super besar.
Fotonya!
Dengan tulisan…
RUANG MUSIK PINDAH KE LAPANGAN BASKET. MAAF TELAH MEMBUATMU BINGUNG, MY PRINCESS.
DATANGLAH, AKU MENUNGGUMU
-CSW-
"Sangat jelas jika dilihat dari sini, ya?"
Kyuhyun mengeratkan pengangannya di pagar besi balkon lantai 3 itu saat kalimat candaan Leeteuk terdengar di sampingnya. Namja manis itu merasa wajahnya sudah berubah warna total menjadi semerah tomat. Leeteuk tertawa geli disampingnya. Begitu juga beberapa siswa yang ada di sekelilingnya, dan semua siswa yang melihat banner besar itu di lantai 2 dan lantai 1.
Choi Siwon sialan!
Dan dengan secepat kilat, Kyuhyun segera beranjak dari tempatnya berdiri kemudian berlari secepat yang ia bisa menuju tempat yang ada di dalam kepalanya. Namja manis itu berusaha menghiraukan semua pandangan geli dan bisik-bisik yang ada di setiap tempat dimana ia melangkah.
"Itu romantis, bukan?"
"Kurasa mereka sepasang kekasih."
"Pacarnya itu sangat romantis~"
"DIA BUKAN PACARKU!" seru Kyuhyun setelah tidak tahan dengan bisik-bisik di sekelilingnya. Tidak peduli apakah yang baru saja ia bentak itu adalah Sunbae-nya. Dipikirannya hanya ada wajah namja menjengkelkan yang ia kira sudah tobat, namun tanpa diduga telah melakukan hal yang sangat jauh memalukan seperti ini.
Tap tap tap
Namja manis itu kembali berjalan menghentak-hentak dengan wajah super kesal dan terlihat galak. Pipinya memerah sempurna entah karena udara dingin atau karena sesuatu yang lain. Walau kesal dan marah menguasai dirinya, namja manis itu dapat merasakan sesuatu yang lain yang mencoba mendominasi hatinya. Entah apa, tapi pastinya hal itu membuat seulas senyum terukir di sela-sela omelannya.
Plak
"Ck! Apa yang kau pikirkan, Cho Kyuhyun!" namja manis itu menampar pipinya sendiri berkali-kali masih sambil berjalan cepat menuruni tangga menuju lapangan basket indoor di lantai dasar. Beberapa siswa yang berpapasan dengannya terkikik geli melihat tingkahnya. "Aku harus memberi Choi Pabbo itu pelajaran!"
Tap tap tap
BRAK!
Pintu utama lapangan basket indoor itu terbuka dengan keras saat Kyuhyun menendangnya dengan tidak berperikepintuan. Namja manis itu melangkah masuk dengan nafas terengah dan langkah menghentak menahan marah.
"KAU PIKIR APA YANG KAU LAKUKAN, CHOI PABBO?!"
Suara Kyuhyun menggema di seluruh lapangan basket yang kosong itu. Lampu-lampu disana menyala, namun tidak ada siapa-siapa selain dirinya di lapangan luas itu. Kyuhyun melangkahkan kakinya memasuki lapangan kosong dan sunyi di depannya. Rasa kesal mengalahkan rasa takutnya.
"YA! KAU DIMA―"
Kalimat Kyuhyun terhenti saat sesuatu menyita perhatiannya. Benda kecil itu tergeletak tepat di titik tengah lapangan basket. Dengan sebelah alis terangkat, namja manis itu mendekat.
"Mawar putih?" gumam Kyuhyun sambil menunduk mengambil setangkai mawar putih di depannya. "Huh, kau pikir kau bisa merayuku dengan setangkai mawar ini?! YA! Choi Siwon! Kau dimana?!"
Kyuhyun menatap mawar di genggaman tangannya dengan wajah yang tidak bisa diartikan. Rasa marah itu masih ada, namun saat iris karamelnya menatap bunga favoritnya itu, entah mengapa hatinya menghangat. Warna putih itu seakan tak asing dengannya.
"Aish! Kau membuang waktuku! Percuma saja jika kau mencoba menukar rasa marah dan kesalku dengan setangkai mawar ini!" seru Kyuhyun lagi dengan wajah yang kembali cemberut menggemaskan. Namja manis itu sudah akan bangkit dari posisi berjongkoknya sebelum―
Pluk
Sesuatu jatuh tepat diatas bahunya. Mendarat lembut disana kemudian tergelincir dan jatuh ke lantai.
Sebuah kelopak mawar putih.
"Apa yang―"
Pluk
Satu kelopak jatuh lagi di depannya. Kemudian satu lagi jatuh diatas surai ikal kecoklatannya. Kyuhyun menggapai benda putih lembut yang masih bertengger di rambutnya itu, kemudian menatapnya saat sudah tiba di telapak tangannya.
Pluk
"Ada ap―"
WUUUSSSH~
Kalimat Kyuhyun terputus saat puluhan―ah tidak, itu ratusan, dan bahkan ribuan―kelopak mawar putih yang lembut turun dari atas dan menghujani tubuhnya. Sangat banyak dan berasal dari segala penjuru lapangan basket. Aroma khas mawar putih memenuhi lapangan kosong itu.
Tap
Tap
Tap
Grep
Kyuhyun membulatkan matanya saat tangannya digenggam oleh seseorang. Namja manis itu tidak bisa melihatnya dengan jelas karena kelopak mawar yang masih terus berjatuhan. Namun tanpa melihatnya pun, ia tahu siapa pemilik telapak tangan besar dan hangat itu.
"Kau suka kejutanku, Nona Cho?"
Kyuhyun tidak bisa berkata apa-apa saat setangkai mawar putih yang sejak tadi digenggamnya, kini digantikan dengan sebuket besar mawar putih yang sudah di rangkai sedemikian rupa hingga nampak sangat cantik.
"Aku menyiapkan ini sepanjang hari hanya untukmu~"
Choi Siwon meraih tangan kanan Kyuhyun yang masih tidak bisa berkata-kata di depannya. Kemudian namja tampan itu melingkarkan sebuah gelang pita dengan hiasan bunga berwarna putih diatasnya, dipakaikannya di pergelangan tangan pucat di depannya.
"Bersediakah kau untuk menjadi pasanganku di pesta Prom nanti malam, My Princess?" ucap Siwon sambil menggenggam telapak tangan kanan Kyuhyun lalu mendekatkannya ke depan bibirnya dan mengecup punggung tangan berjemari lentik itu.
Kyuhyun masih tidak bisa mengembalikan kata-katanya yang sejak tadi hilang entah kemana. Semua otot dan pikirannya seakan lumpuh melihat senyum memikat dari namja tampan yang masih menatapnya hangat di depannya.
"W-w-wo-wonni-wonnie―"
"Sssshh~" potong Siwon saat kalimat tergagap itu terdengar dan membuatnya mau tak mau menahan senyum geli. Namja tampan itu menempelkan telunjukknya diatas bibir ranum Kyuhyun. "Kau tidak perlu menjawabnya dengan kata-kata, Nona Cho."
Kyuhyun tidak bisa untuk tidak merona mendengar kalimat halus Siwon. Namja manis itu hanya bisa diam saat Siwon membelai dan mengangkat dagunya lembut kemudian menariknya mendekat ke wajahnya sendiri.
Kyuhyun memejamkan matanya erat-erat saat ciuman hangat itu jatuh diatas bibirnya. Begitu hangat dan lembut dan seakan mampu melelehkan semua tulang di tubuhnya. Tak ada yang bisa Kyuhyun lakukan selain membalas ciuman itu dengan lembut juga. Membuat Siwon tersenyum di sela-sela ciumannya.
_Wonkyu_
Ceklek
"YAAAAAAHH~ KAMI INGIN MELIHATNYA LEBIH LAMA, SONSAENGNIM. JEBAAAALLLL~"
Park Yoochun menggelengkan kepalanya sambil bersedekap di depan pintu besar lapangan basket yang baru saja ia tutup di belakang tubuhnya. Segerombolan siswa di depannya menatapnya dengan pandangan memelas dan memohon.
"Tidak boleh. Itu namanya mengganggu privasi orang lain."
"TAPI KAMI MASIH MAU MELIHAT JAWABAN KYUHYUN, SAEM~ AYOLAH~"
Suara koor puluhan siswa di depannya itu membuat Yoochun mengusap wajahnya kasar sambil menghela nafas keras. Guru muda itu memijat keningnya pelan saat gerombolan siswa yang masih ingin menyaksikan drama romantis yang dibintangi Choi Siwon dan Cho Kyuhyun itu mulai ramai di depannya.
"Yunho, selesaikan ini."
Gerombolan siswa yang masih ramai itu mengalihkan perhatiannya ke samping Yoochun saat sesosok siswa berdiri di samping guru muda itu dan menatap mereka semua dengan sorot musangnya yang berkilat terang disertai seringaiannya.
"Kembali ke kelas kalian masing-masing." Jung Yunho berucap santai dan sukses membuat keadaan ricuh di depannya itu hening seketika, "Sekarang."
Hankyung, Donghae, dan Yesung bergabung berdiri di sisi Yunho dan Yoochun. Mereka tersenyum tipis melihat gerombolan di depan mereka yang mulai membubarkan diri dengan tertibdan kembali kekelas mereka masing-masing seperti robot.
"Ck, merepotkan saja kedua poros itu." keluh Yesung sambil sedikit menoleh pada pintu yang masih tertutup di belakangnya.
"Setidaknya Kyuhyun bisa terlihat manis dan tidak galak sepanjang hari seperti yang dilaporkan Hyukkie." Sahut Donghae sambil tertawa ringan mengingat bagaimana wajah Hyukkie yang terlihat kewalahan saat menceritakaan bagaimana badmood-nya Kyuhyun hari ini.
Yoochun maju selangkah lalu berbalik menghadap keempat murid istimewanya, lalu guru muda itu tersenyum.
"Semua gelang prom sudah diterima para Princess, bukan?" ucap Yoochun sedikit terikik melihat wajah cerah para Cardinal di depannya. Keempat muridnya itu mengangguk.
"So, Let's lead the Princesses to the ball room, Gentlemen."
_Wonkyu_
"Kubilang kembalikan itu padaku!"
"Waaaa… ternyata beruang Pabbo itu romantis juga, ya~"
Jaejoong hanya menatap dengan tatapan jengkel saat ketiga temannya masih asyik terkikik dan membaca surat yang diprolehnya tadi pagi. Namja cantik itu sebenarnya tidak mempermasalahkan jika Heechul, Hyukjae, dan Ryeowook membaca surat itu, namun entah perasaan apa yang membuatnya terus-terusan blushing saat ketiga temannya itu membaca kata demi kata disana dengan sedikit keras.
"Sisa Kristal Ordinal yang lain?" tanya Heechul tiba-tiba. Dan sukses membuat Jaejoong tiba-tiba menatapnya. Tawa dan senyum menghilang dari wajah mereka. "Apa maksud kalimat ini?"
Jaejoong mengalihkan pandangannya ke arah lain saat ketiga Ordinal di depannya masih menatapnya bingung. Namja cantik itu menatap jendela yang menampilkan suasana langit yang cerah dan terang dihiasi cahaya kuning yang merupakan sumber kekuatan para Axis.
'Akan ada badai yang gelap, aku bisa merasakannya menunggu jauh di depan kita.'
Satu hal…
Pada akhirnya mereka tahu satu hal
Satu kebenaran…
Bahwa tidak ada terang tanpa kegelapan
Bahwa tidak ada putih tanpa hitam
Bahwa tidak ada kebahagiaan tanpa kesedihan
Bahwa tidak ada keabadian tanpa kehancuran
Dan pada akhirnya mereka juga menyadari
Kekuatan mereka memiliki kontra
Membuat mereka sadar…
Bahwa jika tidak ada itu semua,
Maka tidak akan ada perjuangan mempertahankan kebaikan dan cahaya
.
TBC
.
.
Annyeong, my dear Readers
I can only say…
SORRY FOR THIS VERY DAMN AWFUL LATE UPDATE!
.
Para Ordinal akhirnya tahu sisi lain di setiap kekuatan mereka. Mereka harus bisa mengendalikannya.
Siapa equators? Bagaimana dengan pesta dansa?
Let's go to next chappie ^^
In two days from now #smirk
.
Promotion!
I've made an Instagram account. I'll publish some pics about all pairing there, about my FF cover, etc. or some drabble pics ^^.
Follow me on my IG with username: babywonkyu
GOMAWOO ^^|
.
Setiap review readers adalah sumber perbaikan bagi saya. Jadi jangan sungkan bila ada yang tidak berkenan. XOXO for you all ^3^
Fic ini murni BOYSLOVE/YAOI bukan GENDERSWITCH, dan main pair disini adalah WONKYU ^^
FEEL FREE TO REVIEW ^^
Wonkyu is Love,
BabyWonKyu
jkv jdfkbnvhjk zdfnhkvnk
