Konnichiwa! Thanks for the review. Now I'm back again here. So, you can read the rest of the story.

I want to make it more horror, one by one character will die, except for one person only. Can you guess later, now I'm busy, ya!

Happy reading! And don't forget to review. Doomo arigatoo gozaimasu!


~The Secret?~


Hari ini adalah hari pemakaman Fang. Semua teman sekelasku dan guru-guruku ikut menghadiri acara pemakaman ini, kecuali seorang gadis. Ya, si Akinah yang sejak kemarin kelihatan trauma dan panik. Entah apa yang dipikirkannya sehingga dia menyebutkan kata-kata, "Cerita itu benar!". Hal itu malah membuatku penasaran.

Khawatir dengan keadaan Akinah, aku pun mengambil HP-ku dan menelepon Akinah. 2 menit menunggu, akhirnya dia menjawab.

"Halo?"

"Akinah, kamu di mana?"

"Aku ada di rumah. I, ini Boboiboy, ya?"

"Masa' kamu enggak tahu?"

"Enggak. Hehehe ... Suaramu kalau di telepon kok beda, ya?"

"'Kan memang begini. Oh, ya! Kamu kenapa tidak ikut ke acara pemakaman Fang tadi?"

Tuuut ... Tuuut ... Telepon ditutup?

Dasar Akinah! ditanya malah asyik kabur saja. Ya ... setidaknya dia akan memberitahuku apa yang terjadi kemarin dan kenapa dia tidak ingin mengikuti acara pemakaman Fang. Mungkin aku bisa menanyakannya di sekolah.

Aku meletakkan tanganku di dahi. Air? Ada air di dahiku, dari mana air ini?

Kuangkat kepalaku mengadahkan ke atas, air hujan. Itu penyebab kenapa dahiku basah. Kuambil payung lipat yang setia bersamaku di dalam tas, lalu membukanya. Hujan semakin deras, udara semakin dingin, dan langit semakin gelap tertutup awan mendung. Ini mungkin ... mungkin alam kini sedang berduka atas kepergian Fang yang selalu menjadi biang kerok di sekitar kami.

Satu jam kemudian, aku, Yaya, Ying, dan Gopal pulang, sedangkan yang lain sudah pulang duluan. Kami ingin mengunjungi rumah Akinah yang letaknya jauh di dekat rumah kosong di tengah hutan. Tapi, sepertinya Akinah sedang berduka, ditambah rasa trauma dan panik seperti sebelumnya. Maka kami pun mengurungkan niat kami mengunjungi rumah Akinah.

Di tengah perjalanan ...

"Woi, Boboiboy, kenapa kamu murung?" tanya Ying.

"Tidak ada apa-apa," aku memalingkan wajahku dari Ying.

"Kalau ada masalah, bilang saja pada kami. Kami sahabatmu siap membantumu kapan saja dan di mana saja," hibur Yaya.

"Betul kata Yaya. Kami selalu ada di sampingmu kapanpun kau mau," tambah Gopal dengan antusiasnya.

Aku tersenyum kecil, "Terima kasih, Yaya, Ying, Gopal. Sebenarnya aku khawatir dengan keadaan Akinah. Dia sangat ketakutan, panik ... sejak Fang meninggal kemarin. Saat kutanyakan kejadian kemarin berulang-ulang, dia hanya diam dan menangis. Aku takut membuatnya sedih ataupun sakit hati. Tapi aku sangat penasaran. Tadi juga aku tanyakan kenapa dia tidak ikut pemakaman Fang, dia malah menutup teleponnya. Sebenarnya apa yang terjadi?"

Ying malah ikutan murung sepertiku. Gadis keturunan China berkacamata dan rambut berkucir dua itu mungkin sama khawatirnya denganku. Dan pada akhirnya, kami semua tetap diam sampai tiba di rumah. Satu pertanyaan yang tak pernah terungkapkan ...

Apa ada sebuah rahasia yang disembunyikan Akinah?


Di rumah, aku disambut hangat oleh Tok Aba dan Ochobot. Mereka berdua memelukku bergantian, dan mengatakan kalau mereka juga berduka atas kematian Fang. Aku hanya tersenyum kecil, tapi tetap sedih. Kulihat jam tangan Fang yang kubawa di tanganku. Jam kekuatan manipulasi bayangan, jam ini memiliki kekuatan yang lebih kuat dariku. Seandainya Fang masih hidup ...

"Eh ... Boboiboy?" Aku menoleh ke kanan. Ternyata Ochobot. "Nih, minum Tok Aba special hot chocolate, tadi baru dibuat oleh Tok Aba, ni! Minumlah."

"Hmm, terima kasih, Ochobot." Aku meminum hot chocolate buatan Tok Aba dengan cepatnya. Setelah habis, kuelus kepala Ochobot yang berwarna kuning itu. Robot kecil itu tertawa geli.

"Ochobot, teman baruku, Akinah ... Dia ketakutan sejak Fang meninggal. Aku penasaran dengannya, tadi aku ajak dia menghadiri acara pemakaman Fang, dia menolak. Kalau aku tanya tentang kejadian kemarin, gadis itu malah murung. Sebenarnya ada apa, sich?"

"Mungkin Akinah sebenarnya berduka atas kepergian Fang, dan mungkin dia memiliki sebuah rahasia di rumah kosong kemarin. Makanya, Akinah memilih diam dan tidak memberitahu sesuatu tentang rumah itu kepada siapapun."

Aku berusaha mencerna perkataan Ochobot tadi. Ochobot pun melanjutkan kalimatnya, "Aku pernah dengar, dulu rumah itu ditinggali oleh sepasang suami istri bangsawan yang hidup bahagia. Namun kebahagiaan mereka berhenti sejak adanya pemberontakan di rumah mereka oleh 3 perampok. Satu persatu anggota keluarga tersebut mati terbunuh. Harta mereka diambil, dan suatu hari ada seorang petani yang mengetahui keberadaan rumah tersebut dan menemukan mayat suami istri tersebut. Mereka dikubur dengan baik, dan arwah sang suami tetap menunggui rumah tersebut. Dia bertekad untuk menjaga rumah itu, dan jika ada orang yang masuk ke rumah tersebut akan dibunuh olehnya."

"Tapi kenapa sewaktu Fang masih kecil, dia tidak mati?"

"Aku tidak tahu."

Ochobot meninggalkanku sendirian di ruang keluarga. Kini aku hanya bisa menatap TV dengan pandangan kosong, merenungkan cerita dari Ochobot tadi. Tidak mungkin si pemilik rumah tersebut berusaha untuk tetap menjaga rumah tersebut dan membunuh orang-orang yang sengaja masuk ke sana. Hmm ... Oh, ya! Kenapa tidak tanya Akinah saja? Barangkali gadis itu tahu tentang asal-usul rumah itu. Kuharap begitu ...


Esok harinya, aku berangkat sekolah dengan tergesa-gesa. Bagaimana tidak? Waktu sudah hampir menunjukkan pukul 07.00 pagi, dan bel masuk akan berbunyi pada pukul 07.00 tepat. Kalau telat, seperti yang kubilang sebelumnya, akan dihukum lari keliling lapangan 5 kali. Ah! Aku takut kalau ketahuan dihukum!

Sampai di sekolah, aku menyerobot kerumunan anak-anak di lorong sekolah menuju kelas. Akhirnya aku bisa masuk ke kelas dengan keadaan tidak berantakan. Aku langsung duduk di bangkuku, dan menoleh ke bangku belakangku. Ada sebuket bunga Lily di atas meja Fang. Siapa yang meletakkannya?

"Aku yang meletakkannya," Akinah berdiri di sampingku. Gadis berkucir dua itu tersenyum masam ke arahku, lalu duduk di bangkunya. "Aku sangat sedih saat tahu Fang meninggal, makanya aku tidak ingin menghadiri acara pemakaman itu. Apa boleh buat, semua sudah terlanjur. Aku ..."

Tetesan air mata mengalir dari pelupuk mata Akinah. Gadis itu menangis dalam penyesalan, suara isakannya terdengar keras, dan dia tidak peduli akan hal itu. Aku berusaha menenangkannya agar tenang kembali, tapi dia malah berkata, "Sudahlah, ini ancaman. Jangan pedulikan aku!"

"Tapi ..."

"Jangan pedulikan aku!"

Akinah berlari keluar kelas meninggalkanku sendirian di kelas. Kupikir dia akan tetap tabah dengan keadaan seperti ini, tapi ternyata terbalik. Dia menangis penuh penyesalannya terhadap Fang, meski pria tersebut sudah pergi.


"Akinah!" panggilku pada Akinah yang berjalan pulang menuju rumahnya. Gadis tomboy itu menoleh ke belakang. "Apa?"

"Ada yang mau aku tanyakan," aku menghampirinya.

"Tidak ada gunanya bertanya padaku. Pulanglah!" ketus Akinah sambil berjalan kembali menuju rumahnya. Aku memasang wajah kesal.

"Kau tahu sejarah tentang rumah kosong di tengah hutan tersebut?" Akinah terdiam. "Akinah, aku butuh jawabanmu hari ini juga!"

Gadis itu menghela napas kecil. Dia berhenti dari langkahnya dan menatapku tajam. "Ikut aku."

Aku kebingungan dengan kata-katanya. Tanpa basa-basi, Akinah menarik tanganku, berlari menuju rumahnya yang tersembunyi. Aku tak dapat berkata-kata lagi dan hanya mengikutinya berlari. Kulihat, air mata gadis itu mengalir kembali. Kenapa dia menangis?

Tepat di depan rumahnya, Akinah menghapus air matanya. Dia memintaku untuk masuk ke dalam rumahnya. Aku menurut dan masuk ke dalam. Sebenarnya aku sudah pernah ke rumahnya, kira-kira dua hari yang lalu ketika Fang terbunuh. Jadi aku tahu isi dari rumah Akinah. Aku duduk di kursi yang berada di ruang tamu.

Akinah duduk di depanku, dengan air mata yang mengalir deras. Dia kembali menangis dan berkata, "Maaf, aku belum cerita. Kau tahu cerita di balik rumah itu?" Aku menggeleng. Akinah pun menceritakan sejarah rumah tersebut.

"Dahulu, ada sepasang suami istri yang belum dikaruniai anak sama sekali. Mereka sangat sedih dan berdoa kepada Tuhan agar mereka dikaruniai anak. Akhirnya sang Ibu melahirkan seorang bayi perempuan yang cantik jelita, namun ternyata dia memiliki kelainan. Kedua matanya dapat berubah menjadi warna merah yang menyebabkannya menjadi indigo. Tapi sepasang suami istri itu tidak peduli, dan tetap menyayangi anak mereka.

"Sayangnya, kebahagiaan mereka tidak berlangsung lama, dan mereka harus menerima takdir yang berat. Rumah mereka dirampok oleh tiga perampok kejam. Sang Ayah berusaha melawan ketiga perampok tersebut. Sedangkan sang Ibu harus membawa anak perempuan mereka satu-satunya yang akan menginjak usia 8 tahun. Sang Ayah meninggal tertusuk paku di mata kanannya, dan sang Ibu digantung di atas pohon sampai akhirnya meninggal. Si anak perempuan itu berlari sejauh-jauhnya dari tempat kejadian dan jatuh ke tebing. Dia ditemukan oleh seorang pria tua yang bekerja di bawah tebing, kemudian beliau membawa sang anak ke rumahnya di Kuala Lumpur."

Kisah itu ... lebih jelas dari yang Ochobot ceritakan di rumah. "Akinah, dari mana kamu tahu kisah tersebut?"

Suasana kembali sunyi, hanya terdengar suara isakan dari Akinah. Menangis, hanya itu yang bisa dia lakukan di depanku. Sepertinya akan ada pengakuan dari dirinya, tentang sesuatu ...

"Se, sebenarnya ... sang Ayah dari anak itu adalah Ayahku, dan anak itu ... adalah diriku sendiri. Aku kembali karena ingin ... ingin melihat rumahku lebih dekat. Ayahku tidak ingin rumah kami ditinggali oleh siapapun, maka beliau membunuh orang yang sengaja datang ke sana."

"Lalu, a .. anak indigo itu ... ka, kamu sendiri? Bagaimana kamu mengetahui tujuan Ayahmu itu?"

"Aku ... Aku ...," wajah Akinah memucat. "Sebenarnya Ayahku memberitahuku, bahwa beliau akan terus mengawasi kalian semua. Dan ... dan kini beliau ada di sampingku, mengawasimu."

Otomatis, wajahku ikut berubah pucat pasi juga, seperti Akinah. Tapi aku menahan diri, dan aku pun berpamitan untuk pulang ke rumah. Buru-buru kupegang ganggang pintu rumah, Akinah mengatakan sesuatu.

"Ingat! Ayahku tidak ingin kalian semua masuk ke dalam rumah tersebut, atau kalian semua akan terbunuh olehnya." Aku menengok ke belakang, mataku terbelalak. Kedua mata Akinah berubah menjadi merah menyala, namun wajahnya tetap murung. Tiba-tiba mulut Akinah terbentuk menjadi seringaian, dia tertawa ngeri sambil menangis menyesal. "Dan Ayahku akan selalu tetap mengawasimu, Boboiboy~"

Tanpa pikir panjang, aku berlari keluar rumah entah ke mana, dan tiba-tiba, pandanganku kabur. Aku terjatuh, dan pandanganku yang semula kabur kini terlihat semua berwarna hitam.

Akan kupegang kata-katamu, Akinah ...


-Next Chapter-

Gopal nekad ingin masuk ke rumah kosong itu lagi, Yaya dan Ying pun juga. Namun aku ingat apa yang dikatakan Akinah kemarin. Kuusahakan untuk mencegat ketiga sahabatku, tapi semua sudah terlanjur. Nafas mereka kini terhenti, tepat di dalam rumah tersebut. Dan kulihat Akinah yang susah payah bernafas dengan darah di tubuhnya.

"Aku sudah menyelamatkanmu, Boboiboy. Maaf kalau aku tidak bisa berlama-lama di sini. Kau ... selamat ... akhirnya ..."

Nafas terakhirmu, jasamu, perjuanganmu, akan kukenang. Terima kasih, Akinah. Selamat tinggal, sahabat-sahabatku.


I'm not scared ... Okay, now I'm scared. Which I fear is Akinah's laughter in this story. Ouh! I just wanted to cover my face with a pillow and covered me with a blanket so as not to hear the sound of laughter!

Staying one more chapter in this story, hopefully I can make quickly and can be updated as soon as possible.

Sorry if there is any of this chapter. Please review this story, okay? See you again! Arigatoo gozaimasu!