Author's Note :
mian, jangan terlalu berharap ama adegan NC explisit disini, sekali lagi mian ~ jeongmal mianhae ~
Title : A Poor Life.
Part : 4 (Four).
Genre : Romance, General.
Warning : BL,PG-17,Maybe Typo (s).
Summary :
Jaejoong dan Yunho adalah namja yang hidup dalam takdir yang berbeda. Namun, jalan lain mempertemukan mereka dalam keadaan yang buruk. Malam itu,Yunho yang rupanya adalah salah satu faktor semangat Jaejoong, namun, namja itu justru adalah yang pertama kali 'menyentuh' dirinya.
Disclaim : SME Present.
Author : DrarryLova.
"Aku takut... aku takut mati disini. Aku ingin keluar. Hyung, aku juga ingin membantumu, aku juga ingin menolong umma. Tapi, aku harus lakukan apa? Apakah ini jalan untuk melepaskan segalanya?"
TM-POV
BRAKK
Aku langsung meringkuk sambil sedikit terisak ketika appa menggebrak meja & membantingnya kearahku. Untung saja aku reflek menghindar. Tapi, aku tetap takut. Hyung... aku takut...
"Dimana dia! Kau sembunyikan dimana? Dimana ummamu, hah? Dimana dia menyembunyikan uangnya!" Appa mengamuk dan lagi-lagi menendangku. Aku hanya bisa menangis tanpa suara. Aku sendiri disini & aku takut appa melukaiku seperti dia melukai umma yang terbaring dirumah sakit sekarang.
Aku tak boleh memberitahu dimana umma. Namja dihadapanku ini adalah iblis! Iblis yang selalu bisa mencabut nyawa kami kapanpun dia mau. Jaejoong-hyung tidak pulang, aku yakin dia sedang bekerja, dia sedang cari uang.
"Aku tanya dimana umma-mu!" Appa menjambak rambut panjangku dengan kasar & melotot kearahku.
"A-appa, sa-sakit..." Rintihku sambil menangis. Kejam, ya, namja ini pembunuh! Appa melepasku & mendorong tubuhku hingga menabrak dinding. Sakit, Jaejoong-hyung, aku tidak tahan lagi...
"Dasar, kau yeoja lemah!" Ungkap appa sambil berlalu pergi. Untunglah, tapi, tetap saja sakit, rasanya tubuhku seperti merapuh. Appa benar, fisik dan mentalku seperti yeoja, aku lemah, aku namja pengecut. Hyung, maafkan aku, aku tidak kuat berada dirumah & aku juga tidak mau kalau cuma hyung yang bekerja keras demi aku dan umma. Yak, Taemin, kau juga harus bekerja!
...
Aku menulusuri trotoar dengan wajah sedih. Apa yang bisa aku kerjakan? Darimana aku harus mencari uang?
Siang itu, tiba-tiba sebuah mobil flat merah berhenti disampingku. Akupun terhenti, siapa? Fikirku.
"Manis, mau jalan kemana?" Seorang pelajar dengan gaya berantakannya dan juga mengenakan kacamata hitam mulai menurunkan kaca mobilnya & membuka pintu mobil untuk keluar menuju kearahku.
"Choi Minho?" Ujarku sedikit jutek. Dia teman sekelasku. Adatnya buruk dan suka semena-mena karena dia berasal dari keluarga Choi, kalangan orang kaya.
"Yak, Taemin sayang, tidak menyangka bisa bertemu denganmu disini~" Jelasnya sambil mencolek daguku. Dasar, namja ini usil sekali!
"Minho-yah! Jangan lama-lama, kami malas menunggu." Sahut salah satu namja dari mobil Minho. Dia Onew-hyung dan disampingnya itu Key, teman sekelasku juga. Mereka berdua adalah pasangan kekasih yang paling terkenal disekolah kami. Setahuku, Onew-hyung memang akrab dengan Minho. Dia teman Changmin-hyung. Aku memang sekolah di SMA Tohoshinki, sekolah khusus pria dan cukup populer. Banyak namja yang menyukaiku disana dan yang aku tahu, Choi Minho, namja yang paling badung disekolahku ini juga menyukaiku.
"Yak, hyung! Kalian bersenang-senang saja dulu didalam mobil, aku masih lama nih." Jelas namja bermata belo yang ada dihadapanku ini. Kulihat Onew mendengus kesal & Key langsung mengalungkan tangannya dileher Onew. Aku melihatnya! Ya, aku melihat tangan Onew-hyung yang menggerayangi bagian bawah Key! Apa-apaan itu! Namun, aku tak melihat seterusnya karena Onew menaikkan kaca jendela mobil yang terbuka tadi.
"A-apa yang mereka lakukan?" Pekikku pelan. Minho mengalihkan pandangannya dari mobil pribadinya itu & menoleh kearahku. Namun, kali ini kulihat namja itu menatapku serius & bibirnya sedikit menyeringai. Dia tak menjawab pertanyaanku!
"Agh, O-Onew~" Kami teralih lagi pada lenguhan yang ada didalam mobil. Aku tersentak, aku kaget! Apa yang mereka lakukan? Tiba-tiba, tanganku ditarik oleh Minho untuk menjauh dari mobil itu. Cih! Kenapa disini sepi sekali!
Minho membawaku kesebuah pohon yang ada disebelah mobil. Minho mengunciku dengan kedua tangannya yang diletakkan didinding pohon, disisi-sisi kepalaku.
"Ma-mau apa kau?" Tanyaku takut-takut.
"Aku dengar, katanya kau mencari tempat kerja part-time, hum?" Tanyanya menggoda sambil memainkan rambut panjangku & aku juga lihat matanya yang menatap sayup kearah bibirku.
Tunggu, kenapa dia tahu? Padahal, aku hanya menelpon teman yang lumayan dekat denganku yang memang punya kerja part-time! Aku mulai curiga dengan namja yang ada dihadapanku ini. Apakah rupanya dia stalker selama ini?
"Ke-kenapa kau bisa tahu?" Tanyaku ragu namun tetap dengan nada cool. Kali ini, kurasakan jari yang memainkan rambutku tadi mulai meraba kearah bibirku. Dan anehnya, aku takut untuk melawan dan berontak pada Minho.
"Apa kau mau bekerja seperti Key? Aku iri pada Onew-hyung." Jelasnya sambil terus menatap bibirku yang tengah ditelusuri oleh jarinya.
"Be-bekerja?" Tanyaku. Apa maksud namja ini tentang Onew dan Key? Bukankah mereka adalah sepasang kekasih?
"Ya, Key menyerahkan tubuhnya untuk Onew-hyung. Apakah kau mau? Aku akan memberimu bayaran besar untuk itu."
Grrr, rasanya aku ingin menampar wajahnya! Tapi, saat mendengar kata 'bayaran', aku tertegun. Ya, Choi Minho adalah namja kaya. Apakah aku bisa mendapat uang dengan cara ini? "Berapa?" Kulihat Minho menghentikan gerakan jarinya dan menatap mataku dengan wajah sedikit kaget. "Berapa kau akan membayarku?" Tanyaku dingin.
Minho tidak menggubris pertanyaanku & malah menciumku. Yak, dia merampas ciuman pertamaku! Aku mencoba meronta untuk melepaskan Minho dariku! Ternyata dia menipuku! "Bajingan! Apa yang kau lakukan?" Bentakku sambil mengusap bibirku. Minho terlihat seperti orang mabuk ketika baru saja melepas ciumanku.
"Enak..." Desahnya. Bodoh, Kau Babo Taemin! Aku merasa dipermainkan oleh namja itu dan tanpa sadar, aku menitikkan airmata. Jahat... Kejam...
Minho kembali mendekat padaku yang duduk terjatuh dengan lemah. Kenapa aku harus diperlakukan seperti ini? Minho menyetarakan tubuhnya denganku & ia mengeluarkan seikat uang dari kantong celananya. Ia menaruhnya ditelapak tanganku. "Ini baru untuk satu ciuman Taemin-ah. Jadi, sekarang mau menemaniku tidur? Aku akan membayar berapapun yang kau pinta." Ujarnya sambil tak melepas pandangannya dari wajahku. Aku rasa, namja ini benar-benar terobsesi dan menggilaiku.
Hyung... apa tidak apa aku bekerja untuknya? Aku ingin membantu biaya umma juga...
...
Entah kenapa, aku mengikuti ajakannya. Kami berpisah dengan Key dan Onew-hyung ditengah jalan. Kini, aku berduaan dimobil dengan Minho. Sungguh, aku merasa was-was. Aku tidak pernah pergi keluar sampai sejauh ini. Entahlah, aku tidak tahu Minho akan membawaku kemana.
"Kau benar-benar yakin?" Tanya Minho sambil tetap menyetir. Kulihat ada seutas senyum bahagia diwajahnya sesekali seringai tidak sabar.
"Hm." Aku hanya mengangguk kecil & setelahnya, kulihat ia menahan bahagia. Aku memang pernah mendengar hubungan-hubungan semacam itu & disekolah, aku dijadikan target oleh namja-namja yang seperti itu. Tapi, aku takut, aku takut akan apa yang dilakukan Minho padaku. Tuhan, aku sungguh ingin melakukan itu hanya demi uang...
dihotel xxx...
"Aagggh~ akh, ukh-Sakit, aku mohon, aah~" Tuhan, aku tidak tahan. Ada sesuatu yang merobek daerah terlarangku & aku tak bisa berhenti menjerit & menangis.
"Sssh, sabar ya baby." Minho lagi-lagi melumat bibirku, mungkin untuk mengurangi rasa sakit yang aku rasakan ini. Kurasakan tangan-tangan nakalnya juga yang terus mencaci maki kedua titik didadaku dengan brutal, sakit, sungguh sakit rasanya.
"Mmnmh, agggh!" Aku terlepas dari ciuman & terlonjak keatas saat kurasakan Minho masuk seluruhnya kedalamku & aku merasakan ada sedikit nikmat sesaat ketika 'alat' Minho masuk lebih dalam dan tanpa sengaja menghujam daerah yang ada didalamku.
"Assh, my dream sweet-spot... akhirnya aku bisa merasakannya, hhh..." Kudengar Minho menggumam & melenguh. Aku merasa sedikit tenang & terbebas ketika Minho terdiam saat itu.
"Aku mohon, jangan teruskan ini, aku tid-aagghh! Aaagggh! Ah! Ah!" Aku memekik berkali-kali & juga terlonjak lagi dan lagi. Aku pasrah, aku hanya bisa menarik selimut yang kugenggam erat-erat ini dengan kesal, sebagai pengaduan kesakitanku.
Aku melihat Minho yang begitu menikmati setiap gerakannya mengocokku. Kulihat dia juga meremas juniorku & mengemutnya.
Ah, Tuhan... apa yang kulakukan? Tapi, lama-kelamaan, aku begitu menikmati permainannya. Aku bagaikan melayang disurga, aku merasa tidak punya masalah apapun berkat ini. Umma, hyung... Mianhae...
...
"Hiks,..." Aku meneteskan air mataku lagi dalam diam. Aku terus menggelung diriku didalam selimut tebal ini. Sinar matahari mulai masuk lewat jendela & aku juga bisa melihat namja yang masih tidur pulas disampingku.
Aku terus duduk sambil memeluk kedua kakiku didalam selimut ini. Tuhan, apa yang aku lakukan dengan namja ini semalam? Namja itu sudah menistaiku, tubuhku sudah ternoda dengan cara tidak normal seperti ini. Apakah harus seperti ini untuk mendapatkan uang? Tetap saja, rasanya menyedihkan jika harus bekerja seperti ini...
"Nggh..." Namja disampingku mulai menggeliat. Aku mulai mengusap airmataku ketika Minho berbalik kearahku & merangkul pinggangku. Kulihat dia mulai mengerjap-ngerjapkan matanya & tersenyum ketika melihatku. "Pagi, baby." Ujarnya sambil mencium pinggangku.
Aku mencoba kembali tersenyum melihat senyumnya dan bahagianya ia pagi ini. aku benar-benar yakin kalau namja ini benar-benar menginginkanku & menggilaiku sejak dulu. Aku tak pernah melihat Minho bersikap semanja dan seimut ini. "Minho-ah. Aku harus segera pulang." Ujarku sambil mengusap rambutnya yang berantakan. Entahlah, namja brengsek ini membuatku untuk terus memanjakannya. Aku rasa, dia memang kekanak-kanakan dan butuh kasih sayang.
"Mwo? Kau mau cepat pergi Taemin-ah?" Mata belonya mulai menatap kearahku. Aku baru tahu kalau Minho yang kukenal punya ekspresi seperti itu. "Andwae..." Desahnya.
Aku menghela nafas & lalu turun untuk memungut pakaianku & bergegas merapikan diri. Kudengar Minho mendengus kecewa dengan sikapku ini.
...
Aku sudah rapi & aku menuju tempat dimana Minho tengah menungguku saat ini. Kulihat namja itu tengah duduk disebuah meja yang ada diruang makan hotel ini. Kulihat parasnya tidak seperti Minho yang semalam dan tadi pagi. Lagi-lagi paras Minho yang cool seperti yang kukenal. Aku menghampirinya dan langsung duduk dibangku seberang Minho dengan hati-hati. Bekas aktivitas semalam, membuatku sulit untuk berjalan dengan enaknya.
"Kau sudah makan? Kita sarapan dulu, ya?" Senyum hangat tersungging diwajahnya. Aku mengangguk kecil meresponnya. Namja brengsek itu yang sudah menodaiku, tapi kenapa aku tak bisa membenci kebaikannya? Ya, kebaikkan yang berada dijalan salahpun tidak bisa aku tolak, seperti sekarang ini ketika Minho menyodorkan cek kearahku. "Untuk yang semalam, Baby." Ujarnya.
Kulihat angka yang tertera dikertas putih itu, 20 juta won? Aku kaget, sebanyak ini? Bagiku, ini sangat banyak, aku rasa ini sudah melebihi yang aku butuhkan. Hyung... aku mendapat uang hyung...!
Tak lama kemudian, waittress membawa 2 piring steak untuk kami. "Bagaimana? Apa uangnya kurang?" Tanya Minho tenang.
"A-a, i-ini, ini, aku rasa... ini..." Aku terbata-bata. Ha, namja menyedihkan, aku menjijikan, mendapat uang 20 juta won dalam semalam dengan mengorbankan tubuhku?
"Tidak cukup? Aku akan tambahkan." Ujar Minho sambil mengeluarkan kertas cek lagi. Tapi, aku buru-buru untuk mencegahnya.
"Andwae! Ini sudah cukup." Jelasku. Biarlah, aku rasa ini sudah cukup untuk biaya umma seminggu kedepan.
"Hm. Baiklah. Kau makanlah dulu, hari ini aku akan mengantarmu pulang sekaligus untuk menukar uang cek." Ujarnya lagi-lagi dengan senyuman. Senyuman yang entah kenapa jarang Minho keluarkan disekolah. Aku menurut. Dengan perlahan, aku mulai menyantap sarapan pagi ini dan aku ragu, aku tak berani menatap Minho karena tangan-tangan itu tetap tidak bergerak untuk menyantap steak yang ada dihadapannya. Aku rasa, saat ini ia sedang memperhatikanku.
...
Aku lihat Jaejoong-hyung yang berdiri didepan ruangan umma dengan tingkah was-was sambil menggigiti ibu jarinya.
"Hyung." Aku menghampirinya & tiba-tiba hyungku itu memelukku dengan erat. Aku rasa dia sedang panik saat ini. "Hyung, ada apa?" Aku mencoba menenangkannya. Entahlah, kenapa aku jadi bersikap sedewasa ini? Padahal, biasanya aku yang selalu cengeng pada hyungku yang tegar ini.
"Taemin-ah. Umma..." Desahnya dengan suara bindang. "Hyung terlambat, tadi umma sempat sadar tapi pingsan lagi, pendarahannya fatal dan kembali kritis. Hyung terlambat, hyung belum bisa membayar uang darah yang harus diberikan pada umma." Isaknya. Hyung, aku tahu kau tidak dapat uang hari ini, karena aku rasa, hyung tak akan sepanik ini jika dia punya uang. Hyungku ini sepertinya sedang benar-benar kacau.
"Hyung, aku punya sedikit uang." Gumamku. Aku memberikan lembaran-lembaran secukupnya kepada Jaejoong-hyung. Aku tidak mungkin menyerahkan semuanya karena Jaejoong-hyung pasti akan mencurigaiku.
"Taemin-ah, darimana kau dapat uang ini?" Tanyanya seraya mulai menginterogasiku. "Kau tidak mencuri atau melakukan yang tidak-tidak, bukan?" Kudengar nada suaranya terlihat khawatir.
Aku menggeleng pelan. Ya, mana mungkin aku memberitahu yang sebenarnya. "Aku meminjam uang pada temanku dan syukurlah dia mau berbaik hati meminjamkannya." Senyumku miris.
Jaejoong-hyung menghela nafas. "Baiklah, hyung janji akan menggantinya secepatnya." Ujarnya dan buru-buru meninggalkanku. Aku terpaku disini sambil melihat punggung hyungku tercinta yang dengan buru-buru mencari ruang administrasi. Hyung, aku rasa ini jalan untukku. Aku tidak bisa mengelak kejadian semalam. Cuma ini jalan untuk orang sepertiku. Umma, cepatlah sadar, cepatlah sembuh... cuma itu yang kami harapkan...
Jaejoong-hyung... Jeongmal mianhae...
-FOURTH-
All Readerkuh yang tercinta ~
Hari ini aku Cuma mau banyak-banyak ngucap Mian ~
Jeongmal Mianhae ~ *ketularan Taemin*
Plissss, RnR, Key?
Top of Form
Bottom of Form
