Author's Note :
WADOOOOH, Jeongmal Mianhe~~~~ saya baru update TT,TT
Makasih buat readers yang sempet repiu fic ini, sarangayo~~
Sekedar curhat, tadi saya liat MV , dan saya baru nyadar,
kenapa Sungmin di bikin punya Kedai disini, abis liat di MV itu, Sungmin kek bibi-bibi yang jualan kopi :3 *ditendang Kyuhyun ampe China*
Title : A Poor Life.
Part : 5 (Five).
Genre : Romance, General.
Warning : BL,PG-17,Maybe Typo (s).
Summary :
Jaejoong dan Yunho adalah namja yang hidup dalam takdir yang berbeda. Namun, jalan lain mempertemukan mereka dalam keadaan yang buruk. Malam itu,Yunho yang rupanya adalah salah satu faktor semangat Jaejoong, namun, namja itu justru adalah yang pertama kali 'menyentuh' dirinya.
Disclaim : SME Present.
Author : DrarryLova.
"…'Cantik', kata itu yang berhasil keluar dari bibirku ketika Junsu menunjukkan fotonya. Hei, kau menyepelekan kemampuanku, Junsu-ah? Lihat saja, meski aku sebenarnya tak semangat untuk ini, aku akan turuti tantanganmu! Akan kubuat 'namja' itu menyerahkan tubuhnya padaku!"
0o0
YH-POV
Aku terdiam bosan di dalam mobil blacky ini. Dari tadi aku hanya bisa mendengus kesal sambil mengotak-atik ponsel yang entah ku apakan ini, di bangku belakang mobil. Nampak supir pribadiku yang ada di bangku depan ikut menunggu dengan setia dengan gaya di siplinnya di hari yang semakin petang ini.
Tak. Aku menutup ponselku dan membantingnya kasar di samping jok yang aku duduki. "Ash, kemana anak itu? Lama banget." Gerutuku sambil melirik keluar jendela mobil dan kesekitar lingkungan yang sudah sepi ini. Dan tak berapa lama, kulihat tubuh Junsu di depan pintu kantor sambil melambai kearahku.
"Hyung, maaf menunggu lama~" ujar tubuh lumba-lumba itu sambil membuka pintu yang lain dan menghambur duduk di sampingku.
"Kau darimana saja? Aku sudah muak melihat kantor itu." Sebalku. Ya, aku ingin cepat-cepat meninggalkan perusahaan ini!
"Mianhae hyung~ banyak berkas, jeongmal." Tambahnya. Aku diam & menyuruh supir untuk segera meninggalkan daerah ini. Kepalaku benar-benar penat, aku ingin hiburan! Aku ingin kebebasan seperti dulu!
"Hyung, bagaimana?" Kim Junsu menyodorkan selembar foto kearahku. Aku tak mengambilnya dan hanya melirik kecil dari sudut mataku. Aku masih tak bicara, kenapa rasanya aku malah mengantuk? "Hyung…" kudengar suara Junsu lagi namun kali ini terdengar memelas.
"Hm. Cantik." Ujarku pelan ketika melihat sosok namja, entahlah, mungkin yeoja yang ada di foto itu. Sungguh kuakui, orang yang ada disana memiliki paras yang cantik.
"Cantik, kan? Dia namja yang ku maksud! Akh, aku masih sebal, hyung!" kali ini Junsu menjauh dariku dan menatap kesal foto itu.
"Wae?" tanyaku sedikit malas. Aku tak berubah dari posisiku, bersandar sambil melipat kedua tanganku di depan dada.
"Yak! Kudengar-dengar aku pelanggan pertama namja bernama Jaejoong itu! Aku malu sekali di usir mentah-mentah & pemilik bar itu mengembalikan uangku! Apa-apaan itu! Dan kudengar juga, sore tadi, temanku memberitahuku kalau semenjak kejadian kemarin malam, Jaejoong menjadi namja yang tak boleh di sentuh setelah Kibum! Menyebalkan sekali!" cerocos Junsu tanpa titik dan koma. Aku sampai plin-plan dan malas mendengarnya. Lagipula, mana ada pemilik bar yang tidak boleh membiarkan pelanggan menyentuh pekerjanya? Aku yakin, itu hanya akal-akalan si pemilik agar membayar pekerjanya dengan uang lebih banyak.
"Hyung, bagaimana kalau kita taruhan?" Junsu membuyarkan kesimpulanku. Akupun menoleh pelan padanya. "Kalau hyung bisa menidurinya, aku bersedia mengerjakan semua tugas kantor hyung deh."
"Hee? Kau meragukan kemampuanku, eoh?" aku membeo. Lagipula, yang namanya bar seperti itu pasti pekerjanya akan menyerahkan tubuh mereka demi uang, bukan? Sebenarnya, aku masih tidak percaya dengan cerita Junsu. Masa sang pemilik mengembalikan uang pelanggan? Mungkin, pemilik bar itu serakah dan kurang dengan bayaran Junsu terhadap namja bernama Jaejoong itu. "Baiklah, aku terima tantanganmu. Malam ini, akan kucium dia tanpa mengeluarkan 1 peserpun." Ujarku yakin.
"Memang kau bisa, hyung? Memang sih, aku juga belum pernah mencium Jaejoong. Tapi, kalau soal ciuman, Jaejoong punya harga mahal dan tak ada 1 namjapun yang berhutang padanya setiap kali menciumnya." Terang Junsu mengingat-ingat.
Aish, ini anak rewel sekali sih. Mana ada bar seperti itu? Seorang penjual diri itu hanya memiliki harga diri yang rendah sekali, Junsu-ah! Mereka itu bukan emas! Mereka hanya mainan kita! Alat pemuas nafsu kita!
"Kau ini, apa yang tidak bisa kulakukan dengan marga Choi ini, hm?"
"Haa, aku tahu-aku tahu. Kau selalu menggunakan marga Choi hanya untuk hal semena-mena. Aku tahu kau menyukai marga Jung." Dengus Junsu sambil tak menatap kearahku.
"Sudah kau diam saja, dasar mulut bebek." Ujarku sambil tersenyum geli melihat mimik aneh Junsu dan menepuk-nepuk pundaknya kencang. Dan setelahnya, Junsu menggerutu kesakitan karena tepukan mautku itu. Haha.
0o0
"Hik." Aku meletakkan gelas wine dengan lemah dan lagi-lagi aku mengeluarkan suara itu. Rasanya kepalaku terasa berat dan aku ngantuk sekali. Aku lupa sudah menghabiskan berapa gelas wine mala mini.
"Hyung~ katanya kau mau menunjukan aksimu! Kenapa malah mabuk begini?" Junsu mengguncang-guncang lenganku yang tengah membenamkan kepalaku ini. Rasanya, setelah minum wine, penatku sedikit hilang.
"Hik, iya~ aku tahu, hik, lagipula, hik, namja itu juga belum terlihatkan, hik?" setelah menoleh sebentar dengan mataku yang mungkin sudah sayup kearah Junsu, aku langsung membenamkan kepalaku lagi. Aku rasa, aku sudah benar-benar mabuk, perutku mual sekali.
"Assh, Hyung." Dari nada suaranya yang agak remang-remang kudengar, sepertinya Junsu menyerah dan tak memperdulikanku lagi. Tak berapa lama, kudengar suara lumba-lumba itu menyahut seseorang diantara suara disko yang menusuk telinga ini.
"Joongie-ah! Kemari!"
"Joongie?" gumamku dalam hati. Aku menerbitkan wajahku dengan masih mabuk. Kulihat Junsu sedang tersenyum sambil melambai-lambai entah kemana. Ketika aku menoleh kebelakang, kulihat namja cantik itu tengah menghampiri kami dengan wajah sedikit ketakutan. Dasar Junsu tidak tahu malu! Aku yakin namja yang katanya bernama Jaejoong itu masih ketakutan dengan namja disebelahku ini.
Namja itu kini sudah berada di hadapan kami. Aissh, mataku yang sayup-sayup ini saja bisa melihat jelas betapa cantiknya ia jika sudah sedekat ini.
"Ya, Joongie-ah. Mianhae soal yang kemarin malam, aku tidak bermaksud menyakitimu." Ujar Junsu kalem. Namja berambut hitam sebahu itu masih tertunduk meragu.
"Ti-tidak apa, aku rasa itu sudah berlalu dan malam ini—"
"Aku tahu. Aku akan tetap setia pada Yoochun-ah. Aku tahu sekarang kau berlabel tak disentuh." Junsu memotong kalimatnya. Dari paras Jaejoong, sepertinya, ia ingin memberitahu hal sebaliknya. "Ah ya, ini Yunho-hyung. Dia rekanku." Kini, dongsaengku menepuk punggungku sambil matanya tetap terfokus pada namja cantik itu.
"Sa-salam kenal." Dia membungkuk padaku.
"Hik. Assh! Tak perlu bertele-tele Junsu-ah!" kutarik namja cantik bernama Jaejoong itu yang masih dengan tampang polosnya kearahku & tanpa basa-basi, aku menciumnya. Aku melumat bibir mungil itu dan memaksa untuk masuk kedalamnya. Kudorong kepalanya kearahku dengan kasar agar memperdalam ciuman ini. Dan aku merasakan semua tubuhnya memberontak dari sikapku termasuk bibir mungilnya. Namun, aku terus memaksanya dan lama-lama ia menyerah dan mempersilahkan lidahku masuk.
Aku yakin, Junsu sekarang sedang melihat kami dengan wajah jijik karena atas penolakan Jaejoong membuat air liurku atau entah milik Jaejoong berantakan kebawah dan menetes kental ke kemejaku.
Aku menjelajahi rongga itu dan nampak lidah Jaejoong mendorong lidahku keluar. Assh, yang aku lakukan ini memang memaksa dan mungkin membuat Jaejoong sedikit terkejut.
"Mnnh, mnnhh!" Jaejoong menggoyang-goyangkan lengannya yang sedang kucengkram erat ini seraya ingin terlepas dariku. Awalnya, aku tak menghiraukan aksinya, namun lama-lama dia semakin brutal hingga tangannya terlepas dariku dan buru-buru ia mendorongku dan parahnya lagi, dia menamparku!
"Hyung! Kau tidak apa?" Junsu langsung menghampiriku yang terjatuh dari bangku karena aku terlalu mabuk dan kehilangan keseimbangan.
"A-Apa yang kau lakukan?" ungkap Jaejoong. Aku memegang pipiku dan mencoba bangun dengan dibantu Junsu. Kulihat namja bernama Jaejoong itu mulai menitikkan air mata. Aku jadi tahu, kenapa Junsu di usir dan di kembalikan uangnya, rupanya, Jaejoong itu pekerja yang masih tidak rela di perlakukan secara paksa seperti yang aku lakukan tadi.
"Heh, hik. Manis… terima kasih ciumannya, oke. Hik." Ujarku sambil berjalan keluar di bantu Junsu. Karena aku terjatuh dan menimbulkan sedikit keributan, seorang lelaki gumpal dan pekerja lain bahkan sebagian orang yang ada disini, melihat kearah kami. Hn, dasar namja cengeng.
Junsu menopangku untuk berjalan keluar, sepertinya, dia khawatir dengan keadaanku yang masih sedikit mabuk. Aku dan Junsu melewati Jaejoong yang masih terisak kecil dengan mudahnya.
Namun, ketika kami sudah beberapa langkah di belakang Jaejoong, kurasakan seseorang menarik lenganku dengan kasar dari belakang hingga aku menoleh padanya.
"Kau mau kemana, hah? Kau pikir itu gratis?" kulihat namja bertubuh pendek itu membentakku. Wow, percaya diri sekali kau Jaejoong. Manisnya, ssh, aku suka namja model begini.
Aku menyeringai kecil saat kutatap Jaejoong dan aku mencoba melepaskan diri dari bantuan Junsu.
Jaejoong terdiam karena senyuman licikku. Meski mabuk, aku bisa melihat jelas ada keraguan dari mata kelamnya yang terlihat sembab.
Aku melangkah maju menghampirinya dan nampak ia mundur sedikit menjauhiku. Akupun mencondongkan wajahku hingga ia tak menjauh lagi. Aku juga tak peduli dengan orang-orang yang memandang kearah kami. Berani sekali kau padaku, Jaejoong!
"Ck, hik, cantik… kau mau bayaran, hum?" godaku. Tentu saja dengan masih dalam keadaan mabuk. Bibir cherry Jaejoong membuka dan sedikit tergagap untuk menjawab pertanyaanku. Entah malu atau takut, aku tidak tahu.
Kuletakkan telapak tanganku yang besar ini di pipi pucatnya yang begitu mungil. Kuelus kulit itu pelan dan nampak Jaejoong tak memberontak. Mungkin, dia takut dengan banyaknya pasang mata yang melirik kami.
"Tenang saja, hik. Aku akan kembali besok. Dan… hik, aku akan bayar jika kau juga, hik, menyerahkan tubuhmu, hm. Manjakan aku nanti, heh?" bisikku sambil mendesah. Setelah itu, aku melanjutkan langkahku dengan sempoyongan. Jaejoong terpaku di tempatnya karena ucapanku tadi. Akan kupastikan aku namja pertama yang akan menyentuhmu, Jaejoong!
Namun, di tengah langkah, lagi-lagi seseorang menarikku. Aku masih bisa lihat Jaejoong masih terdiam di tempatnya dengan ekspresi sedikit shock. Kulihat pekerja lain yang cantik-cantik menghampirinya dan mencoba menenangkannya. Lalu, siapa yang menarikku?
"KAU PIKIR JAEJOONG— Kau—" seseorang lelaki gemuk mencengkram bajuku dan tak berapa lama ia bicara, ia melotot kaget dan langsung segera melepasku. Namja gemuk itu juga mundur menjauhiku. "Ka-kau, Choi Yunho?" ucapnya tak percaya.
Aku menyeringai lagi. Aku bilang apa, semua tak berani dengan marga Choi. Ck, ada gunanya juga marga ini. Dengan reaksi sedikit takut terhadapku dari tatapan-tatapan mereka kecuali Jaejoong yang masih shock, aku dan Junsu langsung meninggalkan tempat ini dengan perasaan menang.
"Junsu-ah. Kau lihat, kan. Aku menang." Banggaku. Junsu tersenyum kecil sambil menepuk pundakku ketika kami sudah sampai di luar.
"Iya deh, hyung. Aku kalah, kau memang hebat hyung!" ujarnya juga bangga.
0o0
"YUNHO-AH!" Suara appa menggema sekarang. Kukerjapkan mataku berkali-kali dan dengan malas aku bangkit dari dalam selimutku.
BRAAK. Pintu kamarku yang terbuat dari kayu asal Paris itu terbuka dengan suara kasar. Kulihat appa melotot tajam kearahku dan tak berapa lama, umma sudah ada di belakang appa dengan paras khawatirnya.
Appa menghampiriku dan langsung mencengkram kerah kemejaku. Ash, kenapa aku masih menggunakan seragam kantor ini?
"Apa yang kau lakukan? Dimana sopan santunmu sebagai keturunan Choi? Kau sudah mempermalukan appa sejak rapat tadi, tahu!" bentaknya. Aku diam dengan paras dingin. Heh, memang aku keturunan Choi? Seumur hidup aku tak akan mengakuinya. Bagiku, Choi akan kugunakan sebagai tameng semata.
"Apa urusanmu, hah? Kau bukan appaku." Tantangku. Namja bernama Choi Siwon itu semakin melotot padaku dan menggertakan gigi-giginya. Meskipun begitu, aku tak akan takut.
"Apa ini? Bau apa ini? Kau mabuk, hah?" appa bertanya dengan kasar. Aku diam tak mau menjawabnya. Peduli apa namja itu padaku selain untuk kepentingan pribadinya sendiri. Begitu marah dan kesal, appa menarikku keluar dari kamar untuk menuju keruang tengah. Ruang yang paling megah di rumah mewah ini.
"Kau mau apakan Yunho? Lepaskan anakku!" umma berlari mengejarku dan appa tanpa henti. Ketika sampai di ruang itu, aku langsung di dorong hingga jatuh ke lantai marmer. Ada pelayan-pelayan yang kaget dengan reaksi appa. Namun hal ini bukan untuk pertama kalinya. Kulihat Minho, adik tiriku juga ada disana dan hanya menatapku dengan tatapan dingin.
"Anak kurang ajar! Tidak tahu di untung! Kalau tidak aku, kau hanya gelandangan!" bentak appa dengan suara mengerikan. Huh, aku tahu Choi Siwon, aku juga sebenarnya sudah muak berada di sini! Aku bertahan disini hanya karena umma!
"Siwon-ah! Apa yang kau katakan? Kau menghina putraku sama saja kau menghinaku!" teriak umma dan sekarang umma sudah terlihat menangis.
"Ya! Kau gelandangan dan tidak punya apa-apa!" kini, appa berganti membentak umma.
"Kalau begitu, kenapa kau menikahiku! Kau hanya seorang gay tanpa diriku! Kau mau membalik fakta?" umma mulai berdebat.
"Ya. Ya! Dan kau hanya mengincar hartaku!"
"Siwon-ah! Kau keterlaluan!" umma menamparnya dan langsung menarikku kembali. Ash, umma, aku bukan anak kecil lagi. Jangan melindungiku sampai seperti ini! Dasar, sudah tahu saling benci dan sama-sama punya niat busuk, kenapa kau tidak menceraikan namja itu, umma?
-FIFTH-
Anyyeong, mian baru update.
Gimana ceritanya? Komen plis +o+
