Title :
Hoshizora no misuteiku : O baka Hoshizora-san!
Prequel :
星空のミステイク[Hoshizora no Misuteiku]
Disclaimer :
Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki
Story :
©Rall Freecss
Cast :
Fem!Kuroko, GoM, etc
Pair :
AkaKuro,
Warning :
GaJe, Typo Everywhere, Fem!Kuroko,OOC, etc :v
"Entahlah," ujarnya sambil tersenyum kecil, "—mungkin karena aku mencintainya."
Kise yang baru saja menyeruput tehnya langsung menyembur wajah Aomine. Kacamata Midorima melorot melewati hidungnya. Momoi terbatuk-batuk mendengarnya. Dan Murasakibara, lanjut makan.
"Nani!?" Akashi berdiri, di tepisnya tangan Kuroko yang berusaha menghentikan pergerakannya. Kesabarannya habis, yang satu ini tak dapat di ampuni.
"Apakah kau punya kata-kata terakhir?" tanya Akashi sambil menatap Takao dengan tatapan seorang pyscho. Takao nyengir, ia meraih Kaguya yang sudah siap menangis ketakutan melihat Akashi dari pangkuan Kuroko.
"Maa, sepertinya aku harus pulang. Kaguya juga. Baiklah, permisi, sampai jumpa semua~"
Takao bergegas berlari keluar cafe, takut gunting Akashi menyentuh kulitnya. Akashi yang hendak mengejar Takao yang kabur langsung di hentikan Kuroko.
"Mou, Akashi-kun. Yamete yo, aku yakin Takao-san hanya bercanda."
Akashi masih bersikeras untuk mengejar Takao, ia terus berontak. Kuroko menoleh ke arah teman-temannya, memohon bantuan untuk menghentikan sang emperor.
Dengan senang hati [baca : terpaksa], merekapun membantu Kuroko menenangkan singa yang tengah mengamuk itu.
"Maa, Akashi-kun tenanglah." Ujar Momoi,
"Dia pasti bercanda ssu. Seperti yang dikatakan Kurokocchi ssu! Benarkan ssu?" Kise menoleh ke teman-temannya. Lirikan itu di sambut dengan anggukan kompak dari semuanya.
"Benar begitu?" tanya Akashi, Kuroko mengangguk cepat.
"Un, percayalah." Kuroko tersenyum kecil, Akashi menghela nafas. Gunting yang sempat terhunus ke udara itu kembali ke dalam sakunya. Aomine, Kise, Midorima, Momoi, Murasakibara, dan tak lupa Kuroko menghela nafas lega.
"Baiklah, pulang sekarang!" kata Akashi, "Eh?"
"Tapi, kami belum makan apapun ssu." Ucapan Kise barusan di sambut oleh anggukan Aomine.
"PU-LANG!"
Dengan sangat terpaksa, mereka semua menuruti perintah sang kapten. Akashi menarik tangan Kuroko dan membawanya segera pulang. Tak lupa para budak Akashi mengekor di belakang keduanya.
Sepanjang jalan, Kuroko mendapatkan tatapan mengerikan dari Akashi. Tak di jalan, di dalam kereta. Bahkan ketika mereka sudah tiba di mansion Akashi.
"Ada apa, Akashi-kun?" tanya Kuroko pada Akashi yang kini duduk di hadapannya. Ia menatap Kuroko tajam.
"Kau, tidak punya perasaan apapun pada di bodoh itukan?" tanya Akashi,
"Si bodoh?" gumam Kuroko, ia menepuk kedua tangannya, "—Oh, Takao-san maksudnya?"
"Siapa lagi?!" Kuroko menghela nafas,
"Akashi-kun, apakah kau sebegitu tidak percayanya pada ku?" Kuroko balik bertanya,
"Jangan jawab bertanyaanku dengan pertanyaa, Tetsura."
"Sama sekali tak ada Akashi-kun. Dia hanya teman semasa kecilku." Jawab Kuroko dengan wajah datarnya.
"Sedikitpun tidak ada?" tanya Akashi, Kuroko mengangguk.
"Kau hanya menyukaiku?" Kuroko kembali mengangguk,
"Benar begitu?" Lagi-lagi anggukan dari pemilik surai aquamarine itu menjadi jawabannya. Akashi menghela nafas lega.
"Boleh aku pergi sekarang? Aku ingin istirahat." Kuroko hendak melangkahkan kakinya menuju pintu coklat nan besar itu. Namun, langkahnya dicegat oleh suara bariton Akashi.
"Belum selesai." Ujarnya. Kuroko menghela nafas, ia mengusap-usap dadanya. Kemudian berbalik dan kembali menghadap sang kekasih.
"Apa lagi, Akashi-kun?" Akashi mengerutkan dahinya, "—Apakah ada sesuatu yang salah?"
Kuroko kebingungan melihat ekspresi aneh Akashi, pasti ada sesuatu yang salah lagi, pikirnya.
"Kau harus memanggilku dengan nama kecilku." Perrintah Akashi, Kuroko diam,
"Apa?"
"Aku bilang, Kau harus memanggilku dengan nama kecilku!"
"Tidak mau," tolak Kuroko terang-terangan. Dahi Akashi mengerut, oh, apakah sikap keras kepala dan senang melawan Akashi milik Kuroko sudah bangkit?
"Kau, melawanku?" Akashi menggebrak meja di depannya. Kuroko tetap dengan wajah datarnya.
"Aku mau ke Amerika saja." Ujar Kuroko tiba-tiba, setumpuk perempatan memenuhi dahi Akashi.
"Tetsura!" Kuroko menghela nafas, "Habisnya Akashi-kun memaksaku terus, aku tidak suka."
Akashi melipat tangannya di depan dada, "Apa kau lupa kalau aku ini...?"
Kuroko menelan ludah, ia benar-benar lupa dengan sikap Akashi yang satu ini,
"Absolut." Balasnya dengan sangat terpaksa. Akashi tersenyum lebar,
"Akashi-kun kenapa tiba-tiba minta dipanggil seperti itu?" tanya Kuroko. Senyuman Akashi memudar, ia mengadah,
"Ha-habisnya.." Akashi balik kanan, membelakangi Kuroko. Memperlihatkan punggung lebarnya.
"—Ka-kau memanggil si bodoh itu dengan sebutan 'Taka-chan'."
Iris aquamarine Kuroko mengecil, ia tak percaya atas apa yang barusan ia dengar. Percayalah, saat ini Akashi pasti sedang blushing ria.
"Akashi-kun, kau cemburu?"
Hening, kesunyian menyergapi keduanya. Tak ada yang bersuara. Benar-benar hening. Kuroko menghela nafas, ia berjalan menuju Akashi yang kini mengadah menatap langit melalui jendela besar di depan sana.
Tangannya bergerak cepat memeluk pinggul Akashi, ia menyandarkan dagunya pada bahu pemuda itu. Sontak, yang di peluk terkejut dan blushing ria.
"Tetsura...?"
"Nani, Sei-kun.." bisik Kuroko, suara lembut Kuroko mencium mesra telinga Akashi yang kini sedikit memerah.
"Tetsura.."
Akashi menggenggam tangan Kuroko yang kini melingkar di pinggulnya. Ia mendekatkan wajahnya dengan milik Kuroko yang kini bersandar di bahunya.
Baru saja sebuah ciuman akan di hadiahi Akasi pada Kuroko, terdengar suara gaduh dari luar ruangan. Sambil menghela nafas penuh kekesalan, Akashi meminta Kuroko untuk melepaskan pelukannya. Sudah bisa ditebak, siapa penyebab keributan itu. Dapat di pastikan, mereka adalah para tem—budak Akashi yang hanya kadang-kadang berguna.
Akashi membuka pintu besar itu, membuat mereka yang bersandar di sana terjatuh mencium lantai. Oh, ciuman yang mesra sekali.
"Kalian belum puas ku suruh lari keliling halaman 20 kali, huh?!"
"Bu-bukan begitu ssu, kami hanya itu ssu.. kami hanya.." Kise berusaha membela diri,
"Kami hanya kebetulan lewat, iya, itu yang ingin dikatakan si bodoh ini." Sambung Aomine, Kise membatalkan acara mengamuknya karena dikatai bodoh oleh Aho—Aomine. Ada hal yang lebih penting saat ini.
"Itu benar ssu. Kebetulan lewat." Akashi mendelik, tak percaya pada perkataan Kise yang sudah di pastikan 100% bohong. Kecuali ia bisa jelaskan kenapa ia bisa jatuh tersungkur bersama yang lainnya ketika Akashi membuka pintu.
"Tadi Kisechin dan Minechin mengintip Akachin dan Kurochin. Dia juga memaksa kami untuk ikut." Ujar Murasakibara dengan nada malasnya dan tentu saja, sambil mencomot maiubonya.
Akashi menatap Kise dan Aomine tajam. Yang di tatap merinding disko dan bersiap untuk lari.
"Jangan kau pikir bisa kabur segampang itu, dasar bodoh."
Kise dan Aomine membatu di tempat, gagal sudah rencana mereka untuk menggunakan jurus seribu langkah. Akashi menghunus gunting keramatnya tepat di depan wajah Kise dan Aomine.
CKRIS!
Akashi memotong rambut Kise yang baru saja di creambath itu, terpotong dengan asal-asalan. Menciptakan teriakan nista dari sang pemilik rambut. Aomine pucat pasi, wajahnya yang biasa –ehem- hitam –ehem-, hari ini menjadi putih. Tangannya yang gemetar di pegang erat oleh Murasakibara dan Murasakibara atas perintah Akashi.
Momoi duduk di depan stupa, berdo'a agar kedua temannya itu di berikan tempat yang layak oleh yang Maha Esa di akhirat sana.
"Nikmatilah potongan rambut baru kalian!" Akashi masuk kembali ke dalam ruangan, menghampiri Kuroko yang masih berdiri di tempat yang sama.
Sementara Midorima, Murasakibara, dan Momoi (Trio M) kini hanya menatap prihatin kedua rekan mereka yang tengah menangis bombay meratapi rambut mereka yang sudah terpotong tak karu-karuan.
Mungkin setelah ini, Aomine harus ikut Kise perawatan rutin di salon. Untuk memperbaiki rambutnya yang di babat habis oleh Akashi. Ia tak bisa memperlihatkan rambut 'barunya' itu pada para penggemarnya kan? Bisa-bisa mereka lari terbirit-birit karnanya.
"Aominecchi! Kita harus segera ke salon ssu!" Aomine mengangguk mantap,
"Baiklah, kami pergi dulu ssu!" Keduanya langsung pergi secepat kilat. Sementara Trio M hanya melongo melihat Aomine yang tiba-tiba mau ikut Kise ke salon. Yah, tiap orang punya masalah masing-masingkan? /apasih/
"Ticka-Tocka-Ticka-Tocka, gotta make haste, or I'm gonna be late"
Kuroko berjongkok sambil memperhatikan semut-semut yang berbaris. Memperhatikannya tanpa berkedip. Liburan ,musim panas, Kuroko Tetsura tidak bisa pergi kemanapun.
Sang kekasih sibuk berlatih basket bersama rekan-rekannya [baca : budak] dan ia tak di izinkan pergi kemanapun. Hanya boleh bermain di sekitar lapangan basket. Uh, menyebalkan, pikir Kuroko.
Semak-semak di belakang Kuroko tiba-tiba bergerisik, dan tiba-tiba seorang pemuda muncul dari sana. Ia berjalan sambil celingak-celinguk. Tiba-tiba...
BRUUK!
"Arrgghh!"
Pemuda itu mengusap-usap kepalanya yang terbentur pohon karena tersandung. Ia menabrak sesuatu.
"Doumo, Takao-san."
Takao terbelalak melihat seorang gadis bersurai Aquamarin berjongkok di depannya. Ternyata yang membuatnya terjatuh, rolling, dan membentur pohon adalah gadis itu—Kuroko Tetsura.
"Tetsura-chan!?" Kuroko menenglengkan kepalanya, "Ada apa?"
Takao berjongkok di depan Kuroko, saling memandang satu sama lain.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Takao. Kuroko menempelkan jari telunjuknya pada dagunya, kemudian mengangkat bahu. Takao mengangkat alisnya sebelah.
"Harusnya aku yang bertanya'kan?" ujar Kuroko tiba-tiba.
"Kenapa Takao-san terjatuh?" tanya Kuroko dengn wajah polos, Takao menggosok belakang kepalanya yang sedikit benjol itu.
"Itu salahmu," dahi Kuroko berkerut, "Salah ku?" ulang gadis itu.
Sang Raven mengangguk. Ia benar-benar tak mengerti apa yang di maksud oleh Takao itu, Kuroko kebingungan.
"Hawa keberadaanmu itu, tipis sekali. Aku sampai tak melihatmu."
Kuroko ber-oh ria, Takao menoleh ke kanan dan ke kiri. Mencari-cari sosok merah yng biasanya berkeliaran di sekitar Kuroko.
"Sei-chan mana?" Kuroko menggeleng, "Sei-kun sedang latihan."
Takao ber-oh ria. Ia mengusap daguya perlahan dengan jari telunjuk dan jempolnya. Kemudian, sebuah lampu imajiner muncul di atas kepala sang raven.
"Tidak bosan?" Kuroko menatap Takao dengan tatapan, 'kau bahkan sudah tau jawabannya'. Pemuda dengan iris biru keperakan itu tersenyum kecil. Ia beridiri dan mengulurkan tangannya pada Kuroko.
"Ayo!" Kuroko menerima uluran tangan Takao tanpa pikir panjang, tapi..
"Kita mau kemana?" tanya Kuroko
"Sudah ikut saja!" Takao menarik tangan Kuroko, namun yang di tarik justru mengayunkan kakinya menuju gedung besar itu, gedung olahraga tempat Akashi dan yang lainnya berlatih.
Takao mengerutkan dahinya, "Oi, kenapa?"
"Aku harus bilang ke Sei-kun dulu."
Takao buru-buru menahan langkah Kuroko, mengehentikan pergerakan gadis itu.
"Jangan di beritahu! Rahasia kita berdua saja!"
"Tapi.. nanti Sei-kun.."
Takao langsung saja menarik Kuroko menjauh dari gedung itu.
"Dou ka, Can You Keep My Secret?"
Akashi tampak tak dapat fokus pada latihannya. Ia terus-menerus kepikiran tentang 'Tetsura'—nya yang kini tengah asik bermain di luar sana.
'Apa yang sedang ia lakukan?'
'Apakah ia baik-bak saja?'
'Tidak ada hal buruk yang terjadikan?'
Petanyaan itu terus menerus berputar di kepala sang emperor. Ia berusaha menenangkan dirinya. Akasi yang saat ini bukanlah Akashi yang biasa. Suara Kise yang menjerit-jerit minta istirahat, sama sekali tak ia hiraukan.
"Akashicchi! Mou, aku minta istirahat ssu! Aku bisa mati ssu!" rengek Kise sambil meneteskan air mata buaya. Aomine sibuk mengipasi dirinya dengan tangannya.
"Akashi, sudah waktunya istirahat, nanodayo" berkat suara Midorima yang cukup berat itu (?) , Akashipun tersadar dari lamunannya.
"Baiklah, kalian boleh istirahat." Kise langsung sujud syukur, Murasakibarapun langsung mencomot maiubonya. Momoi segera membagikan handuk dan isotonic drink pada para rekannya yang sudah dalam kondisi mengenaskan itu. Baru saja Kise akan meneguk minumannya,
"Ryouta, cepat cari Tetsura." Kise langsung cemberut, bibirnya maju lima centi. Baru saja ia bisa beristirahat, eh, sudah di beri tugas lagi oleh sang Kapten.
"Akashicchi! Akukan lelah, aku mau istirahat ssu." Tolak Kise, CKRIS!
"Oke, kau boleh istirahat. Aku akan memberikanmu istirahat yang abadi, Ryou-ta."
Kise bergidik, semua langsung memandangi Kise dengan tatapan ,
'Cepat lakukan atau kau mati'
Dengan cepat, Kisepun berlari keluar. Mencari-cari sosok dengan surai aquamarine itu. Kise sudah berkali-kali menelusuri setiap celah dan ruang yang ada di halaman super luas itu. Tapi, iris aquamarine yang biasanya mengilap itu tak kunjung ia temukan. Bahkan Kise sudah blusukan ke loteng dan tong sampah, disanapun ia tak menemukan apapun.
Dengan langkah gemetar, Kise memasuki gedung olah raga tempat Akashi dan teman-temannya menunggu.
"Bagaimana? Mana Tetsura?" tanya Akashi,
Kise menelan ludah, "Ku—Kurokocchi.." Akashi menaikkan alisnya sebelah.
"Ada apa dengan Tetsura?" Kise gemetar, keringat dingin bercucuran membasahi tubuhnya.
"Apa yang terjadi?"
"Kurokocchi menghilang ssu!" botol yang ada di tangan Akashi jatuh seketika. Matanya membulat sempurna, "Apa..?"
"A-aku tidak bisa menemukan Kurokocchi ssu.."
Akashi bergegas berlari keluar gedung, "Akashi, kau mau kemana?"
"Tentu saja mencari Tetsura! Kalian juga! Tidak ada yang boleh pulang sebelum Tetsura di temukan!"
Ssemuanya bergerak cepat, mencari sosok bersurai aquamarine itu—Kuroko Tetsura. Perasaan kesal, takut, sedih, khawatir, semuanya berkumpul jadi satu di salam rongga dadanya.
"Tetsura! Tetsura! Tetsura!" bibir Akashi tak henti-hentinya menyerukan nama gadis itu. Jantung Akashi berdetak kencang, rasa-rasanya organ penting itu akan meloncat keluar dari mulutnya.
"Oi, Tetsu! Keluarlah!" Aomine mulai serius mencari. Ia terus memanggil nama gadis itu kencang-kencang. Aomine membuka tutup tong sampah yang ada di depannya.
"Tetsu, kau disana?" Momoi geleng-geleng kepala melihat kelakuan Aomine. Memangnya Kuroko itu apa? Sampah? Tikus? Yang benar saja, mana mungkin gadis secantik itu mainnya di tong sampah. Dasar, tak Kise, tak Aomine, sama saja.
Beda Aomine, beda juga si Midorima. Bukannya menari Kuroko, ia malah mencari lucky itemnya yang hilang. Kalau tidak salah, lucky item hari ini itu panci.
"Oh, ketemu!" semua menghentikan pencarian mereka. Berfikir bahwa yang ditemukan Midorima itu adalah Kuroko, padahal...
"Oi, Shintarou.."
"Akashi, biarkan aku memukuli orang ini." Aomine mengepal tinju sambil memandang sebal Midorima.
"Aku harus mengikuti takdir, nanodayo. Apalagi aku harus mencari seorang aquarius yang berada di peringkat ke-11, nanodayo." Midorima menaikkan kacamatanya yang sama sekali tak melorot itu.
"Bisa-bisa kesialan menimpaku, nanodayo." Lanjutnya.
Akashi menghela nafas berat, ia memijit pelipisnya. "Terserah kau, yang pasti apapun yang terjadi Tetsura harus ditemukan! Bagaimanapun caranya!"
Akashi kembali mencari. Ia meraih ponselnya, mencoba memanggil ponsel sang kekasih. Namun, Akashi langsung tepuk jidat, begitu ia merasakan sebuah getaran pada saku lainnya. Oh, Akashi masih menyita ponsel Kuroko.
Sang pemilik iris heterokrom itu mencecih, ditelponnya sang supir pribadi untuk segera menjemputnya.
"Atsushi dan Shintarou tunggu di sini! Yang lainnya ikut aku!" Momoi, Aomine, dan Kisepun segera mengikuti langkah Akashi memasuki mobil.
"Akachin, sangat panik ya.." ujar Murasakibara dengan nada malasnya seperti biasa.
Sementara itu...
Kuroko terus menerus bersin sejak 20 menit yang lalu. Hal itu membuat Takao merasa khawatir. "Kau baik-baik saja, Tetsura-chan?"
Kuroko mengangguk pelan, "Ku rasa ada seseorang yang membicarakanku." Ujarnya sambil menggosok bagian bawah hidungnya. Bukan seseorang lagi, tapi ada banyak yang mengkhawatirkanmu, Kuroko.
Takao menyodorkan tisu yang didapatkannya entah darimana, Kurokopun menerimanya.
"Jadi, kita mau ke mana, Takao-san?" Takao menggosok dagunya dengan jari telunjuk dan jempolnya. Jangan bilang ia tak punya rencana dari awal?
"Entahlah, apakah kau punya ide?" Takao malah balik bertanya. Kuroko menghela nafas,
"Kenapa kau malah bertanya padaku, Takao-san?" Takao terkekeh, ia menggaruk kepalanya yang sama sekali tak gatal itu.
Tiba-tiba, sebuah lampu imajiner muncul di kepala Takao. "Ayo ke game center!"
Di sinilah mereka, tempat dimana semua jenis game ada, Game Center. Kuroko terperangah melihat isi ruangan itu. "Kau ingin memainkan sesuatu?"
Kuroko mengangguk pelan, matanya bergerak ke sana kemari meneliti semua mesin yang ada di sana. "Yang itu!"
Kuroko menunjuk sebuah UFO Catcher, "Baiklah, ayo!"
Di dalam kotak yang di lapisi kaca transparan itu, boneka anjing nan imut dengan berbagai warna berjajar ceria. Kuroko kembali di buat terperangah olehnya. Takao memasukkan beberapa koin, dan START!
Tak butuh waktu lama untuk Takao memenangkan sebuah boneka anjing berwarna hitam dengan sedikit aksen putih untuk Kuroko. Dengan antusias, Kuroko menerima boneka itu. Matanya yang mengilap tampak persis dengan mata anjing itu. Takao hanya tertawa kecil melihat tingkah Kuroko yang tergolong imut itu.
"Arigatou, Takao-san!" Takao menepuk-nepuk puncak kepala Kuroko.
"Doita, Tetsura-chan."
Keduanya kembali mencoba berbagai game, mulai dari Air Hockey, hingga Street Fighter. Kini Kuroko dan Takao berhenti di depan sebuah photo booths.
"Mau mencobanya?" tawar Takao, Kuroko mengangguk.
Merekapun memasuki photo booths itu, ketika Takao sibuk memilih frame untuk foto mereka...
"Takao-san, saat kau mengatakan kau mencintaiku itu, apakah benar?" tanya Kuroko. Takao terdiam, diliriknya Kuroko yang menatapnya dengan wajah polos itu.
"Benar loh, tapi bukan dalam artian romantis." Jawab Takao santai,
"Maksudnya?" Kuroko merasa kebingungan,
"Kau tau, aku mencintaimu sebagai teman semasa kecil dan adik perempuan. Bukan sebagai wanita." Jelas Takao, Kuroko ber-oh ria.
"Lalu, kenapa mengatakannya terang-terangan begitu?" Kuroko kembali bertanya.
"Itu supaya si Sei-chan cemburu," tawa Takao lepas di udara.
"Kau tau, aku sempat mendengar harapannya ketika aku menyusup ke mansionnya beberapa hari yang lalu. Kau tau, ia berharap kepada bintang jatuh dan itu lucu sekali." jelas Takao.
Eh? Menyusup? Kau mau apa Takao, kenapa melakukan hal seperti itu, mau jadi pencuri atau bagaimana?
"Harapan?" Takao mengangguk pelan,
"Harapannya adalah semoga tidak ada yang mengganggu kalian berdua lagi." Takao menggaruk kepala bagian belakangnya.
"Jadi aku muncul untuk mengacau. Aku akan jadi Poseidon, yang mengganggu Ares dan Afrodit." Lanjut Takao,
Kuroko menenglengkan kepalanya, "Apa yang kau bicarakan, Takao-san? Kiyo—nii—san, juga selalu membicarakan Afrodit dan semacamnya waktu di Amerika dulu."
Takao tertawa pelan, "Sudahlah, lupakan saja."
Timer berjalan, 10 detik menghitung mundur sebelum foto di ambil.
"Ayo, Tetsura-chan, CHEESE!" Chuu~
"My Sista, Mechakucha ni Aishiteru. Yasashii Dake no Kissu ga Ii no Ka?"
Banzai~ Banzai! Akhirnya chap 2 selesai :3 Gomenasai, updatenya telat banget.. tapi kayanya ga masalah deh ya, soalnya ga ada yang baca /di lempat ke laut/
Oh, gomenasai... saya uda kehilangan feel sama fic yang satu ini, jadi rasanya susah banget mau dilanjutin. Jadi pokoknya, ah, pokoknya maaf banget... maaf... maaf.. maaf...
Tadinya pengen update langsung chap ke-2 sama ke-3. Tapi brhubung feelnya uda memudar, jadi mau lanjutin chap ke-3nya rasanya berat banget.. uda buntu rasanya.. maaf.. maaf..
Ah, pokoknya makasih buat yang uda review dan uda mau baca, nge-fave ataupun nge-follow =3 Makasih banyaaak~ Arigatou~
