Title :

Hoshizora no misuteiku : O baka Hoshizora-san!

Prequel :

星空のミステイ[Hoshizora no Misuteiku]

Disclaimer :

Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki

Story :
©Rall Freecss

Cast :

Fem!Kuroko, GoM, etc

Pair :

AkaKuro,

Warning :

GaJe, Typo Everywhere, Fem!Kuroko,OOC, etc :v


Akashi tampak bagitu uring-uringan tentang hilangnya Kuroko Tetsura. Ia bersama para teman-temannya [baca : budak] sudah berkeliling ke semua tempat yang mungkin dikunjungi oleh Kuroko. Namun hasilnya, NIHIL.

Jika kalian tanya bagaimana penampilan Akashi saat ini, maka kalian akan menyaksikan seorang pasien Rumah Sakit Jiwa yang lepas. Rambut merahnya tampak acak-acakkan, tubuhnya dibanjiri keringat dan sedikit debu menempel, menambah kesan dekil pada sang emperor.

Tapi Akashi sama sekali tak peduli. Yang menjadi prioritasnya saat ini adalah menemukan Kuroko, belahan jiwanya yang menghilang tanpa jejak. Saat ini Akashi serta Momoi, Aomine, dan Kise yang kini sudah terbagi menjadi dua grup tengah sibuk menelusuri Akiba. Tempat yang mereka kunjungi bersama beberapa hari yang lalu. Pemuda beriris heterokrom itu punya firasat kalau kekasihnya ada di pusat toko elektronik itu.

Berlari kesana kemari dengan penampilan acak-acakkan membuat setiap langkah tuan muda Seijuro diperhatikan setiap orang. Beberapa tampak mengeluarkan ponsel mereka dan mengabadikan moment itu. Mungkin sebentar lagi Akashi akan menjadi bintang internet.

"Tetsura, dimana kau!?" teriak Akashi.

Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, berharap pemilik mata paling indah itu muncul dan memanggil namanya dengan suara khasnya yang selalu ia rindukan.

"Tetsura..." gumam Akashi lirih.

Ponselnya tiba-tiba berdering, sebuah panggilan dari Momoi.

"Ada apa?" tanya Akashi pada Momoi di seberang sana,

"Kami menemukan Tetsu-chan!"

Iris heterokromnya membulat sempurna, Kuroko ditemukan!

"Posisi kalian!?" tanya Akashi, lawan bicarana tiba-tiba saja berganti, kali ini Aomine yang memegang ponsel disana.

"Dia bersama orang lain, Kise tadi menghampiri mereka tapi orang yang bersama Tetsu langsung membawanya pergi." Jelas Aomine.

Akashi menggeram, ia memukul keras dinding yang ada di sampingnya. Meninggalkan bekas memar pada jemari sang emperor.

"Laki-laki atau perempuan?! Dimana kalian menemukannya!?" tanya Akashi,

Aomine menarik nafas dalam-dalam, "Laki-laki. Di sebuah Game Center sekitar 30 meter dari Animate."

Akashi kembali melampiaskan amarahnya pada dinding toko tak berdosa itu, memar yang terpatri di tangannya berubah menjadi luka dan mengucurkan darah segar. Mendengar kekasihnya pergi bersama laki-laki lain tampaknya benar-benar menyayat hati seorang Akashi Seijuro.

"Akashicchi, sepertinya mereka mengarah ke sebuah taman. Sekitar 25 meter dari tempat kami saat ini." Jelas Kise.

"Kami sedang mengejar mereka!"

Akashi langsung memutus panggillan itu, ia masukkan ponsel hitamnya ke dalam saku dan langsung berlari menuju taman yang dimaksud Kise. Ia terobos lautan manusia yang membanjiri Akihabara, tak ia pedulikan tatapan aneh dari orang disekitarnya. Yang menjadi prioritas utamanya adalah berlari menuju taman itu dan menemukan belahan jiwanya.

"Aku tidak akan melepaskanmu lagi, Kuroko Tetsura!"

"Sono Te wo Hanashi Taku Nai!"


"Takao-san.. Pelan.. Pelan... Hhh.."

"Tetsura-chan... Hhh... Ayo lebih cepat.. Hhhh.."

Kuroko memandangi wajah sang Raven dengan mata sayu dan wajah merah. Nafasnya tersengal-sengal, begitu tak teratur.

"Hngh.. Ta-Takao-san.. A-aku sudah tidak kuat..." keluh Kuroko.

Nafasnya memburu, semburat merah memenuhi wajah pucatnya. Takao menggenggam erat tangan gadis bersurai aquamarine itu.

"Bertahanlah, Tetsura-chan... Sedikit lagi... Hhhh... Ayo lebih cepat..!"

Kuroko memejamkan matanya dan menggeleng pelan.

"Mou, aku su-sudah benar-benar tidak kuat.."

Kuroko jatuh terduduk, ia melepaskan tangan Takao. Terus berlari sejak tadi tampaknya benar-benar membuat gadis itu kelelahan. Ia melepas genggaman tangan Takao. Pemuda raven itu pun berenti berlari dan menghampiri gadis bersurai aquamarine itu.

"Kau baik-baik saja?" tanya Takao, Kuroko menggeleng, ia sibuk mengatur nafasnya. Takao berjongkok membelakangi Kuroko, "Ayo naik, aku gendong."

Kuroko menolak, "Aku bia berjalan sendiri."

Takao lantas menarik tangan Kuroko dan membawanya ke dalam gendongannya.

"Yosha!" Takao berdiri tiba-tiba, membuat gadis bersurai aquamarine itu buru-buru memeluk erat leher Takao. "O! Ayo kita selfie dulu!" Takao segera meraih ponsel dari saku celananya.

"Takao-san, kalau Sei-kun melihat kita, Takao-san akan berada dalam bahaya." Ujar Kuroko dengan wajah datar andalannya.

"Daijobu, daijobu." Takao membuka fitur kamera pada ponselnya dan click!

"Ou, hasilnya bagus." Pemuda raven itu mulai melangkahkan kakinya sambil mengotak-atik ponselnya dan Kuroko masih di punggunggnya. Takao tampak tengah menulis pesan untuk seseorang.

To : Kiyo-nii-san
From : Takao Kazunari
Subject : Run! Run! Run!

Aku sedang bermain kejar-kejaran bersama Tetsura-chan!

"Kemudian masukkan foto yang tadi dan kirim." Setelah memastikan bahwa pesan itu terkirim Takao memasukkan ponselnya ke dalam saku dan mulai berlari secepat yang ia bisa untuk menghindari kemungkinan mereka dikejar oleh Akashi dan pasukannya.

Belum lama Takao berlari, dari arah berlakang tersegar suara langkah kaki yang saling bersahutan, Kuroko dan Takao lantas langsung menoleh ke arah sumber suara. Dan terlihatlah 3 kepala warna-warni yang tengah berlari ke arah mereka.

"Kurokocchi! Tunggu, ssu!" seru yang berkepala kuning cerah,

"Oi! Tetsu! Jangan lari lagi!" seru yang lainnya. Takao meneguk air ludahnya dan langsung mempercepat larinya agar tak terkejar.

"Takao-san, kenapa kita harus lari dari mereka?" tanya Kuroko yang hanya dibalas dengan diamnya Takao, pemuda itu terus berlari lurus ke depan. Tiba-tiba dari semak belukar keluarah sesosok bersurai merah dengan tinggi rata-rata.

"Kau tidak bisa kabur lagi, Takao Kazunari!"

"Sei-kun." Gumam Kuroko, "Gawat..." batin Takao gusar.

Ah, akhirnya tikus yang sedari tadi melarikan diri bertemu sang predator dan tak berkutik lagi.

"Found You!"


"Y-Yo! Sei-chan! A-Apa kabar?!" keringat dingin muai membasahi pelipis Takao, wajahnya tampak pucat pacsi, detak jantungnya berpacu lebih cepat dari pada sebelumnya, ia benar-benar ketakutan. Bayangkan saja, di depanmu saat ini telah berdiri seorang Akashi Seijuro yang tampak sangat marah padamu.

Kuroko menepuk-nepuk pelan bahu Takao, pemuda itu menoleh, "Takao-san, turunkan aku." Pinta Kuroko. Pemuda belah tengah itu langsung menurunkan sang blunette dari gendongannya, membiarkannya berlari ke dalam pelukan Akashi. Takao benar-benar disudutkan sekarang, tak ada celah untuk kabur.

Ia seperti tikus yang terperangkap di dalam kotak sekarang.

'Matilah aku..' batin Takao khawatir. Takao Kazunari benar-benar tak menyangka bahwa membawa Kuroko pergi bermain tanpa izin seorang Akashi Seijuro bisa membuatnya berakhir seperti ini. Berakhir seperti perampok yang kepergok dengan merampok. Ia benar-benar terlihat seperti seorang kriminal yang tengah disudutkan polisi saat ini.

"Jadi, bisa kau jelaskan kenapa kau bisa bersama Tetsura di sini?" tanya Akashi sambil menatap tajam Takao yang begitu ketakutan berhadapan dengannya.

"Me-memangnya tidak boleh? A-aku hanya mengajaknya bermain karena dia terlihat kesepian." Kata Takao berusaha membela diri. Mendengar pembelaan Takao, Akashi mengangkat alisnya sebelah seraya menyeringai lebar.

"Tentu saja tidak boleh!" Jawab Akashi dengan penuh penekanan pada setiap kata yang ia sebutkan. Pemuda bersurai merah itu mengecup lembut puncak kepala Kuroko.

"Gadis ini milikku, kau tidak boleh menyentuhnya sembarangan." Lanjut Akashi. Wajah pemuda itu terlihat begitu mengerikan, bahkan Momoi, Aomine, serta Kise yang berdiri di belakang sana turut bergidik ngeri bersama Takao ketika menyaksikan betapa mengerikannya wajah tuan muda Seijuro yang tengah marah.

Takao meneguk air ludahnya, ia tengah membayangkan apa yang kira-kira akan terjadi padanya setelah ini, dalam hati ia berharap ia akan baik-baik saja.

"Sei—"

Tiba-tiba angin berhembus kencang, menerbangkan sesuatu dari dalam saku Takao. Benda itu jatuh tepat di depan kaki Akashi, pemuda bertubuh cukup tinggi itupun membungkuk untuk memungut benda—foto itu.

Ekspresi Akashi tiba-tiba saja berubah, ia tampak semakin marah. Jika ini merupakan naskah manga, maka akan muncul beberapa perempatan pada kepala Akashi, tak lupa aura hitam pekat yang sudah pasti akan mengelilingi tubuh Akashi. Memberikan kesan horror tersendiri.

"Oh, berani juga kau ternyata ya.." Akashi meremas foto itu dan membuangnya ke tanah begitu saja. "Aku akan memberimu pelajaran!"

Akashi maju mendekati Takao yang sudah membatu, dahinya dibanjiri keringat dingin. Pemuda Sagitarius itu mengepal tinjunya, ia siap mengayunkan tinjuan itu kapan saja.

"Sei-kun, hentikan." Pinta Kuroko sambil berjalan mendekati Akashi. Namun, Akashi sudah dibutakan oleh api kecemburuan yang membara, membuatnya tak mendengar permintaan kekasihnya itu. Ketika ia mengarahkan pukulannya ke arah wajah Takao..

BUGH! BRUKK!

"Tetsura-chan!" Takao langsung berlari menghampiri Kuroko yang jatuh terduduk di tanah, hidungnya berdarah karena terkena sikut Akashi barusan. Momoi dan yang lainnya pun juga langsung mengelilingi Kuroko.

"Kau baik-baik saja?!" tanya Aomine khawatir, gadis berwajah pucat itu mengangguk pelan. Akashi yang masih berdiri tampak sedikit terkejut, ia tak menyangka kalau ia akan menyikut pacarnya itu dan membuatnya jatuh serta mimisan hebat.

"Sei-kun, kau tidak boleh memukul Takao-san, dia tidak sepenuhnya salah.." kata Kuroko sambil menjepit cuping hidungnya untuk menghentikan pendarahan dari hidungnya itu. Kise buru-buru menyeka darah yang menumpuk di sekitar dagu Kuroko dengan sapu tangannya. Takao menopang tubuh gadis itu agar tidak jatuh ke tanah sepenuhnya.

Kuroko merasa kepalanya mulai terasa pusing, pandangannya menjadi kabur, matanya pun terasa begitu berat. Sebisa mungkin ia menahan agar matana tak tertutup, namun apa daya, Kuroko tak sanggup menahannya. Akhirnya gadis itu pun jatuh pingsan di dalam dekapan Takao.

"Tetsura..!" seru Akashi ketika Kurko tiba-tiba saja tak sadarkan diri. Semua yang ada di sana panik bukan kepalang, tuan muda Seijuro langsung saja menelpon supir pribadinya untuk membawa Kuroko ke Rumah Sakit terdekat.

Selang beberapa menit, mobil pribadi Akashi pun muncul. Akashi, Takao, dan Aomine bahu membahu membawa Kuroko masuk ke dalam mobil. Setelah Kuroko dibaringkan di jok belakang mobil bersama Momoi sebagai penjaganya, pemuda bersurai merah yang tampak begitu khawatir pada keadaan Kuroko itu pun turut menaiki mobil dan segera meminta supirnya segera melaju dengan kecepatan penuh menuju rumah sakit.

Takao, Kise, dan Aomine segera menyetop taksi pertama yang mereka lihat untuk menyusul ke rumah sakit sesegera mungkin. Ketiganya tak kalah khawatir dari Akashi tentang keadaan Kuroko. Mereka takut terjadi sesuatu pada gadis polos yang tampak tanpa dosa itu. Bukan rahasia alam lagi jika gadis dengan surai aquamarine itu memang tidak memiliki stamina yang besar, tapi, tetap saja, melihat Kuroko pingsan seperti ini membuat jantung mereka berolah raga dengan giat.

Sesampainya mereka bertiga di rumah sakit, Kuroko sudah dalam penanganan Dokter. Dan yang lebih melegakan lagi adalah, Dokter menyatakan bahwa Kuroko hanya pingsan karena kelelahan.

"Jangan khawatir, gadis itu hanya kelelahan. Dia akan baik-baik saja." Jelas sang Dokter.

Mereka semua menghela nafas lega, syukurlah, batin mereka kompak.

Nah, setelah dibuat tenang atas kabar dari sang dokter, sekarang saatnya acara saling salah menyalahkan dimulai.

Semua dimulai dari Akashi yang tampak sudah sangat jengah pada Takao yang berdiri tepat di sampingnya. Tak hanya karena telah berani membawa Tetsura kabur seenaknya, tapi juga karena foto itu dan banyak hal.

Yang benar saja, berani-beraninya ia mengecup pipi Kuroko pada foto itu. Mau dia anak pejabat, teman semasa kecil Kuroko, anak panglima, ataupun anak kaisar sekalipun, tak akan Akashi ampuni!

Yang boleh menyentuh Tetsura hanyalah aku! Batin Akashi penuh percaya diri, dan entah kenapa lama-lama ia jadi mirip Aomine, baiklah, lupakan saja.

Jadi, mulailah Akashi bersuara untuk mengompori Takao, menyudutkannya lebih tepatnya.

"Jadi, kira-kira salah siapakah semua ini?" Akashi menjeling ke arah Takao tajam,

"Eh? Tentu saja salahmu kan?" Takao dengan santai menunjuk Akashi, mengacungkan jari telunjuknya pada pemuda bersurai crimson itu. Momoi kaget, Kise ternganga, Aomine diam, mereka tak menyangka kalau Takao akan sebodoh itu.

Mengacungkan jarinya terang-terang ke arah sang Emperor, yang benar saja, cari mati memangnya?

Buru-buru ketiga orang itu menarik tangan Takao turun, sebisa mungkin menghentikan Akashi yang hampir saja masuk ke mode beserk.

"Akashi-kun, tenanglah, untuk yang kesekian kalinya, dia pasti hanya bercanda kok, benar kan?" Momoi mencoba mencairkan suasana mencekam itu, ia mengerling ke arah Takao, meminta kerja samanya.

"Tidak, ini semua jelas salahnya, dia kan yang menyikut Tetsura-chan sampai jadi begitu." Oh Takao, tak bisakah mulutmu itu diam untuk sebentar saja.

"Hoo? Jadi maksudmu ini semua adalah salahku begitu?" Akashi menyilangkan kedua tangannya, aura mengerikannya mulai terasa.

Hukum alam mungkin, Takao yang tadinya tampak keras kepala tiba-tiba menciut, entahlah, apakah aura mengerikan Akashi saat ini atau bayangan kemurkaan Akashi di taman tadi yang membuatnya ciut. Yang mana pun itu keduanya mengerikan.

"Hey, mengalah sajalah, kalau kau terus begitu aku pastikan kau tak bisa pulang dengan selamat kau tahu." Aomine berbisik memperingatkan, Kise menganngguk setuju.

"Aominecchi benar, ssu."

Takao meneguk air ludahnya, ia belum mau mati, ia masih ingin bermain dengan Kaguya kecilnya di rumah. Ia belum ingin bertemu dengan Kakek Kuroko di surga sana, setidaknya berikan ia waktu lebih banyak untuk bermain-main di dunia ini.

"Um.. Iya, iya, ini semua salahku. Salahku karena sudah membawa Tetsura-chan pergi begitu saja tanpa izin darimu. Aku menyesal." Takao mengucapkan semua itu dengan setengah hati, antara sudi dan tak sudi, antara mau dan tak mau.

"Oh, baguslah kalau kau sudah menyadari kesalahanmu, ternyata otakmu bisa berguna di saat seperti ini, ya." Akashi menyeringai, ia tampak puas, tapi nyatanya belum. Permintaan maaf saja tak akan cukup, terlebih lagi ada satu permintaan maaf lagi yang belum di ucapkan oleh pemuda ini.

"Lalu, hanya itu yang ingin kau sampaikan padaku?" tanya Akashi, Takao yang tadi menundukkan kepalanya mengadah, "Huh? Ya, hanya itu. Aku menyesal atas hal ini dan hal itu."

"Kau yakin?" Akashi mengulang, Takao hanya mengangguk bingung.

Tanda tanya imajiner muncul di atas kepala Kise, Aomine, dan Momoi. Ketiganya segera berembuk bersama. "Hey, tidakkan kau pikir ada yang salah?"

"Sepertinya Akashicchi masih punya dendam yang lain, ssu!"

"Kesalahan lain yang ia lakukan kah? Aku tak mengingat hal lain." Aomine menggaruk tengkuknya.

"Coba peras otak kalian lebih keras!" desak Momoi, Kise dan Aomine pun dengan sangat terpaksa memutar otak sekali lagi, apa ya kira-kira yang terlewat?

Sementara ketiganya berpikir keras dan Akashi bersama Takao masih adu mata, Kuroko di dalam sana tampaknya mulai siuman. Manik baby bluenya perlahan terlihat dari balik kelopak mata yang sejak tadi menutupinya.

Perlahan ia bangkit, mengambil posisi duduk. Ia pandangi lingkungan sekitarnya, oh, rumah sakit. Ia bisa langsung tahu hanya dengan melihat ruangan putih di depannya. Pakaian yang ia kenakan juga menambah satu lagi bukti kalau ia berada di sana. Jangan lupa aroma obat yang menusuk hidung, Kuroko bersumpah tak akan lagi menginjakkan kakinya kemari. Sungguh.

"Aku..?" Kuroko menggumam bingung, "Oh, aku ingat." Kali ini ia menyibak surainya yang menutupi dahinya.

Ia pingsan, di taman, setelah mimisan hebat karena sikutan maut kekasihnya. Memalukan.

Gadis itu diam, menundukkan kepalanya, masih terasa agak sakit mungkin. Ia diam untuk waktu yang cukup panjang sebelum sebuah suara yang sangat familiar di telinganya terdengar dari luar sana. Akashi yang tengah marah-marah. Yeah, Kuroko pasti tak akan pernah melupakan suara kekasihnya itu.

"Lagi-lagi begitu," ia berkata entah pada siapa.

"Tunggu, aku mendengar sesuatu dari dalam sana!" seru seseorang, tentu saja dari luar asalnya.

"Mungkin dia sudah siuman, kau tunggu saja di sini, tak perlu masuk!" suara Akashi terdengar lagi, selang beberapa detik berikutnya pintu kamar itu berderit, dan muncullah seorang pemuda tampan dari balik pintu.

"Sudah bangun dari tidur panjangmu, tuan putri?" ia berjalan mendekat, Kuroko mengangguk.

"Aku merasa cukup sehat," sahutnya dengan nada monoton, seperti biasanya.

Akashi kemudian duduk di sisi ranjang Kuroko sambil melipat tangan, yang bersurai kebiruan hanyan menatap dengan tenang, bukan, kelewat tenang malah. Ia sama sekali tak terlihat telah melakukan sesuatu yang salah, seolah suci tanpa noda sedikit pun.

"Tak ada kah yang ingin kau katakan padaku setelah semua kekacauan ini?"

"Hm? Kurasa tak ada," balas Kuroko, dahi Akashi mengerut.

"Itu menyenangkan, bermain kejar-kejaran bersama Sei-kun dan yang lainnya. Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku berkeringat sebanyak itu."

"Menyenangkan katamu!?" Akashi bangkit dari duduknya sembari tersenyum miring, "Tidakkah kau berpikir betapa khawatirnya aku saat kau menghilang!? Tidakkah kau berpikir betapa ketakutannya aku saat itu!?" ia meninggikan suaranya, oke Akashi, kau mulai out of character sekarang.

"Sei-kun."

"Kau milikku, Tetsura. Jangan pergi seenaknya begitu. Aku yang memegang kendali apakah kau boleh pergi atau harus tinggal. Aku yang menentukannya." Pemuda itu berucap sambil memeluk Kuroko erat, jarak yang memisahkan mereka beberapa waktu lalu entah sejak kapan menghilang begitu saja.

"Sei-kun,"

"Lepaskan, sesak, aku tak bisa bernafas." Kuroko menepuk-nepuk punggung Akashi, perlahan pelukan itu pun melonggar, Akashi membenamkan kepalanya pada perpotongan leher Kuroko. "Jangan pergi seperti itu lagi, Tetsura. Aku takut kau akan pergi meninggalkanku lagi seperti kejadian Teppei itu.." bisik Akashi dengan suara kelewat pelan.

"Sei-kun.."

Seolah teringat akan sesuatu, Akashi langsung mengangkat kepalanya, merogoh sakunya dalam-dalam. "Tetsura,"

Kuroko menoleh, "Sekarang jelaskan semua ini, apa maksudnya foto ini? Kau mengejekku?"

Foto. Ya, hanya sebuah foto, bukan barang yang spesial. Tapi, foto itu sukses membuat aura-aura hitam yang kasat mata mengelilingi Akashi. Foto itu adalah foto yang diambil Kuroko bersama Takao ketika di game center.

Hm? Kau bertanya kenapa Akashi bisa semarah itu? Hanya karena sebuah foto katamu? Pertanyaan bagus, coba bayangkan kekasihmu berfoto dengan lelaki lain dan yang lebih parahnya lelaki kurang ajar itu mencium pipi kekasihmu dengan mesranya. Nah, sekarang, lelaki mana yang tidak marah kalau melihat pacarnya diperlakukan seperti itu?

"Ah, aku mengambilnya bersama Takao-san di game center."

"Aku juga tau itu, Tetsura."

"Lalu?"

Akashi ingin sekali menjambak gadis yang ada di depannya ini, emosinya benar-benar membuatnya 100% out of character tampaknya. Tenanglah, Akashi, atau fansmu akan kecewa.

"Oh, kalau soal kecupan di pipi itu," Kuroko turun dari tempat tidur, berjalan mendekati Akashi, berjinjit, dan langsung mengecup pipi porselen pacarnya itu.

"Yang seperti itu kan? Takao-san hanya melakukan hal yang sewaktu kecil sering ia lakukan padaku." Kuroko memalingkan wajahnya, Akashi masih speechless, ia cukup dibuat kaget oleh kecupan mendadak barusan.

"Sering katamu?" tanya Akashi,

"Ya, Takao-san dan Kiyo-nii-chan sering sekali memeluk serta menciumku ketika waktu kecil." Kuroko menggaruk pipinya yang sebenarnya sama sekali tak gatal.

Akashi menangkap lengan kanan Kuroko, kemudian tangannya yang lain merangkul pinggul Kuroko lembut, mendekatkan tubuh mereka, merengut semua jarak yang ada. Sebuah kecupan ringan mendarat pada tumpukan daging kenyal merah muda Kuroko.

"Mulai sekarang," Akashi kembali mencium bibir Kuroko.

"Aku akan menciumimu," kali ini kecupan pada dahi putih Kuroko.

"Lebih banyak dari yang mereka lakukan padamu dulu." Dan sekali lagi kecupan pada bibir ranum Kuroko, tapi kali ini lebih dalam walau tetap selembut yang sebelumnya.

4 kepala yang diam-diam mengintip dari celah pintu yang terbuka setengah mati menahan tawa. Mereka tak ingin melewatkan momentum bagus seperti ini, tapi juga tak ingin mengganggung kemersaan pasangan itu. Jadi, mereka harus mengontrol diri sebaik mungkin, terutama Momoi dan Kise yang bisa berteriak histeris ala fansgirl ataupun fanboy.

"Hey, kau tak apa soal itu?" bisik Aomine pada Takao,

"Tentu saja," pemuda itu tersenyum, "Selama Tetsura-chan bahagia aku juga akan bahagia. Kebahagiaan Tetsura-chan adalah kebahagiaanku juga."

Kise, Momoi, serta Aomine terdiam, mereka langsung lupa akan adegan wow di depan mereka. Dengan mata berbinar kelap kelip, ketiganya memandangi Takao yang entah bagaimana bersinar bagaikan malaikat.

"A-Apakah kau ini titisan dewa atau semacamnya/ssu?"


Lampu kendaraan yang lalu lalang menjadi pemandangan menarik bagi Kuroko yang terpaksa menginap di rumah sakit karena paksaan Akashi. Pacarnya itu berkata ia tak akan mengampuni Kuroko jika berani kabur dari rumah sakit lagi.

"Kau harus benar-benar pulih, saat itulah kau baru boleh meninggalkan rumah sakit ini."

Begitulah titah Akashi sesaat sebelum meninggalkan rumah sakit untuk pulang sebentar. Katanya sih sebentar, tapi sudah 2 jam Kuroko menunggu sosok bersurai crimson itu tak kunjung tampak batang hidungnya.

Ah, Kuroko mulai merasa kesepian.

Tok! Tok! Tok!

Pintu terbuka, seseorang masuk sambil membawa keranjang penuh buah dan sebuah buket bunga yang terdiri atas 12 batang mawar merah yang mekar sempurna.

"Bagaimana keadaanmu, Tetsura-chan?"

"Seperti yang kau lihat, Takao-san. Baik-baik saja."

Pemuda itu, Takao, tersenyum lebar, setelah meletakkan keranjang buah itu di meja ia segera menyerahkan buket bunga itu pada Kuroko yang duduk manis di tempat tidurnya.

"Arigatou, mawar yang indah." Ujar Kuroko, Takao hanya mengangguk sembari terus tersenyum.

Kemudian Takao dipersilahkan duduk di dekat tempat tidur di mana Kuroko beristirahat, keduanya kemudian mulai mengobrol, walaupun Takao justru lebih mendominasi sementara hanya merespon dengan anggukan kecil maupun gelengan, serta senyuman tipis sesekali, tapi biarlah toh mereka menikmatinya.

"Ah, aku minta maaf soal hari ini." Takao meminta maaf,

"Tak apa." Balas Kuroko singkat, "Kau tau, aku melakukannya karena aku mendengar si merah itu membuat harapan konyol pada bintang jatuh."

"Eh?"

Takao pun mulai berceloteh tentang bagaimana ia yang entah bagaimana tersesat sampai ke pekarangan rumah Akashi dan menemukan tuan muda itu berdiri di balkon pada malam hari sambil menatap langit penuh bintang. Ketika sesuatu yang mereka yakini sebagai bintang jatuh terlihat, pemuda itu langsung menyebutkan harapannya sebanyak 3 kali dengan cepat. Menggelikan, pikir Takao.

"Kau mau tau apa harapannya?"

Kuroko mengangguk ragu, gadis itu sedikit penasaran, tapi di sisi lain ia juga merasa tak enak pada Akashi. Ah, persetan, ia penasaran, masa bodoh dengan kemurkaan Akashi, ia ingin tahu.

"Kemarikan telingamu," pinta Takao, tanpa buang waktu Kuroko langsung mendekatkan telinganya dan Takao mulai berbisik.

Manik Kuroko membulat sempurna ketika Takao selesai membisikkan harapan milik Akashi.

"Konyol, bukan? Oleh karena itu aku ingin mengganggunya, sekalian membalaskan dendam Kiyo-nii. Ahahahahhaa." Tawanya meledak di udara.

"Kau benar-benar nekat ya, Takao-san."

Pemuda raven itu nyengir kuda dibuat Kuroko, ia menggaruk tengkuknya canggung.

"Tapi jangan khawatir, aku tak akan mengganggu kalian berdua lagi." Takao mengulurkan tangannya, menepuk-nepuk surai baby blue Kuroko lembut.

"Karena aku juga ingin melihat senyuman Tetsura-chan lagi." Pemuda itu bangkit dari duduknya, merentangkan tangannya dan mendekap Kuroko lembut. Gadis itu hanya diam, ia tak tahu harus merespon seperti apa.

"Sampai jumpa lagi, Tetsura-chan. Kapan-kapan kita main bersama lagi ya, bertiga, seperti dulu." Bisik Takao.

Kuroko hanya merespon dengan anggukan pelan, "Um."

Detik berikutnya, Takao sudah tak lagi mendekap Kuroko dan kini tersenyum padanya. Ia kemudian berjalan menuju pintu, hendak membukanya dan pergi.

"Takao-san."

Ia menoleh,

"Terimakasih atas bunga mawarnya, aku suka."

Pemuda itu terkekeh, "Tadinya aku mau bawakan akasia, tapi sepertinya mawar lebih indah, dan tentunya lebih cocok untukmu." Sahut Takao

"Ya, mawar ini sangat indah. Terimakasih banyak, aku menghargainya. Tapi, maaf aku tak bisa membalasnya."

Pemuda itu terdiam sejenak, "Tetsura-chan.."

"Ahaha, tak apa, aku tahu itu." Ia tertawa, canggung.

"Kali ini benar-benar sampai jumpa, ya. Bye bye." Pemuda itu melambaikan tangannya pelan sambil tersenyum, bukan senyuman yang biasanya, seperti dipaksakan.

"Bye bye, Taka-chan."


"Aku harap cinta kami tak akan pernah pudar dan tak akan ada pengganggu yang menghalangi kebersamaan kami, selamanya."


Note : Untuk scene terakhir, Takao membawakan Kuroko 12 batang mawar merah yang mekar sempurna. Dalam bahasa bunga, mawar yang penuh sempurna diartikan sebagai "I Love You" atau "I Still Love You", begitu juga dua belas batang mawar, juga diartikan sebagai "Aku sangat mencintaimu". Jadi, dengan bunga mawar itu, Takao menyatakan cintanya pada Kuroko. Takao sempat bilang mungkin Akasia lebih cocok, tapi akhirnya dia memilih untuk membawa mawar karena ingin menyatakannya secara gamblang pada Kuroko (Akasia berarti Secret Admirer/I love you in secret).

Tapi, kemudian Kuroko bilang kalau dia suka mawarnya, namun tak bisa membalasnya, nah, dengan begini semuanya menjadi jelas, kan? Kuroko menolak cinta Takao (karena dia lebih mencintai Akashi dan menganggap Takao sebagai kakak dan teman semasa kecil yang berharga).

Saya nggak tau ini penting atau tidak, tapi tiba-tiba saya merasa kalau saya harus menulisnya di sini.


A/N : Akhirnya setelah sekian lama bisa update juga ;u; Saya eh biasanya pake aku atau saya sih? Saya aja deh ya? Uhuk, saya minta maaf atas keteledoran ini.. ngga maksud begitu.. Cuma feelsnya baru dapat sekarang.. /ya walaupun akhirnya abal begini sih/ minta maaf soal plotnya yang jadi berantakan begini, entahlah, saya merasa harus menyelesaikannya, tapi ngga tau harus kaya begimana.. jadinya ya gini.. saya minta maaf.. ugu... tolong ampunilah saya yang masih labil dan ngga pernah bisa dewasa ini /halah/

Oh, makasih buat kalian yang uda mau tetap mantengin fic abal ini /emang ada?/ makasih.. makasih banget... Aishiteru wa~ Makasih buat yang uda mau repot-repot ninggalin review, saya ucapkan beribu-ribu terimakasih.

Salam penutup, Happy AkaKuro week~ /telat/ Aku sayang kalian semuaaa~ 3

Peluk cium,

RallFreecss

14:10

14/04/2015