Author's Note :
Huhuhu, aku sedih… sekarang sudah mulai bekerja, aku takut ga ada waktu buat ngetik fic
Readerku tercintaaa~ berikan aku kekuatan agar tetap bertahan dengan keluarga SM ini ya~ *hug YunJae*
Title : A Poor Life.
Part : 8 (Eight).
Genre : Romance, General.
Warning : BL,PG-18,Maybe Typo (s), SOFT (?) RAPE.
Summary :
Jaejoong dan Yunho adalah namja yang hidup dalam takdir yang berbeda. Namun, jalan lain mempertemukan mereka dalam keadaan yang buruk. Malam itu,Yunho yang rupanya adalah salah satu faktor semangat Jaejoong, namun, namja itu justru adalah yang pertama kali 'menyentuh' dirinya.
Disclaim : SME Present.
Author : DrarryLova.
"Hiks, kenapa harus dia? Kenapa yang aku lihat adalah dia? Apa salahku Tuhan?! Sekarang, aku harus serahkan tubuhku untuk namja yang kukagumi selama ini?! Untuk namja yang selama ini kukira adalah orang yang baik hati? Dan, dugaanku lebih nyata dari apa yang aku rasakan! Dia, Choi Yunho. Ternyata adalah U-Know!"
JJ-POV
Part : I1
No.09. ini pub yang terletak paling ujung di lantai tiga. Sekarang, aku tepat berada di depan daun pintunya. Kubiarkan Heechul-hyung yang menangis tidak terima tadi, namun dengan segera aksi Heechul-hyung di cegah oleh ketiga orang yang lain. Tuhan, apa yang akan aku lakukan? Kenapa kejadian ini harus terjadi?
Dengan tangan yang cukup gemetar, kuputar knop pintu pub ini dan mulai melangkah masuk.
Dia disana.
U-Know, ah bukan! Yunho sedang duduk di dalam sini. Duduk di satu-satunya sofa yang ada di ruangan ini. Beda dari tempat pub yang di perlihatkan Junsu padaku. Disini hanya ada satu sofa dan televisi. Ada meja kayu persegi panjang diantara sofa dan televisi. Tak ada barang apapun lagi selain pernak-pernik pub dan dekorasi biasa.
Yunho menyeringai penuh ketika melihatku. Aku menutup pintu pelan dan Yunho menatapku tajam agar aku mengunci ruang ini. Sesuai yang ia syaratkan, akupun mengunci pintu itu dengan hati khawatir. Setelahnya, aku hanya bisa berdiri diam di depan pintu dengan hati ketakutan.
"Daebak! Kim Jaejoong!" Yunho bertepuk tangan kecil sambil beranjak menghampiriku. "Malam inipun, kau berani sekali untuk menyerahkan tubuhmu, hum?" Ujarnya sambil memutariku yang masih terpaku di tempat. Agh, apa maksudnya? Sebenarnya, apa yang kulakukan disini?!
"Agh!" Ketika tubuh Yunho berhenti di belakangku, kurasakan ia menarik rambutku hingga wajahku menengadah ke belakang.
"Boo~ kau akan kubuat menyesal karena hari ini—" Dia kemudian dengan paksa menarik kemejaku hingga ada beberapa kancing yang terlepas akibat tarikan paksa itu. "—dan juga malam ini!" Yunho langsung menjatuhkan tubuhku ke lantai dan lagi-lagi menciumku, merampas bibirku dengan kasar. Bahkan kalau aku menolak, kali ini Yunho tidak segan-segan seperti tadi siang. Dia akan menggigit semua yang berusaha menolak aksi ciumannya tanpa ampun. Bibirku, maupun lidahku.
Ia melakukan itu dalam tempo yang amat lama. Bahkan, meski semua yang ada di dalam mulutku telah melemah dan tak bisa bergerak, Yunho tetap tak mau menghentikannya.
Yunho terus menciumku meski aku sudah tidak mampu bernafas lagi. Jesus, apakah dia U-Know yang baik hati itu? U-know yang terkenal ramah di depan kamera itu? Apakah ini sosok asli di balik U-Know?
"mmmnnh~Fuaaah~~~" Yunho mengakhiri ciumannya mungkin karena bosan denganku yang sudah tidak bisa berinteraksi dengannya. Tuhan, dia bisa membunuhku hanya dengan ciuman saja. Aku terkulai lemas tak berdaya. Kurasakan cairan berasa darah keluar dari sela bibirku. Apa maunya?! Kenapa ada orang sekasar dia yang ternyata kukagumi selama ini?!
"AGHT!" Yunho menarik rambutku hingga aku menatapnya. Bahkan, namja didepanku ini sudah tidak punya belas kasihan melihatku yang menitikkan air mata ini. 'Sudah cukup! Aku tidak mau lagi! Aku ingin keluar dari tempat mengerikan ini!'
"Apa-apaan ini!? Boo, aku membayarmu untuk malam ini tapi kenapa kau sudah melemah, Hah!?" Bentaknya dan lagi-lagi menjambak rambutku hingga kepalaku tertarik ke belakang. Bukannya aku melemah, brengsek! Aku memang tidak pernah masuk kesini! Dan kau mencoba melakukan pembunuhan padaku! "Haish! Kau merepotkan! Bangun, kau!"
Perintahnya lagi dan menarik rambutku untuk berjalan mengikutinya. Yunho… tunggu dulu, aku benar-benar kehabisan nafas…
Yunho membanting dirinya di sofa lalu membanting wajahku untuk bersimpuh di hadapannya. "Manjakan aku!" Geramnya dan menyuruh tangan-tanganku untuk membuka kemejanya. Karena ia mencakar tanganku, akupun menurutinya. Kubuka kancing kemeja berwarna mocca itu satu persatu dan di saat itu, Yunho mencium bibirku lagi tapi tidak sekasar ciuman awal. "Ahh, boo… you are mine, tonight." Desahnya sambil mencium telingaku. Membuatku risih sendiri. Tiba-tiba kepalaku di dorongnya menghadap kearah jeans Yunho.
Ini maksudnya….
Aku ingin pergi! Aku ingin keluar! Aku tidak mau!
Tapi, Yunho menahan kepalaku yang diriku memang berontak. Kulihat, tangan Yunho yang lain tengah membuka resleting celana yang berada di hadapan wajahku ini. Aku mohon Tuhan, bawa aku pergi! Bawa aku keluar! Biarkan aku lari… aku takut… aku tak sanggup…
Tapi sepertinya, Jesus sama sekali tak mendengar pintaku ini…
Mataku membulat saat sesuatu dari balik jeans Yunho menyentuh ujung hidungku.
"Akh!" rambutku masih di jambak dan kepalaku didorong hingga wajahku menempel di 'bagian' itu. Aku tahu apa maunya, tapi, aku masih lelah, aku bahkan tak bisa berkata apa-apa karena ciuman mautnya…
"Cepat hisap aku boo… agghht…" Ujarnya dan mendorong kepalaku lagi. Aku masih bersikeras untuk tak buka mulut. "COME ON, JAEJOONG!" Teriaknya sambil menarik rambutku dengan kasar. Aku bisa merasakan banyak helaian rambut lembutku yang terlepas dari kediamannya.
"Agghh! Ba-baik, Yunho…aku mohon, sakiit…" Yunho kemudian melonggarkan genggamannya pada rambutku dan mulai diam. Perlahan, akupun meraih 'benda' itu dengan kedua tanganku yang lebih mungil dari 'benda' itu. Aku bergerak dengan kaku, apa yang tengah aku lakukan ini?
"Let's play, boo, haiishh…" Bentak Yunho tidak sabar. Aku takut. Sungguh aku ingin menangis. Mengapa aku bagaikan budak disini? Kenapa aku tidak terima saja namja ini? Kenapa pula aku bersikeras masuk ke pub jika kejadiannya seperti ini? Heechul-hyung benar, tidak ada yang menyenangkan di dalam sini…
Aku meraih 'batang' yang sudah menegang daritadi itu untukku masukkan kedalam mulutku. Mengemut, menghisap dan memanjakannya dengan bibirku sesuai yang di inginkan Yunho. Hueek, rasanya tidak enak! Aku tidak mau! Tapi, setiap aku mau melepas, Yunho mencegahnya dengan mendorong kepalaku, menjambak rambutku ataupun mencubit telingaku.
"Uoohh, guh… Let me heard your moan, boo." Gumamnya sambil melenguh dengan kenikmatannya sendiri. Aku tahu arti kalimat itu dan aku tak mau di siksa lebih lagi olehnya.
"Mnhhmym, mnnhhn, ckkppmmnh, mnhmny…" Decakku.
"Ash. Good job." Yunho tetap tak berniat melepaskan tangannya dari kepalaku dan aku terus berada di posisi seperti ini sambil mendesah paksa dan mendengar lenguh-lenguhan. "Agghtt! Aghh! Uoohh, hooo, guhhh, uhhhmmm, ahhh…"
Kurasakan 'barang' yang sedang berada di kediamanku ini berkedut. Tidak! Aku mohon jangan di masukkan! Aku mohon Yunho! Lepaskan aku! Sudah cukup bibirku robek gara-gara benda besar sial ini! Jangan masukkan cairan itu! Aku mohon…
Tapi Yunho tak mengerti maksudku atau memang ini keinginannya! Ia malah menahan kepalaku meski aku bersikeras untuk lepas dengan kedua tangannya.
"Uaggghht! I'll Chum! Oohhhh! Uaaahhhhh~~" desahnya berat dan lalu kurasakan zat cair yang terasa kental masuk kemulutku dan sebagian sukses menerobos tenggorokanku. Brengsek! Itu rasanya tidak enak! Hiks, dia memperlakukan aku sebagai binatang! Tuhan, mengapa aku bekerja dengan menjijikkan begini…
"Haaft, hah, hosh… hosh.." desah kami bersamaan. Yunho mengenggam daguku untuk menatap wajahnya. Kulihat dia tersenyum menang.
"Good blow, baby boo." Timpalnya sambil menjilat sisi cairannya sendiri yang bertengger di bibirku. Dia lalu menciumku dalam waktu yang cukup lama. "Ok. Next game, hum?"
"Ah!" Yunho memutar badanku dan mengikat kedua tanganku ke belakang dengan sabuknya. "A-Apa lagi yang mau kau lakukan?!"
"Hee? Tentu permainan inti, boo. Tadi hanya pemanasan, bukan?"
Pemanasan? Pemanasan katanya! Aku sudah kehabisan oksigen dan banyak mengeluarkan keringat, tapi itu hanya pemanasan?! Apa dia benar-benar akan meminta tubuhku?! Apa dia akan memasukkan 'itu' kedalamku? Aku yakin aku tak sanggup, aku tidak kuat lagi brengsek…
Yunho membalikkan posisiku membelakanginya. Dia menjatuhkan tubuhku di atas meja yang ada di depan sofa. Dengan brutal dan tanpa seijinku, Yunho melucuti celana kerjaku hingga memperlihatkan barang yang tidak pernah kulihatkan pada siapapun… Junior dan Butt-ku…
"Agght!" Aku menjerit karena sesuatu masuk kedalam butt-ku. Perih…
"Tenang, boo. Ini masih satu jari." Ungkapnya. Lalu, kurasakan jari itu mulai begerak brutal di dalam.
"Aaah, aaah, ah~~~" Kali ini, aku merasakan sebuah kenikmatan ketika tangan Yunho yang lain mengocok juniorku dengan tempo yang lembut. "Mnnh… aah~~" Aku tak bisa melakukan apapun karena Yunho mengikat kedua tanganku. Dan aku juga tak tahu kenapa aku bisa mendesah senikmat ini…
Disaat aku mulai merasakan nikmat penuh dan akan mengeluarkan hasratku, justru Yunho menyiksaku dalam keadaan ini. Ah! Aku lupa perkataan awal Yunho…
Juniorku berkedut dan Yunho pasti merasakannya. Namun, kini, ujung jari Yunho menutupi lubang juniorku. Memaksa agar aku tidak merasakan klimaks.
"Agh! Uuh~ apa yang kau lakukan?! Jangan tahaaan! Assh, sakitt—" Erangku.
"Hm? Kau tersiksa? Justru itu yang kutunggu." Jawabnya sambil mengendus helaian rambutku.
Apa maksud namja ini? Tiba-tiba, aku tak tahu darimana Yunho mendapatkannya ketika dia memplester mulutku. "Penyiksaan baru akan di mulai, boo." Ucapnya lalu kurasakan sesuatu yang besar merobek liang butt-ku. Aku tak bisa berteriak! DIA MENYIKSAKU!
YUNHO SAKIT… AKU MOHON, INI MENYAKITKAN….!
"Hahaha, the passion long tonight, aku menikmatinya, baby!" Yunho menjatuhkan tubuhnya di atasku. Dia mengocok butt-ku dengan juniornya yang besar itu dengan tempo yang kasar dan cepat. Dia menciumi punggungku, menggigit telingaku bahkan sempat membelai rambutku. Tangannya masih menahan juniorku dan tangan yang lain memencet dan mencubit puttingku. Setiap aku akan klimaks, Yunho terus menahanku.
Aku tak bisa mengerang sedikitpun. Yang bisa kulakukan hanya meneteskan air mata. Yunho terus melakukannya hingga aku sudah benar-benar tak sanggup lagi.
Perih, sakit, nikmat, panas, peluh, tangis, semua jadi satu.
Bahkan permainan Yunho belum selesaipun, aku sudah tak sadarkan diri.
0o0
"Ukh…" aku menggeliat pelan. Saat menggeliat, rasanya tubuhku terasa sakit semua. Apalagi, ada rasa tersayat di bagian bawahku. Apa yang terjadi?
Aku mengerjapkan mata pelan-pelan. Aku bisa melihat sinar matahari yang remang-remang yang masuk dari jendela di sofa ini. Sofa? Ash! Aku ingat! Semalam aku…
Kuraba-raba kain yang ada di atas tubuhku. Selimut? Kenapa ada disini?
Aku mencoba untuk beranjak duduk, ah sakiit…
'!" Aku terkejut ketika banyak lembaran uang berserakan di sekelilingku. Begitupun di atas selimutku. Uang ini… apakah, semua perbuatan Yunho? Namja itu benar-benar… IBLIS!
Ah bodohnya kau Kim Jaejoong! Apa yang kau lakukan dengan namja brengsek itu!? Apa yang kau pikirkan? Apa karena dia adalah U-know yang kau puja selama ini?
ANDWAE! Aku tak mau menyamakan U-Know-ku dengan Yunho brengsek itu! Tunggu, aku merasakan cairan hangat membasahi bagian bawahku. Ketika kusingkap selimutku…
Darah segar mengalir dari 'manhole' ku. Kulihat juga bercak-bercak darah kering di sekitar sofa dan meja. Tanpa sadar, air mataku terjatuh. Apa saja yang di lakukan namja itu ketika aku tak sadarkan diri?
Hiks… aku menyedihkan, Jesus…
BRAAK!
Suara debam itu membuatku menoleh kearah pintu. Hyung…
-EIGHT (PART II)-
Reader tercinta, maaf ya kali ini ga aku balas review-nya, habis, aku buru-buru ngetik ini dan hari senin sudah mulai AKTIF kerja, huhuhu
Jadi buru-buru publish YunJae Rape-nya *takut nti reader mabok saya ga update asap**digorok*
Mianhe juga kalau rapenya kurang memuaskan TT-TT
Review?
