Author's Note :
Title : A Poor Life.
Part : 10 (Ten).
Genre : Romance, General.
Warning : BL,PG-18,Maybe Typo (s)
Summary :
Jaejoong dan Yunho adalah namja yang hidup dalam takdir yang berbeda. Namun, jalan lain mempertemukan mereka dalam keadaan yang buruk. Malam itu,Yunho yang rupanya adalah salah satu faktor semangat Jaejoong, namun, namja itu justru adalah yang pertama kali 'menyentuh' dirinya.
Disclaim : SME Present.
Author : DrarryLova.
"Kibum, kau datang lagi… Kau ingin apa? Seberapa jauh lagi kau akan seperti ini? Berhenti menyakiti dirimu sendiri… karena, kau tidak pantas, kau juga tidak bisa memilikiku."
JH-POV
Aku terdiam dingin tak mengindahkan namja yang terpaksa berceloteh di samping ranjangku ini. Aku bisa lihat bahwa sebentar lagi air bening itu akan merebak dari kelopak matanya. Aku tahu itu menyakitkan jika kau tak di hiraukan orang yang kau cintai… tapi, aku tak mencintaimu Kibum… aku tak menginginkanmu, bagiku semua ini bodoh, konyol!
Kibum berhenti dari geraknya dan terdiam. Perlahan, dia ingin menyentuhku namun segera ku apik tangannya yang akan menuju pundakku itu.
"Jangan sentuh aku."
Kibum terkesiap. Aku bisa merasakan reaksinya yang sejenak bergetar. Dan kemudian, dia tersenyum getir ketika aku menoleh dingin terhadapnya.
"Jo-Jonghyun-hyung, sebegitukah kau membenciku?" Tanyanya miris. Aku tetap diam dalam pertahananku. "Begitu menjijikkannya, kah aku?" Kini suaranya terdengar parau.
"Bukankah sudah ku bilang, aku tidak mencintaimu dan kau bukan siapa-siapaku lagi. Ambil uangmu dan pergilah dari sini. Aku tidak membutuhkannya. Kau menjijikkan." Jawabku. Kibum sontak. Tapi, justru karena itu ia menurutiku. Dia mengambil uangnya yang barusan saja ia berikan untukku dan beranjak.
"…Terserah." Ucapnya. Aku yakin dia sekarang tengah menangis, tapi aku tak mau melihat wajahnya. "Terserah hyung mau bilang apa… sampai kapanpun, rasa sayang ini takkan pernah hilang untukmu, hyung." Desisnya dan dia mulai pergi dari kamarku.
"Ah, Key, kau sudah mau pulang?" Hankyung-hyung masuk ketika Kibum akan keluar.
"Iya, hyung. Kamsamhamnida sudah mengijinkanku menengok Jonghyun-hyung." Ucapnya sopan. "Aku permisi." Dan kudengar pintu tertutup.
Aku merebahkan tubuhku. Sudahlah, aku sedang tidak ingin lihat wajah siapapun! Kibum, kenapa kau keras kepala seperti itu? Aku tahu semuanya! Walaupun aku lebih sering berada di sini karena fisikku yang lemah ini, tapi aku tahu kalau Kibum.. dan hyung, aku tahu kalian menjual diri kalian disana!
Kenapa? Apa yang salah denganku? Dengan kalian?
Ini semua konyol!
"Jonghyun, kau tidak apa?" Hankyung-hyung yang sempat bingung barusan menghampiriku. Aku menutup mataku dengan pergelangan tangan kanannya.
"Biarkan aku sendiri, hyung."
"Hm, baiklah. Tapi sepertinya Heechul sebentar lagi akan pulang. Kau harus keluar kamar untuk menemani hyung-mu itu makan malam. Karena aku malam ini akan segera pulang."
0o0
"Lho? Kau sudah pulang?"
"Ya. Aku lelah sekali."
Samar-samar ku dengar dialog dari luar ketika Hankyung-hyung beberapa menit yang lalu keluar dari kamarku.
"Kau biarkan Key menjenguk Jonghyun lagi?!"
"Mianhae, Heenim. Kasihan sekali melihat Key sedari tadi bersikeras menunggu di pintu apartemen. Lagipula, sepertinya Jonghyun tak menghiraukannya."
"Ah sudahlah, aku pusing mendengar omonganmu, Hankyung. Aku benar-benar depresi berat! Jangan biarkan Key menemui Jonghyun lagi! Arraseo!?"
Kudengar suara di luar kamarku semakin menggema. Sebenarnya hyung kenapa? Kenapa dia marah-marah kepada Hankyung-hyung?
Akupun beranjak dari ranjang dan berjalan hati-hati menuju pintu kamar. Asssh, aku masih sedikit pusing untuk berjalan.
"Ya! Tapi Key harus di bagaimanakan?! Bocah itu kan berkepala batu, Heenim!"
"Masa bodoh! Aku tidak mau tahu—"
"Hyung." Suara pelanku dari pintu yang terbuka membuat pertengkaran mereka terinterupsi. Pantas saja, ternyata mereka benar-benar bertengkar di depan kamarku, berisik sekali.
"Jonghyunnie~ kenapa kau bisa kemari?" Heechul-hyung menghampiriku dan lagi-lagi memperlakukanku seperti anak kecil. "Apakah Hankyung memberikan makan siang yang sehat padamu? Apa saja yang kau lakukan seharian ini?" Mata Heechul-hyung membulat dan bibirnya menyunggingkan senyum. Aku terlihat seperti boneka yang lucu di matanya lagi, eoh?
"Sudahlah hyung. Hentikkan drama ini!" aku mendorongnya kasar. Aku benci! Apa yang kau pikirkan mengenaiku, hyung?!
"Jo-Jonghyunnie…?" Ucap Heechul tergagap.
"Jonghyun! Yang sopan terhadap hyung-mu!" Hankyung-hyung membentakku dan membantu Heechul-hyung berdiri.
"Aku muak, hyung! Pergi saja jual tubuhmu lagi! Jangan pedulikan aku! Jangan pulang! Jangan perlihatkan wajah menjijikkanmu itu atau aku yang akan pergi!" Geramku.
"A-Apa maksudmu, Jonghyunnie?"
"Tsk." Aku menggertak kesal dan tanpa pikir panjang juga tak peduli kondisiku, aku melangkah keluar apartemen dan berkali-kali menapik tangan hyung-ku yang sudah terisak dan mendorongnya.
"Kau mau kemana?!" Samar-samar aku mendengar kalimat itu dari Heechul yang menangis meraung dan Hankyung-hyung yang berteriak. Kalimat-kalimat mereka semakin jauh dan jaun ku dengar. Ah, tidak. Tepatnya, aku yang menjauh dari mereka. Aku ingin tindakan agar hyung tak menyiksa diri lagi untukku. Aku sehat, hyung. Itu saja.
0o0
"Dingin sekali disini." Gumamku. Kenapa aku egois sekali? Kenapa aku meninggalkan apartemen? Ah, masa bodoh!
Sekarang, aku berdiri di depan parkiran apartemen. Aku harus kemana? Tapi, kalau aku kembali, Hyung pasti tetap tidak akan berhenti dari pekerjaannya, bukan?
Hmmm…. Apa Heechul-hyung baik-baik saja?
Biasanya dia kan sangat sayang padaku. Mungkin, dia sedang tidak baik-baik saja. Sebaiknya, aku harus kembali dan minta maaf padanya.
0o0
"Hiks, ada apa? Ada apa dengan Jonghyunnie?"
Saat aku masuk apartemen. Heechul-hyung tak ku temukan. Aku menghampiri kamarnya dan saat mendengar suara barusan dari arah kamarnya, aku terdiam.
"Sudahlah, tenang." Kudengar suara Hankyung-hyung dari dalam juga tengah menenangkannya.
"Lalu, sekarang aku harus bagaimana?! Jonghyunnie sudah tahu pekerjaanku! Dan lagi, apakah kau tahu sekarang dia ada dimana? Bagaimana aku bisa tenang dengan kondisinya yang lemah itu!?"
"Ssst, sudahlah Heenim. Paling juga dia hanya bisa menginap di rumah Hae. Sekarang, kita istirahat saja dulu. Aku akan menjagamu sampai kau tertidur. Besok pagi baru kita mencari Jonghyun."
Mendengar suara Heechul-hyung yang sepertinya sudah meredakan tangisnya, aku bermaksud masuk kedalam kamarnya dan minta maaf. Aku sudah membuat Hyungku menangis sseperti itu, Pabo-Jonghyun…
Kreett… aku membuka pelan pintu kamar hyung.
"Hankyung-ah… temani aku…" Suara parau Heechul-hyung kudengar jelas dan aku bisa lihat jelas, Heechul-hyung menaiki Hankyung-hyung yang terduduk di sofa yang tepat menghadapku. Tapi, sepertinya, Hankyung-hyung tak melihatku karena ia terus teralih pada Heechul-hyung.
"Hee-Heenim, apa maksudmu…?" Tanya Hankyung-hyung takut-takut.
Mataku membulat ketika Heechul-hyung tak menjawabnya dan langsung mencium Hankyung-hyung dan buru-buru melepas bajunya sendiri. Aku juga yakin, Hankyung-hyung juga kaget dengan reaksinya.
Aku buru-buru pergi meninggalkan tempat ini. Apa yang barusan?! Ada apa dengan hyung? Apa yang mereka lakukan?!
Aku berlari dan berlari tanpa arah. Aku shock! Kenapa?! Kenapa dengan mereka?!
Dan tanpa sadar, aku terjatuh di tengah jalan.
Aku terdiam dengan tubuh bergetar. Rasanya aku ingin menangis, ingin berteriak. Aku ingin marah!
"HYUNG!"
0o0
Ting tong ting tong.
Aku menekan bel lagi di depan rumah mungil yang lumayan jauh dari apartemenku tengah malam ini. Aku tahu aku pasti mengganggu tidur penghuninya. Tapi, mau bagaimana lagi? Cuma rumahnya yang terlintas di pikiranku.
"Loh? Jonghyun?" sesorang namja bermuka cerah membuka pintunya. Loh? Dia tidak menggunakan piyama? "Masuklah." Ujarnya ketika ia mengerti dengan melihat tubuhku yang menggigil.
Aku masuk dan duduk di dekat perapian rumahnya. Dia mengambil selimut besar dan pergi ke dapur untuk membuat minuman untukku.
"Brrr, maaf mengganggumu, Hae-hyung. Aku takut kau juga sedang tidur."
"Ah, nde! Tak apa Jonghyun. Aku juga sedang membereskan surat-surat untuk kubagikan kealamatnya masing-masing besok. Ada lumayan banyak surat juga." Ungkapnya dari dapur sana. Ya, dia Donghae, temanku dan Heechul-hyung sejak kecil. Dia juga adalah pak Pos pengantar surat. "Kenapa kau bisa kemari lagi? Kau kabur lagi? Jangan main-main dengan hyung-mu. Kasihan dia!" Peringatannya ketika menghampiriku sambil member segelas coklat hangat.
"Iya. Nanti pagi-pagi juga aku akan pulang lagi. Maaf merepotkan." Ujarku bohong. Aku tak ada niat untuk berlemah-lemah hati lagi. Aku ingin Heechul-hyung sadar akan pekerjaannya itu! Aku tak ada niat untuk pulang ke apartemen lagi!
Aku menyesap susu hangat itu. Aku hanya menumpang beristirahat sebentar disini. Aku merasakan kondisi badanku sudah mulai tak stabil lagi.
"Kalau begitu, maafkan aku tak bisa menemani ngobrol. Aku harus segera menyelesaikan pekerjaanku." Hae-hyung menepuk pundakku dan berlalu ke ruang kerjanya yang masih menyatu dengan ruang ini.
"Ne, hyung. Gwenchana."
0o0
Aku bersandar lagi di tiang listrik yang lain di jalan kecil ini. Haduuuh, kenpa nafasku terasa berat sekali. Aku juga bingung mau kemana.. ponselku bordering lagi, ckk, Heechul-hyung lagi! Sudah 12 panggilan aku tak meresponnya. Biarkan saja! Aku tidak peduli…
"Appa! Appoo, mianhe! Aw!" kulihat seseorang keluar dari salah satu rumah di gang yang sempit ini. Aku melihat ada seseorang berambut panjang tengah di pukuli oleh orang yang cukup berbadan besar, appanya?
"Apa kau dasar bocah brengsek tidak berguna! Kemana perginya ibumu, hah! Beri aku uang!" appa orang itu lagi-lagi memukul anak itu dengan gagang kayu sapu. Bahkan mengenai wajah juga.
Ck. Criminal ini namanya!
Aku mengambil ponselku dan cepat-cepat melapor polisi. Walaupun masih berdering panggilan dari Heechul-hyung.
"Hiks! Ampun appa!" Yeoja itu mulai menangis. Tapi sepertinya si appa itu tidak mau berhenti memukulinya. Dimana sih tetangga-tetangganya?!
Hosh… nafasku sesak…
Tapi sebelum polisi datang, aku harus menyelamatkan orang itu dulu.
"!" anak itu terkejut ketika aku berjingkat-jingkat di belakang appanya. Bahkan anak itu melotot dan menggeleng ketika melihat apa yang kulakukan.
"Dasar bocah breng—"
DUAK! Aku memukul punggung bapak-bapak itu dengan tongkat besi yang aku temukan disekitar tempat sampah.
"Appa!" Orang itu kaget ketika melihat appanya pingsan. "Apa yang kau lakukan?!"
Aku hanya bisa bernafas terpengal-pengal tanpa menjawab pertanyaannya. Sayang sekali kalau yeoja cantik itu harus dipukuli oleh appanya sendiri. Tak berapa lama, dua orang polisi datang dan aku menunjuk kearah orang yang pingsan itu.
"Itu, hh, orangnya pak. Dia memukuli anaknya. Ini tindak ." terangku. Pak polisi bersiap dan membawa pria berbadan besar itu.
"Kau… appa-ku mau ditangkap?!" tanyanya tak percaya.
"Bukankah akan lebih baik tanpa ayah seperti dia yang memukulimu sampai babak-belur—"
Hah, hosh-hosh, aku tidak kuat lagi. Badanku yang lemah ini sudah sampai batasnya, dan ketika itu saja, badanku terjatuh sendiri dan mulai gelap…
0o0
Aku mengerjap-ngerjapkan mataku. Kulihat ada punggung telanjang yang duduk tak jauh dari tempat pembaringanku ini. "Emm, dimana aku…" gumamku.
"Oh, kau sudah sadar." Orang itu membalik tubuhnya. Ah dia telanjang dada! Loh? Tunggu yeoja yang tadi….
"K-KAU! KAU LAKI-LAKI?!" Geramku.
Dia terperangah kaget. "E-eh, iya, seperti yang kau lihat…" Ujarnya takut-takut sambil menyibak rambutnya dan menguncir rambut panjang itu kebelakang. Aku menghela nafas pelan. Kecewa sebenarnya.
"Hiks, kau menipuku. Padahal, aku kira aku sudah menyelamatkan putrid yang cantik." Isakku bercanda. Dia terkikik geli melihat tingkahku. Luka-luka tadi pagi dari pukulan appanya juga masih bertengger, tapi sepertinya dia sudah mengobatinya sendiri.
"Kau ini bicara apa. Terima kasih ya untuk bantuanmu. Aku memang sebal ada appa, tapi aku tak berani memanggil polisi,,, aku juga tidak tahu apa hyung akan marah tentang appa." Gumamnya ketika membicarakan hyungnya. "Oh ya! Namaku, Kim Taemin, namamu?"
"Aku… Kim Jonghyun…" Aku tertegun melihat senyumnya ketika dia mengucapkan salam kenal. Ah, namja cantik…
Tak apalah. Asal dia cantik…
-TENTH-
