Author's Note :
Title : A Poor Life.
Part : 12 (Twelve).
Genre : Romance, General.
Warning : BL,PG-18,Maybe Typo (s)
Summary :
Jaejoong dan Yunho adalah namja yang hidup dalam takdir yang berbeda. Namun, jalan lain mempertemukan mereka dalam keadaan yang buruk. Malam itu,Yunho yang rupanya adalah salah satu faktor semangat Jaejoong, namun, namja itu justru adalah yang pertama kali 'menyentuh' dirinya.
Disclaim : SME Present.
Author : DrarryLova.
Thanks To :
Blackwhite28
Oko yunjae
Desi2121
Sherry dark jewel
Meyy-chan
Andreychoi
Irengiovanny
jennyChan
yang telah merepiu chap kemaren, mian ga bisa di bales satu-satu ripiunya ^^
oo0o0oo
"Darahku mendesir… nafasku menderu… Haah, hembusan nafas itu… desahan mengenaskan itu… dan wajah menjijikkannya…
Aku menulusuri tiap lekuk wajahku membayangkan bahwa wajah ini adalah wajahnya… Oh, Kim Jaejoong, kalau begini, aku bisa gila! Aku benar-benar menginginkanmu!"
YH-POV
aku terduduk tak bisa berfikir disini. Aku masih tahu kalau beberapa orang berlalu-lalang di hadapanku karena kesibukkan mereka masing-masing.
Aku terus menopang daguku. Nafasku terdengar berat. Entah kenapa, kejadian malam itu terlintas lagi dalam pikiranku sejak dua hari kemarin. Brengsek kau Jaejoong! Kenapa aku yang pertama harus merasakan keindahan tubuhmu? Kenapa harus aku yang mendengar suara-suara sexy-mu? Aku ingin…
"Hyung—"
Aku bisa benar-benar gila!
"Hyung!" Aku tersadar dari pikiranku. Aku reflek menoleh pada Changmin yang masih setia mengenakan topengnya begitupun diriku.
"Wa-Wae?!"
"Hyung kenapa sih? Seharian melamun terus? Sudah waktunya kita naik ke panggung."
"Ah. Nde." Ujarku dan beranjak bersama Changmin untuk bergegas pergi ke panggung.
0o0
"WAE~~~" Changmin mengeluarkan suara tenor seperti biasanya pada lirik tersebut. Aku masih menyelarasi gerakan dengan para dancer.
Hosh… hossh, haah… kenapa aku pusing sekali…
"—Nugunka keog jeonghalgeoran saenggakeun gaebwatna—" lututku terjatuh telak ketika Changmin menyanyikan lirik seterusnya. Tapi, aku berusaha menyanyikan lirik bagianku meski dalam keadaan terduduk. Aku berusaha mengatur nafas dengan berpose sebaik mungkin. Aku juga paham kalau Changmin pasti terkejut dengan keadaanku barusan.
Hhh… Kim Jaejoong…
Kami sudah berada di belakang panggung. Jadwal kami malam ini sudah berakhir. Brengsek kau Boo! Kau menghancurkan konsentrasi kehidupanku selama dua hari penuh!
"Hyung, kau baik-baik saja?" Changmin berlari di belakangku dan berusaha berjalan menyamaiku.
"Tidak apa-apa, Max. kau pulanglah dengan hati-hati. Sudah malam. Oh ya, selama seminggu ini, aku ingin mengosongkan jadwal kita dari public." Ungkapku sambil lalu. Pikiranku benar-benar tak bisa di kendalikan.
Aku harus menemuimu, Kim Jaejoong!
0o0
Aku meneguk whisky di gelas ketiga. Suara diskotik semakin malam semakin menyeruak kencang. Tsk. Aku menoleh kesana-kemari. Dimana kau, Boo-ku sayang?
Ketika aku menoleh kearah lain, aku melihat salah satu pekerja di bar ini menghampiriku. Ah, namja berkulit seputih salju itu… dia teman Jaejoong!
"Mau apa kau kemari?" Tanya namja cantik itu ketus.
"Aku ingin bertemu Jaejoong, cepat panggil dia untukku!" Perintahku. Aku tahu namja itu menyiratkan tatapan benci padaku.
"Aku sarankan, kau cepat pergi dari tempat ini." Ungkapnya kesal.
"Apa urusanmu? Aku membawa uang untuk membayarnya!—"
BUAGGH!
Aku tersadar ketika aku tersungkur menimpa kursi-kursi tempat minum.
"Cepat pergi dari sini! Jaejoong-hyung sudah dua hari tidak ada disini, bodoh! Pergi kau direktur brengsek! Aku muak melihat wajahmu!" Tangisnya. Aku tertegun, apa yang salah denganku?
Tapi, namja itu terlihat seperti… kesepian?
Ah, tidak! Kemana kau pergi, Boo!?
0o0
ting tong ting tong ting tong—
aku menekan bel beberapa kali. Brengsek, brengsek! Aku ingin menciummu, Jaejoong!
Kreettt…. Pintu terbuka dan nampak wajah sahabat kecilku, Junsu. Dia hanya mengenakan celana pendek. Sepertinya dia sehabis bangun tidur.
"Haish, Hyung~ ada apa sih pagi-pagi sudah ribut?" Gerutunya sambil mengusap-usap mata.
Aku langsung menerobos masuk dan mondar-mandir frustasi. Aku juga bisa lihat Junsu dengan malas menutup kembali pintu apartemennya.
"HAH! Kemana aku harus mencarinya!?" Frustasiku.
"Apa sih yang hyung bicarakan? Hoaahmm~"
"KIM JAEJOONG! Aku harus bertemu dengannya, Junsu! Dia selalu berada dalam pikiranku dan itu menganggu aktivitas-ku! Sial!" umpatku. Kesal! Aku memang benar-benar kesal! Kenapa harus namja cantik itu?!
"Kau pergi ke bar saja." Saran Junsu.
"Sudah! Aku menunggunya selama berjam-jam! Tapi dia tak ada! Dia sudah tak di klub lagi! Hah!"
"Kau pergi saja kerumahnya."
"Kau tahu?!" Antusiasku sambil memegang bahu Junsu.
"Mana aku tahu tentang itu…" Junsu memutar bola matanya. "Aku juga heran kenapa Hyung bisa seperti ini terhadapnya?"
"Haish." Aku mendecak sambil mengusap wajahku. "Mana aku tahu! Bayangkan! Aku namja pertama yang 'menyentuhnya'! itu membuatku bahagia sekali." Terangku jujur.
"Baguslah hyung. Aku juga merasa bangga saat kutahu aku namja pertama yang menyentuh Chunnie." Ungkap Junsu sambil menepuk bahuku.
"Gila! Aku akan benar-benar gila!" Teriakku frustasi. Lalu, pandanganku teralih pada seseorang yang keluar dari kamar Junsu.
Namja itu…
"Pagi." Sapanya dingin. Aku diam tak meresponnya. Aku benci pada namja menjijikkan seperti mereka. Tapi kenapa aku begitu menginginkan Jaejoong?!
"Kau sudah mau pergi, Chunnie?" Tanya Junsu. Kulihat namja yang di panggil 'Chunnie' oleh sahabat kecilku itu mengangguk. Lalu, Junsu pergi kesebuah meja dan mengambil seikat uang dan uang itu di berikan padanya.
Junsu sekilas mengecup dahi namja itu. Hah, menjijikan, bukan?!
"Hati-hati ya Chunnie~"
"Aku permisi." Aku melirik dingin pada namja yang melewatiku untuk keluar dari apartemen ini. Menjijikkan sekali pekerjaan mereka itu! Haissh! Aku merindukanmu Jaejoong!
0o0
Aku memijat keningku. Bodohnya aku tidak meminta nomor ponselmu, Boo… kau itu pakai guna-guna apa padaku? Sampai-sampai aku juga tidak konsentrasi pada meeting penting perusahaan! Ck, ingin aku lepas saja kepala ini!
Apa aku minta nomor ponsel Jaejoong dari orang bernama Yoochun itu saja, ya? Ah tidak-tidak! Memalukan sekali jika aku melakukannya! Gengsi aku, malas sekali! Pasti, nanti dia menyangka Jaejoong itu istimewa sekali bagiku!
"Ya, cukup sekian rapat untuk hari ini. Aku harap rekan sekalian masih saling menjalin mitra kerja bersama 'Everlasting' kami." Ucap manager Cho. Lalu, terdengar suara bising dan diikuti dengan suara derap kaki. Rapat sudah selesai, eoh? "Tuan Jung." Manager Cho menepuk bahuku. Aku menoleh pelan padanya. Aku memang kurang konsentrasi untuk rapat hari ini hingga aku menyuruh orang kepercayaanku, Cho Kyuhyun. "Apa tuan sehat? Bagaimana dengan kunjungan kita ke tempat kerja tuan Changmin?"
"Ah. Aku baik-baik saja. Ayo kita pergi."
0o0
Lambourgini hitamku terhenti di depan sebuah kedai caffe yang lumayan-lah, tidak besar tapi juga tidak kecil.
Supirku membuka pintu mobil dan aku juga manager Cho menapaki trotoar depan kedai dengan cat yang terlihat nyaman di mata ini. Tertulis di atas pintu kedai, President's Coffee.
Aku bisa lihat dongsaeng jahil kecilku tengah sibuk melayani dan mengantar pesanan ini itu untuk pelangggan di dalam sana. Aku tahu dari kaca yang begitu mengkilap ini.
Aku dan manager Cho-pun langsung masuk. Aku bisa menghirup aroma kopi yang harum ketika masuk kedalam. Hmmm, wanginya membuatku begitu tenang. Baru pertama kali ini aku mengunjungi tempat kerja Changmin…
Kulihat manager Cho menghampiri seorang namja imut namun sudah berumur rasanya. Mungkin, dia adalah pemilik tempat kerja ini. Aku juga melihat pelayan lain bertubuh kecil yang sibuk membuat kopi dan Changmin tengah menaruh nampan ke meja pesan setelah itu memasang raut kesal sambil menghampiriku.
Hahaha, aku yakin dia pasti kesal. Aku masih bisa tersenyum untuk namja jahil itu.
"Ya! Hyung~ kenapa tidak bilang mau kesini?"
"Wae? Kau kecewa karena belum menyiapkan apa-apa untukku? Atau malu kerja begini?" Godaku.
"Ya! Bukan itu! Justru kau menghambat kerjaku!" Tinjunya bercanda ke bahuku. Namun, aku hanya menjawabnya dengan tawaku.
Ketika Changmin baru saja akan menunjukkan kursi untuk kita mengobrol-ngobrol nanti, tiba-tiba pandangan kami bahkan pelanggan dan orang-orang yang ada disini, teralih pada sebuah mobil yang sempat berhenti di dekat Lambourgini pribadiku.
Kulihat supirku yang menunggu di luar sana menunduk hormat. Loh? Limousine itu— punya Siwon?!
Aku lebih kaget lagi ketika ada seseorang yang turun dari Limousine silver itu dan sempat mengobrol dengan Siwon brengsek itu.
Namja berambut pirang pendek dan terlihat begitu manis, namja itu— aku menyipitkan mataku. Aku tidak salah lihat, kan?! Itu, Kim Jaejoong!
Limousine Siwon berlalu meninggalkannya. Aku marah! Aku bahkan sempat mendorong Changmin yang akan lebih dulu keluar untuk menghampiri namja itu.
Aku benar-benar marah padamu, Boo!
Ketika aku keluar menghampirinya, aku lihat wajahnya yang pucat semakin memucat seketika. Dia terdiam di tempatnya dan memandangiku dengan mata syok.
Aku menarik kerah bajunya dan langsung saja aku menciumnya. Aku juga tidak peduli dengan reaksi orang-orang di sekitar yang melihat kami seperti ini.
"Mnnmh… mhh!" Ringisnya dalam ciumanku.
Aku benci padamu, Jaejoong Brengsek! Namja menjijikkan ini bukan orang yang membuatku jatuh cinta! Dia pelacur! Bahkan dia berjalan dengan orang yang paling kubenci seumur hidupku! Appa tiriku, Choi Siwon!
Kemarahanku tak terkendali sampai-sampai tanpa sadar aku merobek kaus hitam yang di kenakannya.
Namun pada saat itu, aku di dorong oleh Changmin dan manager Cho membekukku. Namja pemilik kedai dan namja kecil pelayan yang lain membantu Jaejoong dan menutup sebagian badan Jaejoong yang terekspos.
Aku ingin menyentuhmu Jaejoong…
Bahkan, aku tidak menyadari namja yang membuatku gila ini sudah menangis. Hidung bangirnya terlihat merah dan matanya sembap. Bahkan, tubuhnya bergetar.
Kau takut padaku, Boo?
Aku juga tak mau mengerti kalau namja menjijikkan sepertimu bisa membuatku begini…
0o0
Nafasku menderu dan lebih berat ketika manager Cho membawaku masuk kedalam mobil. Rasanya ingin menangis saja di campakkan oleh namja pelacur sepertimu! Ada apa gerangan dirimu dengan Siwon? Apakah dia juga menyentuh tubuhmu, Boo? Kenapa harus orang sepertimu yang menyakitiku?
Ada apa Tuhan? Kenapa ini harus terjadi padaku? Mengapa kau menciptakkan malaikat menjijikkan seperti dia untukku?! Kenapa harus aku!?
"Tuan, apa yang terjadi? Ada yang salah dengan anda?" Tanya manager Cho panik. Tentu saja, aku yang seorang direktur perusahaan Everlasting ini mana mau melakukan hal memalukan seperti itu!
"— tidak apa manager, Cho. Jalan saja." Perintahku menyuruh untuk segera meninggalkan tempat ini. Aku yakin, bukan hanya manager Cho yang shock, Changmin pasti besok akan menanyaiku. Ia pasti kaget, ia pasti heran melihat perlakuanku yang menyimpang seperti itu.
Ketika aku sudah merasa sedikit tenang, tiba-tiba saja, ponselku bergetar.
"Ya?" Jawabku mengangkatnya.
"Hyung! Huweee~ kemarilah! Lepaskan aku dari Heebon! Sudah dua jam dia ngambek~" Rengek suara cempreng di seberang sana.
Ck, Junsu~~ kau membuat moodku tambah Jelek! "Ya baiklah! Tunggu disitu! Beritahu dimana kau lewat sms!" Tutupku. Haish, aku sedang malas bicara.
Lalu tak berapa lama, aku mendapat pesan dari Junsu. Aku menyuruh pak supir untuk menuju kearah cafee di tengah kota.
0o0
Aku turun dari mobil dan melihat kedua teman kecilku itu berada di luar cafee yang masih jauh di sana. Sebelum aku menghampiri mereka, orang yang agak jauh memunggungiku dengan membawa koper berdiam terpaku di sana.
Aneh, padahal semua orang pada berlalu-lalang begini, apa dia tersesat?
Ketika aku akan mendekat, orang itu malah berbalik dan menubrukku. Dia jatuh terduduk dan aku tetap pada posisi berdiri.
Aih, namja itu, Yoochun itu, kan? "Heh, Kau?" dia tak bereaksi dengan sapaanku. Dia tetap menundukkan wajahnya dariku. Apa dia segitunya benci padaku?
Tak berapa lama, kulihat bahunya terangkat naik-turun. Dia menangis?
Apakah dia mencintai Junsu?
Aku menghela nafas. Sepertinya Junsu sudah bisa mengatasi Heebon. Justru namja di hadapanku ini yang perlu ditangani. Orang-orang yang berlalu lalang melihat mencurigaiku.
Gah! Akupun mengambil kopernya dan meraih pergelangan tangan Yoochun. Aku menariknya paksa untuk mengikutiku dan meninggalkan tempat ini.
0o0
Aku duduk tenang di hadapan Yoochun. Dia tak bergerak sedikitpun. Aku bingung harus bertindak bagaimana pada namja itu. Kenapa aku juga malah mengajaknya ke apartemen yang baru kubeli seminggu yang lalu ini?
"Heh…" Desahku bingung. Aku membenarkan posisi dudukku sejenak. Semoga keputusan yang kuambil ini tepat… "Aku tidak tahu apa masalahmu, tapi aku rasa kau tengah cemburu." Tebakku. Haduuh, apa yang harus kukatakan tentang Heebon ya? "wanita itu tunangan Junsu." Tambahku.
Aku diam sejenak. Tak ada respon darinya, haissh…
"Kau Yochun kan? Sepertinya kau ada masalah, kau boleh tinggal sementara di sini." Saranku. Masa bodohlah, toh aku juga tidak akan menempati apartemen ini untuk saat-saat ini. Lagipula, aku penasaran dengan koper yang di bawanya. Besar sekali, aku rasa dia sedang cari tempat tinggal.
Aku meninggalkan Yoochun, dia seperti bisu saja… aku capek…
0o0
Pukul 02.00 pagi ini, aku masih menelusuri langkahku. Aku mengemuli tanganku yang mulai membeku di dalam kantong celana trainingku yang masih melambai-lambai senada dengan arah angin. Topi yang kugunakan juga masih setia menutupi identitasku.
Haa…
Dia berpenampilan lebih menarik dari sebelumnya.
Aku terhenti ketika tengah membayangkannya. Kulihat ada dua namja tengah berbincang. Aku kenal salah satu dari mereka, sering kulihat tiap menyusuri jalanan kecil ini. Anak berandalan yang di kenal bernama Eunhyuk. Si bocah tengil…
Aku terpaku pada seseorang lagi yang memunggungiku.
Dia… melihatnya, aku teringat Jaejoong.
Rambut pirang yang kau potong pendek dan berwarna pirang, sama seperti namja itu.
Gaya berpakaianmu yang semakin elegan, sama seperti namja itu.
Tubuh mungilmu yang tak pernah lepas dari mataku, sama seperti namja itu.
Bibir peach yang aku sentuh dengan paksa…
Namja yang memunggungiku mulai menoleh kearah samping. Ya, bibir mungil yang sama seperti namja cantik itu…
Rambut, tubuh, gaya, tingkah dan bibir yang sama— Tunggu! Namja yang bersama Eunhyuk itu—
"Hai! Yunho!" Eunhyuk menyadari keberadaanku dan melambai tangan kearahku.
Namja yang berada di antara kami membeku dan perlahan mulai menoleh… bola mata bulat berwarna biru itu melihatku. Melihat kedalam mataku…
Ah, Kim Jaejoong, kau kah itu?
Dia berlari, berlari menghindariku.
"Tunggu, Boo!" Akupun reflek mengejarnya. Eunhyuk yang tak tahu apapun hanya menggaruk kepala dan tidak mempedulikan kami yang sudah menghilang dari pandangannya.
"Jaejoong!" Panggilku. Ah tidak! Aku gila! Aku ingin menangkap tubuhnya yang berlari tak jauh di depanku ini!
"Jangan kejar aku—" Ketika dia berlari sambil menoleh padaku, aku kaget! Aku panik ketika tubuhnya terjun kearah jurang.
"JAEJOONG!"
-TBC-
Wohoo, YunJae is REAL! :3
Ga akan pernah habis untuk mengucap kata itu. Pair yang paling REAL di dunia! Baaaaah, pengen banget denger Yunho menikah dengan Jaejoong di depan public!
Author bingung kapan ya fic ini tamatnya =.=
Bingung untuk buat endingnya, masih banyak yang mau di certain dari pair lainnya. Yossh! Tetap semangat dengan sebaris repiu dari Readers tercinta~~:*
