Author's Note :
Jebal Mianhae~ baru update, hehehe :3
Walo Author ga bales ripiu, author sangat mengucapkan banyak-banyak terima kasih menyempatkan waktu meripiu ff ini (_"_) apalagi tak ada ripiu yang buruk-buruk, gomawoyo~:*
Title : A Poor Life.
Part : 14 (Fourteen).
Genre : Romance, General.
Warning : BL,PG-18,Maybe Typo (s)
Summary :
Jaejoong dan Yunho adalah namja yang hidup dalam takdir yang berbeda. Namun, jalan lain mempertemukan mereka dalam keadaan yang buruk. Malam itu,Yunho yang rupanya adalah salah satu faktor semangat Jaejoong, namun, namja itu justru adalah yang pertama kali 'menyentuh' dirinya.
Disclaim : SME Present.
Author : DrarryLova.
"Kesabaranku sudah habis. Kenapa Yesus? Kenapa harus aku yang menderita dengan semua kehidupan yang kau berikan padaku ini? Sekarang mana yang lebih penting? Dia telah menjamahku! Dia telah memperkosaku! U-Know yang kusayangi, ah, bukan! Tapi dibalik U-know tercipta pria bengis bernama Yunho itu! U-Know fana, ia tiada! Ya, ia palsu dari sosok asli seorang Choi Yunho! Dia bukan penyemangat hidupku lagi! Aku malu, aku tak setegar Heechul-hyung ataupun Yoochun-ah. Aku malu bertemu muka dengan Umma yang kusayang begitupun Taemin manisku... dimanakah aku bisa berbahagia? Katakanlah..."
JJ-POV
Angin malam semakin liar berhembus. Tapi itu tak menghiraukanku. Jiwaku kosong, tiada lagi yang harus kuhadapi, aku tak mau lagi kembali, aku ingin menghilang sejauh mungkin. Karena aku tahu ini baru awal. Aku tahu cepat atau lambat Yunho akan menyeruak dalam kehidupanku. Mengintaiku di bar nanti dan memaksaku memuaskannya sepanjang malam. Aku tahu karena Junsu dan pelanggan Heechul-hyung pun seperti itu.
Aku tak siap.
Maafkan aku umma, maafkan aku Taemin, maafkan aku Heechul-hyung, Yoochun-ah, Kibum-ah, Tuan Shin... maafkan aku Changmin... aku tak kuasa untuk bertemu dengan kalian lagi. Aku takut kalian terlibat dalam semua keinginan Yunho demi mendapatkan diriku. Aku takut. Aku takut sekali. Masih terasa diri ini merasakan sesuatu yang besar merobek wilayah yang paling kujaga. Aku malu. Aku tidak sepaham dengan perkataanku saat itu. kalau saja aku mendengar semua ucapan mereka, kalau saja aku tak terlalu egois untuk mencari berlembar-lembar uang. Kalau saja saat itu aku meminjamnya dari Heechul-hyung, kalau saja... banyak sekali penyesalan yang amat kupikirkan. Kini, aku hanya bisa lari dari kenyataan, siapa yang akan menyelamatkanku?
Aku semakin menggelung dalam balutan kain hitam yang menghindarkanku dari angin malam yang menusuk. Aku masih terdiam di gang sempit ini seharian penuh. Aku tak yakin aku sudah jadi mayat hidup atau tidak. Namun yang jelas, biarkan aku mati disini dalam ketenangan.
Baru saja mata yang kosong ini akan terlelap karena lemah. Kudengar suara derap kaki yang mulai mendekat kearahku. Dan mulai berhenti tepat di hadapanku. Aku mendelik lemah pada laki-laki yang berdiri miris di depan sana.
"Mau apa kau kemari, Hyukkie-ya? Hari sudah malam, kau pulanglah." Lemahku.
Namja yang bergaya seperti anak jalanan itu mulai menjongkokkan diri dan mulai memandangku. "Hyung, hentikkan ini. Kenapa kau menyiksa dirimu sampai seperti ini? Ikutlah bersamaku, kalau kau tak ingin hidup lagi, biar aku yang akan menjagamu." Terangnya. Ya, bocah yang lebih tua dua tahun dari Taemin adalah teman pertamaku sejak kecil. Dulu aku hanya anak jalanan bersamanya.
Hyukkie hidup dengan bebas di jalanan malam ini dan di gudang yang hangat bersama anak-anak lainnya. Dia anak baik dan juga sangat perhatian.
"Maafkan aku, Hyukkie. Biarkan aku malam ini disini." Pintaku dan kembali memejamkan mata. Aku lelah dan aku tak tahu harus menghadapi kehidupan ini seperti apa. Hyukkie paling tidak bisa melawanku. Aku tahu dia sangat khawatir terhadapku. Bahkan seharian ini dia selalu membawa makanan untukku dan aku menolaknya. Keras kepala memang, tapi justru aku tak mau bermanja di kehidupan yang sulit ini sehingga pada akhirnya aku hanya bisa melarikan diri.
Dan saat itu, aku mendengar langkah yang menjauh. Maafkan aku Hyukkie, aku tak bermaksud menyakitimu. Karena ini semua kesalahanku. Karena semua ini terjadi karena kekurang tegasanku terhadap peraturan yang kubuat sendiri untuk kehidupanku. Biarlah, mungkin ini yang Jesus inginkan terhadapku. Dan tak lama kemudian, aku mulai melelapkan diri...
0o0
Samar-samar kudengar kicauan burung yang mengalun. Bahkan meski terasa dingin, tapi kulitku rasanya hangat seperti tertimpa cahaya matahari. Bahkan, kini aku merasa seakan tertidur di kasur besar yang begitu nyaman. Samar-samar pula aku mencium bau alam yang amat menenangkan.
Inikah surga?
Apa aku sudah mati?
Ketika aku mengerjap-ngerjapkan mataku, aku melihat wajah lelaki tampan yang merasa cemas dengan keadaanku. Ah, dia malaikat-kah?
"Kau sudah sadar? Kau baik-baik saja?"
Malaikat itu berbicara terasa seperti nyata...
Tunggu?
Nyawaku sudah berkumpul semua, aku melihat kebalik selimut yang kukenakan, tak ada selembar kainpun yang menempel disana.
"SIAPA KAU?!" Dengan segera aku bersiaga menjauh dari laki-laki yang duduk di kursi di samping ranjang ini sambil menggelung dalam selimut tebal putih ini. "DIMANA AKU?!" Geramku ketika tersadar bahwa aku tidak menemui trotoar dingin malam itu. ini dimana?! Apa yang namja itu lakukan padaku?!
"Ah. Tenanglah. Aku tidak berbuat jahat." Ungkap namja jangkung dengan wajah tampan itu panik. "Ini di salah satu apartemenku, ada beberapa pelayan di sini. Kumohon kau jangan salah paham. Aku menemukan kau di trotoar jalan, aku takut kau akan mati kedinginan, jadi ketika sampai di apartemen, pelayanku langsung membuka bajumu yang sudah lembab, aku hanya menolongmu, tak ada maksud lain." Jelas namja itu buru-buru. Aku terdiam, dari perkataannya, sepertinya dia memang orang baik dan tak melakukan macam-macam. Karena tubuhku juga tak terasa sakit, justru merasa sangat lebih baik.
"...Am, kalau begitu aku minta maaf, terima kasih." Ungkapku. Mau bagaimana lagi, mungkin Jesus belum mengijinkanku meninggalkan dunia. Aku rasa mungkin masih banyak orang baik seperti orang dihadapanku ini. Lagipula, sepertinya orang baik ini adalah dari kalangan orang-orang atas.
"Ah. Tak apa-apa, justru aku yang minta maaf malah membawamu ketempat ini tanpa seizinmu. Maaf jika tak membuatmu nyaman. Oh ya, panggil aja aku Siwon. Aku sudah mempunyai istri dan dua anak laki-laki, hahahaha,jadi kau jangan cemas, namja setua aku dengan seenaknya menolong pemuda manis sepertimu. Aku benar-benar minta maaf." Ujar namja itu sambil menggaruk pipinya dengan jari telunjuk.
"Tidak apa-apa. Justru aku yang tak sopan malah curiga orang yang menolongku adalah orang jahat." Reflekku jujur.
Namja itu tertawa. Entah kenapa tawanya sungguh menenangkan hatiku. Akhirnya aku malah tercengang melihat dia tertawa. Siwon yang menyadari ekspresiku langsung menghentikan tawanya. "Maafkan aku. Kau ternyata polos juga. Sempat menyangka aku penjahat." Kikiknya meringis sambil memegang perutnya. "Omong-omong, siapa namamu? kenapa malam itu kau ada disana? Kau tersesat? Bagaimana kalau aku mengantar kerumahmu." Ucapnya beruntun.
"Namaku Kim Jaejoong. Tak perlu repot mengantarku. Maaf sudah menyusahkan." Tolakku. Sekalipun dia orang baik, aku tak ingin mengakrabkan diri dengan orang yang nanti tahu semua latar belakangku. Pertemuan ini Cuma kebetulan.
"Tak usah sungkan. Ini sebagai permintaan maafku." Terangnya. Bagaimana ini? Dia orang baik, apa aku bersamanya sebentar saja?
"B-Baiklah kalau begitu."
"Hm..." Siwon lalu menatapku dengan berpikir keras.
"A-Ada apa?"
"Tidak. Aku juga tidak tahu apa masalahmu. Aku rasa yang aku lakukan sangat seenaknya sekali padahal baru bertemu. Tapi, bolehkah aku meminta suatu permintaan?"
Pe-permintaan? Apa itu? apa Siwon juga penyuka laki-laki dan akan meminta sesuatu? Tapi, kan dia punya istri? "A-apa? Kalau sulit dan aku tak mampu, aku bisa saja meolak."
"ah! Maaf jadi membuatmu takut! Aku hanya mengusulkan penampilanmu. Sayang kan wajah seindah dirimu tampil apa adanya seperti itu? dan itupun kalau kau tak keberatan. Maaf aku terlalu seenaknya." Ucapnya menyesal pada akhirnya.
"A-Aniyo. Aku rasa, selama itu tak merepotkan Siwon-ssi, aku mau saja."
"Terima kasih, Jaejoong. Aku akan suruh pelayanku mengambil bajumu yang sudah kering. Dan aku sangat ingin sarapan diluar, apa kau bisa menemaniku?" Pintanya lagi.
"I-Iya."
"Kalau begitu. Aku tunggu di bawah." Sesaat sebelum keluar dari kamar ini, Siwon tersenyum merekah. Seperti anak kecil saja. Dan tanpa sadar aku tersenyum simpul. Baru kali ini bertemu orang kalangan atas seramah dia.
0o0
Sedari tadi aku merasa canggung menaiki limousine ini. 'Li-limousine Siwon mewah sekali.' Apakah dia orang yang amat kaya? Dari tadi saat sarapan, di salon, bahkan di toko baju, semuanya tempat-tempat mewah. Dan aku juga merasa tak nyaman dengan tatapan orang-orang yang melihat kearahku saat itu. bahkan, banyak yang menunduk hormat pada Siwon, sebenarnya dia siapa? Kenapa aku bisa di tolong orang besar seperti ini?
Siwon sepertinya menyadari ketidak nyamananku yang terus duduk tegang tanpa bersuara di sebelahnya. Hingga akhirnya dia bicara. "Maafkan aku Jaejoong, lagi-lagi membuatmu tidak nyaman. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu gugup." Terangnya lagi-lagi menyesal.
"Ahm, itu. aku tidak apa-apa. Karena aneh juga pergi ketempat mewah seperti itu." terangku. "Tapi aku berterima kasih, penampilanku jadi terlihat berbeda." Senyumku malu. Ya, saat dari salon, aku di bleaching habis-habisan, di facial, di spa, pokoknya bermacam-macam perawatan di salon besar itu kucoba semua karena permintaan Siwon. Hasilnya sangat baik. Rambut yang di cat pirang membuatku sedikit lebih fresh. Bahkan kulit-kulitku juga terlihat lebih indah. Aku sangat berterima kasih pada namja itu...
"Sama-sama, Joongie." Lagi-lagi dia menggaruk pipinya malu-malu. Terlihat manis sekali walau sudah berumur. "Mmm, bolehkan, aku panggil begitu?"
"Iya, teman-temanku juga suka memanggil seperti itu." Senyumku. Lalu seketika kulihat pipi Siwon bersemu merah. Aku jadi bingung sendiri...
"Ah. Mungkin aku tak pantas mengucapkan ini dan kau akan marah. Daripada di bilang pemuda manis, kau itu mirip yeoja yang cantik." Desisnya pelan. Aku melongo. Bahkan orang sebaik Siwon melihatku cantik juga, hiks... "Ah, maaf! Aku bukan bermaksud mengejekkmu."
"Tidak apa-apa kok." Senyumku lagi. "Ah, kita sudah sampai." Jelasku ketika sudah sampai di depan kedai cafee Sungmin-ahjusshi. "Terima kasih ya Siwon-ssi, untuk hari ini." Ujarku sambil membuka pintu limousine. Baru saja aku keluar dari Limousine, Siwon menarik lenganku.
"Ah. Lagi-lagi aku minta maaf. Aku ingin kapan-kapan bertemu denganmu. Kalau ada apa-apa, kau bisa menghubungiku. Aku akan membantumu sebisa mungkin. Ini kartu namaku." Siwon memberi sebuah id-card di genggamanku. Aku yang terlalu terburu-buru langsung mengantonginya. Dan saat itu, kulihat Siwon memandang namja yang ada di belakangku dan namja yang sepertinya seorang supir itu menunduk hormat padanya.
"Terima kasih, Siwon-ssi."
"Ya. Aku pergi dulu, Joongie." Lalu, kaca jendela mobil disisi Siwon tertutup dan suara limousine menyala. Kemudian, limousine itu melaju meninggalkanku di seberang jalan di depan kedai.
Siwon-ssi baik sekali...
Baru saja aku akan melangkah untuk menyebrang ke kedai, aku terhenyak. Badanku kaku dengan sempurna ketika kulihat seorang namja yang tak asing sedang berjalan dari arah kedai tengah menghampiriku. Namja yang aku hindari dengan sangat bahkan aku ingin mati secepat mungkin sebelum melihatnya lagi.
KENAPA?
Kenapa namja itu bahkan ada di caffe?!
Aku tahu itu Yunho! Tak salah lagi! Aku juga yakin pria bengis biadab itu menatap kearahku! Dia akan menghampiriku! Dia akan menangkapku!
TAPI KENAPA?!
Kumohon tubuhku bergeraklah! Kumohon, biarkan aku lari secepat mungkin!
Aku terhenyak. Aku mematung dengan wajah pucat dan tatapan syok ketika namja itu tepat berada 30 cm didepanku.
APA YANG AKAN DILAKUKANNYA?
Nafasnya memburu bagai hewan yang kelaparan...
Kenapa tubuhku tak bergerak? Namja itu ada di depanku! Aku harus lari!
Namja itu menyeringai ketika tepat beberapa inchi di hadapanku. Gerakan cepat ini bagaikan slow motion bagiku. Yunho menarik kerah bajuku dengan kasar dan memaksa menciumku. Lidahnya yang bengis menyeruak masuk kedalam kerongkonganku.
Bahkan aku terlalu sibuk dengan keadaanku sampai-sampai aku tak peduli dengan orang yang berada di sekitar.
Kumohon, tolong aku...
"Mnnmh… mhh!" Aku meringis dalam ciumannya yang seakan bisa mematikanku kapan saja. Bahkan Yunho sudah mulai merobek bajuku. Dia ingin memperkosaku lagi...
Tolong aku... aku tak ingin mati dalam keadaan seperti ini...
Namun pada saat itu, aku merasakan Yunho terlepas dariku. Kulihat namja yang seperti bodyguard membekuk Yunho. Ada Changmin di sekitarku dan aku langsung menangis ketika Sungmin-ahjussi dan Wookie datang mengamankanku dan menutupi bagian tubuh atasku...
Aku sangat takut... badanku bergetar dengan sendirinya, kalau saja tak ada Changmin, Sungmin-Ahjussi dan Wookie disini, entah apa yang terjadi padaku...
Aku sungguh takut...
Dan akhirnya, kami pergi meninggalkan pria biadab itu...
Yunho Brengsek sang Iblis...
Ketika sampai di kedai, semua membiarkanku menenangkan diri dan beristirahat. Mereka paham kekagetanku. Bahkan, dengan mata berair yang samar-samar ini, aku bisa melihat raut kecemasan mereka bertiga terlebih Changmin...
Maaf, maafkan aku Changmin-ah, maafkan aku semuanya,,, aku belum bisa menceritakan tentang semua ini...
Dan akhirnya, aku hanya menghabiskan waktu di kamar belakang tanpa bekerja dan menceritakan apapun...
0o0
Malam kembali menjelang. Baru saja setengah hari ini aku mekar, kini aku jatuh lagi kedalam jurang yang amat dalam. Memang, Tuhan itu selalu bermain dengan nasibku, aku tak ingin Umma atau Taemin melihat kekosongan wajahku, hingga aku akhirnya tak bisa lagi bertemu mereka, dua hari aku juga tak datang ke bar. Cukup saja kekacauan terjadi di kedai, aku tak akan memperburuk suasana lagi, aku tak akan kembali lagi...
Dan aku juga tak mungkin menghubungi Siwon dan menyusahkannya...
Ketika sudah berapa lama kaki ini melangkah, tak sadar ini sudah tengah malam... aku tersenyum ketika sampai di tempat ini lagi, ya, trotoar kematianku...
Namja yang sedang duduk santai di atas tumpukan kotak kayu di dekat sana, tak sengaja menoleh kearah kedatanganku.
"Jae-hyung!" Sapa Hyukkie dengan senyum merekah. Kawan kecilku, tempat masa kecilku, dan tempat akhir hayatku...
Aku tersenyum membalas sapanya. Dan aku begitupun Hyukkie saling menghampiri.
"Hyung kemana saja! Aku khawatir ketika pagi aku tiba disini kau sudah tak ada!" Isaknya. Aku tertawa kecil sambil mengusap bahunya. Tak ingin menceritakan tentang Siwon, sebisa mungkin aku harus melenyapkan setiap kejadian, karena aku harus pergi dari dunia yang kejam ini, aku sudah tak sanggup...
Sebisa mungkin aku tetap tersenyum dan mendengar semua kecemasan Hyukkie, sebisa mungkin aku tak ingin Hyukkie lebih cemas daripada ini.
Dan ketika sudah tenang, aku akan berada di trotoar ini dan tanpa ragu membunuh diriku sendiri. Tak perlu menunggu ajal yang menjemputku akan utusan dari Tuhan yang mempermainkan nasibku. Biarkan aku yang mencari kematianku sendiri.
Maafkan aku semuanya...
Saat sibuk dengan semua rencana kematianku. Aku sampai tak sadar kalau cerita Hyukkie terhenti, dan ketika Hyukkie kembali bersuara...
"Hai! Yunho!" Hyukkie melambai kearah belakangku.
Yunho? Yunho katanya?
Permainan apa lagi ini? Tuhan, CANDAAN APA LAGI INI?! Bahkan namja biadab itu ada di sekitar sini dan di waktu malam yang seperti ini?!
KENAPA DIA SELALU ADA DI SEKITARKU!?
Aku seketika membeku. Tunggu? Ini pasti bercanda! Mana mungkin Yunho berada di tempat seperti ini, ini sangat jauh daripada bar ataupun kedai cafee.
Dengan cepat, aku menoleh kebelakang. Dan tanpa sengaja, mata kami saling bertemu... DIA, Benar dia memang Yunho?!
Aku takkan sebodoh seperti siang tadi karena aku tahu kemungkinan sangat kecil aku akan selamat karena hanya ada Hyukkie. Bahkan, sepertinya Hyukkie mengenal Yunho. Aku lebih baik mati ketimbang mendapat siksaan berlebih dari namja macam dia!
Dengan segera, aku meninggalkan Hyukkie dan berlari sejauh mungkin.
"Tunggu, Boo!" aku tahu laki-laki itu keras kepala! Aku ingin menangis!
KENAPA DIA MENGEJARKU!?
"Jaejoong!" Sahutnya lagi. Cukup! Bahkan mendengar suaranya saja aku tidak sudi!
"Jangan kejar aku—" aku yang sangat panik dan ketika aku menoleh kebelakang, melihat Yunho yang sangat cepat berlari mengejarku. Tanpa sadar, aku sudah merasakan sakit yang amat sangat di sekujur tubuhku karena dengan cepat, aku jatuh kedalam jurang.
"JAEJOONG!" Samar-samar kudengar teriakan pria brengsek itu ketika aku tersangkut di sebuah ranting kayu besar. Aku bisa merasakan cairan hangat merembes keluar dari keningku. Aku menyeringai kecil, baguslah jika aku mati dengan cara seperti ini...
Tak kuasa menahan sakit di sekujur tubuh, nafas menderu yang hebat, lalu, seketika, pandanganku menggelap, terima kasih Jesus, kau mengambil nyawaku dengan cara seperti ini...
0o0
Sakit...
Sakit...
Aku meringis. Aku merasakan sakit yang amat luar biasa.
Kepalaku, bibirku, wajahku, badanku, bahkan sesuatu di bawah sana...
Aku mengerjapkan mataku. Dan sesuatu yang pertama kulihat adalah sisi sebuah bantal yang ada disamping wajahku.
Dimana aku?
Aku belum mati?
Aku merasakan sakit yang campur aduk entah dimana.
"Uggh, haa..." tanpa sadar aku tak bisa menahan untuk mengeluarkan erangan yang menyakitkan. Kedua pergelangan tanganku terasa berat dan tak bisa bergerak bebas seakan dicengkram dengan kasar.
Saat aku memutar leherku untuk melihat apa yang ada di depan sana.
Tanpa sadar, air mataku mulai merembes keluar dengan sendirinya.
Ini permainankan?
Bahkan ketika aku mengetahui ada seseorang memejamkan mata dengan nikmat di atasku, aku tak sadar bahwa semua rasa sakit ini menjadi jiwa kosong yang tak merasakan apa-apa.
Namja telanjang yang masih memejamkan mata itu mengarahkan kepalanya kesamping leherku.
"Uggh, ooh...hossh, boo, boo..." gumamnya tak sadar bahwa aku sudah benyawa lagi. Inikah yang ia lakukan pada orang yang hampir mati?
Apakah lelaki ini tidak lebih brengsek ketimbang hewan liar disana?
Aku tak bisa menghentikkan air mataku...
Aku tak tahu ini dimana yang jelas Yunho menangkapku.
Kalau begini, kenapa tidak kau ambil saja nyawaku?
Kenapa kau tidak bunuh saja aku sekalian?!
Aku bisa merasakan dada Yunho yang menindih badanku masih naik-turun. Dia iblis darimana?
Aku yang nyaris mati ini masih kau perkosa juga?
Tak ada suara yang dapat keluar dari kerongkonganku walau banyak kata yang ingin kusampaikan...
Saat Yunho yang terlelap sambil menindih tubuhku membuat badanku yang sakit semakin tak bisa di gerakkan. Aku hanya bisa memutar bola mataku.
Aku terbelalak saat melihat namja yang berdiri di pintu dengan kedua tangan terlipat di dadanya menatap dingin kearah sini.
YOOCHUN-AH!?
0o0
"Bagaimana keadaanya, Dokter?" Tanya Yunho yang langsung masuk ke kamar ini dan merangkul pundakku ketika dokter pribadi yang di panggil ke apartemen ini selesai memeriksaku.
"Aku rasa, tuan Kim hanya syok karena sebuah kecelakaan sampai dia mengalami bisu sementara. Suaranya hanya keluar perlahan-lahan. Tak ada yang di khawatirkan tuan Jung, asal tuan Kim sudah tenang, suaranya akan kembali normal." Jelas dokter itu. "Kalau begitu, aku permisi dulu."
"Ya. Terima kasih, dokter." Ujar Yunho ketika dokter sudah meninggalkan kamar. Yoochun masih berdiri diam di pintu dengan wajah yang masih datar.
Dengan kejadian aku terbangun malam itu, sudah 3 hari aku tak bertemu Taemin dan umma.
Apakah selamanya aku akan terkurung disini?
"Nah, boo-ku sayang. Kau harus tetap tenang supaya cepat sembuh. Kalau begitu, aku akan beli sarapan dulu." Ujar Yunho yang masih merangkulku. Sebelum meninggalkan kami, dia sempat mencium pipiku.
Aku masih memasang muka tak bersahabat padanya.
Dia pikir siapa aku? Aku istrinya-kah? Konyol sekali.
Ketika dirasa Yunho sudah keluar apartemen, Yoochun menghampiriku. Aku sedikit tenang karena Yoochun berakting seperti itu ketika ada Yunho saja. Aku yakin Yoochun masih berada bersamaku dan kita akan sama-sama keluar dari apartemen ini.
"Menyedihkan." Gumam Yoochun dingin sambil masih menoleh kearah orang yang sudah pergi beberapa lalu. Aku mengerutkan alisku tak mengerti. "Dia sampai segila itu terhadap namja yang malang sepertimu, hyung." Sindirnya sambil menatap benci kearahku.
Yoochun, menyindirku?
"Aku malas melihat wajah sok polosmu itu! dari dulu kau selalu menarik perhatian semua. Menyedihkan kalau seorang Jung Yunho tertarik pada namja sepertimu!" geramnya.
Apa maksudmu, Yoochun-ah?
"Semua membelamu! Teman di kedaimu itu! teman-teman di bar! Semua menyemangatimu! Begitupun aku!? Bahkan Junsu nyaris kau rebut dariku! Tapi apa yang kau perbuat?! Hidup menyusahkanmu yang tak sepenuh hati kau tanggung sendiri, berakhir membuatmu jadi pelarian dan bisu seperti ini!? Menyedihkan." Umpatnya.
Aku menggeleng. Inikah Yoochun yang kukenal? "A'u'u (Apa maksudmu)?" kupaksakan untuk bersuara. Yoochun pasti tahu apa pertanyaanku.
"Heh. Aku di usir dari apartemenku. Dan aku menemukan Yunho yang berbaik hati padaku! Sekarang, kau datang di antara kami! Aku benci kau, Jae-hyung! Aku benci kehidupan ini! Kau memiliki umma dan adik yang menyayangimu! Teman yang menyayangimu! Dan laki-laki yang begitu menggilaimu hingga melakukan apa saja untuk mendapatkanmu! Kau di butuhkan tapi kau berlari dari semua itu?! sedangkan aku! Siapa yang membutuhkanku?! Semua membuangku begitu saja! Aku benci melihat orang yang begitu berharga sepertimu!"
PLAK.
Aku merasakan pipiku memanas dan air mata langsung keluar begitu saja dari mataku. Aku tercengang.
Inikah isi hati Yoochun yang tak kuketahui?
Ada orang yang lebih menderita dariku dan menyayangkan nyawanya daripada aku sendiri?
Aku kemana saja selama ini?
Aku tak tahu kalau semua memperhatikanku...
PLAK.
Kini pipi yang lain yang terasa panas. Biar, biarkan Yoochun puas dengan semua ini. Lagipula, aku ingin berlari dari Yunho, namun Yoochun membutuhkannya...
Aku tak tahu apa sebenarnya yang terjadi, tapi dari perkataan Yoochun, sepertinya sudah lama Yoochun memendamnya..
Bodohnya aku...
Maafkan aku semuanya... maafkan aku sempat berpikir untuk meninggalkan kalian...Umma, Taemin..
"APA KAU MASIH BELUM MERASA PUAS!?" Yoochun berteriak didepanku dan ketika tangannya akan melayangkan tamparan lagi, aku yang sekarang takut untuk mati ini langsung memejamkan mataku.
"APA YANG KAU LAKUKAN PADA BOO-KU!?" Kini teriakan menggema lebih mengerikan daripada di damprat Yoochun mulai terdengar.
Kulihat sosok Yunho yang menahan tangan Yoochun yang malayang itu. Yoochun ketakutan mendapatkan glare Yunho.
"Ah! Agh!" kudengar Yoochun meringis kesakitan ketika Yunho mencengram erat tangannya seakan-akan bisa mematahkan tulang itu saat itu juga.
Tatapan Yunho murka dan giginya bergemeretak. Jangan Yoochun, kumohon Yunho jangan ambil temanku!
Aku langsung menggenggam lengan Yunho yang masih mencengkram tangan Yoochun. Aku memelas dan menggeleng-geleng padanya. "U'o (Yunho)" Pintaku.
Saat itu kemurkaan Yunho mereda. Cengkramannya di lengan Yoochunpun melonggar.
"Sekali saja kau menyakiti Jaejoong lagi, aku tak segan-segan untuk mematahkan semua tulangmu!" Ancam Yunho sambil menarik Yoochun keluar. Dan Yunho segera mengunci pintu kamar.
Inilah yang terjadi. Aku mengenal Yunho pada akhirnya.
Di balik topeng U-know, tersimpan sosok bengis yang tak bisa terkendali...
Aku yang masih bertumpu di ranjang. Merasa lega memang melihat Yoochun tak dilukai lebih dari ini. Namun, saat itu, Yunho yang sudah menghampiriku, mulai menelanjangiku dan dengan jiwa kosong aku melayaninya...
0o0
Aku meringis terbangun pagi ini. Aku merasa tenang ketika tak kulihat namja brengsek itu tidur di sebelahku. Aku juga tak tahu pagi ini dia kemana.
Sudah nyaris seminggu aku tinggal di apartemen ini. Suarakupun sudah kembali normal. Tapi mungkin bisa saja kambuh lagi. Aku harus hati-hati. Aku ingin menemui Taemin dan Umma... tapi, apakah aku sudah tak bisa lagi menemui mereka dan terkurung disini selamanya?
"Ukh..."Ringisku. ingin sekali membelai rasa sakit yang menyengat di bawah sana. Namun, tanganku yang di ikat di sisi ranjang tak kuasa menggapainya.
Sialan. Aku semakin terlihat menjijikkan.
Sudah tak ada kekhawatiran lagi ketika aku membayangkan Yunho menangkapku saat itu. karena sekarang aku benar merasakan segala resikonya.
Ya, bukan satu-dua kali aku merasakan pedih di perkosanya.
3 hari terakhir ini aku di serang bertubi-tubi hingga aku bahkan bisa nyaris mati kapan saja. Aku terlalu baik hati memanjakan keinginannya.
Setidaknya, biarkan aku pergi...
Setidaknya, kau sudah puas mendapatkan yang kau inginkan, Yunho. Apa bagusnya orang sepertiku?
Bukankah kau tampan? Sempurna? Tapi kenapa kau menggilai seorang namja sepertiku? Bahkan mengurungku seakan kau yang melahirkanku...
CKLEK.
Mataku memutar kearah pintu yang terbuka pelan. "Yoochun-ah!"
"Sst! Diam kau! Tenang sedikit!" Ungkapnya sambil menghampiriku dan melepas ikatan tanganku. "Aku akan membantumu keluar dari sini. Tapi kau harus berjanji akan menghilang dari pandangan Yunho." Ucapnya serius.
Aku melirih. Aku tak tahu mengapa Yoochun sampai begini kepadaku hanya karena seorang brengsek macam Yunho? Apa yang kau lihat dari Yunho, Yoochun-ah?
Ketika ikatan sudah terlepas, aku mengusap lenganku yang membekas merah. "Sekarang cepat pergilah sejauh mungkin sebelum Yunho kembali. Aku yakin kau masih sanggup untuk berlari." Perintah Yoochun dingin. "Kalau bisa, pergilah kau dari jalan koridor apartemen belakang."
Aku mengangguk pelan. Yoochun benar-benar menyuruhku pergi. Senang karena di bebaskan, tapi sedih karena sepertinya Yoochun membenciku.
Ketika pintu apartemen terbuka. Yoochun yang menemani hingga disini, membuatku berlari meragu kearah jalan belakang. Namun saat itu...
"Boo?! Hei! Mau kemana kau?! Jangan lari!" Yunho memergoki rencana kami. Aku buru-buru pergi, kudengar sekilas dia sempat memaki Yoochun dan dia kembali mengejarku.
Kenapa dia mengejarku?!
Aku pun berusaha kabur dan berlari secepat mungkin dengan penampilan apa adanya. Sakit sih dibagian sana, tapi melarikan diri lebih penting.
Aku tak ingin dia menangkapku lagi...
0o0
Aku berhasil lolos dari apartemen susun yang membuatku pengap itu. aku bisa menghirup udara segar dengan bebas karena aku berhasil menggapai jalanan.
Aku sekarang sudah ada diluar sini!
Tapi, ini daerah mana ya? Kemana aku harus pergi?
"Jaejoong! Tunggu!" Yunho berlari jauh di belakang sana. Cih, KERAS KEPALA! Aku tak mau hidup dengan penyiksaan seperti itu! aku ingin pergi jauh-jauh dari hidupmu, Yunho!
Aku terus berlari dan berlari, baik aku ataupun Yunho tak peduli dengan orang-orang sekitar yang menggunjing mengganggap kami seperti sedang syuting film. Dasar! Kenapa tak ada yang menolongku!?
"JAAAAA! Hyukiie-yaaa!" Terdengar segerombolan namja yang berlari mengamuk di kejauhan didepan pandanganku di sana. Apa yang sedang terjadi ya? Apa benar segerombolan preman itu benar sedang syuting film?
Masa bodoh! AKU HARUS SEGERA LARI DARI SINI!
SIALAN! KENAPA KAU MASIH MENGEJAR JUGA, NAMJA BRENGSEK! Ah, aku tak kuat lagi! Nafasku sudah tak kuat lagi untuk berlari!
"Jaejoong! Aku bilang berhenti!"
Suara itu, suara itu! aku harap itu Cuma ilusiku!
Kumohon menghilang dariku, Yunho!
Dan sudah tidak konsentrasi dan tak tahu jalan. Aku ambil jalan sebisaku untuk kabur sebisa mungkin dan bersembunyi dari Yunho. Namun ketika aku belok ke gang sempit diarah kanan...
Aku terhenti, nafasku menderu, dan mataku melotot sempurna.
JALAN BUNTU.
Ketika aku berbalik untuk kembali dan mencari arah lain. Aku terlambat, aku bodoh!
Namja yang nafasnya tersengal-sengal itu ada di pintu masuk gang ini. Aku tertangkap lagi..?
"Hosh...Hosh... tak sangka kau memberikan olahraga pagiku yang seperti ini, boo. Sudah berakhir main kucing-kucingannya, hm?" Ujarnya sambil melangkah mendekatiku.
Aku menggeleng dan melangkah mundur menjauhinya. "Ja-Jangan dekati aku..."
"APA? Kau bilang apa, sayangku?" Yunho berpura-pura tak mendengarnya dan semakin gencar mendekatiku. Aku takut, aku takut dengan bola mata kemarahannya...
Dukk. Punggungku terbentur di ujung gang yang buntu ini. Tak terasa air keluar begitu saja dari mataku. Bahkan, keringat antara lelah dan takut ini masih merembes di sekujur tubuhku.
Aku sangat takut dengan namja ini.
"Nah. Jadi kau mengundang mengajakku main ketempat ini ya, boo?!" Geram Yunho sambil membekuk tanganku dan memaksa menciumku.
Aku bisa merasakan Yunho mulai mengacak-acak sesuatu yang menutupi bagian bawahku. Dia juga mulai meraba-rabaku kearah manapun.
"mmnh!" ringisku dalam ciuman mautnya namun saat itu Yunho membiarkan satu tangannya terus membekuk tanganku kebelakang dan tangan lain memasukkan jari-jarinya kemulutku.
Sialan..
Aku menjijikkan...
"Ku-kumohon, Yunho…biarkan aku pergi…" pintaku. Aku sudah benar-benar memohon pada namja ini. Selama namja ini masih hidup, dia akan selalu mengejarku. Selamanya dia akan seperti ini...
"Tidak, Boo… kau itu akan selamanya ada disampingku…" Ungkap Yunho posesif sambil perlahan memojokkankan badanku. Mataku benar-benar gelap, aku hanya ingin ada seseorang yang menolongku. Meski hanya sebentar, biarkan aku terlepas dari namja ini...
"ARGH!" Aku berteriak ketika Yunho semakin kasar dan menjambak rambutku. Bahkan, aku sudah bisa merasakan lututku sudah tak kuasa berdiri lagi. Apalagi, namja berbadan berat ini menggecetku di belakang sana.
"Jae-hyung!" aku menyadari seseorang menyahutku di kejauhan sana. Remang-remang aku melihat seseorang. Diakah penolongku?
"Ki-Kibum-ah…Ugght!" Erangku. Aku juga tahu Yunho melihat Kibum-ah, namun, dia merasa tenang-tenang saja dan melucuti celanaku. Bahkan sekarang, kejantannya memaksa masuk kedalamku dalam posisi menyedihkanku...
Kenapa Yunho sampai melakukan ini juga? Di tempat ini? Di depan Kibum-ah?
"Hoho si snow white rupanya… tak disangka ternyata kau tinggal di sekitar sini…ooggh.." Ungkap Yunho dengan nada berat.
Kibum... tolong aku...
"Ah, tunggu disini, hyung! Aku akan menolongmu!" Baru saja kulihat Kibum yang sepertinya pergi untuk memanggil bantuan, aku terbelalak ketika punggung Kibum di pukul oleh Yoochun hingga Kibum tersungkur kesakitan di depanku.
"Yoo-Yoochun-ah…" Sudah... tak ada harapan lagi... Tuhan memang paling senang membuatku seperti ini...
Maafkan aku Kibum-ah, hingga membuat kau jadi terluka, aku minta maaf...
"Uhh...Bagus, Chunnie~" Ungkap Yunho bangga, namun, saat itu aku melotot ketika tanpa ragu Yoochun mengangkat tongkat kayu itu kearahku dan Yunho. Namun, nampaknya Yunho terlalu menikmatiku daripada memperhatikan sekitar.
Dan... BUAKK!
Kayu itu tepat mengenai leher Yunho sehingga Yunho benar-benar pingsan dan terlepas dariku.
"Yoochun-hyung.."Rintih Kibum tak percaya dengan tindakkan Yoochun. Begitupun aku...
"Bergegaslah, hyung. Rapikan bajumu. Aku akan mengamankan Yunho sebisa mungkin, kumohon, pergilah sejauh mungkin. Aku tak tahu apa yang akan dia lakukan padaku ketika dia sudah tersadar nanti. Tapi bagaimanapun juga, aku harus bersama Yunho." Ungkapnya dingin sambil merapikan baju Yunho dan menopangnya.
"Yoo-Yoochun-ah..." Gumamku. "Kita bisa pergi! Kita bisa pergi sama-sama!" Pintaku. Namun saat itu Yoochun menggeleng.
Bremm Bremm Bremm…
"WHOA! Kibum-ah! Apa yang terjadi!" Seorang laki-laki yang sepertinya pengantar surat itu menemukan kam. Dia turun dari motornya dan langsung menolong Kibum, syukurlah...
"Donghae-ya..."Rintih Kibum sambil dibantu berdiri dengan namja bernama Donghae itu.
"JAE-HYUNG!" Aku juga tersentak ketika aku melihat Hyukkie bersamanya dan langsung menolongku. Bahkan dia juga syok melihat Yunho yang pingsan. "Apa yang sedang terjadi? Ada apa denganmu!? Hyung baik-baik saja?!" Paniknya.
"Aku mohon pada kalian berdua. Tolong bawa Jae-hyung dan Kibum." Ungkap Yoochun sambil terseok-seok menopang Yunho dan pergi.
Yoochun-ah... Terima kasih...
0o0
Sekarang, aku sedang berada di rumah hangat yang ditempati Hyukkie dan anak-anak lainnya. Aku berusaha pergi dari lingkungan komplek itu, aku takut Yunho yang tersadar langsung mencariku di sekitar sana.
Dan cepat atau lambat, dia juga pasti akan datang ke sekitar sini...
Setidaknya, aku ingin menemui umma dan Taemin dulu...
"Hyung, malam ini beristirahatlah disini..." Pinta Hyukkie cemas. Aku juga menceritakan semua kejadian dari awal pada teman kecilku itu. hyukkie tak membenciku. Justru, dia memahaminya dan semakin cemas padaku. Bahkan dia tak percaya Yunho yang di kenalnya adalah Yunho yang sama dengan ceritaku.
"Tidak bisa, Hyukkie... dia pasti akan datang kemari secepatnya. Jadi aku harus segera pergi. Setidaknya, dia tak tahu tempat kediamanku, aku akan pulang. Jangan khawatir." Jelasku.
"Kalau begitu, aku temani ya, hyung. Aku takut sekarang, Yunho ada di sekitar sini."
Aku berpikir dan akhirnya mengangguk. Dan saat itu, Hyukkie pergi untuk membeli makanan untuk kami semua.
Aku tersenyum miris.
Jaejoong-babo ya, membebankan bebanmu kepunggung kecil milik Hyukkie... mianhe, Hyukkie...
Mianhae...
BRAK!
Pintu rumah ini terbuka kasar. Aku melotot sempurna...
Tidak.
Dia sudah datang.
Iblis itu datang...
"Hosh...Hosh..." nafas orang itu memburu. Sebisa mungkin aku bersembunyi bersama anak-anak yang lain. Siapa? Siapa orang itu? "Enhyuk-hyung! Enhyuk-hyung! Dimana kau! Apa Jae-hyung kemari!?"
Teriakan itu? suara itu?
Aku menampakkan diri. Membuat orang bertubuh jangkung itu terhenyak tak percaya.
"Changmin-ah!" Aku terisak. Aku lupa dongsaeng-ku ini! Aku sudah membuat khawatir dirinya, pasti. Apalagi, aku tak menceritakan semua latar belakang sehingga terjadi insiden di kedai itu.
"Hyung!" Aku terkejut ketika Changmin berlari kearahku dan memelukku sampai menangis. "Syukurlah...syukurlah kau baik-baik saja, hyung...aku khawatir, hyung... apa yang Yunho-hyung lakukan padamu?!"
Aku melotot sempurna dalam peluknya. Seketika, semua peristiwa itu terlintas kembali ketika Changmin bahkan sampai menyebut nama Yunho. Aku takut...
Aku takut...
Aku takut, Changmin-ah...
"Hyung?" Changmin menyadari kekejutanku dan seketika tercengang melihatku yang menangis... aku menangis dan menggenggam baju Changmin. Aku tak ingin menyusahkanmu Changmin-ah... tapi...
Aku takut... aku takut sekali... aku juga takut untuk menceritakan semuanya...
Tiba-tiba saja, Changmin menggenggam pundakku dan menatap serius kearah mataku. "Apapun yang terjadi, sekalipun aku tak pernah tahu apa masalah-hyung. Kumohon, percayalah padaku. Aku akan melindungimu, hyung!"
Aku tersentak. Seketika, aku yang menahan semua tangis kehidupanku langsung meraung-raung menangis dalam peluknya. Maafkan aku Changmin, aku hyung yang tak berguna. Terima kasih, terima kasih untuk selalu memahamiku...
"Aku mohon... aku mohon, tolong aku, Changmin-ah..." Raungku. Entah sejak kapan aku mengenalnya, namun yang pasti, hanya bersama Changminlah aku merasa tenang dan bisa bermanja...
"Tolong aku, Changmin..." Genggamku erat pada bajunya.
Changmin memelukku dan mengusap punggungku. "Ya. Hyung. Aku akan menolongmu."
-TBC-
PANJANG GEELAAA *Minta nafas buatan di Changmin* ternyata kalau di sambung-sambung JJ-POV jadi sepanjang ini ;p
Kok jadi makin kek Drama ya ceritanya? Hahaha *malah ketawa, author babo*
Yosh! Akhirnya ada adegan Changmin+Jae... *bling-bling**ditendangyunho*
Yosh, oppa, tolong jaga Jae-hyung...
Sipp sipp, minna-san~~~ udah lama ya ga ketemu! *plak* yosh repiu lagi ya, biar author tahu kesannya
