Author's Note :
Holla~ Author kembali~~ Hahahaha~ *Ditabog
Mianhe All Readers and Reviewer Tercintaaah~
Berulang kali Author katakan~ akan tetap meneruskan FF ini di setiap kesempatan dan untuk masalah konflik di FF ini~ Author juga bingung kalau di selesaiin satu-satu, jadi mengikuti alur aja ya~ Yosh, kembali membuka FF ini dari Hiatus dengan Taemin-POV~
Ahh~ Kangen 2Min~
Title : A Poor Life.
Part : 15 (Fifteen).
Genre : Romance, General, Hurt, Comfort, Slice of Life, School Life and Dramatic.
Warning : Boys-Love, R-18, Maybe Typo (s), Author's Languange, Drabble Story, Need Hard-Brain for Read This Plot Story~
Summary :
Kim Jaejoong, namja yang merasa hancur hidupnya karena kondisi keluarga, pendidikan dan pekerjaannya begitu meratapi nasib. Apalagi saat ia mengenal namja bernama Choi Yunho, namja kaya dengan wajah tampan dan menjabat direktur di perusahaan Choi yang di wariskan dari ayah tirinya sekaligus adalah wajah di balik nama U-Know, penyanyi misterius yang naik daun dan amat di sukai Jaejoong. Namun, takdir memang menyedihkan karena namja itu begitu menggilainya dan bahkan menyiksanya dengan hal-hal semacam itu. Kim Taemin, bungsu di keluarga Kim ini adalah namja yang memiliki wajah dan fisik seperti Yeoja. Karena lika-liku kehidupan, Taemin harus berhubungan dengan namja bernama Choi Minho, Putra bungsu keluarga kaya Choi. Dan sama hal-nya Yunho, Minho yang lebih lembut dari kakak tirinya akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan Taemin, cinta pertamanya. Apakah Cinta sejati masih ada di sekililing kedua putra keluarga Kim? Benarkah ada sesuatu yang bisa membahagiaka mereka nantinya?
Author : Ana-Ryhan.
"Tak Bisa... Minho, harus kau tahu, aku tak mencintaimu. Aku bersamamu karena pekerjaan, aku memenuhi segala kemauanmu karena aku butuh uang. Dan aku tak ingin jatuh cinta, aku lebih memilih Umma dan Hyung-ku ketimbang apapun. Jadi tolong, ketika aku sudah cukup dengan semua uangmu... Biarkan aku pergi... jangan ikat aku... Jangan menghantui kehidupanku sampai sedalam ini..."
TM-POV
CTARR. ZRAAASH...
Aku tersentak dalam tidurku dan pada akhirnya aku terbangun karena suara petir dan hujan deras yang tiba-tiba pagi ini. Bahkan seketika angin dingin bertiup di ruangan ini.
Akupun beranjak keluar dari dalam selimutku dan menguncir rambut panjangku dan dengan malas menggulung kasur lipat yang baru saja aku tiduri semalaman. Haa, hujan lagi. Sudah lima hari daerah disini hujan deras seperti ini. Membuatku semakin tenang untuk tidak meninggalkan rumah.
"Mmh~" Aku tersentak dan menoleh kearah namja yang tidur agak jauhan di ruang ini. Dia Kim Jonghyun, orang yang menyelamatkanku dari siksaan appa. Dia juga lebih tua dua tahun dariku. Sepertinya, fisiknya lemah, makanya sudah seminggu aku membiarkan ia tinggal disini. Lagipula, dia juga tidak mau membicarakan tentang dirinya yang entah kenapa tidak ingin kembali ketempat asalnya. Aku yakin sepertinya dia namja baik-baik.
Lalu, pandanganku mengarah kearah langit kelabu yang menangis di luar jendela sana. Aku sangat khawatir, aku juga amat takut... "Hyung... sebenarnya kau ada dimana?" gumamku.
DRRT... DRTT..
Tiba-tiba saja aku teralih pada ponselku yang bergetar. Ada panggilan masuk. Saat kuambil dan kulihat yang menelepon adalah Minho, aku mendecak. "Ck, namja ini keras kepala sekali." Sudah seminggu ini aku tidak mengabari Minho, aku terlalu sibuk dengan urusanku. Tentu, umma sudah agak baikan, namun dia masih harus menjaga kesehatan di rumah sakit. Appa sudah ada di penjara, Jae-Hyung yang menghilang entah kemana dan tiada kabar, aku yang sudah tak mampu memperlihatkan diriku di depan Changmin-hyung dan juga aku tak bisa meninggalkan Jonghyun-hyung sendirian dirumah.
Apakah namja ini tidak mengerti kalau aku tidak ingin menambah masalahku dengannya? Aku sudah terlalu lelah berpikir, Minho. Jika ponsel ku aktifkan, sudah 50-an panggilan tak terjawab darinya setiap harinya. Aku juga sebenarnya malas mengangkat panggilan yang ini, tapi sepertinya, Jonghyun-hyung terusik dengan nada getarnya.
Akupun mengangkat panggilan itu sebelum akhirnya Jonghyun-hyung terbangun.
"Ya?" Tanyaku Datar.
"TAEMIN SAYANG! Akhirnya~ kau kenapa tidak mengabariku? Kau kenapa tidak masuk sekolah? Benarkah kau sakit? Apa kau sakit parah sekali sampai tak bisa menerima telepon dariku? Kau ada dirumah sakit atau rumahmu Taemin? Biarkan aku menjengukmu! Aku khawatir sekali, Baby~"
Aku agak menjauhkan telingaku dari ponsel. Suara menggema dari seberang sana yang begitu antusias sempat menyentakkanku. Hell ya! Apa pedulimu, Minho? Kau bertingkah seakan kau benar-benar pacarku! Lagipula, kita berhubungan hanya karena tubuh dan uang! Kau bisa melakukan dengan yang lain, kan? Bukankah kau juga sudah puas menikmati tubuhku dengan bertubi-tubi? "Ah, ya, Minho. Aku masih sakit. Sepertinya parah." Bohongku. Aku juga tak mungkin pergi sekolah dengan luka-luka lebam di wajahku bukan? Lagipula, kenapa namja ini begitu gencar mencariku!?
"BENARKAH? OH AYOLAH TAEMIN~ Beritahu aku alamat rumahmu~ aku begitu khawatir, jika kau tak mau kerumah sakit, biar aku yang merawatmu..."
Minho... Kau benar-benar... oh ya, aku memang waktu pertama kali berkerja untuknya, dia hanya mengantarku sampai rumah sakit~ ah, beruntungnya dia tak tahu tempat tinggalku...
"Tidak apa-apa, Minho-ya. Jangan khawatir, aku—"
"Taemin? Kau sedang menelpon siapa?"
Sial! Jonghyun-hyung~ kenapa kau bangun dan bersuara di saat yang tidak tepat begini?
Seketika suara di seberang sana terdengar hening.
"Yawn~ maaf aku tidur lama sekali~ Hujan ini benar-benar membuat badanku menggigil."
Ah~Jonghyun-hyung... tolong jangan bersuara lagi.
"Baby, kau sedang dimana sebenarnya? Kau dirumahmu, kan?! Suara siapa itu?!"
Benar saja. Minho pasti menanyaiku dengan selidik! "Ah, andwe, Minho-ya~ itu hanya dokter, sudah dulu ya. Aku harus istirahat. Dah!"
Aku buru-buru menutup panggilan telepon dan lalu menon-aktifkan dan mencabut batere ponselku. Ah, babo-Taemin! Alasan konyol apa itu?! minho pasti tak akan percaya!
"Nde, Taemin, kau kenapa?" Sepertinya Jonghyun-hyung khawatir dengan tingkahku yang terburu-buru.
"Aha~ Tidak ada apa-apa, hyung~ ahaha." Jawabku mencairkan suasana. "Lebih baik, hyung mandi dulu." Saranku. Dengan menurut, Jonghyun-hyung langsung melangkah keluar kamar.
Aku melihat keadaan ponsel merah yang agak mengenaskan itu dengan pandangan lirih. Aku ingat, ponsel itu di beli Minho untukku dan Minho memiliki ponsel dengan model yang sama tetapi berwarna biru.
"Maafkan aku, Minho. Aku tahu kau sangat baik padaku. Tapi aku tidak tahan dengan keposesifanmu dan juga dirimu yang meminta apapun untuk mencumbuku. Aku tidak tahan..." Ratapku. Apakah akan menjadi seperti itu jika kita menginginkan orang lain?
Sekali lagi, maafkan aku Minho. Aku juga sudah bertekad untuk menghilang darimu...
Melihat ponsel, terlintas sesuatu dalam pikiranku. Ah! Ya! Jae-Hyung kan punya ponsel?! Changmin-hyung pasti tahu nomornya...ah, kira-kira, siapa ya teman yang punya nomor hyung selain dia? Ratapku.
0o0
Aku dan Jonghyun-hyung menghabiskan waktu pagi ini hanya dengan duduk-duduk atau mengobrol sedikit. Suasana dingin akibat hujan ini membuatku malas untuk beraktivitas apapun. Dan entah ada perasaan yang mengganjal dalam hatiku ketika pagi ini aku menerima telepon dari Minho. Kenapa? Kenapa aku dengan begitu mudah menyerahkan tubuhku untuk seorang namja? Terlebih namja itu adalah Choi Minho? Putra bungsu keluarga kaya Choi?
Ah. Sejak awal aku tak tertarik dengan kehidupan percintaan. Yang selalu kudambakan adalah hidup tenang bersama Umma dan Jae-hyung tanpa kehadiran appa. Padahal sekarang, Jonghyun-hyung sudah mewujudkan impian itu, tinggal menunggu umma bisa pulang dan mencari Jae-hyung.
Hm, tunggu. Aku pernah merasakan cinta yang sangat besar terhadap seseorang. Ya, seseorang yang sejak kecil sering bermain bersama kami. Seseorang yang membuatku tidak takut terhadap namja-namja gila yang ada di sekolahku. Ya, Changmin-hyung yang kucintai... namun, aku tahu, Changmin-hyung hanya menganggapku dongsaeng, dan menganggap Jae-Hyung adalah kakaknya. Kami tahu kami terikat dengan hubungan bersaudara, dan saat ini aku sudah ada rasa pada...
Aku melirik malu kearah Jonghyun-hyung yang hanya duduk berdiam diri dengan wajah polos. Tidak banyak obrolan yang keluar dari mulut kami. Dan sampai sekarang, kami masih canggung untuk mengakrabkan diri. Hihi, mungkin dia gugup karena tak percaya bahwa aku bukan seorang Yeoja. Hehe, entah kenapa aku memiliki rasa pada namja yang baru kukenal ini, apa karena dia seorang pahlawan untukku ya? Hehe~
Tapi tiba-tiba tatapanku melirih, andai sejak awal aku tidak bersama Minho, Jonghyun-hyung mungkin tidak akan jijik. Sebisa mungkin aku tak akan membicarakan soal Minho padanya...
Kruyuuuk~
Aku tersentak dan langsung menoleh kaget keearah namja yang duduk agak berjauhan di kamar ini.
"Ah! Mianhae! Taemin! Aku tidak apa-apa, kok!" Ngelesnya.
"Hyung lapar ya? Maafkan aku, aku akan segera membuat makanan." Ujarku sambil beranjak.
"Ti-Tidak usah Taemin..." Jonghyun-hyung merasa merepotkanku.
"Nde, tidak apa kok, hyung. Aku juga lapar." Senyumku dan entah kenapa Jonghyun-hyung langsung terdiam saat aku tersenyum. Eh, tidak! Wajahnya tersipu, pipinya memerah?! Apakah ini berarti dia juga ada rasa padaku?!
Tidak Taemin! Kau jangan kegeeran! Sebaiknya aku lekas kedapur!
...
"Hm..." Gumamku ketika mengoprek-oprek persedian bahan untuk di masak.
"Ada apa, Taemin?" Jonghyun-hyung ternyata mengikuti kedapur.
"A-ano, hyung. Mungkin aku akan terlambat menyiapkan makanan. Aku lupa kalau aku tak punya persediaan bahan makanan."
"Ka-kalau begitu, tidak usah membuat sarapan juga tak apa-apa." Ucap Jonghyun merasa ia seperti benar-benar merepotkanku.
"Tidak apa hyung, aku ada uang, aku mungkin akan pergi berbelanja dan disini supermarketnya sangat jauh, tahu sendiri kalau rumahku hanya berada di gang sempit" Ungkapku tak bermaksud kalau Jonghyun-hyung itu merepotkanku.
"Ta-tapi di luar hujan deras. Biar aku saja yang belikan Taemin, aku minta daftarnya saja." Jonghyun-hyung ingin sekali membantuku.
Aku mengambil payung dan berjalan kepintu depan dengan Jonghyun-hyung yang masih mengikutiku. "Tidak apa, hyung. Tolong jaga rumah ya. Lagipula, hyung juga belum tahu dimana supermarketnya." Ujarku sambil membuka pintu depan dan membuka payung.
"Ka-Kalau begitu, hati-hati, Taemin-ah. Hm?" Tiba-tiba Jonghyun-hyung menatap lurus kearah depan. Membuatku heran dengan wajah herannya. "Kenapa namja itu berdiri disana?" tanyanya.
Aku yang sudah berada di sekeliling air hujan dengan payug hijau inipun heran dengan ucapan Jonghyun-hyung yang ada disisi pintu depan ini.
Akupun menoleh kearah tatapan Jonghyun-hyung dan...
Aku tahu kalau hari ini sudah menunjukkan pukul 1 siang, tapi hujan dan gelapnya langit ini seakan memperlihatkan hari masih terasa pagi untukku.
Aku amat shock. Aku tak percaya ketika melihat seorang namja jangkung yang berdiri di tempatnya dengan tubuh yang dibasahi air hujan. Perlahan, aku yang berada di tengah jarak antara namja itu dan Jonghyun-hyung, dengan reflek kakiku berjalan mundur untuk menuju Jonghyun-hyung kembali.
"TAEMIN!" Teriakan namja itu menggema dengan mulut basah yang sepertinya sudah lama sekali dia berada di tempat itu. tanpa sengaja, aku yang kaget menjatuhkan payung yang kugenggam dan membiarkan tetes-tetes air dari langit itu membasahiku. Entah kenapa, aku membeku di tempatku. Tak bisa melangkah kearah Jonghyun-hyung, bahkan takut untuk melangkah maju karena ada namja itu.
Sepertinya Jonghyun-hyung tidak mengerti dengan keadaan gawat ini...
"Mi-Minho-ya..." Ucapku takut. Tanpa peduli dengan air hujan yang sudah membasahiku.
Seketika namja yang tadinya masih berada di tempatnya mulai menghampiriku dan aku yang berusaha untuk masuk kedalam rumah dan mengunci pintu tak kuasa ketika dia lebih dulu menarik pergelangan tanganku.
"INI! APA INI PENYAKITMU?!" Bentak Minho sambil terus dengan keras mengenggam pergelangan tanganku yang lebih mungil.
"Tidak! Lepaskan aku, Minho!" Berontakku. Aku juga sudah merasakan perih sangat di pergelangan tanganku. Selama ini Minho selalu memperlakukanku lembut hanya saja dia posesif dan tetap memaafkanku. Tapi entah kenapa, Minho yang ada di depanku begitu menyeramkan. Tatapannya begitu tajam, tersirat akan benar kemarahan dan keposesifannya.
"Engkau tahu, BABY SAYANG! AKU BEGITU KHAWATIR DAN INI YANG KAU BALAS UNTUKKU, Hah?!" tiba-tiba saja tubuhku yang berontak mulai gemetar takut saat tangan lain Minho mencengkram kedua pipiku, terasa sakit. Pandangan mata itu terasa menyedihkan, terasa menyakitkan.
Maafkan aku Minho...
Lalu, aku tak tahu saat itu Minho menciumku dengan ganas. Kurasakan tubuhnya yang menggigil lewat ciuman ini. Tanpa sadar air mataku terjatuh dan bercampur dengan air hujan yang membasahi kami.
Ciuman yang bercampur aduk dengan air hujan inipun terasa menyeruak menyakitkan aku maupun Minho...
Tidak Minho! Ada apa denganmu! Sesak... hentikan...
Akupun memukul-mukul dada Minho dengan lengan mungilku tapi itu tak membuat Minho menghentikan ciuman panas ini.
"O-Oi! Apa yang kau lakukan pada Taemin!" Jonghyun-hyung yang baru menyadari aku dalam keadaan terancam mulai masuk kearea hujan dan berusaha menolongku.
Dan dalam keadaan yang terhujani juga, Jonghyun-hyung menarikku sekuat tenaga dari Minho dan tanpa segan dia meninju pipi Minho sehingga membuat Minho terjatuh duduk dan tersadar dari kenikmatan ciumannya.
"Brengsek, kau! Apa yang kau lakukan pada Taemin!" Ungkap Jonghyun-hyung sambil mengamankanku di belakangnya.
Minho yang sudah mereda dari kegilaannya mengusap rasa sakit yang menjalar di pipinya dan kembali beranjak. "Oh, jadi ini namja yang sudah merebutmu dariku?" Terang Minho sambil berjalan mendekat dengan menantang. Jonghyun-hyung langsung bersiaga melindungiku. "Biar ku lihat seberapa kuat dan seberapa kaya dia! Jika dia juga sudah menyetubuhimu, aku akan membersihkan noda itu dua kali lipat, Taemin!" Ungkap Minho dan langsung saja.
BUAGH!
Tiba-tiba, Jonghyun terpental jauh dariku.
"HYUNG!" aku histeris dan begitu kaget.
"Apa? Cuma segitu?" Ujar Minho semakin menantang.
"Tsk. Sialan." Ungkap Jonghyun-hyung sambil beranjak dan mengusap darah yang mengalir di sela bibirnya. Namun, dia tanpa segan meladeni Minho dan malah terjadi perkelahian di antara keduanya.
Sudah cukup! Jonghyun-hyung punya fisik lemah, Minho! Kau akan jadi pembunuh! Sudah cukup! Hentikan!
"HENTIKAN MINHO!" Teriakku. Baru kali ini aku berteriak keras selama hidupku.
Minho yang mendominasi memukuli Jonghyun-hyung langsung terhenyak dan membatu. Mungkin, dia juga kaget baru kali ini aku membencinya.
Aku segera menghampiri mereka berdua dan membantu Jonghyung-hyung. Aku menatap murka terhadap namja jangkung itu.
"Kuperingatkan kau, Minho! Jika sekali lagi kau menampakkan dirimu di depan Jonghyung-hyung, aku akan membencimu seumur hidupku! Kau salah paham, Jonghyun-hyung bukan siapa-siapaku, tapi dia menolongku! Aku tak punya rasa cinta apapun padamu! Tetapi rasa cintaku lebih besar terhadap namja ini!"
Setelah kuucapkan kalimat panjang itu. kulihat jelas dalam suasana hujan dan langit yang kelabu ini mata Minho yang belo membulat sempurna.
Lalu, aku yang mengkhawatirkan Jonghyung-hyung mulai membawanya memasuki rumah dan membiarkan Minho terpaku di tempat itu dalam iringan air hujan.
Sudah cukup, Minho...
Sudah cukup aku berbaik hati padamu...
Dan sudah cukup engkau menyayangiku...
Pergilah, pergilah cari yang engkau cintai...
0o0
Setelah masuk kedalam rumah, aku buru-buru mencari handuk dan pakaian berukuran besar untuk segera menyelamatkan kondisi Jonghyun-hyung yang tiba-tiba menggigil hebat. Sial. Ternyata fisik Jonghyun-hyung memang lemah!
"Hyung, bertahanlah." Ujarku cemas sambil mengusap-usapkan handuk di rambutnya yang basah. Tak peduli diriku juga yang masih dalam keadaan basah.
"Brr, Ta-Taemin, kau juga sebaiknya ganti baju..."
"Tidak apa-apa, hyung. Kau yang lebih dulu harus di selamatkan." Ungkapku sangat cemas.
Sial! Minho sialan!
Namun, di balik kecemasanku, saat itu aku tersentak ketika tangan dingin Jonghyun-hyung mengambil lenganku yang sibuk bergerak menyelamatkannya sedari tadi.
Akupun terdiam dari gerakanku.
Lalu, aku bisa melihat dengan jelas tatapan serius Jonghyun-hyung yang terlihat seperti marah.
"Aku tidak apa-apa. Jadi berhentilah mencemaskanku." Ucapnya tegas.
Akupun terenyuh dan menuruti perkataannya. Lalu, Jonghyun-hyung mulai menghandukkan dirinya sendiri tanpa bantuanku. Sepertinya, dia tidak ingin di cemaskan orang lain dan dengan sekuat tenaga menahan kepedihannya.
Kau tegar, hyung...
"Taemin... sebenarnya siapa namja tadi?" aku tersentak ketika mendengar nada seriusnya.
Ah, akhirnya harus kuceritakan tentang Minho juga...
"Dia teman sekelasku. Ada banyak hal yang terjadi dalam keluargaku terlebih urusan ekonomi." Akupun tanpa ragu menceritakan segala masalahku. Entah kenapa, aku sangat percaya terhadap namja yang beberapa akhir hari ini aku baru mengenalnya.
Ketika aku mulai bercerita, Jonghyun-hyung dengan setia mendengarkanku.
"Umma begitu memanjakanku dan Jae-hyung. Akupun selalu di manja Jae-hyung. Appa selalu menyiksa umma, bahkan kalau umma tak ada, appa suka menyiksa kami. Saat umma sakit, hatiku dan Jae-hyung seperti runtuh. Jae-hyung selalu bekerja, aku tak mau bermanja lagi! Aku tak mau tinggal diam, sehingga entah kenapa saat itu aku di hadapkan dengan Minho yang kutahu dia menggilaiku. Hanya karena uang, aku menerima semua pekerjaan darinya. Maaf, hyung, mungkin kau jijik denganku..." Lirihku.
"Tidak apa, aku mengerti dan aku juga paham dengan dunia seperti itu." Jawab Jonghyun-hyung yang sepertinya memiliki luka pribadi. "Dan... masalah perasaanmu tadi? Apakah itu hanya alasan agar kau pergi dari Minho?" Tanyanya serius.
"A-Ah! Bukan begitu, aku minta maaf jika aku memanfaatkan hyung untuk pergi dari sisi Minho, tapi masalah perasaan itu, perlahan tumbuh seiring waktu." Ungkapku salah tingkah. Haduuh, babo-Taemin! "Maaf jika perasaanku merepotkanmu. Masalah itu aku sangat mengucapkannya dengan serius, tapi, hyung boleh tidak menganggap—"
Kalimatku terpotong saat kurasakan belaian tangan dingin menghampiri pipiku. Dengan amat hati-hati aku menoleh dengan debaran kencang menghadap Jonghyun-hyung. Kulihat saat itu mata yang menyayu itu terlihat lembut seakan mengajakku masuk kedalamnya. Perlahan belaian pipi itu menjalar kedalam helai-helai rambutku.
"Taemin..." Ucapnya dengan nada setenang mungkin. Tuhan, kenapa jantungku berdebar dengan keterlaluan! Ada sinyal apa ini?! "Taemin..." ucapnya lagi dengan nada lembut dan perlahan wajahnya semakin mendekat padaku.
Dan seketika, suasana terasa hening di sekitarku, hanya bisa mengingat bibir itu memanggil lembut namaku...
Dan tanpa kami sadari, saat itu, bibir kami saling bertaut dengan kelembutan. Berciuman dengan perasaan dalam dadaku yang meledak-ledak! Apakah ini artinya...
"Mmmh... hyung..." Erangku dan menghentikkan ciuman hangat ini. "Jangan mengasihani perasaanku..." Elakku. Tak mungkin aku berfikir Jonghyun-Hyung juga menyukaiku.
"Tidak, Taemin. Entah kenapa, sejak awal, ada sedikit perasaan mengganjal dalam hatiku. Dan saat ini aku menyadari, aku sadar kalau aku jatuh cinta padamu." Ujarnya serius.
TIDAK! Hatiku ingin melayang! Apakah sesenang ini ketika perasaan kita terbalaskan?!
Dan tanpa kusadari, saat itu badan Jonghyun-hyung sudah mendekat padaku.
"H-hyung...?" Tanyaku amat sangat malu.
"Bolehkah?" Tanyanya dengan muka datar namun terkesan manja. Aku tersenyum simpul dan membiarkannya menyentuhku. Sekaligus, aku ingin mengobatinya dengan kehangatanku.
Malam itu adalah malam panjang untukku dan Jonghyun-hyung sambil mendengar betapa derasnya hujan yang tak kunjung juga berhenti...
Minho... kumohon, pergilah dariku...
0o0
Pagi menjelang. Akupun meninggalkan namja yang resmi menjadi kekasihku semalam di rumah untuk pergi kesekolah. Ya, aku harus tetap bersekolah dan lulus dengan sebaik-baiknya. Setidaknya, hal ini yang bisa membanggakan umma dan Jae-hyung.
Pagi itu juga aku sudah tak melihat batang hidung Minho lagi di depan rumahku. Semoga saja namja itu benar-benar menyerah akan diriku.
Dan di sekolahpun, entah kenapa aku juga tak melihat namja berbadan jangkung itu.
Apakah dia sakit?
Ah! Kenapa kau mencemaskan dia, Taemin!?
Sudahlah, setidaknya hari ini adalah hari ternyamanku di sekolah tanpa melihat namja bermata belo itu lagi.
...
Jam istirahat sudah berdentang beberapa detik lalu. Saat ini, aku menghabiskan waktuku untuk menjelajahi universitas Jae-hyung. Dan beruntung sekali, aku langsung bertemu Yesung-hyung, teman Jae-hyung yang paling dekat di universitas ini.
"Yesung-hyung!" Sapaku dan lalu menghampirinya.
"Loh? Taemin? Ada apa?" Namja berwajah bulat itupun meluangkan waktunya untukku.
"Apa kau punya nomor ponsel, Jae-hyung?"
"Ah! Kebetulan sekali! Aku juga sangat khawatir dengan Jaejoong. Sudah berhari-hari ini aku menghubungi keponselnya, tapi terus tak tersambung. Aku cemas akan semua mata kuliah yang ia tinggalkan. Apakah hyung-mu itu masih melanjutkan kuliah ini atau tidak? Aku benar-benar cemas." Ujarnya panjang lebar.
Saat itu tatapanku melirih. Sebenarnya dimana kau, hyung? Ada apa dengannya, Tuhan? Kumohon, jagalah Jae-hyung...
"Aku juga tidak tahu. Aku juga tidak mendapat kabar apa-apa dari Jae-hyung..."
"Jadi? Jaejoong tidak ada bersama kalian?" Tanyanya tak percaya. Akupun menggeleng.
Yesung-hyung menepuk pundakku dan mengusap lembut kepalaku. "Sabar ya, kau dan umma-mu yang pasti lebih khawatir." Ujarnya. Ya, sepertinya, Yesung-hyung sudah tahu dengan keadaan keluarga kami. "Rencananya, aku mau mengunjungi rumah kalian dan besok aku akan mengunjungi tempat kerjanya. Barangkali dia ada disana, atau mungkin temannya tahu."
"EH? Yesung-hyung tahu dimana Jae-hyung bekerja?"
"Loh? Jadi kau tidak tahu?" Yesung-hyung balik bertanya.
"Andwae. Hyung selalu merahasiakannya dariku dan umma." Ungkapku miris.
"Aku juga belum pernah mengunjunginya. Tapi aku hanya tahu lokasinya dari teman Changmin." Ujarnya.
Haa? Changmin-hyung katanya? Memang ada hubungan apa dengan Changmin-hyung?
"Loh? Jadi selama ini Changmin-hyung tahu dimana Jae-hyung bekerja? Tapi kenapa aku tidak tahu..." Sebalku.
"Kok begitu? Bukankah Changmin juga bekerja di tempat yang sama dengan Jaejoong? Ada temanku yang melihatnya." Ujarnya juga agak kaget dengan kejutan-kejutanku yang tak tahu apapun tentang orang di sekitarku. Hiks, padahal selama ini aku adalah Dongsaeng mereka. Tapi, ternyata Yesung-hyung lebih tahu tentang mereka daripadaku.
"Aku tidak tahu apapun. Menyedihkan." Ujarku agak marah.
"Hahaha, sudahlah-sudahlah. Jika kau mau, mau ikut bersamaku besok mengunjungi tempat kerja hyung-mu?" Tawarnya sambil mengacak-acak rambutku.
"Boleh?" Tanyaku senang.
"Ya, tentu saja. Kutunggu kau di depan gerbang SMA besok setelah sekolahmu usai. Nah, sekarang cepat kembali ke SMA-mu." Terangnya sambil berlalu.
"Iya! Terima kasih, Yesung-hyung!" Senyumku. Dan lalu, kembali meninggalkan universitas ini.
Rasanya agak sedikit lega mengetahui aku akan berkunjung ketempat kerja Jae-hyung~ semoga aku bertemu dengannya~
0o0
Saat ini, aku berjalan pulang dengan ceria. Hari ini aku sangat senang~ sejak pagi. Aku menjadi kekasih Jonghyun-hyung, aku sekolah dengan nyaman tanpa Minho dan namja-namja gila yang sekarang sudah tidak mengejarku ketika tahu aku adalah pacar Minho, ada teman baik yang dengan suka hati menyalin pelajaran selama seminggu untukku dan aku sudah dapat sedikit kabar tentang Jae-hyung~
Aaah~ Senangnya~~
Lalu, saat itu aku tersentak ketika mobil merah berhenti di sampingku dalam perjalanan pulang ini.
Loh? Mobil inikan...
Saat itu, kaca mobil hitam yang tepat ada dihadapanku mulai turun dan menampakkan wajah yang tak asing lagi meski ia mengenakan kacamata hitam yang menggantung menutupi mata belonya.
"Mi-Minho?" Tanyaku tak yakin. Kulihat ia masih dengan paras yang biasanya. Padahal kemarin aku sudah berusaha untuk menyakitinya.
Dia diam dengen ekspresi senewennya. Saat ini ia tak sendiri, ada orang yang mengendarai mobil di sampingnya.
"Bawa dia masuk." Ucapnya entah pada siapa. Dan saat itu aku tak sadar kalau ada orang yang keluar dari belakang dan dengan paksa mereka menyeretku kedalam mobil merah ini.
"Hee! Lepaskan aku! Kau mau apalagi! Minho! Minho!" Berontakku pada namja-namja berbadan besar yang pastinya menang menyeret tubuh mungilku. Tak ada sahutan dari Minho dan dengan sangat kuat, namja-namja yang sepertinya bodyguard Minho itu terus menahanku selama perjalanan entah menuju kemana.
Dan selama itupun, Minho tak menunjukkan ekspresinya sedikitpun terhadapku dan tetap diam.
Minho... Jangan hantui hidupku lagi...
0o0
Kami berhenti di sebuah villa yang aku tahu tak jauh dari rumahku. Tapi ini Villa siapa? Lagipula, saat ini aku masih di tahan oleh bodyguardnya.
"Selamat datang di Villaku, Baby." Ujar Minho sambil memperkenalkan villanya yang mewah itu dan menurunkan kacamata hitamnya.
Eh? Apa aku yang salah lihat? tapi sepertinya mata belo itu terlihat sedikit bengkak?
"Minho! Aku sudah peringatkan padamu! Kau mau apalagi?!" Tanyaku sambil bertahan memberontak.
Minho tak menghiraukan dan mengenakan kacamata hitamnya lagi sambil berjalan masuk. "Kau hanya memperingatkanku untuk tidak menghajar namja brengsek itu, Baby. Kau tidak menyuruhku untuk menjauhimu." Ujarnya sambil membuka pintu villanya. "Bawa dia masuk."
"Baik, Tuan." Jawab bodyguard yang menahanku patuh dan dengan paksa menyeretku masuk kedalam.
"Hei! Apa-apaan ini! Lepaskan aku! Lepaskan!" Aku tak menyerah untuk berteriak sekeras mungkin. Barangkali ada orang yang mendengar dan menolongku. Tapi sepertinya, orang di sekitar sini sangat takut terhadap kekuasaan putra bungsu Choi itu.
...
"Agh!" Aku meringis ketika Minho menyuruh bodyguard itu melemparku keranjang yang ada di salah satu kamar di Villa ini.
"Terima kasih. Kalian keluarlah dan jaga villa ini." Ungkap Minho dingin dan akhirnya namja-namja berbadan besar itu meninggalkan ruangan. Menyisakan aku dan Minho di kamar yang cukup besar ini. Minho terus memunggungiku dan menatap kearah luar jendela yang besar itu.
Aku takut.
Aku merasakan firasat yang tak enak dengan tingkah namja itu yang sekarang sudah tak seperti Minho yang biasanya.
Akupun menuruni ranjang dan berjalan seperlahan mungkin untuk membuka pintu kamar ini. Walau tidak yakin akan keluar dengan selamat karena bodyguardnya yang menjaga setiap villa, paling tidak aku harus menjauh dari Minho sesegera mungkin.
Cklek. Cklek.
Sial, pintu ini di kunci dari luar!
"Kau mau kemana, baby?" Tanya Minho datar dan mulai membalikkan badan menatapku. Kulihat matanya terlihat begitu menyiratkan kemarahan. Tak seperti biasanya melihatku dengan tatapan manja.
"Sudah cukup, Minho! Apalagi yang kau inginkan?!" geramku tetap berdiri dibalik daun pintu kamar ini.
"Loh? Bukankah, kau yang butuh uang ya? Lagipula, kau itu masih pekerjaku, Taemin." Kali ini bahkan mulut yang selalu berucap lembut itu sudah menghinaku.
"Aku sudah tidak butuh uangmu lagi! Sudah, aku tak akan bekerja denganmu lagi!"
BRAKK.
Mataku membulat dan jantungku langsung berdetak kencang. Kaget dengan dentuman tangan Minho yang meninju papan pintu di samping wajahku itu.
"BERHENTI KATAMU?! ENAK SEKALI KAU MENGATAKANNYA, TAEMIN! SEUMUR HIDUP KAU AKAN SELALU JADI PEKERJAKU, ARRASEO!?" Teriaknya tepat di wajahku.
Saat itu badanku gemetar hebat. Ini pertama kalinya kulihat Minho amat marah.
Apakah aku sudah melakukan kesalahan sehingga membuat dia menjadi seperti ini?
Andwae! Ini bukan salahmu, Taemin! Sejak awal aku juga tak mau menghubungkan Minho denganku!
BRAAK.
Aku reflek memejamkan mataku ketika tangan Minho yang satu lagi meninju pintu yang ada disisi lain wajahku. Sehingga kini berhasil membuatku terkurung di antara daun pintu dan dirinya.
"Dengar, Taemin! Aku sudah bersumpah tak akan membiarkan namja lain menyentuhmu! Dan sudah kubilang, aku akan membersihkanmu dua kali lipat dari perlakuan namja brengsek itu." Geramnya sambil menatap tajam kedalam mataku. Kudengar jelas juga dia menggeretakan gigi-giginya.
"A-Apa maksudmu, Minho...?" Tanyaku takut-takut. Aku benar-benar tak mengerti jalan pikirannya. Setahuku, dia hanya menginginkan tubuhku. Bukankah dia adalah namja pertama yang merasakannya? Harusnya ia berbangga dengan itu walau aku menyesal seumur hidup.
Minho tak menjawabku dan malah menjambak rambutku dan dengan segera dia mencium bibirku dengan tempo dan lumatan yang kasar.
Aku jadi tambah yakin, dia bukan Minho yang kukenal selama ini. Dia semakin menjadi seperti Minho yang lebih iblis daripada appaku.
"Hmmhh! Aghhmm... Minhh—" Aku tak kuat dengan ciuman yang kasar ini. Dan dengan sekuat tenaga aku memukul dadanya. Tahu itu tak mempan terhadapnya, aku bahkan tak segan-segan mencakar lehernya namun Minho tak menghiraukan kesakitan itu juga.
Dia mungkin sedang dalam keadaan marah maksimal dan dia lebih mementingkan mencumbuku ketimbang dirinya yang kesakitan.
"Hmmhh.. Minmmmhoooo! HENHIKAN!" Tanpa ragu aku menggigit bibirnya sehingga terlepas dari ciuman mautnya dan dengan segera aku menamparnya.
PLAK.
Minho terdiam. Tanganku yang baru saja menamparnya mulai gemetar dan tanpa sadar aku mulai menitikkan air mataku. Entah kenapa rasa takut yang amat sangat menyelimutiku ketika aku melakukan hal tadi.
"Kau..." Minho memutar kepalanya menghadapku. Tatapan mata itu menipis dan tersirat amat tajam. Darah mengucur dari kulit bibir bawahnya dan juga sela bibir kirinya. "Kau berani menampar Tuanmu, Taemin." Ungkapnya dengan nada datar yang terdengar dingin dan menakutkan di telingaku.
"Agh! Appo, Minho!" Jeritku ketika Minho menjambak rambutku dan menariknya untuk mengikutinya kearah sofa yang ada di kamar ini.
"SUDAH CUKUP KIM TAEMIN! Ciuman itu masih belum bisa membersihkan bibirmu dari namja brengsek itu! akan kupastikan bibir itu takkan menyentuh yang lain selain milikku!" Minho menjatuhkan tubuhnya duduk di sofa itu dan secara tak sengaja, tangan yang masih mencengkram rambut panjangku membuat aku menunduk kearah bawah dan terjatuh tepat di depannya.
Kulihat tangan Minho yang satu lagi buru-buru melepas resleting celananya dengan kesusahan dan sesaat keluarlah senjata yang menghancurkan kehidupan terjagaku. Lalu, kedua tangannya menjambakku dan menyuruh wajahku untuk turun memanjakan batang itu dengan bibirku.
"CEPAT MAKAN INI! ATAU KUROBEK BIBIRMU!" Entah sudah yang keberapa kali Minho berteriak seperti itu dan dengan memaksa dia mendorong-dorong kepalaku dengan tangannya yang masih senang menyakiti helaian rambutku. Sedangkan tangan yang lain mulai masuk kemulutku dan memaksanya terbuka dengan jari-jari kekarnya seraya bisa kurasakan jari penuh amarah itu kapan saja bisa merobek bibirku.
Dan dengan mata menangis aku mengulum kejantanan yang tak biasanya sebesar itu dengan mulutku. Bahkan aku bisa merasakan perih akibat sela bibirku terasa sobek akibat benda besarnya.
Minho melakukan ini padaku dengan tempo lama karena sepertinya Minho menunggu untuk klimaks di dalam mulutku. Dia bahkan menggerakkan sendiri kepalaku dengan jambakannya.
Sakit...
Hiks...
Sakit...
Umma...
Jae-hyung...
Jonghyun-hyung...
"Uooghh.." Kudengar Minho melenguh dengan nada berat dan nikmat yang sangat dan dalam sekejap kurasakan batang besar dalam mulutku berkedut mengalirkan banyak sperma kedalam mulutku bahkan banyak juga yang merembes keluar tak kuat untukku telan semua rasa tak enak itu.
"Ohok! Ohok!" Aku langsung terbatuk ketika batang yang nyaris saja sampai ketenggorokan itu keluar dengan paksa. Dan betapa menjijikan juga ketika kulihat air liur dan sperma yang membeludak itu mulai mengacak-acak diriku.
Aku malu.
Entah kenapa Minho bisa sekasar ini. Padahal, dia begitu mencumbuku dengan sangat lembut meski aku tak menginginkannya.
"Hhh... Ini masih belum seberapa Taemin... hh, ini masih belum membersihkanmu dari namja itu...hh"
Entah kenapa Minho bisa menyimpulkan seperti itu. Memang, semalam aku menghabiskan malam dengan Jonghyun-hyung dalam keadaan Minho yang terpukul. Tapi, apa itu Minho berarti mengetahui kalau aku memang bercumbu dengan Jonghyun-hyung?
Tsk. Appo.. aku mengusap bibirku yang sudah tak sanggup lagi untuk bergerak. Dari istirahatnya sejenak, kini Minho menggotong tubuhku.
Akupun langsung memberontak dan langsung saja punggungku terbanting memantul pada ranjang king size itu, dengan kasar dan terburu-buru Minho merobek seragamku dan menelanjangiku.
"AGGHT! MIN—" Aku nyaris berteriak tertahan ketika Minho tanpa aba-aba mulai memasukan kejantanan besarnya didalam milikku.
"SIAL! SIAL! DIA MEMANG SUDAH MENJAMAHMU!" Marahnya sambil mengerang dan entah kenapa dia bisa tahu kalau Jonghyun-hyung sudah berkunjung ketempat itu.
"Mi-Minhh, ahh! Agght! Akkh!" Bukannya erangan nikmat yang kurasakan di setiap dia mencumbuku. Namun kali ini terasa begitu sakit. Amat sangat sakit karena Minho benar-benar menerjangku dengan cepat dan tempo yang berantakkan.
"SIAL! SIAL! NAMJA BRENGSEK!" Erang wajah marah yang ada di atas wajahku ini. Bahkan aku sudah tak bisa melihat jelas bagaimana ekspresinya karena air mataku yang memburamkan pandanganku dan otakku yang mencerna kesakitan di bawah sana.
Bahkan aku dengan jelas merasakan selangkanganku terkena cairan hangat yang kental dan juga hidungku masih bisa mencium bau amis.
Minho tak peduli dengan darah yang keluar dari tempat kejantanannya bekerja itu.
"Mi—hh." Bahkan aku sudah tak sanggup berteriak menghentikkannya atau meraung kencang atas kesakitanku.
Minho terus menghujamku tanpa henti. Terus dan terus meski dia sudah memasuki spermanya didalam sana beberapa menit lalu.
"SIAL! SIAL! SIALAAAN!" Minho berteriak kencang di saat aku sudah mulai kehilangan kesadaranku. Nyaris akan pingsan, Minho justru menghentikan aksinya. Ia terhenti dari gerakan brutlanya. Membuatku sedikit merasa tenang.
Seketika, bahu namja jangkung yang ada di atasku ini bergetar tak karuan.
Tes.
Saat itu kusadari titik-titik air mata yang lain mulai terjatuh keatas wajahku..
"Sialan... kenapa... kenapa kau tak mencintaiku, Taemin..." Aku terhenyak. Rasanya seperti dadaku terhujam derasnya air terjun yang menyakitkan.
Namja tampan itu...
Putra bungsu keluarga Choi itu...
Menangis pilu hanya karena seorang Kim Taemin yang tak istimewa ini tak mencintainya...
"Hiks... kenapa Taemin...? kenapa kau tak bisa mencintaiku..." Kini wajah itu bersembunyi di balik leherku dan aku bisa merasakan betapa banyak air matanya yang merembes menyentuh sekitar pundakku.
Minho...
Minho...
Berhentilah menangis, Minho...
0o0
Suasana hening.
Saat ini aku tengah mengenakan pakaian yang Minho berikan tadi, dengan hati-hati karena rasa sakit masih menyelimutiku.
Kulihat Minho masih duduk telanjang disisi ranjang lain sambil memunggungiku.
Namja itu terus diam tak menghiraukanku sesudah menangis sambil memelukku beberapa jam yang lalu.
Maafkan aku Minho...
Hatikupun terasa sakit karena aku tak berniat untuk menyakitimu...
Aku hanya ingin pergi dari kegilaanmu...
"Apa kau sudah selesai?" Suara sumbangnya menyadarkanku. Dia masih tetap di tempatnya.
"Iya..." Jawabku pelan.
"Kunci dan uangnya ada diatas meja yang ada di belakangmu." Terangnya singkat.
Aku mengerti kalimat itu.
Aku tahu Minho membiarkanku pergi.
Akupun mengangguk meski aku tahu dia takkan mengetahuinya. Aku lalu berjalan kearah meja yang dimaksud dan mengambil seikat uang dan juga kunci kamar ini.
Dan tanpa segan. Aku meninggalkannya.
Maafkan aku Minho, aku minta maaf...
Blam.
Dan pintu itupun kututup kembali tanpa ragu meninggalkan Minho sendirian di dalamnya...
0o0
Bagaimana keadaan hatiku. Bagaimana keadaan mentalku. Bagaimana keadaan keluargaku. Dan bagaimana keadaan lika-liku hidupku. Esok hari masih tetap setia datang.
Banyak pertanyaan yang menghujam cemas dari namja yang kutahu sekarang adalah kekasihku karena aku pulang terlalu malam. Namun, sebisa mungkin aku tak menceritakan tentang kepiluan takdirku dan Minho dan membuat alasan semasuk akal mungkin.
Ah, Minho...
Aku tahu dia baik hati. Aku tahu yang dia lakukan namun menyebalkan bagiku adalah karena dia begitu menggilaiku.
Dan aku tahu dia sudah menyerah akanku setelah kejadian kemarin.
Bukankah ini yang kuinginkan? Tapi kenapa hatiku terasa hampa?
Apakah aku sudah melakukan hal yang salah?
"Chagi~ chagi~" Aku tersadar dari lamunanku. Akupun menoleh dan tersenyum padanya. "Kau yakin kau baik-baik saja? aku sangat cemas."
"Tidak apa-apa, hyung. Aku hanya sedikit lelah saja."
"Aku benar-benar khawatir. Apakah hari ini aku boleh menemanimu? Kau kan akan mengunjungi tempat hyung-mu bekerja? Kau pasti akan pulang terlambat lagi."
"Ah. Tapi aku tak mau merepotkan hyung, hyung istirahat saja di rumah." Saranku.
"Nde~ aku kesepian kalau kau pulang telat. Ya? Jadi bolehkan aku ikut?" Ujarnya.
Aku tersenyum simpul. Entah kenapa namja ini begitu menenangkan kegalauanku. Lalu, akupun mengiyakannya dengan syarat dia harus pergi di saat jam pulang sekolahku agar dia tak terlalu lama menungguku.
Dan dengan riang, namja yang dulu kulihat sangat menyedihkan kehidupannya, kini tersenyum riang.
0o0
Sekarang, aku sudah pulang dari jam sekolahku. Dan saat ini aku sedang berada di bawah pohon menunggu Jonghyun-hyung maupun Yesung-hyung.
Hari ini, Minho juga tak masuk sekolah.
Apa aku benar-benar keterlaluan? Sebenarnya apa yang namja itu lakukan?
Entah kenapa perasaan bersalah menyelimutiku.
Ah! Taemin! Tak usah pikirkan dia! Lebih baik kau pikirkan bagaimana cara menemukan Jae-hyung dan lalu membawa umma pulang dan berbahagia segera!
Saat aku sibuk dengan pikiranku sendiri, aku tidak sadar saat ada orang yang menarik rambutku dan...
PLAK.
Aku kaget saat seseorang menampar pipiku.
"APA YANG KAU LAKUKAN PADA MINHO?!" Bentak namja itu marah.
"Ke-Key! Sudahlah!" Onew-hyung berlari dan mengamankan namja itu dengan pelukannya.
"Lepaskan aku Onew! Dia yang menyebabkan Minho pergi dari kita!" Ujar Key emosi.
Aku mengusap pipiku yang masih terasa perih akibat tamparan kerasnya. Apa salahku? Apa yang salah dengan Minho?
"Sebenarnya apa masalahmu!?" Tanyaku tak terima. Apa-apaan namja centil itu! urusan Minho dan aku ya urusan kita berdua! Dan bukankah aku sudah tidak ada urusan lagi dengannya!
"APA MASALAHKU KATAMU! Gara-gara kau yang katanya sudah punya pacar, Minho patah hati dan dia merelakan masa-masanya untuk menjadi PEWARIS CHOI! Kau tahu apa namja jalang! Hah! Dia keluar dari sekolah ini dan akan melanjutkan studi di luar negeri! Kau tahu betapa kami sangat menyayangkan Minho!" Key meluap.
Aku melotot sempurna.
Apa-apaan? Apa yang salah dengan itu?!
Aku sudah tidak peduli lagi dengan Minho!
MINHO PABBOYA!
"Jangan libatkan aku! Aku tidak tahu apa-apa! Aku tidak peduli!" Teriakku. Hal itu jutrsu membuat Key lebih panas dan satu tangannya yang keluar dari pelukan Onew-hyung mulai menjambak-jambak rambutku dengan kasar.
"Namja sialan! Namja jalang! Sialan! Sialan!" Umpatnya marah.
"Hentikkan!" Rintihku. Kenapa semua senang sekali menjambak rambut indahku.
"OI! OI! APA YANG KAU LAKUKAN!" Kudengar suara Jonghyun-hyung yang menolongku dari serangan Key. Aku yang saat itu memejamkan mata kaget saat Key dan Jonghyun-hyung saling bertatapan terkejut.
"J-Jonghyun-hyung..." Ungkap Key terbata dan dengan segera melepaskan diri dari pelukan Onew. Namun, air muka Jonghyun-hyung yang kaget mulai kembali datar dan malah lebih memilih menghiraukanku. Sedangkan Onew-hyung yang juga kebingungan hanya bisa menatap reaksi kekasih bayarannya itu yang terbilang sangat mendramatisir.
Aku juga heran. Apa Key dan Jonghyun-hyung saling kenal?
"Kau baik-baik saja, chagi?" Ujar Jonghyun-hyung sambil merapikan rambutku dan mengusap wajahku.
Kulihat Key mengepalkan tangannya dalam-dalam ketika Jonghyun-hyung memanggilku Chagi. Apakah dia mantannya?
Aku hanya mengangguk perlahan. Dan saat itu, Yesung-hyung datang.
"Ada apa?" Tanya dia juga heran dengan kami yang berkumpul.
"Andwae. Tidak apa-apa kok, hyung. Kita pergi saja." Ujarku. Dan Yesung-hyung hanya mengangguk bingung.
"Tunggu, hyung! Heechul-hyung mencemaskanmu! Dia sakit!" Key menahan lengan kekasihku. Mendengar nama Heechul-hyung di sebut, Jonghyun-hyung tersentak.
Siapa? Sebenarnya ada apa?
"Lepaskan aku, Kibum. Dan kumohon, jangan cari aku." Terang Jonghyun-hyung datar dan mulai melepas genggaman Key dengan kasar. Lalu, kami bertigapun mulai pergi meninggalkan Key dan Onew-hyung...
0o0
Banyak pertanyaan yang ingin kutanyakan pada Jonghyun-hyung. Tapi selama perjalanan, namja itu terus saja diam. Mungkin ia juga tak mau aku memulai menanyakan macam-macam.
Yasudahlah. Yang penting sekarang ini dia sangat sayang terhadapku sebagai kekasihnya.
Lalu, dari sekian langkah, akhirnya kami sampai di tempat tujuan kami. Aku terkesima.
President's Coffee.
Ya, itu papan nama yang terpampang di depan pintu kedai kopi yang katanya adalah tempat hyung-ku bekerja.
"Ah! Benar rasanya ini!" Ungkap Yesung-hyung meyakinkan. Saat kami baru saja akan masuk, Yesung-hyung yang berjalan di depanku bertabrakan dengan namja mungil yang sepertinya pekerja di kedai itu yang tengah akan keluar.
"Mianhae! Mianhe!" Ucap namja itu berulang-ulang dan terus membungkuk minta maaf pada Yesung-hyung.
"Ah sudahlah tidak apa-apa." Ujar Yesung-hyung sambil dengan ragu-ragu menyentuh pundaknya. Saat itu, mata mereka berdua saling bertatapan dan entah kenapa mereka saling menatap satu sama lain dan malah terdiam di depan kami.
Aku dan Jonghyun-hyung mengerutkan alisku.
"Ekhem!" "Hyung!" dengan bersamaan, Jonghyun-hyung mendehem dan aku menyahut. Membuat namja berkepala bulat dan namja mungil itu tersadar dari dunia mereka.
"Ah! Maaf, apa kalian akan mengunjungi ke kedai kami?"
"Ah! Ya begitulah."
"Kalau begitu silahkan masuk." Namja mungil berambut hitam itu mengajak kami masuk. Aku semakin terkesima saat mencium bau kopi yang menenangkan jiwa.
Ternyata hyung bekerja di tempat yang nyaman seperti ini...
Namja mungil itu menunjukkan tempat duduk kami dan memberikan menu.
"Baiklah. Tiga kopi khusus kedai ini ya?" Ujar namja kecil itu sambil menulis pesanan kami di memonya.
Saat namja mungil itu akan pergi, Yesung-hyung menahan lengannya. Membuat aku dan kekasihku melotot tak percaya. Rasanya sudah seperti melihat adegan film-film india saja.
"Kalau boleh tahu siapa namamu?" tanya Yesung-hyung sok keren.
Hadaah Yesung-hyung~ sebegitu cepatkah kau jatuh cinta? =="
"A-Anu. Namaku... panggil saja aku Wookie." Namja mungil itu malah menjawab malu-malu dan seketika berlalu.
"Haish! Hyung! Harusnya kan kita tanya apa Jae-hyung bekerja disini?!" Sontakku. Membuat Yesung-hyung tersadar dari asmaranya.
"AH YA! AKU LUPA!" Ujarnya babo.
"Sudahlah. Nanti kita tanya lagi saat dia membawakan pesanan kita." Terang Jonghyun datar.
"Loh? Taemin?"
Aku kaget saat mendengar suara itu.
"Cha-Changmin-hyung?"
...
Saat ini, aku Yesung-hyung, Jonghyun-hyung, Changmin-hyung, Wookie-hyung dan seorang ahjusshi imut sedang duduk berkumpul.
"Oh. Jadi kau adik Jae?" Tanya ahjusshi yang kukenal sekarang bernama Sungmin ini.
"I-iya." Ungkapku menunduk sopan.
"Kami masih belum bisa menjelaskan semua cerita detailnya padamu, Taemin. Yang harus kau tahu saat ini keberadaan hyung-mu sedang di buru. Sekarang, dia aman bersama Changmin." Terang ahjusshi pemilik kedai itu.
"Ada bersama Changmin-hyung? Syukurlah..." Ucapku lega.
"Ya. Dia sekarang ada di apartemenku Taeminnie. Dan jika kau ingin menemuinya, kuharap kau jangan terlalu bertanya banyak, sepertinya hyung-mu sangat trauma."
"Ya, hyung. Aku sudah senang hanya dengan melihat Jae-hyung lagi."
"Ya. Dia pasti akan sangat senang menemuimu." Senyum Changmin-hyung.
"Ah. Kalau begitu, aku harus pulang dulu." Wookie-hyung beranjak dari kumpulan untuk membereskan barang-barangnya dan pulang.
Kulihat Yesung-hyung nampak gelisah.
"Ada apa, hyung?" tanyaku cemas.
"A-anu. Aku titip salam saja sama Jaejoong, tidak apa?"
Aku sweatdrop. "Ya, tidak apa-apa. Sepertinya hyung buru-buru. Hati-hati, hyung!" Terangku.
"Ya, terima kasih semuanya." Dan seketika dia melesat keluar kedai saat di luar jendela sana terlihat Wookie-hyung berjalan pulang.
Ah, jatuh cinta...
"Kalau begitu, aku juga beres-beres. Tunggu aku." Changmin-hyung pun beranjak dan akan mengajak aku dan Jonghyun-hyung ke apartemennya.
0o0
Changmin-hyung membuka kamar dimana Jae-hyung berada.
Dan saat itu, yang kami lihat adalah sesosok namja bagai boneka terduduk diam sambil menatap keluar jendela.
Itukah Jae-hyung?
"Hyung, Taeminnie datang berkunjung." Ucap Changmin-hyung.
Seketika, namja yang sepertinya bukan-hyungku itu menoleh. Dan seketika senyuman indahnya terlintas ketika melihatku.
Ya, senyum itu Jae-hyung! Aku terharu sampai tak bisa menahan tangis dan langsung berlari memeluknya.
"Hyung..." Isakku sangat merindukan sosoknya.
"Bagaimana kabarmu? Apa appa menyiksamu selama aku tak ada?" Ujarnya parau sambil mengusap lembut kepalaku.
"Appa ditahan hyung. Saat dia menyiksaku, ada namja yang menolongku." Ungkapku sambil memperkenalkan Jonghyun-hyung.
"A-anyeong." Ujar kekasihku sopan, sebisa mungkin aku akan merahasiakan hubungan kami.
"Terima kasih kau sudah menjaga dongsaengku." Ungkap Jae-hyung. "Apa namja ini yang waktu itu meminjamkan uang padamu?"
Pertanyaan Jae-hyung membuat aku, Jonghyun-hyung dan Changmin-hyung tersentak. Ya, kami bertiga tahu kalau uang itu adalah dari Minho.
"Ah, bukan, hyung. Itu temanku yang lain."
"Hee? Padahal aku ingin sekali bertemu dengannya. Paling tidak ingin mengucapkan terima kasih dan berusaha membayar hutang-hutang kita. Aku khawatir sekali kalau kau mendapat uang dari renternir..."
"Tidak apa, hyung. Sepertinya dia mengikhlaskannya."
"Apa? Jadi dia tidak mengharapkan uangnya kembali?! Baik sekali dia, aku benar-benar ingin bertemu dengannya Taeminnie! Kita harus mengucapkan terima kasih!"
Kami semua terdiam. Ya, hanya Jae-hyung yang polos yang tak tahu kebenarannya.
Maaf, Hyung...
"Tidak usah hyung, lagipula, hari ini baru saja dia pergi keluar negeri."
"Omo? Sayang sekali..." Ungkap Jae-hyung kecewa. "Bagaimana dengan umma? Aku rindu dengannya."
"Umma sampai sekarang sangat baik, hyung."
"Tapi Taemin, paling tidak namja itu sudah membantu kita menyelamatkan umma, kita harus mencicilnya."
"Iya hyung, aku juga sudah berniat untuk menggantikan uangnya, hyung."
"Eh? Maksudmu?" Jae-hyung dan 2 namja lain juga merasa heran.
"Ya. Aku akan bekerja di kedai kopi Sungmin-ahjusshi." Ucapku dengan senyum bertekad.
-TBC-
JongTae~~~~~~~! *TendangJonghyun
Tidak! Tidak! Tidak! I'm 2MIN dan OnKey shipper! Jonghyun bias saya! Ga mungkin JongTae! Paling enggak JongKey! *nangismeraung-raung
Ahaha~ anyeong minna~ setelah lama menghilang, ternyata udah banyak aja EXO-FF ^O^
Haddah~ jadul banget nih author masih di 2min ma Yunjae :P
SIPP~ Paling gak author bales JongTae sama adegan Rape 2min :p
Huwee, nangis dah liat Minho digituin~ Minho jangan menyerah!
Sippo~ maaf di buka dengan Taem-Pov ya~ Yuk di Repiu~ :3
