Title : A Poor Life.

Part : 16 (Sixteen).

Genre : Romance, General, Hurt, Comfort, Slice of Life, School Life and Dramatic.

Warning : Boys-Love, R-18, Maybe Typo (s), Author's Languange, Drabble Story, Need Hard-Brain for Read This Plot Story~

Summary :

Kim Jaejoong, namja yang merasa hancur hidupnya karena kondisi keluarga, pendidikan dan pekerjaannya begitu meratapi nasib. Apalagi saat ia mengenal namja bernama Choi Yunho, namja kaya dengan wajah tampan dan menjabat direktur di perusahaan Choi yang di wariskan dari ayah tirinya sekaligus adalah wajah di balik nama U-Know, penyanyi misterius yang naik daun dan amat di sukai Jaejoong. Namun, takdir memang menyedihkan karena namja itu begitu menggilainya dan bahkan menyiksanya dengan hal-hal semacam itu. Kim Taemin, bungsu di keluarga Kim ini adalah namja yang memiliki wajah dan fisik seperti Yeoja. Karena lika-liku kehidupan, Taemin harus berhubungan dengan namja bernama Choi Minho, Putra bungsu keluarga kaya Choi. Dan sama hal-nya Yunho, Minho yang lebih lembut dari kakak tirinya akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan Taemin, cinta pertamanya. Apakah Cinta sejati masih ada di sekililing kedua putra keluarga Kim? Benarkah ada sesuatu yang bisa membahagiakan mereka nantinya?

Author : Ana-Ryhan.

"Maafkan aku... Aku mohon maafkan aku... jika aku tahu kau masih ada di dunia ini, sejak dulu aku pasti sudah mencarimu. Aku masih mencintaimu, Aku masih menginginkanmu. Kumohon, maafkan aku, datanglah kepelukkanku..."

SW-POV

Aku masih terduduk disini. Menopang kedua siku tanganku pada kedua pahaku, tak enggan jemari-jemari tanganku mulai memainkan diri mempermainkan segala kegundahanku, ditambah lagi, dentuman kakiku yang berulang kali mendecak tanda tak sabar. Kudengar suara musik remang-remang yang merembes keluar, kearah sini.

Aku mohon... aku mohon...

Doaku tak sabaran. Rasa tak percaya masih menyelimutiku akan kejadian kemarin-kemarin. Benarkah namja cantik itu 'Dia'? benarkah yang kulihat adalah 'Dia'? rasanya aku masih belum puas jika aku tak bisa memastikan lagi dengan mata dan otakku yang masih jernih.

Cklek.

Daun pintu yang menganggang cukup jauh dari tanah itu berdecit, membuat aku dengan sigap langsung menoleh kearahnya. Lelaki tambun langsung mendecak ketika ia melihat tampangku yang mungkin ia enggan melihatnya.

"Aisssshh... Kau lagi." Ucapnya malas dan nyaris akan masuk kembali.

"Tunggu." Cegahku sambil menahan tangannya. Aktivitas yang slalu aku lakukan beberapa hari ini jika aku menemuinya. Aku pikir hari ini aku menemukan sedikit harapan jikalau laki-laki itu akan memberitahuku. Memberitahu keberadaan permaisuriku. "Aku mohon, aku mohon pertemukan ia denganku." Melasku. Aku tidak peduli siapa diriku yang sebenarnya. Siapa diriku yang adalah Choi Siwon si pemilik perusahaan Everlasting yang memiliki banyak cabang di Korea itu. Saat ini aku hanyalah Siwon yang memendam banyak rasa bersalah terhadap seorang namja yang sejak dulu dicintainya.

"Sudah berapa kali aku katakan. Aku tak akan mempertemukanmu dengan Kibum! Aku takkan memberitahukan dia ada dimana! Bukankah kau yang paling tahu? Kau yang berusaha membunuhnya 2 kali, apakah tidak ada yang membuat ia lebih trauma daripada itu, hah?" tidak ada nada marah dalam kata-katanya. Tapi aku tahu, pria ini membenciku, ya, semua orang pasti membenciku akan hal ini.

"Maka dari itu... Kumohon!" kulepas genggamanku pada tangannya dan tak segan-segan, tanpa malu, aku bersujud dikakinya. Tak ada yang lebih tahu keberadaan Kibum selain laki-laki ini. Aku tidak peduli, yang terpenting sekarang adalah aku bisa menemukannya! Aku bisa melihatnya lagi!

Snow White ku...

"O-Oi, apa yang kau lakukan!" Pria bernama Shindong itu mulai salah tingkah ketika orang yang berlalu lalang dan keluar-masuk pub melihat adegan ini, dan yang mungkin kebanyakan dari mereka tidak mengenal wajah sipemilik perusahaan besar Everlasting.

"Aku mohon, aku hanya ingin minta maaf padanya! Aku amat menyesal! Aku sangat amat menyesal, kumohon, pertemukan aku dengannya! Aku berjanji tidak akan menyakitinya!" suaraku semakin berat karena aku tahu, aku sendiri hampir ingin menangis betapa besar dosa yang kuperbuat terhadap namja polos itu. Aku memang bodoh saat itu lebih memilih menikah bersama Yunhi yang sudah memiliki anak bernama Jung Yunho, belum lagi aku dan Yunhi juga menghasilkan anak bernama Choi Minho. Bodohnya aku... padahal aku jelas tahu Yunhi hanya menginginkan kekayaanku, dan aku juga tidak tahu kenapa saat itu lebih memilih meneruskan perusahaan dan lebih memilih di akui oleh keluarga, dengan mengorbankan Kibum... mengorbankan cinta sejatiku... tak ada yang lebih membuatku menyesal selain hari pernikahanku...

Kurasakan Shindong hanya terdiam cemas. Tak tahu harus berbuat apa dengan diriku yang masih kuat bersujud, satu-satunya cara terakhirku untuk bertemu dengannya hanyalah ini, tak ada yang lebih memalukan selain bersujud terhadap orang lain, kumohon, kumohon, cara ini adalah penyelesaiannya!

"Su-sudahlah Siwon-ssi... jangan seperti ini... ba-baiklah, aku akan mempertemukanmu dengannya..."

"SUNGGUH?!" Aku langsung beranjak. Aku tak tahu bagaimana air mukaku saat ini, yang pasti aku senang sekali mendengar bisikan kecil pria gendut itu.

"Y-Ya, Sungguh! Tapi jangan harap kau bisa berduaan dengannya! Karena aku tak tahu kapan kau akan menyakitinya lagi! Aku takkan segan-segan membunuhmu, Siwon-ssi." Ancamnya.

"Oh, Ayolah. Percaya padaku, aku takkan menyakitinya. Aku juga amat sangat menyayanginya seperti dirimu. Aku senang sekali! Terima kasih, terima kasih Tuan Shin!" Aku menjabat tangannya dengan antusias. Sepertinya Tuan Shin mulai percaya padaku dan menjanjikan untuk menemuinya sore hari nanti, aku akan diajaknya kerumahnya, untuk menemui Kibum-ku tercinta...

0o0

Sore menjelang. Entah kenapa, perjalanan yang cukup jauh tak terasa bagiku hingga saat ini kami sudah berada didepan rumah yang terlihat sejuk. Ya, rumah ini tak sebesar rumah milikku, tapi aku yakin, kesejukkan rumah ini karena ada seorang putri salju yang tinggal disana.

"Aku tidak tahu apa yang kulakukan benar atau salah, tapi sekali lagi, aku tidak menerima jika kau menyakiti Kibum barang seujung jaripun." Ungkap Tuan Shin yang masih ragu untuk membuka pintu rumah itu.

Aku hanya terdiam dengan wajah yang antusias. Rasanya berdebar-debar dan darahku mulai bergejolak, aku masih tidak percaya bahwa Kibum-ku masih berada didunia ini, aku rasanya ingin menangis jika aku masih diberi kesempatan untuk memeluknya. Aku juga tahu betul Kibum pasti takkan mudah untuk memaafkanku, bahkan aku sampai sempat terhanyut dengan namja bernama Kim Jaejoong yang beberapa hari lalu sempat kutolong.

Bagiku, tak ada yang lebih cantik daripada Kibum-ku seorang, sampai tuapun, ia akan tetap terlihat cantik dimataku...

Pintu berwarna merah itu mulai terbuka, rasa berdebar semakin menjadi, kulihat namja berkulit seputih salju dan berambut hitam pekat yang tadinya terduduk mulai tersenyum melihat kedatangan tuan gemuk yang berada lurus didepanku.

"Selamat datang, Tuan Shin." Agh, suara yang kurindukan itu sempat membuatku terdiam ditempatku. Kulihat tubuh gumpal yang ada didepanku mulai berjalan canggung. Bahkan aku tak tahu saat wajah senyum itu mulai terlihat syok ketika kami saling bertatap. "Tu-Tuan Shin! APA-APAAN INI?!" Tanyanya yang masih tak percaya dengan nada yang cukup tinggi.

"A-anu, begini, Kibum..." Bahkan Tuan Shin sepertinya tak tahu harus memberikan alasan apa melihat Bummie-ku semarah itu.

"KELUAR!" Teriaknya yang dengan jelas-jelas mengusirku. Aku yang benar-benar tak percaya bisa melihat dan mendengarnya lagi tak menggubris titah itu.

Aku benar-benar tak kuasa...

Rasanya aku benar-benar ingin menangis...

Melihat namja yang masih tetap cantik seperti dulu...

Kulihat dengan jelas ia dengan marahnya dan terburu-buru menghampiriku, mungkin dia akan menyeretku keluar dengan sangat paksa. Namun, saat lengan mungil yang menggenggam kasar jas lenganku, tanpa sadar, tanpa aba-aba, tanpa menunggu kemarahannya yang masih memanas, aku menariknya, menariknya kedalam pelukkan...

Wangi tubuh dan rambutnya...

Badan mungil yang meronta-ronta...

Dan tangan-tangan kecil yang dengan sangat antusias memukul-mukulku...

Ah...

Aku merindukanmu...

Aku merindukanmu, Bummie...

"LEPASKAN AKU!" Teriaknya bahkan tanpa sadar mulai menangis, badannya meronta namun menggigil berada dalam segala lingkaran tanganku. Dan entah kenapa Tuan berbadan gemuk itu juga tak memisahkanku dengannya. Mungkin, ia mengerti akan ketulusanku.

"Maafkan aku, Bummie..." Suaraku terdengar berat, membisik dan melirih, ya, akupun tak kuasa untuk meneteskan airmataku, tak peduli seberapa sakit ia memukul dan melukaiku, itu tidak lebih sakit daripada lukanya akan segala dosaku, aku benar-benar orang paling bodoh yang ada didunia ini, orang paling tidak tahu diri saat kurasa Kibum terdiam karena satu baris kalimat itu. "Aku mohon, maafkan aku..." dengan sedikit terisak, aku kembali mengucapkan rasa penyeselanku.

Namun, sesaat terdiam, kini ia mulai kembali meronta dan marah bahkan dengan seenaknya dia menggores-gores leherku, menjambak rambutku dan pukulannya semakin kencang, aku tahu takkan mudah namja ini memaafkanku...

"KAU KEJAM, HYUNG! KAU JAHAT! AKU BELUM BISA MEMBUNUHMU! AKU BENAR-BENAR INGIN MENGHANCURKANMU! AKU! Aku..." Nada kemarahannya berubah menjadi tangis pilu, tangis yang rentan, begitu rapuh meski itu membuat aku memeluknya lebih erat, tak ada penolakkan darinya yang dengan pasrah memilih berobat dalam pelukkannya, meraung-raung, membuat aku seperti orang yang benar-benar paling berdosa untukknya. "Padahal kau tahu... padahal kau mengerti betapa aku hancur saat itu... padahal kau tahu bagaimana aku membencimu.. bagaimana aku ingin menghancurkanmu juga..." Isaknya pilu.

"Maafkan aku, aku minta maaf, Bummie... aku takkan menyakitimu lagi... aku takkan meninggalkanmu lagi..." ungkapku ikut terisak, memeluknya erat dan membenamkan wajahku disela-sela rambut hitamnya. Tak ada yang lebih kucintai selain mencintainya.

Dan dengan sadar, aku merasakan tangan kecilnya mulai melingar dan mencengkram erat jas dipunggungku. Aku bahkan sampai melotot tak percaya dia membalas pelukkanku.

"Aku mencintaimu... hiks, hyung... aku menunggumu..." Paraunya. Mendengar itu, air mata lagi-lagi mengucur dari mataku. Bagaimana bisa aku meninggalkan namja yang begitu baik hati ini, aku bahkan tak mengharapkan ia masih mencintaiku... tapi ini, lebih daripada kebahagiaan yang slalu aku impikan.

Dan jauh dibelakang Kibum, aku juga sempat melihat Tuan Shin bercucuran air mata, ya, suasana haru biru ini bahkan sudah tak kuasa ingin kukenang slamanya.

Aku berjanji takkan meninggalkanmu lagi, Bummie...

0o0

"Ish..." Kibum meringis pelan saat aku dan tuan Shin membaringkan tubuhnya di kasur kamarnya. Aku masih tidak sadar kalau ia mengalami cedera dibagian punggungnya baru-baru ini.

"Aku buatkan kompres dulu." Ungkap Tuan Shin tergesa-gesa sambil meninggalkan ruang ini. Meninggalkan hanya aku dengannya.

"Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanyaku cemas. Aku takut luka di punggungnya adalah luka yang tak dapat disembuhkan. Entah bagaimana ekspresiku saat ini, yang pasti dengan lembut aku amat sangat mencemaskannya.

"Tidak apa, hyung. Jangan khawatir, luka ini dapat sembuh kok, aku hanya perlu beristirahat seminggu ini dan dokternya juga rutin menjenguk kesini." Senyum simpul tersirat diwajahnya. Membuat hatiku sedikit tenang, tapi aku masih belum puas, aku ingin tahu bagaimana detail kejadian sampai bisa ada orang yang melukai Bummie-ku !

"Tapi, bagaimana bisa kau mendapat luka ini?" Ungkapku sambil mengusap pelan punggung yang cedera itu. Namun, tiba-tiba air muka Kibum melirih, membuat aku mengerutkan alisku dan semakin penasaran. "Ada apa, Bummie? Kalau berat menceritakannya, ya aku tidak apa."

"Sebenarnya... aku tidak tahu harus bagaimana lagi bisa menolongnya..." Ucapnya sedikit membisik, membuatku tak yakin apa yang sedang diucapnya dengan wajah yang berpaling dariku itu. "Aku tidak tahu bagaimana menolongnya, hyung!" kini wajah itu menatapku. Bahkan, air mata mulai bergulir jatuh.

Apa maksudnya? Menolong siapa? Aku hanya bisa terdiam kebingungan dengan tak ada kata-kata dari mulutku.

"Ah! Aku mengerti! Satu-satunya cara adalah dengan minta tolong padamu! Dengan menceritakan semua padamu!"

"Kibum... apa yang kau katakan?!" aku berusaha menenangkannya dengan mengguncang sedikit pundaknya. Lalu sejenak, iapun terdiam, kembali melirih.

"Apa hyung, mau mendengarkannya? Apa hyung mau menolongnya?"

"Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi paling tidak, aku ingin dengar alasan mengapa sampai kau seperti ini!"

"Begini... hyung pasti tahu kan, siapa Jae Joong?"

"Ah! Ya! Kim Jaejoong!" aku mengangguk-angguk merespon ceritanya.

"Tempo hari, aku melihat ia berlari disekitar lingkungan ini. Sudah lama ia tidak datang ke bar, semua mengkhawatirkannya, ah, tepatnya semua temanku. Saat aku bertemu denganmu pun, semua temanku sudah tidak datang bekerja lagi."

Aku masih mengerutkan alisku berusaha mencerna apa yang sedang diceritakannya, intinya, aku mengetahui kalau Jae Joong sudah pasti temannya.

"Dan kau pasti tahu, Choi Yunho?"

Aku sedikit kaget dengan nama yang terucap dari bibirnya. Apa pula anak itu masuk dalam cerita ini?

"Se-sebenarnya, aku masih belum mengerti..." ungkapku gelagapan, apa Kibum punya hubungan khusus dengan Yunho anak tiriku?

"Baiklah, aku akan menceritakan dari awal..." Kibum sedikit mendengus. Mungkin ia tahu mau tak mau cerita ini memang harus berawal dari awal mulanya agar aku bisa mengerti. "Seperti yang hyung tahu, setelah kejadian di Jurang itu—"

"Ah! Aku minta maaf Bummie." Sontak aku langsung memotong pembicaraannya dan bermuka lirih. Kibum hanya mendengus dan lalu mengusap pipiku lembut.

"Ya, tidak apa, hyung." Senyumnya. Ah, betapa baiknya ia ... akupun lalu menggengam tangan mungil yang masih setia menapaki pipiku itu dan tersenyum. "Ya, setelah kejadian itu, entah bagaimana, Tuan Shin yang menolongku. Lalu akupun hidup bersamanya, sudah seperti ayahku sendiri." Ia mulai kembali bercerita. "Dan meski aku tahu ia adalah pemilik bar yang seperti itu, aku tetap ingin bekerja disana."

"Ja-jadi kau juga..." AKU SHOCK! Aku takut ada orang lain yang menjamah Kibum selain diriku!

"Aish, tunggu dulu hyung, dengarkan ceritaku dulu." Ungkapnya berusaha menenangkan amarah dan kesedihanku. Akupun berusaha tenang, semoga tidak ada cerita yang membuatku sakit hati. "Kau tahu, aku memang sangat keras kepala, Tuan Shin bahkan mencegahku, berulang-ulang agar aku tak sedikitpun menyentuh Bar. Dan tapi apa daya, akhirnya akupun bekerja, akupun menjadi pegawai, bahkan tak ada pekerjaan yang bisa kulakukan. Kau tahu, pekerjaan disana adalah menjual diri ini, tapi Tuan Shin melarang aku keluar dari ruangan yang khusus ia buat untukku yang ia anggap aku hanya bermain-main dengan pekerjaan ini. Aku tahu ia sangat sayang padaku. Dan karena itulah, banyak pegawai yang sirik padaku bahkan berani untuk melukaiku. Tapi, tidak dengan mereka..."

Aku menyimak dengan seksama. Cukup pilu juga mendengar ia harus terjebak dengan sekeliling yang seperti itu.

"Heechul-hyung, Yoochun-hyung dan Jae-Hyung. Mereka membelaku, mereka menyayangiku dan mau berteman denganku. Dari mereka, Heechul-hyung yang paling banyak ditiduri bahkan merupakan pegawai favorit di Bar, Yoochun-hyung dari awal masuk bekerja, hanya satu pelanggan yang membookingnya, dan Jae-hyung, ia tidak menjual dirinya, Tuan Shin mengerti keadaannya yang membutuhkan uang namun tidak mau bekerja seperti itu, tapi mau bagaimana lagi? Hanya pekerjaan ini yang Tuan Shin punya, sepertinya keluarga Jae-hyung tidak mampu. Ia bekerja di bar tapi hanya menjual ciuman." Jelasnya panjang lebar. Aku hanya mengangguk-angguk mengerti dengan dunia seperti itu, ya, karena saat aku muda, aku memang nakal dan menjadi pelanggan rutin di tempat-tempat seperti itu."Aku dengar juga, selain di Bar, Jae-hyung bekerja di kedai kopi pada siang harinya, aku tidak tahu itu..."

"Oh ya! Kedai kopi, aku pernah mengantarkannya sekali kesana." Jawabku mengingat-ingat pertemuan pertama dengan namja yang seperti boneka itu.

"ck." Aku tidak tahu kalau Bummie mendecak. Apakah ia cemburu, eoh? Aku malah jadi ingin tertawa melihat tingkah imutnya itu.

"Ya, begitulah ceritanya. Tapi, suatu ketika, ibunya harus dirawat dirumah sakit, dan saat itu Jae-hyung membutuhkan banyak uang. Meski kami sudah mencegah agar Jae-hyung tidak melakukan pekerjaan di pub, bahkan Heechul-hyung dengan rela meminjamkan uangnya, Jae-hyung keras kepala akan melakukan pekerjaan menjual dirinya, dan—" kudengar Bummie sedikit menghela nafas. "Naasnya, pelanggan pertamanya adalah Choi Yunho, dan sepertinya ia tidak cukup lembut melakukannya, bahkan setelah bermalam bersamanya, keadaan Jae-hyung cukup mengerikan, dan sepertinya, Choi Yunho saja sudah membuat ia trauma."

"sialan. Anak itu." Kesalku.

"Meski Jae-hyung sudah berhenti dari pekerjaan pub, dan kembali bekerja seperti biasa, namun keegoisan Yunho yang sepertinya menggilai Jae-hyung membuat Jae-hyung harus kabur kesana-kemari, dan entah kenapa, mereka yang tak bekerja tempo hari aku malah melihat Jae-hyung berlarian dilingkungan sini, dan yang paling membuatku kaget yang mengejarnya adalah Yunho. Sepertinya, Jae-hyung sempat disekap disuatu tempat olehnya."

Aku berpikir aku baru ingat, kami memiliki villa di lingkungan sini, sialan anak itu, bisa-bisanya...

"Akupun tanpa berpikir mengejarnya, dan yang paling sedih kulihat, Yunho dengan memaksa menyetubuhinya hyung, tepat di depan mataku...hiks." kini kulihat Bummie mulai menangis kecil. "Aku ada disana tapi aku tak tahu bagaimana cara menolongnya, aku takkan lupa wajahnya yang meminta tolong padaku, wajahnya yang begitu terlihat sedih... dan ketika aku mau pergi untuk mencari pertolongan saat itu bahuku dipukul dengan benda keras yang kutahu oleh Yoochun-hyung yang entah kenapa memihak Yunho. Hyuung..." Kibum memelukku. Akupun mengusap kepalanya pelan, tak tahu akan berbuat apa selain menemukan Jung Yunho dan memukulnya. "Sekarang, Jae-hyung sudah aman. Tapi, ia masih takut untuk keluar, karena yang kami tahu, Yunho masih mencarinya, Hyung, kumohon, tolonglah ia, tolonglah bilang pada Yunho untuk menyerah akannya, kasihan Jae-hyung..." Isaknya.

Akupun berusaha menenangkannya dalam pelukku. "Baiklah, Bummie, kuusahakan untuk membuatnya mengerti, kau tenanglah.." Ucapku.

0o0

Aku masuk kedalam lamborghini hitam yang sedari tadi setia berada disana, didepan rumah snow whiteku. Aku tak menyuruh supir untuk langsung meninggalkan tempat ini. Aku merebahkan punggungku sejenak di kursi yang empuk dan nyaman yang slalu menemaniku kemanapun. Aku membuang nafas, lelah juga mendengar detail cerita yang tak tahu bagaimana ujungnya apalagi harus aku yang menentukan itu.

Berbicara pada Yunho? Haisssh, melihatnya saja rasanya aku tidak mau. Selain anak tiriku, anak dari Yunhi yang hanya menginginkan hartaku, dan sifat pembangkangnya, tak ada yang lebih menyebalkan dalam hidupku selain berurusan dengannya !

Ah! Tapi ini menyangkut Kim JaeJoong, namja yang benar-benar harus ditolong, lagipula, bagaimana bisa aku tak emosi berbicara dengannya, aku bahkan bisa menggunakan komunikasi tangan menghadapi namja itu. Kibumku ada-ada saja menginginkan aku bicara baik-baik dengannya...

Paling tidak aku harus mengadakan pertemuan dulu dengannya. Lalu, aku mengambil ponsel yang ada disaku jasku da memanggil nomor handphonenya.

Tut...

Lama sekali bocah ini mengangkatnya! Batinku kesal. Bagaimana bisa aku bicara dengannya jika ditelpon saja namja itu tak mau!

"Ya?" kudengar nada malas mulai menyeruak ditelingaku.

"Aku ingin bertemu denganmu, aku ingin bicara." Jawabku tak kalah malas.

"Apalagi?! Kenapa kau slalu sesukanya, hah!" yang diseberang malah kesal. Jelas sekali kalau dia malas bertemu denganku. Hmm, bagaimana cara aku mengancamnya ya?

"Pokoknya kau datang saja! Ini sangat penting! Ini bukan menyangkut keluarga, perusahaan atau lainnya! Ini menyangkut perbuatanmu dengan berada di bar milik seorang bernama Tuan Shin!" Perintahku. Kudengar hening diseberang sana, aku yakin dia pasti kaget mengapa aku tahu tentang kesehariannya. "Pastikan kau datang malam ini di rumah!" ancamku dan langsung menutup teleponku.

Lalu, baru beberapa detik, ponselku berdering lagi. Kali ini, panggilan dari anak bungsuku.

"Ya? Ada apa Minho?" rasanya malas juga bicara pada anak-anakku. Yunho yang sangat cuek dengan segala titahku dan Minho yang nakal hanya menelepon dengan menagih uang jajannya. Biasanya...

"Appa, aku ingin bertemu, ada yang ingin aku bicarakan." Aku mengerutkan alisku. Kali ini anak ini, ada apa ya? Kenapa rasanya hari-hariku agak kacau dan aku berperan penting seperti ini ketika sudah bertemu Bummieku lagi.

"Ah ya! Baiklah, malam ini kita bisa bicara diruang tamu rumah." Ungkapku.

"Baiklah. Aku sedang dirumah, aku tunggu." Ucapnya lagi sambil menutup panggilan dari sana.

Haissh, aku akan menghadapi kedua anak laki-lakiku malam ini, semoga aku bisa menjadi seorang appa yang bijaksana seperti yang diharapkan Kibum hari ini!

0o0

Suasana masih hening. Malam ini aku, Yunho dan Minho sudah duduk disofa masing-masing sendirian, kulihat juga ada namja yang berdiri dibelakang sofa Yunho. Aku bingung harus bicara mulai darimana, dan yang sepertinya kulihat, Minho dan Yunho sepertinya tidak akur untuk berada disatu ruangan. Terlihat jelas diparas mereka yang sama-sama berpaling, bahkan terhadapku.

Untuk memulai percakapan, aku melirik namja yang berdiri dengan muka stoic di ruangan ini. "Kau? Yoochun-ssi, nde?" tanyaku membenarkan.

"A-Ah! Ya!" nampak namja itu cukup tertegun tahu-tahu aku malah menyeretnya dalam permulaan percakapan ini. Terima kasih padanya, cerita Kibum memang kebenaran bahwa namja ini adalah yang menyakitinya.

"Sudah kuduga, dengan adanya Yoochun, kau pasti tidak mungkin tidak tahu dengan bar milik Tuan Shin." Ungkapku sambil menghela nafas.

"Aish, jinjja? Aku tahu kau akan membahas hal ini tapi kenapa kau sampai membawa dia kepertemuan kita?" Yunho mendecak sambil melirik Minho yang ada dalam pertemuan.

"Sudahlah. Diapun adikmu, dia juga harus tahu apa yang kakaknya perbuat." Titahku. Yunho hanya membanting tubuhnya kesandaran sofa dengan masih kesal. Dan nampaknya, Minho masih dengan tenang mendengar pembicaraan yang mungkin masih tidak ia mengerti.

"Baiklah, kita mulai saja pada intinya." Ungkapku mulai pada pembicaraan mengenai masalah Yunho, aku yakin Minho pasti bisa bersabar dengan segala yang akan ia bicarakan padaku. "Ini menyangkut Kim Jaejoong."

Yunho langsung menoleh telak padaku, dan kini raut Minho mulai memancarkan kerutan didahi dan alisnya. Akupun sedikit cengok melihat reaksi mereka berdua, hey! Kalau Yunho sih aku tahu, tapi dengan mimik Minho? Apakah ia juga tahu bar dan mengenal Kim Jaejoong?!

"Bagaimana bisa kau sampai tahu mengenai salah seorang namja yang ada disana!" Yunho tambah berapi-api menghadapi permasalahan ini. Bahkan air muka Yoochun sudah tak bisa mempertahankan ke-stoic-annya.

"Yoochun-ssi, kau pasti tahu Kibum?" Yoochun dengan cepat langsung mengangguk. "Terima kasih karena dirimu, aku jadi tahu bagaimana keadaan Kibumku." Ungkapku dengan senyum miris.

"A-Ano, apakah ia baik-baik saja?" Tanyanya takut-takut. Ia pasti tahu kalau ia yang memukul Kibum saat itu.

"Ya, dia baik-baik saja. Hanya cedera, tapi ia tidak marah padamu, dia bahkan berterimakasih padamu karena sudah menyelamatkan Jaejoong dari anakku."

Yunho kembali mendesis dengan sejauh apa yang kutahu tentangnya. Ia bahkan tidak ingin percaya bahwa pertemuannya dengan Kibum bisa berdampak seperti ini.

"Aku jadi curiga, jangan-jangan kau juga pelanggan namja bernama Kibum itu di bar Tuan Shin." Kini Yunho mulai mencari kelemahanku. Tapi aku tidak takut, sekalipun Yunhi mengetahui dan keluargaku mengetahui, aku tidak akan meninggalkan Kibum lagi yang merupakan sumber kebahagiaanku!

"Asal kau tahu saja, Jung Yunho-ya. Aku sudah lama mengenal Kibum sebelum adanya bar Tuan Shin, bahkan mengenalmu dan Yunhi." Jawabku menyindir sikap yang tak kusukai itu. Yunho membelalakan matanya dan terlihat menggertakan gigi padaku.

"Hee? Bagaimana bisa semua jadi terkait sampai seperti ini?" kini pandangan kebencianku dan Yunho terinterupsi karena desisan seorang Minho.

"Apa maksudmu?" tanyaku. Takut-takut Minho juga bergelung dalam dunia itu.

"Kim Jaejoong itu, apakah seorang mahasiswa di Tohoshinki?" Minho balik bertanya.

"Sepertinya begitu." Ungkapku. Ya, kudengar ada seorang Kim yang mendapat beasiswa di universitas sehebat itu. Tidak lain pasti si Miskin Kim dan tentu saja pasti itu Jaejoong.

"Haa, tentu aku tahu namja berparas boneka itu." Minho mengangguk mengerti. "Tak kusangka ia bekerja di bar juga."

"Kau mengenalnya, Minho?" tanyaku benar-benar takut.

"Tidak, aku hanya tahu dia. Lebih tepatnya, aku sekelas dengan adiknya, Kim Taemin. Yang sepertinya, sama dengan kakakku, akupun mencintai laki-laki itu dan membayarnya untuk mendapatkan tubuhnya." Ucapnya tanpa rasa bersalah.

Aku langsung beranjak dari dudukku dan mencengkram kemeja didadanya dan tanpa ragu membogem pipinya. "Sialan kau! Bagaimana bisa kau sampai seperti itu, hah!" ucapku marah, Minho hanya terdiam sambil menghapus darah yang keluar dari sela bibirnya.

Bagaimana bisa aku menghadapi anak-anakku dengan bijaksana dan cara bersabar, Kibum?! Aku bahkan kaget mendengar anak yang kupikir hanya nakal biasa sampai seperti ini?!

"Wah, pertunjukkan yang cukup bagus." Yunho malah tersenyum melihat bagian ini.

"Diam kau, brengsek! Aku juga masih belum selesai denganmu!" ancamku sambil mendeathglarenya.

"Ya~ ya~ terserah kau saja." Ungkap Yunho yang rasanya puas dengan keadaan Minho sekarang. Bagaimana bisa kedua kakak beradik ini tidak akur sampai senang jika salah satunya ada yang kusiksa seperti ini?!

"Benar kata dia. Ini memang pertunjukkan yang bagus." Dengus Minho sambil kembali beranjak. "Seumur hidupku, aku belum pernah merasakan pukulan dari appa kandungku sendiri." Ungkapnya dengan seringaian sok dewasa. Bagaimana bisa dia mencari perhatianku dengan mengharap sebuah pukulan? Kau anak kandungku dan tak kupercaya bisa-bisanya ia menyelewengkan uangnya demi hal-hal seperti itu?!

"Katakan padaku! Kim Taemin itu seorang namja, kan! Apakah menidurinya, hah?! Apa kau melakukan hal-hal seperti itu hah?!" rasanya kesabaranku benar-benar sudah putus. Sudah dengan Kim Jaejoong yang disiksa Yunho, bahkan adiknya pun disiksa anak bungsuku?!

"Sudah! Beberapa kali! Dan benar firasatmu, appa. Taemin tidak menginginkan itu semua, aku memaksanya dan menggodanya dengan uang karena ummanya sakit. Dan ini semua, mau tak mau karena akupun adalah jelas-jelas adalah keturunanmu!"

Aku melepas segala emosiku. Tak tahu harus bersikap marah seperti apa, benar kata Minho, semua terkait setelah kejadian Nyonya Kim masuk rumah sakit semua ini bermula.

"Taemin hanya tahu kalau kakaknya bekerja paruh waktu disebuah kedai, mungkin sama sepertiku, ia tak tahu kalau kakaknya bekerja di tempat seperti itu!"

"Disebuah kedai?" Kini Yunho yang mulai tidak mengerti. Biarkan aku menjelaskan segalanya, biarkan aku menceritakan segalanya.

"Minho, kau kembalilah duduk, kita bicarakan ini baik-baik, maafkan aku." Ungkapku sambil menahan segala sifat burukku dan kembali duduk. "Aku pernah bertemu Jaejoong, dan mengantarnya kesebuah kedai coffee yang katanya ia bekerja disana."

"Ya! Aku tahu aku pernah melihatmu di kedai coffee tempat Changmin bekerja." Ucap Yunho mengerti.

"Changmin?" kini Minho yang baru tahu kalau Changmin bekerja di tempat yang sama.

"Eh?" Yunho baru sadar, berarti mau tak mau Changmin rekannya bernama Max itu pasti mengenal Jaejoong bukan? Ah, pantas saja saat itu Changmin memukulnya.

"Heh, semua benar-benar diluar dugaan." Desis Minho yang semakin lama semua kenalan mereka satu persatu terkait dan mengenal sesama lain tanpa mereka tahu.

"Ya, bagaimanapun itu, semua terasa jelas, baik aku, Yunho maupun Minho, semua tahu bagaimana keadaan keluarga Kim." Desisku. Aku bahkan tak tahu harus bersikap bagaimana lagi untuk menyelesaikan masalah ini. Rasanya, aku dengan jelas menganggap Kibumku begitu tega menyerahkan ujung cerita ini padaku. "Yang kuminta saat ini adalah..." Aku sedikit menghela nafas. "Kumohon agar kalian mau melakukannya." Desahku lagi.

Kini wajah Yunho dan Minho terlihat serius dan dengan tenang dan seksama mencerna segala kata-kataku nanti. Namun, aku juga bisa melihat tersirat kehampaan dan kesedihan dari bola mata mereka. Ada apa?

"Yunho, aku tahu kau masih mencari Jaejoong. Tapi aku mohon, biarkan dia tenang sejenak, kudengar dari Kibum, yang Kibum juga hanya mendengar kabar burung, kalau saat ini, Jaejoong baik-baik saja, tapi, ia masih trauma untuk menikmati kehidupan luar hanya karenamu. Kumohon, jangan mencemarkan nama Choi lebih daripada ini." Pintaku dengan wajah melas dan tak tahu harus bagaimana, kuharap, kali ini saja ia tidak membangkang padaku.

"Ya, aku mengerti." Ucapnya miris. Aku sampai sontak mendengar nada menurutnya itu. "Lagipula, namja bernama Kibum itu juga mungkin salah dengar, sejak kemarin aku sudah menyerah mencarinya, ini memang kesalahanku bermain dengan penderitaan seseorang."

He? Aku tidak tahu kalau anak ini bisa sedewasa ini? Rasanya, baru kali ini aku bangga padanya.

"Hanya itu saja yang ingin kau katakan? Jangan khawatirkan tentang Jaejoong, aku takkan menghantuinya lagi." Ucapnya sambil beranjak akan pergi.

"Tunggu, Yunho." Cegahku. Membuat ia menghentikkan langkahnya. "Baru kali ini aku senang padamu, ini benar-benar masalah serius yang aku pikir kau tak mau mendengarkannya, tapi aku berterima kasih kau mau memikirkan hal ini. Jika kau ingin mendapatkan cinta, biarkan ia mengalir, jangan memaksanya" saranku.

"Ya~ dan aku juga sudah berhenti dengan segala nyanyian, aku akan menenangkan diri di villaku, dan Yoochun akan tinggal disana untuk sementara. Aku juga harus merilekskan tubuhku. Oh ya, appa, aku juga mundur untuk jadi pewarismu, Jaa~"

Kini punggung besar dan namja yang bersamanya meninggalkan ruang ini. Akhirnya anak itu sudah tidak labil lagi, dan dia juga baik pada orang lain seperti Yoochun, aku harap, Yoochun tidak dimacam-macami olehnya, dan aku juga pikir memang dia butuh untuk menenangkan diri dan... tunggu... "HEEE?!" Aku mulai sadar dengan kalimat terakhir, kalau Yunho tidak mau menjadi pewaris, aku harus bagaimana? Aku tidak mau terselubung dengan kesibukkan perusahaan lagi!

"Tenanglah, appa." Kudengar seseorang mulai membuyarkan kebingunganku.

"Ah, benar! kau Minho! Aku harap kau—"

"Aku sudah tidak berhubungan lagi dengan Taemin." Aku terdiam dengan ucapan lirihnya yang memotong pembicaraanku. "Sudah kuduga, Yunho pasti akan meninggalkan ini, maka dari itu, ini yang ingin kubicarakan." Kini ia mulai menatap serius padaku. "Aku akan kuliah diluar Negeri dan mendalami segala tentang perusahaan, kumohon appa, serahkan semua padaku, aku akan berjanji untuk membanggakan appa dan umma!" pintanya.

Aku langsung tertembak terenyuh. Ah, anak kecil ini sudah beranjak dewasa sekarang! Bagaimana bisa ia menginginkan mengurus segala rumitnya perusahaan yang bahkan aku sendiri ingin meninggalkannya. Apa semua karena kurangnya kasih sayangku dan Yunhi pada anak kandung kami ini? Atau karena kesakitan yang diberikan Taemin yang mengubahnya? Apapun itu, aku bangga melihat Minho seperti ini.

"Tapi, apa kau yakin? Aku sebenarnya tak ingin membebanimu dengan urusan seberat ini." Aku juga tidak bisa main pindah tangan begitu saja.

"Aku yakin appa! Kumohon percayalah, padaku! Aku tidak main-main! Aku ingin menjadi satu-satunya pewaris sah atas segala kekayaan Choi!" ungkapnya serius. Ya, dia memang seharusnya satu-satunya penyandang keturunan Choi, bukan Yunho. Kenapa aku baru menyadari ini?

"Minhoooooo~" Suara isakan terdengar memasuki ruang ini dan kulihat Yunhi mulai menghambur memeluk Minho. "Bagaimana bisa kau yang masih hijau ini mengambil semua beban berat keluarga ini? Umma tidak tega kau harus memikul semuanya, maafkan kesalahan umma yang tidak memperhatikanmu tapi umma mohon jangan senekat ini! Umma tidak peduli lagi dengan warisan ayahmu atau apapun itu! Umma juga sayang padamu! Umma tidak ingin kau meninggalkan umma bertahun-tahun demi hidup diluar negeri sana."

Kulihat Yunhi yang terisak pilu dan ucapan tulus menyayangi Minho itu dengan wajah yang juga ingin menangis. Ah, bagaimana bisa keluargaku seberantakan dan selesai dengan cara seperti ini?

"Tidak apa umma. Aku menyayangi umma juga. Aku berbuat begini karena ingin membanggakan umma. Aku tidak peduli dengan umma yang gila harta atau apapun, aku benar-benar sayang umma, umma yang melahirkan aku dan Yunho-hyung, aku berjanji akan menjaga pola pikir dan kesehatanku disana, umma percayalah."

Aku yang tak kuasa melihat adegan haru ini mulai beranjak meninggalkan ruangan. Bagaimanapun juga, aku tidak tahu rasanya menjadi seorang ibu seperti Yunhi yang pasti amat menyayangi kedua namjanya itu...

0o0

Hujan rintik-rintik tak kuindahkan dan berlari-lari kecil kearah trotoar seberang, tidak sabar melihat sosok yang menunggu di belokan belakangnya. Dan tanpa melepas senyum, aku tetap jalan ditempat menunggu lampu berwarna hijau itu mulai merah.

He? Kenapa aku berlari-lari?

Ya, hari ini aku pergi dengan mobil pribadiku dan kubawa sendiri, kuparkirkan ia di tempat parkir yang memang ada di seberang tempat kami bertemu. Ya, hari ini aku kencan dengan Bummie-ku! Ah, senangnya~

Ketika kulihat dalam sedikit remangan air, lampu lalu lintas sudah mulai merah dan semua orang yang ada disamping dan belakangku mulai menyebrang, akupun ikutan menyeberang dan sampai di trotoar seberang, berbelok, lalu, kulihat tubuh mungil dengan kulit yang semakin putih memucat efek kedinginan itu berdiri disana.

"Hyung." Senyumnya ketika ia mendapati sosokku.

"Aigo, kau lama menunggu? Kenapa kau tak berpayung dan berpakaian seperti ini?" ungkapku buru-buru melepas jaket yang kukenakan dan mungkin akan kebesaran di pakainya, ah, benar saja, kebesaran. Tapi, Kibum tetap menurut untuk kupakaikan bahan kulit berwarna krem itu *jaket yang dipake Siwon di Mv It's You, itu, xixixi*

"Aku tidak tahu kalau hari ini hujan, hyung." Ucapnya. Masih menebar senyuman yang membuat kedua lututku terasa lemah.

"Yasudah, ayo kita masuk kedalam." Ucapku sambil menunjuk restaurant yang memang sudah ada di belakang Kibum, lalu menghabiskan waktu makan disana sambil menunggu hujan reda.

Kami berbincang dan berbincang sambil tersenyum bahkan tertawa, lalu, seperti kekhasanku yang slalu membuat humor dan bercanda dengannya, melihat sederet gigi putih yg dibalut bibir peach dengan rahang terbuka menghadirkan tawa, membuatku begitu merindukannya, aku slalu menatapnya dengan sayu, entah percaya atau tidak bagaimana bisa Kibum yang sudah kusakiti, bisa sebaik dan menerimaku lagi seikhlas ini.

"Oh iya, hyung, ngomong-ngomong, aku menjenguk Jae-hyung dengan tuan Shin, ternyata dia berada di rumah Changmin, teman kerjanya di cafee. Aku senang sekali melihat Jae-hyung sudah bisa tersenyum lagi, tapi ia masih takut untuk keluar, ia ingin rehabilitasi katanya, lucu ya, dengan keadaan seperti itu ia masih bisa bercanda."

"Iya, ketika pulang dari rumahmu, aku juga langsung mengadakan pertemuan dengan Yunho dan Minho." Kibum mengerutkan alis mendengar nama lain yang asing yang keluar dari mulutku. "Ah, dia anakku— anak kandungku dan Yunhi." Aku memelankan suaraku.

"oh." Desis Kibum kecil sambil menyendok makanannya lagi dan menghindari pandanganku, berpura-pura menutupi kecemburuannya.

"— aku juga heran, kenapa Yunho menurut bertemu denganku. Dan aku lihat dari sisi lainnya, sepertinya anak itu sudah agak berubah. Dia bilang, dia angkat tangan akan Jaejoong dan mengurung diri di Villa yang ada di sekitar rumahmu, bersama teman kalian yang bernama Yoochun itu."

"Eh? Kok bisa Yoochun-hyung ikut bersamanya?"

"Sepertinya, Yoochun diusir dari tempat tinggalnya dan menetap sementara di sana, aku juga sudah bilang untuk tidak macam-macam dengan Yoochun, nanti aku akan mengeceknya kesana seminggu sekali."

"Iya iya, harus itu." Balas Kibum sambil mengangguk-angguk.

"Tapi yang paling bikin aku kaget adalah, ternyata anakku Minho juga punya hubungan yang sudah jauh dengan Taemin, yang adiknya Jaejoong itu."

"HEE? KOK BISA?" Kibum tak kalah kaget.

"Maka dari itu, tapi pembicaraan semalam itu Minho ingin agar ia yang jadi penerus segala kekayaan Choi dan dia bilang sudah tidak ada hubungan lagi dengan Taemin.

Kudengar Kibum menghela nafas seperti bersyukur, hei, memang anak-anakku separah itu? Rasanya ingin tertawa melihat kehidupan mereka yang anti Choi itu.

"Sekarang Nyonya Kim sudah sembuh dan di bawa pulang, karena kondisi Jae-hyung, katanya Taemin mulai bekerja di cafee menggantikan kakaknya."

Aku turut bersuka cinta mendengar kehidupan keluarga Kim yang sudah lebih baik. Lalu, kutoleh keluar jendela, hujan juga sudah mulai reda. Lalu, akupun mengajak Kibum untuk jalan-jalan keluar.

0o0

Hari ini sangat membahagiakan, bercanda, tersenyum dan bergandengan bersama namja yang sangat aku cintai.

"Wah, lihat, barang itu lucu ya." Ujar Kibum sambil melongok kearah kaca toko yang sedang kami lewati itu.

"Kau mau?" tanyaku. Aku suka sekali melihat apapun yang dilakukannnya.

"Hee, tidak usah hyung."

"Tidak apa-apa, nanti kubelikan."

"—ano, terserah hyung saja." Ujarnya tersipu malu.

Belum juga melaju satu langkahpun untuk masuk kedalam toko, aku kaget ketika Kibum lepas dari genggamanku.

Aku menoleh dan melihat helaian rambut itu dipegang kasar oleh seorang wanita yang sudah sangat kukenal itu.

"OH! Jadi ini maksudmu? Pantas saja aku heran kau membawa mobilmu sendirian." Ungkap Yeoja itu dengan mata bulat, tersirat kemarahan yang amat sangat, namun, aku lebih khawatir lagi melihat Kibum yang meringis kesakitan itu.

"Yunhi-ya—"

"Jawab! Apa maksudnya ini?! Ha! Dia namja yang menghancurkan keluarga kita, Yeobo!" aku yakin Yunhi masih ingat wajah Kibum yang datang di hari pernikahan saat itu.

"Yunhi— lepaskan Kibum!" ujarku sambil menahan tangan kurusnya dari helaian rambut Kibum.

"Aku tidak akan melepaskannya! Aku benci dia! Dia yang menghancurkan hubungan kita! Cinta kita!" dia kalap dan kini mulai memukul-mukul Kibum dengan tenaganya yang tak ada itu.

"LEPASKAN DIA!" Geramku dan Yunhi dengan syok mulai melemahkan genggamannya, buru-buru aku memeluk Kibum yang sepertinya ikut syok juga itu.

"Yeobo—" kini airmata mulai mengalir dari mata yang penuh make up itu.

"Kau hanya mengincar hartaku! Sejak awal aku tidak menyukaimu Yunhi! Sebelum kau, aku sudah mencintai namja ini! Aku menikah denganmu hanya menuruti keinginan keluargaku! Kau jangan mengharap lebih dariku! Ambil semua hartaku dan jangan pernah ganggu aku dan Kibum!" Ancamku. Yunhi tak bisa berkata-kata dan air mata mulai merembes banyak keluar dari mata itu. Dan dengan tangis pilu, ia meninggalkan kami.

Ketika kulihat sosoknya sudah kurasa tak mengganggu, aku lalu membawa Kibum yang masih menggigil takut dalam pelukku itu kemobil dan pergi meninggalkan daerah ini.

0o0

Hari sudah petang. Kami berdua sekarang ada di sebuah kamar hotel. Seperti pada jadwal kencan yang pada umumnya, harusnya ini adalah malam puncak. Aku memang tak begitu –err, sedikit— mengharapkan hal itu, tapi tergantung Kibum yang masih terdiam menunduk disisi ranjang king size itu.

"Kibum, apakah kau sudah tenang?" Tanyaku lembut, aku agak takut melihat reaksi Kibum yang super diam semenjak dalam perjalanan tadi.

"Hyung—"

Kudengar ia bicara pelan. Akupun lalu mendekatkan telingaku cukup dekat dengannya.

"Apa tidak apa-apa?"

"Maksudmu?" aku membenarkan posisi dudukku sambil memiringkan kepala. Cukup marah juga, hell ya, apakah kita harus berhenti sampai disini hanya karena Yunhi?!

"Yeoja itu istrimu..."

"Bummie!" aku mengusap pipinya dan memaksanya menghadap kearahku. "Kau membuangku, eoh?" melasku. Aku tahu aku memang salah, tapi tidak begini Kibum! Kau membuatku terbang melayang bahagia melakukan segala yang diinginkannya lalu ia menjatuhkanku begitu saja? Ia menyerah? Dan ia akan pergi lagi? Kali ini dengan keinginannya sendiri?

"Ani, hyung. Aku hanya merasa tidak—"

Akupun langsung memaksa menciumnya, melumat bibir yang menolak itu dengan kasar sehingga punggungnya yang tanpa pertahanan itu mulai merebah keatas kasur yang empuk ini.

Ah, rasanya ingin menangis kalau sampai Kibum akan meninggalkanku lagi.

"Hyung!" dia dengan sekuat tenaga melepasku dari dekatnya dan kulihat matanya mulai berair, namun, mata itu lebih kaget ketika setetes demi setetes air jatuh kewajahnya.

Ah, sial. Aku bahkan tidak percaya hatiku begitu melow sehingga aku malah ikutan menangis.

"Kau tahu? Jauh dari hadirnya Yunhi, aku lebih dulu mencintaimu, Kibum."

"Tapi—"

"Aku tahu aku salah, aku mohon jangan menolakku lagi! Aku akan berubah, Kibum-ya!"

"Aku tahu—" Kini ia mulai terisak. "Aku hanya bingung dengan hubungan rumit ini, hyung! Aku tidak tahu siapa yang salah disini!"

"Kau tidak salah! Kita tidak salah! Sekarang Yunhi yang salah! Dulu, aku yang salah! Kau tidak menanggung apapun, aku yang menanggung semuanya!"

"Maka dari itu... aku tidak mau membebanimu, hyung..."

"Kumohon, Kibum, aku tidak peduli, kau kebahagiaanku baik dulu, sekarang ataupun nanti, aku berjanji takkan menyakitimu! Kumohon terimalah aku lagi!" Aku beranjak dari atasnya dan mulai membungkukan diriku.

Ya, kau Ratuku, Bummie, hanya kau yang jadi pujaanku...

Kibum membetulkan posisinya untuk kembali duduk, menapaki kaki mungilnya dan saat itu, kurasa tangan dingin mulai menapak dikedua pipiku.

"Hyung—" lalu, sebuah wajah membenam didadaku. "Yang kita lakukan, tidak salah, kan? Kita, saling mencintai, kan?"

Aku bahkan ikut menangis, aku paham pasti ia yang paling sedih, ya, hubungan yang sudah kubangun memang kacau dan sejak awal ini adalah kesalahanku, aku berjanji, aku berjanji akan lebih memilih Kibum dan meninggalkan semua, hanya memiliki Kibum.

Lalu, malam inipun sudah menjadi saksi, Kibum kembali menjadi milikku, dan akupun sudah memahat milikku, hanya kembali kepada Kibum,

Snow White ku yang Cantik...

-TBC-

Mind to Review?