Title : A Poor Life.

Part : 17 (Seventeen).

Genre : Romance, General, Hurt, Comfort, Slice of Life, School Life and Dramatic.

Warning : Boys-Love, R-18, Maybe Typo (s), Author's Languange, Drabble Story, Need Hard-Brain for Read This Plot Story~

Summary :

Kim Jaejoong, namja yang merasa hancur hidupnya karena kondisi keluarga, pendidikan dan pekerjaannya begitu meratapi nasib. Apalagi saat ia mengenal namja bernama Choi Yunho, namja kaya dengan wajah tampan dan menjabat direktur di perusahaan Choi yang di wariskan dari ayah tirinya sekaligus adalah wajah di balik nama U-Know, penyanyi misterius yang naik daun dan amat di sukai Jaejoong. Namun, takdir memang menyedihkan karena namja itu begitu menggilainya dan bahkan menyiksanya dengan hal-hal semacam itu. Kim Taemin, bungsu di keluarga Kim ini adalah namja yang memiliki wajah dan fisik seperti Yeoja. Karena lika-liku kehidupan, Taemin harus berhubungan dengan namja bernama Choi Minho, Putra bungsu keluarga kaya Choi. Dan sama hal-nya Yunho, Minho yang lebih lembut dari kakak tirinya akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan Taemin, cinta pertamanya. Apakah Cinta sejati masih ada di sekililing kedua putra keluarga Kim? Benarkah ada sesuatu yang bisa membahagiakan mereka nantinya?

Author : Ana-Ryhan.

Normal-POV

0o0

Satu Tahun Kemudian ...

Angin berhembus lewat jendela yang terbuka di pagi yang cerah itu, mengibarkan tirai putih yang ada disisi-sisinya, mereka menari hingga menerpa sejuk di wajah namja berambut pirang yang masih terlelap dalam ketenangan. Wajah mungil dengan bibir berwarna peach dan kulit yang putih cemerlang itupun sejenak tersenyum, mungkin tengah bermimpi indah, entahlah.

Lalu, terdengar derap kaki dari koridor dalam dimana pintu kamar itu sudah terbuka sebelumnya, "Hyung aku—" suara namja jangkung itu tercekat, lalu senyum simpul bertengger saat melihat namja bernama Kim Jaejoong itu masih tertidur pulas.

Namja jangkung bernama Shim Changmin, yang sudah rapi dengan setelan berwarna hitam, mulai melangkahkan kakinya pelan ke arah ranjang.

Mengamati wajah itu dengan seksama, tangan besarnya mulai membelai lembut helaian kecoklatan yang menutupi dahi Jaejoong. "Dasar, hyung. Sudah jam 8 begini belum bangun." Desisnya sambil mengurai tawa kecil. Jaejoong hanya menggeliat, tak tahu ada namja yang begitu memperhatikannya.

Entah kenapa, sudah setahun terlewati, Changmin masih belum bisa mengutarakan perasaannya pada namja cantik itu. Meski, karena janjinya, ia bisa melindungi Jaejoong dalam setahun ini di apartemennya, seatap dengan orang yang dikasihinya, Changmin tahu, Jaejoong sudah menganggapnya saudara sendiri, tak lebih sama seperti posisi Taemin untuknya. Dan Jaejoong juga sudah setahun ini tidak menapaki kakinya keluar dari apartemen Changmin, dan membiarkan beberapa kerabat, teman dan keluarga yang mengunjunginya kesini. Semua sudah tahu, hati Jaejoong sudah tenang, namun tak pernah beranjak keluar, membuat semua yang mengenalnya berfikir, ada apa? Apa yang dipikirkan Kim Jaejoong itu?

Bukankah Yunho sudah menyerah akannya selama setahun ini?

Sudah pasti akan aman bukan untuk menemui dunia luar?

Changmin lalu beranjak, berjalan lagi untuk menutup jendela yang entah bagaimana terbuka itu, berharap angin sejuk itu tidak membawa penyakit pada tubuh Jaejoong yang rapuh, yang masih dicintainya.

Pandangan miris juga terlintas di wajahnya, bagaimana tidak, hari ini, ia sudah rapi dengan warna berduka itu untuk hadir dalam pemakaman Choi Yunhi, ibunda kandung Yunho. Dan Changmin memutuskan untuk menyembunyikan ini dari Jaejoong yang kebetulan masih tertidur hingga ia bisa pergi dengan diam-diam.

"Aku pergi dulu ya, hyung." Bisiknya sambil meninggalkan cium di dahi Jaejoong.

0o0

Di Bandara, seorang namja tampan yang juga memiliki tinggi badan yang ideal, dan gaya elegan, juga berpakaian berwarna duka, kacamata hitam menyertai wajahnya, begitu keluar dari lobby sambil mendorong kopernya, ia mengitari pandangannya kearah sekitar dan menemukan namja yang wajahnya mirip dalam ponselnya.

Dengan suara dari sepatu pantopel hitamnya, ia menghampiri namja yang sedari tadi terlihat bingung itu.

"Tao, kan?" Suara baritone keluar darinya yang sejak tadi terdiam selama penerbanganya dari London menuju Korea.

"Ah iya, aku. Tuan Choi Minho, kan—?" Tanya namja yang sudah rapi pula dengan setelan jas, meski supir keluarga Choi, mereka tetap harus bergaya elegan. Agak sedikit ragu kalau-kalau yang ia temui bukan orang penting yang seharusnya. Ini hari pertamanya untuk menjemput seorang Choi dari Bandara. Ia juga baru beberapa bulan bekerja menjadi kandidat supir di kediaman orang terkenal itu.

Minho membuka kacamata hitamnya untuk meyakinkan Tao, Tao sedikit terkejut melihat bola mata merah dan sedikit bengkak itu, Tao berpikir bahwa tuannya itu benar-benar bersedih, bagaimana tidak, ia mendengar ibundanya meninggal tanpa bisa menemani saat-saat terakhirnya.

Minho kembali memakai kacamatanya setelah tahu bahwa Tao menemui orang yang tepat. "Ck, bagaimana bisa mereka menyuruh supir yang masih cukup baru untuk menjemputku." Desisnya.

"Ma-maafkan saya, tuan. Rumah besar begitu ramai dan para keluarga sibuk untuk menemui tamu yang datang." Ungkap Tao merasa bersalah.

"Yasudah tidak apa. Sebaiknya kita pergi." Ujarnya sepele dan Taopun mengantar tuan muda itu kedepan pintu masuk Bandara dan mengambil mobilnya. Hingga akhirnya, dua orang itupun meninggalkan bandara menuju kerumah besar keluarga Choi yang hari ini sedang berduka.

0o0

Pukul 09.00 pagi, hari ini. Acara pemakaman sebentar lagi dimulai, Minho sudah sampai di rumah besar itu, rumah besar yang sejak lama ditempatinya sebelum satu tahun ini, rumah mewah dimana banyak terjadi konflik, perseteruaan dan minim kekeluargaan itu, semuanya serba masing-masing, hanya betah ditinggali oleh para pelayan karena semua tuan rumah, sangat sibuk dengan urusannya.

Choi Siwon, appa yang sibuk dengan perusahaannya dan hal pribadi, Choi Yunhi, Umma yang sibuk dengan kumpulan sosial dan hoby shoppingnya, Choi Yunho, sang kakak yang memang tidak betah dirumah itu, kabur-kaburan, bermain di bar, terkadang terpaksa mengurus perusahaan, mengisi waktu luang dengan menyamar sebagai U-Know, dan setahun ini betah tinggal di salah satu Villa milik Choi, yang cukup jauh dari kediaman ini. Juga Choi Minho, yang semasa remajanya hanya bermain-main dengan kakak seniornya, Onew. Mempermainkan orang seperti Kim Taemin, berfoya-foya dengan uang dari orangtuanya, namun setahun ini menghabiskan waktu untuk belajar di luar negeri untuk menjadikannya seorang Presdir tunggal seluruh kekayaan Choi.

Kini rumah besar itu sangat ramai, begitu ramai dengan orang-orang berpakaian hitam, bahkan para tetua Choi dan sanak saudara sudah ada disana, rumah besar dan mewah yang sejak dulu berantakan itu, kini bernuansa kelabu.

Kedatangan Choi Minho disambut bahagia dan sedih dari para nenek, juga para bibi, Minho dapat melihat sang appa yang tetap berdiri dengan mata yang kurang sembab itu sambil menerima ucapan duka dari semua tamu.

"Ummaaa! Ummaaaa! Ummaaa! Jangan tinggalkan aku!" Bahkan, ia juga melihat sang kakak yang menangis meraung didekat jasad ibunda yang sudah tertidur dengan cantik didalam peti mati itu. Seketika air mata menetes lagi dan lagi dari wajah datar Minho.

Minho tak bisa menangis seperti Yunho yang tak tahu malu di depan banyak orang itu. Ia juga sedih, tapi ia hanya bisa diam sambil meneteskan air matanya. Dan melihat sang appa yang terkesan tenang itu, membuat Minho yakin, semua sakit sang ummanya, berawal dari namja itu.

Setelah disambut sanak keluarga, Minho yang sudah dalam balutan berkabung itu menghampiri sang ayah.

"Appa." Ungkapnya. Melihat anak bungsunya yang tak terlihat selama setahun itu ada di depan mata, Siwon langsung menghambur memeluknya.

"Minho... hiks, maafkan aku, aku tidak tahu akan jadi seperti ini.." Siwon langsung terisak ketika memeluk Minho yang masih berumur 21 tahun itu.

"Tidak apa, appa." Minho mengusap punggung besar yang ia sadari sudah semakin tua itu. "bukan salahmu, kau pernah bilang, sejak awal, namja bernama Kibum itu yang kau cintai, bukan ummaku." Ucap Minho setenang mungkin, sebagai pewaris keluarga Choi, ia harus menyikapi semua kejadian dengan bijaksana, harus dewasa dalam usia semuda ini. Apa daya, ibunya sudah jatuh sakit dan sudah menutup mata, yang Minho tahu, ternyata yeoja bernama Yunhi itu sangat mencintai appanya.

Setelah kalimat lapang dada anak bungsunya terucap, Siwonpun mengerti, ini bukan salah Yunhi atau Kibum, semua salahnya karena meragu dalam memilih kehidupan, Siwon hanya bisa meneteskan air mata dipundak anak bungsunya itu. Setelah acara ini selesai, Siwon harus gigih untuk meyakinkan Kibum yang ia tahu pasti menyalahkan dirinya sendiri, inilah dunia, kejam memang, kekayaan bukanlah hal yang bisa membeli kebahagiaan, apa daya kita manusia yang tak bisa membalikkan waktu, sesakit apapun itu, cinta tetap ada, hanya bisa menatap kedepan untuk mencari yang lebih baik.

Acara pemakaman dimulai, Changmin, Junsu, Yoochun dan sekertaris Cho berhasil menahan Yunho untuk pergi dari samping peti mati ibunya yang akan dikuburkan, Siwon yang masih belum puas menangis atas segala kesalahannya, hanya bisa berdiri sambil memegang tangan ibundanya yang sudah sangat tua itu, dan Minho juga dengan tegar berdiri menyaksikan pemakaman ibundanya tercinta dengan Onew dan Key juga entah mengapa si sopir baru bernama Tao bersanding disisi-sisinya.

Choi Yunhi, adalah sosok ibu yang tegar, meski pada umumnya, manusia buta akan harta, apalagi dia yang ditinggal pergi oleh suaminya seorang Jung, memikul beban kehidupan dengan satu anaknya, Jung Yunho, dipilih untuk menjadi nyonya rumah keluarga Choi, apapun jati seorang ibu, mereka tetap menyayangi anak-anaknya. Ya, seorang ibunda yang telah berjuang melahirkan Jung Yunho dan Choi Minho, kini beristirahat selama-lamanya ...

0o0

Meski acara telah usai, tamu yang sudah mengosongi rumah besar, juga sanak keluarga yang satu persatu kembali kekediamannya, dan Choi Siwon yang juga meninggali rumahnya itu untuk bertemu Kibum, seperti janjinya untuk menghentikkan Kibum menyalahkan dirinya sendiri. Meninggalkan rumah dalam keadaan masih berduka ini dengan para pelayan yang dengan sigap membereskan ruangan setelah acara berakhir, dan juga nenek kakek yang untuk sementara beristirahat dirumah ini, dan Yunho Minho bersama teman-teman yang masih dalam suasana berkabung.

Junsu dan Cho Kyuhyun, terus mengusap pundak Yunho yang masih bersedih itu, slalu berpikir, hanya ibundanya yang membuat ia bertahan hidup sampai saat ini. Dan pada akhirnya Minhopun menghampiri sang kakak.

"Yunho-hyung."

Yunho berusaha diam dari tangisnya. Tak mau terlihat lemah di depan adik bungsunya yang slalu ia anggap menyebalkan itu. Yunho sejak lama begitu membenci Minho, karena ia adalah bukti kuat atas cinta sepihak Ummanya pada namja bernama Siwon itu.

"A-Ano, tuan Minho—" Kyuhyun menyadari kalau Yunho yang tiba-tiba terdiam itu, bisa emosi kalau Minho dengan sangat beraninya menghadapinya. Takut-takut malah ada pertengkaran hebat di dalam suasana yang masih seperti ini.

"Hyung." Minho malah mengulangi dengan sopan untuk memanggil sang kakak yang masih tertunduk itu. Bahkan Onew dan Key juga Changmin mendesis, ada apa dengan anak ini?

"Apa maumu?" Yunho menjawab dengan suara seraknya. Masih dengan nada tidak suka.

"Aku tahu hyung membenciku. Aku tahu kau sangat membenci appaku. Aku juga terkadang tidak suka dengannya, lihat, dia bahkan pergi setelah acara berakhir, tidak memikirkan perasaan anak-anaknya." Minho dengan santai berusaha bercengkrama dengan Yunho, sedangkan yang lain hanya menatap meringis berharap Yunho tidak naik darah dan Minho juga tidak berusaha memicu amarahnya.

"Sebenarnya, apa maumu?" Benar saja, Yunho sudah mulai kesal.

"Ini bukan waktunya, hyung—" Minho mengepalkan tangannya, bahkan, ia lebih kesal lagi dengan keadaan ini, mengapa Yunho selalu seperti ini? Rasanya ia ingin menonjok kakak tiri satu-satunya itu. Bahkan Yunho tahu, saat itu, kaki jenjang Minho mulai bergetar.

Padahal, Minho berusaha untuk menutupi segala perasaan emosionalnya.

"Dengar aku baik-baik. Aku adalah Choi Minho, kau harus tahu itu!" Bahkan, kini suara beraninya mulai bergetar, mulai menyeruak, membuat Yunho kini benar-benar tersentak, sebenarnya apa yang mau dilakukan bocah ini? "Padahal, aku berjuang mati-matian selama setahun ini, aku berjuang untuk nama Choi, aku berjuang untuk menyatukan semuanya, aku juga senang saat kau memberi peluang untukku mewariskan segala milik Choi! Ini bukan waktunya, hyung!" kini air mata mulai mengalir dari mata belo yang sudah bengkak itu. "Kau tahu, aku juga benci appa bernama Choi Siwon itu! Aku juga benci, umma yang slalu shopping itu! Aku juga benci kau, hyung! Sehingga aku melupakan semuanya dengan sikap kenakalanku! Sikap berontakku! Sama sepertimu, hyung! Tapi, apa kau pernah berpikir? Jika keluarga kita seperti ini, dan jika semua orang berontak seperti jalanku, apakah akan tercipta cinta? Kasih sayang? Kebahagiaan? Pernahkah, kau berpikir seperti itu, hyung?!"

Mendengar suara dengan nada bercampur itu, membuat semua yang ada disana menunduk, menunduk dengan wajah sedih, semua yang ada disana tahu tentang keluarga Choi, rumitnya berada dalam keluarga seperti itu meski di puja-puja memiliki kekayaan yang berlimpah sehingga hidup terhormat. Bahkan seorang Yunho bergidik mendengarnya, dan ia hanya diam mendengar suara senggukan Minho setelah pernyataan itu, Key bahkan sudah menangis sambil mengusap pundak Minho, ia merasakan apa yang di derita Minho, Onew juga mengerti apa yang dipilih Minho setahun ini, meski berat, ia tahu, Minho ingin mengubah segalanya.

Yunho hanya ingin perhatian ibunya, Yunho hanya ingin kasih sayang ibunya, dan Yunho ingin ibunya mengerti bahwa meski hidup berdua, Yunho akan berjuang untuk membahagiakan ibunya, tidak dengan jalan menikah dengan namja itu! Dan kini, apa kuasanya? Dia hanya bisa menangis karena kebodohannya, sikap kekanak-kanakannya, sikap egoisnya, bahkan rasa cinta egoisnya saja sudah menyakiti seorang Kim Jaejoong, dan kini, umma tersayangnya sudah tiada, apa yang bisa ia berikan padanya selama ini? Mengapa ia tidak berubah untuk berpikir rasional seperti adik tirinya setahun yang lalu? Sebenarnya, apa yang dipertahankannya? Apa yang diubahnya? Apa yang diinginkannya?

Melihat bahu Yunho yang mulai naik turun itu, membuat Minho sedikit tenang, sepertinya sang kakak mencerna apa maksud dan kata-katanya. "Jadi kau jangan berpikir untuk membenci mereka, hyung. Aku juga sudah bisa memaafkanmu, aku belajar untuk menyayangi mereka, menerima mereka apa adanya, bahkan saat ini aku ingin memukulmu, apa saja yang kau lakukan selama umma sakit? Padahal kau yang paling tahu, kita berdua dari rahim yang sama, kita menyayangi yeoja itu! Yeoja menyebalkan itu adalah umma kita!"

"—Aku juga menyayanginya, Minho!" Kini dengan sesenggukan Yunho masih tertunduk, menyembunyikan wajah sedunya dari namja yang sedari tadi mengguncang hatinya itu.

"Ya itu cukup, hyung! Ini bukan waktunya kita kembali bertengkar seperti dulu! Kita tahu, bahwa kita ingin mengembalikan umma! Kita ingin berada umma disaat ia sakit! Tapi ini cukup, hyung. Dia akan tertidur tenang, karena kita tidak membencinya, kau dan aku menyayanginya, hyung! Jadi—" Minho mulai berjongkok, menyetarakan dirinya dengan Yunho yang masih terduduk dengan punggung melengkung itu. Dan dengan tangan besarnya, Minho mencoba untuk melihat wajah sang kakak, dan dengan tersentak, namun tak ada penolakan, Yunho membiarkan tangan itu memperlihatkan wajahnya, wajahnya yang merah penuh dengan aliran air mata, dan sekarang, ia juga bisa melihat wajah tampan Minho yang sekarang berantakan itu dengan mata bengkak dan air mata besertanya, Minho tersenyum padanya, wajah yang dianggap Yunho selama ini sangat menyebalkan, kini tersenyum, ya, tersenyum padanya.

"—Jadi, kita bisa memulainya, hyung. Yunho-hyung, kau tidak sendiri, kau memiliki aku, adikmu, Minho. Kita memiliki appa yang menyebalkan, Choi Siwon,kau memiliki sekertaris yang setia padamu, Cho Kyuhyun. Kau juga punya dongsaeng yang tidak membencimu dengan apa yang kau lakukan selama ini, Changmin. Kau juga punya sahabat yang baik, Kim Junsu dan kau punya teman saat kau berada dibawah dunia dengan mengurungmu di villa itu, Yoochun. Dan kau masih memilikinya, Kim Jaejoong. Asal kau berubah, hyung. Asal kita mengerti apa yang harus kita lakukan, kau tak perlu memahami, hyung. Kau hanya mencoba untuk tidak menyakiti, jadi, maafkan aku, kalau selama ini, aku tidak pernah menganggapmu, aku pernah membencimu, tapi kau sudah menjadi Hyungku, Choi Yunho." Isak Minho.

Dan dengan segera, Yunho menghambur memeluknya. Memeluk satu-satunya dongsaeng dalam rahim yang sama di dalam rahim ibundanya. "Aku juga minta maaf, Minho. Aku juga ingin menciptakan hal itu, aku juga ingin berjuang bersamamu, maafkan aku slama ini tidak jadi hyung yang baik, aku bangga padamu yang tumbuh seperti ini, aku minta maaf, Minho." Ungkap Yunho tulus, dan Minho hanya mengangguk sambil mengusap punggung besar kakaknya. Mereka berpeluk menangis bersama mengiringi kepergian ibunya. Melihat adegan yang tak pernah ada itu, membuat yang ada disekeliling mereka terharu.

Yunhi, anakmu Yunho dan anak dari suami keduamu, Minho, sangat menyayangimu ...

0o0

Tao memarkirkan lamborghininya di jalan dekat trotoar di salah satu pagar penuh tanaman. "Disini, tuan Presdir." Ucapnya sambil melihatkan deretan giginya lewat kaca yang menggantung diatas bagian kursi supir. Minho memanyunkan bibirnya sambil menurunkan kaca jendela, sementara Tao sedang merapikan rambutnya lewat kaca depan itu.

"President Caffee?" Tanya Minho sambil mengerutkan alisnya. Terlihat seperti kedai kopi biasa saja.

"Senior Kyuhyun yang menyarankannya, Tuan. Aku juga sering beberapa kali kesini, tapi aku jamin! Suasananya sangat menenangkan, ketika kita masuk kedalam toko, wangi kopi menyeruak dan membuat perasaan sangat nyaman!"

"Haish." Minho hanya mendesis melihat tingkah kekanak-kanakan supir barunya itu.

"La-Lagipula, sekalian aku ingin bertemu pacarku, ti-tidak apa-apa, kan, tuan?"

"Hee, jadi itu motifmu?" Kini Minho sengaja menggodanya dengan tidak suka dengan alasannnya itu.

"Ti-tidak! Pokoknya aku jamin deh, tuan! Di kedai itu sangat tenang!"

"Iya-iya aku tahu. Aku percaya. Aish, jinjja? Aku harus turun dengan mata yang masih begini?"

"Tidak apa tuan. Disana pegawainya baik-baik, dan pelanggannya juga tidak terlalu ikut campur, saling menghormati, tempat paling nyaman untuk setiap pasangan, dan juga keluarga, bahkan jika kita datang sendiri, pelayannya ramah, bahkan mau menemani mengobrol, pokoknya TOP deh."

Minho hanya diam. "Kau itu rupanya suka nyerocos ya." Ujarnya kembali menggoda.

"Eh?! Aku banyak bicara ya? Ma-maaf tuan, kalau tuan tidak mau masuk kesana ya tidak apa-apa. Tuan ingin aku mengantar kemana? Pacarku tidak apa-apa, dia pasti mau menunggu kok."

"Hahaha, aku hanya bercanda. Kau itu polos sekali, dipikir-pikir imut juga."

BLUSH. Seketika wajah Tao memerah, dibilang imut oleh tuan muda eh—presdir baru perusahaan Choi yang tampan itu, bagaimana bisa kalau ia tidak merona?! Rasanya begitu melayang dipuji oleh tuan muda yang dewasa dan baik itu.

"Yasudah, ayo kita turun, nanti yeojachingumu menunggu lama lagi." Ungkap Minho sambil membuka pintu mobil dan bersiap dengan kacamata hitamnya.

Tao memiringkan kepalanya. "Yeojachingu?" batinnya. "Sepertinya ada kesalahan." Ucapnya bingung, namun, ketika ingin memberitahu Tuan mudanya, Minho malah sudah menyeberang dan lebih dulu masuk ke kafe.

Tring. Suara bel berbunyi saat pintu kafe dibuka, Minho dengan reflek menghirup aroma kafe ini dan membuka kacamata hitamnya.

"Selamat Datang." Pelayan berbadan mungil menyambutnya, dan benar apa yang dikatakan Tao, aroma kopi langsung menenangkan batin Minho yang sebelumnya porak poranda itu.

"Tuan itu, ano—" Tao berhasil menyusulnya. Dan ingin memberitahu kalau pacarnya—

"Tao~!" Seorang namja yang cukup tampan yang duduk di salah satu bangku mulai melambai kearah pintu masuk kafe.

"Y-ya! Kris~!" Dan dengan gembira Tao membalas lambaian kekasihnya itu.

"Hee? Jadi kekasihmu, namja, eoh?" Kini Minho mencibir.

"I-iya, aneh ya, tuan?" Ungkap Tao malu-malu, setelah melihat sekitar, cukup banyak pasangan namja dan namja yang duduk di kafe itu. Minho jadi mengerti apa yang dimaksud Tao saat berbicara di mobil, Kedai Kafe ini rupanya tak membeda-bedakan pelanggan dan sesama pelanggan juga saling menghormati.

Cukup takjub melihatnya, namun Minho mengerti, Kafe ini benar-benar ajaib, seandainya saat ini ia masih memiliki Taemin, harus rekomendasi tempat yang didatangi saat kencan nih! Dan Minho hanya mengangguk mengerti.

"Ah, tidak, kok. Maaf ya, tadi kesalahanku, kukira pacarmu yeoja, tapi tidak apa-apa, kok. Pacarmu yang bernama Kris pasti senang memilikimu, Karena Tao sangat imut." Dan dengan pedenya setelah berucap seperti itu, Minho mengkerlingkan sebelah matanya, begitu terlihat menggoda Tao.

Dan –BLUSH. Wajah imut supir barunya itu kembali blushing. "A-Aku, aku akan ke meja sana, Tu-Tuan bagaimana?" Tanya Tao mulai grogi, tak bisa menganggap Minho hanya sekedar tuannya yang biasa.

"Tidak apa-apa. Kau kesana saja. Aku akan memesan kopi di meja lain sambil menunggu kalian bertemu." Ungkap Minho, dan Tao terhanyut kenapa ada tuan muda sebaik ini~~~

"Ka-kalau begitu, aku kesana dulu ya, Tuan."

"Nde~" Dan setelah menjawab itu, Tao berlari kearah bangku Kris, pacarnya. Dan Minho di antar kebangku oleh pelayan berbadan mungil yang bernama Ryewook itu.

Dan saat sampai di tempat duduknya yang berada di dekat jendela sehingga terlihat jalan diluar yang bersih dan sepi itu, tanpa asap polusi kendaraan, Minho segera memesan kopinya. Lalu, ia ditinggalkan oleh pelayan yang tenar dengan nama Wookie itu.

Merasa sudah sendiri, Minho menyandarkan punggungnya, rasanya cukup menenangkan, ia bahkan tidak percaya hari ini sudah berapa kali ia menangis dan hari ini juga adalah hari paling kelabu dalam hidupnya. Namun saat berada disini, entah kenapa, semua perasaan itu hilang, benar-benar kafe yang nyaman.

"Harus ajak Yunho-hyung kesini, nih. Eh, mungkin, sekertaris Cho pasti sudah pernah mengajaknya kesini? Aish." Gumamnya sendiri. Dan sambil mengotak-atik ponselnya dan sesekali melirik Tao dan pacarnya yang mesra, membuat Minho tersenyum, tiba-tiba ia jadi teringat masa lalu, andai saja, ia sudah baik sejak dulu, dia pasti akan semesra Tao dan Kris saat bersama Taemin nanti.

"Ck, menghayal saja kau ini, Minho." Desisnya lagi. "Katanya akan ada yang mengajak ngobrol, mana?" Decaknya lagi sambil memandang sekitar dan menemukan dua orang pelayan yang asik mengobrol bersama pelanggan yang sepertinya juga sendirian. Sehingga ia percaya, apa yang diceritakan Tao memang benar. "Ngomong-ngomong, kabar Taemin bagaimana ya? Apa dia masih dengan namja siapa ya itu namanyaaaa, haissh—" dan sambil melamun, Minho memandang keluar jendela sambil menunggu pesanannya.

"Selamat Siang, ini pesanan anda, kopi America pahit dan desert Brownis hitam, karena kami sedang promo, anda dapat bonus puding coklat vanila, dan selamat datang di kafe kami—"

Asik melamun, dan satu persatu pesanan beserta bonus berada di atas meja di hadapannya, rasanya Minho mengenal suara yang masih terdengar di sampingnya itu, tangan kurus yang berada tepat di hadapannya juga rasanya ia mengenalnya... sangat mengenalnya ... tapi, Minho menapik segala perasaan itu namun ...

"Dan saya Kim Taemin, sepertinya anda sedang sendiri, apakah anda ingin di ajak mengobrol?"

Tepat.

Dan Minho dengan segera menoleh kearah pelayan yang suaranya terdengar dari sisi kanannya itu.

"Minho?!" Tanya Taemin tak percaya, namun, sebagai pelayan Pro, Taemin harus tersenyum sebaik mungkin dan tidak lari dari situasi ini.

"Ta-Taemin." Minho refleks beranjak, berdiri sampai membenturkan lututnya dengan sisi bawah meja, membuat suara pesanan yang ada di meja bergeser dan sedikit membuat suara gaduh, membuat beberapa pelanggan menoleh, khawatir akan ada pelanggan yang kasar.

Melihat tingkah Minho, sedikit membuat Taemin goyah, dan mundur satu langkah takut-takut tindakan Minho sama seperti dulu.

"A-Ano, itu, tidak. Ta-Taemin." Minho gugup takut-takut Taemin lari dari hadapannya. Tapi, ia harus memberitahu bahwa ia sudah berubah, tapi, apa yang harus dilakukannya? "Ya! Saya Choi Minho! Selamat siang!" Minho benar-benar tidak bisa berpikir dan malah menundukkan badannya dengan sopan. Tao yang heranpun ingin menghampiri, namun sepertinya Kris sedikit cemburu jadi dia menahan Tao dan berkata semua baik-baik saja.

"Puh." Taemin malah mengeluarkan tawa kecilnya saat melihat tingkah Minho yang sangat aneh itu. Entah kenapa, Minho yang ada di hadapannya sangat berbeda, terlihat lebih dewasa dari tampilannya dan terlihat sangat polos, dari tingkahnya. "Saya Taemin, apakah anda ingin diajak ngobrol, Tuan Minho?" Senyumnya. Melihat Senyum yang entah kenapa membuat hati Minho berdebar namun terasa Plong itu membuat Minho sadar, sejak dulu, Taemin sangat cantik.

"Ya. Saya ingin mengobrol dengan anda, Pelayan Kim Taemin."

0o0

Kini, dua orang yang dulu punya ikatan cukup rumit itu duduk saling berhadapan. Taemin yang sudah biasa menanggapi pelanggan yang sendirian dengan karakter yang berbeda-beda itu, berusaha duduk dengan tenang sambil terus memandang namja yang sudah setahun lamanya tak pernah ia lihat lagi. Namja yang dulu sangat paling ia benci, entah kenapa sekarang hanya duduk diam saja sambil sesekali melirik kesana-kemari tanpa pernah memandang orang yang ada di hadapannya sejak tubuh mungilnya duduk disana.

Taemin yang kembali tersenyum simpul dengan alis bertaut sepertinya tetap menunggu aksi dari Minho yang ia rasa sudah berbeda itu, bahkan tidak terasa 5 menit terlewati tanpa ada satu suarapun dari keduanya.

Sepertinya Minho tak bisa diharapkan, Taemin akhirnya mulai bicara karena ia juga merasa banyak yang harus di ceritakan dan yang harus ia ketahui dari kehidupan selama setahun yang sudah mereka lalui ini.

"ano—" dan entah bagaimana, keduanya malah berbarengan membuka mulut.

"Ah, kau duluan saja." Seru Minho berusaha untuk menutupi kegugupannya karena merasa Taemin yang ia rindukan itu lebih cantik dari kehidupannya yang dulu.

Taemin tersenyum lagi dan tak menolak apa yang di ucapkan Minho. "Bagaimana kabarmu? Maaf, tapi melihat kondisi matamu, sepertinya ada sesuatu yang tidak enak yang terjadi ya?" Taemin ragu-ragu, seharusnya ia tidak boleh menanyakan apapun, harus seorang pelanggan yang bercerita dan mereka hanya merespon. Tapi untuk kasus Minho, rupanya Taemin punya kekhawatiran sendiri. Apa jangan-jangan Minho habis di campakkan pacarnya? Pikirnya. Mata itu lebih buruk kondisinya daripada saat ia meninggalkan Minho untuk memilih Jonghyun.

"hn, ini—" Terlihat Minho cukup ragu untuk menjawab. Padahal ia berusaha untuk tak mengingat kesedihannya lagi.

"Ano! Mianhe! Kalau tak mau bercerita, tak apa!"

Melihat tingkah Taemin yang merasa bersalah dan sangat imut dengan mengayunkan kedua tangannya kedepan seraya berkata 'tidak-tidak' membuat Minho terkikik geli. "Tidak. Tidak apa-apa. Malam ini, ibuku meninggal. Makanya, aku kembali ke Korea, dia baru saja dikuburkan jam 9 pagi tadi."

Mendengar penjelasan Minho, Taemin hanya melongo, lalu beberapa saat kemudian, ia memoles sendiri kepalanya. "Ya! Babo Taemin!" desisnya. Tingkah yang pertama kali Minho lihat itu entah bagaimana terasa lucu untuknya. "Mianhae Minho-ya. Harusnya aku tidak menanyakan itu, aku turut berduka."

"Tidak apa-apa. Tidak apa-apa." Jelas Minho setenang mungkin. "Ngomong-ngomong, bagaimana keadaan keluargamu?"

"Hm, ya. Kami baik-baik saja, aku tinggal bersama ummaku, kami berdua bahagia." Merasa ada kalimat yang kurang, belum sempat Minho menanyakannya, Taemin yang menjeda itu mulai melanjutkan perkataannya. "Jae-hyung juga baik-baik saja, tapi dia ada di suatu tempat, aku tak boleh menceritakan pada siapapun dimana dia berada."

Minho merasa itu memang harus rahasia, mungkin dari pihak sana, mereka masih takut dengan ancaman kedatangan Yunho-hyung, itu juga masih ragu untuk Minho bahas, ia masih berpikir, apakah hyung-nya itu bisa berubah terhadap Kim Jaejoong?

"Oh begitu. Lalu, kau sendiri bagai—" Minho mulai memalingkan wajahnya dari Taemin, membuat Taemin lagi-lagi penasaran. "Bagaimana, haissssh, bagaimana, bagaimana kabar hubunganmu?" kesal juga rasanya, ia tak bisa menutupi kecemburuannya.

Mendengar pertanyaan terakhir, membuat mata Taemin membulat seketika, sayangnya, Minho yang berpaling tak melihat reaksi refleks yang cukup sebentar itu.

"Oh ya Minho, didekat sini ada taman yang bagus. Mau jalan-jalan sebentar?"

Mendapat jawaban yang berbeda, nyaris membuat jantung Minho berdebar tak karuan, apakah Taemin menggodanya untuk mengajaknya berkencan?!

"Ta-tapi, bagaimana pekerjaanmu?"

"Tidak apa. Hanya keluar sebentar menghirup udara yang berbeda dan tempat yang lebih sepi." Taemin menarik Minho dan dengan syarat Minho menatap kearah meja Tao, mengartikan bahwa ia akan keluar sebentar.

Yunho bersama Junsu dan Yoochun, kembali ke villa dimana tempat Yunho berdiam diri di temani Yoochun dan akhir-akhir bulan ini sering juga di kunjungi Junsu. Yoochun masih berdiam di samping jendela ruang tamu yang sedari tadi mengibaskan tirai di dekatnya karena hembusan angin yang sejuk itu. Melihat Yunho yang sudah berhenti menangis dan sekarang hanya bisa melamun itu membuatnya dan Junsu mendengus, tak mau menginterupsi kesedihannya.

Yoochun masih bersilang tangan di tempatnya tanpa suara sedikitpun, begitupula Yunho yang masih asik melongo di dekat Junsu yang duduk di sampingnya. Mendapati suasana yang seperti ini lagi dan lagi membuat Junsu tak tahan.

Tubuh yang lumayan gemuk itu mulai beranjak dengan emosi bercampur lalu dengan cekatan, dia menarik dengan kasar lengan kurus Yoochun.

"Hei! Apa-apaan, kau!"

Bahkan suara penolakan Yoochun tak menggubris aktivitas Yunho yang masih ngeblank itu.

"Kemari kau!" dan dengan main perintah, Junsu menarik paksa tubuh Yoochun yang berusaha menolak dan akhirnya pergi dari ruang itu.

BRUK.

"Issh, appoo..." Yoochun meringis ketika badannya terpantul di kasur empuk berseprai putih itu. Matanya mulai melotot mengisyaratkan tak suka dengan namja yang masih berdiri terdiam disisi kasur, bahkan Yoochun mengelus-elus tangannya yang sepertinya meninggalkan bekas cengkraman namja sialan itu. "Sialan, kau! Apa maumu!?" Padahal ia tahu kalau posisinya itu sekarang tidak bagus karena ia tahu betapa ia mengenal namja bernama Kim Junsu itu. Bahkan, jikalau terjadi sesuatu padanya saat ini, ia juga yakin, Yunho tak bisa menolongnya. Memang salah kalau membiarkan namja itu keluar-masuk villa di saat seperti ini.

Junsu tak berkata apa-apa dan dia malah melepas kaosnya.

"Oi-Oi, bergerak sedikit saja, kubunuh kau." Yoochun hanya bisa mengancam, takut kalau-kalau setelah lama tubuhnya tak pernah mendapat sentuhan lagi, ia harus merasakan pengulangan sentuhan yang memaksa dengan namja yang sekarang masih tengah di bencinya.

"Kenapa kau seperti ini? Apa salahku?" Junsu malah merasa kalau ia yang dikhianati dengan perginya Yoochun dari hidupnya.

Yoochun hanya diam sambil membuang pandangannya dari namja yang dulu sangat ia cintai itu.

"Yoochunnie, apa kau marah padaku? Atau kau memang sejak awal mencintai Yunho-hyung?" bahkan pandangan mata yang memelas itu tak membuat Yoochun berpaling.

Yoochun mendengus. Ada benarnya kalau ia juga pergi karena ada rasa pada Yunho yang menyelamatkan hidupnya. Tapi sejak awal ia tahu, Yunho sampai sekarangpun hanya terobsesi pada namja cantik bernama Kim Jaejoong. "Harusnya kau tahu apa salahmu."

"Karena Heebon-ssi?" pertanyaan Junsu menusuk telak kebagian hati Yoochun yang terdalam. Membuat mata sipit itu membelalak, betapa mudahnya namja sialan itu bertanya seperti itu.

Yoochun tak menjawab, Junsu juga tahu kalau namja yang dicintainya itu hanya bisa menggigit bibirnya kalut.

"Haish." Junsu mengusap wajahnya kesal setelah menghela nafas seperti itu. "Kau tinggalkan aku bahkan setahun terlewati hanya karena Yeoja itu?!"

"Aku hanya tidak ingin menjadi perusak masa depanmu, bodoh!" Yoochun kini melihat wajah namja itu sambil berlinang air mata.

"Kau yang bodoh! Kau pikir aku bahagia dengannya, hah?! Kau pikir aku akan senang!? Hei, kau tahu kan betapa aku juga cinta padamu? Aku tidak akan segan-segan membuang yeoja itu demi dirimu, kau tahu!"

Yoochun tersentak saat melihat emosi Junsu yang tak pernah ia lihat itu. Benarkah namja itu akan memilihnya? Seorang Yoochun yang tidak ada apa-apanya ini?

"Bodoh sekali... tahu seperti itu harusnya sudah sejak lama aku tidak mau menurut pada Heebon, kesal juga kalau tahu kau hidup bersama Yunho-hyung..." Keluh Junsu.

"Kau benar-benar akan memilihku?"

"Tentu saja, bodoh! Aku yang harus menemukan kebahagiaanku sendiri!"

"Sungguh...?" Junsu terdiam ketika Yoochun hanya menundukkan wajahnya dengan bahu yang bergetar itu. Diapun mulai memendam segala kemarahannya dan mulai duduk di samping Yoochun.

"Aku sangat mencintaimu, Yoochunnie." Ungkapnya lembut sambil mengusap bahu Yoochun yang kini mulai terisak itu. Dan dengan lembutnya, Junsu membawa tubuh itu dalam peluknya. Membuat ia menangis meraung dalam dekapnya.

Sejak tadi, Taemin terus berjalan didepannya. Hanya bergandeng tangan saat keluar dari kedai saja. Membuat Minho agak kecewa, tapi dia juga sadar kalau dia bukan siapa-siapa Taemin sekarang. Bahkan tak terasa, langkah mereka berdua sudah sampai di sebuah taman yang sangat indah, tapi entah mengapa tidak ada seorangpun disana.

"Hee, bagus juga. Tapi apa benar taman ini milik umum? Padahal indah sekali, tapi kenapa sepi begini?"

"Sebenarnya ini taman milik Sungmin ahjussi, dan para pegawai kedai yang merawatnya, dan sebenarnya juga ini bukan taman umum, kami membuka untuk umum setiap hari sabtu-minggu saja." Jelas Taemin tanpa membalik badannya, masih memunggungi Minho yang entah kenapa menurut untuk berjalan di belakangnya.

"Oh~" Minho hanya mengangguk-angguk mengerti, walau sebenarnya Taemin juga tak melihatnya, dan sebenarnya, Jantung Minho lebih berdebar karena berada berduaan di taman sesepi ini. Apalagi bersama Taemin yang masih ia cintai, ia juga merasa bodoh dalam setahun lamanya ini ia tak menjalin hubungan dengan siapapun selain temannya, ia juga takut sisi lainnya yang dulu bisa-bisa menyergap Taemin sekarang juga, haissh, ia tentu tahu itu malah bisa meninggalkan kebencian pada Taemin dipertemuaan awal kembali setelah sekian lama.

"—Jonghyun-hyung, sudah meninggal." Langkah Taemin dan tubuh mungil yang memunggungi Minho itu terhenti. Membuat Minho juga terhenti dan terdiam seketika saat Taemin berucap seperti itu.

"Ma-maksudmu?" sepertinya Minho yang sempat kaget itu masih belum percaya bahwa namja yang mengambil Taemin darinya itu sudah –meninggal?

"Ya, dua bulan yang lalu, ia pergi meninggalkanku..." Bahkan Minho kini bisa melihat jelas, punggung berbadan mungil itu sudah bergetar. "Kami dipisahkan oleh dunia yang berbeda..."

"Taemin-ah..."

"Kami tidak bisa bertemu satu sama lain lagi..."

"Taemin..."

"Dia meninggalkanku. Tuhan mengambilnya dariku!" Kini wajah yang penuh air mata itu diperlihatkan pada Minho. Minho ngilu, Minho miris, betapa besar cinta Taemin kepada namja yang mungkin masih dibenci Minho itu.

"Maafkan aku Taemin, aku harusnya tidak menanyakan itu."

"Kami tidak bisa bersama-sama lagi, mengapa waktu terasa begitu cepat, Minho!" Taemin yang tak menggubris sedikitpun perkataan Minho membuat Minho yakin. Ia tidak ada apa-apanya dibanding namja yang menjalin hubungan 10bulan bersama Taemin yang dicintainya itu. Waktu terasa begitu cepat? Bagi Minho, melupakan Taemin selama setahun terasa begitu lama untuk dilaluinya...

"Padahal aku sangat mencintainya..."

Tangis pilu Taemin dengan kalimat terkahir itu, menghujam hati Minho secara bertubi-tubi, bahkan tubuh mungil yang mendekat padanya dan menyandarkan kepalanya di dada Minho dengan tangis yang masih mencekam itu, tak bisa membuat Minho menggantikan posisi namja bernama Kim Jonghyun itu. Begitu lama ia menjalin hubungan bersama Taemin, tak ada satu patah katapun yang ia dengar bahwa Taemin mencintainya. Ia baru mendengarnya sekarang, selain ia mencintai umma dan hyungnya, bahkan memendam rasa cinta terhadap Changmin, kini Minho mendengar langsung kalimat itu, 'aku sangat mencintanya' yang tertuju pada namja yang sudah tidak ada didunia ini.

Entah mengapa, Minho ikut menangis, menangis akan apa yang dilaluinya, akan cinta yang begitu menohoknya, dan juga pilu melihat namja yang dicintainya selemah ini, Minho memeluk namja mungil yang semakin cantik ia lihat meski tangis menghias wajahnya. Memberikan tubuhnya hanya sebagai alas pengobatan luka hatinya, dan mungkin pintu hati Taemin telah tertutup untuk mencintai orang lain selain namja itu...

Tak terasa hari sudah semakin senja. Kini, Minho hanya bisa duduk menemani Taemin yang sudah cukup tenang, ditaman yang sudah makin temaram ini.

"Ini." Minho menyodorkan botol minum yang ia beli di sekitaran sini, juga dia memberikan tisu basah untuk melembabkan mata Taemin.

"Terima kasih." Taemin tak tahu harus bagaimana, semenjak ia menangis dalam pelukan Minho dan tanpa sengaja menebarkan segala perasaan emosionalnya kepada Minho yang baru saja bertemu, membuat Taemin merasa canggung, dan sejak ia menangis, Minho terus diam dan berkata sedikit kata tidak seperti saat mengobrol di kafe, juga muka Minho yang terlihat sangat poker face, membuat Taemin merasa malu sendiri betapa bodohnya ia melimpahkan segala kekesalan dan kekecewaannya pada Minho yang tak tahu apa-apa. "Minho maaf aku—"

"Ayo kita pulang." Ucap Minho memotong sambil berdiri beranjak dari duduknya dan sudah mulai melangkah kecil. Sepertinya Minho juga khawatir, Tao akan mencarinya.

Melihat sikap Minho yang berubah seperti itu, membuat Taemin merasa bersalah. Dan kembali mengulang kalimat dalam hati betapa bodohnya ia, hubungannya dengan Jonghyun, juga kehilangannya akan Jonghyun, semua sejak awal ia yang memutuskan. Minho sudah lama menyerah akannya, tapi entah kenapa ia menarik kembali Minho pada masalah percintaannya? Padahal sudah sangat jelas ia meninggalkan Minho hanya untuk menjadi milik Jonghyun yang sekarang sudah tiada.

"Minho." Taemin beranjak dan menyusul langkah Minho. Ia juga tak segan menggapai tangan yang lumayan kekar itu. Minho berbalik untuk melihat kearah Taemin, Taemin sadar, laki-laki itu sejak awal memang sudah baik, ia juga tampan, segala yang ia miliki adalah dambaan setiap orang yang ingin memiliki pasangan ideal, Taemin dulu memang tidak cinta padanya, bahkan dia muak dengan keposesifan dan keobsesian cintanya pada dirinya. Dan karena uang, dia bahkan tak sadar telah menginjak-injak perasaan tulus Minho dan perjuangannya untuk mendapat dia yang hanya seorang Kim itu.

"Ada apa?" Suara baritone yang keluar dari namja yang entah kenapa terlihat semakin keren ini menatap pada Taemin. Tepatnya menunduk menatap Taemin yang lebih pendek darinya.

"Ah itu, tidak. Hari ini terima kasih." Jawab Taemin gelagapan, entah mengapa ia malu di tatap dalam oleh mata belonya dan refleks Taemin berucap dengan menunduk.

"Hm, itu tidak apa. Aku juga turut berduka cita." Kini kalimat normalnya sudah keluar dari mulutnya. Syukurlah, tidak ada apapun yang terjadi pada mereka, ini pertemuan pertama mereka setelah masa-masa yang sulit, Taemin harusnya meninggalkan kesan yang baik. "Aku minta maaf kalau ada kesalahan kata."

"Tidak, aku juga minta maaf sudah meninggalkan kesan tidak bagus."

"Tidak apa-apa, aku mengerti." Ungkap Minho. Meski kalimatnya sudah normal. Entah kenapa Taemin masih tidak suka dengan wajah tanpa senyum itu. "Yasudah ayo kita pulang. Aku takut supirku mencariku."

"Tunggu." Lagi-lagi Taemin menahan lengannya. "Aku... boleh minta nomor ponselmu?" Taemin hanya nyengir, berharap menutupi rasa tidak tahu malunya itu yang tiba-tiba serasa berharap pada seorang namja bernama Choi Minho.

Belum ada respon. Yang ada hanya mata belo yang bengkak itu dan membelalak juga tiba-tiba wajah yang memerah. Melihat langsung reaksi wajah Minho yang seperti itu, Taemin baru sadar, ini sangat jelas sekali kalau Taemin ingin memiliki hubungan kembali dengan namja yang rupanya masih berharap itu.

"E-Eh! Itu untuk, barang kali kalau ada apa-apa, jadi aku—" Taemin gelagapan. Ia lagi-lagi menyalahkan dirinya, betapa polosnya dia dalam mencari hal cinta.

"I-Iya, ti-tidak apa-apa. Iya, kebetulan nomor ponselku juga sudah ganti." Dengan gugup Minho mengeluarkan ponsel dari kantung di jaket hitamnya.

"I-iya, aku juga, tentu sudah ganti nomor." Taemin tak kalah canggung dengan mengotak-atik ponsel touchscreen-nya entah berapa lama.

Dalam senja yang tenang itu, membuat kedua namja yang ada di taman sepi ini saling berhadapan dan seketika tersenyum saat memberikan nomor ponsel masing-masing.

Rupanya, setelah Minho berkunjung dari kedai kafe, kini, ia bersama Tao mulai menuju kearah villa sang kakak, namun, di tengah jalan, Minho melihat mobil sedan yang ia kenal, sangat ia kenal adalah mirip dengan mobil appanya. Mobil hitam itu terparkir jelas di depan rumah yang kelihatannya sangat sejuk.

Ia juga masih ingat kalau villa Yunho berada di lingkungan dimana Kibum, namja yang dicintainya appanya sejak dulu, juga ada disini.

Minhopun bermaksud berkunjung, ia juga seperti merasa tidak akan ada hal baik yang terjadi dengan pasangan Siwon-Kibum itu.

Namun, saat itu Minho menyandarkan punggungnya di jok mobil belakang sambil menghela nafas. Banyak yang ia lalui hari ini, tentang kepiluan, debaran, bahkan harapan meski sangat kecil. Rasanya hatinya seperti diombang-ambingkan oleh Tuhan tentang bagaimana malangnya hidup inipun akan ada balutan harapan didalamnya.

Ya, semua orang bisa berharap.

Semua orang juga sedang berjuang.

Dan menggapai kebahagiaan.

"Tuan, jadi turun?" suara Tao menginterupsi semua rekapan hari Minho saat ini. Bahkan, ia bisa lihat Tao masih melongok khawatir pada tuannya yang duduk dibelakang, terlihat jelas dari tatapan dan raut wajahnya lewat kaca depan mobil yang tergantung.

Minho tersenyum. Mengeluarkan segala hembusan nafas lelah hari ini, namun senyumnya lagi-lagi membuat seorang Tao blushing, entah kenapa serasa tuannya itu tidak sadar sudah terus-terusan menggodanya hari ini.

"Yap. Aku akan turun sebentar." Ungkapnya. Entah kenapa menghadapi sebuah pasangan yang akan ditemuinya nanti mengingatkannya pada Taemin. Ya, Taemin yang setengah-setengah membuat harapannya tersambung bahkan bisa terputus.

"Aku disini atau ikut turun atau bagaimana?" lagi-lagi dengan polosnya, Tao itu menginterupsi. Minho beranjak lalu melongokkan wajahnya kebangku sopir, nyaris di sebelah wajah Tao, bahkan Tao dapat mendengar deruan nafas tuannya langsung ke telinganya.

"Kau disini saja, kalau ada apa-apa, segera keluar, temui aku."

Suara Minho yang sengaja menggoda itu membuat Tao bergidik. Rasanya seperti terancam kalau dia adalah milik tuannya satu-satunya.

"Yap~ aku turun dulu~" tahu tingkahnya kena telak pada Tao, Minho dengan tenang meninggalkan mobil dan mulai berkunjung kerumah yang dimaksud. Ia juga tertawa kecil ketika mengingat betapa imutnya wajah supir pribadinya itu ketika ia goda. Sangat cantik sangat imut, kalau saja hatinya sudah tidak terpaut pada Taemin, mungkin Tao adalah pertemuan cinta barunya, bahkan mungkin Minho berani beraksi pada Tao mengingat dia berada dalam wilayah pelukannya. "Hehe, mianhae Kris pacaranya Tao~ aku sempat begitu, kau harus berterima kasih pada Taemin~" gumamnya sebelum membuka pagar kayu rumah kediaman Tuan Shin.

Ting Tong

Suara bel mulai menyeruak disekitar dalam rumah kediaman Tuan Shin. Minho masih menunggu dengan setia dibalik pintu bercat merah ini. Lalu tak berapa lama, seorang pria tambun dengan usia yang cukup tua, muncul di saat pintu mulai terbuka.

"Permisi." Ucap Minho sambil sedikit membungkuk sopan.

"Siapa?" tanya pria itu masih tidak tahu siapa orang yang ada di hadapannya ini.

"Choi Minho."

Mata sipit pria tambun itu langsung melotot mendengar marga Choi. Dan yang ia tahu, nama Minho adalah nama anak bungsu dari Choi Siwon. Agak bingung juga, takut-takut kedatangan Minho justru akan mendatangkan protes pada Kibum. "anu, itu—"

"Maaf mengganggu. Aku tahu anda adalah Tuan Shin, dan aku juga tahu bahwa namja bernama Kibum juga berada disini. Aku tidak ada maksud apapun, hanya ingin bertemu dengan appa."

Mendengar penjelasan Minho, justru membuat Tuan Shin menelan ludah. Masih ragu untuk menerimanya masuk atau tidak, dan dari balik pintu, ia hanya menyahut pada Siwon yang berada di dalam. "Siwon-ssi~ tamu untukmu~"

"Siapa?" Sahut Siwon terdengar dari dalam.

"Choi Minho-ssi~" Balas Tuan Shin lagi. Mendengar nama Minho, membuat Siwon bergerak langsung menuju pintu depan.

"Oh! Minho!" Siwon membuka seluruh pintu dan memeluk anak bungsunya itu.

"Maaf appa, aku berkunjung."

"Tidak apa-apa. Masuklah dulu." Ucap Siwon setelah meminta izin pada sang tuan rumah. Lalu, ketiga namja itupun sudah duduk mengitari meja ruang tamu.

"Bagaimana keadaan Kibum-ssi, appa?"

"Tidak bagus, Minho. Ia masih menyalahkan dirinya sendiri. Appa juga bingung harus bagaimana."

Minho sejenak berpikir. Melihat raut appanya yang menyedihkan itu membuat Minho iba. Ia tidak mau ada orang yang terluka lagi selain ummanya. Memang sebenarnya juga ini bukan kesalahan Kibum. "Apa aku boleh bertemu dengan Kibum-ssi?" Tanya Minho pada Tuan Shin. Meminta izin.

"Te-Tentu saja. Mari." Ucap Tuan Shin sambil menyuruh Minho mengikutinya. Sebenarnya ia takut kedatangan Minho akan menambah luka pada Kibum, tapi, ia juga percaya, dalam sekali lihat, raut wajah Minho sangat dewasa dan lebih bijaksana dari Siwon. Mungkin, bisa meredakan kegundahan Kibum, pikirnya.

Kini, mereka bertiga tepat di depan pintu kamar Kibum. Sejenak hening sebelum akhirnya Minho mendekat dengan daun pintu. Membiarkan dua namja dibelakang menunggu dalam keraguan, berharap Kibum mau bicara.

Tok tok tok. "Kibum-ssi."

Kibum yang ada didalam tersentak. Mendengar suara baritone yang tidak ia kenal. "Si-siapa?" Kibum akhirnya bersuara meski nada serak bercampur. Ia lebih penasaran siapa orang yang di bawa Tuan Shin dan Siwon untuk membujuknya.

"Aku Choi Minho, putra bungsu Siwon-ssi."

Mengetahui siapa yang datang, tanpa terduga, Kibum membeku ditempatnya, dan kembali mengalirkan air mata.

"Maafkan aku. Aku tidak akan... hiks, aku tidak akan mengganggu keluargamu lagi. Kau boleh pergi, bawa appamu." Kibum masih terisak dan menolak kehadiran mereka.

"Aku mengerti perasaan anda, Kibum-ssi. Mari kita bertemu, aku tidak menyalahkan anda—"

"TIDAK! Ini semua salahku! Yeoja bernama Yunhi itu, aku yang membunuhnya! Aku yang bersalah!" Teriakan putus asa dari dalam kamar membuat Siwon dan tuan Shin menatap miris. Minho hanya terdiam. Ia memikirkan bagaimana supaya Kibum mau menemuinya.

"—Kibum-ssi. Maafkan ummaku—" desis Minho. Membuat Siwon dan namja lain berbadan gumpal, juga Kibum yang masih berada di dalam membelalakan mata. Sebenarnya, apa yang akan Minho bicarakan?

"—hiks, a-apa maksudmu...?"

"Aku sudah tahu semua ceritanya. Ini bukan salahmu Kibum-ssi, kumohon, maafkan appa dan ummaku." Terang Minho sambil menyandarkan dahinya di daun pintu berwarna putih itu. "Maafkan appaku yang pernah menyakitimu..."

"Minho..." Desis Siwon sedih. Harusnya ia yang berkata seperti itu.

"Maafkan ummaku juga, yang tanpa sadar telah mengambil namja yang sudah menjadi segala kehidupanmu, maafkan appaku, tolong terimalah dia, aku tahu, Kibum-ssi adalah kebahagiaannya... dan maafkan aku yang juga terlahir dari hasil cinta mereka—"

Cklek.

Saat itu pintu kamar terbuka. Menampilkan sosok namja cantik berkulit putih dengan wajah yang sepertinya sudah lama berhias air mata itu. Dan langsung saja, Kibum memeluk Minho yang sudah ada di depannya. "Bukan maksudku—hiks, aku tidak pernah membenci Yunhi, aku juga sudah memaafkan appamu. Aku yang harusnya minta maaf..."

"Tidak. Sudah takdir umma saat ia sakit, Tuhan juga sudah mengambilnya, kumohon maafkan ia, maafkan appaku, aku berharap hubungan kita baik-baik saja Kibum-ssi..." Ujar Minho sambil menahan pilunya dengan menenggelamkan wajahnya di pundak Kibum yang berjinjit memeluknya.

Kibum mengangguk tanda mengerti sambil mengusap rambut dan punggung Minho dan lagi-lagi menangis. "Hiks, Iya... iya... aku juga ingin berhubungan baik dengan kalian... hiks, aku terkadang takut kalian membenciku... aku minta maaf, aku sama sekali tak pernah membencimu, siapapun kau, hasil cinta Yunhi dan Siwon, aku sudah mengerti...hiks."

"Kibum-ah..." Siwon ikut menghambur kedalam pelukan memilukan itu.

"Maafkan aku, hyung. Telah membuat kalian khawatir... aku tidak akan mengulanginya lagi.." Ungkap Kibum sambil menangis tersenyum.

Merasakan pelukan yang memilukan ini menjadi pelukan paling hangat yang Minho rasakan. Setelah saling melepas pelukan masing-masing, Siwon yang mengerti mulai menyingkir saat Kibum meraih wajah Minho dan menghapus air mata yang menghiasi mata belonya.

"Aku turut berduka cita Minho. Aku sangat sedih. Terima kasih, kau telah membantuku bangkit dalam kesedihan ini." Ungkapnya sambil mencium dahi yang susah untuk digapainya. Seperti sudah menjadi sosok ibu pengganti bagi Choi Minho itu.

Cukup lama berada di kediaman Tuan Shin sehingga waktu sudah menunjukkan pukul 21.32 malam. Mereka berempat yang bahkan makan malam bersama disana dan tak lupa mengajak Tao masuk, tak menyangka bahwa suasana sebelumnya merupakan suasana yang rumit.

Sekarang baik-baik saja.

Ya, untuk saat ini, mereka semua harus berusaha untuk baik-baik saja.

"Sepertinya aku harus pergi." Ucapan Minho menginterupsi kebersamaan.

"Tidurlah disini, Minho. Hari sudah semakin malam." Pinta Siwon.

"Tidak apa-apa, appa. Aku harus bertemu Yunho-hyung, dan mungkin aku akan tidur di villanya."

"Bicara Yunho, bagaimana keadaannya?" Tanya Kibum ngilu. Membuat raut Minho berubah cemas. Seperti yang di duga Kibum, kalau sepertinya Yunho sedang tidak baik-baik saja.

"Aku juga khawatir. Dari sekian orang, aku rasa Yunho-hyung masih shock atas meninggalnya Umma." Ratap Minho. Membuat Siwon dan orang lainnya yang ada disana terdiam.

"Baiklah, hati-hati Minho. Aku titip kakakmu." Ungkap Siwon. Ia sendiri tidak tahu harus bagaimana membangun keluarganya. Yang ada dipikirannya sampai saat ini adalah hidup bersama Kibum.

"Aku jadi kasihan. Aku harap ia bisa berubah dan Jae-hyung juga mau memaafkannya." Desis Kibum ketika Minho sudah bersiap mengenakan jaketnya di saat Tao sudah keluar untuk menyiapkan mobil.

"Aku juga harap begitu." Tambah Minho ketika semua mengantarnya sampai pintu depan.

"Hati-Hati Minho-ssi. Aku harap kita bisa berkumpul bersama lagi." Ucap Kibum mengiringi Minho yang akan masuk ke mobil.

"Ya, Kibum-ssi. Beristirahatlah dan Tuan Shin, jaga kesehatan selalu." Ujar Minho sambil masuk ke mobil dan mobil itupun mulai berlalu ke belokan dimana Villa Yunho berada tak cukup jauh dari sini.

"Changmin, darimana kau?" Suara lembut malam itu langsung mengagetkan Changmin. Laki-laki jangkung itu mendapati Jaejoong di depannya yang sambil memegang segelas kopi. Sepertinya keadaan ini juga terjadi secara kebetulan ketika Changmin diam-diam masuk rumah, namun Jaejoong baru saja dari dapur.

"Ah, itu—aku, aku dari rumah teman." Jelas Changmin cepat tanpa berpindah dari posisinya.

Jaejoong hanya menatapnya sambil menautkan alisnya. "Tapi, mengapa bajumu—"

"Y-ya! Ya itu, orangtua temanku baru saja meninggal." Balasnya lagi cepat. Changmin memang sengaja pulang larut agar ia tak diketahui Jaejoong seperti ini, tapi tak di sangka jam segini Jaejoong belum tidur. Ia juga tidak berbohong tentang jawaban yang ia beri pada pertanyaan Jaejoong, paling tidak, dia tak harus menceritakan Yunho saat ini. "Ke-kenapa hyung belum tidur?"

"Hmm, aku cemas. Kau pergi entah kemana dan belum pulang, bagaimana bisa aku tidur?"

"Hehe, mianhae, hyung. Aku lupa memberi kabar, pergi juga aku buru-buru. Sekarang aku sudah pulang, hyung tidak usah khawatir, sekarang beristirahatlah, aku mau mandi dulu."

"Hmm, nde." Angguk Jaejoong ketika Changmin mengusap rambut pirangnya dan berlalu melewati tubuh mungilnya.

Minho 2x mengetuk pintu. Tao masih setia berada di belakangnya. Tak berapa lama, Junsu muncul saat membuka pintu.

"Minho?" Ucapnya sedikit bertanya.

"aku dan supirku akan menginap disini. Bagaimana keadaan Yunho-hyung?"

"Kebetulan sekali, ayo masuk." Junsu mempersilahkan kedua orang itu masuk. Junsu tanpa bertele-tele langsung menunjukkan Yunho yang masih asik diruangan itu.

Dan masih melamun.

"Dari tadi, dia lebih banyak melamun. Hanya menjawab kita sedikit-sedikit."

"Dia juga tidak mau makan." Tambah Yoochun.

Minho hanya menatapnya khawatir. Dan entah mengapa, sebuah ide nekat muncul di kepalanya. "Kalau begitu, aku mau mandi dulu, biarkanlah Yunho-hyung, aku nanti akan berbicara padanya. Tao, kau mandi saja duluan."

"Ya, baik tuan." Ucapnya dan lalu Junsu mengantar Tao ke kamarnya.

"Aku akan buatkan sesuatu untuk kalian makan." Ungkap Yoochun saat mereka keluar dari ruangan Yunho.

"Tidak apa-apa Yoochun-ssi. Kami sudah makan di rumah Tuan Shin."

"Tuan Shin?"

"Ya. Kibum-ssi masih shock dan mengurung diri dikamar. Tuan Shin dan appaku tidak bisa berbuat apa-apa. Syukurlah, sekarang dia baik-baik saja."

"Syukurlah kalau begitu. Aku masih khawatir dengan Yunho, aku harap seseorang bisa mencerahkan hidupnya. Andai saja Jaejoong dan Yunho bertemu, kira-kira, bagaimana reaksi mereka, ya?" Gumam Yoochun yang sudah sangat jelas pasti di dengar Minho.

"Karena itu, kebetulan hari ini aku bertemu Taemin. Aku akan memintanya untuk mempertemukan Yunho-hyung dengan Jaejoong-ssi."

"He? Kau bertemu adiknya? Bagaimana bisa? Aku bahkan sampai sekarang tak tahu dimana Jae-hyung berada."

"Dia bekerja di kedai kopi yang kebetulan aku sedang mampir. Aku juga cukup terkejut. Na, Yoochun-ssi, aku izin menelpon dulu."

"Ya silahkan, aku harap mendapat kabar baik." Ungkap Yoochun. Lalu Minho berlalu menuju teras terdekat dan mulai menelpon Taemin. Taemin ragu untuk menerima permintaan Minho itu, tapi Minho juga ada benarnya karena ini menyangkut hubungan akhir Jae-hyung dan Yunho-hyung. Mau tidak mau, mereka harus bertemu untuk kembali menormalkan keadaan. Dan entah bagaimana, Taemin sudah bisa mempercayai Minho bahwa tindakan yang Minho usulkan ini adalah hal yang akan bernasib baik.

Setelah mendapat persetujuan Taemin. Minho mencoba berbicara pada Yunho. Benar saja, mendengar nama Jaejoong, Yunho langsung menangis.

"—Aku tidak tahu bagaimana cara menebus semua dosaku padanya, Minho..."

"Aku akan lakukan apapun, Hyung. Agar Jaejoong-ssi mau bertemu denganmu. Aku percaya kau akan berubah—"

"Aku tahu minta maaf saja tidak cukup, Minho— aku bahkan rela mati jika dia begitu membenciku, aku tidak ingin egois lagi, aku tidak tahu bagaimana untuk hidup lagi, umma sudah tiada, hanya Jaejoong yang kumau..." Isak lelaki tampan itu.

Minho hanya bisa mengusap punggung kakaknya. Rasanya sangat kasihan melihat kakaknya yang lebih terpuruk daripada sang appa. Minho ingin memperbaiki Choi. Dan Minho ingin memberikan hidup yang terbaik untuk appa dan hyungnya. Juga untuk generasi Choi selanjutnya. Semua akan ia ubah, ia yang sudah resmi jadi pewaris keluarga Choi itu..

Taemin sudah setuju, Kibum setuju, semua setuju akan rencana Minho untuk mempertemukan kedua namja itu. Namun kendala mereka hanya satu...

Shim Changmin...

Pagi masih tetap kembali. Beberapa namja di pagi yang masih cukup gelap itu, baru saja sampai di apartemen Changmin. Dan beberapa namja itu bahkan sudah sangat siap untuk menekan bel pintu berwarna coklat legam itu.

Ting tong, ting tong.

Tak ada sahutan, tapi, saat menunggu cukup lama, pintu akhirnya terbuka dengan seorang namja yang nampak santai.

"Ya~" Ungkapnya ketika akan membuka pintu. Dan cklek, saat ia membuka pintu, yang ia dapati di penglihatannya adalah sosok dongsaeng tercinta. "Lho? Taemin? Ada apa? Kok pagi-pagi sekali?" tanyanya tanpa menyadari raut wajah Taemin yang cukup gugup itu. "Ayo masuk—"

"Ano... itu hyung—" Taemin masih ragu untuk melangkah masuk.

"Anyeong." Dan tanpa basa-basi, wajah Minho muncul dari samping kanan Taemin.

"Minho!? Taemin! Apa-apaan ini?!" Ujar Changmin kaget dan mulai menutup sedikit pintu sebelum akhirnya sebuah tangan kekar mencegahnya. Dan muncullah sosok itu "Yunho-hyung?!" Changmin bahkan benar-benar terkejut dengan suasana pagi yang tak di duganya ini.

"Changmin-ah! Biarkan aku bertemu Jaejoong!" Antusias Yunho.

"Yang benar saja! Taemin! Apa yang kau lakukan! Kau hanya membuat Jae-hyung menderita!" teriak Changmin sambil berusaha menutup pintu. Melindungi yang dikasihinya di dalam sana.

"Tidak Changmin-hyung! Mereka semua berniat baik!" Keras kepala Taemin sambil ikut menahan pintu bersama Yunho dan Minho.

Semua bersikeras untuk menyatakan bahwa mereka yang ada disana merasa benar dengan tindakannya masing-masing sampai tak sadar bahwa keributan yang mereka timbulkan rupanya mengusik sang ratu.

"Changmin-ah, ada apa ribut-ribut?" Ungkap namja berkulit pucat berambut pirang dengan balutan baju rajut berwarna putih dan celana hot pants itu. Selain melihat Changmin yang asik menarik pintu dari dalam, ia juga mendapati sosok Taemin di setengah sela pintu yang masih terbuka, tak menyadari ada beberapa tangan lain yang menggenggam erat sisi pintu. "Taemin? Kau kenapa? Changmin-ah! Kenapa kau tak suruh Taemin masuk—"

"Boo!" Yunho yang sadar akan adanya seseorang lain didalam sana yang tengah bercengkrama dengan Changmin, dengan sekuat tenaga, menggagalkan pertahanan Changmin dan pintu itu terbuka. Menampakkan sosok dirinya yang bertemu dengan sosok angel yang cantik di seberangnya.

"Boo..." belum sempat beraksi bahkan bertindak, mata Yunho membelalak ketika dengan kehadirannya, paras Jaejoong langsung memucat, badan mungilnya dengan refleks bergetar dan wajahnya nampak seperti melihat dirinya adalah sesosok setan. Kaki mungil itu perlahan mundur, mundur dan pada akhirnya berlari ke kediamannya dan langsung mengunci ruangan yang sudah di tinggalinya beberapa tahun ini.

"Sial! Seperti apa yang kuduga!" Umpat Changmin.

Yunho hanya memasang wajah miris, ia tak sangka Jaejoong akan shock sehebat itu saat melihat dirinya. Membuat hatinya tambah merasa sedih rasanya bahwa ia banyak memiliki dosa dengan namja yang polos itu.

"Hyung, jangan menyerah. Aku yakin, kita bisa." Ucap Minho sambil mengusap punggung hyungnya.

"Sekarang, aku sudah tidak tahu harus bagaimana! Sialan!" Umpat Changmin yang berpikir, Jaejoong kini takkan mempercayainya dan akan selamanya mengurung diri di kamar itu terus-terusan.

"Changmin-hyung! Aku akan membujuknya! Kumohon, biarkan kami meluruskan segalanya!" Pinta Taemin sambil menggenggam tangan Changmin dan menatap yakin dengan mata yang nyaris akan menangis itu.

"Yasudah, kalian masuk saja dulu." Bagaimanapun, Changmin juga tetap percaya pada Taemin, dan mungkin saja, Yunho juga takkan menyakiti Jaejoong lagi ditambah ia juga sudah lihat bagaimana tindakan dewasa Minho dapat berhasil membuat suatu hubungan harmonis dengan Yunho. Mungkin, mereka bertiga juga ada benarnya, hanya saja sekarang, penderitaan yang membekas pada kehidupan Jaejoong itu yang mungkin akan mengalahkan niat mereka ...

Keributan di pagi ini, sekarang telah menjadi suasana hening mencekam. Yunho dengan sangat terpaksa hanya bisa duduk manis di ruang tengah, membiarkan Minho, Taemin dan Changmin bergumul di depan pintu kamar Jaejoong yang masih kokoh untuk tak mendengar siapapun, bahkan nyaris sejam berlalu dan mereka hanya mendengar isak tangis di dalam sana.

"Jae-hyung... mianhae, kumohon, biar kami jelaskan... Jae-hyung, aku hanya ingin kebebasan untukmu..." Lirih Taemin yang masih setia menempel di pintu kamar Jaejoong.

"Hiks, bagaimana aku bisa bebas Taemin-ah... hiks, namja itu penjaraku..." jawab suara di dalam. Ia tahu Yunho tak ada di depan sana, tapi ia masih yakin kalau Yunho masih ada dirumah ini. Meski selain Changmin dan Taemin, ia tidak tahu siapa namja belo yang bersama kedua dongsaengnya.

"Hyung..." Taemin tidak tahu harus bicara apa lagi. Bahkan Changmin dari tadi hanya membisu, semua keputusan ini ia gantungkan hanya pada hati Jaejoong.

"Ano, Kim Jaejoong-ssi, kumohon, percayalah pada Yunho-hyung, dia hanya ingin menebus segala dosanya. Aku mohon beri dia kesempatan." Ungkap Minho memohon. Jaejoong sedikit tersentak saat mendengar suara baritonenya, tapi hatinya masih berduka mengingat penderitaan yang di laluinya akibat seorang namja bernama Choi Yunho itu.

"Bagaimana bisa iblis seperti dia menebus dosa? Apa kalian yakin tangan-tangan biadabnya itu takkan menyentuhku lagi, hm? Kalian tak mengerti ! kalian takkan tahu!"

"Hyung! Aku tahu! Aku mengerti! Kumohon! Berbicaralah pada kami! Tidak seperti ini!" Taemin nyaris berteriak saat itu juga, bagaimana ia bisa tidak tahu perasaan itu? Perasaan di perkosa saat ingin mendapat hidup yang nyaman. Perasaan saat tangan-tangan asing meraba tubuhnya, memaksa masuk kedalam kediamannya hanya demi berlembar-lembar uang? Bagaimana ia juga pernah merasakan tubuhnya terbanting di kasur dan bajunya di robek tanpa ada perjanjian lalu ia mulai disiksa dengan sesuatu bernama Sex, Taemin bahkan masih ngeri memikirkan itu apalagi hal itu ia dapatkan dari namja yang sekarang berdiri di sampingnya. Tapi ia yakin, Minho juga punya sisi baik yang tidak ia ketahui.

Melihat Taemin yang berjuang, membuat Changmin yang tahu segalanya tentang penderitaan kedua Kim itu tak ingin melihat kepedihan lagi. Pada awalnya, ia berdiri di pihak Jaejoong, tapi melihat Taemin yang mencoba bertahan dari pengalaman mengerikannya, membuat Changmin juga ingin mengubah Jaejoong yang masih manja pada sebuah penderitaan.

"Jae-hyung... kumohon, paling tidak, bicaralah pada Taemin... aku yakin, banyak yang tidak Taemin tahu, juga banyak yang tidak kau tidak tahu tentang Taemin..." Ujar Changmin selembut mungkin.

"Changmin-ah..."

"Kalian itu bersaudara, kalian saling menyayangi tapi kalian tidak punya banyak waktu bersama. Bergeraklah Hyung, kau tidak bisa hanya berdiam disini, bicaralah pada Taemin." Terang Changmin. Dan entah mengapa, kalimat ajaib itu ada benarnya. Jaejoong hanya egois untuk dirinya sendiri, tak mau mencoba mendengar Taemin tercintanya yang berusaha untuk membuat kebebasan untuknya.

Cklek. Dengan perlahan pintu terbuka, menampilkan sang putri dengan wajah kucalnya dan mata bengkaknya disana. Namun tak menghilangkan kecantikkannya. Tak ada Yunho bersama mereka, Jaejoong lalu mempersilahkan ketiga orang itu masuk.

Namun, ketika namja yang duduk jauh di ujung lorong sana, melihat Minho, Taemin dan Changmin masuk, dan dengan masih dalam rasa was-was, Yunho yang tak sabaran itu kini berada di depan pintu kamar, ingin mengetahui sendiri apa hasil yang akan datang dari segala kejadian hari ini.

"Mianhae, Taemin-ah..." Ujar Jaejoong sambil memeluk Taemin saat ia sadar, bahwa keras kepalanya barusan sampai membuat Taemin meneteskan air matanya.

"Nde, tak apa-apa, hyung... oh ya, dia Minho." Ujar Taemin sambil mengawali dengan memperkenalkan namja pembuat ide itu.

"Annyeong." Bungkuk Minho sopan.

Mendengar nama Minho, rasanya Jaejoong mengingat sesuatu. "Ah! Dia Minho yang membantumu? Yang pernah meminjamkan uang pada kita?"

Taemin, Changmin dan Minho langsung memasang senyum kecut. Mengapa Jaejoong hanya mengingat tentang uang dan kebaikan orang –ah, juga kejahatan orang— padahal harusnya mereka tetap menyembunyikan masalah jual diri Taemin.

"Ah, iya hyung. Dia orangnya."

"Wah! Terima kasih Minho, terima kasih, kau sudah membantu kami, suatu saat aku akan mengembalikannya."

"Tidak apa-apa. Aku sudah mengikhlaskannya."

"Hee? Uang sebanyak itu? Apa kau bercanda?"

"Sebenarnya dia adalah—" Taemin berusaha menjelaskan siapa sebenarnya Minho itu.

"Dengan syarat, Jaejoong-ssi. Aku ingin kau dengan bijak, mendengar semua ceritanya dari awal." Minho memotong penjelasan Taemin yang mungkin akan memberitahukan kalau dia adalah seorang Choi.

Taemin dan Changmin langsung melotot. Menceritakan hubungan Minho dan Taemin, sama sekali tidak ada dalam skenario.

"Minho! Jangan kurang ajar kau." Bentak Changmin sambil mencengkram baju Minho. Namun, Minho tetap memasang wajah datar. Ia harus menceritakan semuanya, karena yang punya dosa bukan hanya hyungnya. Ia juga punya dosa terhadap keluarga Kim ini.

"Changmin, apa yang kau lakukan!?" Cegah Jaejoong. Dan Taemin hanya terdiam gugup, masih percaya yang Minho lakukan adalah benar. karena Taemin juga punya rasa ingin memberitahu semuanya.

"Minho, jangan macam-macam kau, aku memang bilang agar Jae-hyung dan Taemin saling berbagi cerita tapi tidak dengan detailnya." Ancam Changmin, tak ingin ada luka lagi pada kedua Kim itu.

"Changmin-hyung..." Ungkap Taemin membiarkan Minho berbuat sesukanya.

"Tidak Taemin, tidak." Keras kepala Changmin meski Taemin membuka pintu untuk memberitahu Jaejoong. Ya, Changmin juga tahu segalanya.

"Sebenarnya ada apa ini?!" Jaejoong yang sama sekali tak mengerti mulai kesal. Sebenarnya, ada rahasia apa yang tidak ia ketahui?

"Cho—" Ucapan Minho tercekat saat Changmin dengan keras mencengkram kerah bajunya.

"Tidak Minho." Changmin melotot mengisyaratkan Minho membungkam cerita itu.

"—Choi, Choi Minho imnida." Setelah mengucap itu, Changmin dengan kesal mendorong Minho.

"SHIT!" Ungkapnya. Dan benar saja, mendengar nama itu saja, membuat Jaejoong membeku di tempatnya.

"C-C-Choi?" Tanyanya terbata. Bagaimana marga sialan itu muncul di tengah-tengah pertemuan ini.

"Hyung..." Taemin dengan sigap memegang Jaejoong yang dalam seketika nampak lemah itu.

"Taemin-ah... apa maksudnya?" Jaejoong menoleh dengan kaku, namun, melihat wajah Hyungnya itu, Taemin hanya bisa menangis, kini ia sekarang bisa dengan jelas melihat segala penderitaan yang di laluinya.

"Choi Minho. Namaku adalah Choi Minho. Anak bungsu dari keluarga Choi." Ujar Minho yang dengan wajah stoicnya kini mulai beranjak dan akan mengawali ceritanya.

"Jadi—kau sama dengan si Yunho itu...?"

"Nde." Jawab Minho singkat. Dengan segera, turun air mata dari kelopak mata Jaejoong, ia yakin akan mendengar cerita tidak enak tentang apa saja yang seorang CHOI sebabkan. Tepatnya, mengukir PENDERITAAN.

"Tsk." Changmin hanya bisa menggertakan giginya kesal.

"Taemin... jangan bilang uang itu..."

"Hiks, Mianhae hyung... mianhae..."

"Maafkan aku Jae-hyung. Uang itu adalah hasil Taemin yang memberikan tubuhnya padaku." Tanpa rasa bersalah, Minho dengan tegas mengucap kalimat itu. Dengan wibawanya, Minho sudah nekat untuk menceritakan segala dosa dan kepedihan.

"Brengsek... keparat! Keparat kalian! Bagaimana bisa bajingan seperti kaliaaaan!" Meski dengan amarah, Jaejoong yang rapuh itu berusaha memukul namja jangkung itu, menjambaknya, mencabiknya, mengumpatnya, segalanya. "Orang-orang biadab seperti kalian! Bagaimana kalian bisa hidupppp!" Teriak Jaejoong frustasi.

"Andwae, hyung..." cegah Taemin masih menangis agar Jaejoong tidak menghukum Minho lagi.

"Taemin... Taemin, hiks, bagaimana bisa kauuu..." Kini Jaejoong dengan lemah menjatuhkan kedua lututnya. Bahkan Taeminnya yang berharga, harus merelakan kesuciannya demi uang, demi namja brengsek. Ia masih terima dengan Jonghyun karena Taemin mencintainya, tapi kenyataan pahit yang ia dengar ini, satu-satunya kebanggaannya, bagaimana bisa ia percaya bahwa Taemin mengalami rasa sakit yang sama dengannya, tanpa ia tahu sedikitpun.

"Kejadian itu kulakukan... hiks, demi umma,,, Hyung... mianhae..." Tangis Taemin sambil dengan lemah memeluk Jaejoong yang masih menangis shock

"Namja brengsek seperti kalian... hiks, namja sialan seperti kalian. Memanfaatkan kami... uang biadab kalian... menghancurkan hidup kami..." Desis Jaejoong.

Yunho yang ada di luar sana bahkan bisa menangis mendengar segala sakit hati Jaejoong. Tentu saja, kedua namja Choi itu sangat berdosa. Berdosa amat banyak terhadap kedua namja Kim.

Dan seketika, tatapan berair Jaejoong bertumpu pada Changmin yang ada diruang ini. Ia saja heran bagaimana bisa Changmin mengancam Minho, atau jangan-jangan...

"Changmin-ah, kau sudah tahu?"

"Jae-hyung..." Ucap Taemin dan Changmin bersamaan.

"Kau sudah tahu? Dan kau tak melakukan apapun? Taemin dongsaengmu, Changmin..."

"Hyung, aku—"

"Ah ya, aku ingat. Kau juga teman si brengsek itu. Max si teman Uknow itu kan?"

"Hyung, tidak ada kaitannya dengan itu..."

"Kalian semua bajingan! Kalau sudah seperti ini, BAGAIMANA BISA AKU MEMAAFKAN YUNHO BRENGSEK ITU! BAGAIMANA?!"

Yunho sampai tersentak mendengar teriakan itu, apakah sudah tidak ada kesempatan lagi untuknya? bahkan untuk meminta maaf? Bagaimana bisa ia menebus dosa pada Jaejoong yang dengan memikirkan dirinya saja, sudah semarah itu?

"Umma... apa yang harus kulakukan?" desis Yunho dan dengan segera, ia meninggalkan ruangannya. Berlari menangis dengan keadaan kacau, Jaejoong yang diinginkannya, mungkin tak bisa di raihnya lagi, bahkan dengan kelembutan, bahkan dengan pemaafan...

Hingga akhirnya... CKIIIIITTTTTTT~

"GYAAAAA! Toloooong!" Mendengar suara teriakan yang sangat dekat, membuat Changmin, Minho, Taemin dan Jaejoong terinterupsi. Mereka juga dengan jelas mendengar suara tabrakan di depan rumah mereka.

"Tolooong! Ada laki-laki tertabrak mobil!" Ahjumma itu lagi-lagi berteriak minta tolong. Minho yang sigap memastikan dengan melihat dari balik jendela.

"ASTAGA! YUNHO-HYUNG!" Dia kaget ketika dengan jelas melihat Yunho dengan bersimbah darah tertidur di aspal itu. Dan dengan berlarian, ketiga namja tanpa Jaejoong yang hanya melihat dari jendela kamarnya, mulai menghampiri keramaian.

"Hyung! Hyung! Bangun hyung!" Minho menangis tak karuan melihat namja yang tadi pagi bersamanya, kini dalam keadaan tragis seperti ini. Bahkan Jaejoong bisa merasakan suasana pilu di bawah sana. Tapi hati kecilnya, masih membenci seorang Yunho yang sekarat itu.

"Biar aku periksa." Ungkap Changmin tak kalah panik sambil memegang pergelangan tangan Yunho. "masih berdenyut... Taemin telpon ambulans."

"Baik, Hyung." Dan dengan sigap pula, Taemin melaksanakan titah Changmin. Dan beberapa menit kemudian, ambulans datang, Minho langsung ikut melarikan Yunho kerumah sakit.

Kabar Yunho kecelakaan dan masuk rumah sakit, sudah menyebar kemana-mana, Minho yang sampai sekarang belum pulang, masih dirumah sakit menunggu Yunho yang masih di rawat di UGD setengah jam yang lalu. Tao yang mendengar kabar dari tuannya di saat kencan bersama Kris, dengan cepat mendatangi rumah sakit bahkan membawa sang pacar, Tao juga sedih ketika melihat Tuannya yang merasa depresi dan cemas itu. Dan tak berapa lama, Junsu datang bersama Yoochun, dan 15 menit setelahnya, Taemin dan Changmin datang bersama Jaejoong yang setengah terpaksa setengah khawatir itu.

"Jae-hyung..." Betapa gembiranya Yoochun begitu melihat Jaejoong baik-baik saja.

"Yoochun-ah..." Dan Jaejoong yang hatinya melembut akan kejadian kecelakaan Yunho memeluk Yoochun yang sudah lama tak ia ketahui kabarnya. Dan cukup kaget melihat Junsu bersamanya. "Kau, masih..." Jaejoong mulai ilfil berpikir Yoochun masih bekerja untuk Junsu.

"A-Annyeong, Jaejoong-ssi..." Nampak Junsu punya berbagai rasa terhadap namja yang pernah disakitinya itu.

"Aniyo, hyung. Kami akan menikah." Ungkap Yoochun malu-malu.

"Hee? Aku aneh dengan kalian semua, bagaimana bisa kalian memaafkan laki-laki seperti mereka."

"Mi-mianhae, Jaejoong-ssi." Ungkap Junsu merasa bersalah dulu pernah membuat shock Jaejoong. Jaejoong juga melirik Taemin yang senantiasa memeluk Minho yang down itu. Entah kenapa orang-orang di sekitarnya bisa menerima namja brengsek seperti mereka.

"Tidak apa-apa. Aku harap kalian bahagia." Ungkap Jaejoong malas.

"Jae-hyung, ada baiknya kau memaafkan Yunho. Setahun aku hidup bersamanya. Dia orang yang baik." Saran Yoochun. Namun Jaejoong berusaha tak menanggapi komen positif dari sekitarnya.

"Minho! Apa yang terjadi!" Siwon datang bersama Kibum dan Tuan Shin dan langsung panik melihat Minho yang lemah itu.

"Appa... Yunho-hyung..." Minho langsung terisak ketika melihat appanya dan dengan Sabar Siwon mengusap punggung anak bungsunya yang tengah memeluknya itu. Jaejoong bahkan cukup melotot begitu melihat lelaki baik yang dikenalnya adalah appa dari anak-anak brengsek itu.

"K-kau, Choi Siwon?" Ungkap Jaejoong merasa tabu dengan suasana aneh seperti ini.

"Oh. Kim Jae Joong." Ungkap Siwon setelah membiarkan Minho berada dalam pelukan Kibum.

"Jaejoong! Kau baik-baik saja?!" Tuan Shin tak kalah bahagia melihat Jaejoong.

...

Sambil masih setia dan was-was menunggu Yunho, orang-orang yang tak disangka saling bertemu kini berada di ruang loby rumah sakit. Bahkan pengaruh nama Choi, bisa membuat ruang tunggu VIP pribadi secara dadakan.

Kini Tao dan Kris ikut berkumpul bersama Changmin, Taemin, Jaejoong, Yoochun, Junsu, Minho, Siwon, Tuan Shin, Kibum, dan Kyuhyun yang datang bersama atasan Jaejoong dan Taemin, Sungmin Ahjussi tengah berkumpul. Lebih tepatnya, semua sudah saling tahu dan menceritakan masalahnya masing-masing. Dan entah kenapa, Jaejoong yang sejak awal mengenal Siwon adalah orang baik, tak percaya bahwa ia adalah cinta pertama Kibum, dan ayah tiri Yunho dan ayah kandung Minho. Semua sudah diceritakan sehingga mereka tahu permasalahannya. Bahkan beberapa orang baru tahu bahwa sekertaris Cho Kyuhyun menjalin hubungan dengan Sungmin sudah sangat lama.

"Jadi atas nama keluarga Choi, secara pribadi, aku Choi Siwon, minta maaf sebesar-besarnya pada keluarga Kim. Tolong maafkan anak-anakku."

"Nde. Tidak apa-apa, kalian sudah berubah, aku bisa mengerti." Ucap Taemin yang masih setia duduk di samping Minho.

"Jaejoong, tolong maafkan kami." Ungkap Siwon yang masih gugup dengan suara Jaejoong yang masih terdiam. Sedangkan rekan sepihaknya sudah berada di pihak Yunho agar Jaejoong mau memaafkannya.

"Aku—"

"Permisi, Tuan Choi Siwon. Aku minta maaf telah mengganggu." Dokter yang menangani Yunho masuk keruang ini.

"Iya, bagaimana keadaanya dokter?!" Tanya Siwon langsung beranjak menghadapi sang dokter. Semua yang ada diruangan was-was dengan apa yang akan di sampaikan dokter itu.

"Kondisinya masih lemah, tapi sepertinya tuan Yunho sedang berjuang. Dan saya meminta orang yang bernama 'boo' menemaninya."

"B-Boo?" Siwon bertanya-tanya. Siapa 'boo' itu? Beberapa orang mendelik kepada Jaejoong yang masih ragu.

"Begitulah. Dalam berjuangnya melawan rasa sakit, Tuan Yunho selalu memanggil-manggil nama 'boo'. Aku rasa, ia ingin dikuatkan untuk melawan rasa sakitnya."

"Si-siapa yang bernama Boo, Minho?" Tanya Siwon. Tapi tak ada respon dari Minho yang masih down bahwa dalam beberapa jam ini, Yunho masih dalam keadaan kritis.

"A-Aku." Dengan jujur, Jaejoong angkat tangan. "Aku yang slalu di panggil Yunho dengan panggilan itu. Namaku Kim Jaejoong.

"Baiklah Kim Jaejoong-ssi, mari ikut aku." Ungkap sang dokter dan dalam rasa yang masih ragu, Jaejoong mulai mengikuti sang dokter.

Setelah mengikuti instruksi mengenakan baju hijau, topi karet hijau dan masker hijau, Jaejoong di tujukan kearah ruangan dimana ada beberapa perawat pria dan wanita yang masih sibuk menangani alat-alat di sekitar Yunho.

"Boo..." samar-samar Jaejoong mendengar panggilan itu. Langkahnyapun perlahan mendekati ranjang Yunho. Dan seketika Jaejoong mengatupkan tangannya ke arah mulutnya, menahan shock melihat betapa malangnya namja yang secara tak sadar memanngil-manggil dirinya itu. "B-boo..." terucap lagi namanya di sertai dengan ringisan kesakitan kala Jaejoong tepat di sampingnya. Dan beberapa perawat yang masih di ruang ini, sepertinya tengah sibuk membereskan peralatan.

Namja bernama Yunho itu, masih memejamkan matanya, ada jahitan dari dahi hingga ke mata kirinya. Juga ada beberapa goresan di bagian bibir bawahnya. Dan sebelum meninggalkan ruangan, dokter berkata pada Jaejoong bahwa Yunho juga mengalami cedera di bahu dan tulang rusuknya. Menangani Yunho sudah usai, sekarang hanyalah menunggu perjuangannya untuk melawan rasa sakit dan menyadarkan diri.

"Yunho-ah..." Bahkan Jaejoong yang dingin itu tak bisa memungkiri saat ini namja yang di bencinya itu tengah berjuang, membuatnya merasa iba dan ingin ikut serta dalam perjuangannya. "Yunho-ah, kau bisa..." Ungkapnya miris sampai-sampai tak sadar bahwa dirinya sudah menangis.

"...boo—"

"Nde. Aku disini." Jawab Jaejoong lirih sambil menggenggam tangan besar Yunho yang sedari tadi melayang, mengepal bahkan mencekram selimut.

"b-boo..." Dan entah keajaiban apa, saat Jaejoong meraih tangan yang kesakitan itu, mata sipit Yunho perlahan mulai terbuka, meski terus meringis saat membuka bagian mata kiri. Dan seketika, Jung Yunho tersenyum kecil saat mendapati Jaejoong di dekatnya. "Boo..." lemahnya.

"Nde—" Jaejoong tak tahu harus menjawab apa. Hanya terisak kecil.

"Boo... mianhae—"

"Iya. Sudah jangan bicara lagi." Terang Jaejoong melihat betapa beratnya Yunho untuk berucap.

"Boo, mianhae—" namun Yunho mengulangnya dan mulai mengalirkan air mata.

Melihat keadaan ini, lagi-lagi Jaejoong ikut meneteskan air matanya. Lebih deras daripada tetesan air mata kepedihan Yunho. "Nde, hiks, gwenchana. Tidak apa-apa Yunho... aku mengerti..."

"Teri-ma kasih... boo—"

"Sudah jangan bicara lagi. Bertahanlah."

Begitu sadar Yunho sudah siuman, beberapa perawat segera menangani alat-alat yang akan membantu Yunho tetap sadarkan diri, tak menggubris suasana cengkrama Yunho dan Jaejoong dalam kepiluan.

"Aku sudah tidak tahu harus bagaimana lagi selain mendapatkan maafmu boo—"

"Iya—" Jaejoong hanya bisa menangis mengapa suasana ini menjadi lebih mencekam dari sebelumnya.

"Padahal aku ingin menebus dosa-dosaku... maafkan aku—telah menyebabkan penderi—taan padamu..."

"Kumohon, jangan bicara lagi Yunho..." Isak Jaejoong sambil menggenggam tangan Yunho lebih erat.

Namun saat itu, Yunho tersentak. Jantungnya berdegup lebih kencang, nafasnya terasa tercekat dan hawa sekitarnya terasa begitu dingin.

"Boo—dingin, boo—"

"Yunho-ya...? Yunho-ya!" Jaejoong melotot saat ia juga bisa merasakan dingin menjalar dari telapak tangan Yunho, dan badan namja itu mulai menggigil hebat.

"Dingiin, boo—"

"Yunho ya!" Jaejoong berusaha memeluk, menggosok telapak tangannya pada telapak tangan Yunho, berusaha memberi kehangatan. Di tambah suara mesin yang mulai berisik. "Dokter! Suster!" keadaan itu membuat semua yang ada di ruang ini menuju kearah ranjang Yunho dan mulai menangani dengan cekatan. Seorang perawat lalu membawa Jaejoong menjauhi ranjang menuju kepintu keluar.

"Maaf tuan, kami akan menangani pasien. Harap menunggu disini." Ungkapnya buru-buru dan kembali masuk, lalu dokter melewati Jaejoong begitu saja dan mulai ikut masuk.

Lampu UGD kembali menyala merah. Jaejoong dengan lemah menjatuhkan lututnya, bahunya bergetar, suaranya tercekat dan hanya terisak pilu.

'Yunho-ya... jangan pergi...' bisiknya dalam hati dengan suasana kesedihan.

THE END—

Cerita tambahan :

Setelah kejadian memilukan itu. Beberapa bulan sudah berlalu. Bulan ini adalah bulan dimusim dingin, seorang namja berkulit pucat dengan syal dan jaket tebalnya, juga rambut blondenya yang terlihat sangat lembut di musim bersalju ini, berdiri di sebuah pagar kayu sebelum ia membukanya.

Lalu, suara vespa tua yang tak asing, mendekati dengan santai. "Selamat pagi, Joongie." Ungkap pak pos yang paling terkenal di daerah sini dengan sambil melambaikan tangan tanpa turun dari motor tuanya itu. Ia mendapati Jaejoong juga membawa kantung belanja dan terlihat roti panjang di dalamnya. "Dingin seperti ini, sudah keluar belanja. Hehe." Tambah pak pos itu.

"Iya donghae-ya." Senyum Jaejoong dan kembali melambai saat Donghae sudah berlalu. Ya, sudah 5 bulan, Jaejoong tinggal di rumah yang sederhana ini. Setelah suara vespa menjauh, Jaejoong lalu membuka pintu pagar dan menguncinya. Lalu, berjalan pelan melewati halaman yang sudah penuh dengan salju itu untuk masuk kedalam rumah yang kelihatannya sangat hangat.

...

Suara deru vespa yang senantiasa menemani Donghae selama 7 tahun ini, mulai terhenti di dekat sebuah gang yang cukup jauh dari tempat ia bertemu dengan Jaejoong 58 menit yang lalu. Dengan bersiul pelan, Donghae turun dari motor tercintanya dan merapikan rambutnya lewat kaca spion, dan mulai merapikan bajunya. Dan dengan sangat gembira, ia mengambil seikat bunga yang sedari tadi di simpan di dalam kotak tempat ia membawa beberapa pesan.

Dengan senyum yang sumringah. Dia mulai berjalan menyusuri gang sehingga sampai di tempat bernama 'rumah matahari'. Dan di pagi itu, seorang namja yang nampaknya sudah sibuk mengurus rumah tempat yatim piatu itu, tengah keluar membawa beberapa kantung sampah di pagi bersalju ini.

"Hyukkie-ya!" Sahut Donghae gembira saat melihat orang yang dicintainya tepat keluar dari rumah ini bersamaan saat ia tiba.

Setelah membuang kantung yang ada di tangannya. Eunhyukpun tersenyum dan mendekati Donghae.

"Pagi sekali. Kau tidak bekerja apa?" Tanya Eunhyuk.

"Tada~" Donghae yang sedari tadi menyembunyikan bunga yang di bawanya di belakang punggungnya, dengan sangat gembira menunjukkannya pada Eunhyuk.

"Kau ini~ daripada membawa yang beginian, bukannya kau lebih baik bawa makanan?" Eunhyuk nampak terlihat kecewa.

"Hee? Kau tidak suka ya?" Dan senyum Donghae, berubah menjadi wajah sedih.

"Aku bohong kok, wee." Ucap Eunhyuk sambil mengambil bunga mawar putih yang di bawa kekasihnya itu. Dan lalu mengecup pipi Donghae di pagi sedingin ini. "Ayo, ikut kami sarapan." Terangnya sambil menggandeng tangan Donghae masuk kedalam panti asuhan yang terlihat nyaman dan hangat di cuaca dingin ini.

0o0

"Aku pulang." Ungkap Jaejoong saat memasuki rumah. Dan derap kaki langsung terdengar dari dalam begitu ada suara seseorang pulang.

"Boo?" Nampak Yunho muncul dengan sweater abu-abunya, wajahnya yang terluka dengan mata kiri yang tak terbuka karena jahitan luka lama, tak menghilangkan ketampanan anak tertua Choi itu.

"Kau sudah bangun? Padahal aku tidak belanja lama." Ucap Jaejoong sambil membuka sepatu bootsnya. Dan setelah itu, Yunho antusias menghampirinya dan mengangkat tubuh mungil Jaejoong. "Hei~ hei~ Yunnie-ya~" Ungkap Jaejoong tak bisa menahan senyuman dan tawa saat kekasihnya itu mengangkat tubuhnya berulang-ulang.

"Ini hukuman karena keluar tanpa diriku, woo~~" Ujar Yunho sambil mempoutkan bibirnya.

"Nde~ maafkan aku~chuu~ jangan marah ya~" Ujar Jaejoong sambil mencium pelan bibir sexy namja itu.

"Ayo kita sarapan~~!" Ungkap Yunho sambil tetap menggotong tubuh mungil kekasihnya menuju ke dalam. Dan Jaejoong hanya tertawa dengan malu saat Yunho membopongnya bagai sebuah barang ketika akan menuju dapur untuk membuat masakan hangat di pagi yang dingin ini.

HAPPY ENDING

Semuanyaaaa~~~

Terima kasih sudah mengikuti cerita ini bersamaku, ehehe, sudah sudah, jangan ada kesedihan lagi dengan pair tercinta ini :'D

Sudah berapa tahun memulai kisah ini, dan akhirnya ending dengan kebahagiaan dan normal-POV. Para pembaca, reviewer, reader yang meng-fav/memfollow dan silent readerku tercintah, terima kasih sudah memberiku semangat dan kekuatan untuk meneruskan FF ini hingga ke jenjang ending ^^

Terima kasih banyak~

Mind to Review?