Title: "Just A Little Bit of Your Heart"
Cast: Jimin, Yoongi, Jin, Taehyung, Jungkook, Hoseok (BTS)
Pair: MinYoon / Jimin x Yoongi, MinSeok / Jimin x Hoseok, VGa / TaeYoon / Taehyung x Yoongi, and JinKook / Jin x Jungkook.
Rated: T to M
TWOSHOT.
WARNING! MALE SLASH! B X B! YAOI!
Don't Like? Don't Read!
Kim Taehyung and Zelo B.A.P mentioned!
.
.
"I hear a little love is better than none..."
.
.
.
Aku memasuki apartment dengan terburu-buru, melepas jaket dan sepatu, berharap Jimin tidak melakukan apa-apa pada dirinya sendiri...
.
.
"Jimin! Jimin! Kau dimana?" aku sudah mencari ke sekeliling rumah dan tidak menemukannya, hingga—
"Hyungie~" astagah suara itu lagi, dia benar-benar mabuk kah? Ku dapati ia duduk bersender di lemari bawah meja dapur, dengan beberapa botol bir disekitarnya, 4 lainnya sudah kosong, dan satu lagi hampir kosong di tangannya, dan masih ada beberapa yang sama sekali belum terbuka.
"Astagah, Jimin! Apa yang kau lakukan?" aku setengah berlari dan memegang kedua pundaknya. Dia menarik sebelah tanganku yang membuatku jatuh kepelukannya. Ia melepas botol bir yang ada di tangannya dan mengelus-elus pundakku teratur. Ku balas perlakuannya, untuk menenangkannya.
Normal POV's.
"Hyungh.. kau mau kemana, jangan tinggalkan aku, hyung" racauan Jimin membuat Yoongi mengernyit bingung. Ia tidak mengerti dengan apa yang diucapkan Jimin.
"Jimin-ah? Apa maksudmu? Aku tidak kemana-mana.." balas Yoongi sambil melepas pelukannya dan menatap Jimin yang menatapnya sayu.
"Benarkah, hyung? Kau benar tak kemana-mana kan?" Jimin kembali menanyakan sesuatu yang membuatnya semakin tidak mengerti.
'Apa maksudnya tentang aku yang akan ke New York?' batin Yoongi menerka-nerka.
"Ah, soal itu kau tidak per—"
"Jangan tinggalkan aku, Hoseok-hyung.." lirihan Jimin terdengar jelas di telinga tajam Yoongi. Seketika ia diam membatu.
"Jadi yang kau maksud dia?" Yoongi tampak seperti bermonolog, karena Jimin tidak menyadari apa yang dibicarakan Yoongi, ia mabuk berat sepertinya.
"Hyung, kau semakin cantik saja.." Jimin menarik Yoongi ke dalam pelukannya kembali, Yoongi tidak membalasnya, ia bahkan membiarkan Jimin yang menciumi ceruk lehernya dengan penuh gairah. Ia masih diam membatu.
"Hyungh, kau manis skali.. benar kata Yoongi-hyung kalau kau itu manis.." racau Jimin sambil terus mempekerjakan mulutnya di leher Yoongi.
Seketika Yoongi mengumpulkan semua kesadarannya ketika merasakan Jimin menggesekkan giginya di permukaan lehernya. Yoongi berusaha dengan sekuat tenaga mendorong Jimin.
"Jimin! Sadarlah! Kau mabuk.." Yoongi terus memberontak di dalam kungkungan Jimin. Ia benar-benar tidak sadar ketika Jimin sudah berada di atasnya dan membaringkannya di lantai dapur yang dingin itu.
Perkataan Yoongi tak ada yang diindahkan sama skali oleh Jimin. Jimin bahkan semakin bergairah menciumi Yoongi.
"Jimin! Hentikan!" kaki Yoongi terus menendang-nendang kosong, itu membuat lututnya tidak sengaja menubruk junior Jimin yang membuat Jimin melenguh. Yoongi terkejut mendengar reaksi Jimin, padahal ia bahkan hanya tidak sengaja mengenainya.
Jimin mengisap plump Yoongi dan terus menggerayangi tangannya pada tubuh atas Yoongi yang sudah tak tertutup. Ia memelintir nipple Yoongi, sambil terus memainkan lidah Yoongi yang dia belit dan tarik secara paksa, karena Yoongi benar-benar menolak perlakuan kasar Jimin padanya.
"Hoseok-hyungh~ kau manis" ucapan itu terus keluar dari mulut Jimin ketika ia mencicipi setiap inch tubuh Yoongi. Yoongi meringis, bibirnya sedikit mengeluarkan darah karena dia sejak tadi menggigitnya, ia tak mau mengeluarkan suara desahan sedikit pun.
"Jimin... hentikan! Aku bukan Hoseok..." Yoongi berkata lirih, yang lagi-lagi tak diindahkan oleh Jimin.
Jimin menurunkan kepalanya di dada Yoongi dan mengisap nipple-nya.
"Hnnghh.." Yoongi mengeluarkan desahannya dari balik celah bibirnya yang masih ia gigit. Karena lidah Jimin yang hangat dan basah menyentuh bagian sensitif-nya dan itu menyenangkan sekaligus menyakitkan disaat bersamaan.
Jimin semakin mengulum dan mengisap nipple Yoongi kuat-kuat, tangan Yoongi meremas bahu Jimin dan berusaha mendorongnya menjauh. Ini tidak benar.
"JIMIN! HENTIKAN!" pekik Yoongi saat ia merasakan tangan Jimin membuka pengait celana jeansnya dan menurunkan resletingnya.
Jimin hanya berhenti sesaat, lalu kembali lagi ke aktifitasnya. Tak ada satu kata Yoongi yang ia indahkan. Ia menahan dirinya dengan lututnya di sisi tubuh Yoongi dan membuka bajunya sendiri, lalu kembali menindih Yoongi.
"Hyung, tak bisakah kau hanya terus mendesah dan mendesah untukku? Seperti tadi? Tunjukkan padaku, aku ingin mendengar suaramu itu.." Jimin berbisik seduktif sambil menjilati cuping telinga Yoongi yang dihadiahi cengkraman tangan Yoongi di bahunya.
Namun Jimin menyalah-artikan cengkraman itu.
"Kau sudah menginginkanku, hyung?" Jimin kembali berbisik seduktif ditelinga Yoongi. Oh, Yoongi benar-benar kehilangan kesabarannya skarang.
Bugh.. Bugh.. Bugh..
Yoongi menghadiahi bogeman mentah di wajah Jimin. Jimin sedikit terhuyung sambil memegangi wajahnya. Merasa mendapatkan kesempatan, Yoongi segera menarik tubuhnya menjauh dari Jimin dan membenarkan pakaiannya kembali. Ia berlari kecil ke arah sebuah tong/? tempat menyimpan payung dan bat pemukul baseball, lalu mengambil salah satu pemukul baseball itu.
"Kalau kau berani macam-macam, aku akan membunuhmu, Park!" ancam Yoongi sambil mengayun-ayunkan pemukul baseball itu ditangannya. Ia hanya bercanda tentu saja, tidak mungkin ia tega membunuh Jimin. Namun hal yang tak terduga terjadi. Jimin ambruk.
.
.
.
Jimin mencoba untuk duduk sambil terhuyung-huyung dan memijit sedikit pelipisnya. Lalu membiasakan retina matanya dengan lampu yang berada di tempatnya berbaring tadi. Matanya berkeliling mengitari ruangan itu dan akhirnya menyadari kalau ia berada di kamarnya. Lalu seketika ia terkejut melihat Yoongi yang acak-acakan dengan pemukul baseball ditangannya. Ia segera memperjelas penglihatannya.
"H-Hyung apa yang kau lakukan?" tanya Jimin pada Yoongi. Namun Yoongi masih tidak bergeming. Ia masih menatapi Jimin setajam mungkin.
"Kau sudah sadar?" pertanyaan Yoongi membuat Jimin mengernyit.
"Memangnya aku kenapa, hyung?" tanya Jimin bingung. Yoongi mengerjapkan matanya.
"Yoongi-hyung? Kau baik-baik saja?" Yoongi mendesah lega saat mendengar Jimin tidak salah mengira bahwa ia adalah Hoseok lagi.
Yoongi merosot kebawah dengan menopangkan dirinya di pemukul baseball itu.
'Hampir saja..' batinnya. Jimin kemudian mendekati Yoongi dan ikut berjongkok dihadapannya. Yoongi yang melihat itu melebarkan matanya –kalau bisa- pasalnya Jimin masih shirtless.
"Mau apa?" tanya Yoongi yang kembali menopangkan kepalanya di pemukul baseball
"Aku... kenapa hyung? Apa aku menyakitimu?" tanya Jimin pada Yoongi.
"Molla" jawab Yoongi pendek. Jimin mengulurkan tangannya ke arah Yoongi, namun Yoongi menepisnya.
"Pergi mandi. Mungkin kau masih mabuk" Yoongi mencoba berdiri namun tangannya ditarik oleh Jimin. Ia kembali merengkuh Yoongi.
"Park! Lepaskan..! Lepas!" Yoongi memberontak di dalam pelukan Jimin. Namun Jimin tidak memperdulikannya.
"Hyung, apa aku menyakitimu lagi?" pertanyaan Jimin berhasil membuat Yoongi membatu.
"Aku menyakitimu lagi kan? Tidak seharusnya aku melakukan itu padamu hyung" rentetan ucapan Jimin kembali membuat Yoongi mengingat dirinya yang selalu menjadi orang bodoh demi cinta seorang Park Jimin.
"Kau mabuk, Jimin" suara Yoongi bergetar saat mengucapkannya. Jimin mengeratkan pelukannya lalu mengelus pundak Yoongi teratur.
"Aku—"
"Jimin, yang kau inginkan itu Hoseok! Bukan aku... jadi berhentilah menyalahkan dirimu karna telah menyakitiku. Aku saja yang bodoh" Jimin bisa merasakan hangatnya air mata Yoongi di pundaknya yang terekspos.
"Hyung.. aku seharusnya mendengar apa yang kau katakan" ujar Jimin lagi. Yoongi semakin menenggelamkan wajahnya di pundak Jimin.
"Cukup, Jimin! Semuanya sudah terjadi..." Jimin melepas pelukannya pada Yoongi lalu menangkup wajah mungil itu dan mengusap air mata di pipi Yoongi.
"Hyung aku mencinta—"
"Cukup! Jangan katakan! Aku tidak mau dengar.." Yoongi menggeleng-gelengkan kepalanya. Jimin terkejut melihat reaksi Yoongi, namun kemudian ia menarik dagu Yoongi untuk menatap wajahnya.
"Yoongi-hyung, kau lah satu-satunya yang ku miliki skarang.." bisik Jimin di depan bibir Yoongi. Napas hangatnya menyapu bibir Yoongi.
"Ji-Jim—mmphh" gerakan bibir Yoongi membuat Jimin jadi tidak kuasa menahan gejolak di dalam dirinya agar tidak meraup candu-nya itu.
.
Sesi panas kembali merambati kamar Jimin yang dingin itu. Yoongi? Ia pasrah, hari ini ia benar-benar lelah, dan Jimin membuatnya semakin lelah. Yoongi sudah capek memberontak. Yoongi merasa tertekan. Tekanan batin dan lelah fisik. Ia serasa ingin mati.
"Jiminhh..." lenguhan Yoongi membuat Jimin semakin semangat membuat tanda di ceruk leher Yoongi bahwa Yoongi adalah miliknya.
"Hyungie.." Jimin menatap Yoongi penuh nafsu. Ia kembali mendekatkan bibirnya ditelinga Yoongi dan menjilatnya.
"Mmmhh..." Yoongi mendesah tertahan sambil meremas kuat rambut Jimin untuk menyalurkan rasa nikmat yang ia rasakan karena perlakuan Jimin.
Jimin kembali meraup bibir Yoongi dengan sedikit kasar, dan tangannya terus memainkan nipple imut Yoongi. Lalu ia menurunkan wajahnya di dada Yoongi dan mengulum nipple yang lain.
"Jiminhh... kenapa—hnngg" ucapan Yoongi disambung dengan desah tertahannya saat Jimin menurunkan tangannya untuk mengelus perut rata Yoongi.
Dan semakin menurunkan tangannya ke bawah lalu melepas semua kain yang menutupi tubuh Yoongi. Yoongi pasrah saja, tidak ada gunanya memberontak lagi.
Jimin ingin memilikinya bukan karena cinta, tapi nafsu. Yoongi menangis.
Mendengar tangisan dari mulut kecil Yoongi, Jimin menghentikan aktifitasnya yang baru saja ingin memberikan blowjob pada Yoongi dan mendekatkan wajahnya pada wajah Yoongi.
"Hyung? kenapa menangis? Uljima.." Jimin mengusap-usap pipi Yoongi. Oh, rasa bersalah mulai merambati seluruh saraf Jimin.
"Jimin.. kenapa kau –hiks- melakukan –hiks- ini padaku –hiks-?" Yoongi terisak disela-sela ucapannya. Jimin tertegun.
'Kenapa ia melakukan ini pada Yoongi?' pertanyaan itu mulai terngiang-ngiang dikepalanya. Atas dasar apa ia melakukan itu?
"A—Aku..."
"Pergilah mandi.. kau kacau!" ucapan Yoongi membuat kalimatnya tergantung begitu saja. Ia membatu. Yoongi menarik dirinya sendiri dari kungkungan Jimin dan menggunakan kembali bajunya yang berserakan dilantai.
.
.
.
Setelah keluar dari kamar Jimin, Yoongi segera membersihkan diri dan berjalan ke dapur. Ini sudah jam 2 pagi man, dan dia belum makan sama skali. Ia lapar.
.
"Hyung-ah" sebuah suara menginterupsi Yoongi yang sedang menumpukan kepalanya di lipatan tangannya di atas meja. Ia telah selesai makan tadi dan merasakan lemas menjalar diseluruh tubuhnya hingga ia tak bisa sekedar bangkit berdiri untuk ke kamar.
"Ne, wae?" tanya Yoongi tanpa bergerak dari posisinya.
"Aku... aku..." Yoongi mendongak sedikit hanya untuk menatap wajah Jimin.
"Kenapa? Kau lapar? Makan saja.." Yoongi menyodorkan ramyun ke hadapan Jimin.
"Hyung-ah, apa kau membenciku?" pertanyaan tak masuk akal dari Jimin.
"Hm? Apa maksudmu?" Yoongi mengangkat kepalanya dan kembali menopang dagunya di tangannya yang ia lipat diatas meja.
"Aku sudah jahat padamu, hyung.." ucapannya tak membuat Yoongi bergeming. Yoongi justru menatap kosong ke arah depan.
"Dua minggu lagi, aku akan ujian skripsi.." Yoongi masih menatap kosong ke depan. Jimin terkejut mendengarnya.
"H-Hyung, kau takkan pergi kan?" nada suara Jimin, seolah-olah ia memohon untuk tidak ditinggalkan membuat sobekan di dada kiri Yoongi semakin melebar.
"Entahlah. Kau makan saja, aku mengantuk, besok ada kelas pagi untuk terakhir kali, jadi aku harus masuk.. jaljayo, Jimin-ah" Yoongi lagi-lagi menepis tangan Jimin yang terulur untuk mengusap kepalanya dan segera masuk ke dalam kamarnya.
Jimin menatap kosong ramyun di hadapannya setelah pundak Yoongi menghilang di balik pintu kamarnya.
.
.
.
Setelah kejadian itu, semuanya berjalan biasa-biasa saja. Bahkan tak ada yang berubah sama sekali, atmosfer dingin dan canggung sering skali merambati apartment Jimin dan Yoongi. Dan hari ini Yoongi akan di wisuda...
Hari dimana Yoongi akan melepas semua masa belajarnya dan bekerja...
Hari dimana Yoongi akan meninggalkan Jimin ke Daegu, lalu pergi ke New York...
"Yoongi-yah!" panggil seorang namja yang sering skali berteriak dihadapan seseorang, panggil saja ia begitu.
"Hyung! Berhentilah berteriak dihadapan ku!" Seokjin tertawa keras melihat Yoongi mengeluh sambil menggosok-gosok telinganya.
"Aigoo~ kau tampan skali menggunakan toga ini.. aku juga jadi tidak sabar mencobanya" Seokjin menelisik penampilan Yoongi dari ujung kaki hingga ujung kepala
"Ck, kau harus belajar dengan sungguh-sungguh jika ingin menyusulku, hyung!" Yoongi tertawa melihat wajah sebal Seokjin yang ia pasang saat Yoongi mengucapkan itu.
"Aish, kau ini... jinjja.." Seokjin mengumpat tertahan saat mendengar tawa Yoongi.
"Hyung-ah, berhentilah berteriak dihadapan orang seperti tadi.." ujar Yoongi sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Seokjin terkekeh.
"Kenapa memangnya? Kau juga tak marah kan?" sudut alis Yoongi berkedut, jadi selama ini Seokjin tidak tau kalau gendang telinga Yoongi bisa saja pecah jika ia berteriak setiap hari dihadapannya.
"Hhh~ karena itu aku, hyung. Berhentilah! Lalu bagaimana jika kau berteriak seperti itu dihadapan orang lain? Mereka mungkin akan memukulimu.." Seokjin terdiam mendengar ucapan Yoongi. Ia baru ingat bahwa Yoongi akan pergi ke Daegu lalu menentukan hari perginya bersama orang tuanya ke New York.
"Jadi, kau benar akan pergi?" tanya Seokjin mengalihkan pembicaraan, Yoongi mengangguk.
"Ahh... setelah kau sukses nanti jangan lupakan aku ne? Pulanglah sesekali ke Seoul, untuk sekedar melihatku.." Seokjin berucap sambil menepuk-nepuk pundak Yoongi. Yoongi tersenyum kecil lalu mengangguk.
"Baiklah! Jadi bagaimana jika malam ini kita mengadakan pesta?" semangat Seokjin sambil menatap Yoongi penuh binar. Yoongi mendengus.
"Terserah.." lalu mengiyakan perkataan Seokjin.
.
Yoongi berjalan dengan malas ke dalam apartmentnya, ia sudah melepas toga yang menurutnya terlalu besar dan membuatnya kepanasan itu dan menggunakan baju rajut lengan panjang berwarna merah, dengan stripes kuning dan hijau dibagian depannya. Lalu dengan jeans ripped blue yang sengaja di sobek dibagian lutut dan paha, serta sneaker yang selalu ia gunakan untuk bepergian.
"Hyung? Wisudamu lancar?" suara khas seorang Park Jimin membuat langkah Yoongi terhenti dan berbalik ke arah Jimin dengan kaus oblong tanpa lengan dan celana pendek dengan tatapan horror.
"Kau mengejutkanku..." Yoongi mengelus-elus dadanya, ia memang tadi sedang menghayal sambil berjalan ke arah dapur dan panggilan Jimin membuatnya terkejut begitu saja.
"Haha, wajahmu lucu skali hyung!" dan Jimin malah menertawainya.
"Aish, jinjja..." Yoongi mengumpat tertahan dan berjalan cepat menuju kulkas sambil menghentak-hentakkan sepatunya kesal. Lalu menenggak air yang baru saja ia tuang ke dalam gelas tinggi di hadapannya dengan cepat.
"Hyung..." Jimin mendudukkan dirinya di sofa ruang TV lalu memanggil Yoongi untuk duduk di dekatnya. Dan, beruntung skali Jimin sekarang, karna Yoongi malah duduk di sofa seberangnya.
"Ada apa?" tanya Yoongi to the point pada Jimin.
"Apa kau akan pergi bersama eomma?" pertanyaan Jimin mendapat anggukan dari Yoongi.
"Kenapa, hyung?" tanya Jimin lagi, Yoongi menghembuskan nafasnya perlahan.
"Bukankah kau sudah tidak membutuhkanku lagi? Bukankah sudah seharusnya aku pergi?" pertanyaan Jimin dibalas pertanyaan oleh Yoongi.
"Aku membutuhkanmu, hyung! Terlalu membutuhkanmu.." Yoongi seperti tersengat listrik ribuan volt saat mendengar ucapan Jimin.
"Hhh... malam ini Seokjin-hyung mengajak kita ke cafe milik kekasihnya.. untuk pesta wisudaku katanya. Dia mengundangmu..." Yoongi membuang nafas berat dan mengalihkan pembicaraan lalu beranjak dari duduknya, berdiri membelakangi Jimin.
"Hyung... tunggu sebentar" Jimin menarik tangan Yoongi dan memeluknya dari belakang. Yoongi melebarkan matanya terkejut.
"Ji-Jim—"
"Hyung-ah, tunggu sebentar... tetaplah seperti ini, sebentar saja. Aku akan merindukan wangi ini.." ia mengendusi dan menggesekkan hidungnya di perpotongan leher Yoongi, membuat Yoongi sedikit bergidik dan menggigit bibirnya, takut mengeluarkan suara aneh yang berbahaya.
Namun Yoongi tak bisa menolak, karena ia juga menginginkannya...
Jika boleh Yoongi jujur, ia juga menginginkan Jimin menyentuhnya dengan penuh perasaan seperti ini...
Setelah puas mengendusi dan memberikan kecupan ringan di leher Yoongi yang membuat Yoongi menggeliat geli, Jimin membalikkan tubuh mungil itu lalu kembali merengkuhnya.
"Bogosippeo, hyung..." lirihan Jimin membuat Yoongi mati-matian menahan air matanya, dan ia berhasil. Ia hanya menatap kosong ke belakang Jimin...
Next lie...
.
.
.
Malamnya, di cafe keluarga Jeon. Disalah satu meja disana, duduklah beberapa orang namja yang saling merangkul satu sama lain. Kecuali 2 orang lainnya. Yoongi dan Jimin.
"Aku tidak mengira kau akan datang, Yoongi-yah!" suara riang seorang Kim Seokjin membuat Yoongi ingin melayangkan pukulan di wajah cantik skaligus tampan itu.
"Yasudah, aku pulang" Yoongi langsung berdiri dan berbalik, namun Jin menarik tangannya dan terkekeh.
"Jangan begitu dong, kau semakin manis jika marah begitu hehe" Jin mendapat delikan sebal dari Yoongi, dan yang lain hanya tertawa melihat mereka.
"Berisik" desis Yoongi. Kalau tahu begini, ia takkan datang. Karena lihat saja, ada Hoseok juga datang rupanya, tapi tanpa Taehyung.
"Yoongi-hyung, selamat untuk wisudamu, ne?" ucap Hoseok sambil menjabat tangan Yoongi. Yoongi hanya tersenyum lalu mengangguk.
Masalah mereka memang sudah selesai setelah Hoseok meminta maaf pada Yoongi waktu itu. Dan Yoongi tentu akan memaafkannya. Namun, Hoseok baru menemui Yoongi saja secara langsung. Ia masih enggan bertemu Jimin.
"Hyung, chukkae.." kali ini suara kekasih Seokjin, Jeon Jungkook.
"Ne, gomawo.." jawab Yoongi sambil tersenyum, mereka pun melanjutkan perbincangan mulai dari hal-hal penting sampai ukuran sepatu mereka.
Yoongi menoleh sejenak pada Jimin yang sudah bersender di sofa dan mendengus.
"Jimin-ah, kau kenapa?" Yoongi sedikit memundurkan dirinya, dan berbisik pada Jimin.
"Ani—"
"Jiminnie~ sudah lama tidak ketemu.." suara Hoseok menginterupsi pembicaraan mereka, seketika Yoongi berdiri.
"Aku... ingin ke toilet sebentar" ucapnya dan diangguki semua orang yang berada disana.
Ia melirik sedikit ke belakang tepat di tempat Jimin, dan melihat Jimin sudah menggeser tempat duduknya dan duduk di tempat Yoongi tadi, dengan Hoseok disebelahnya. Yoongi semakin mempercepat langkahnya ke arah toilet.
.
"Mana pacarmu itu, hyung?" tanya Jimin pada Hoseok setelah ia duduk.
"Oh, dia ada kelas sampai jam 9 nanti.. sebentar lagi juga ia akan datang" jawab Hoseok dan Jimin menjawabnya dengan vocal 'O'. Membuat Hoseok terkekeh.
"Kau dan Yoongi-hyung baik-baik saja kan?" tanya Hoseok, Jimin mengangguk ragu. Ia tidak yakin apa dia dan Yoongi baik-baik saja.
"Aku—"
"Tuan-Tuan, ini pesanannya.." ucapan Hoseok terpotong oleh pelayan yang datang membawa pesanan mereka. Demi menghilangkan rasa gugupnya karena baru saja ia ingin meminta maaf, Hoseok menyambar iced coffee pesanannya secepat kilat dan langsung menyeruputnya.
"Hyung.. c-calm down" Jimin yang terkejut melihat tingkah Hoseok langsung tertawa lepas saat Hoseok tersedak dan membuat mulut Hoseok belepotan.
Dengan sigap Jimin mengambil tissue dan membersihkan mulut Hoseok dengan telaten. Jika tampak dari belakang, mereka seperti sedang berciuman.
.
"Huh.. wastafel-nya bagus banget sih.." gerutu Yoongi saat keluar dari toilet, dia habis memperhatikan wastafel keramik berwarna cream dan mengkilat, membuatnya terlihat keren di mata Yoongi.
Saat sibuk dengan gerutuannya, tiba-tiba jalannya terhenti. Bukan karena ia melupakan sesuatu di toilet. Atau ingin menanyakan harga wastafel yang seperti itu pada manager cafe ini. Bukan! Tapi, pemandangan di depan sana. Yoongi menatap nanar pada mereka.
Jimin yang tampak belakang sedang berciuman dengan Hoseok...
"Sialan.." umpatnya.
.
Taehyung berlari-lari kecil saat baru keluar dari mobilnya. Ia baru saja menyelesaikan kelas malamnya, ia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, berharap ia tidak terlambat dari waktu yang sudah dijanjikan.
Dan ia kembali berlari kecil saat sampai di gerbang cafe itu ke depan pintu utamanya, dia berhenti sejenak di depan jendela cafe untuk memperbaiki penampilannya. Karena hyung, dan kekasihnya mengajaknya untuk berkumpul di cafe keluarga kekasih hyung-nya.
Saat ia merasa sudah klop dengan penampilannya, ia ingin beranjak dari depan sana, namun matanya tertumbuk pada satu titik. Dia tersenyum miris. Dari jauh saja ia bisa mengenali siapa pemilik pundak itu.
"Mereka... berciuman kah? Ditempat umum?" Taehyung bermonolog lalu mengacak surai belakangnya dan mengeluarkan cengiran khasnya. Ia bahkan lupa caranya menangis.
"Aku bahkan tidak pernah melakukan itu.." ia kembali bermonolog dan membalikkan badannya kembali ke gerbang cafe.
"Sebaiknya aku pulang.."
.
"Hahaha dasar hyung! Kenapa kau buru-buru begitu huh?" Jimin sudah selesai membersihkan mulut Hoseok yang belepotan dan tertawa lepas diikuti tawa teman-teman lainnya.
Merasa diperhatikan, Jimin sedikit memutar tubuhnya dan mendapati wajah yang ia kenal berdiri jauh di depan sana menatap ke arahnya dengan tatapan yang membuat hati Jimin seperti disayat oleh pisau tumpul.
Wait, Yoongi dari belakang Jimin, dan sejak tadi Jimin membersihkan mulut Hoseok...
Jimin mengeram kesal dan segera berdiri ingin memanggil Yoongi.
Namun Yoongi sudah menghilang dari sana.
"Sial.." Jimin mengumpati kebodohannya sendiri.
.
'Mungkin aku bisa pergi dari sini..' batin Yoongi sambil memukuli dada kirinya yang terasa nyeri. Apa yang ia lihat tadi sungguh membuatnya seperti ingin mati. Baru saja ia merasa berbaikan dengan Jimin, lalu Jimin kembali mengulangi kesalahannya.
Yoongi merasa di permainkan oleh bocah Park itu. Bukankah ia sudah selalu dipermainkan?
Yoongi kembali ke arah toilet tadi, menengok ke kanan dan ke kiri mencari jalan keluar.
Dan benar saja, ada pintu keluar di belakang dekat toilet. Yoongi sesegera mungkin melangkahkan kakinya ke sana setelah mengingat-ingat jika ada yang ketinggalan.
Yoongi sudah sampai di depan gerbang cafe, ia berniat untuk menahan taxi dan pergi dari tempat ini secepat mungkin, karena ia yakin tadi Jimin sempat melihatnya.
Saat sibuk memperhatikan taxi yang akan lewat, Yoongi merasa seseorang menepuk pundaknya, membuatnya berbalik dan berniat akan menghajar orang itu jika ia ingin macam-macam.
"Yoongi-hyung? Kau tak masuk?" ucap orang itu yang ternyata seorang namja yang sangat dikenalinya.
"Taehyungie?" ia bertanya memastikan, jika itu benar-benar Taehyung. Dan namja itu mengangguk.
"Iya, ini aku hyung! Kau tak masuk?" tanya Taehyung.
"Kau sendiri?" pertanyaan Taehyung dibalas pertanyaan oleh Yoongi, kebiasaan seorang Min Yoongi. Taehyung menggeleng sebagai jawaban.
"Wae?" tanya Yoongi lagi
"Ah, itu... karena... anu—"
"Heish, sudahlah! Kita lanjut di mobil saja, kau bawa mobil kan?" Yoongi segera menarik Taehyung ke arah tempat Taehyung memarkirkan mobilnya, setelah Taehyung memberitahunya.
Mereka pun pergi dari tempat itu...
.
.
Sementara itu, di Cafe...
"Yoongi kenapa lama skali sih? Pesanannya udah datang nih.." gerutu Seokjin sambil memutar-mutar ponselnya berharap ada panggilan dari Yoongi.
"Iya, sudah hampir stengah jam dia di toilet.." ucap Jungkook membenarkan ucapan Seokjin.
"Aih, Tae juga belum menghubungiku.." ucapan Hoseok terlalu jelas bahwa ia khawatir.
"Mereka bahkan tak satupun menghubungiku" lanjut Seokjin sambil kembali menatap layar ponselnya. Pelayan yang sempat di suruh Jungkook untuk melihat Yoongi di toilet pun datang menghampiri mereka.
"Tuan, Yoongi-ssi tidak ada di toilet" ucap wanita yang bekerja sebagai pelayan itu.
"Baiklah. Kau boleh pergi.." ucap Jungkook kemudian, lalu wanita itu membungkuk dan pergi.
Semua yang berada disana sedang sibuk dengan pikiran mereka masing-masing dan disadarkan oleh Jimin yang tiba-tiba berdiri.
"Aku akan mencari Yoongi-hyung.." ucapnya kemudian setelah lama ia berkutat dengan pikirannya, membuat semua orang disana menatapnya dengan tatapan heran.
"Akan ku kabari jika aku sudah menemukannya.." sambungnya, hanya mendapatkan anggukan kompak dari orang-orang sekitarnya.
"Bolehkah aku ikut? Aku ingin mencari Tae juga.." beberapa menit kemudian, Hoseok akhirnya diputuskan untuk ikut dengan Jimin. Sementara Seokjin dan Jungkook sedang membicarakan sesuatu setelah kepergian Jimin dan Hoseok.
.
.
Di apartment Yoongi dan Jimin...
"Hyung, apa yang kau lakukan?" tanya Taehyung menatap bingung pada koper dan sebuah tas ransel yang lumayan besar yang telah disiapkan oleh Yoongi.
"Aku akan pulang ke Daegu" jawab Yoongi.
"Mwo? Sekarang? Wae?" Taehyung terkejut, ini sudah hampir tengah malam.
"Aku ingin pulang, aku tidak tahan.." ucapan Yoongi membuat Taehyung akhirnya mengerti dan memilih diam saat Yoongi kembali sibuk dengan barang-barangnya.
"Apa kau akan naik bus, hyung?" tanya Taehyung, Yoongi mengangguk.
"Ku antar saja, hyung" Yoongi menoleh ke arah Taehyung.
"Tidak usah, aku tak mau merepotkan" jawaban Yoongi membuat Taehyung semakin merasa bersalah.
"Tidak, hyung! Aku juga ingin refreshing ke Daegu.. sudah lama aku tidak kesana" ucap Taehyung dengan tatapan menerawang ke depan.
"Lalu bagaimana dengan barang-barangmu?" tanya Yoongi. Taehyung menatap Yoongi.
"Kalau begitu kita singgah ke rumahku dulu, hyung. Aku akan mengambil beberapa barang bawaan.." jawab Taehyung, dan mendapatkan anggukan dari Yoongi.
.
.
"Kita harus kemana lagi, hyung? Apa kau tau dimana tempat-tempat favorit kekasihmu itu?" tanya Jimin sambil melajukan mobilnya membelah malam.
"Tempat yang tadi itu, semuanya adalah tempat favorit Taehyung.." jawab Hoseok.
"Dirumahmu dan rumah Seokjin juga tak ada.." ucapan Jimin membuat mereka berdua menyadari sesuatu, dan memutar mobil mereka ke arah apartment Jimin dan Yoongi.
.
.
.
Baru saja Jimin memarkirkan mobilnya, Hoseok berseru
"Jimin! Mobil Taehyung!" seru Hoseok sambil memukul-mukul pundak Jimin saat melihat mobil Taehyung belok ke arah gerbang.
"Dia tidak bersama Taehyung-mu hyung.." ucap Jimin putus asa. Hoseok berdecak.
"Lalu untuk apa ia kemari? Mencuri?" sebal Hoseok pada Jimin.
"Ya ampun! Lalu kemana mobilnya?" Jimin terperangah mengingat kebodohannya sendiri.
"Hilang sudah" jawab Hoseok sambil keluar dari mobil.
"Y-Yoongi... hyung... gajima..." lirihan Jimin seperti dirasakan oleh Yoongi.
Yoongi tiba-tiba menangis di dalam mobil Taehyung.
.
.
.
"Jin-hyung?" Jungkook membuyarkan lamunan Jin yang sedang duduk menatap bintang di balkon kamarnya. Mereka sudah pulang ke rumah dari sejam yang lalu dari cafe.
"Ne?" Jin menengok ke arah Jungkook yang duduk di sampingnya.
"Hubungi eomma!" raut wajah serius Jungkook membuat Jin mengernyitkan dahinya bingung.
"Wae?" tanya Jin.
"Tae-hyung mau ke Daegu. Aku baru saja membereskan barang-barangnya" ucap Jungkook sambil mengotak-atik ponselnya.
"Mwo? Kapan?" Jin membelalakkan matanya kaget.
"Malam ini! Dia baru saja meng-sms-i ku" lalu Jungkook memperlihatkan sms Taehyung di ponselnya.
"Aigoo... anak itu... jinjja..." Jin mengumpat tertahan.
"Sudahlah, hyung! Ppali hubungi eomma.." Jungkook menarik-narik lengan Jin.
"Dia kesana bersama siapa?" tanya Jin kemudian sambil merogoh sakunya mengambil ponsel.
"Yoongi-hyung" jawaban Jungkook membuat Jin benar-benar terkejut.
"Seperti yang sudah kita bicarakan tadi, hyung.. sepertinya ini benar-benar akan terjadi.." Jin mengusak rambutnya.
"Aku tidak tahu kalau orang yang eomma maksud Min Yoongi yang ini.. aish.." Jungkook menarik Jin kedalam pelukannya.
"Bukankah ini kebetulan yang baik, hyung? Kita biarkan saja ini berjalan.." ucap Jungkook kemudian.
"Aku juga berpikir bahwa Hoseok itu tidak baik bagi Tae. Jika Hoseok memang mencintai Taehyung, ia takkan mungkin jatuh cinta pada Jimin semudah itu, bahkan sampai rela berkelahi dengan Taehyung dan lari dari rumah demi dikendarai oleh Jimin" ucapan Jin diangguki oleh Jungkook.
"Tapi, aku tak yakin kalau Yoongi-hyung bisa melupakan Jimin dengan mudah.." Jin melepas pelukan Jungkook lalu menatap manik kekasihnya itu.
"Apa maksudmu?" tanya Jin.
"Dia selalu rela jadi orang paling bodoh di dunia demi cinta seorang Park Jimin! Bukan begitu, hyung?" Jin melebarkan matanya dan mengangguki ucapan Jungkook.
"Kau benar! Ayo kita katakan pada eomma dan Ny. Min" kali ini Jungkook yang mengangguki ucapan Jin.
.
.
.
Taehyung dan Yoongi sudah berada di dalam mobil Taehyung yang biasanya dikendarai supir pribadi Taehyung, akan membawa mereka ke Daegu setelah meminta izin pada Jin.
Taehyung masih memikirkan serentet ucapan Jungkook dengan mode cepat tadi saat ia mengambil barang-barangnya dikamar rumah yang ia tempati bersama Jin.
'Yoongi-hyung itu adalah orang yang dimaksud eomma untuk dijodohkan denganmu, Tae-hyung. Bawa saja ia ke rumah eomma setelah kalian ke rumah keluarga Min..'
Ini, Taehyung benar-benar tak habis pikir. Kenapa semuanya berhubungan seperti ini?
"Taehyungie, apa kau sedang memikirkan sesuatu?" tanya Yoongi sambil menengok ke arah Taehyung yang sedang mengemudi.
"Ah, aniyo hyung.." Taehyung tersadar dari lamunannya dan tersenyum ke arah Yoongi.
"Hmm..." Yoongi membalasnya dengan gumaman.
"Emm, hyung? Apa aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Taehyung.
"Ne, tentu saja.." jawab Yoongi mengiyakan.
"Apa kau pernah di jodohkan sebelumnya?" tanya Taehyung kemudian.
"Hmm.. itu.. yah... iya aku pernah dijodohkan sebelumnya. Memangnya kenapa Tae?" jawab Yoongi ragu-ragu sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Kau pasti menolaknya kan hyung?" terka Taehyung, Yoongi membulatkan matanya.
"Kau tahu darimana?" ekspresi Yoongi yang terkejut membuat Taehyung terkekeh lalu dia mengusak rambut Yoongi dengan sayang. Yoongi kembali terkejut dengan perlakuan Taehyung padanya.
"Hehe, kalau kau tidak menolaknya, mungkin sekarang kau sudah menikah, hyung.." jawab Taehyung masih dengan kekehannya.
"Haha iya kau benar, Tae" Yoongi juga ikut terkekeh.
"Jadi, hyung? Ceritakanlah padaku.." Taehyung melirik Yoongi sekilas dari ekor matanya.
"Tentang apa?" tanya Yoongi bingung.
"Tentang perjodohanmu itu.." sambung Taehyung.
"Ah... b-baiklah..." Yoongi menjawab dengan ragu-ragu dan akhirnya menceritakan semua tentang perjodohannya itu.
.
.
.
"J-Jiminnie... gwaenchana?" Hoseok masih menatap pundak Jimin yang berbaring membelakanginya di apartment; kamar Jimin.
"Ne, hyung.." jawab Jimin lalu berbalik menghadap Hoseok.
"Mi-Mianhae.." tanpa sadar air mata Hoseok tumpah dan Jimin mengusapnya perlahan lalu mencium pucuk kepala Hoseok dengan sayang.
"Tak ada yang perlu dimaafkan, hyung" ucap Jimin sambil memeluk Hoseok dan mengusap pundak Hoseok teratur.
"T-Tapi kan—"
"Ssshh... sudah hyung. Uljima.. tidurlah. Hari ini sungguh melelahkan.. jaljayo hyung" dan Jimin segera menutup matanya untuk jatuh ke dalam dunia mimpinya.
.
.
.
"Ohh... jadi begitu hyung?! saat itu kau masih bersama Jimin dan menolak untuk dijodohkan?" Taehyung manggut-manggut mengerti setelah mendengar kisah Yoongi tentang perjodohannya.
"Mm, karena saat itu Jimin berjanji akan menikahiku setelah ia wisuda.." ucap Yoongi dengan suara dalam. Terdengar sangat menyedihkan.
"Aish! Kenapa semua orang sangat senang mengumbar janji?" Taehyung mengusak rambutnya.
"Hm? Apa maksudmu?" Yoongi bingung sendiri dengan kelakuan Taehyung.
"Aku juga, sebenarnya sudah dijodohkan hyung.." Taehyung menatap lurus kedepan.
"Mwo? Kenapa tak seorangpun dari kalian yang memberitahuku?" tanpa melihat wajah terkejut Yoongi yang lucu itu.
"Hehe, mian hyung.. tapi, saat itu aku sangat malas membahasnya.." aku Taehyung pada Yoongi.
"Tapi skarang kau mau memberitahukannya padaku ya kan? Kan? Kan?" Yoongi menatap Taehyung dengan tatapan memelas, yang membuat Taehyung tak bisa menahan tawanya.
"Hahaha, baiklah hyung! Anything for you~ kkk" Yoongi cemberut mendengar tawa jahil Taehyung.
"Ish.. yasudah ceritakan!"
"Ceritaku hampir mirip dengan ceritamu hyung... aku dijodohkan dengan anak dari sebuah keluarga. Anak itu menolak, begitupula denganku. Tapi kami belum bertemu sama skali. Kami dengar anak itu lari bersama kekasihnya, maka aku dan Hoseok-hyung memutuskan untuk lari bersama, karena saat itu Hoseok-hyung bilang dia sangat ingin menikah denganku.. tapi apa? Dia mengkhianatiku... walaupun aku tidak begitu menyesalinya" Taehyung bercerita panjang lebar.
"Kau tidak menyesalinya?" tanya Yoongi bingung.
"Ne!" dan dijawab anggukan oleh Taehyung.
"Wae?" Yoongi mengernyit bingung.
"Aku bertemu dengan anak itu setelah kejadian itu lama berlalu. Ternyata dia adalah teman Seokjin-hyung, ia juga dikhianati oleh kekasihnya sendiri.. anak itu terlihat sangat mencintai kekasihnya, aku bisa melihatnya hanya dengan kesabaran dan kekuatannya saat melihat kekasihnya menggandeng orang lain dihadapannya, bahkan kekasihnya yang kurang ajar itu mengajak orang itu untuk tinggal serumah dengannya.." ujar Taehyung panjang lebar lagi.
"Kok rasanya familiar ya?" Yoongi bermonolog, yang mengundang senyum tipis di bibir Taehyung.
"Dan aku masih bertemu dengannya hingga sekarang.." ucap Taehyung masih tersenyum.
"Jinjja?" tanya Yoongi, dan dijawab anggukan oleh Taehyung.
"Kau punya fotonya? Aku ingin lihat! Siapa namanya?" pertanyaan bertubi-tubi dari Yoongi tak diperdulikan oleh Taehyung.
"Kau ingat nama keluarga anak yang dijodohkan denganmu, hyung?" dan Taehyung balas bertanya.
"Mm... kalau tidak salah Kim. Ya! Nyonya dan Tuan Kim.. ada apa Tae?" Yoongi mengernyit bingung.
"Apa kau ingat nama salah seorang dari mereka?" tanya Taehyung lagi.
"Eumm.. tunggu... mm... ah! salah satunya Tuan Kim Jongin.. ada apa sih Tae?" Yoongi bertanya dengan rasa penasaran luar biasa karena sejak tadi pertanyaannya diabaikan.
"Mereka... orang tuaku" jawab Taehyung setelah lumayan lama mengulum bibirnya sendiri.
"Ohh—"
"A-APAA?"
.
.
.
Daegu...
Ting... Dong... Ting... Dong...
Yoongi memencet bel rumah orangtuanya dengan tidak sabaran. Rumahnya masih terlihat sama seperti saat ia meninggalkannya. Bahkan sekarang makin bersih dan rindang, dan ayunan yang diikat di salah satu pohon besar itu bertambah satu.
"Nuguya?" suara yang sangat Yoongi rindukan keluar dari balik intercom rumahnya.
"Eomma! Kenapa mengganti passwordnya sih?" omel Yoongi melalui intercom yang membuat seorang wanita paruh baya terkejut mendengar suara anaknya dari balik intercom.
"Yoongi-yah, kau kah itu?" tanya ibunya lagi.
"Eomma! Ppali buka pintu! Aku bersama temanku.." ucap Yoongi lagi, eomma-nya mengernyit dari balik pintu. 'Teman? Jimin kah?' terka eommanya.
Eomma Yoongi pun membuka pintu besi bercampur kayu bergaya modern itu.
"Yoongi.." pekik eomma Yoongi sambil berlari memeluk anak satu-satunya yang sangat disayanginya itu. Yoongi hanya balas menepuk-nepuk pundak eomma-nya pelan.
"Kau bersama siapa, Yoongi-yah?" tanya ibunya setelah melepaskan pelukannya.
"Ah itu—"
"Annyeonghaseyo, eommunim.." Taehyung segera membungkuk di hadapan eomma Yoongi.
"Kim Taehyung imnida.." seketika mata eomma Yoongi membulat, namun tak lama ia langsung tersenyum manis kepada dua remaja yang ada didepannya ini.
"Ah, kalau begitu silahkan masuk. Eomma belum sempat membuatkan apapun untuk kalian karena kalian tidak memberi kabar jika ingin datang.." ucap eomma Yoongi sambil mempersilahkan Taehyung dan anaknya untuk masuk.
Yoongi segera saja mengangkat kopernya di kamarnya, dilantai dua meninggalkan Taehyung dan eomma nya di bawah.
"Ah, ne.. maaf sudah mengganggu, eommunim.." ucap Taehyung lagi yang langsung dijawab dengan kibasan tangan beberapa kali dan senyuman dari eomma Yoongi.
"Tak apa.. mandi dan berisitirahatlah sebentar, akan eomma panggil jika makanan sudah siap. Ah, iya... rumah ini tidak ada kamar tamu, jadi untuk sementara gunakan kamar Yoongi saja ya? Tak apa kan?" wanita yang masih terlihat muda dan cantik itu mengerling pada Taehyung yang mengundang tawa dari bibir rectangle Taehyung.
"Ne, eommunim.." jawab Taehyung lalu mengangkat koper yang ia bawa dan tas punggung Yoongi yang tidak sempat Yoongi bawa ke kamarnya di lantai dua.
.
.
.
"Hyung? Kau sudah selesai?" tanya Taehyung dari balik pintu kamar mandi namun tak ada jawaban dari Yoongi.
"Yoongi-hyung? Kalau sudah selesai aku masuk yaa~" ucap Taehyung lagi sambil kembali menggedor-gedor pintu kamar mandi itu.
"Hyung-ah? Yoongi-hyung? Kau baik-baik saja?" kali ini Taehyung benar-benar khawatir karena tak ada jawaban sedikitpun dari Yoongi.
CKLEK
Langsung saja ia membuka pintu kamar mandi itu dan masuk ke dalamnya, mengecek keadaan Yoongi. Dan ia bernafas lega saat menemukan wajah damai Yoongi yang tengah tertidur diatas lengannya di sisi bathtub.
"Astagah, hyung... kau membuatku takut saja" ucap Taehyung kemudian lalu mengelus pucuk kepala Yoongi dengan sayang yang membuat Yoongi sedikit melenguh. Yoongi pun membuka matanya dan berusaha mengumpulkan puzzle kesadaran.
"T-TAE! MESUM! APA YANG KAU LAKUKAN DISINI?" Taehyung sweatdrop mendengar teriakan Yoongi yang ga nyante itu saat melihat keberadaannya di dalam kamar mandi. Mereka kan sesama namja.
"Ya ampun, hyung! Kau sendiri yang tidak menyahut saat ku panggil.. kau membuatku khawatir dan sekarang kau malah meneriakiku mesum?" Taehyung menepuk kepala Yoongi pelan.
"Eh? Benarkah? Hehe, maaf.. aku mengantuk sekali tadi.." Yoongi akhirnya menambahkan sabun cair ke dalam bathtub dan menenggelamkan dirinya hingga batas dagu.
"Eh, hyung.. aku juga mau pakai kamar mandi ini.." ujar Taehyung kemudian.
"A-APAA?" Taehyung refleks menutup kedua telinganya.
"Iya, hyung. Kita kan sama-sama namja hyung... aku juga ingin berendam..." ucap Taehyung yang mengundang rona merah samar di pipi putih Yoongi. Jadilah mereka berendam bersama di dalam bathtub besar itu.
.
.
.
Setahun Kemudian..
Setelah keluarga Min dan Kim bertemu, Yoongi dan Taehyung akhirnya akan dinikahkan. Semua persiapan sudah di siapkan kedua belah pihak dengan matang. Bahkan Seokjin dan Jungkook juga ikut membantu.
Dan disinilah Yoongi dan Taehyung sekarang, di sebuah taman dekat rumah Taehyung. Mereka duduk di salah satu ayunan yang ada disana dan mengayunkannya sesekali.
"Hyung, ini... terlalu cepat ya?" ucap Taehyung sambil menatap lurus kedepan. Yoongi hanya mengangguk dengan senyuman manisnya.
"Apa kau benar bisa melupakannya?" tanya Taehyung lagi, kali ini mereka saling menatap. Yoongi kembali mengangguk walau ia ragu. Taehyung tersenyum dan berdiri dihadapan Yoongi.
"Ada apa Tae?" Yoongi mendongak untuk menatap Taehyung, dan Taehyung sedikit membungkukkan badannya untuk mendekatkan wajahnya dengan wajah Yoongi.
"Aku mencintaimu... jangan terlalu memaksakan diri. Aku bisa membatalkannya..." Taehyung mengelus kedua pipi putih itu. Ia benar-benar jatuh ke dalam cinta seorang Min Yoongi saat ia mulai menjalani hidupnya dengan Yoongi disisinya, walaupun kadang bayangan Hoseok masih datang, tapi ia tetap mencintai Yoongi.
"T-Tidak. Jangan begitu Tae.." ucap Yoongi sambil memegang kedua lengan Taehyung yang masih mengelus pipinya. Lalu Taehyung membawa wajah Yoongi mendekat dan mengecup lembut bibir tipis Yoongi. Lalu melumatnya penuh cinta. Yoongi terbuai.
Ia jadi teringat masa-masanya bersama Jimin dulu.
Saat Jimin mengatakan bahwa hanya ia satu-satunya orang yang ia cintai.
Saat Jimin mengatakan bahwa hanya ia satu-satunya yang ia miliki.
Dan sekarang, saat Jimin berkata bahwa Yoongi adalah satu-satunya maka itu adalah sebuah kebohongan besar.
Taehyung melepaskan ciuman panjangnya dari bibir Yoongi saat ia merasa nafas Yoongi mulai berat.
"Aku... sungguh mencintaimu, hyung" ucap Taehyung lagi lalu memeluk Yoongi dengan hangat.
Yoongi menggigit bibirnya, ia masih belum bisa menjawabnya...
.
.
.
.
Ting... dong...
Jimin sedang sibuk mengunyah makanannya saat bel apartmentnya berbunyi dan ia harus beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke arah pintu. Ia tidak menemukan siapa-siapa. Hanya sebuah amplop di kotak suratnya yang tertempel di sudut kanan dinding dekat pintu.
"Ige mwoya?" gumamnya, lalu mengambil amplop itu dan menutup kembali pintunya lalu kembali ketempat duduknya.
Ia membuka amplop itu perlahan dan mendapati sebuah undangan pernikahan berwarna putih dengan foto-foto pre-wedding di bagian depannya. Ia membaca nama yang tertera disana lalu tersenyum miris.
Kim Namjoon & Jung Hoseok
*Flashback
4 Bulan setelah Yoongi dan Taehyung ke Daegu.
"Hyung, siapa ini?" tanya Jimin pada Hoseok yang sedang duduk dihadapannya. Ia menemukan foto namja di kantong celana Hoseok dan itu membuatnya lumayan terkejut.
"I-Ini... astagah! J-Jimin, ini tidak seperti yang kau pikirkan..." Hoseok menutup mulutnya dengan sebelah tangannya. Jimin terperangah. Ia dikhianati?
"Pergi!" Jimin berucap dengan dingin. Hoseok yang awalnya ingin membuka mulutnya untuk bersuara langsung terperanjat dan bergegas pergi dari apartment Jimin sebelum Jimin mengamuk setelah mendengar bentakan keras Jimin.
"Angkat kakimu dari sini! Berengsek.."
*End of flashback
"Cih.." Jimin mendecih setelah mengingat kembali perdebatan singkat antara ia dan Hoseok beberapa waktu lalu.
'Apa yang sedang Yoongi-hyung lakukan? Apa ia benar akan menikah dengan kekasih Hoseok itu? Benarkah?' Jimin menyuarakan pikirannya diatas sebuah kertas lalu meremasnya dan menuliskannya kembali. Ia kacau. Sangat kacau. Ia baru menyadari bagaimana rasanya mencintai seseorang lalu dikhianati begitu saja.
Ia jadi teringat perkataan Yoongi yang tak ingin menikah dengannya...
Jimin baru sadar, jika ia sangat berengsek. Jika bisa ia mengulanginya... tapi, apa Yoongi mau? Apa sebaiknya Jimin menyerah saja dan merelakan Yoongi? Tidak. Ia tidak bisa. Ia ingin Yoongi berada disisinya selama-lamanya.
Tapi, apa yang bisa ia lakukan?
.
.
.
Taehyung baru saja ingin merebahkan dirinya bersama Yoongi diranjang, dikejutkan dengan suara bel yang berdengung diseisi rumah yang sedang lengang ini.
"Tunggu sebentar, Tae..." ucap Yoongi, namun Taehyung menahan tangannya.
"Biar aku saja yang buka hyung..." ucap Taehyung lagi, dan segera berlari-lari kecil kearah pintu depan.
Entah mengapa perasaan Yoongi rasanya tidak enak.
Tak berapa lama, Taehyung datang dan membawa amplop coklat ditangannya. Yoongi mengernyit bingung.
"Tak ada orang, hanya ini..." ucap Taehyung sambil memberikan amplop coklat itu pada Yoongi.
"Apa kita buka saja ya?" Yoongi menatap Taehyung yang sudah duduk disebelahnya.
"Mm, buka saja.." ucap Taehyung sambil mengangguk. Yoongi lalu membuka amplop itu perlahan dan menemukan sebuah undangan disana.
Taehyung terperangah, begitupula dengan Yoongi setelah membaca nama dan melihat foto-foto pra-wedding di undangan itu.
Kim Namjoon & Jung Hoseok
"Hoseok berengsek!" pekik Yoongi tertahan sambil meremas undangan itu. Taehyung yang melihatnya hanya tersenyum. Entah untuk apa senyuman itu, yang jelas ia tahu kalau ini akan terjadi. Ia bukan orang bodoh yang tidak mengerti tentang karma.
"Kau mau menemui Jimin, hyung?" Taehyung menatap Yoongi yang masih sibuk dengan pikirannya. Yoongi mengangguk cepat mendengar pertanyaan Taehyung, namun saat ia sadar ia langsung menengok ke arah Taehyung.
"T-Tae... b-bukan begitu, ma-maksudku—"
CUPH
"Ssshh.. tak apa hyung. Besok kita pergi temui Jimin, sekaligus pergi ke acara pernikahan Hoseok-hyung." Taehyung memotong ucapan Yoongi dengan kecupan lembut di bibir cherry-nya.
"T-Tapi—"
"Sudah, yang penting sekarang kau tidur dengan nyenyak hyung. Ayo tidur..." ucapan final dari Taehyung dijawab anggukan oleh Yoongi.
Yoongi sebenarnya sangat menyukai perlakuan lembut yang dilakukan oleh Taehyung padanya, hingga ia tak sanggup untuk menolaknya. Namun setiap Taehyung melakukannya yang ada dipikiran Yoongi hanya Jimin.
.
.
.
.
Keesokan Harinya...
Taehyung dan Yoongi sudah berada di depan apartment yang dulunya ditinggali oleh Jimin dan Yoongi sendiri.
Taehyung meremas pelan tangan Yoongi seolah menguatkannya, lalu tersenyum dan menatap dalam manik cokelat Yoongi.
Yoongi bisa melihat jelas kekecewaan tersirat di mata Taehyung, namun entah mengapa senyuman Taehyung seolah menguatkannya dan menyuruhnya untuk masuk ke dalam apartment itu.
Taehyung mengusap pipi Yoongi sebentar lalu meninggalkannya setelah memencetkan bel apartment tersebut.
.
"Nugu-ya?" suara dari intercom membuat Yoongi bergetar.
"I-Ini aku, Y-Yoongi..." rasa kantuk Jimin tiba-tiba menguap mendengar suara Yoongi dari interom, tanpa melihat wajahnya Jimin langsung membuka pintu dan mendapati wajah menggemaskan itu lagi.
"H-Hyung... k-kaukah itu?" Jimin yang masih tidak percaya pada apa yang dilihatnya, kembali bertanya untuk memastikan. Yoongi hanya merengut. Ia rindu. Sangat rindu pada semua yang ada pada Jimin.
"Kau pikir siapa lagi.." ucap Yoongi yang langsung dihadiahi pelukan erat dari Jimin yang tampak kacau dengan lingkaran samar berwarna hitam dibawah matanya.
"Maafkan aku, hyung... maaf... aku tahu aku memang berengsek hyung... aku ingin menemuimu, tapi aku takut hyung. Takut kau akan menolak kedatanganku, bahkan tak ingin bertemu denganku. Maafkan aku hyung..." Jimin berucap sambil berusaha menahan tangisnya. Sedangkan Yoongi sudah terisak di pundaknya.
Yoongi tersenyum, "Baru ingat minta maaf eoh? Selama ini kau kubur dimana kata maaf itu?" Jimin menepuk-nepuk pundak Yoongi.
"Maaf hyung... maafkan aku..." Jimin kembali merapalkan kata maaf, hingga membuat Yoongi semakin ingin menertawainya.
"Bodoh. Sejak kapan aku tidak memaafkanmu? Tanpa minta maaf pun kau sudah ku maafkan, Jimin. Aku hanya menunggu kesadaranmu untuk mengucapkannya..." oh Tuhan, betapa Jimin merindukan suara itu menyebut namanya.
"Maaf, hyung. Aku memang berengsek, maafkan aku. Aku mencintaimu..." Jimin makin mengeratkan pelukannya pada Yoongi yang mulai menaikkan tangannya untuk mengusap dengan sayang rambut pemuda yang sangat dicintainya itu.
"Bisakah aku percaya pada kata-katamu lagi?" tanya Yoongi. Jimin melonggarkan pelukannya dan menatap manik cokelat Yoongi dengan tajam.
"Aku rela kena hukuman mati, jika aku melanggarnya hyung. Aku berjanji..." ucap Jimin penuh ketegasan ditambah tatapan tajamnya, membuat Yoongi kembali memeluk Jimin.
"Ingatkan aku untuk melakukannya jika kau melanggar janjimu..."
"Aku mencintaimu, hyung. Sungguh. Aku merindukanmu, rindu, sangat rindu..." Yoongi terkekeh gemas mendengar suara Jimin yang bergetar mengucapkannya. Apa benar?
Anggap saja benar.
"Kau tahu aku bahkan lebih mencintaimu, Jimin.."
.
.
.
Taehyung tersenyum miris, dan mendongakkan kepalanya mendengar percakapan Yoongi dan Jimin yang sedang saling melepaskan kerinduan. Hampir saja kristal itu lolos dari mata Taehyung.
"Aku mencintaimu..." lirihnya dalam hati.
Taehyung masih berdiri di sisi tembok salah satu apartment yang ada disana. Ia bisa mendengar jelas percakapan Yoongi dan Jimin. Ia sebenarnya berdiri disana untuk berjaga jika nanti Jimin akan berlaku kasar pada Yoongi atau sejenisnya. Namun dugaannya salah...
Ia mengambil ponsel pintarnya dari saku celananya dan menghubungi seseorang disana.
.
"Jangan dibatalkan. Tetapkan semuanya... ubah saja undangannya..."
"Yeah, ubah menjadi Park Jimin & Min Yoongi".
"Ah, jangan lupa katakan pada semua yang ada disana dan keluarga Park."
"Ah, satu lagi... kau sudah menyiapkan tiket untuk penerbanganku kan? Yeah, aku ingin mendatangi pernikahan itu dulu sebelum berangkat.."
"Terimakasih."
.
.
.
.
Hari pernikahan Yoongi.
Yoongi sedang menunggu kedatangan Taehyung, namun Taehyung tak kunjung datang dialtar yang sudah penuh itu. Dan saat sibuk menatap ke arah pintu utama, Yoongi menemukan Taehyung dengan jas berwarna dark blue yang sangat pas dengan rambutnya yang ia cat berwarna soft-orange sedang duduk disalah satu barisan tamu undangan membuatnya melebarkan matanya. Sambil menunjuk Taehyung...
"Appa, bukankah itu Taehyung? Kenapa ia tidak kemari? Dia belum bersiap-siap? Apa yang ia lakukan disana?" pertanyaan bertubi-tubi dari Yoongi hanya mengundang senyuman dari ayahnya yang berdiri disisi kanannya.
Yoongi juga menemukan orangtua Taehyung dibangku di bangku keluarga yang disediakan di sisi kiri altar. Yoongi jadi bingung, belum lagi tadi saat dirias dia hanya melihat ayah Jimin walau hanya sekilas.
"Ada apa ini?"
.
Yoongi hampir saja menjatuhkan rahangnya jika ia ingat ia masih membutuhkannya saat melihat seorang namja tampan masuk ke dalam Gereja dengan tuxedo yang sewarna dengan yang Yoongi kenakan berjalan ke arah altar. Dia Park Jimin.
Yoongi menatap tidak percaya pada semua orang yang ada disana, apalagi saat tatapannya bertemu dengan tatapan Taehyung. Dan namja yang memiliki garis rahang yang kokoh itu hanya nyengir dengan tatapan menyedihkan.
Yoongi tahu ini salah. Tapi... ia tak mungkin menikah dengan Taehyung jika yang ada dipikirannya adalah Jimin.
.
.
.
"Dengan ini Park Jimin dan Min Yoongi resmi menjadi pasangan suami-istri. Sang suami dipersilahkan untuk mencium sang istri..." ucapan Pendeta membuat jantung Yoongi seakan berpindah dilambung.
Jimin tersenyum tulus pada Yoongi, "Hyung, aku mencintaimu..." lalu mencium lembut bibir cherry Yoongi. Semua yang ada disana bersorak bahagia bahkan ada yang menangis terharu. Termasuk Seokjin dan Jungkook.
.
.
.
"Hahh..." namja bersurai soft-orange itu menghembuskan nafas berat, pasalnya sejak tadi ia menahan nafasnya saat upacara sakral Yoongi dan Jimin dimulai hingga selesai.
Ia menunduk dalam-dalam, baru saja ia akan berdiri dan menghampiri pasangan baru itu. Seseorang menepuk pundaknya...
"Taehyung-hyung, pesawatmu akan berangkat 30 menit lagi. Perjalanan dari sini ke bandara kurang lebih 12 menit. Kita harus bergegas atau mau dibatalkan?" Taehyung tersenyum ke arah orang kepercayaannya yang bersurai putih bercampur biru.
"Baiklah. Ayo berangkat, Zelo..." ia mengurungkan niatnya untuk bertemu pasangan baru itu. Dan memilih keluar dari gereja itu untuk menuju bandara, ia akan ke New York. Melanjutkan kuliahnya bersama orang kepercayaannya itu, Zelo.
.
.
.
Mata Yoongi mengelilingi seisi gereja besar itu, mencari Taehyung... namun ia tidak menemukannya.
"Yoongi-hyung, kau mencari Tae-hyung?" suara namja imut bergigi kelinci itu membuyarkan tatapan mata Yoongi yang sedang mengelilingi ruangan dan terfokus pada mata Jungkook.
"Ne. Apa kau melihatnya?" tanya Yoongi pada Jungkook. Dan Jungkook hanya mengangguk lucu.
"Tadi dia ada di deret akhir disana, lalu saat acara selesai Zelo-hyung datang menjemputnya untuk segera berangkat ke New York. Mereka akan melanjutkan kuliah bersama disana.." jawaban singkat tapi padat dari Jungkook sukses membuat Yoongi terbelalak.
Ia lupa jika Taehyung pernah berjanji setelah mereka menikah nanti, ia akan mengajak Yoongi ke New York dan tinggal disana sekalian ia melanjutkan kuliahnya... hampir sama dengan rencana Yoongi saat ia di wisuda dulu...
"Tak perlu disesali, Yoongi-hyung... Tae-hyung itu kuat, lagipula ini semua bukan sepenuhnya kesalahanmu. Tidak apa-apa, hyung..." Jungkook menepuk-nepuk pundak Yoongi yang matanya mulai berair.
"Yoongi-hyung? Kau kenapa? Jungkook, kenapa Yoongi-hyung?" Jimin memecah keheningan antara Yoongi dan Jungkook.
Jungkook tersenyum, "Yoongi-hyung bilang dia sangat bahagia bisa bersamamu lagi... jadi jangan kau sakiti dia, atau aku dan Seokjin-hyung akan membakarmu hidup-hidup" ucapan polos Jungkook membuat Jimin bergidik dan mengangguk-angguk.
Yoongi tersenyum pada Jungkook, "Terimakasih, Jungkook."
Jungkook menggeleng, "Berterimakasihlah pada dia, hyung. Dia yang menyiapkan semua ini, bahkan menyuruh Zelo-hyung mengubah undangannya..." ucap Jungkook sambil berlalu ke arah Seokjin sedang berbincang dengan keluarganya.
"Siapa yang Jungkook maksud, hyung?" tanya Jimin pada Yoongi di dalam pelukannya.
"Tak ada.." Yoongi tersenyum didalam pelukan Jimin.
"Terimakasih, Taehyungie..."
.
.
.
END
.
.
.
Maaf jika ini sudah terlambat/? Maaf juga jika tidak sesuai dengan harapan, ga ada NC hanya semi-M :v maafkan saya. Soalnya kasian ntar Yoongi dikoyak(?) lagi ama Jimin.
Gomawo buat semua yang udah sabar banget nunggu ff ini update. *deep bow*
Last, Review please...
