The Ballad Of Byun Baekhyun

Cast: Park Chanyeol, Byun Baekhyun

Supporting cast: the other EXO members and another supporter gonna be revealed as they needed.

Pairing: mainly chanbaek and official couple of EXO.

Genre: fluff, romance, drama, friendship

Rated: M

Length: Chaptered

Warning: genderswitch for all uke(s), typos, broken plot, mature content. If you dont like please help yourself to close the tab.

Disclamaire: all the characters here are not mine. I only own the plot.

No plagiarism, no copy-paste, no bash, and happy reading!

.

.

.

.

.

Chapter 1

.

.

.

.

.

Langit Korea terlihat begitu cerah. Chanyeol sempat berfikir apa ini lantaran senyuman cerah sahabatnya yang tengah berdiri tepat didepannya? Pemuda itu kemudian berhenti bergerak dan melangkah. Dipandanginya Baekhyun yang masih setia berdiri didepan apartementnya dengan senyuman yang tidak pernah padam, menatapnya dengan mata yang penuh dengan suka cita. Sesaat, Chanyeol mulai mengobservasi penampilan Baekhyun sore ini. Seharian penuh Chanyeol harus berada diluar kantor karena harus meninjau lokasi pembangunan pabrik baru miliknya, sehingga inilah pertama kalinya ia melihat Baekhyun selama hampir dua hari tidak bertemu. Wanita ini terlihat seperti biasanya, dengan setelan kerja berwarna abu-abu dan sepatu hak tinggi hitam miliknya, Baekhyun terlihat seperti wanita yang baru pulang kerja pada umumnya. Bedanya, rambut gadis itu kali ini digerai dengan indah sehingga menutupi dada busungnya yang tersimpan indah dibalik kemejanya.

Mungkin ini hanya perasaan Chanyeol saja namun Baekhyun benar-benar terlihat seratus kali lipat lebih cantik dari biasanya. Tidak seperti wanita pada umumnya yang akan terlihat berantakan ketika pulang kerja, Baekhyun terlihat sangat rapi, sapuan make up tipisnya masih terpoles dengan indah, bibir tipisnya masih terlapisi lipgloss yang membuat kesan basah dan lucu pada saat yang bersamaan. Gadisnya masih terlihat sangat segar, she looks extremely hot, batinnya.

"Apa kau berniat membuka pintu apartemenmu?" kata-kata yang terdengar seperti sindiran ditelinga Chanyeol itu mengalun dengan kasar dan memecahkan image dewi yunani yang sudah dengan susah payah Chanyeol bayangkan selama beberapa menit terakhir.

"U-uh?" beginilah Chanyeol, akan selalu terlihat bodoh jika sedang tertangkap basah.

"Aish, lama." Gadis itu bergerak maju dan menghampiri Chanyeol yang masih dalam keadaan bingung kemudian mengambil card dari saku kemeja Chanyeol untuk membuka pintunya. Sebelum berbalik menghadap pintu, gadis itu masih sempat mengecup bibir Chanyeol sekilas, membuat Chanyeol semakin terperosok jauh kedalam angan-angannya.

KLIK

Setelah pintu terbuka, Baekhyun segera melarikan dirinya kekamar mandi sementara Chanyeol masih berjuang keras untuk menjalankan kakinya masuk kedalam. Kenapa reaksi tubuhnya seberlebihan ini terhadap Baekhyun? Hanya dengan melihatnya mengurai rambutnya? Apa yang terjadi?

Chanyeol menolak untuk mengaku bahwa ia tertarik dengan Baekhyun. Lebih dari apapun juga Baekhyun adalah sahabatnya, dan akan selamanya seperti itu. Mungkin dia hanya butuh refreshing dengan mencari yeoja lain, mungkin dia memang harus berkencan dengan seseorang, apapun itu asal bisa menghentikan reaksi tubuhnya yang berlebihan terhadap Baekhyun.

Pada akhirnya ia berhasil mendudukkan tubuhnya disofa, sesuatu yang dia syukuri karena dia bisa menguasai tubuhnya juga. Ia pejamkan mata bulatnya, menghela nafas dengan tenang, sampai dengkuran halus mulai terdengar. Tanpa Chanyeol sadari, Baekhyun sudah duduk disampingnya dengan pandangan yang sulit untuk diartikan. Pelan-pelan gadis itu mengambil jas kerja yang ada digenggaman Chanyeol dan melonggarkan dasi lelaki itu, memaksa mata Chanyeol untuk kembali terbuka.

"Kopi atau?" Baekhyun bertanya sembari meletakkan jas milik Chanyeol disampingnya.

"Tidak usah. Aku sedang tidak ingin memakan atau meminum apapun," tolak lelaki itu dengan halus sementara Baekhyun hanya tersenyum menanggapi.

"Kau terlihat sangat lelah," gadis penggila eyeliner itu mulai melarikan jari-jarinya diatas kulit wajah Chanyeol. meskipun tidak selembut miliknya, wajah Chanyeol tergolong halus, pahatannya terasa sempurna dibawah sentuhan Baekhyun. Tulang pipinya yang menonjol tapi tidak berlebihan, serta garis-garis wajah yang tegas dan tercetak pada porsinya. Chanyeol adalah wujud nyata dari dewa yunani yang orang bilang sangat rupawan, He's the most perfect human being.

"Ya, seharian ini aku meninjau pembangunan dilapangan." Chanyeol masih menyandarkan tubuhnya disandaran sofa tapi kepalanya ia telengkan untuk menatap Baekhyun yang berada tepat disampingnya. Diraihnya tangan mungil itu dan ia bawa dalam genggamannya. Ini adalah kebiasaan Chanyeol yang lain ketika dia sedang merasa lelah, menggenggam tangan Baekhyun dengan erat, entah kenapa dari situ Chanyeol selalu seperti mendapatkan kekuatan baru.

"Geurae, aku akan siapkan air hangat untukmu mandi," Baekhyun baru akan bangkit menuju kamar Chanyeol ketika pemuda itu menahan tangannya dan berkata,

"Siapkan airnya setelah aku memelukmu," dan tanpa persetujuan lagi Chanyeol langsung menarik Baekhyun kedalam dekapannya. Erat, sangat erat hingga Baekhyun mengernyitkan keningnya. Namun tidak ada yang terucap dari bibir tipisnya, Baekhyun tetap mengistirahatkan kepalanya didada bidang milik Chanyeol, menikmati wangi Davidoff Coolwater yang menguar kuat dari pori-pori kulit Chanyeol, wangi yang selalu menjadi favorit Baekhyun. Wangi yang melambangkan pria maskulin, modern, passionate, optimis, dinamis dan penuh percaya diri.

"Puppy.." gumam Chanyeol, terdengar samar ditelinga Baekhyun sehingga gadis itu harus mendongak untuk meminta penjelasan atas apa yang baru saja Chanyeol katakan.

"Kau seperti puppy, mengendus-endus bauku," Chanyeol terkekeh pelan sementara Baekhyun malah tersenyum polos dan berkata,

"Aku suka baumu," gadis itu terdengar malu-malu ketika mengatakannya, hingga mengubah kekehan Chanyeol menjadi tawa kecil yang terdengar sangat menenangkan dengan suara husky kebanggaannya.

"Aku tau," balas Chanyeol sambil mencium hidung Baekhyun dengan gemas.

Menit berikutnya, mereka kembali terdiam dengan pikiran masing-masing. Chanyeol sibuk dengan pikirannya tentang Baekhyun dan Baekhyun sibuk dengan pikirannya tentang Chanyeol.

"Chanyeol.." panggil si mungil terlebih dahulu,

"Hm?"

"Apa kau tidak bosan denganku?" kalimat pertanyaan itu terlolos begitu saja dari bibir Baekhyun tanpa bisa ditahan lagi, membuat garis kerutan dikening Chanyeol terlihat semakin jelas, tidak mengerti.

"Apa maksudmu?" tanya Chanyeol dengan satu alis yang terangkat.

"Umm.. kita kan selalu bersama selama dua puluh tahun lebih, kau tidak bosan denganku?"

"Tidak. Kau dan aku memang sudah ditakdirkan untuk selalu bersama. Apa kau bosan?" Chanyeol bertanya balik dengan pertanyaan yang sama. Senyumnya terkembang ketika dirasa Baekhyun menggeleng didalam pelukannya.

"Tidak. Terkadang aku merasa jauh lebih aman bersamamu daripada kekasihku." Jawab Baekhyun dengan polos.

"Apa kau sedang memiliki kekasih?" Chanyeol lagi-lagi mengangkat alisnya. Jika jawabannya adalah 'ya' maka dia akan menghukum Baekhyun karena tidak meminta pendapatnya terlebih dahulu sebelum menerima seorang pria. Hey! Chanyeol memang protektif kepada Baekhyun, bukan hanya karena Baekhyun adalah sahabatnya, tapi juga karena banyak binatang buas diluar sana yang mendambakan gadisnya. Baekhyun adalah primadona, siapapun pasti mau mendapatkannya.

"Tidak, tapi aku sedang membutuhkan kekasih." Ini jawaban paling menyebalkan yang pernah Chanyeol dengar karena pemuda itu tau persis, maksud dari perkataan Baekhyun yang sesungguhnya adalah 'Jangan coba-coba mempersulit siapapun yang ingin mendekatiku atau aku akan membencimu'.

"Siapa yang sedang mendekatimu?" nada malas keluar begitu saja dari bibir tebal milik Chanyeol, entah kenapa membicarakan hal seputar kekasih Baekhyun terasa sangat menyebalkan baginya, dia selalu berpikir selama ini Baekhyun selalu didekati oleh pria-pria tidak benar, membuatnya seratus kali lipat lebih protektif dari biasanya.

"Nanti kau juga akan tau." Jawab gadis itu singkat. Chanyeol tidak pernah sadar, didalam nada itu, tersimpan banyak rahasia.

"Bagaimana dengan misimu?" Chanyeol berusaha mengalihkan perhatiannya.

"Misi apa?"

"Tentang mencari tau mantan kekasihku," Jawab Chanyeol setenang mungkin. Meskipun tidak begitu jelas, tapi ia bisa merasakan Baekhyun menegang dalam pelukannya.

"Aah.. aku akan segera mengatur jadwal pertemuanmu dengan Nana. Aku sudah berhasil mendapatkan kontaknya." Jawab Baekhyun singkat.

"Aku tidak terlalu tertarik dengan Nana sebenarnya.." Chanyeol menghembuskan napasnya dengan pelan namun dalam, sehingga mau tak mau tubuh Baekhyun ikut bergerak karenanya.

"Kau bisa bertemu dengannya dulu, tidak ada salahnya kan mencoba? Zhang Yixing itu sedikit susah didapatkan." Gadis manis itu mengangkat kepalanya dan menatap Chanyeol yang juga tengah menatapnya.

"Geurae," Chanyeol menunduk dan lagi-lagi mencium bibir plum yang diam-diam sudah menjadi candu baginya. Baekhyun tersenyum dalam ciumannya, dengan pelan ia gerakkan tangannya untuk memeluk leher Chanyeol dan membalas ciumannya. Hingga matahari tenggelam keperaduannya, hanya itu saja yang mereka lakukan, saling mengecap bibir satu sama lain tanpa menyadari perasaan lain yang perlahan menyusup kedalam hati keduanya. Kembali mengabaikan batasan yang dengan kokoh mereka pamerkan kepada teman-temannya. Hey, sahabat tidak saling melumat setiap kali mereka bertemu bukan?

.

.

.

.

Vatos Urban Tacos salah satu restoran mahal yang berada di Seoul terlihat ramai sore itu ketika seorang wanita cantik melangkah masuk dengan anggunnya. Restoran ini memang banyakan digemari oleh kalangan atas masyarakat Korea, percampuran masakan Korea dengan Amerika dan Mexico membuat restoran ini dianggap keajaiban bagi sebagian warga. Ketika pertama kali melangkah masuk, kalian akan langsung dihadapkan dengan antrian orang-orang yang dengan sabar menunggu untuk bisa menikmati makanan yang mereka sediakan. Berbeda dengan wanita ini, dia sudah memesan salah satu meja bahkan dari dua hari yang lalu.

Im Jinah. Atau yang kerap disapa Nana duduk dengan anggun di meja nomor 4, meja yang sudah ia pesan- ah sebenarnya orang yang sudah membuat janji dengannya yang memesannya, Park Chanyeol. senyumnya terkembang mengingat namja itu, namja yang pernah menjadi kekasihnya tiga tahun yang lalu. Chanyeol adalah pemilik perusahaan elektronik yang menjadikan Nana sebagai Brand Ambassador untuk salah satu produknya. Namja itu adalah seseorang yang menyenangkan, ditengah kesibukannya untuk mengurusi semua perusahaannya, Chanyeol selalu meluangkan waktu untuk orang-orang yang dikasihinya, meluangkan waktu untuk sesuatu yang dia suka yaitu bermain musik. Untuk hobi Chanyeol membuat lagu sebenarnya baru Nana ketahui setelah ia membaca biografi Chanyeol disalah satu majalah yang memuat konten 'Eksekutif Muda Paling Berpengaruh di Korea'. Siapa yang tidak tau Park Chanyeol? bahkan ketika dulu dia dikabarkan menjalin hubungan dengan Chanyeol-pun Nana sampai menjadi naik daun padahal karirnya didunia modeling dan acting tidak terlalu cemerlang, cenderung redup karena perempuan itu hanya bisa mengandalkan fisiknya saja. Namun ketika berita itu menyeruak, Nana langsung mengisi 90% penyiaran di tanah Korea. Sebegitu besar imbas seorang Chanyeol baginya, oleh karena itu ketika Chanyeol memutuskan hubungan keduanya, Nana sedikit merasa kehilangan, bukan hanya kehilangan sosok Chanyeol, tapi juga kariernya terancam. Namun berkat dari bossnya yang bernama Hong Jonghyun itu, semuanya masih terselamatkan.

Bagaimana Chanyeol yang sekarang? Apa masih semenarik dulu?

Lamunan Nana terganggu ketika seseorang tiba-tiba duduk dihadapannya. Sesaat Nana menarik nafasnya seolah tercekat, pemuda dengan kemeja berwarna hitam dan celana katun dengan warna senada, nampaknya pemuda ini baru saja selesai bekerja ketika Nana melihat jas yang pemuda itu genggam di tangan kanannya sementara tangan kirinya masih sibuk berada ditelepon dengan seseorang yang Nana tidak paham itu siapa.

"Arrasseo.. kau pikir aku bodoh?" gerutu pemuda itu sambil meletakkan jasnya di pangkuannya dan kemudian melonggarkan dasinya.

"..."

"Arra... arra sudahlah kau tutup saja telponnya aku sudah sampai." Ucapnya sambil melirik Nana yang memandangnya dengan raut ingin tau.

"Arrasseo. Aku akan langsung kesana nanti. Jangan pergi kemana-mana! Ne, aku menyayangimu." Nana semakin mengernyitkan keningnya, siapa yang Chanyeol telepon? Kenapa pemuda itu bilang ia menyayangi orang yang ada diseberang sana?

"Maaf menunggu lama."kata Chanyeol sambil sibuk mencari pelayan untuk memesan makanan. Jujur saja Chanyeol sudah sangat lapar saat ini. Setelah salah satu pelayan mendekat dan memberikan mereka buku menu, Chanyeol langsung mempersilahkan Nana untuk memilih dahulu yang pada akhirnya menjatuhkan pilihannya pada Kimchi Carnitas Fries sedangkan Chanyeol memesan Galbi Short Rib Taco. Pelayan bername-tag Gayoung itu pamit dan membawa pesanan mereka.

Sesaat Chanyeol hanya menatap Nana dengan pandangan super dalam, sampai-sampai model cantik itu salah tingkah dibuatnya.

"A-ada yang salah denganku?" tanya Nana dengan terbata pasalnya Chanyeol masih belum mengedipkan matanya. Diam-diam wanita ini besar kepala, apa Chanyeol sedang terpesona dengannya? Oh semakin mudah rencananya untuk memikat lelaki ini kembali.

Lamat-lamat Chanyeol mulai mengedipkan matanya, namun masih belum mengalihkan tatapannya. Bibir tipis wanita itu perlahan terangkat membentuk seringai licik disana. Bahkan belum sempat ia merayu, Chanyeol sudah bertekuk lutut kepadanya. Nana memang sudah menduga, Chanyeol belum sepenuhnya melupakannya, apalagi dulu masa pacaran mereka lumayan lama, 6 bulan, dibandingkan dengan yeoja lain yang tidak pernah menyentuh bulan ke dua.

"Kau suka kimchi?"

Blink.

Blink.

Blink.

Nana berkedip tiga kali hingga ia sepenuhnya yakin bahwa yang baru saja keluar dari mulut Chanyeol adalah pertanyaan terkonyol dan diluar dugaannya selama beberapa menit ia berada diawang-awang.

"A-ah?" wanita itu menelengkan kepalanya, berusaha menjadi semenggemaskan mungkin namun yang berada dikepala Chanyeol justru, apa perempuan ini sedang mengcopi gaya Baekhyun? Tidak lucu sama sekali, batinnya.

"Kau suka kimchi? Sama seperti Baekhyun.." gumam Chanyeol, kali ini ia menyuarakan pikirannya hingga Nana mampu mendengarnya dengan jelas.

"Baekhyun?" tanya Nana.

"Ya, Baekhyun selalu memesan makanan itu jika kami makan disini." Pemuda itu menjawab acuh, mengabaikan Nana yang mengernyit tidak suka. Ia baru ingat, bahwa Chanyeol memiliki sahabat perempuan bernama Baekhyun, yang tidak lain adalah konsultan diperusahaannya.

"Oh.. kau masih bersahabat dengannya?" Chanyeol menggeleng kecil dan tersenyum sangat manis kearah Nana yang disambut dengan suka cita. Semenit berikutnya perempuan itu melanjutkan,

"Kau tak seharusnya berteman dengannya. Dia hanya menyusahkanmu bukan? hah sudah kuduga Chanyeolie." Nana memasang wajah heran dibuat-buat, sementara lagi-lagi Chanyeol hanya tersenyum mendengar ocehan perempuan bersurai caramel itu. Nana masih terus mengocehkan banyak hal tentang Baekhyun, apalagi ketika senyum Chanyeol semakin melebar wanita itu memutar otaknya untuk mengatakan apa lagi tentang Baekhyun. Wanita itu tidak menyadari dibalik senyum lebarnya Chanyeol sudah mulai menggertakkan giginya.

"Baekhyun itu wanita tidak penting." BAAAAM! Habis sudah kesabaran Chanyeol.

"Apa kau bercanda?" Chanyeol menyeringai kejam dihadapan Nana, emosinya ia tahan jauh kedasar pikirannya yang sudah meletup-letup. Namun ia tidak mungkin kan melawan Nana disini?

"H-huh?" Nana mengerjapkan matanya beberapa kali, kaget dengan pertanyaan Chanyeol yang seperti penuh intimidasi apalagi dengan tatapan matanya yang nyalang dan bibirnya yang menyunggingkan senyum seram.

"Kupikir kita disini untuk makan. Omong kosongmu tentang Baekhyun itu tidak membuatku kenyang." Ucap Chanyeol dengan penuh penekanan. Namun bodohnya Nana, ia mengartikan perkataan Chanyeol sebagai penolakan untuk membicarakan Baekhyun, bahwa Chanyeol sudah muak dengan wanita itu. Nana justru menyeringai dibalik wajah cantiknya.

"Aku-"

"Yeoboseyo?" belum sempat Nana kembali berkata, Chanyeol sudah kembali menepelkan ponselnya ketelinga peri kebanggaannya.

"..."

"Baekhyun-ah gwenchana?" suara Chanyeol begitu tenang dan dalam namun terasa seperti hunusan panah bagi Nana. Apa Chanyeol baru saja menepis habis anggapannya tentang kerusakan hubungannya dengan Baekhyun yang Nana asumsikan?

"..."

"Arrasseo, aku akan segera pulang.. kau tunggu aku hm?" Nana benar-benar bisa melihat Chanyeol tersenyum sangat tulus saat ini. Setelah beberapa menit pria itu akhirnya menurunkan lengannya dan menyimpan ponsel mahal itu kedalam saku celananya. Matanya kembali menatap Nana dengan pandangan tajam, dengan begini Nana sudah tau apa kesalahannya. Ia harus segera bergerak atau dia akan kehilangan kesempatan. Sedikit merendahkan harga dirinya tidak masalah asal Chanyeol bisa kembali baik padanya.

"Chanyeol aku-"

"Kau pikir kau siapa bisa membicarakan Baekhyun seperti itu?" Pria itu masih setia menatap Nana namun tangannya mulai bergerak untuk mengambil dompetnya yang tersimpan disaku belakang celananya.

"Kau seharusnya berterimakasih kepada Baekhyun, dia yang merencanakan pertemuan ini." Nana menjatuhkan rahangnya ketika mendengar penuturan Chanyeol, ditambah dengan lemparan beberapa lembar uang Chanyeol keatas meja dan disusul pemuda itu yang berdiri dari tempatnya.

"Aku kenyang." Katanya lagi dengan nada datar. Lelaki itu mulai memakai jasnya lagi dan merapikan penampilannya, sebelum benar-benar meninggalkan restoran itu, Chanyeol sedikit membungkuk kearah Nana dan berbisik kejam, "Senang bertemu denganmu kembali, Nana-ssi. Kau sama sekali tidak berubah, masih Bodoh." Chanyeol menegakkan kembali badannya, tidak menghiraukan raut wajah Nana yang sudah pucat pasi ditempatnya. Bukan lagi dia rela harga dirinya jatuh demi Chanyeol, sebelum dia melakukannya, Chanyeol bahkan sudah menjatuhkannya.

Lelaki itu berjalan dengan gagah menuju pintu keluar, menerobos gerombolan orang yang masih mengantri untuk bisa mencicipi makanan andalan restoran itu. Ketika ia sudah menemukan badannya diluar restoran, Chanyeol berhenti diantara dua pria gagah dengan tubuh kekar dengan pakaian serba hitam.

"Habisi dia." Chanyeol tidak menoleh sama sekali ketika mengatakan hal itu dan langsung berjalan santai menuju mobil Zenvo ST1 miliknya yang terparkir gagah tidak jauh dari tempatnya berjalan saat ini.

Dirogohnya remot kontrol yang terselip disaku celananya. Tanpa mengeluarkannya, Chanyeol memencet salah satu tombol yang sudah ia hafal dengan pasti apa fungsinya, yaitu untuk membuka pintu mobil yang saat ini sudah berada dihadapannya. Setelah pintunya terbuka, Chanyeol buru-buru masuk kedalam mobil dengan gerakan yang luwes, kemudian menutup pintunya dan mulai menjalankan mobilnya, membelah jalanan kota Seoul yang tampak indah dengan langit jingganya. Sepanjang perjalanan dia terus bersenandung lagu milik Drake-Hold on, We're Going Home. Lagu yang selalu menjadi favoritnya.

Pandangannya selalu menerawang jauh ketika lagu ini terputar, membayangkan seseorang yang selalu menjadi rumahnya. Kemanapun dia pergi, bayangannya selalu mengiringinya, menganggu pikirannya. Betapapun Chanyeol melupakannya, wanita itu selalu menghiasi hari-harinya dengan senyuman cantiknya. Apa wanita itu bisa diraihnya?

Entahlah.

Chanyeol akan lebih berfikir realistis daripada terus berimajinasi dengan khayalannya. Entah apakah Chanyeol bisa menakhlukkannya atau tidak ketika mereka bertemu lagi.

Chanyeol tidak tau.

Tanpa ia sadari, mobil mewahnya terparkir apik disalah satu bangunan apartement megah yang seluruh penghuninya adalah perempuan. Chanyeol bahkan tidak berani membayangkan bagaimana jadinya jika semua penghuni itu berkumpul menjadi satu dan mulai bergosip layaknya wanita pada umumnya. Dunia bisa runtuh, pikirnya sambil begidik ngeri.

Setelah berhasil mengeluarkan dirinya dari mobilnya, Chanyeol berjalan santai dan masuk ke bangunan itu, menyapa security disana dan beberapa orang yang kebetulan sedang bertugas dilobi apartemen. Setelah sedikit berbasa-basi dengan Seulgi, pemilik apartemen yang kebetulan istri dari salah satu sahabatnya, Jaehyun, Chanyeol kemudian menenggelamkan dirinya kedalam gerombolan orang yang memenuhi lift. Tidak butuh waktu yang lama baginya untuk sampai di lantai 10, dimana apartemen Baekhyun berada. Ia segera berjalan menuju apartemen yang berada diujung lorong itu dengan senyum bahagia, entah kenapa menemui sahabatnya selalu membuat perasaannya membaik.

Tanpa meminta Baekhyun untuk membukakan pintunya, Chanyeol sudah dengan lincah memformulasikan password tanpa terlihat ragu. Dalam hitungan detik, terdengar bunyi 'cling' yang berarti ia pintu sudah terbuka untuknya.

Dengan santai, Chanyeol melenggang masuk dan langsung mencari dimana sosok Baekhyun berada. Dapur terlihat sepi, sedangkan ruang tengah hanya menyala televisi plasma tanpa penonton yang volumenya sudah dikecilkan. Opsi terakhir adalah kamar tidur, dan dengan langkah pasti, Chanyeol membuka pintu berwarna cokelat tua itu perlahan-lahan. Senyumnya terkembang ketika ia melihat Baekhyun tengah tertidur memunggunginya dengan selimut yang menutupi tubuhnya hingga pundaknya.

Tanpa berfikir panjang lagi, ia segera menghampiri Baekhyun dan menunduk di belakangnya, mencium kepala wanita itu dengan lembut sebelum akhirnya mengistirahatkan badannya tepat disamping Baekhyun kemudian menarik tubuh mungil itu kedalam dekapannya.

Chanyeol selalu bersyukur bahwa Tuhan menciptakan tubuh Baekhyun sekecil ini sehingga begitu pas berada dalam dekapannya.

"Kenapa kau sudah ada disini?" tiba-tiba suara itu mengejutkan Chanyeol yang hampir terlelap dalam tidurnya.

"Ya kau tidak tidur," meskipun nadanya tidak terdengar seperti sedang bertanya, namun Baekhyun tau apa maksudnya.

"Aku hanya memejamkan mata." Jawabnya sekenanya.

"Perutmu masih sakit hm?"tangan Chanyeol menjalar keperut Baekhyun, mengusapnya dengan gerakan perlahan, seolah usapannya bisa melenyapkan rasa sakit yang Baekhyun alami.

"Sedikit.." cicit Baekhyun, tidak mengomentari tangan Chanyeol yang masih setia memberikan usapan.

"Lebih baik?" tanya Chanyeol lagi, namun sekarang Chanyeol sudah menumpukan tangan kirinya agar posisinya lebih tinggi dan bisa melihat raut wajah Baekhyun kali ini. Baekhyun menolehkan wajahnya dan menatap Chanyeol yang sedang memperhatikannya juga.

"A lot better." Jawab Baekhyun sambil tersenyum manis.

"Oh jangan tersenyum seperti itu," kata Chanyeol sambil melepaskan tangannya dari perut Baekhyun. Posisinya kini duduk tegap disamping Baekhyun yang sudah terlentang diposisinya.

"Wae? Aku cantik ya?" Baekhyun menelengkan kepalanya sambil mengerjap lucu, sesuatu yang membuat Chanyeol terkena serangan jantung mendadak. Masih hangat diingatannya, Nana melakukan hal yang sama beberapa saat yang lalu tapi terasa sangat berbeda. Bagi Chanyeol seluruh stock aegyo dimuka bumi ini adalah milik Baekhyun dan ketika orang lain melakukannya pasti akan terlihat jelek. Layaknya hukum alam, hal ini sama patennya seperti langit pasti biru.

"Tidak. Itu menyeramkan." Ucap Chanyeol dengan nada bercanda, dan meskipun Baekhyun tau itu, tapi tetap saja, gadis itu memajukan bibirnya hingga membuatnya jauh lebih menggemaskan dari sebelumnya.

Lama mereka terdiam sampai akhirnya salah satu dari mereka kembali bersuara,

"Bagaimana Nana?" itu suara Baekhyun yang membuyarkan lamnunan Chanyeol. pria itu nampak kaget dan sedetik kemudian terlihat enggan untuk menjawab, tapo tatapan ingin tau Baekhyun mau tak mau membuatnya buka mulut juga,

"Dia lebih jalang dari yang kupikirkan." Ucap Chanyeol datar, sementara Baekhyun sudah membolakan mata sipitnya. Apa Chanyeol bercanda? Nana dikenal sebagai model yang teramat sopan, meskipun tak jarang ia memamerkan lekuk tubuhnya, Nana selalu bersikap santun dimanapun dia berada, setidaknya begitulah informasi yang Baekhyun terima.

"Ya, apa kau bercanda?" Baekhyun memicingkan matanya, menatap Chanyeol yang hanya menyunggingkan senyum terpaksa.

"Aku dengannya baik-baik saja, kau tidak usah khawatir." Kata Chanyeol akhirnya, berhasil membuat Baekhyun mengangguk dan tersenyum lagi.

Jika dipikir ulang, sudah berapa ratus kebohongan yang Chanyeol berikan kepada Baekhyun hanya untuk membuat gadisnya tersenyum? Ia tidak tau apa yang akan terjadi jika Baekhyun tau yang sesungguhnya, bahwa Nana begitu membencinya, orang yang jelas-jelas sudah berjasa bagi Nana, secara tidak langsung.

"Aku menginap disini ya?" pinta Chanyeol tiba-tiba, membuat Baekhyun menarik salah satu alisnya keatas.

"Geurae, aku akan siapkan kamar tamu untukmu." Baekhyun akhirnya mengangguk pasrah, sedangkan Chanyeol tersenyum senang dibuatnya.

Chanyeol baru akan mengucapkan kata-kata lagi ketika bell apartemen Baekhyun berbunyi. Wanita yang kali ini hanya memakai gaun tidur tipis itu akhirnya berjalan tergopoh menuju pintu, penasaran dengan siapa yang datang, apakah Minseok? Tapi seingatnya dia memang sedang tidak punya janji dengan siapapun, kecuali Chanyeol yang saat ini sudah berada disini bersamanya.

Tanpa berfikir lagi, Baekhyun segera membukakan pintu dan menemukan Nana berdiri disana. Wanita bermata sipit itu terlonjak kaget melihatnya, untuk apa Nana datang kemari? Pikirnya dalam hati.

Sama halnya dengan Baekhyun, Nana tidak mengucapkan apapun. wanita itu terus memperhatikan Baekhyun dengan tatapan yang sulit diartikan, mengobservasi setiap hal yang ada pada tubuh mungil yang tingginya hanya sebatas keningnya saja.

"Chanyeol didalam?" tanya Nana tanpa basa-basi lagi, membuat Baekhyun semakin mengernyit bingung. Merasa terdesak oleh keadaan gadis manis itu menggelengkan kepalanya dan sedetik kemudian mendapati Nana tersenyum licik. Apa Nana tau bahwa aku berbohong? Batinnya.

Sejurus kemudian, Nana melangkah mendekat, sehingga jarak antara dirinya dengan Baekhyun hanya beberapa centi saja.

"Bagus karena aku tidak mau dia melihat mayatmu." Bisik Nana dengan kejam. Tanpa Baekhyun sadari tangan perempuan yang lebih tinggi itu sudah siap untuk mengambil pisau kecil yang ia selipkan disaku belakang celana skinny yang tampak sexy ditubuhnya.

Baekhyun membulatkan matanya kaget. Tidak percaya dengan apa yang sedang ia hadapi.

"Tell me your last wish, baby." Baekhyun bahkan bisa melihat jelas seringai yang terpatri diwajah Nana, dan itu jelas membuat Baekhyun semakin ketakutan. Bahkan untuk berteriak minta tolong saja ia tidak bisa.

"You tell me yours first." Baekhyun tidak tau apa yang terjadi tapi ketika seseorang mengumamkan kata-kata tadi, tubuhnya direngkuh oleh tangan kekar dan kemudian dia sudah menemukan dirinya berada dibalik tubuh Chanyeol yang tengah mengarahkan pistol tepat dikepala Nana.

"C-chanyeol.." meskipun tidak melihat bagaimana ekspresi Nana sekarang ini, Baekhyun bisa mendengar betapa ketakutannya wanita itu dari getaran dinada suaranya. Namun Baekhyun terlalu kesal untuk peduli, wanita jahat seperti itu pantas mendapatkan perlakuan ini, apalagi sebelumnya Baekhyun sudah berbaik hati kepadanya. Tanpa Chanyeol sadari, Nana sudah mulai merasa tercekik dikerongkongannya, entah kenapa. Wanita itu mulai memelototkan matanya dan memegangi lehernya dengan erangan halus.

"Turunkan pistolnya Tuan Park. Dia akan habis dalam satu menit kedepan." Sosok Jongin muncul dari arah kanan, memberikan Chanyeol senyum persahabatan. Ya Kim Jongin adalah sahabat terbaik yang pernah Chanyeol miliki, dialah pemilik Perusahaan Otomotif terkemuka di Korea, keduanya memang sama-sama eksekutif muda kenamaan dinegaranya.

Chanyeol kemudian menyimpan pistolnya disaku celananya, memutar tubuhnya dan merengkuh Baekhyun kedalam dekapannya.

"Kupikir anak buahmu gagal menghabisinya," kata Chanyeol ketika Nana sudah sepenuhnya ambruk dengan busa yang terus keluar dari mulutnya.

"Anak buahku terlalu pintar. Mereka memberikan Nana sedikit waktu yang lebih lama untuk menikmati hidupnya sebelum benar-benar lenyap." Jongin ikut menyeringai ditemptanya. Dan oh? Chanyeol baru menyadari bahwa Jongin tidak sendirian disana, seorang gadis berdiri disampingnya dan bergelayut manja dilengan kanan pria berkulit tan itu.

"Halo, Chanyeol." sapa gadis itu dengan senyuman cantiknya, senyuman yang tidak pernah Chanyeol lupakan dalam hidupnya.

"Kyungsoo?"

.

.

.

.

To be continued

.

.

.

.

Halo, come with the real chapter 1. Guys buat ff ini kayaknya perchapter gue mau ambil 3,5-4k words aja ya, atau mentok ya 5k. Karena kalo dipikir-pikir kalo lebih banyak cenderung bikin capek bacanya. Mending 4k tapi on point, ya gak sih? Nah semoga chapter ini memuaskan. Tenang aja, tiap chapter bakal gue selipin chanbaek moment kok. Sehun belum nongol, mungkin chapter depan atau depannya lagi gatau ya ntar liat aja bakal gimana.

Buat yang bilang ini chanbaek friend with benefit, ya bisa dibilang gitu juga sih. mulai chapter 1 ini gue udah selipin hints, sok lah di artikan sendiri hahahaha

Maaf kalo banyak typo ya, segitu aja dulu mungkin. Last but not least,

Review please?