Drrttt … Drrtt …
"-hn?"
"Sasuke-kun! Kau ada di mana sekarang?" Uchiha Sasuke menempelkan ponsel berwarna biru tuanya di telinganya seraya menyetir. Tangan kirinya ia gunakan untuk memegang ponselnya, sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk memegang stir. Pemuda itu terdiam sejenak, kemudian menjawab dengan tenang,
"Di dekat stasiun. Aku mengantar Ino pulang." Ino, wanita yang disebut tadi menoleh pada Sasuke yang berada di sampingnya dengan tatapan bertanya. Wanita itu memilih diam saat Sasuke menampilkan raut wajah agak kesal, setelah beberapa saat kemudian, Sasuke mematikan telponnya dan mulai kembali menyetir menggunakan kedua tangannya.
"Siapa?" Suara Ino tampak tenggelam dengan suara kendaraan-kendaraan lainnya, namun Sasuke masih dapat mendengar pertanyaan gadis di sampingnya. Menghela nafas sejenak, kemudian Sasuke membuka mulutnya.
"Ibuku. Dia memintaku pulang sekarang," jawab Sasuke singkat. Ino memilih untuk tak bertanya lagi dan lebih memilih untuk memandang keluar jendela mobil. Sasuke melirik gadis yang menjadi kekasihnya selama tiga bulan tersebut , namun kepalanya kembali ia tolehkan ke depan. Ia menepikan mobilnya saat telah sampai di depan rumah Ino. "Sudah sampai," ucapnya. Ino menoleh pada Sasuke dan tersenyum lembut pada pemuda itu.
"Hum. Terimakasih sudah mengantarku pulang, Sasuke-kun!" Sasuke mengangguk seraya tersenyum tipis. Ia terus memandang punggung wanita di depannya yang perlahan-lahan menjauh. Setelah yakin Ino telah memasuki rumahnya, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
.
.
.
"Ah! Sasuke-kun! Okaeri~" Sasuke memandang ibunya yang menampilkan senyum girang, ia yakin ada sesuatu yang telah terjadi pada ibunya. Sasuke terus melangkahkan kakinya sampai ke ruang tamu, kali ini onyx-nya dapat melihat tiga orang asing yang duduk di sofa rumahnya. Seorang pria berjas, dan dua orang wanita di sebelah kiri dan kananya. Sasuke mengerutkan keningnya sampai Mikoto menepuk pundaknya.
"Duduklah, Sasuke," perintah ibunya dengan senyum serius. Sasuke duduk di samping ayahnya, berhadapan dengan gadis berambut pink di depannya, Sasuke mengernyit saat melihat gadis rapuh di depannya. Gadis yang ada di depannya kini sungguh kurus, lemah, tak ada tanda kehidupan, dan sebagainya. "Ah, ini keluarga Haruno. Ini Mebuki Haruno, Kizashi Haruno, dan…" Tatapan Mikoto beralih pada gadis di samping Kizashi, Mikoto tersenyum manis dan kemudian berkata dengan riang, "-Sakura Haruno." Sasuke sedikit merinding saat mendengar nama gadis di depannya. Sungguh gadis di depannya sama sekali tak mirip dengan namanya. Ketika mendengar nama 'Sakura', pasti orang-orang akan berpikir bahwa gadis itu adalah gadis periang yang selalu menebarkan senyuman, namun Sakura di depannya hanyalah gadis suram yang bahkan tak mempunyai keinginan untuk hidup.
"Salam kenal, Sasuke." Haruno Mebuki tersenyum lembut Sasuke, dan hanya dibalas sebuah senyuman kikuk dari pemuda itu. "Baiklah, kami langsung saja ke intinya." Tatapan Mebuki yang tadinya riang berubah menjadi serius. "Kedatangan kami ke sini…"
"…untuk membicarakan perjodohanmu dengan Sakura."
Dan Sasuke merasa, bahwa waktu terhenti saat itu juga.
.
Ai
.
SasuxSaku
.
Romance, Angst.
.
For kak Laura Pyordova's a.k.a Biiancast Rodith birthday :3
.
Out of Chara, Bad Diction, Typo(s), and etc.
.
DLDR
.
Chapter 1 :
.
.
.
"P-perjodohan?" Sasuke tak dapat menyembunyikan keterkejutannya, pemuda berusia tujuh belas tahun tersebut menatap ibunya dengan pandangan bertanya dan hendak protes, namun Uchiha Mikoto berpura-pura cuek dan melanjutkan perkataan Mebuki dengan santai.
"Ya, kau dijodohkan dengan Sakura. Kau tak boleh menolak," ucap Mikoto dengan menekankan kata 'tak boleh menolak'.
"Tapi Ibu, kau tahu aku-"
"Yah, aku tahu kau sudah punya pacar. Tapi perjodohan ini mutlak, putuskan Ino dan bertunanganlah dengan Sakura. Jika kau menolak, maka kau dirocet dari pewaris keluarga Uchiha," ancam Mikoto. Sasuke mengepalkan tangannya, ia sungguh tak mengerti dengan pemikiran ibunya yang tiba-tiba saja langsung menjodohkannya dengan gadis asing yang baru ia temui tersebut. Dan … apa-apaan ancaman itu? Mana mungkin-
"Ibu serius." Mikoto berkata seakan-akan dapat membaca pikiran anaknya. Sasuke sekali lagi mengepalkan tangannya dan menggeretakkan giginya, pemuda tersebut menatap ayahnya, hendak meminta pertolongan pada ayahnya, namun sang ayah hanya menatapnya dengan tatapan 'Turuti perintah ibumu'. Sasuke akhirnya menatap gadis yang dijodohkannya itu dengan tatapan kesal, sedangkan Sakura hanya menatap pemuda berambut raven tersebut dengan tatapan kosong. Ditatap seperti itu, membuat Sasuke semakin geram. Gara-gara gadis bodoh itu, ia harus terjebak di dalam situasi membingungkan ini. Gara-gara gadis itu, ia terancam putus dengan Ino. Gara-gara gadis itu, ia terancam dicoret dari keluarga Uchiha. Dan gara-gara gadis itu, kehidupannya mulai berubah.
.
.
.
"Hey bodoh." Sasuke mendecih pelan seraya menatap kakaknya dengan tatapan sebal. Itachi hanya tersenyum maklum melihat adiknya, ia tahu bagaimana suasana hati Sasuke. Ia telah bertahun-tahun tinggal bersama Sasuke, dan telah mengetahui sifat adiknya itu jika moodnya sedang kacau. Itachi duduk di tepi ranjang Sasuke, sedangkan Sasuke tetap menampilkan raut wajah sebal dan mengalihkan pandangannya ke laptopnya.
"Aku tahu kau sedang kesal." Sasuke tak memedulikan Itachi yang mengoceh di sampingnya, pandangannya tetap fokus pada laptopnya. "Cobalah menerima kenyataan, lagipula Sakura itu cantik." Sasuke menutup laptopnya dengan keras, sehingga membuat suara yang cukup mengejutkan. Sasuke memandang kakaknya itu dengan tatapan dingin.
"Aku tidak rela memutuskan Ino demi gadis seperti Sakura." Itachi mengerutkan keningnya.
"Hey, itu kelewatan," ucap Itachi dengan nada menegur. Namun Sasuke tak memedulikannya dan tetap melanjutkan ucapannya,
"Kau lihat Sakura? Dia seperti mayat hidup. Dia pucat, kurus, dan suram, sangat berbeda dengan Ino yang penuh keceriaan." Itachi mendengus menahan tawa, perkataan Sasuke memang benar. Kali ini pemuda berumur dua puluh satu tahun itu tak dapat menyangkal perkataan adiknya, namun tetap saja, Sasuke kelewatan.
"Aku yakin kau tahu bahwa seorang gadis tak bisa dinilai melalui penampilan luarnya saja." Itachi tersenyum, Sasuke tetap dengan wajah sebalnya. "Aku yakin kau akan berubah pikiran." Itachi berkata seraya berdiri dari ranjang Sasuke. Sasuke tersenyum sinis, kemudian berkata dengan lantang,
"Jangan bermimpi." Setelah berkata seperti itu, Sasuke kembali menyalakan laptopnya, dan sepertinya Itachi juga sudah keluar dari kamarnya. Karena bosan, Sasuke akhirnya membuka jejaring sosial facebook, berharap dengan bermain facebook, dapat mengatasi rasa sebalnya. Dengan cepat, ia mengetikkan e-mail beserta kata sandinya. Berbagai pemberitahuan memenuhi akunnya, ia memang telah lama tak membuka akunnya. Namun Sasuke tak membaca pemberitahuan tersebut, ia hanya melihat-lihat berandanya dan menemukan status teman-temannya. Status Naruto, sahabatnya cukup menghiburnya. Namun lelaki tersebut lama-kelamaan mengerutkan keningnya, ia sudah bertahun-tahun memakai facebook namun ia tak pernah menulis status seperti yang dilakukan teman-temannya. Ia memang bukan tipe orang yang menuangkan perasaannya lewat status facebook, namun … sekali-kali boleh 'kan?
Dengan ragu, ia mulai mengetikkan kata di kolom 'Apa yang anda pikirkan?'. Setelah mengetik, ia kemudian mengklik kotak 'bagikan'. Setelah beberapa saat, status pertama sang Uchiha tersebut mulai muncul di berandanya sendiri. Ia menaikkan sebelah alisnya, sepertinya statusnya sama sekali tak menarik. Namun ia heran dengan pemberitahuan 'Xxxx dan 8 lainnya menyukai status anda', ada saja orang yang menyukai status seperti itu. Baru saja ia ingin logout, namun suatu pemberitahuan membuatnya membatalkan niatnya.
"Cherry mengomentari status anda." Sasuke membaca pemberitahuan tersebut dan kemudian membukanya.
Uchiha Sasuke
Cih.
2 menit yang lalu
Xxxx and 8 lainnya menyukai ini.
1 komentar
Cherry
Ada apa?
Sasuke mengerutkan keningnya kala melihat komentar nama asing tersebut. Ia kemudian mengetikkan 'Tidak ada apa-apa' pada kolom komentar. Ia kembali menunggu pemberitahuan, namun sepertinya pengguna bernama 'Cherry' tersebut tak akan mengomentari statusnya lagi. Ia hendak mengklik pilihan logout lagi, namun satu pesan kembali mencegatnya. Ia membaca pesan tersebut.
Cherry : Salam kenal :D
Sasuke kembali mengerutkan keningnya, ia sebenarnya tak ingin membalasnya, namun sepertinya tangannya bergerak sendiri di papan keyboard laptopnya.
Uchiha Sasuke : Hn. Salam kenal.
Cherry : Boleh kupanggil Sasuke saja?
Uchiha Sasuke : Hn.
Cherry : Hihi … kau dingin.
Tanpa sadar, Sasuke menyunggingkan senyumannya. Baru kali ini ada orang yang terang-terangan mengatakan sifatnya tersebut. Baru saja hendak membalasnya, namun ibu Sasuke memanggilnya dari bawah. Emosi Sasuke kembali naik saat mendengar panggilan ibunya. Dengan langkah berat, ia akhirnya keluar dari kamarnya dan menuruni tangga. Keluarga Haruno itu masih ada di rumahnya, dan kenyataan itu lah yang membuat Sasuke semakin kesal. Apalagi saat melihat wanita yang dijodohkannya itu menatapnya dengan tatapan yang sama seperti tadi.
"Kami mau pamit pulang," ucap Mebuki dengan ramah. Sasuke sebenarnya tak ingin merespon dan sangat ingin berkata 'Pulang saja! Jangan kembali lagi!', namun ia sungguh tak sopan jika mengatakan hal seperti itu, apalagi di depan pelototan mata ibunya. Akhirnya Sasuke hanya mengangguk pelan.
"Aku mau ke kamar mandi." Sasuke sedikit tersentak saat mendengar suara Sakura untuk pertama kalinya. Suaranya tak berbeda dengan wajahnya yang terlihat lemah.
"Sasuke, ayo antar Sakura ke kamar mandi." Sasuke nampak hendak protes, namun ini satu-satunya kesempatan untuk berbicara dengan Sakura. Ia akhirnya mengangguk dan mengantar Sakura ke kamar mandi. Setelah Sakura selesai dengan 'urusannya' di kamar mandi, Sakura mencuci tangannya di westafel, Sasuke memerhatikan gerak-geriknya wanita itu.
"Batalkan." Sakura menatap Sasuke yang membelakanginya melalui cermin westafel, wanita itu dapat melihat Sasuke menatapnya dengan tatapan dingin. "Batalkan perjodohan bodoh ini," lanjut Sasuke. Sakura menatap Sasuke sejenak, kemudian mengalihkan pandangannya ke tangannya yang sedang ia cuci. Merasa tak diperhatikan, membuat Sasuke semakin kesal. Sasuke memegang pundak Sakura dan memutar badan mungil di depannya dengan agak kasar.
"Dengarkan orang jika berbicara!" Sakura menunduk. Sasuke semakin kesal. "Hey-"
"Tidak…" lirih Sakura yang membuat Sasuke tertegun. "Aku tidak akan membatalkannya. Ini permintaan ibuku." Untuk pertama kalinya, Sasuke mendapat pandangan menantang dari Sakura. Manik virdian yang selalu memancarkan kekosongan tersebut mulai memancarkan pandangan menantang.
"Kita baru bertemu, kita tak saling mencintai. Aku yakin kita tak akan bertahan dengan situasi seperti ini." Sasuke menatap Sakura dengan pandangan sinis. "Aku tak pernah bermimpi akan dijodohkan dengan gadis sepertimu. Pacarku jauh lebih cantik darimu." Sakura terdiam sejenak, kemudian membalas,
"Aku juga tidak pernah bermimpi akan dijodohkan dengan pria sepertimu." Sakura melangkah melewati Sasuke, saat tepat berada di samping Sasuke, Sakura berbisik pelan, "namun aku tetap tak akan membatalkan perjodohan ini."
"Kau-" Sasuke menggeram kesal. "Cih, aku yakin aku tak akan mencintaimu."
"Tak apa." Sasuke terkejut mendengar perkataan Sakura. Sebenarnya apa yang dipikirkan gadis di depannya ini? Sasuke akhirnya hanya terdiam saat punggung rapuh Sakura perlahan-lahan menjauh dari pandangannya.
"Gadis bodoh," gumam Sasuke sebelum pemuda itu membalikkan badannya.
~~~0~~~
.
.
.
Sasuke baru sadar bahwa ia lupa mematikan facebooknya. Ia melihat percakapan singkatnya dengan pengguna bernama 'Cherry' tersebut, pengguna itu telah offline. Sasuke memutuskan untuk offline juga, kepalanya sungguh pening, apalagi setelah mendengar perkataan gadis bodoh tadi. Ia tak mengerti pemikiran gadis itu, bukankah seorang gadis pada umumnya menginginkan perasaan cinta dalam setiap hubungannya? Tapi kenapa gadis itu sungguh berbeda?
"Cih." Sasuke membaringkan tubuhnya di kasur dan menutup matanya dengan satu tangannya. Namun suara ketukan pintu membuatnya kembali membuka matanya dan beranjak untuk membuka pintu kamarnya.
"Kau sedang tidur?" Sasuke menggeleng kala menanggapi pertanyaan ibunya. Mikoto tersenyum, kemudian menyusul Sasuke yang sedang masuk kembali ke kamarnya. "Ibu tahu kau kesal." Sasuke menatap ibunya sejenak.
"Perkataan Ibu sama dengan Itachi," tutur Sasuke. Sang ibu kembali tersenyum lembut.
"Maafkan sikap ibu tadi. Ibu benar-benar tidak mau kau menolak perjodohan ini." Sasuke dengan refleks menoleh pada ibunya. "Tapi ancaman ibu serius."
"Kenapa kau menjodohkanku dengannya? Ibu tahu aku mencintai Ino. Ibu hanya akan menyiksaku." Mikoto menatap Sasuke dengan serius, Sasuke juga balik menatap ibunya dengan pandangan yang sama. Kedua onyx tersebut saling memandang dengan tatapan serius, sampai Mikoto kembali berkata.
"Ibu yakin kau akan melupakan Ino dan bahagia bersama Sakura."
"Itu tidak akan terjadi, aku meno-"
'Aku tidak akan membatalkan perjodohan ini. Ini permintaan ibuku…'
Sasuke teringat perkataan Sakura, entah mengapa perkataan Sakura tersebut membuatnya memutuskan kalimat penolakan tadi. Kali ini Uchiha bungsu tersebut menatap ibunya dengan pandangan lebih serius. "Jawab aku dengan jujur, Ibu…" Sasuke menjeda kalimatnya sejenak, kemudian melanjutkan, "apakah Sakura menderita sebuah penyakit berbahaya?"
Mikoto sedikit tersentak, kemudian wanita tersebut tersenyum maklum. "Memang sekali melihatnya, kita bisa menebaknya yah…" Sasuke mengerutkan keningnya, apa maksud perkataan ibunya? "Ibu juga sangat terkejut saat melihat kondisi fisik Sakura. Tubuhnya yang dulu sehat berubah menjadi serapuh ini…" lirih Mikoto. Sasuke hanya memandang ibunya dengan pandangan penasaran, walaupun ia sebenarnya tak peduli dengan Sakura, namun ia juga ingin mengetahui penyakit yang membuat Sakura seperti ini.
"Dia menderita penyakit kanker hati sejak dua tahun yang lalu." Meskipun sudah bisa menduga, namun Sasuke masih saja terkejut.
"Kanker hati? Dua tahun? Dia bisa bertahan hidup dengan kanker selama dua tahun?"
"Sakura mengikuti berbagai pengobatan secara teratur, sehigga sel kanker dalam dirinya tidak menyebar dengan cepat." Sasuke menunduk. Ia kini merasa kasihan dengan Sakura, namun tetap saja ia tak terima jika dijodohkan dengan gadis itu.
"Kalau begitu, ibu jahat." Mikoto memandang heran anaknya yang tiba-tiba mengeluarkan kalimat seperti itu. "Ibu tahu Sakura mempunyai penyakit berbahaya, dan ibu tetap mau menjodohkanku dengannya?!"
"Sasuke! Jaga ucapanmu!" bentak Mikoto yang terkejut mendengar penuturan putranya. Ia tak menyangka putra yang selalu ia banggakan tersebut akan mengeluarkan kalimat seperti tadi.
"Apakah ibu tak memikirkan perasaanku? Bagaimana kalau…" Sasuke menjeda kalimatnya, tampak ragu-ragu untuk melanjutkan kalimat tadi, namun dengan segenap keberanian, ia kembali berucap, "-bagaimana kalau aku benar-benar jatuh cinta padanya, dan penyakitnya semakin memburuk?!" Mikoto tertegun, kemudian wanita itu menampilkan raut wajah sedih.
"Kalau itu terjadi … temukanlah jawabannya sendiri, Sasuke." Setelah berkata demikian, Mikoto meninggalkan Sasuke dengan sejuta pertanyaan yang bergentayangan di pikiran pemuda tersebut.
.
.
.
TBC
Hai minnaaa :3
Aku datang dengan fic baruku special untuk ulang tahun kak Lauraaa :3
Maaf kalo ficnya gak sesuai harapan kak T.T Udah telat, ancur lagi #nangisgulingguling
Sekali lagi, maaf telat ya kak :'D hehehe…
Bingung mau ucapin apa, yang jelas berbagai pertanyaan bakal saya terima :D
Wanna give me any feedback? :3
.
Sign,
.
HanRiver
