"Bagaimana jika…"

.

Ai

.

Naruto © Masashi Kishimoto-san

.

Angst, Romance.

.

SasuxSaku

.

Bad diction, typo(s), Out of chara, and etc. DLDR :D

.

For kak Laura Pyordova a.k.a Biiancast Rodith Birhtday :"3

.

"-aku benar-benar jatuh cinta padanya dan penyakitnya semakin memburuk?!"

.

Happy Reading~

.

Chapter 2

Sasuke membuka matanya dengan perlahan. Pemuda tersebut melirik jam wekernya yang sudah berbunyi daritadi. Dengan gerakan malas, ia mematikan jam wekernya dan bangun dari tidurnya. Ia memegang kepalanya yang pening, kemarin banyak hal yang terjadi, yang membuat kepalanya pening akibat kebanyakan berpikir. Ingatan pemuda tersebut melayang-layang, otaknya kembali memutar kejadian kemarin. Perjodohan. Ia muak dengan kata-kata itu. Ia masih tak mengerti pemikiran orang tuanya dan pemikiran orang tua … ah, bahkan ia tak ingat nama gadis pucat tersebut.

Masa depannya sungguh berubah seratus delapan puluh derajat dari bayangannya. Ia berharap ia akan menikah dengan Ino, tapi sekarang apa? Perjodohan yang katanya mutlak itu merubah segala rencana-rencana yang Sasuke susun untuk masa depannya kelak. Lebih tepatnya, kedatangan gadis itulah yang menyebabkannya. Sasuke tak tahu siapa itu Sakura, ia bahkan tak mau tahu. Sungguh konyol jika ia harus menikah dengan gadis yang tidak ia ketahui asal-usulnya, bukan?

Sasuke mendengus sebelum beranjak dari ranjangnya. Ia meraih ponselnya yang tergeletak di meja dekat ranjangnya. Sasuke mengangkat sebelah alisnya saat ia melihat satu pesan masuk. Ia membukanya dan tersenyum melihat isi pesan tersebut.

I-n-o :

Ayo bangun! Dasar pemalas :p

Sasuke mengetikkan balasan untuk pacarnya, tiba-tiba saja pening di kepalanya hilang entah ke mana. Ah, benar-benar hanya Ino lah yang mampu membuatnya bahagia. Hanya Ino lah yang mampu membuatnya melupakan segala masalah dan keresahannya. Hanya Ino lah yang mengerti dirinya. Namun … Sasuke masih bimbang, haruskah ia memberitahu Ino soal perjodohan ini? Tapi, apa tanggapan Ino nanti? Sasuke tahu Ino baik. Ino baik kepada siapa saja tanpa memandang apapun. Ino memang seorang model, Sasuke tahu bahwa kebanyakan model itu bersifat sombong, tapi Ino berbeda. Ino baik hati, dan Sasuke takut jika Ino mengetahui tetang perjodohan ini, Ino akan memutuskannya demi gadis pucat itu, apalagi jika Ino mengetahui bahwa gadis pucat itu adalah gadis berpenyakitan.

Lelah berpikir, Sasuke pun memutuskan untuk mandi. Ia hanya berharap yang terbaik untuk masa depannya, dan lebih berharap bahwa perjodohan ini batal.

.

.

.

"Sasuke-kun, kau tahu? Aku sangat rindu padanya! Aku senang sekali ia telah kembali dari London. Astaga, aku sungguh senang! Aku ingin meledaaaak!" Sasuke tak memedulikan ocehan kekasihnya dan terus memandang ke depan. Merasa diacuhkan, membuat Ino menerucutkan bibirnya dan menampilkan raut wajah kesal. "Kau tak mendengarku yah? Huh!" Sasuke melirik Ino sejenak, kemudian tertawa pelan.

"Aku mendengarmu. Sahabatmu pulang dari London, dan kau ingin meledak." Ino semakin mengerucutkan bibirnya.

"Kau berkata seolah-olah aku benar-benar ingin meledak. Tapi sudahlah, yang penting aku sangat senang!" Sasuke memutar stir mobil untuk mengambil tempat parkir. Setelah mematikan mesin mobilnya, ia dan Ino turun dan melangkah bersama menuju kelas mereka. Pandangan iri tentu saja menghiasi koridor saat pasangan tersebut lewat, namun Sasuke dan Ino tampak tak memedulikannya.

"Sasuke-kun, kita pisah di sini yah! Aku mau ke ruang guru, mungkin sahabatku sudah ada di sana," pamit Ino dan disambut anggukan oleh Sasuke. Sepeninggal Ino, Sasuke memasuki kelasnya dengan langkah tenang. Ia duduk di bangkunya dan mengotak-atik ponselnya. Ia membuka situs facebook lagi, ia begitu malas membuka pemberitahuannya. Rasanya facebook masih membosankan di matanya. Namun lagi-lagi sebuah pesan mencegahnya untuk logout, ia membuka pesan tersebut dan ternyata dari orang bernama 'Cherry' lagi. Karena Sasuke merasa bosan dan kurang kerjaan, akhirnya Sasuke juga membalas obrolan gadis bernama 'Cherry' tersebut.

Cherry : Hai :D

Uchiha Sasuke : Hn.

Cherry : Masih ingat aku? :D

Uchiha Sasuke : Tentu saja.

Cherry : Sedang apa?

Uchiha Sasuke : Menunggu guru masuk.

Cherry : Souka~ :3

Uchiha Sasuke : Kau?

Cherry : Sedang mengurus sesuatu. Ah, maaf Uchiha-san, aku harus offline sekarang. Semoga kita bisa mengobrol di lain waktu :D

Sasuke baru saja membalasnya, namun seekor rubah jadi-jadian berambut pirang mengagetkannya dari belakang.

"Teme!" Sebuah rangkulan telak dirasakan Sasuke oleh pemuda tadi, membuat Sasuke mendecih pelan.

"Lepaskan aku, Dobe," perintahnya dingin. Naruto, pemuda tadi segera melepas pelukannya saat dirasakannya aura mengerikan yang menguar dari tubuh Sasuke. Kemudian pemuda berambut pirang tersebut memutar bangku yang berada di depan Sasuke dan mendudukinya.

"Kudengar kau dijodohkan." Sasuke langsung mendelik tajam pada Naruto. Ayolah … ia baru saja melupakan hal itu, dan kali ini ia teringat lagi dengan hal yang sangat ingin dilupakannya itu?

"Jangan membahasnya," tutur Sasuke tajam. Namun kali ini Naruto tak tinggal diam, ia balik menatap tajam Sasuke.

"Aku mendengarnya dari Itachi. Kenapa kau menolak?" Sasuke ingin tak menjawab, namun tatapan Naruto yang menuntut membuatnya membuka suara.

"Aku tidak mencintainya. Aku sudah punya Ino." Sasuke mengambil pulpen dan merocet-rocet bukunya secara tak jelas. "Aku juga tidak ingin dijodohkan dengan wanita berpenyakitan." Naruto terdiam, memandangi tangan Sasuke yang sedang merocet-rocet buku bagian belakangnya. "Kau memang bodoh, namun aku yakin kau tahu apa itu kanker."

Naruto baru saja ingin membalas perkataan Sasuke, namun Kakashi memasuki ruang kelas mereka, membuat Naruto akhirnya mau tak mau menghentikan pembicaraan dan kembali ke tempat duduknya.

"Kita kedatangan murid baru," ucap Kakashi ketika memasuki kelas mereka. "Ia pindahan dari London, silahkan masuk, Haruno Sakura-san." Sasuke serta Naruto seketika terperanjat kaget saat mendengar nama Sakura. Namun yang paling kaget adalah Sasuke, entah mengapa perkataan Ino tadi pagi menghantui pikirannya. Ino. Murid pindahan. London. Sahabat. Sebuah pertanyaan melayang-layang di kepalanya, dan pertanyaan itu terjawab dengan adanya sms Ino pada Sasuke.

I-n-o :

Sasuke-kun~ Sahabatku akan sekelas denganmu! Berkenalan lah dengannya!

Ting … Ting…

"Sasuke-kuuuun!" Sasuke menghampiri Ino yang memanggilnya dengan ceria dari arah kantin. Pemuda raven tersebut mendelik saat melihat Haruno Sakura duduk di depan Ino. Tanpa menyadari tatapan tajam Sasuke, Ino menarik lengan pemuda tersebut dan menariknya sehingga tepat di depan Sakura.

"Sakura, ini pacarku. Uchiha Sasuke. Sasuke, ini sahabatku, Sakura. Bertemanlah dengan baik!" Ino tersenyum lebar, Sasuke menampilkan wajah kecut, Sakura menatap Sasuke dengan datar.

"Yoroshiku Onegaishimasu, Uchiha Sasuke-san." Sakura sedikit membungkuk. Sasuke menatap tajam Sakura dan aktingnya yang memuakkan –menurut Sasuke- itu. Tatapan gadis itu masih sama, masih kosong. Dan entah mengapa Sasuke benci tatapan itu. Ia akui bahwa ia memang selalu menampilkan tatapan datar. Namun gadis ini kosong. Kosong dan datar berbeda, bukan?

"Ino -senpai, boleh kami mewawancarimu?" Sasuke memalingkan wajahnya dan menatap beberapa anggota klub Koran yang menghampiri mereka-atau tepatnya Ino. Ino tersenyum ramah pada para adik kelas mereka itu dan menghampiri mereka. Sepeninggal Ino, Sasuke dan Sakura terdiam. Hening melanda mereka berdua yang sedang sibuk dengan pikiran masing-masing.

"Aktingmu bagus juga." Oke, ini adalah kata-kata Uchiha Sasuke. Pertama kalinya sang Uchiha tersebut membuka pembicaraan dengan seseorang. Sakura menatap Sasuke dengan sedikit ekspresi terkejut, kemudian tersenyum kecil.

"Kau pikir itu akting?" Sasuke mengernyitkan alisnya heran. "Itu bukan akting. Kita memang belum melakukan perkenalan seperti itu, Sa-su-ke." Sasuke kembali menatap tajam Sakura. Padahal kalimat tadi bermaksud untuk memuji gadis itu.

"Terserah. Tapi jangan sampai perjodohan kita diketahui oleh murid sekolah ini." Sakura hanya terdiam mendengar perkataan Sasuke. "Apalagi Ino. Jangan sampai dia mengetahuinya." Sakura berdiri dan meninggalkan Sasuke tanpa sepatah kata pun, membuat Sasuke mendengus sebal. Sekali benci, tetap benci. Dan sekali menyebalkan, tetap menyebalkan. Itulah pendapat Sasuke sekarang, terlebih pada rekan 'perjodohan'-nya itu.

.

.

.

Cherry : Oh ya? Mereka menjodohkanmu?

Uchiha Sasuke : Hn.

Cherry : Ternyata masih ada 'program' seperti itu di zaman ini. Lol

Uchiha Sasuke : Jangan tertawa, itu tidak lucu. Kau tak tahu rasanya dijodohkan.

Cherry : Oke, aku tak akan tertawa lagi. Lalu apa alasanmu menolak?

Uchiha Sasuke : Aku tidak mencintainya. Lagipula, dia mempunyai penyakit mematikan.

Cherry : Jika dia tak berpenyakit, apa kau akan mencoba menerimanya?

Uchiha Sasuke menatap layar laptopnya dengan pandangan aneh kala membaca pertanyaan gadis bernama 'Cherry' tersebut. Entah mengapa ia memutuskan untuk bercerita kepada gadis itu tentang perjodohannya. Yah, ia sekarang tak punya tempat untuk bercerita. Naruto dan Itachi akan membela Sakura jika Sasuke mengutarakan keluh kesahnya. Akhirnya Cherry yang menyapanya di obrolan lah yang menjadi tempat curhatnya. Toh, Cherry hanyalah teman dumay-nya, kemungkinan mereka bertemu sangat kecil mengingat Jepang yang sangat luas. Tapi sekarang ia bingung menjawab pertanyaan gadis dumay itu. Tak pernah terlintas di pikirannya tentang Sakura tanpa penyakitnya. Apakah Sakura tanpa penyakit itu merupakan gadis yang periang? Sasuke mencoba membayangkan wajah Sakura yang berseri, namun sangat sulit untuk membayangkannya. Jika ia membayangkan Sakura, hanya seorang gadis rapuh, pucat, kurus lah yang terlintas di benaknya.

Uchiha Sasuke : Tapi aku tidak mencintainya. Aku sudah punya pacar yang lebih cantik darinya.

Cherry : Oh ya? Berarti kau hanya mengukur perempuan dari wajahnya? Jujur aku sebagai sesama wanita tersinggung mendengarnya.

Uchiha Sasuke : Maaf jika itu menyinggungmu.

Cherry : Tak apa. Baiklah, sekarang aku akan bertanya. Menurutmu, bagaimana gadis bernama Sakura itu secara fisik?

Uchiha Sasuke : Rapuh, pucat, kurus, tidak punya keinginan untuk hidup.

Cherry : Itu karena dia mempunyai penyakit. Jika ia tak punya, mungkin ia lebih cantik dari pacarmu itu.

Uchiha Sasuke : Tapi dia punya. Aku tak suka tatapannya, dia seperti ingin menghilang dari dunia ini.

Cherry : Bukan kah bagus jika ia menghilang?

Uchiha Sasuke : Bukan seperti itu. Aku hanya tak suka pada orang yang tak menghargai kehidupannya.

Cherry : Kenapa?

Uchiha Sasuke : Aku pernah mengalami kecelakaan maut. Aku bersyukur bisa hidup.

Cherry : Benarkah? Bagaimana bisa?

Sasuke baru saja hendak membalasnya, namun tulisan 'Cherry is offline' mengurungkan niatnya. Mungkin mereka bisa mengobrol lagi di lain waktu-pikirnya. Dan ia baru menyadari bahwa ia sudah terbilang cukup akrab dengan gadis bernama Cherry itu. Entah, namun ia pikir gadis itu menyenangkan dan mungkin dapat dijadikan tempat bersandar tentang masalah rumit yang sekarang dihadapinya. Yah, masalah ini sungguh rumit. Melibatkan perasaan, hidup, dan masa depannya.

.

.

.

Jepret! Jepret! Jepret!

"Bagus! Sedikit condongkan kepalamu."

JEPRET!

"Tegakkan pundakmu, Ino-chan."

Sasuke menatap Ino yang sedang melakuka pemotretan di depannya dengan pandangan bosan. Ia lelah menunggu. Biasanya ia sabar menanti Ino selesai, dan mengajaknya kencan setelah itu. Sekarang juga ia merencanakannya, namun-

"Kenapa kau bisa ada di sini sih?"-wanita itu lagi-lagi mengacaukannya. Sasuke menatap Sakura dengan pandangan sebal. Sakura memandang Sasuke dengan tatapan datar, membuat Sasuke melototkan matanya-berharap bahwa pelototannya itu dapat membuat Sakura menghilang dari tempat itu. "Cih, dilihat dari segi manapun, kau tetaplah seorang pengacau." Sakura memalingkan tatapannya kepada Ino.

"Berharap menjadi sepertinya, heh?" desis Sasuke merendahkan. Sakura mengernyitkan alisnya heran. "Bagaimana pun kau berusaha, kau tak akan bisa menjadi Ino."

"Aku tak ingin menjadi dirinya." Suara lembut tersebut terdengar di telinga Sasuke.

"Baguslah. Karena jika kau ingin, kau harus buang jauh-jauh keinginanmu itu."

"Ino wanita yang lembek." Sasuke sontak terkejut mendengar penuturan Sakura. Apa dia bilang barusan? Telinga Sasuke memanas saat Sakura mengucapkan kelemahan Ino. "Dia baik kepada siapa saja, itu kelemahannya."

"Kau menghinanya?" Nada suara Sasuke meninggi.

"Tidak, aku hanya mengatakan fakta." Cukup. Sasuke kali ini benar-benar marah.

"Kau seraya berkata bahwa kau tak punya kelemahan. Kau-"

"Aku punya banyak kelemahan, aku sadar akan hal itu." Sesaat, Sasuke dapat melihat ekspresi Sakura yang berubah sedih, pertama kalinya Sakura menunjukkan ekspresi tersebut di depannya. "Kelemahan yang bodoh…"

"Sasuke-kun! Sakura!" Dari jauh, Ino menghampiri mereka seraya melambaikan tangannya dan tersenyum riang. "Aku senang kalian datang!"

"Hm. Terimakasih sudah mengundangku ke pemotretanmu," ucap Sakura dengan suara khasnya.

"Hey, hey. Kenapa malah kau yang berterimakasih? Oh ya, aku sudah selesai. Ayo kita ke warung sebelah! Mereka baru buka, aku mau mencicipinya!" Ino langsung menarik tangan Sasuke dan Sakura untuk keluar dari ruang pemotretan. Sampai di warung yang Ino maksud, Ino segera memesan makanan untuk porsi tiga orang.

"Hey, hey. Kalian tadi bicara apa? Aku memandangnya dari jauh, sepertinya pembicaraan kalian cukup asyik," ujar Ino dengan cengiran. Sasuke memutar bola matanya. Apakah Ino buta? Pembicaraan tadi malahan sungguh tak asyik. "Hm. Baiklah kalau kalian tak mau membicarakannya. Hei, Sakura, kenapa kau terlihat sangat pucat sekarang?" Sakura segera mendongakkan kepalanya saat Ino bertanya. Dengan senyum simpul, Sakura menggeleng pelan.

"Hanya flu biasa." Sasuke mendelik mendengar dusta yang diucapkan Sakura. Ia tak habis pikir mengapa gadis itu berbohong kepada sahabatnya sendiri.

"Oh ya? Kau yakin tak apa-apa? Kau juga sangat kurus sekarang." Ino memandang Sakura dengan wajah khawatir, namun sekali lagi Sakura menggeleng.

"Selera makanku menurun," elak Sakura lagi.

"Kau tak boleh begitu, kondisi tubuhmu itu sangat penting!" Sasuke seperti obat nyamuk sekarang. Ino bahkan mengacuhkannya dan lebih banyak mengobrol dengan Sakura, tentu saja membuatnya bosan dan kesal di saat bersamaan.

"Maaf, aku ke toilet dulu." Sakura berdiri dan berjalan menuju toilet. Sasuke mengernyit dan segera menyusul Sakura.

"Aku juga." Ino yang cengo hanya dapat mengangguk-angguk ringan. Di jalan menuju toilet, Sasuke segera menarik tangan Sakura dan menatap wanita itu dengan tajam.

"Kenapa kau berbohong pada Ino?"

"…"

"Kenapa kau tak jujur saja padanya?" Sakura hanya terdiam dan berusaha melepaskan cengkraman tangan Sasuke.

"Lepaskan aku," ucap Sakura tajam. Sasuke tersentak kemudian segera melepas cengkramannya. "Ini bukan urusanmu, Sasuke-san." Sakura berucap dengan nada dingin.

"Ck. Dasar keras kepala. Dilihat dari segi manapun, aku tak akan pernah menyukaimu." Sasuke memandang Sakura tajam. "Jika kau tak ingin membatalkan perjodohan ini, maka aku sendiri yang akan melakukannya." Sakura tetap terdiam dengan wajah menunduk, membuat Sasuke tak dapat melihat ekspresi gadis itu yang tertutupi oleh ponny.

Sepersekian detik kemudian, Sakura tetap terdiam, tak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia akan membalas ucapan Sasuke, membuat Sasuke mendengus. "Sekarang aku tak membencimu, namun jika kau menggagalkan rencanaku, maka aku akan benar-benar membencimu. Kau mengerti?" Sakura tak menunjukkan gerak-gerik apapun. "Diam berarti iya." Setelah berkata demikian, Sasuke meninggalkan Sakura sendirian di koridor yang sepi itu.

"Dasar bodoh…" Sepeninggal Sasuke, Sakura berlirih pelan. Sangat pelan, dan tak ada yang dapat mendengar lirihan tersebut.

.

.

.

"Ah, Sakura, kau lama sekali." Sakura hanya memasang senyum saat Ino berucap padanya. Namun gadis itu mengambil tasnya.

"Maaf Ino, aku pulang duluan. Ibuku menelpon tadi," ucap Sakura dengan ekspresi bersalah. Ino mendengus kecewa, namun kemudian tersenyum maklum.

"Baiklah, semoga kita bisa makan bersama lagi di lain waktu." Sakura membungkuk pelan untuk pamit sebelum benar-benar meninggalkan Sasuke dan Ino.

"Ne, akhirnya kita berdua saja, Sasuke-kun." Sasuke mendongak menatap Ino dengan pandangan bertanya.

"Kau tidak suka?" Ino menggeleng.

"Tentu saja aku suka!" Sasuke tersenyum tipis. "Aku sudah mendengar perjodohanmu dari Itachi -nii."

"Uhuk!" Sasuke tesedak minumannya saat mendengar ucapan Ino. Ia melirik Ino yang sedang berwajah serius sekarang, sangat berbeda dengan ekspresi wanita itu beberapa menit yang lalu.

"Sasuke-kun … Apa tindakanmu selanjutnya?" Wajah Ino berubah sendu. "Apakah kau akan menerima perjodohan ini?"

"Ino-"

"Sasuke-kun, kau tak akan memutuskanku 'kan?"

"I-"

"Kau … akan memilihku 'kan? Katakan bahwa kau akan memilihku, Sasuke-kun!"

Sasuke tak berkutik, ia hanya mampu menatap sang kekasih yang menampilkan ekspresi menuntut padanya.

.

.

.

TBC

Telat yah? Hoho, maaf yah minna :'D saya lagi ulangan soalnya #lhateruskenapaupdate

Dan gomen pendek yah :3 hehehe… #kicked

Makasih yah yang udah review :* Maaf gak bisa bales atu-atu :3 #sokimut

Oke, wanna give me any feedback? Pembaca yang baik selalu meninggalkan jejak :3 fufufu

Sign,

HanRiver