"Sasuke-kun, kau tidak akan memutuskanku 'kan?"
.
Ai
.
Naruto © Masashi Kishimoto-sensei
.
Romance, Angst.
.
Birthday fic for kak Laura a.k.a Biiancast Rodith
.
Typo(s), bad diction, out of character, and etc.
.
Don't like, don't read.
.
"-katakan kalau kau akan memilihku, Sasuke-kun!"
.
Chapter 3
.
.
.
Terlihat mudah, namun sebenarnya sungguh susah…
Uchiha Sasuke menatap beranda facebook-nya dengan tatapan datar. Ah, pas sekali. Ia menemukan status yang sangat pas dengan keadaannya saat ini. Ia melihat si pemilik status, lagi-lagi gadis bernama 'Cherry' itulah yang menjadi pusat perhatiannya jika membuka jejaring sosial ini. Terlihat mudah, bahkan saking mudahnya sampai ia kesulitan untuk mengatakannya.
Ingatannya kembali melayang pada situasi tiga jam yang lalu, di mana ia dan Ino duduk berhadapan di warung tadi. Ia tak menyangka gadis yang telah menjadi kekasihnya selama tiga bulan itu akan bertingkah jauh dari sifatnya selama ini. Sikap Ino tadi sungguh egois, tapi Sasuke cukup senang saat menyadari bahwa keegoisan Ino terjadi karena gadis itu tak rela kehilangannya. Namun, entah karena apa, Sasuke sama sekali tak berkutik. Ia sama sekali tak menjawab pertanyaan kekasihnya. Hanya terdiam seraya mengatakan 'Ayo kita pulang,' kepada Ino yang menatapnya dengan tatapan tak percaya. Bukankah sungguh mudah mengatakan 'Aku pasti akan memilihmu!' atau 'Aku tak akan meninggalkanmu!' kan? Tapi mengapa lidahnya begitu kelu untuk hanya sekedar mengucapkan kalimat tersebut?
Tok! Tok!
"Masuklah." Sasuke menghela nafas saat melihat sosok dibalik pintu. Itachi. Kenapa kakaknya itu harus datang di saat seperti ini?
"Sedang apa?" tanya Itachi basa-basi. Namun Sasuke mengacuhkannya dan tetap fokus pada laptopnya. "Facebook, heh?" ejek Itachi.
"Sebaiknya kau keluar jika hanya ingin menggangguku," desis Sasuke sadis. Itachi tersenyum maklum, ia tahu bahwa mood adiknya memburuk saat ini.
"Sudah dengar kabar dari ibu?" Sasuke melirik pelan kepada Itachi yang masih tersenyum padanya. "Tunanganmu dan Sakura akan dilaksanakan seminggu lagi."
Braak!
Itachi sedikit terkejut saat Sasuke melempar laptopnya dan mengenai dinding kamarnya. "Lagi-lagi tanpa persetujuanku!" Itachi dapat melihat rahang Sasuke yang mengeras. "Batalkan perjodohan ini!"
"Sasuke-" Itachi tak pernah melihat Sasuke semarah ini. Onyx Sasuke mengilat, menandakan bahwa pemiliknya sangat marah.
"Aku tidak pernah menyetujui perjodohan ini! Sungguh memuakkan!" amuk pemuda raven tersebut.
"Sasuke, tahan emosimu! Bibi Mebuki dan Paman Kizashi ada di bawah!" Sasuke segera tersadar, ia perlahan kembali menduduki kasur king size-nya dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Sial, dia kehilangan kendali saat ini.
"Kenapa kau harus memberitahu Ino tentang ini?" lirih Sasuke pelan. Itachi ikut duduk di samping adiknya dan menatap adiknya dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Maafkan aku, Sasuke. Aku harus melakukannya," jawab Itachi dengan pandangan bersalah. "Sebelum terlambat, Ino harus mengetahui yang sebenarnya." Sasuke menggerling tajam. Kebebasannya sungguh terengguh dengan perjodohan bodoh ini. Bukannya dia ingin membantah perintah ibu dan ayahnya, ia rela melakukan apa saja demi orang tuanya, tapi tidak untuk kebutuhan masa depannya. Tidak untuk hidup yang akan dijalaninya ke depan nanti. Tidak untuk masalah jodoh.
"Seharusnya kau mendukungku, Itachi. Cih, kau tak ada gunanya sebagai seorang kakak."
"Ew, itu pedih, Sasuke. Tapi maaf, aku ada di kubu ayah dan ibu saat ini." Sudahlah, kepala Sasuke sungguh pusing saat ini. Dan tambah pusing lagi saat mengetahui kakaknya tak membelanya walau secui pun. "Ada apa, Sasuke?" Itachi sedikit khawatir saat melihat wajah adiknya yang menahan sakit di kepalanya.
"Entahlah, aku sangat pusing."
"Pusing? Kau harus ke dokter, Sasuke." Sasuke memutar bola matanya.
"Ini pusing karena memikirkan hal-hal memuakkan yang menimpaku belakangan ini," ucapnya dengan nada malas.
"Kau yakin? Kau yakin itu bukan efek kecelakaanmu beberapa tahun yang lalu?" Sasuke tersentak. Kecelakaan beberapa tahun yang lalau? Mana mungkin dampaknya masih terasa sekarang ini 'kan? Pemuda berumur tujuh belas tahun tersebut mendengus menahan tawa.
"Tidak mungkin. Kecelakaan tujuh tahun yang lalu itu tidak akan berdampak padaku sekarang." Ya, kecelakaan itu sudah sangat lama. Mana mungkin sekarang efeknya muncul, bukan?
"Kecelakaan itu berdampak banyak dan dampaknya berlaku hingga sekarang. Contohnya adalah wajahmu, wajahmu yang dulu tidak seperti ini. Wajah adikku tujuh tahun yang lalu sangat ceria, sekarang bagaikan seekor kutu yang selalu tersenyum kecut."
"Sialan." Sasuke memukul Itachi menggunakan bantalnya, sedangkan Itachi hanya tertawa lepas.
"Tapi aku bersungguh-sungguh, Sasuke. Wajahmu dulu tak sesuram ini."
"Sebaiknya kau keluar dari kamarku!" usir Sasuke secara paksa. Itachi hanya bisa menahan tawa seraya melangkahkan kaki keluar kamar. Kakaknya itu sungguh menyebalkan. Tapi sebenarnya, Sasuke tertawa geli dalam hati, walau menyebalkan, Sasuke akui bahwa sifat Itachi yang seperti itu sedikit menghiburnya saat ini.
"Sasuke, turunlah ke bawah. Paman Kizashi, Sakura, dan Bibi Mebuki akan pulang." Mikoto mengetuk kamar Sasuke. Dengan helaan nafas dan wajah pasrah, akhirnya Sasuke turun ke bawah. Lagi-lagi pandangannya tertuju ke arah Sakura yang juga memandangnya dengan tatapan kosong.
"Sasuke, pertunanganmu dan Sakura akan dilaksanakan minggu depan."
'Ugh, kenapa kalimat itu harus diulang lagi?' batin Sasuke berteriak di dalam hati.
"Tidak bisa kah aku menolak?" Mikoto, Fugaku, Kizashi, Mebuki, serta Itachi memandang Sasuke dengan wajah terkejut.
"Nak Sasuke, apa maksudmu?" tanya Mebuki masih dengan wajah terkejutnya.
"A-ahahaha! Sasuke harus mengikuti ulangan tengah semester minggu depan! Maka dari itu, dia harus fokus belajar." Itachi tertawa canggung seraya memukul-mukul pundak Sasuke.
"Ooohh … kalau soal itu, tidak usah dipikirkan. Aku sudah memberitahu guru-guru di sekolahmu." WHAT?!
"A-apa? Aku tidak ingin jika para murid tahu tentang perjodohan memuak-aw!"
"Hahahaha! Itu benar Bibi, Sasuke malu jika seluruh teman-temannya mengetahui perjodohannya." Tanpa Kizashi dan Mebuki ketahui, bahwa Itachi sekarang tengah menginjak kaki Sasuke dengan keras.
"Tenang saja, hanya para guru yang tahu." Mebuki terkikik geli. Tapi bagi Sasuke, itu tidak lucu. Awas saja jika ada salah satu guru yang berani menyebarkan berita ini pada para murid di sekolahnya.
"Baiklah, kami rasa cukup pembicaraan kali ini." Kizashi berdiri, diikuti Sakura dan Mebuki. "Kami pulang dulu." Setelah berucap demikian, Kizashi, Mebuki serta Sakura keluar dan masuk ke dalam mobil mereka. Tak lama kemudian, mobil tersebut menancapkan gasnya dan keluar dari halaman rumah Sasuke. Setelah itu, Sasuke membalikkan dirinya dengan wajah geram.
"Kenapa kalian tak memberitahuku terlebih dahulu?!" amuknya.
"Maaf Sasuke, pertunangan ini mendadak, hihi…"
"Tapi aku tidak pernah berkata bahwa aku menye-"
Grep!
"Hahaha! Ada hal penting yang harus aku katakan padamu, Sasuke. Ini soal pria, haha!" Itachi menyeret paksa Sasuke yang mencoba melepaskan diri dari Itachi.
"K-kau m-menceki-kku!" Itachi menyeret Sasuke ke kamarnya.
"Bodoh! Kau mau dicoret dari keluarga Uchiha, heh?!" Itachi menjitak kepala Sasuke setelah sampai di kamarnya.
"Tapi aku tak mau mengikuti alur kehidupan yang seperti ini!" Itachi menghela nafas.
"Dewasa lah sedikit, Sasuke. Kau sudah tujuh belas tahun." Sasuke mendengus kesal, ia sungguh tidak tahan lagi!
"Cih!" Akhirnya hanya decihan lah yang mampu ia keluarkan. Percuma saja berbicara pada kakaknya yang sama sekali tak mendukungnya.
.
.
.
Cherry : Benarkah? Pertunanganmu minggu depan? Omedetou…
Uchiha Sasuke : Ini bukan waktuya untuk bercanda.
Cherry : Aku tidak bercanda ._.
Uchiha Sasuke : Kau tahu kalau aku tidak menginginkan perjodohan ini.
Cherry : M-maaf…
Uchiha Sasuke : Hn. Sudahlah.
Cherry : Kau marah?
Uchiha Sasuke : Tidak. Menurutmu, apa yang harus kulakukan untuk membatalkannya?
Cherry : Hmm … bicara lah pada orang tuamu.
Uchiha Sasuke : Percuma saja. Mereka hanya akan memarahiku.
Cherry : Kalau begitu, bicara saja pada Sakura.
Uchiha Sasuke : Tidak akan. Gadis itu sama sekali tidak bisa diajak kompromi.
Cherry : Hihi, kalau begitu, tinggal berdoa saja semoga pertunangannya batal =D
Uchiha Sasuke : Hn.
Cherry : Ne, aku sudah mengantuk. Oyasuminasai
Sasuke menghela nafas pasrah. Sepertinya memang tidak ada hal yang bisa ia lakukan untuk membatalkan perjodohan ini. Ataukah … ia kabur saja?
Tidak. Sasuke cepat-cepat menggelengkan kepalanya untuk memusnahkan ide bodoh itu. Kabur hanya akan membuat namanya benar-benar dicoret dari keluarga Uchiha. Bukan hanya dicoret, namun namanya tidak akan lagi disebut-sebut oleh keluarganya. Menyeramkan.
Drrt … drrt…
Sasuke melirik ponselnya dan membuka pesan yang ternyata dari Ino. Tulisan 'Kau belum tidur?' kini terlihat jelas pada layar ponsel Sasuke. Tiba-tiba, sekelebat rasa bersalah ia rasakan pada Ino. Seharusnya ia langsung saja menjawab pertanyaan Ino saat itu. Sasuke mengetik kata 'Belum' dan mengirimkannya ke Ino. Ia menunggu balasan dari gadis itu, namun selama beberapa menit ke depan sama sekali tak ada balasan dari gadis beriris aquamarine tersebut.
'Mungkin dia sudah tidur,' pikir Sasuke. Saat telah dipastikan bahwa tak akan ada balasan lagi dari Ino, pemuda itu pun tertidur.
.
.
.
"Periksa ke dokter!" Sasuke terheran dicampur kaget saat ibunya mendobrak pintu kamarnya dan langsung melontarkan tiga kata tadi. Ia bahkan tak tahu maksud kedatangan ibunya di kamarnya ini, akhirnya ia hanya bisa memasang wajah tak elit. Kepala Itachi muncul di belakang ibunya, dan Sasuke tahu siapa biang keroknya. Apapun masalah yang saat ini dihadapinya, asal mulanya pasti karena kakak super menyebalkannya itu.
"Periksa?" Sasuke mengangkat sebelah alisnya. Ia menatap wajah ibunya yang saat ini menunjukkan wajah panik.
"Itachi memberitahuku bahwa kau sering sakit kepala. Periksa lah ke dokter, Sasuke!" Sasuke memutar bola matanya. Dugaannya benar, pasti karena Itachi.
"Aku tidak apa-apa, aku hanya pusing memikirkan pertunangan ini." Mikoto menggeleng-gelengkan kepalanya, seraya mengatakan bahwa ia tidak terima dengan alasan Sasuke itu.
"Ibu tidak mau tahu. Pokoknya kau harus ke dokter sekarang!" Sasuke tak dapat berkutik saat ibunya meninggikan nada suaranya satu oktaf. "Sasuke, ibu sangat khawatir padamu. Kau tahu sendiri bahwa tujuh tahun yang lalu…" Mikoto memotong perkataannya, sedangkan Sasuke hanya menghela nafas pasrah.
"Baiklah, Itachi akan mengantarku ke dokter."
"Ibu akan ikut! Itachi, siapkan mobil!"
"Ya, ya…"
Sasuke hanya dapat sweatdrop saat melihat kecemasan ibunya. Menurutnya, kecemasan Mikoto sudah berlebihan. Ia yakin dirinya hanya sakit kepala biasa. Lagipula, kecelakaan yang dialaminya sudah tujuh tahun. Dan kalau memang ada dampaknya, mengapa harus muncul sekarang?
.
Butuh waktu lima belas menit untuk sampai ke rumah sakit. Sasuke melirik gedung putih dengan tulisan 'Rumah Sakit Konoha' tersebut sembari menghela nafas. Benar-benar kelewatan, hanya karena keluhan sakit kepala, maka ia dibawa ke rumah sakit nomor satu di kawasannya?
"Ayo masuk," perintah ibunya. Sasuke dan Itachi mengangguk. Sebelum masuk, Sasuke menyempatkan diri untuk melihat ambulance yang baru saja datang ke rumah sakit itu. Sasuke sedikit menyipitkan matanya saat melihat orang yang sepertinya ia kenal tersebut.
"Bibi … Mebuki?" Mikoto yang mendengar gumaman Sasuke segera mendekati Sasuke dan melihat ke arah pandangan anaknya itu. Matanya membulat saat melihat sahabatnya.
"Mebuki!" Mikoto berlari memanggil Mebuki, diikuti Sasuke dan Itachi di belakangnya. Mebuki menolehkan kepalanya dengan wajah cemas dan menatap Mikoto, Sasuke, dan Itachi. "Ada apa?" tanya Mikoto ikut khawatir saat melihat tampang sahabatnya yang pucat itu.
"Sakura…" Mebuki menetralkan nafasnya yang terengah-engah sejenak, kemudian kembali berbicara. "Sakura pingsan!" Pada saat itu juga, Mikoto ikut panik dan menyusul Sakura yang telah dibawa oleh beberapa suster ke dalam rumah sakit. Meninggalkan Sasuke dan Itachi yang menatap mereka dengan masing-masing ekspresi.
"Ayo kita susul ibu!" ajak Itachi yang akhirnya tersadar akan apa yang terjadi.
"Apakah … ibu benar-benar serius menjodohkanku dengan orang itu?"
"Tentu saja, Bodoh!"
"Tapi … kau lihat sendiri 'kan? Dia…" Itachi memukul punggung Sasuke.
"Kita bicarakan itu nanti, sekarang, ayo kita susul ibu!" Dengan langkah berat, akhirnya Sasuke juga ikut berlari menyusul Itachi, Mikoto, Mebuki, dan Sakura yang terbaring lemah di tandu dorong rumah sakit.
"Dokter! Kumohon selamatkan anakku!" Sasuke dapat melihat Mebuki bermohon dengan berlinang air mata di depan dokter yang hanya dapat terdiam. Tanpa memedulikan Mebuki yang terus memohon, ia memasuki ruangan tempat Sakura berada. Sasuke dapat melihat berbagai peralatan rumah sakit dipasang di tubuh gadis berambut pink tersebut.
"Mebuki, apa yang terjadi dengan Sakura?" tanya Mikoto yang menampakkan wajah khawatir.
"Entahlah, saat aku masuk ke kamarnya, dia sudah tergeletak di lantai kamarnya dengan darah yang keluar dari hidungnya. Mikoto … aku sangat khawatir dengannya…" Mikoto mengelus-elus pundak sahabatnya itu, mencoba menenangkannya.
"Tidakkah kau merasa dirimu jahat?" Sasuke mengerutkan keningnya saat Itachi tiba-tiba berbisik padanya. "Lihat Sakura. Dia selalu seperti ini, masuk rumah sakit, koma, dan seterusnya. Dan kau malah menghinanya? Kau pikir dia menginginkan semua ini?"
"Apa maksudmu?" Itachi menatap Sasuke dengan pandangan serius, Sasuke sedikit terkejut saat kakaknya memandangnya dengan tatapan seserius itu.
"Tidakkah kau merasa kasihan padanya?" Sasuke tertegun. Ia … sebenarnya memang merasa kasihan pada Sakura. Tapi … haruskah ia menerima perjodohan itu berdasarkan rasa kasihan? Sasuke tidak ingin seperti itu. Dia tidak mencintai Sakura. Dia tidak ingin menerima semuanya hanya karena rasa kasihan. Sasuke hanya perlu kebahagiaan tanpa paksaan. Apa itu salah?
.
"Dengan terpaksa, pertunangan kalian ditunda." Sasuke sama sekali tidak terkejut. Ia sudah tahu hal ini akan terjadi karena Sakura yang tak kunjung sadar sejak seminggu yang lalu. Justru ia akan sangat terkejut saat pertunangan ini tidak ditunda.
Sasuke menahan untuk tidak menyunggingkan senyumnya di depan Mikoto, Fugaku, Mebuki, dan Kizashi. Ia harus menahan kebahagiaannya sampai ia masuk ke kamar pribadinya. Onyx-nya ia gulirkan pada kakaknya yang hanya menatapnya dalam diam tanpa mengucapkan sepatah kata pun daritadi. Sasuke sebenarnya sangat tidak mengerti, mengapa Itachi tampak sangat menyayangi Sakura? Apakah Itachi dan Sakura sudah saling mengenal sedari dulu sebelum Sasuke dijodohkan dengannya?
"Kalau begitu, aku dan istriku pamit pulang dulu." Sasuke mengangguk sopan. Ia sangat ingin cepat-cepat kembali ke kamarnya, suasana di ruang tamu ini begitu kaku, tak sama dengan suasana ceria seperti dulu. Ya, Sasuke mengakui bahwa Mebuki dan Kizashi tampak lesu, biasanya Sasuke dapat mendengar gelak tawa paman Kizashi dari kamarnya, dan Sasuke tahu bahwa suasana di ruang tamunya waktu itu ceria walau ada Sakura di sana.
Sasuke kembali ke kamarnya dan melirik ponselnya. Dua puluh panggilan tak terjawab, dan semuanya berasal dari Ino. Saat hendak menelpon Ino, Ino lebih dulu menelponnya. Dengan cepat, Sasuke menindis tombol hijau di ponselnya dan berbicara pada kekasihnya itu.
'Sasuke-kun! Kau dari mana saja? Kau tidak mengangkat telponku dari tadi!' Sasuke memutar bola matanya. Ia tak ingin kemarahan Ino menghancurkan mood-nya yang sedang bagus saat ini.
"Aku tidak mendengar ponselku berbunyi." Sasuke memberi alasan, ia hanya berharap Ino dapat memahaminya.
'Huh! Aku khawatir, tahu! Kau tidak menghubungiku seharian ini!' Sasuke tersenyum tipis. Ada-ada saja.
"Maaf, aku sangat sibuk hari ini." Sasuke berharap bahwa alasannya kali ini diterima oleh Ino.
'Humm … baiklah, baiklah. Eh, aku tutup dulu, Sasuke-kun. Manajerku menelponku. Bye bye sayang~' Sasuke tak dapat membalas ucapan Ino karena gadis itu telah menutup sambungan telponnya dengan cepat. Sasuke hanya menghela nafas. Sikap baik Ino yang sekarang ini tambah membuatnya tak ingin melepas gadis itu begitu saja.
Dengan gerakan berat, Sasuke membuka laptopnya dan membuka situs facebook lagi. Ia melirik obrolannya, gadis yang bernama Cherry itu tak online seharian ini. Sasuke mengotak-atik facebook-nya, ia mengganti foto profilnya menggunakan foto lambang keluarganya, kemudian men-stalk facebook Naruto. Status-status Naruto tak ada yang menarik, bahkan membuatnya bosan. Ia melirik obrolannya lagi, entah mengapa ia merindukan Cherry.
"Hah? Sungguh konyol, haha…" Sasuke bergumam pada dirinya sendiri. Ia akui dirinya sangat konyol, merindukan gadis yang bahkan ia tak ketahui identitasnya itu? Pfftt … ia sangat ingin tertawa terbahak-bahak saat menyadari kekonyolannya.
Tapi hatinya tidak dapat menepis kerinduannya. Hanya Cherry-lah tempatnya mencurahkan segala hatinya. Dan hanya Cherry-lah yang memaklumi kesusahannya. Bukan keluarganya, dan bukan Ino…
Entahlah, tapi tanpa kehadiran Cherry satu hari ini, membuatnya…
…kesepian?
.
.
.
To be Continued
Silahkan hajar saya ==" #dihajarbeneran
Plotnya hancur, berbagai plot melayang di kepala sayaaa Dx
Tolong hajar saya supaya pikiran saya tenaaaanggg Dx #nak
Btw maaf telat update .-. huhuhuuuuu tugas-tugas RL memonopoli waktu sayaa Dx #nangisdipelukantetsu
Dan … makasih buat yang review di chap kemarin Lop you aaallllll :3
Wanna give me any feedback again? :3
.
Sign,
.
HanRiver
