Ai

.

Naruto © Masashi Kishimoto-sensei

.

Romance, Angst.

.

Birthday fic for kak Laura a.k.a Biiancast Rodith

.

Typo(s), bad diction, out of character, and etc.

.

Don't like, don't read.

.

Chapter 4

"Sasuke-kun!"

Uchiha Sasuke menoleh ke belakangnya dan mendapati kekasihnya berlarian ke arahnya dengan senyuman, seperti biasanya. Gadis bersurai kuning pucat tersebut berhenti di depan Sasuke dan semakin menyunggingkan senyumnya seraya berkata, "ayo kita masuk."

Mereka berjalan di koridor sekolah dengan santai, Sasuke terlihat santai, namun sebenarnya pikiran pemuda itu berputar cepat. Ada apa gerangan dengan Ino? Wanita itu bersikap seolah-olah tak ada apa-apa di antara mereka berdua. Bukan berarti Sasuke berharap Ino akan marah padanya, namun tetap saja ia penasaran apa yang terjadi. Atau … apakah Ino sudah tahu bahwa Sakura sakit?

"Eh, Sakura di mana yah? Aku mengirimnya pesan sejak kemarin, tapi dia tidak pernah membalasnya." Ah, sebaiknya Sasuke melupakan pikirannya tadi saat mendengar pertanyaan Ino. Pertanyaan itu mewakili jawaban oleh pertanyaan Sasuke sendiri.

Menghela napas pelan, akhirnya Sasuke menjawab dengan suara pelan, "entahlah." Ia sebenarnya tidak ingin berbohong pada Ino. Tapi sepertinya Sakura punya rencana lain, sehingga gadis berpenyakitan itu tidak memberitahukan yang sebenarnya pada Ino. Kembali ke asumsi awal, Ino itu baik. Kebaikannya pasti akan membuat gadis itu memutuskan Sasuke jika tahu bahwa sahabatnya sedang sakit, apalagi sakit yang diderita Sakura bukanlah penyakit yang bisa hilang dalam sekejab mata.

"-kun? Sasuke-kun!" Sasuke tersentak pelan. Ia menoleh pada Ino dengan tatapan bertanya, sedangkan Ino mengerucutkan bibirnya. "Uh, jadi dari tadi kau tidak mendengarkanku yah? Aku bilang, nanti kelasku dan kelasmu akan bertemu di ruang seni!" Ino terpaksa harus mengulangi ucapannya tadi, Sasuke hanya terdiam seraya mengangguk. Sebenarnya pikirannya berkecamuk saat ini.

"Ino-" Sasuke menghentikan langkah Ino dengan menggenggam tangan wanita itu. Ia menatap wanita itu dengan serius, Ino membalas tatapan Sasuke dengan tatapan bertanya.

"Ng?"

"-sebenarnya, aku hanya penasaran dengan sikapmu sekarang. Kau bersikap … seolah-olah tak ada yang terjadi kemarin." Wajah Ino berubah menjadi serius, wanita itu cukup lama terdiam, sebelum akhirnya ia tersenyum simpul.

"Lalu? Kau mau aku bersikap apa?" Gadis itu melipat kedua tangannya di depan dadanya. "Kau mau aku marah padamu, dan memutuskan hubungan kita?"

"Bukan seperti itu!" jawab Sasuke cepat dengan nada suara yang meninggi. "Aku hanya heran, itu saja."

Ino terkikik geli. "Aku hanya mencoba untuk menjadi diriku yang biasanya. Aku tidak bisa marah padamu, atau pun marah pada Sakura. Aku hanya dapat mempertahankan hubungan kita yang seperti ini." Ino memberi jeda sejenak dan tersenyum kecut, kemudian melanjutkan perkataannya, "walau aku tidak tahu bagaimana akhirnya nanti, tapi kenapa kita tidak menjalani kehidupan sekarang sebelum memikirkan apa yang terjadi nanti? Tapi bukan berarti aku tidak berharap bahwa kau bisa membatalkannya."

Sasuke masih terdiam. Jadi maksud Ino, bergantung pada takdir kah? Tapi sungguh, ia tidak bisa terhindar dari perasaan resah. "Aku akan mencari cara untuk membatalkan perjodohan ini."

"Baguslah. Lebih bagus kalau kau membatalkannya secepatnya. Aku tidak ingin menjadi munafik dengan mengatakan 'aku baik-baik saja' sedangkan itu bukan keinginanku dan keinginanmu." Sedetik kemudian, Ino memandang kekasihnya yang telah beberapa bulan bersamanya dengan tatapan serius.

"-kecuali, keinginanmu berubah." Sasuke mengernyitkan alisnya.

"Keinginanku berubah?" Ino mengangguk.

"Tidak menutup kemungkinan bahwa kau akan menyukai Sakura atau pun sebaliknya." Sasuke mematung. Hah? Yang benar saja. Menyukai Sakura? Tidak mungkin Sasuke akan seresah ini jika pemuda itu menyukai tunangannya. Ia rasa tidak ada hal dari diri Sakura yang bisa membuatnya jatuh cinta. Sepertinya Ino perlu menarik kata-katanya kembali.

"Tidak mungkin. Aku memang tidak membencinya, tapi aku juga tidak menyukainya." Sasuke menghela napas, sepertinya ia harus menyudahi pembicaraan memuakkan ini. "Sudahlah, ayo kita ke kelas. Sampai jumpa di ruang seni."

.

.

.

Ah, Sasuke baru menyadari bahwa Ino menelponnya semalam. Artinya gadis itu bertingkah biasa saja sejak semalam. Tapi sepertinya tidak ada gunanya memikirkan hal itu sekarang. Yang ia harus pikirkan bagaimana cara membatalkan pertunangannya.

Karena dilanda stress berlebihan lagi, akhirnya Sasuke memutuskan untuk membuka aplikasi yang selalu dikunjunginya akhir-akhir ini. Facebook. Sasuke melirik obrolan, sepertinya gadis bernama Cherry itu belum aktif. Status yang Cherry bagikan juga tidak ada yang baru, mungkin gadis itu tidak online sejak kemarin. Sama saja dengan Sakura yang belum juga siuman sejak kemarin.

-sebentar. Pergerakan Sasuke terhenti. Sakura dan Cherry? Sama-sama tidak memunculkan dirinya sejak kemarin? Walau kemungkinannya sangat kecil namun-

-ah, tidak-tidak. Mana mungkin Cherry adalah Sakura. Sakura pasti tidak mempunyai waktu untuk bermain di dunia maya, sedangkan kehidupannya di dunia nyata sangat tidak beres. Walau terkesan jahat, namun kenyataannya memang demikian. Cherry adalah pribadi yang menyenangkan, sedangkan Sakura adalah pribadi yang membosankan.

Drrtt … drrrtt …

Klik!

"Ha-"

'Sasuke-kun!' Sasuke sedikit menjauhkan ponselnya dari telinganya saat suara ibunya yang nyaring hampir merusak gendang telinganya. 'Di mana kau sekarang?' tanya wanita paruh baya itu dari seberang sana. Suaranya tampak girang, -ah, sepertinya Sasuke tahu penyebabnya.

"Aku baru saja pulang sekolah, ada ap-"

'Sakura telah sadar!' Ha. Ha. Ha. Tebakan Sasuke benar seratus persen. Namun bukannya senang, berita itu malah membuat wajah Sasuke ditekuk oleh sang pemilik. 'Ibu ingin kau ke sini sekarang juga!' Huh, menyusahkan.

"Baiklah." Bukannya Sasuke ingin ke sana, namun percuma menolak jika nada suara ibunya seceria ini. Sebelum melangkahkan kakinya, Sasuke menyempatkan diri dengan memutar bola matanya, pertanda tidak ikhlas.

.

"Kau mau makan?" Sakura menatap Sasuke dengan pandangan datar, kemudian menggeleng pelan. Ugh, Sasuke benar-benar ingin menghilang dari sini. Sebenarnya di mana ibu, ayah, paman Kizashi, bibi Mebuki, dan terlebih, kakak super duper menyebalkannya itu saat ini? Sejak tadi ia hanya bersama Sakura, dan sepertinya Sasuke terkesan amat jahat jika ia meninggalkan Sakura sendirian. Bagaimana kalau ada hal yang terjadi? Sasuke pasti akan disalahkan karena meninggalkannya.

Tapi tetap saja, ia kaku jika berdua dengan Sakura seperti ini. Sasuke mau menceramahi Sakura lagi, tapi sepertinya wanita itu tidak akan mendengarnya.

Drrtt … drrtt …

Sasuke meraih ponselnya dari sakunya, itu adalah pesan Naruto yang meminta Sasuke meminjamkannya pekerjaan rumah besok. Tidak penting untuk dibalas. Sasuke melirik ke arah Sakura, sepertinya gadis itu menatap ponselnya dengan penuh minat. Heh?

"Ada apa?" tanya Sasuke. Sakura segera mengalihkan pandangannya dan menggeleng pelan. "Hei, ada apa? Kau mau melihat ini?" Sasuke mengacungkan ponselnya. Wajah Sakura merona dan mengangguk.

"Jangan bilang kau tidak pernah melihat smartphone!" Wajah Sakura semakin merona. Sedangkan Sasuke menepuk jidatnya sendiri. Oh Tuhan, sebenarnya dari planet mana gadis itu berasal?

"Sini kuajarkan." Sasuke agak mendekat pada Sakura yang sedang terduduk di ranjang rumah sakit. "Kalau disentuh dan digeser, kuncinya akan terbuka." Sasuke menjelaskan. Sakura mengangguk-angguk.

"Woo … sugoi …" Sakura menatap dengan penuh takjub. "Apakah menyenangkan saat memakainya?"

Sasuke mendengus menahan tawa. Astaga, bisa-bisanya ia menyamakan Cherry dengan gadis seperti Sakura. "Tentu saja, setidaknya dapat menghilangkan rasa bosan," jawab Sasuke santai. "Kau harus membelinya juga, supaya hidupmu tidak membosankan. Setidaknya ada hal yang dapat menemanimu."

Sakura mengangguk dengan senyum tipis. "Aku akan memintanya pada ayah!"

"Kau seperti anak kecil saja." Sasuke mendengus. Namun kemudian pemuda itu terkekeh pelan. "Aku baru melihat ekspresimu yang seperti itu." Perkataan Sasuke membuat Sakura memalingkan wajahnya.

"Kau-"

"-kampungan?" Sasuke sedikit terkejut saat Sakura melanjutkan ucapannya.

"Bukan seperti itu, Bodoh." Oh ayolah, Sasuke tak sejahat itu. "Aku hanya ingin bilang bahwa kau seharusnya mengakrabkan diri dengan dunia luar." Sakura menunduk saat mendengar perkataan Sasuke.

"A-aku … selalu ingin mencoba untuk bersosialisasi, tapi aku tidak terbiasa dengan itu semua." Sakura berucap dengan nada malu-malu. "Hanya Ino teman yang aku punya, karena hanya dia yang terus menemaniku walau aku selalu tak menghiraukannya. Tapi, lama-lama aku bisa menjadi temannya." Sasuke mendengar dengan seksama. Yah, memang sulit bagi orang seperti Sakura untuk bergaul dengan sesamanya. Selain wataknya yang mungkin memang pemalu, ditambah lagi dengan sakit yang dideritanya, mungkin membuatnya sungkan untuk berteman dengan orang lain.

"Aku tidak tahu harus bilang apa padamu." Sasuke menghela napas. "Tapi, seharusnya kau yang lebih terbuka pada orang lain. Bukannya aku ingin mencampuri urusanmu, tapi menyimpan masalah sendiri itu tidak baik." Sakura hanya terdiam seraya menunduk, sampai sebuah ketukan di kamar Sakura membuatnya mendongak.

"Yo~" Dan muncullah Itachi dibalik pintu. Pemuda itu melangkah masuk dan sempat terheran saat melihat jarak Sasuke dan Sakura yang tak sedekat biasanya. "Woo … apa yang terjadi pada kalian berdua? Tumben tidak saling menjauhi." Sasuke tersentak dan segera berdiri dari kursi yang dari tadi ia duduki. Itachi hanya mendengus melihat gerak-gerik adiknya.

"Bagaimana kabarmu, Sakura?" Itachi melemparkan senyum lembut pada Sakura, membuat Sasuke berpikir, 'kenapa bukan Itachi saja yang dijodohkan dengannya?'

"Itachi-nii-saaaan." Eh? Sasuke yang salah lihat, atau Sakura yang benar-benar sedang tersenyum manja?

"Aku membawakanmu makanan, kau lapar kan?" Sakura mengangguk. Sasuke mengumpat dalam hati. Tadi kan dia juga sempat bertanya, dan Sakura menjawab 'Tidak', kenapa saat Itachi yang bertanya, dia malah mengangguk?

Bukan berarti dia cemburu. Tidak, silahkan tepis pikiran konyol itu. Punya perasaan terhadap Sakura secuil pun tidak, apalagi merasakan perasaan cemburu saat melihat kedekatan gadis itu dengan Itachi. Tapi ia tidak ingin dianggap jahat oleh gadis itu. Ah, sudahlah. Lupakan.

"Sakura, apakah adikku yang goblok itu membuatmu terluka? Dia tidak melakukan apa-apa padamu 'kan?" Sasuke mendelik kesal seraya mendegus.

"Memangnya aku terlihat sudah melakukan sesuatu yang mencurigakan? Satu-satunya yang mencurigakan adalah wajah jelekmu itu, Baka Aniki."

"Hei, berani-beraninya kau menyebutku bodoh! Asal kau tahu saja, kakakmu yang tampan ini dulu adalah orang yang memegang peringkat satu umum di sekolah yang kau tempati sekarang!"

"Hah? Mana mungkin, kau-"

"-hihihi." Sasuke dan Itachi serempak menoleh pada Sakura yang tampak terkikik geli. Saat menyadari bahwa dirinya dipandang, Sakura berhenti terkikik dan menunduk malu. Entahlah, namun perilaku seperti itu membuatnya terlihat manis di mata Sasuke.

"Ada apa Sakura? Kalau kau ingin tertawa, tertawa saja! Jangan pedulikan Sasuke, walaupun wajahnya seperti preman kampungan, tapi sebenarnya dia baik kok." Sasuke melototkan matanya.

"Kenapa kau menyindir dirimu sendiri?" Itachi tertawa renyah.

Drrtt … drrtt …

Sasuke meraih ponselnya. Ino is calling. Ah, ada apa lagi dengan pacarnya itu?

"Halo?"

'Sasuke-kun!'

"Ino? Ada apa?" Itachi dan Sakura serempak memandang Sasuke yang tampak berbicara pada Ino melalui telpon.

'Aku ada pemotretan sebentar sore, katanya pemotretan itu sangat penting, karena merupakan seleksi untuk dijadikan sebuah lukisan yang akan dilukis oleh pelukis terkenal. Boleh kau mengantarku?' Sasuke terdiam, kemudian mengangguk, walau Ino tak dapat melihat anggukan pemuda itu.

"Ten-"

Sret!

"Maaf Ino, Sasuke ada acara keluarga sebentar sore, dia sedang sibuk. Maaf." Sasuke melototkan matanya pada Itachi yang tiba-tiba merebut ponselnya dengan gesit.

"Itachi! Apa-"

"Sudah kumatikan." Itachi tersenyum licik. "Maaf Sasuke, tapi hari ini adalah hari di mana Sakura siuman. Kau tidak boleh ke mana-mana." Sasuke mematung, sungguh dia tidak tahu harus berkata atau melakukan apa pada kakaknya itu.

"K-kau … arrghh! Sudahlah! Berikan ponselku!" Sasuke mengulurkan tangannya, namun Itachi menggelengkan kepalanya.

"Tidak. Berjanjilah kau tidak akan menghubungi Ino hari ini." Sasuke mendecak, kakaknya benar-benar menyebalkan.

"Aku janji!" ucapnya seraya memutar bola matanya. Itachi tersenyum puas dan menyerahkan ponsel itu pada Sasuke yang menatapnya sinis.

"Sekarang, kita harus membawa Sakura berjalan-jalan di taman rumah sakit!" Sasuke melongo.

"Ini kan siang hari! Kau gila!"

"Memang. Tapi langit sedang mendung. Hohoho." Sasuke menatap Itachi dengan tatapan aneh. Apakah sebenarnya kakaknya itu sedang kesurupan akhir-akhir ini?

.

"Indah sekaliiii." Sakura memandang takjub pada bunga-bunga yang berjejer cantik di taman rumah sakit. Entah apakah hanya perasaan Sasuke saja, atau gadis itu memang lebih ceria setelah siuman?

Pemuda itu hanya dapat menghela napas sebelum memutuskan untuk mencari tempat duduk. Kakinya sudah pegal berkeliling taman. Seraya duduk, ia mengutak-atik ponselnya dan membuka aplikasi facebook lagi. Ia melirik obrolan, tampaknya Cherry masih belum nampak. Sebenarnya ke mana gadis bernama Cherry itu? Kenapa dia menghilang begitu saja?

"Sakura! Lihat kumbang ini!" Dari kejauhan, Sasuke dapat melihat Itachi mendekat pada Sakura dengan seekor kumbang yang entah dari mana ia dapatkan. Sakura memandang kumbang itu dengan penuh takjub dan tersenyum senang. Ah, benar juga. Sasuke baru sadar, bahwa tadi adalah percakapan 'normal' pertamanya dengan Sakura. Juga pertama kali ia melihat Sakura yang berekspresi lain dari biasanya. Baru kali ini Sasuke mengetahui bahwa Sakura itu manis.

Sasuke memang mengakui hal itu, tapi bukan berarti ia jatuh cinta padanya. Camkan itu.

"Kenapa ibu dan ayah tidak menjodohkan Itachi dengan Sakura saja yah?" gumam Sasuke. Karena nampaknya Sakura lebih menyukai Itachi ketimbang dirinya. Dan hidup Sasuke juga akan lebih sejahtera. Bukankah itu lebih baik? Itachi juga tampak sangat menyayangi Sakura, walau sejauh ini Sasuke hanya dapat merasakan kasih sayang yang Itachi berikan adalah kasih sayang seorang kakak kepada adiknya. Tapi, bukankah itu cukup dibanding dia yang tidak mempunyai perasaan kasih sayang sama sekali kepada Sakura?

Huh, sudahlah. Sepertinya Tuhan memberikan cobaan padanya.

.

.

.

Cherry : Haiiiiiiiii

Sasuke mengerutkan keningnya, namun bibir tipisnya membentuk sebuah senyuman. Akhirnya gadis itu muncul juga. Walau tak mengenalnya di dunia nyata, namun Sasuke mengakui bahwa orang yang dekat padanya adalah keluarganya, Ino, Naruto, dan kemudian Cherry. Malah Cherry lebih bagus dijadikan tempat curhat daripada Naruto yang sepertinya kurang paham dengan masalah Sasuke.

Uchiha Sasuke : Hn. Kau ke mana saja? Kenapa tidak muncul kemarin?

Cherry : Kenapa? Kau merindukanku?

Uchiha Sasuke : Jangan berharap lebih.

Cherry : Hihihi … aku sibuk dengan tugas sekolah. Bagaimana dengan masalahmu itu? Apakah sudah beres?

Uchiha Sasuke : Belum. Apakah kau punya saran bagaimana cara membatalkan pertunangan ini?

Sasuke menunggu balasan dari gadis itu. Tapi sepertinya gadis itu mengetik lama sekali, tulisan 'Cherry is writing' sudah berlalu kira-kira selama dua menit. Memangnya Cherry mau mengirimkan pidato padanya? Kenapa dia mengetik sangat lama?

Cherry : Kau lucu.

Hah? Sasuke menaikkan sebelah alisnya. Sangat tidak nyambung!

Uchiha Sasuke : Aku meminta saran -_-

Cherry : Hihihi … gomen. Kenapa kau tidak kawin lari bersama Ino?

Uchiha Sasuke : Dan aku akan dikutuk seumur hidup oleh keluargaku.

Cherry : Lol

Uchiha Sasuke : Tertawa saja kau sepuasanya.

Cherry : Begini, Uchiha Sasuke-kun. Mungkin itu adalah takdirmu. Mungkin, Sakura benar-benar jodohmu.

Uchiha Sasuke : Insting Uchiha-ku mengatakan tidak.

Cherry : -_-

Uchiha Sasuke : Kenapa? Kau meremehkan insting Uchiha?

Cherry : Heh, kalau instingmu memang benar-benar hebat, coba tebak ciri-ciri fisikku!

Uchiha Sasuke : Hmm … pendek? Wajah berseri-seri?

Cherry : Lol

Sasuke baru saja hendak membalasnya, namun saat membaca tulisan 'Cherry is offline', dia mengurungkan niatnya. Hah, dasar. Walau tak memberikan saran yang hebat, tapi setidaknya Cherry dapat menemaninya saat ini. Pasti akan menyenangkan bila bertemu Cherry di dunia nyata.

-eh?

Benar juga. Kenapa dia tidak berpikir sampai ke situ?

"Benar juga. Kenapa aku … tidak mencoba untuk saling bertemu dengannya …" Sasuke melirik nama Cherry pada riwayat obrolannya dan tersenyum simpul.

"… di dunia nyata?"

.

.

.

To be Continued

Holaa~

Lama update? Ancur. Hehe, aku udah nebak kok #sembunyi

Ah, biasanya aku update fic ini barengan sama Konoha Gakuen no Akuma, tapi sepertinya ideku di fict itu sedang tersebar ke mana-mana. Jadi maaf bagi pembaca fic itu yah :D

Maaf juga bagi pembaca fic ini karena telat update xD Maafin yah, mau puasa lho xD #han

Oh ya, terakhir.

Wanna give me any feedback?

Review akan sangat beharga bagi para author Itu membantu motivasi kami untuk kelajutan fic :3 #inijujurlho

.

Sign,

.

HanRiver