Udah berapa lama ini fic saya gantungin? :"D akhirakhir ini diriku sibuk ngurusin sama tampil di event samasibukmainlinesamacowokjepangberkacamatadanberwajahlucu, kebawa stress sampe fic ini ga kepikiran buat dilanjut, tapi sekarang akhirnya punya waktu :") btw aku seneng banget baca review kalian yang suka sama konsep yang aku pake di fic ini, yokatta desu :3 tapi ketimbang fic yang plotnya aku rencanain dengan mateng (The Diary), kok malah ini yang kayaknya, kesannya, lebih disuka dari yang itu ya? Dochiramo ouenshitekudasai :"D

Btw, untuk yang gasengaja baca ini benerbener setelah saya publish fictnya, gomen, saya belom koreksi, saya belom kasih jeda per-adegan :( udah diedit sih..

Yaudah, kita mulai saja~


.

Disclaimer: Naruto © Kishimoto Masashi

.

Warning: AU, OOC, typo berceceran, yaaa gitu deh.

.

Omae wa Idol?!

Chapter 2: Emblem

© nadilicious

.


Sasuke dan Sakura kini saling berpandangan. Tepatnya, Sasuke masih syok berat karena teman sekelasnya ternyata memang seseorang yang diidolakannya sejak dulu, Sakura yang ia mulai idolakan saat menonton penampilannya dari luar sebuah mall, Sakura yang selama ini nama keluarganya tidak pernah diketahui. Sementara Sakura kebingungan karena Sasuke menatapnya seperti ia sedang melihat sesuatu yang begitu mengerikan.

Tanpa Sakura sadari, Sasuke pun perlahan mengambil ponselnya dari dalam kantong celana seragamnya, membuka aplikasi kamera, dan...

Cklik!

"Dapat!" kata Sasuke, saat berhasil mengambil gambar Sakura yang masih menggunakan seragam sekolah. Akhirnya, ia memecahkan rekor sebagai orang pertama yang berhasil membongkar identitas pribadi Sakura.

"Hah!?" Sakura terkejut karena ia baru sadar bahwa Sasuke mengambil gambar dirinya, masih dengan seragam sekolah, "Hapus gambar itu!"

Sakura kini berusaha meraih ponsel Sasuke untuk menghapus bukti identitas pribadinya. Dengan posisinya yang menimpa Sasuke saat ini memudahkannya untuk meraih ponsel milik penggemarnya itu. Ia tinggal merangkak sedikit, lalu ponsel Sasuke akan berhasil ia dapatkan.

Namun, Sasuke berpikir cepat. Saat Sakura hendak merangkak naik untuk meraih tangannya, Sasuke memencet tombol kunci pada ponselnya yang dilindungi oleh kata sandi, lalu ia lempar ponselnya ke arah lain, tentunya agak pelan, karena Sasuke tidak ingin ponselnya tergores. Masih merasa akan menang dalam sesi rebut-merebut yang kedua, Sakura dengan pede merangkak menjauhi badan Sasuke dan mengarah ke ponsel tersebut. Namun, Sasuke adalah seorang laki-laki yang dikenal sebagai siswa paling atletis di Konoha Kouritsu Koutou Gakkou. Sasuke langsung berdiri, lalu berlari ke arah dimana ponselnya berada sambil mendorong punggung Sakura ke bawah, sehingga siswi itu terjatuh, menempel dengan tanah, dan Sasuke berhasil lebih dulu mendapatkan ponselnya.

"Ugh!" Sakura merasa kesal, karena selama ini, upayanya untuk menyembunyikan identitas aslinya digagalkan oleh teman sekelasnya sendiri.

"Ternyata... kau adalah Sakura yang sangat terkenal itu, ya?" Sasuke menyeringai, kini mempercayai bahwa si Haruno Sakura yang pendiam di kelas 1-B adalah Sakura yang periang dan lincah di atas panggung.

"Tidak akan ada yang bisa menebak dimana aku bersekolah, jadi mengambil gambar itu adalah hal yang tidak berguna!" kata Sakura, kini dalam posisi duduk, pede bahwa para penggemarnya akan menganggap bahwa itu adalah sebuah foto teaser untuk pemotretan majalah atau photobook-nya.

"Oh ya?" Sasuke menyeringai, "kau tidak lihat ini?"

Sasuke menunjukkan hasil gambar yang ia ambil saat Sakura masih menduduki badannya. Terlihat di belakang Sakura, adalah bagian luar dari lantai dua sekolah yang terdapat lambang dan nama sekolah menghiasi dinding itu, serta lambang sekolah yang terjahit dan terlihat dengan jelas dari jas seragamnya.

"Kau!" Sakura langsung berdiri, lalu menunjuk ke arah Sasuke, "hapus gambar itu!"

"Tidak mau," Sasuke menjawab Sakura dengan cepat, "bahkan aku berpikir untuk mengunggah gambar ini dan menuliskan bagaimana tingkah lakumu di sekolah."

"Jangan..." Sakura langsung panik mendengar apa yang akan dilakukan Sasuke dengan gambar dirinya, "tolong jangan lakukan itu."

"Memangnya kenapa?" tanya Sasuke, tidak mengerti kenapa Sakura begitu bersikeras menginginkan Sasuke menghapus gambar itu dan sangat menginginkan identitas pribadinya dirahasiakan.

"Sebuah alasan yang kau tidak akan mengerti," kata Sakura lirih, "tolong jangan lakukan itu, kumohon, hapus gambar itu."

"Tapi dengan syarat," kata Sasuke, saat mendengar permintaan penghapusan gambar dirinya. Sakura memasang wajah kebingungan.

"Di sekolah ini, kau masuk dalam tiga besar dalam peringkat siswa dengan prestasi terhebat di angkatan kita, bukan?" kata Sasuke, mengingat bahwa dengan identitas samarannya, tidak ada yang mengetahui bahwa selama di sekolah, idol yang satu ini sangat serius tentang pelajaran dan selalu mendapat nilai yang bagus dan dibanggakan oleh para guru.

"Memangnya kenapa?" Sakura menganggap hal itu dengan enteng, namun perasaannya tidak enak.

"Kalau begitu... kerjakan semua PR-ku."

"HEEEEEE!?" Sakura terkejut mendengar permintaan dari Sasuke yang begitu konyol.

"Kenapa? Kau mau aku mengunggah gambar ini?" Sasuke kembali mengancam.

"B-Bukan itu!" kata Sakura, "namun, kau tau kan, sekarang, bahwa aku ini adalah seorang idol? Aku tidak mempunyai banyak waktu!" kata Sakura, berusaha mencari alasan supaya Sasuke mau mengganti syaratnya menjadi sedikit lebih waras.

"Aku tau, aku sadar," Sakura merasa sedikit lega saat mendengar jawaban dari Sasuke.

"Tapi aku tidak akan mengubah permintaanku."

"Apa!?" Sakura terkejut lagi. Dengan alasan yang ia keluarkan, siswa ini tetap tidak mengubah syaratnya?

"Kau gila!" Sakura berteriak kepada Sasuke.

"Memang," jawab Sasuke sambil terkekeh-kekeh, "aku sangat gila, bahkan aku bisa mengunggah gambar ini sekarang juga dari ponselku."

"Jangan, kumohon..." kata Sakura lirih.

"Ikuti saja persyaratanku dan aku benar-benar tidak akan mengunggah gambar ini kemanapun," kata Sasuke dengan wajah serius.

Sakura mendengus kesal, namun ia memutuskan untuk percaya saat melihat wajah Sasuke yang begitu serius saat mengatakan janjinya. "Baiklah..."

"Nah," Sasuke tersenyum tipis, "aku akan tetap membeli CD dan DVD-mu, serta menonton acara TV yang mengundangmu sebagai bintang tamu untuk menambah rating, kok."

"Sial..." umpat Sakura.

"Ini," Sasuke membuka tasnya dan memberikan buku tulis matematika miliknya kepada Sakura.

"Hah!?" Sakura menerima buku itu, tetapi ia terkejut karen Sasuke langsung memberikan buku tulisnya kepadanya.

"Mulai hari ini, jika kau tidak mau aku mengunggah foto ini hari ini juga, kerjakan PR matematika yang diberikan Asuma-sensei tadi," kata Sasuke, sambil menunjukkan foto Sakura yang ia ambil sekali lagi kepada siswi sekaligus idol itu.

"Hmph!" Sakura mengambil buku itu dengan sedikit kasar dari tangan Sasuke sambil menggembungkan pipinya.

"Sifatmu masih terlihat sama," kata Sasuke, "masih melakukan hal-hal yang menggemaskan. Kuharap, itu bukan karakter buatan."

"B-Bukan!" Sakura merasa sedikit marah karena perkataan Sasuke, seolah-olah karakternya diciptakan hanya untuk menarin fans.

"Ya sudah," Sasuke pun memasukkan ponselnya ke dalam kantong celana seragamnya, lalu berbalik badan, "aku berjanji tidak akan menyebarkan gambar ini kepada siapapun."

"Benarkah?" Sakura menaruh sedikit harapan kepada Sasuke akan janji yang baru saja diucapkannya.

"Benar," Sasuke menoleh ke aran Sakura dengan senyuman tipisnya, lalu berbalik dan berjalan keluar sekolah.

'Kalau begitu...' Sakura menatap pada buku tulis Sasuke, 'aku juga harus menepati janjiku.'


"Ah, Sasuke," panggil wanita berambut hitam dan panjang, melihat ke sebuah piring yang agak kotor namun tidak menyisakan sedikitpun makanan.

"Hn?" Sasuke menghentikan langkahnya saat menaiki tangga dan menoleh kepada wanita itu, ibunya, Uchiha Mikoto.

"Tumben sekali kau menghabiskan makananmu, biasanya kau selalu menyisakan sedikit, apa kau sedang bahagia?" tanya Mikoto kepada putra bungsunya itu.

Mungkin, terhadap keluarganya, Sasuke tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Betapa senangnya ia menjadi orang satu-satunya yang berhasil membongkar kehidupan pribadi seseorang yang ia idolakan sejak dulu, dan tidak ada orang lain yang bisa tau selain dirinya dan mungkin beberapa guru tertentu di sekolah, serta para karyawan, termasuk manajer yang bekerja dibawah agensinya. Ia ragu jika teman sekelasnya, Hokuto, dan ketua kelasnya, Neji, orang-orang yang sering berinteraksi dengan Sakura, tau akan status Sakura sebagai seorang idol.

"Aku suka kare, dan aku akan selalu menghabiskannya jika itu kare," Sasuke mengeluarkan alasannya. Biasanya, ia selalu meninggalkan sisa nasi setelah ia makan, namun kali ini, kare, nasi, beserta sayuran dan daging yang dimasak bersama dengan karenya habis dilahap olehnya.

"Biasanya kau akan selalu menyisakan nasi di pinggir piring, kecuali jika kau sedang bahagia, lauk sampai nasinya pasti akan habis," bahkan Mikoto pun hafal dengan kelakuan putra bungsunya ini, walaupun kejadian Sasuke sedang merasa bahagia jarang terjadi dalam setahun.

"Aku suka kare," kata Sasuke, sedikit jengkel, lalu lanjut berjalan ke kamarnya yang ada di lantai dua.

Sasuke pun masuk ke dalam kamarnya. Walaupun berasal dari keluarga yang berkecukupan, Sasuke menata kamarnya dengan sangat sederhana. Ia tidak menempelkan satupun poster di dinding kamarnya. Poster-poster ia biarkan tergulung dan tertata di sebuah tong yang mirip dengan tong sampah, namun desainnya lebih elegan.

Sasuke mencabut external hard disk dari belakang televisinya, mengambil laptop-nya, duduk di atas kasur, bersandar pada kepala tempat tidur menggunakan bantalnya, memangku laptop-nya di pahanya, dan menyalakannya. Televisinya dalam keadaan menyala, langsung siap di saluran televisi yang akan menampilkan Sakura dalam salah satu acaranya.

Sasuke membuka data-data hasil merekam acara televisinya kemarin. Eksperimennya berhasil. Ia menonton satu persatu acara televisi itu. Pertama, ia menonton sebuah game show. Sakura terlihat sangat ceria, sangat humoris, dan menikmati waktu syuting. Sepanjang acara itu, yang dibawakan oleh grup idol yang beranggotakan lima lelaki tampan, Sakura terkadang menjadi bahan bercandaan, yaitu Sakura direbutkan oleh kelima lelaki itu dan teman-teman yang berada di satu tim dengan Sakura berusaha melindungi Sakura.

"Sakura-chan, bagaimana denganmu?" tanya seorang co-MC yang memperhatikan dari dalam ruang kontrol seperti supporter sepak bola.

"Aku tidak begitu percaya diri dengan hal-hal yang berkaitan dengan sepak bola..." kata Sakura, sambil sedikit memaksakan senyumnya dan menatap ke arah bola besar yang ada di depannya.

"Tidak apa-apa! Sakura-chan pasti bisa!" kelima anggota idol group laki-laki sebagai tuan rumah dan pembawa acara utama game show ini menyemangati Sakura yang merupakan anggota tim musuhnya. Sakura tertawa geli karena tingkah laku kelima pria itu. Laki-laki memang sudah biasanya bersikap seperti ini kepada perempuan yang mereka anggap menarik. Sasuke menonton bagian ini dengan seringai kecil.

"Sakura-chan," sang co-MC memanggil Sakura lagi.

"Hai?" Sakura menjawab panggilan itu sambil sedikit menghadap ke langit-langit studio.

"Diantara kelima anggota Semper Fi's, kami dengar bahwa kau memiliki hubungan yang dekat dengan Yagura-kun."

"Eeeeh~" seisi penonton dan anggota Semper Fi's lainnya terkejut dengan ini, begitu juga dengan Sasuke, namun ia hanya menaikkan alis mata sebelah kirinya.

"Jika saat kami mencocokan jadwal dan kami sama-sama memiliki waktu luang di hari dan jam yang sama, biasanya kami pergi makan bersama," kata Sakura, sambil menghadap ke para penonton dan anggota Semper Fi's.

"Dan kau tidak mengajak kami?" tanya salah satu anggota Semper Fi's, Sumaru, berambut hitam pendek, seakan-akan rambutnya itu mengitari kepalanya dan berbola mata merah maroon, menepuk bahu anggotanya yang bernama Yagura, berambut coklat muda pucat dan berbola mata pink.

"Aku tidak tahu apa-apa..." jawab Yagura polos, disambut oleh tawa dari penonton dan para peserta game show tersebut.

Seusai menonton acara itu, Sasuke menonton video lainnya, yaitu penampilan Sakura dalam sebuah acara musik bergengsi dan paling terkenal sangat efektif untuk mempromosikan artis, idola, band, atau musisi; Ongaku Studio, disingkat menjadi Osuta. Acara musik yang disiarkan secara langsung dan paling ditunggu, setiap hari Jumat, jam tujuh malam, di channel Shinobi Terebi atau singkatnya Shitere, dengan dua pembawa acara, lelaki yang sebenarnya juga berprofesi sebagai pelawak dan perempuan penyiar berita di stasiun TV yang sama, mengundang enam sampai tujuh bintang tamu untuk bercakap-cakap sedikit, menjawab pertanyaan dari penggemar, lalu tampil membawakan lagu mereka. Bintang tamu yang dapat tampil di acara ini diyakini memang berasal dari agensi yang terkenal, sudah senior dalam bidangnya, atau namanya sudah terkenal dan memiliki jumlah fans yang begitu banyak bahkan dari sebelum mereka secara resmi turun ke dunia hiburan atau debut.

Padahal, besok hari Sabtu, namun Sasuke terlalu lama menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang lain sampai jam enam sore, dimana ia harus mandi, lalu makan malam pada jam tujuh, setelah itu ayahnya, Uchiha Fugaku, membuka sesi diskusi setelah makan malam yang berlangsung sampai jam setengah sembilan. Untung saja, ia menaruh jadwal untuk merekam acara ini, takut jika ia tidak sempat menonton langsung pada jam tujuh karena ada sesuatu.

Sasuke pun mempercepat video ini sampai berhenti pada bagian dimana giliran Sakura untuk sesi mengobrol sebelum tampil.

"Ada satu pertanyaan, nama samaran pengirimnya adalah Mochi dari negara Oto," kata sang pembawa acara perempuan, Yurika.

"Aku memiliki masalah dengan bangun tepat waktu setiap pagi, akibatnya, aku hampir selalu kesiangan jika berangkat ke sekolah. Apakah Sakura-chan memiliki solusi untuk ini?"

Sakura pun mengangguk, lalu menjawab, "Aku juga masih sekolah, tapi untungnya aku akan selalu bangun saat jam wekerku berbunyi... mungkin, selain jam weker, kau bisa meminta anggota keluargamu untuk membangunkanmu di jam tertentu," Sakura menjawab dengan tenang. Memang, Sakura sangat cepat terbiasa berada di depan kamera. Tidak merasa gugup sekalipun, jarang sekali mengucapkan kata-kata yang salah.

"Apakah kau pernah terlambat bangun untuk sekolah?" sang pembawa acara lelaki, Ebisu, yang mempunyai ciri khas sendiri, yaitu selalu menggunakan kacamata hitam berbentuk lingkaran.

"Pernah..." adalah jawaban yang keluar dari mulut Sakura, membuat para penonton dan artis-artis yang berada di dalam acara itu terkejut. Seorang yang rajin seperti Sakura pun bisa terlambat ke sekolah.

"Aku ini sebenarnya orang yang bodoh... ketika aku terlambat bangun, aku menghitung perkiraan waktu yang akan kuhabiskan untuk sampai ke sekolah. Saat kupikir, ah, aku tidak akan bisa datang tepat waktu, maka aku kembali tidur dan bangun lagi jika ada jadwal bekerja," jawab Sakura dengan wajah polos, penuh spontanitas, seperti orang-orang tennen; pada dasarnya polos dan bodoh namun mengundang tawa. Namun, Sakura bukan orang tennen. Ia masih bisa menyeimbangkan sisi serius dan bercandanya. Namun, saat berbagi cerita lucu, Sakura tidak pernah gagal untuk membuat penontonnya tertawa.

"Jadi, itu terjadi saat kau sudah debut?" tanya Ebisu.

"Iya," jawab Sakura, lalu tertawa kecil.

Sakura pun dipersilahkan bersiap-siap untuk penampilannya. Kedua pembawa acara yang sempat mengobrol selama beberapa menit bersama Sakura tadi pun memperkenalkan lagu yang akan dibawakan Sakura, sebuah lagu mengenai pernyataan cinta dari seorang perempuan, diikuti tarian dengan gerakan yang sangat cepat.

"Mari kita mulai, Sakura dengan Beat Room, silahkan."

Dan saat musik dimulai, Sakura menari dengan sangat mahir, sumber dari inspirasi para kaula muda yang suka menari seperti dirinya. Suaranya yang jernih menjadi inspirasi para penyanyi diluar sana. Kedua hal inilah yang membuat Sasuke menjadi tertarik kepada Sakura dan memutuskan untuk mengikuti segala perkembangan tentang gadis yang seumuran dengannya ini. Semakin banyak orang yang menjadi fansnya setelah mengetahui betapa berbakatnya gadis yang sedang menduduki bangku SMA ini. Penampilannya begitu memukau, suaranya sangat bagus, kemampuan menarinya tidak kalah dengan para penari profesional.

Tok tok tok.

"Ya?" Sasuke memencet tombol pause sebelum menjawab kepada ketukan pintu kamarnya. Tak lama setelah itu, sang ibu, Mikoto, membuka pintu dan sedikit melangkah masuk ke dalam kamar Sasuke.

"Kau sedang apa?" tanya Mikoto saat melihat Sasuke yang sedang bersantai dengan laptop-nya.

"Menonton," jawab Sasuke singkat dan santai.

"Kau tidak mengerjakan PR-mu?" tanya Mikoto, khawatir jika Sasuke lupa mengerjakan tugas-tugas sekolahnya.

"Tenang saja..." jawab Sasuke sambil menyeringai.


"Fuh..." Sakura akhirnya bisa duduk dan mengambil nafas sejenak di atas kursi dengan roda-roda kecil di setiap kaki kursi dan meja panjang yang kosong, hanya ada tas miliknya diatasnya. Satu jam yang ia habiskan untuk make-up dan berganti kostum sangat melelahkan, apalagi ini sudah malam dan dia bekerja di dunia hiburan. Waktu santai hampir menjadi sebuah mitos untuk Sakura.

"Sakura, dua jam lagi syuting akan dimulai. Kau mempunyai waktu satu jam empat puluh lima menit untuk santai," kata sang manajer, Shizune.

"Oke..." jawab Sakura.

Shizune pun keluar sebentar untuk mengurus pekerjaannya. Sakura masih diam, duduk di atas kursi, bernafas lega karena ia masih punya waktu sebelum syuting. Sejenak ia tersenyum, lalu berniat untuk tidur sejenak. Tapi, kegiatan tidur cantiknya terganggu saat ia baru ingat sesuatu.

'PR matematika!' serunya dalam pikirannya, lalu segera membuka tasnya dan mengambil tempat pensilnya. Ketika ia hendak mengeluarkan buku tulisnya, ia baru ingat bahwa ia juga harus mengerjakan PR milik Sasuke.

'Anak itu...' pikir Sakura, lalu mendesah kesal, 'pintar sekali memanfaatkanku.'

Ia pun mengeluarkan buku cetak dan dua buah buku tulis matematika dari dalam tasnya. Ia menaruh buku Sasuke di samping, membuka buku cetak dan buku tulisnya, lalu memotretnya. Sakura berniat untuk mem-posting kegiatannya sekarang, yaitu mengerjakan PR sambil menunggu waktu syuting.

"Karena ada waktu untuk menunggu sebelum syuting, maka aku akan mengerjakan PR-ku~" gumamnya sambil menulis kalimat itu di ponselnya, lalu mengirimkannya ke akun sosial media resmi miliknya; di Smitter, dengan nama pengguna sakurahirari.

Ia pun memasukkan ponselnya kembali ke dalam tasnya, mengambil buku tulis milik Sasuke lagi, lalu mulai mengerjakan PR itu. Setiap satu soal yang baru selesai ia kerjakan, soal beserta jawaban yang ia tulis dengan sedikit lebih singkat ditulis ulang di buku tulis milik Sasuke. Walaupun memiliki jadwal yang cukup padat, Sakura tidak pernah lepas dari kebiasaannya membawa buku atau PR-nya ke lokasi kerja. Ia pikir, ia masih harus mementingkan pendidikan bersamaan dengan karirnya. Tipe idola yang sangat dikagumi oleh para murid sekolah. Karena itu, ia tidak pernah mendapatkan satupun nilai jelek. Kalaupun itu jelek, nilainya masih B+.

Satu persatu soal matematika itu ia kerjakan dengan penuh ketelitian, sambil melihat ke buku catatannya dan memutar otaknya untuk menemukan jawaban yang sekiranya susah dan caranya kebetulan tidak dikeluarkan oleh gurunya. Untung saja ia sedang tidak menghafal lirik lagu atau teks dari skenario drama, sehingga fokusnya hanya tertuju kepada PR matematika itu.

"Sakura," Shizune kembali masuk ke ruang tunggunya. Menghindar dari masalah, Sakura menyelipkan buku tulis Sasuke ke bawah buku tulisnya, seolah-olah ia mengerjakan PR itu hanya untuknya.

"Ya?" Sakura menjawab panggilan dari manajernya.

"Ah, maaf, kau sedang mengerjakan PR-mu, ya?" kata Shizune, saat melihat buku-buku pelajaran Sakura di atas meja.

"Ah, tidak apa-apa, bicara saja, aku akan mendengarkan," kata Sakura sambil tertawa kecil dengan Shizune, lalu kembali mengerjakan PR-nya.

"Kau tahu soal Moegi, kouhai-mu di Katsuyu Pro, yang sangat mengagumimu?" kata Shizune, sambil duduk di depan Sakura, menyebutkan nama agensi yang membesarkan nama Sakura sekaligus mengasuhnya.

"Aku hanya ada di satu agensi," kata Sakura, dengan maksud bahwa Shizune tidak perlu menyebutkan nama agensinya, karena ia hanya bekerja dibawah naungan satu agensi, bukan dua. Jika ia bekerja dibawah naungan dua agensi, maka wajar bagi Shizune untuk menyebutkan nama agensinya.

"Moegi akan merilis sebuah mini album," kata Shizune, "lagu miliknya masih sedikit, namun sepertinya agensi ingin ia banyak dikenal orang, sepertimu."

"Ah, begitu..." Sakura mendengarkan dengan seksama sambil mengerjakan PR-nya, "baguslah, semakin banyak kegiatannya, semakin banyak orang yang cepat mengenalnya."

"Tetapi, aku khawatir jika prestasinya di sekolah menjadi tidak lancar," kata Shizune.

"Mungkin dia itu tipe orang yang menyelesaikan semua PR di kelas, tepat saat gurunya baru saja memberikan PR itu, sehingga bebannya menjadi berkurang," kata Sakura, berpikir positif tentang kouhai-nya.

"Bisa jadi," kata Shizune, lalu berdiri dan menuangkan secangkir teh hangat yang tersedia di meja lain.

"Apa kau sudah mendengarkan single terbarunya?" tanya Sakura kepada Shizune dengan wajah ceria.

"Ah, Rolling Feeling? Melodinya bagus ya, melekat di kepala dalam jangka waktu yang panjang," kata Shizune, lalu duduk di kursinya lagi dan meminum tehnya.

"Un, dengan begitu, banyak orang yang akan mengingat Moegi-chan," kata Sakura.

"Apa ini baik-baik saja untukmu? Seorang kouhai yang mengagumi dirimu, membalapmu?" tanya Shizune.

"Aku ingin semua orang di Katsuyu Inc menjadi terkenal, sehingga semakin banyak yang ingin masuk ke agensi ini," kata Sakura tanpa keraguan.

"Kau ini," Shizune tersenyum mendengar jawaban Sakura, "terlalu baik."

"Perjalananku memang lebih panjang dari Moegi-chan, tapi aku sama sekali tidak mau menyombongkan diri, baik di depan, maupun di belakang layar," kata Sakura, layaknya wawancara untuk sebuah artikel majalah.

"Kau sangat menyayangi semua di Katsuyu Inc, ya?" kata Shizune, sambil tersenyum.

"Mereka sudah seperti keluarga bagiku," kata Sakura, masih sambil mengerjakan PR-nya.

"Untung saja anggota keluargamu adalah presiden Katsuyu Inc," kata Shizune.

"Benar juga..." kata Sakura, sambil menoleh kepada Shizune dan meletakkan pensilnya.

"Ngomong-ngomong, ada hal yang aku ingin diskusikan denganmu, namun aku tahan karena kelihatannya kau sedang fokus pada PR-mu," kata Shizune, memasang wajah serius.

"Apa itu?" tanya Sakura.

"Bagaimana rencanamu untuk musim panas ini? Single baru, atau konser pertama?" tanya Shizune.

Sakura pun terdiam, wajahnya menjadi serius, dan ia memikirkannya dalam-dalam...


Hai, chapter 2 owari :3

Aku harap gaada kata asing yang aku masukin kesini :v - lagi buruburu(?)

Bales review dulu ya :3

caesarpuspita: Dia udah nyadar kok, wkwkwk yang kutulis itu termasuk ancaman bukannn? :"D

Ly Melia: Yoyoi~

mii-chanchan2: Terlalu OOC kah? Maa, yang penting aku udah nulis di warning lah ya :"D

uciharuno cika: Yoyoi~ HAHA iya juga ya, mungkin para cewek jadi kepengen pacaran sama Shikamaru disini karena dia peka banget :b

guest: Makasih~ w

sasusaku: Kyaaa makasih banget :/D

saku saku: Untuk itu, aku sama temenku pas diskusi tentang konsep ini tuh udah direncanain akhirnya gimana kok OwOb pokoknya tunggu aja~ :b

guest: Yoyoi~

sasu nyan: Yoyoii~

feli: Yoyoiii~

Guest: Arigachuuu x3

siska: Yoyoiiii~

culin: Yoyoiiiii~

Uchiha Mine: Etto, aku masih ketinggalan jauh dibanding author yang lainnya, tapi makasih banget loh :"3 salam kenal juga!

SS: Yoyoiiiiii~

AoRizuki: Gomen, gomen, udah nungguin ya? Hampir dua bulan digantung deh jadinya :"D aku punya banyak urusan sama himpunan dan event kampus, sorry sangat kalo terlambat :"

Jaa, mata ne~ :3