#Previous

Tapi anehnya, gaun yang Sakura pakai kemarin malam ada dikamarnya. "Astaga, kemana dia?" Ino yang sudah frustasi akhirnya memutuskan untuk menelpon Sasuke.

"Sa-sa-sasuke!?" Ino menelpon dengan suara yang bergetar

"Hn?"

"Sakura, Sakura. Kau lihat Sakura? Kau tahu dimana Sakura?" Ino bertanya –menuntut jawaban-

"Apa maksudmu? Aku tidak tahu dimana Sakura. Ino, ada apa ini?" Kali ini Sasuke jadi ikutan panik.

"Ya Tuhan, kemana dia! Ku pikir dia sudah pulang semalam, dari acara wisuda Neji. Tapi pagi ini aku hanya menemukan gaun yang ia pakai semalam, tapi dia tidak ada dimana-mana. Aku sudah menelponnya dan tidak tersambung sama sekali Sasuke. Ak-aku, benar-benar khawatir sekarang" Ino bercerita dengan suara yang terisak menahan tangis "Dia tidak pernah pergi tanpa bilang padaku, kau tahu sendiri kan Sasuke?" Ino melanjutkan

"Tunggu disana, aku akan menjemputmu Ino," sambungan telepon pun terputus.

"How Can I Move On?"

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pairing : SasuSaku

Rated : T

Genre : Romance, Drama, Hurt/Comfort

Warning : Typo(s), Gaje, OOC, Cerita pasaran, Alur cepat dan sebagainya

.

.

.

Chapter 4

*Flashback*

"Sasuke!" pemuda berambut panjang yang perawakannya lebih tua dari pemuda yang ia panggil, menghampiri pemuda yang merupakan adiknya.

"Kenapa kau masih disini? Ku pikir kau akan segera pergi," sang adik bertanya.

"Sebelum ke Amerika, aku punya beberapa berita untuk mu. Berita kurang menyenangkan tepatnya," air muka sang kakak berubah menjadi serius, adiknya yang melihat itu segera mengerti ini adalah pembicaraan yang sangat penting.

"Katakan, Itachi" sang adik menuntut penjelasan sekarang.

"Keluarga Hyuuga di Inggris, bilang 'dia' kabur dari panti rehabilitasi kejiawaan beberapa bulan lalu, dan tidak tahu dimana dia sekarang," jelas Itachi

"'Dia' kabur? Tapi, bagaimana bisa?" Sasuke tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya.

"Aku sendiri pun belum tahu, tapi beberapa tim ku tengah mengecek ke panti rehabilitasi itu, Sasuke. Yang pasti, dia sudah terdeteksi keberadaannya," sekali lagi Itachi menjelaskan, wajahnya terlihat sangat serius dan ada kilatan kekesalan didalamnya.

"Dimana 'dia'?"

"'Dia' ada di Jepang, daerah Tokyo, dan berkuliah di Tokyo Universiti," jawaban Itachi berhasil membuat Sasuke terbelalak. "Apa? Bagaimana bisa seorang tidak waras berkuliah?" Sasuke benar-benar tidak mengerti.

"Lupakan itu Sasuke, masalah yang lebih pentingnya, dia tengah mengumpulkan informasi tentang Sakura. Aku juga tidak tahu apa maunya dia. Sejak menemukan dia di Jepang, tim ku terus mengikuti dia, dia sering sekali menguntit Sakura pulang. Pergi kemanapun Sakura pergi," Itachi bisa melihat rahang Sasuke mengeras.

"Sialan! Beraninya dia, aku harus memperingati Sakura," Sasuke yang hendak pergi ditahan oleh Itachi. "Tidak! Kau akan menghancurkan semuanya kalau kau melakukan itu Sasuke,"

"Lalu apa yang harus ku lakukan!? Dia bisa saja menyakiti Sakura, Itachi!" Sasuke sangat tidak tenang sekarang, mukanya memerah menahan amarah.

"Dengar, kau harus melakukan ini. Lakukan ini, dan aku akan menjelaskan alasan kau harus melakukannya sepulangnya dari Amerika. Putuskan Sakura." Itachi memerintah dengan penuh penegasan. Sasuke terteggun.

"Kau gila! Kalau aku melakukan itu, siapa yang akan melindungi Sakura, bodoh!?" amarah Sasuke memuncak.

"Lakukan saja apa yang ku perintahkan Sasuke, aku tidak ada waktu untuk menjelaskan ini padamu. Lakukan Sasuke, dan percaya padaku!" Itachi memaksa.

"AARGH! Aku akan meninjumu sampai kau mati Itachi kalau sampai terjadi sesuatu terhadap Sakura. Aku bersungguh-sungguh!" Sasuke mengancam kakaknya sendiri. "Aku tidak akan membiarkan orang yang sangat disayangi adik ku terluka. Aku pergi!" Itachi berucap dan langsung menarik koper nya keluar rumah, memasuki jemputannya dan meninggalkan rumahnya.

Sasuke akhirnya segera berganti baju dan segera mengendarai mobilnya keluar rumah menuju Tokyo Universiti.

*Sasuke POV*

"Aku benar-benar akan membunuhmu Itachi,"

Aku segera turun dari mobil setelah memarkirkannya. Berjalan dengan terburu-buru, mengeluarkan iPhone ku menekan nomor 1 yang langsung tersambung pada Sakura.

"Apa!?" suara ketus yang cempreng memasuki indra pendengaranku, aku tahu dia sedang marah sekarang.

"Hn?" aku hanya bergumam sedikit, bingung dengan nada suaranya yang ketus. Dia marah kenapa?

"Sasuke? Akhirnya kau menelpon juga" dan suara cempreng nan ketus berganti dengan suara yang ceria. Astaga, apa aku bisa melakukan ini padanya.

"Perpustakaan sekarang! Oke?" Aku memerintahnya, dan ku jamin dia pasti merotasikan matanya dengan sifatku yang suka sekali memerintah ini.

"Yayaya bos!" dia sangat bahagia hanya dengan bertemu denganku. Kami-sama, bantu aku.

Aku segera pergi ke perpustakaan, mendudukan diri di tempat yang biasa aku dan Sakura pakai saat membaca. Menunggunya, dan tiba-tiba Shion datang menggangguku. Bermanja-manja di tanganku. Astaga, Sakura akan marah saat ia melihat ini. (chapter 1)

Dan benar saja Sakura tiba dengan ekspresi penuh kekecewaan padaku. Shion mengusir Sakura dan bermanja-manja lagi dengan ku. Aku mencoba mengusirnya, tapi tetap saja dia menempel padaku. Pada akhirnya amarahku memuncak dan meneriaki Shion yang juga meneriaki ku balik.

"A-apa? Apa salahku hah?" Shion segera berdiri dan suara Shion tak kala nyaring dengan ku sampai bergema di Perpustakaan

"Kau mau tahu? Karena kau! gadis tadi, pacarku. Marah padaku dan sekarang pergi!" Amarah ku sangat amat besar. Shion akhirnya pergi. Aku mengacak rambut frustasi. "Sialan!" menendang tembok disampingku.

Aku berlari keluar kampus mencari Sakura, saat hampir putus asa aku melihatnya hampir naik ke mobil. Mobil Sasori, kakaknya. Aku tidak melihat keberadaan Sasori, dan langsung menghampiri Sakura yang nyaris naik. Dia menarik tangannya, tapi aku menahannya. Menarik tangan mungil itu dan sekejap... dia baru saja menangis. Aku membuatnya menangis. Sial.

"Apa mau mu?" dia berkata dengan suara yang dingin. Aku marah, sangat marah pada Itachi, pada Shion, pada diriku sendiri. "Hn" dan gumaman sialan itulah yang keluar. Matanya berotasi bosan padaku, mencoba menarik tangannya lagi tapi masih ku tahan.

"Apa mau mu!" suaranya meninggi, amarah memuncak di matanya. Aku harus melakukan ini, sekarang.

"Kita hentikan hubungan ini" aku membenci diriku, sangat membenci diriku.

Maafkan aku Sakura. Aku tidak bisa bilang padamu.

"Baiklah! Kalau itu yang kau mau!" dia membentakku, menarik tangannya dengan kasar dan masuk kedalam mobil. Menatapku dengan segala kebencian.

Setelah kejadian itu, selama 3 minggu aku tidak melihatnya lagi.

Lalu pada latihan wisuda beberapa hari yang lalu, aku melihatnya. Dari kejauhan aku bisa melihat dia terkejut, sama terkejutnya dengan ku. Sangat senang akhirnya bisa melihatnya. Saat dia mau keluar dari aula, aku segera berlari keluar juga, mau tahu apa yang dia lakukan disana.

Sekali lagi dia terkejut melihatku, "Sakura, kau datang?" membuka percakapan.

"Emm, ya. Aku datang untuk menemani Neji," benar dugaanku, Apa mau setan itu.

"Sakura, jauhi Neji. Dia buk.."

"Sasuke, kau tidak berhak mengaturku. Dan juga, bisakah kita lupakan semua ini?" dia memotong ucapanku.

"Semua ini?" apa maksudnya ini.

"Lupakan tentang kita, lupakan kita pernah bersama. Lupakan tentang aku. Jangan pedulikan aku lagi. Jalani kehidupanmu, dan move on," dia berkata dan langsung berjalan meninggalkan ku. Dia berhasil menghancurkan hatiku.

Keesokan hari setelah wisuda, aku tengah bersantai lalu telepon masuk. Dari Ino, suara Ino seperti orang yang menahan tangis. Sakura, tidak kembali, dan aku tahu ini ulah Neji.

"Lalu beberapa hari yang lalu, Itachi pulang dan memberitahu ku alasannya. Neji, dia pernah nyaris membunuhku saat SMP dulu dan pada akhirnya aku dan keluarga pindah rumah. Tapi aku dan Neji dipertemukan lagi di SMA, dan dia juga hampir membunuhku dengan memasukan racun ke makananku. Akhirnya ia di masukan panti rehabilitasi lagi karena itu." Sasuke menceritakan pada Ino yang duduk menganga mendengarnya. "Dia tidak waras," Ino berucap.

"Dan Itachi tidak mau dia melukai ku lagi, jadi dia menyuruhku putus dengan Sakura. Itachi tahu kalau Neji mengincarku lewat Sakura, jadi Itachi melakukan pencegahan itu." Sasuke menyelesaikan penjelasan panjangnya saat tiba di rumahnya.

*Normal POV*

"lalu bagaimana kalau Sakura, di.. " Ino membayangkan hal yang mungkin diterima oleh sahabat kesayangannya.

"Tidak akan ku biarkan itu, Ino. Aku, akan membunuh Neji kalau dia berani melakukan itu," Sasuke berucap sambil memasuki rumahnya yang luas.

Mereka menuju ruang tamu dimana Itachi dan beberapa orang berpakaian serba hitam tengah berkumpul. Banyak alat-alat elektronik tidak jelas terpasang. Ada alat yang seperti radar terus berbunyi bip bip bip di ruang tamu itu.

"Bajingan sialan! Dia tahu kalau aku memasang alat pelacak pada gaun Sakura." Itachi memaki monitor di hadapannya.

"Itachi-nii, apa maksudnya alat pelacak di gaun Sakura?" Ino mendekati Itachi yang terduduk.

"Huufft!. Saat pesta wisuda di aula aku sengaja menemui Sakura, aku memeluknya singkat sambil menempelkan alat pelacak ukuran mikro pada gaunnya. Dan aku yakin, Neji mengetahui itu makanya dia mengirim kembali gaun itu ke apartemen kalian. Hah, sialan! " Itachi mengeluarkan semua sumpah serapahnya.

"Tanpa alat pelacak itu, Sakura akan sulit terlacak. Tetap cari!" Itachi memerintah para anak buahnya.

Semua orang di ruang tamu itu berusaha keras mencari keberadaan gadis bubblegum yang diculik semalam itu.

.

.

.

*Sakura POV*

Akh! Kepalaku berputar. Mencoba membuka mata, tapi semuanya gelap. "Aww!" tanganku diikat, kaki ku juga. Apa yang terjadi? Dimana aku sekarang? Aku berada dibangku dan terikat.

"Kau sudah bangun Saki," suara yang sangat ku kenal bergema di ruangan yang gelap ini.

"Neji!?" aku memanggil dengan suara yang sangat serak

"Yaya, aku Neji. Bagaimana perasaanmu saat ini?"

"Neji, ada apa ini? A-aku terikat," aku mencoba untuk berbicara dengannya.

"Tentu saja kau terikat Sakura," perlahan ada sebuah siluet hitam menampakaan dirinya, "Maaf membuatmu seperti ini Sakura, tapi pacar sialan mu itu harus merasakan ini. Merasakan apa yang ku rasakan," Neji berucap hal yang tidak ku mengerti. Dan seketika, lampu berwarna kuning remang menyala di atas ku.

Aku bisa melihat Neji sekarang, berpakaian serba hitam dengan tudung menutupi kepalanya. Ia berjalan ke arahku. "A-ak-aku, tidak mengerti,"

Plak

Sebuah tamparan keras mendarat tepat di pipiku, "Banyak omong kau! Tutup mulutmu!" ia menyumpal mulutku dengan kain. Ya Tuhan ada apa ini?

"Kau tahu Sakura? Kenapa Hinata bisa meninggal? Dia bukan meninggal karena kanker, tapi karena Sasuke" Neji berjalan mengitariku, aku hanya bisa menggelengkan kepalaku,

'tidak, bukan karena Sasuke, Hinata meninggal karena sakit kanker' aku hanya bisa berteriak dalam hati.

"Apa kau menggeleng hah!" dia menarik rambutku ke belakang, kepalaku dipaksa mendongak. "Kau tidak tahu apa-apa Sakura!" rambutku di lepas dan ia mulai berjalan mengitariku lagi. Ekspresi Neji sangat mengerikan. Air mata mengalir di pipiku, tangan dan kaki ku terasa sangat nyeri saat bergesekan dengan tali yang mengikatku.

"Hinata, dia adik kesayanganku. Tapi dia sangat bodoh! Kenapa dia tidak mau mendengarkanku, kalau Uchiha itu jahat! Aku sudah memberitahunya untuk menjauhi Uchiha, Sakura. Tapi Hinata tidak mau mendengarku." Ekspresi Neji langsung berubah menjadi sedih, yaampun, dia benar-benar terkena gangguan kejiwaan akut.

"Sakura, aku pernah hampir membunuh Sasuke sialan itu waktu SMP, tapi dia malah pergi" Neji menjeda ceritanya, maksudnya 'pergi' mungkin saat Sasuke pindah rumah, oh jadi itu karena Neji.

"Lalu aku bertemu lagi saat SMA, aku memasukan arsenik kedalam makanannya, tapi sayangnya ketahuan oleh gadis pirang manja bernama Shion itu!" arsenik? Dia sungguh sudah gila. Dan Shion? Ahh, ya!

"Dan aku dimasukan kedalam rumah aneh dengan banyak orang gila, apa mereka pikir aku gila hah!? Aku tidak gila kan Sakura?" Neji berceloteh sendiri, aku tak mau ambil resiko, mengiyakan saja.

"Hinata saat itu sedang bersama Sasuke dan dia mati, Sakura. Hinata mati karena Sasuke. Maka aku akan menyiksa Sasuke, melalui mu. Aku bisa masuk dan memalsukan data diriku di kampus, berkuliah disana. Senang karena langkah ku untuk membunuh Sasuke sudah dekat. Tapi, dia memutuskanmu. Sepertinya dia tahu rencanaku, Sakura." Jeda sejenak

"Mungkin dia pikir dengan memutuskan mu, aku akan menyerah. Tapi mungkin dia lupa, kalau aku tahu seberapa besarnya rasa sayang Sasuke untukmu. Jadi aku tidak boleh mundur, aku mendekatimu dan berhasil. Kau sangat polos dan mau saja berteman denganku. Itu adalah keuntunganku," akhirnya ia berhenti mengitariku menatapku.

"Sakura, kalau aku boleh jujur, kau sangat cantik. Aku tidak bisa bohong kalau aku menyukaimu. Tapi tetap saja aku tidak bisa melepaskanmu, karena aku ingin melihat seberapa menderitannya Sasuke. Karena Sasuke sangat menyayangimu, sangat melindungimu. Dan aku ingin dia merasakan bagaimana orang yang paling ia sayangi... mati.

Oksigen disekitarku seperti hilang begitu saja. Ya Tuhan, Neji mau membunuhku.

"KONAN!" Neji berteriak dan seorang perempuan, aku tidak bisa melihat mukanya, tertutup topeng. "Konan, masukan tamu kita ke dalam kamar, dia harus beristirahat," setelah memberi perintah, Neji langsung pergi.

"Maaf, aku hanya menjalankan perintah," Konan berkata padaku dengan penuh rasa bersalah, ia menarik keluar kain yang menyumpal mulutku. "Haah.. haah.. terima kasih," lalu ia melepas semua ikatanku dan menggotongku ke sebuah kamar yang sangat terpencil, dan hanya ada cahaya remang dari jendela yang terletak tinggi. Kamar ini sangat berdebu dan banyak sarang laba-laba.

"Sa-sakura, aku ingin mengeluarkan mu dari sini, sungguh! Tapi apa yang bisa ku lakukan?" ia berbisik padaku, aku tahu dia memang baik. "Haah.. Konan, bisakah kau meninggalkan.." belum sempat menyelesaikan ucapanku, Neji datang dan memberikanku makanan. "Konan pergilah, aku akan memberi Sakura makan," Neji berucap, dan Konan pergi meninggalkan ruangan ku.

.

.

.

"Arggh! Inilah apa yang ku takutkan Itachi! Kau tidak mau mendengarkanku, dan beginilah jadinya. Sakura berada di tangan orang yang memiliki gangguan jiwa, bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya, Itachi! Jawab aku!" Sasuke berteriak frustasi pada Itachi, mereka berdua berada di taman belakang mansion Uchiha.

Bugh

"Sadar Sasuke, sekarang kita harus tenang. Bagaimana kita bisa menemukan Sakura kalau kau terus saja berteriak begini!? Tenangkan pikiranmu, dan cari jalan keluar Sasuke!" Itachi meninju Sasuke untuk menyadarkannya.

Bugh

"TENANG KATA MU!? Bagaimana bisa aku tenang kalau Sakura ada di tangan seorang psikopat yang keberadaannya pun tidak di ketahui? Bagaimana bisa!? Ini semua salah mu Itachi" Sasuke mengamuk. "HAH! Tidak berguna!" Sasuke menjambak rambutnya, sudah hampir 24 jam dan keberadaan Sakura masih belum diketahui.

"Itachi!" seorang anak buah Itachi berlari memasuki taman

"Ada apa?"

"Kami menemukan seorang wanita di tepi jalan tol perbatasan daerah Suna dan Konoha. Dia sekarat, dan terus menyebut nama Sakura." anak buah Itachi menjelaskan. Sasuke ikut mendengarkan.

"Dan sekarang dia berada di?"

"Dia berada di rumah sakit Konoha, Tsunade tengah menanganinya sekarang. Menurut orang yang menemukannya, gadis itu berlari dari dalam hutan, dengan luka tusukan di punggung. Tampaknnya, gadis itu melarikan diri," anak buah Itachi menyelesaikan penjelasannya dan segera pergi.

Sasuke dan Itachi pun segera pergi menuju rumah sakit Konoha.

.

.

.

"Wanita itu sudah diselamatkan. Dia hanya kehilangan banyak darah dan itu sudah kami atasi. Kalian tinggal tunggu dia siuman. Mungkin besok atau lusa, sekarang lebih baik kalian pulang dan istirahat. Kalian berdua!" Tsunade yang merupakan sahabat keluarga Uchiha, sudah sangat dikenal Sasuke dan Itachi. Kedua pemuda yang sama-sama memiliki lebam pada pipinya itu segera pulang.

Keesokan harinya, duo Uchiha mendapat kabar bahwa wanita yang mereka temukan sekarat itu sudah siuman. Segeralah mereka pergi ke rumah sakit Konoha.

Sesampainya di rumah sakit Konoha, mereka segera menuju lantai empat dan emasuki ruang rawat inap VVIP yang dijaga ketat. Mereka mendatangi seorang gadis yang terbaring lemah diatas tempat tidur, dengan perban yang melilit dari pundak kanan sampai ke punggung.

"Kau sudah merasa baikan, emm?"

"Ko-konan, nama-ku Konan. Te-terima kasih karena sudah menyelamatkanku." Konan hendak bangun dari tempat tidurnya.

"Sudah, kau berbaring saja. Aku hanya ingin kau bercerita, Konan" Itachi segera mendudukan dirinya disamping Konan.

"Bercerita?" Konan bertanya dengan wajah yang pucat pasih.

"Kau menyebut nama Sakura terus saat kau ditemukan," Jelas Sasuke. "Kau kenal Sakura?" Sasuke bertanya.

"Ah ya, aku Uchiha Itachi jaksa wilayah Konoha, dan ini Uchiha Sasuke adik ku. Sakura itu adalah pacarnya" Itachi memperkenalkan dirinya dan Sasuke.

"Ohh, kalian yang bernama Uchiha. Baiklah, kalau begitu aku harus menceritakan hal ini pada kalian secara cepat. Karena semakin lama kita mengulur waktu, Sakura akan segera dibawa pergi Neji entah kemana." Konan yang wajahnya lebam berkata dengan hati-hati.

"Seperti yang kalian ketahui, Neji mengalami gangguan kejiwaan. Dia membawa Sakura yang tidak sadarkan diri ke apartemen Neji. Lalu ia menyuruhku untuk mengembalikan gaun milik Sakura ke apartemen Sakura. Setelah itu aku tiba lagi dirumah, ternyata Sakura sudah dipindahkan ke sebuah rumah persinggahan tua di daerah perbatasan Konoha dan Suna. Aku ketahuan saat akan menyelamatkan Sakura, lalu Neji menyuruh orangnya untuk membunuhku. Tapi aku berhasil melarikan diri," Konan mengakhiri penjelasan panjangnya.

Sasuke yang telah mendengarkan penjelasan dari Konan tanpa basa basi langsung berlari keluar kamar.

"Tunggu Sasuke!" teriakan Itachi pun tidak di gubrisnya. "Anak itu, haahh.." Itachi mendesah pasrah.

.

.

.

Terkadang, seseorang memilih untuk pergi

Bukan karena keegoisan,

Tapi karena mereka menyadari

Bahwa hal itu akan menjadi buruk,

Kalau mereka tetap tinggal

To Be Continue

Terima kasih karena sudah mampir dan membaca fic saya, semoga berkenan di hati.

RnR please?

0.00