Hulllaa.. readerss. Makasih yang udah review di chapter sebelumnyaa, segala kritik, saran, dan juga salam penyemangat dari kalian yang ngebuat Ran jadi mau terus lanjutin fic ini.

Okay, ini dia chapter 5 nya..

#Previous

"Ohh, kalian yang bernama Uchiha. Baiklah, kalau begitu aku harus menceritakan hal ini pada kalian secara cepat. Karena semakin lama kita mengulur waktu, Sakura akan segera dibawa pergi Neji entah kemana," Konan yang wajahnya lebam berkata dengan hati-hati.

"Seperti yang kalian ketahui, Neji mengalami gangguan kejiwaan. Dia membawa Sakura yang tidak sadarkan diri ke apartemen Neji. Lalu ia menyuruhku untuk mengembalikan gaun milik Sakura ke apartemen Sakura. Setelah itu aku tiba lagi dirumah, ternyata Sakura sudah dipindahkan ke sebuah rumah persinggahan tua di daerah perbatasan Konoha dan Suna. Aku ketahuan saat akan menyelamatkan Sakura, lalu Neji menyuruh orangnya untuk membunuhku. Tapi aku berhasil melarikan diri," Konan mengakhiri ringkasan penjelasannya.

Sasuke yang telah mendengarkan penjelasan dari Konan tanpa basa basi langsung berlari keluar kamar.

"Tunggu Sasuke!" teriakan Itachi pun tidak di gubrisnya. "Anak itu, haahh.." Itachi mendesah pasrah.

"How Can I Move On?"

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pairing : SasuSaku

Rated : T

Genre : Romance, Drama, Hurt/Comfort

Warning : Typo(s), Gaje, OOC, Cerita pasaran, Alur cepat dan sebagainya

.

.

.

Chapter 5

"Kankuro! Cepat kejar Sasuke dan dampingi dia. Pastikan agar dia tidak membunuh siapapun," Itachi setengah berteriak melalui telepon. "Baiklah Konan, istirahatkan tubuhmu. Aku harus mengurus ini. Tenang saja, kau aman," Itachi berkata –meyakinkan- pada Konan.

"Iya, terima kasih tuan Uchiha atas pertolonganmu,"

"Cukup Itachi, aku yakin kita seumuran. Baiklah, kembalilah beristirahat Konan," Itachi lalu pergi.

.

.

.

Sasuke yang sampai di parkiran, segera dikejutkan karena kedatangan mobil jeep hijau tentara yang berhenti di hadapannya. "Sasuke, masuk!" Kankuro –suruhan Itachi- menyuruh Sasuke masuk ke mobilnya.

"Aku akan mengantarkanmu, dan pasang seatbelt mu," seusai Sasuke masuk, mobil jeep segera 'berlari' kencang meninggalkan daerah rumah sakit dengan diikuti beberapa mobil polisi.

Ddddrrrttt... Ddrrrttt.. iPhone milik Sasuke bergetar.

"Sasuke!"

"Hn, bicaralah"

"Tempat itu, tersembunyi dalam hutan. Dan hutan itu sendiri berada di dekat Rest Area kilometer 78. Tepat di sebelah kiri jalan tol perbatasan Suna-Konoha, kau langsung saja berbelok, tidak ada pagar pembatas disana. Lalu terus saja berjalan lurus sekitar satu setengah kilometer kedalam dan kau sampai," Itachi menjeda ucapannya.

"Aku dan tim akan tiba sekitar empat menit setelah kau sampai." Itachi mengakhiri penjelasannya.

"Baiklah, terima kasih Itachi." Sasuke tampak sangat khawatir dan marah.

"Sasuke, jangan sampai membunuh siapapun karena amarahmu. Fokus cari Sakura, selebihnya biar kami yang urus." Itachi mengingatkan, dan sambungan telepon kakak beradik itu pun terputus.

Mobil jeep hijau tua yang dikemudikan oleh Kankuro itu berjalan dengan sangat kencang. Sebelum memasuki jalan tol banyak orang yang nyaris tertabrak, bahkan kalau tidak ada polisi di belakang, pasti sudah banyak tilang yang mereka dapat karena banyak rambu yang mereka langgar. Butuh waktu sekitar lima belas menit untuk mencapai Rest Area kilometer 78.

Kecepatan mobil sedikit berkurang ketika plang kilometer 78 mulai terlihat. Mobil berbelok tajam ke kiri menuju hutan. Kankuro langsung menekan pegas sampai dasar, dan mobil kembali berlari membelah kesunyian hutan.

'Kumohon bertahanlah Sakura,'

.

.

.

Kriiieeet

"Engh, Neji?" di sisa tenaganya, Sakura masih sanggup berbicara.

Buuugh

"Akh!" Sakura memekik dengan suara yang memilukan. Neji menempeleng kepala Sakura ke tembok dengan keras.

"Kau pikir kau bisa menyuruh Konan untuk membantu mu keluar hah!?" Neji berteriak marah. "Jangan pikir aku tidak tahu apa yang kalian bicarakan. Tapi semua itu sudah ku bereskan, gadis pengerat itu sudah ku bunuh, Sakura. Maka sekali lagi kau meminta tolong pada siapapun, aku tidak akan segan-segan untuk mengasari mu," Neji menjambak Sakura kasar, dan melempar kepalanya.

Brrraaakkk

Pintu ruangan yang di banting dengan keras oleh Neji bergema di ruangan. "Haah.. haaah.. a-aakh!" Sakura memekik sekali lagi saat ia menyentuh pelipisnya yang berdarah akibat terbentur dengan kasar ke tembok tadi.

Baju yang tipis di hari yang menjelang musim dingin, ditempatkan di tempat yang lebih cocok disebut gudang daripada kamar tidur, luka memar dan darah berada di sekujur tubuhnya, ditambah dia hanya makan sekitar kemarin siang, dan sekarang sudah siang lagi dan tidak ada satu pun makanan yang ia dapatkan. Energi Sakura benar-benar sudah terkuras banyak.

"Sa-s-sasuke.." Sakura dengan suara yang gemetar, terkulai lemas ke lantai.

.

.

.

Ciiittt

"Baiklah, kita berhenti disini agar tidak ketahuan para penjaga disana. Hey, kalian! Cepat kemari, kita harus melawan para penjaga agar Sasuke bisa masuk..." Kankuro mengumpulkan para polisi yang ikut bersamanya dan Sasuke tadi.

"Kemana Itachi, seharusnya dia sudah sampai" Sasuke menggeram. Onyxnya tidak pernah lepas dari rumah besar yang tidak terurus didepannya, dimana banyak rumput liar dan semak belukar yang menutupinya.

Selang beberapa menit kemudian, suara gemuruh mesin dari arah masuk menuju hutan menderu. Tak lama terlihat beberapa mobil polisi memasuki area pemberhentian Sasuke dan Kankuro.

"Sasuke! Sepertinya kita bisa masuk sekarang. Yang lain, cepat turun dan bawa senjata yang diperlukan. Usahakan kalian tidak membunuh satu orang pun!" Itachi memerintah dengan otoritas.

Setelah persenjataan yang akan di bawa telah siap, pasukan polisi segera menyerbu masuk ke arah rumah tua itu. Sementara para polisi bertarung untuk menjatuhkan para penjaga pintu gerbang, Sasuke, Itachi, Kankuro dan polisi lainnya segera berlari ke pintu masuk. Rumah yang mereka tuju ini sangat luas, sehingga mereka harus berlari untuk mencapai pintu masuk. Lagi-lagi penjaga pintu masuk menghalangi.

"Yang lain, cepat lari masuk!" Kankuro memberi perintah. Memasuki rumah tua ini, mereka sampai pada ruang tengah, para polisi yang tersisa segera berpencar ke seluruh tempat di lantai dasar, beberapa menuju ke ruang bawah tanah.

.

.

"Sasuke! Di ruang bawah tanah tidak ada." Kankuro melapor setelah mengelilingi ruang bawah tanah.

"Di lantai satu juga kosong" polisi yang lain ikut melapor.

"Sakura!?" Sasuke berteriak, ia menaiki tangga menuju lantai dua rumah tersebut dan mendobrak paksa semua pintu. Sampai ia mendobrak sebuah ruangan yang sangat berdebu dan bercahaya remang.

"Saku-," ia melihat sebuah gelang rajutan yang telah putus talinya dan ada bercak darah pada beberapa bagiannya. "Dia membawa pergi Sakura, Hah!" Sasuke berteriak marah.

"Sasuke!" Itachi masuk dengan terburu-buru. "Neji telah kabur membawa Sakura, dan dia telah menyiksa Sakura," Sasuke berkata sambil menyodorkan gelang rajutan yang ia belikan untuk Sakura.

"Ada bercak darah pada tembok juga, astaga!" Itachi tertegun saat melihat bercak darah yang mulai mengering.

"Itachi, Sasuke! Neji meninggalkan sebuah video di ruang tengah di dekat serambi," tanpa pikir panjang duo Uchiha itu segera melesat menuju ruangan yang dimaksud.

"Kankuro, tolong kau periksa bercak darah yang ada di gelang dan di tembok ruangan atas tadi. Apa itu darah Sakura atau bukan" Itachi memberi perintah pada Kankuro sesampainya ia di ruangan dekat serambi.

"..Wah, hay, Sasuke! Ku pikir kau tidak akan bisa menemukanku. Ya kau menemukanku, tapi sayangnya kau terlambat. Aku dan gadis kesayanganmu, Sakura akan pergi menuju sebuah tempat favorit yang indah. Hey, beri salam pada pacarmu Saki.." Neji tiba-tiba menarik paksa Sakura yang setengah sadar ke sampingnya.

Seketika aura hitam menguar di sekitar ruangan, Sasuke berada dalam level tertinggi kemarahannya.

"..baiklah kalau kau tidak mau memberinya salam, Saki. Sasuke, bagaimana perasaanmu melihat gadis kesayangan mu di culik sementara kau tidak bisa berbuat banyak? Hahahaha... kau harus merasakan apa yang ku rasakan selama bertahun-tahun ini," seketika video itu mati.

"Sasuke," Itachi menyadarkan lamunan adiknya. "Kita harus pulang sekarang, akan ada Chouji yang membantu kita di mansion," Itachi berusaha membujuk adiknya. Seluruh pasukan polisi yang ia bawa sudah kembali dan siap menuju mansion Uchiha.

"Ya," Sasuke berjalan keluar rumah tersebut dengan pandangan mata yang kosong. Ekspresi wajahnya tidak dapat di deskripsikan. Terlalu banyak emosi yang terpendam didalamnya..

.

.

.

"APA MAKSUDMU BILANG ADIKKU DI CULIK HAH!?" Haruno Sasori melampiaskan amarahnya dengan berteriak.

"Sasori tenang sedikit." Itachi memijat pelipisnya. "semua orang tengah bersuha mencari Sakura. Dan aku yakin Sakura akan di temukan. Sesegera mungkin," Itachi pun mulai menjelaskan semuanya pada Sasori-kakak Sakura.

"Itachi, Sasuke!" seusai berbicara dengan Sasori, dari arah pintu masuk Kankuro memanggil kedua pemuda Uchiha yang berada di ruang tamu untuk menghampiri dirinya.

"Apa ada perkembangan, Kankuro?" tutur Itachi to the point.

"Bercak darah di gelang rajutan itu, cocok dengan DNA Sakura, tidak salah lagi itu merupakan darah Sakura," Kankuro yang telah selesai menjelaskan, segera menyerahkan beberapa lembar kertas yang berisi data-data milik Sakura kepada Itachi dan Sasuke.

"Baiklah, terima kasih Kankuro atas informasimu," Itachi bisa melihat raut kebencian yang menguar di sekitar Sasuke.

.

.

"Keluar!" seorang anak buah Neji mendorong Sakura dengan kasar. "Haah..haah.." Sakura mencoba untuk menormalkan deru nafasnya. Neji, membawanya meninggalkan rumah yang kemarin ia tempati. Ia tidak tahu sama sekali dimana ia sekarang. Selama berjam-jam perjalanan, mata Sakura ditutup serta tangannya diikat di depan tubuhnya. Yang ia tahu hanya, tempat yang ia tuju sekarang sangat jauh.

"..Sialan, kita nyaris saja di temukan. Dimana gadis itu?.." samar-samar Sakura mendengar percakapan Neji dengan sesorang, saat ia digiring oleh anak buah Neji.

'Kami-sama, kemana lagi aku dibawa..'

Setelah berjalan beberapa saat Sakura di dorong kedepan dengan kasar. Penutup mata yang sedari tadi menutupi emeraldnya, dibuka secara paksa. Mata emeraldnya mengerjap-ngerjap menyesuaikan cahaya yang masuk. Semua masih terlihat buram, efek terlalu lama ditutup matanya.

Braak Kliikk kliikk

Suara pintu yang ditutup dan langsung di kunci terdengar saat Sakura sudah bisa membiasakan penglihatannya, tampak jelas ia berada di sebuah tempat seperti gudang besar yang sudah sangat lama tidak terpakai. Ia tidak melihat satu pun anak buah Neji di sekitarnya.

Tempat ini lebih luas dari pada tempat sebelumnya, lantai marmer yang sudah lusuh jadi alas ruangan tersebut. Sakura dikelilingi tembok beton yang masih berdiri kokoh sebagai penyokong gudang tersebut. Gudang tersebut ada dua tingkat yang luasnya itu setengah dari lantai satu, dengan sebuah tangga kayu yang terlihat agak rapuh. Pada tingkat kedua tersebut terlihat seperti tumpukan jerami yang sudah sangat kering.

"Tempat macam apa ini?" kaki Sakura sudah sangat lemah untuk sekedar berdiri. Angin berhembus disekitarnya, membawa bau anyir darah yang entah dari mana asalnya.

.

.

.

"Kau sudah dapat perkembangan Chouji?" Sasuke masih terus terjaga padahal waktu sudah hampir mencapai pukul sebelas malam.

"Belum, Sasuke" Chouji masih terus berkutat dengan laptop yang ia bawa. Semua orang masih terjaga di mansion Uchiha ini. Ada sekitar lima puluh orang yang masih terus berjuang mencari keberadaan gadis merah jambu-nya Sasuke.

"Hentikan semua pekerjaan!" interupsi Itachi menghentikan kerja semua orang yang ada di rumahnya.

"Apa?! Kita belum menemukan Sakura, Itachi. Bagaimana bisa di hentikan!?" Sasuke dengan muka lusuhnya mulai beragumen dengan kakaknya.

"Sasuke, kita semua harus istirahat. Bagaimana bisa kita menemukan Sakura kalau keadaan tubuh kita lelah? Semuanya, kalian istirahatlah. Untuk hari ini selesai, besok tepat jam 7 pagi kita akan mulai mencari Sakura lagi. Kalian boleh beristirahat disini, kalau kalian mau," Semua orang yang ada di ruangan tersebut bubar satu persatu untuk beristirahat.

"Sasuke, kau juga istirahat! Besok pagi kita akan mencari Sakura lagi," Itachi menyuruh adiknya, dan ia sendiri bergegas menuju kamarnya. Mendengar perintah kakaknya Sasuke pun pergi menuju kamarnya. Membersihkan dirinya, dan membaringkan dirinya di kasur king size miliknya.

Sasuke terus memejamkan matanya, tapi setiap memejamkan matanya, ia terus terbayang Sakura-nya yang dibawa pergi oleh seorang pemuda gila.

"Haahh... sudah 2 hari, dan aku masih belum bisa menemukanmu. Dimana pun kau berada, bertahanlah untuk ku," secara perlahan kelopak matanya menyembunyikan sepasang onyx yang lelah, khawatir, dan banyak emosi lainnya. Membawa pemilik onyx tersebut masuk menuju dunia mimpinya.

.

.

.

"..Sasuke! hey Sasuke.. apa yang akan kita lakukan sebenarnya sih?" seorang gadis terus bertanya pada pemuda tampan disampingnya yang terus berjalan tanpa tentu kemana arahnya.

"Kau yang bilang bosan di rumah dan mau jalan-jalan. Yaa ini jalan-jalan.." pemuda berambut biru dongker disampingnya menjawab dengan santainya,

"Astaga! Tahu begini, lebih baik kita ke rumah mu saja. Jalan tak tentu arah gini lebih capek tahu," gadis yang tubuhnya lebih kecil daripada Sasuke itu memanyunkan bibirnya –kesal-

"Ini masih jam 9 pagi Sakura, hitung-hitung sekalian membuat berat badanmu turun. Kau sudah sangat gendut tahu." Sepasang emerald di samping Sasuke melotot dengan mulut yang ternganga tidak percaya. Apa Sasuke tidak tahu kalau kata 'gendut' itu tabu bagi seorang laki-laki mengucapkan pada sorang gadis, apalagi pacarnya sendiri.

"Tahu dari mana aku gendutan hah!?" Sakura mengehentikan kakinya, dan berkacak pinggang pada kekasihnya.

"Dari mana? Saat kau tertidur di mobilku kemarin aku harus berjuang keras mengangkat mu dari mobil ke apartemenmu. Belum lagi kau mengigau tidak jelas, astaga" Sasuke tidak bisa menahan senyumnya melihat ekspresi gadis di hadapannya yang pipinya memerah menahan malu.

"Hiihh.. enak saja! aku nggak gendut!" Sakura membela diri.

"Gendut," Sasuke membalas ucapan pacarnya.

"Yaudah! Kalo kau gak suka aku gendut, sana jalan sendiri! Aku pulang aja." Sakura merajuk dan hendak berjalan.

"Hei, aku cuma bercanda. Kamu gak gendut kok," Sasuke menoba untuk membujuk pacarnya. Sakura yang mendengar ucapan Sasuke, wajahnya segera berseri-seri.

"Bener aku gak gendut kan?" Sakura memastikan ucapan Sasuke.

"Yaa, sedikit gendut sih sebenarnya." Sasuke tersenyum usil saat berucap demikian pada pacarnya.

"Iiiih, Sasuke!" Sakura dibuat kesal lagi oleh bungsu Uchiha yang sudah ia pacari selama hampir setahun lebih itu.

"Hahaha.. wajah mu sangat lucu kau tahu? Ekspresi mu bisa berubah-rubah dengan cepat. Lagi pula aku tidak perduli kalau kau sampai jadi gendut," Tawa Sasuke terlepas. "Sasuke!" Sakura yang mulanya cemberut segera bergabung dengan Sasuke tertawa.

"Kau terlihat lebih cantik saat kau tertawa, Sakura,"

Bluuusshh

"Berhenti menggodaku Sasuke!" muka Sakura sukses menjadi sewarna dengan buah kesukaan Sasuke, tomat.

"Hhh.. itu kenyataannya," Sasuke memeluk pundak kecil Sakura dan melanjutkan jalan-jalan mereka.

"Hihihi..." Sakura tertawa mendengus dan melingkarkan tangannya di pinggang Sasuke.

.

.

.

"Haaah... Haaah... "

Sasuke di tarik menuju bumi lagi, mimpi mengingatkannya lagi pada seorang gadis yang berada entah di mana. Peluh mengalir pada wajahnya. Iphone nya berdering tanda adanya panggilan masuk. Siapa yang menelepon pada pukul 2 pagi begini? Mengambil iPhone nya, sebuah nomor tidak dikenal.

"Halo?" dengan wajah yang masih kusut, Sasuke mendudukan tubuhnya di pinggir tempat tidur. Tidak ada jawaban dari seberang. "Ckk, haarrgh.." bergumam kesal.

"..-suke!" suara putus-putus terdengar di telinganya, Sasuke menunggu dan menajamkan pendengarannya.

"..Sasuke.." suara lirih yang ia kenal berhasil membuatnya terbangun sempurna.

"Sakura!"

.

.

.

Jangan pernah benci kegelapan

Jangan pernah takut akan kegelapan

Karena, ada kalanya

kegelapan itu bisa membantumu,

Membantumu untuk

Menyembunyikan kesedihanmu

To Be Continue

Nyiahaha, gimana readers? Need your comments and critics

Semoga berkenan

RnR, terima kasih *membungkuk*

3.05.2015- 16.17