Hullaaa.. lagi! Heheh, makasih banyak ya, para readers yang udah baca dan review di fic yang kemaren. Huuaa... aku terharu kalian mau membaca fic saya.. hik.. hikss.. #soknangis okay cukup bacotan ku, ini dia chapter 6...
#Previous
"Haaah... Haaah... "
Sasuke di tarik menuju bumi lagi, mimpi mengingatkannya lagi pada seorang gadis yang berada entah di mana. Peluh mengalir pada wajahnya. Iphone nya berdering tanda adanya panggilan masuk. Siapa yang menelepon pada pukul 2 pagi begini? Mengambil iPhone nya, sebuah nomor tidak dikenal.
"Halo?" dengan wajah yang masih kusut, Sasuke mendudukan tubuhnya di pinggir tempat tidur. Tidak ada jawaban dari seberang. "Ckk, haarrgh.." bergumam kesal.
"..-suke!" suara putus-putus terdengar di telinganya, Sasuke menunggu dan menajamkan pendengarannya.
"..Sasuke.." suara lirih yang ia kenal berhasil membuatnya terbangun sempurna.
"Sakura!"
"How Can I Move On?"
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : SasuSaku
Rated : T
Genre : Romance, Drama, Hurt/Comfort
Warning : Typo(s), Gaje, OOC, Cerita pasaran, Alur cepat dan sebagainya
.
.
.
Chapter 6
*Sakura POV*
Hari terlihat mulai menggelap, tidak ada penerangan di tempat aku terduduk sekarang ini. Semua gelap, kecuali... pada lantai dua gudang ini. Ada cahaya remang dari atas sana.
Aku masih dalam posisi tangan terikat di depan tubuh, kaki ku lemas dan hanya bisa terlipat rapat. Aku bersimpuh pada lantai marmer dingin kotor yang warnanya mulai memudar, hanya mengenakan kaus tipis ditambah angin malam yang berhembus di dalam gudang dari jendela-jendela besar di lantai dua yang kacanya pecah.
Aku tidak bisa menyangkal kalau tubuhku hampir mencapai batasnya, luka memar 'menempel' hampir di seluruh tubuh, tidak ada sedikitpun makanan yang masuk ke dalam tubuhku hingga saat ini. Semenjak aku di kunci di ruangan ini, tidak ada satu pun suruhan Neji terlihat.
Setiap angin berhembus, aku terus menerus mencium bau anyir darah. Pada akhirnya rasa penasaran menguasai diriku untuk mengetahui dari mana bau anyir ini berasal. Aku mengerahkan seluruh tenagaku untuk berdiri, aku berpegangan pada tembok beton disampingku dan berjalan –terseok- secara perlahan.
Angin masuk dari kaca jendela atas, jadi mungkin baunya berasal dari atas. Cahaya remang dari lantai dua menjadi penunjuk jalanku, aku berjalan sambil meraba tembok. Aku menaiki tangga kayu yang berdecit secara perlahan, ada sekitar belasan anak tangga yang ku jejaki untuk sampai di lantai dua.
Lantai dua terlihat lebih tidak terurus dari pada lantai satu. Banyak besi-besi berkarat yang berhamburan disini. Terdapat juga beberapa ruangan kosong yang cukup berdebu. Bau anyir makin menguat di lantai dua, aku terus mengikuti arah bau ini.
"..Hah! astaga!"
Jantungku serasa ingin meloncat keluar saat melihat ada seonggok jasad laki-laki yang tewas dengan luka cukup serius pada leher dan perutnya. Disekitarnya, ada genangan darah yang sudah mengering dan lampu minyak tua yang cahayanya ku lihat dari tadi. Wajah jasad in tidak bisa ku lihat sama sekali.
Aku mencoba mencari identitas milik jasad malang ini. Aku tidak menemukan apa-apa di kantung celananya, tapi menemukan sesuatu yang cukup mengejutkan. Pria ini tidak memiliki identitas, tapi ada handphone pada saku jaketnya. Tanpa pikir panjang, aku segera mengambil handphone dari jasad tersebut.
Aku segera mencari jendela yang terbuka lebar, dan mengetikan nomor yang terlintas di pikiran ku. Mataku menatap waspada kalau-kalau pintu terbuka. Tubuhku bergetar hebat sambil menunggu jawaban dari seberang telepon.
"Halo?" pikiran ku terpaku. Ternyata nomor Sasuke yang terlintas di pikiranku. Aku terdiam beberapa saat sampai Sasuke menggeram "Ckk, haarrgh.."
"Sasuke!... Sasuke?" aku setengah berteriak, takut dia menutup teleponnya.
"Sakura? Ya Tuhan, dimana kau?"
"a-aku tidak tahu ada dimana. Tolong aku Sasuke" bisik ku pada Sasuke.
"Sakura?" astaga, sinyalnya melemah, tidak.. tidak sekarang.
"Sasuke? Sasuke?" dan handphone yang ku pegang mati. Sial!
*Normal POV*
Mansion Uchiha yang beberapa menit lalu sunyi, seketika menjadi gaduh saat si bungsu Uchiha tersebut setengah berteriak membangunkan seluruh penghuni.
"Sasuke? Apa-apaan kau berteriak seperti itu?" Itachi keluar dari kamarnya dengan wajah yang tertekuk sebal.
"Itachi, Ah! Chouji, cepat hidupkan peralatan mu dan lacak nomor ini." Chouji yang baru terbangun hanya bisa mengiyakan perintah Sasuke.
"Sasuke, ada apa ini?" Itachi menuntut penjelasan atas kelakuan adiknya yang menyebabkan tidur malamnya terganggu.
"Sakura, dia menghubungiku dari nomor ini. Tapi belum sempat dia menjawab, sambungan teleponnya sudah terputus" Sasuke memberikan iPhone nya pada Itachi. "Chouji, ini nomornya, cepat lacak keberadaan nomor ini dan siapa pemiliknya." Itachi memberi perintah pada Chouji yang masih setengah mengantuk.
Chouji terus menerus mengetikan sesuatu pada laptopnya dengan gerakan yang cepat. Banyak data yang ia ketik namun tidak satu pun dari Sasuke dan Itachi yang mengerti hal tersebut dan hanya dapat memperhatikan.
"Chouji?" Pada akhirnya Chouji menekan tombol enter pada keyboard dan berhenti berkutat pada laptopnya. Ia menghadap duo Uchiha yang sudah menunggunya.
"Baiklah, pemilik nomor ini adalah Hidan, dia adalah salah satu dari daftar orang hilang yang pernah masuk ke kantor kejaksaan Sunagakure. Menurut sinyal terakhir, nomor ini berada di daerah Kirigakure," Chouji menyelesaikan penjelasannya.
"Kalau begitu kita tidak boleh membuang waktu lagi, Neji bisa saja bertindak lebih membahayakan bagi Sakura. Segera bawa barang yang harus kalian bawa dan kita bergegas ke pangkalan!" Itachi dan semua anak buah yang ada di mansion Uchiha segera bergegas.
.
.
.
Waktu masih menunjukan pukul 4 pagi tapi Itachi, Sasuke beserta orang-orang yang mereka bawa sudah sampai pada pangkalan terbang Konoha. Mereka mempersiapkan beberapa helikopter untuk mempercepat waktu penyelamatan Sakura. Pada pukul 4.30 seluruh helikopter segera terbang menuju daerah Kirigakure. Semua orang di helikopter sibuk dengan pikiran mereka masing-masing, tidak satupun membuka percakapan selama dua setengah jam perjalanan.
Pada pukul 7 pagi seluruh helikopter mendarat di pangkalan terbang Kirigakure dan semua penumpang bergegas menuju mobil yang sudah terparkir. Tanpa menghidupkan sirine, semua mobil melaju meninggalkan pangkalan terbang.
"Chouji, kau sudah dapat tempat pastinya?" Itachi yang duduk di kursi belakang menginterupsi Chouji yang asik makan. "Ahaha, iya Itachi. Tempat yang kita tuju ini dulunya adalah sebuah pertanian. Jadi letaknya ada di sekitar perbukitan utara Kirigakure. Sekitar setengah jam perjalanan,"
"Baiklah, Kankuro informasikan pada mobil di belakang arah dan tujuan kita," titah Itachi yang dibalas anggukan singkat kankuro. "Sasuke, kau tidak apa-apa?" Itachi menyadarkan lamunan adiknya.
"Entahlah, perasaanku tidak karuan saat ini." Usai berkata demikian Sasuke kembali melamun menatap jendela mobil.
.
.
.
"Saki, bagaimana tidurmu? Apa nyenyak?" Neji beserta beberapa anak buahnya masuk ke ruangan yang Sakura tempati. Sakura yang terkejut hanya bisa menatap penuh waspada pada orang-orang bertubuh besar yang baru saja masuk. Handphone yang ia pakai untuk menghubungi Sasuke sudah ia lenyapkan, tidak mau ambil resiko Neji mengetahuinya.
"A-apa mau mu?" suara serak yang bergetar itulah yang Sakura bisa keluarkan.
"Hahaha... tidak, aku hanya baru teringat kalau kau belum makan selama hampir dua hari bukan? Maka aku membawakan mu makanan," Neji mengambil makanan dan hendak menyuapi Sakura. Sakura merasa enggan untuk memakannya, kepalanya ia tarik mundur saat sendok berisi makanan hendak memasuki mulutnya.
"Ayo makan!" Neji hendak memaksakan untuk membuat Sakura makan tapi Sakura kembali menolak, dan akhirnya Sakura mendorong makanan yang Neji bawa sampai akhirnya makanan tersebut tumpah.
Pllaakk
Plaaakkk
"Arghh..." dua tamparan keras dari Neji berhasil membuat Sakura ambruk ke tanah "Gadis bodoh! Sudah untung kau diberi makan, tapi ini balasan mu? Akan ku pastikan kau tidak akan pernah mendapatkan makanan lagi!" dan perlahan kesadaran Sakura menipis dan akhirnya hilang.
.
.
.
Setelah menempuh setengah jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di perbukitan utara Kirigakure. Semua mobil berhenti agak jauh dari sebuah bangunan besar yang sudah terlihat reok dan hampir rubuh. "Kau yakin ini tempatnya Chouji?" Sasuke menatap pada bangunan tua dihadapannya.
"Yaa Sasuke, sinyalnya berakhir disini. Sinyalnya sangat lemah tapi stabil dan inilah tempatnya."
Bangunan tua itu dikelilingi oleh padang rumput ilalang yang cukup tinggi. Tidak ada pedesaan atau rumah-rumah penduduk disekitarnya. Tempat ini sangat terisolasi dari kehidupan luar jauh dari jalan raya dan bisa jadi hanya sedikit orang yang mengetahui tempat ini. Ada pagar kawat duri mengelilingi bangunan tua tersebut.
Itachi masih sibuk menyusun strategi dengan timnya. Sedangkan Sasuke enggan untuk mendengarkan dan terfokus memperhatikan bangunan tua di hadapannya.
"...ya, itulah rencananya. Sekarang cepat menyebar. Ah ya! Kankuro, tolong hubungi panti kejiwaan dan juga ambulans untuk bersiaga di sekitar sini." Itachi menyerukan perintahnya pada Kankuro.
Semua orang yang telah terbagi menurut tugasnya segera berlari mendekati gedung tua dan beberapa ada yang menyelinap ke belakang gedung termasuk Sasuke. Tidak ada penjagaan yang ketat pada gedung tua yang terbilang cukup luas itu.
.
.
.
"lihatlah dirimu Sakura, walaupun banyak luka dan lebam, kau tetap terlihat cantik saat tertidur" Neji mengelus wajah lebam Sakura yang tertidur –pingsan- ia memperhatikan Sakura dengan penuh perhatian. Meneliti tiap inchinya secara mendetail. "Kau mirip dengan Hinata,"
"ahh, ibiki, pindahkan gadis ini ke ruang tidur diatas. Aku tidak mau dia sakit, karena tidur di lantai" Neji memerintah sambil bangkit berdiri dan berjalan keluar. Belum jauh keluar, salah seorang anak buah Neji berlari dengan wajah yang pucat kearahnya. "Neji! Neji! Gawat!"
"Apa-apaan kau?! Cepat katakan," Neji menuntut. "Polisi! Ada polisi di luar. Mereka sedang menyerbu gudang atas. Dan bisa jadi akan ke sini," Neji yang mendengarnya malah tersenyum misterius.
"Benarkah? Hhh.. biarkan mereka, kalaupun mereka kesini, biarkan saja." Anak buah Neji yang mendengarnya hanya bisa bingung dengan ucapan bosnya. Neji sendiri segera pergi dari gudang tua tersebut.
.
.
"Sasuke, kau mau kemana?" Kankuro bertanya saat Sasuke berjalan ke arah yang berbeda. "entahlah, semua orang terfokus pada daerah ini. Aku ingin mencari disekitar sana," Sasuke berucap sambil berjalan.
Sasuke terus berjalan dengan dampingan Kankuro dan seorang polisi. "Aku tidak tahu kalau masih ada bangunan tua disini," Kankuro merasa heran dengan sebuah gedung tua yang ia lihat. "mungkin sebaiknya kita mengecek ke dalam ta-.." tanpa basa-basi Sasuke segera berlari menuju gedung tua tersebut.
Pintu yang hendak ia buka rupanya setengah tergembok, Sasuke pun langsung masuk ke dalam gudang tua itu.
"Wow, kau sampai dengan cepat Uchiha," suara pria bergema di ruangan bekas gudang yang berukuran luas.
Brak.
Pintu ruangan tersebut seketika tertutup.
"Neji, keluarlah!" Sasuke menggeram marah.
Dan sekejap, sesosok pria jangkung dengan jeans dan jaket hitam panjangnya keluar dari balik tumpukan tinggi jerami.
"Kau tidak perlu memerintahku, dasar pembunuh!" Neji yang berjarak agak jauh dari Sasuke, spontan berlari hendak meninju Sasuke yang langsung menghindar dan justru meninju balik Neji. Melayangkan tinju satu sama lain, menghindar dan jatuh terduduk. Keduanya mendapat memar di wajah masing-masing.
"Neji, haahh.. dimana Sakura?" Sasuke mencoba berkomunikasi.
"Dia mati," dengan santainya Neji berkata sambil mencoba untuk berdiri namun gagal.
"Tidak! Dia tidak akan mati, kau gila!" Sasuke berteriak frustasi "Sakuraa! Sakura!" Sasuke memanggil dengan suara lantang yang bercampur kekhawatiran.
"Hahahaha.. bagaimana rasanya hah!? Melihat orang yang paling kau sayangi mati? Penyiksaan inilah yang ku alami selama bertahun-tahun, KARENA MU UCHIHA SASUKE!" Neji menjerit keras. "Karena kau, adikku Hinata mati! Karena kau!" Neji kehilangan konsentrasinya, segera Sasuke menghampiri Neji dan menghajarnya.
*Sakura POV*
"... KARENA MU UCHIHA SASUKE!" suara jeritan Neji memebangunkan ku. Sasuke ada disini, dia sampai! Dengan sisa tenagaku, aku mencoba berdiri. Menggapai pintu dan berusaha berlari keluar.
"Cepat Sakura!" aku meneriaki diriku. Dari lantai dua ini aku bisa melihat Sasuke meninju Neji berkali-kali, dengan cepat aku berlari menuruni tangga tua.
"Sasuke cukup!" aku berteriak dengan nafas yang tersisa, nyaris saja terjatuh kalau tidak berpegangan pada tembok. Sasuke berhenti meninju Neji. Tepat waktu Sakura.
"Sakura!?" Sasuke berjalan menghampiri ku. Lengah, Neji menarik kakinya dan ototmatis Sasuke terjatuh dengan dagu membentur lantai. "Akh! Kau!" Sasuke bangun dengan amarah yang meluap-luap. Menarik Neji dan mendudukinya.
Bugh
"Karena kau berani menyentuh Sakura!" tinjuan pertama dilayangkan Sasuke pada Neji.
'Sasuke, jangan!' tenaga ku terkuras untuk berlari, bahkan suaraku seperti menghilang.
Bugh
"Karena kau melukai Sakura!" tinjuan kedua membuat Neji lemas.
Sasuke segera bangkit berdiri, berlari menghampiri ku yang sudah jatuh terduduk lemah. Tampilan Sasuke sangat berantakan, rambut biru dongker yang tidak tersisir, kantung mata yang tebal menggantung dibawah mata onyxnya, baju yang nyaris robek. Wajahnya penuh lebam dan darah keluar dari sudut bibir dan dagunya.
"Ya Tuhan, dia benar-benar gila," garis rahangnya menegas, dia membelai pipiku yang lebam.
"Sasuke," aku balas membelainya, menyentuh garis rahang yang menegas. Dia memeluk ku erat. Terima kasih Kami-sama.
"Sasuukke! Aku belum selesai dengan mu, pembunuh!" Neji masih sanggup berdiri. Astaga, dia terlihat sangat gila.
"Errrghh, sudah ku bilang aku bukan pembunuh!" Sasuke berjalan menuju Neji. "Ku ingatkan, Hinata meninggal karena kanker hati kronis yang di deritanya." Sasuke lebih mendekat pada Neji.
Neji yang terduduk secara tiba-tiba bangkit, meninju Sasuke dan berlari ke arahku.
Sial, kakiku mati rasa. Aku tidak bisa menghindar. Neji menarikku, mencengkram leherku dengan sikunya. Dan menodongkan pistol padaku. Dia terus menerus mundur saat Sasuke akan mendekatiku. Astaga!
"Berani mendekat, aku akan membunuh gadis yang kau sayangi ini Sasuke." Neji mengancam
"Aakh," sambil mengancam Neji terus mencengkram leherku. Sasuke terlihat sangat bingung harus apa. Matanya terus menatapku dan Neji secara bergantian.
"Sasuke!"beberapa polisi dan Itachi-nii memasuki ruangan. Mereka terkejut melihat posisiku saat ini.
"Neji! Lepaskan Sakura!" Itachi-nii berteriak.
"Siapa kau berani-beraninya memerintahku! Aku akan membunuhnnya kalau kau terus memerintahku." Neji makin mendekatkan pistol kepada ku.
'Apa yang bisa ku lakukan, oh ayolah Sakura berpikirlah, ayah mu adalah mantan tentara. Pikirkan hal yang pernah ia ajarkan untukmu!'
Secara perlahan, aku mengelus tangan Neji, mendekati jarinya. Neji tidak menyadarinya jadi, aku mulai menyentuh bagian pistol dan mencengkram moncong pistol untuk mengambil alih pistol dari tangan Neji.
Sekilas aku teringat pelajaran taekwondo yang pernah ku pelajari beberapa tahun lalu. Kedua tanganku mengunci tangan kanan Neji yang menodongkan revolver padaku dan secara cepat aku memebalikan sekaligus membanting Neji kedepan. Melemparnya dengan kasar ke lantai, dan mengambil pistol dari tangannya. Huh! Jiwa taekwondo ku masih membara rupanya. Terima kasih guru Gay.
Bough
Tapi aku lengah, Neji menendang tepat mengenai rusuk ku, dan membuatku membentur tembok lalu mengahantam tanah dengan sangat keras.
Dooorr
"Akh" suara jeritan Neji bergema di telinga ku
Sepertinya aku berhasil menembak daerah kakinya.
"... Sakurraa!.." Sasuke berteriak memanggilku, dan keadaan disekitarku menjadi ramai. Namun secara perlahan, kesadaranku memudar.
"Brengsek!" Sasuke terdengar akan mengamuk.
"Sasuke sudah! Cepat bawa Sakura keluar! Ada ambulannce..." suara Itachi hilang. Tapi aku masih bisa merasakan kalau Sasuke mengangkatku ke pelukannya, dan dia berjalan cepat. Aroma tubuhnya masuk ke indra penciumanku.
"...Sakura, kumohon bertahanlah.." suara Sasuke lagi, tapi sekarang ada suara sirine ambulans yang menemani.
'Aku akan bertahan, Sasuke.' Dan kesadaranku sepenuhnya menghilang digantikan kegelapan.
.
.
.
Kau baru akan menyadari
Seberapa penting seseorang bagimu
Saat orang itu telah pergi darimu
To Be Continue
Yaa.. itulah chapter 6 nya guys. Mohon review nya.
Oh iya, chapter selanjutnya kemungkinan adalah endingnya. Gimana menurut kalian? Ada yang mau kasih saran buat ending? Saya open minded kok hihi..
Terima kasih readers,
