Hai readers, Ran muncul lagi, kali ini Ran update chapter akhir dari fic. How Can I Move On?
So, happy reading!
#Previous
Tapi aku lengah, Neji menendang tepat mengenai rusuk ku, dan membuatku membentur tembok lalu mengahantam tanah dengan sangat keras.
Dooorr
"Akh" suara jeritan Neji bergema di telinga ku
Sepertinya aku berhasil menembak daerah kakinya.
"... Sakurraa!.." Sasuke berteriak memanggilku. "Brengsek!" dia akan mengamuk.
"Sasuke sudah! Cepat bawa Sakura keluar! Ada ambulannce..." suara Itachi hilang. Aku masih bisa merasakan kalau Sasuke mengangkatku ke pelukannya, dan dia berjalan cepat. Aroma tubuhnya masuk ke indra penciumanku.
"...Sakura, kumohon bertahanlah.." suara Sasuke lagi, tapi sekarang ada suara sirine ambulans yang menemani.
'Aku akan bertahan, Sasuke.' Dan kesadaranku sepenuhnya menghilang digantikan kegelapan.
"How Can I Move On?"
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : SasuSaku
Rated : T
Genre : Romance, Drama, Hurt/Comfort
Warning : Typo(s), Gaje, OOC, Cerita pasaran, Alur cepat dan sebagainya
.
.
.
Chapter 7
*Sakura POV*
"... ya Tuhan, puteriku!" suara ibu yang berteriak histeris masuk indra pendengaranku. "Mebuki, tenangkan dirimu" ayah! Ada ibu dan ayah disini.
"Saaakuuraa.." ibu masih berteriak histeris sambil menangis. "Mebuki, lebih baik kita keluar," dan aku tidak mendengar suara mereka lagi.
Ada apa denganku? Sekujur tubuhku menyeri. Aku tidak bisa menggerakan tubuhku, dan aku yakin sekarang aku terbaring di rumah sakit, karena bau obat cukup menusuk penciumanku.
Aku rileks, dan ketidaksadaran menguasaiku sekali lagi, merenggutku menjauh dari rasa sakit.
"...aku ini memang kakak yang buruk ya Sakura?..." samar-samar suara Sasori-nii berbicara terdengar oleh ku. Kau adalah kakak terbaik yang pernah ada. Ingin sekali aku memeluk Sasori-nii tapi tidak bisa.
Kabut mulai menyelimuti. Kabut mulai memudar namun aku tak memiliki orientasi waktu.
"Hiks.. jidat, ayo bangun. Kenapa kau jadi pemalas begini sih, hiks..." Astaga, Ino menangis! Yamanaka Ino menangis. Ingin ku abadikan momen ini rasanya. Tidak- tapi, selaput hitam menghalangiku untuk bangun.
".. Lihat dirimu! Ayo kita pulang!.." suara Fugaku-jiisan bergema di telingaku.
"Aku tidak mau pulang ayah," Oh, Sasuke,
"...Sudahlah Fugaku, biarkan dia.." Mikoto-baasan menenangkan suami nya.
Aku hanya bisa mendengar samar-samar, suara semua orang yang datang untuk melihatku. Aku ingin bangun tapi, seluruh badanku tidak bisa di ajak bekerja sama. Dan akan selalu ada selaput hitam yang membuatku terlelap lagi. Apa yang terjadi padaku?
"...kenapa belum sadar juga!?" Sasuke memarahi siapa?
"Sasuke, dia tengah koma. Rusuknya memar, dan ia mengalami retak sebesar seutas rambut di tengkoraknya, tapi gejala vitalnya stabil dan kuat. Butuh waktu agar dia bisa sadar" Tsunade-sensei yang Sasuke marahi rupanya.
"Berapa lama? Aku tidak bisa..." ohh kesadaranku mulai memudar lagi, jangan sekarang aku harus mendengarnya.
"Sakura mengalami banyak luka, baik psikis juga mental. Dia juga mengalami luka memar yang cukup parah dikepalanya. Tapi aktifitas otaknya normal, dan ia tidak mengalami pembengkakkan otak. Dia akan bangun ketika ia siap, Sasuke..."
Semuanya sangat berat dan nyeri: tungkai, kepala, kelopak mata, tak ada yang mau bergerak. Mata dan mulutku tertutup, tak ingin membuka, membuatku buta dan bisu dan kesakitan. Ketika aku muncul dari kabut, kesadaran mengambang, sirine yang menggiurkan namun jauh dari rengkuhan. Bunyi berubah menjadi suara.
"...Hey, Saki. Jadi ini hobi terbaru mu hah?" suara Sasuke samar-samar ku dengar. Hmm. Dagunya menggores lembut di punggung tanganku ketika ia meremas jemariku.
"Aku lebih suka kau mengabaikan ku karena hobi mu nonton film, atau karena membaca, atau karena mendengarkan musik. Dibandingkan, kau tertidur panjang seperti ini. Aku benci hobi baru mu ini. 'Ku mohon sadarlah," Aku melawan kabut ini...melawan...Tapi itu membawaku sekali lagi ke dalam ketidaksadaran. Tidak...
Aku merasakan tenggorokanku yang kering, berapa lama aku tidak minum? Ini sangat mengganggu ku. Aku haus! Dengan penuh perjuangan, aku mencoba membuka mata tapi gagal. Haah! Aku benar-benar haus saat ini. Aku mencoba dan terus mencoba.
Dan aku berhasil membuka mataku. Aku berada dalam lingkungan kamar di rumah sakit yang bersih dan steril. Ruangan ini hanya diterangi oleh sebuah lampu tidur, dan semuanya hening. Kepalaku dan dadaku nyeri, tapi selain itu, tenggorokan ku terasa sakit. Aku harus minum.
Aku mencoba anggota badanku. Lengan kananku merespon, dan aku menyadari IV yang terpasang di bagian dalam sikuku, jarum infus tertanam pada punggung tangan kiriku. Ada alat bantu pernapasan juga yang menutupi dari dagu sampai hidungku. Aku menutup mataku dengan cepat. Memutar kepalaku—aku bersyukur karena kepalaku merespon apa yang aku inginkan—aku membuka mataku lagi.
Kamar ini sangat luas, ada kamar mandi beberapa sofa yang tersusun rapih. LCD plasma tergantung di dinding depan ku. Banyak bingkisan dan bunga bertebaran diatas sofa tersebut. Pasti banyak orang yang mengunjungi ku saat koma. Mata ku terus menjelajahi seluruh ruangan yang ku perkirakan jenis VVIP ini, sampai akhirnya mataku terkunci pada sosok pemuda yang tertidur.
Ya Tuhan, Sasuke disamping kananku memegang tanganku, dan dia tertidur sangat nyenyak dengan wajah yang menghadapku. Sepertinya dia tidak berganti pakaian, rambutnya sangat berantakan, ditambah adanya plester yang menutupi sudut bibir dan dagunya bahkan tangannya juga di perban. Kantung mata yang cukup kentara masih menggantung dibawah kelopak matanya yang tertutup.
Suara dengkuran halus darinya menandakan bahwa ia sangat kelelahan. Kapan terakhir dia istirahat?
*Normal POV*
"H-hey, bangun," suara Sakura nyaris seperti sebuah cicitan anak ayam pada induknya, sangat kecil dan lemah. Tangan lemahnya menggapai rambut Sasuke dan mengusapnya secara perlahan. Dari usapan tersebut Sasuke mulai bergerak, Sakura memperhatikan Sasuke yang mulai menggeliat dari tidurnya dengan seksama. Sepasang onyx menampakan dirinya, menatap balik emerald yang ada di hadapannya. Bertatapan lama dan Sasuke mengangkat kepalanya dan menampilkan sebuah senyum kelegaan pada bibirnya.
"Hai," Sakura menyapa dengan suara yang parau.
"Hai," Sasuke menatap Sakura dengan penuh rasa kelegaan dan kekhawatiran.
"Aku benci hobi baruku ini, Sasuke" Sakura mencoba mencairkan kekhawatiran Sasuke. "Kau bisa mendengarnya?" sebuah dengusan geli keluar, dan Onyx nya perlahan menjadi santai. "Yaa, dengan jelas." Sakura menjawab dengan suara gurauan.
"Karena itu kau sadar?" Sasuke menanggapi guaruan Sakura.
"Tidak juga, aku merasa sangat haus makanya aku sadar," Sasuke tersenyum dan langsung berdiri mengambil teko air yang terletak di meja kayu di dekatnya dan menuangkan air ke dalam gelas.
Sasuke mendudukan Sakura secara perlahan, membuka masker oksigen dan memberi Sakura minum. Lalu Sasuke menekan tombol diatas kepala Sakura. Tak lama, seorang suster jaga masuk. "Sakura! Kau sudah sadar, aku akan memanggil Tsunade-sensei" suster yang bernama Shizune itu segera berlari keluar untuk memanggil Tsunade.
"Berapa lama aku koma?" Sakura bertanya antusias seusainya meneguk habis air minuman nya.
"Sekitar lima hari," jawab Sasuke singkat.
"Wow, itu adalah rekor terpanjang ku untuk tidur," Sakura tersenyum lemah. "Tapi aku benci saat kau tertidur sangat lama seperti tadi. Itu seperti.. entahlah, hanya saja membuatku tidak tenang, sangat tidak tenang." Sasuke mengecup kening Sakura yang tertutup dengan perban.
"Sakura! Tak ku sangka kau bisa lebih cepat sadar dari perkiraan ku," Tsunade, dokter yang telah berumur empat puluh tahunan bersama Shizune berjalan masuk menuju kamar Sakura. Tsunade tampak sangat lega, dia tersenyum sampai senyumannya menyentuh mata.
"Sensei, berapa lama perkiraan mu untuk aku bangun dari koma, memangnya?" Tsunade segera mengeluarkan stetoskopnya dan memeriksa detak jantung Sakura pada tangan kanannya. Shizune menyalakan lampu ruangan.
"Well, kalau dilihat dari luka memar dan luka dalam yang kau derita, perkiraanku sekitar sebulan," Tsunade berkata santai, tidak menyadari death glare dari bungsu Uchiha dibelakangnya.
"Hah! Sensei ini," Sakura menanggapi ucapan Tsunade dengan merotasikan mata nya. Sementara Tsunade mengecek syaraf mata Sakura, Shizune memeriksa tekanan darah Sakura.
"Ak-akh!" Sakura berteriak saat Tsunade menekan rusuknya. "Yaa, frekuensi detak jantung mu membaik, syaraf mata juga berfungsi dengan baik. Luka pada rusuk mu, untung saja tidak terlalu dalam, kalau tidak rusukmu bisa retak. Tendangan dari Neji bisa saja membunuh mu, kau tahu?" Tsunade menjeda penjelasannya.
"Yaa, tekanan darah mu masih terlalu rendah. Kau harus banyak memakan makanan dan beristirahat, tubuhmu kehilangan cukup banyak energi. Kau juga kehilangan berat badan mu. Luka di kepalamu tidak terlalu serius. Dan hey Uchiha, sebegitu kah Neji membenci mu sampai-sampai murid kesayangan ku dia siksa dengan parah nya begini hah!?" belum selesai penjelasannya, Tsunade segera berbalik menatap Sasuke yang juga menatap nya dengan tatapan kau-tahu-kan-kalau-dia-itu-gila.
"Haaah..sensei, selesaikan dulu penjelasan mu," Sakura mendesah pasrah.
"Yaya, kau harus banyak istirahat Sakura. Itu saja yang ingin ku sampaikan. Besok pagi kau akan mulai minum obat untuk luka dalam pada rusuk mu itu. Okay?" Tsunade mengelus rambut pink Sakura, dan segera pergi keluar dari ruang rawat inap Sakura.
"Hey, kenapa kau tidak pulang hem? Kau bisa sakit juga" nada Sakura berganti menjadi suara yang khawatir. Sasuke mendudukan dirinya di samping Sakura lagi.
"Aku tidak mau meninggalkan mu sendiri lagi. Lagi pula aku juga harus menjadi orang pertama yang ada di hadapan mu ketika kau bangun," jelas Sasuke sambil menangkup tangan Sakura.
"Hehh.. oh ya, lalu Neji bagaimana?"
"Aku tidak tahu, Itachi tidak membiarkan ku untuk mengetahui keberadaan Neji. Dia takut aku membunuhnya," Sasuke menjawab jujur. "Itachi melakukan hal yang benar kalau begitu, saat aku melihat mu meninju Neji habis-habisan kau seperti singa yang mengamuk, kau tahu? Hehehe"Sakura tersenyum.
"Singa hanya akan mengamuk saat ada yang mengganggunya terlebih mengambil apa yang menjadi miliknya yang paling ia sayangi. Jadi wajar bukan kalau aku mengamuk?" mereka saling menatap beberapa saat.
"hey, stop menatap ku!" Sasuke menaikan selimut untuk menutupi Sakura.
"Kenapa? Aku suka menatap mata mu, itu seperti menyelam memasuki dunia yang lain bagi ku"
"tapi untuk ku saat kau menatap mata ku, aku jadi ingin mencium mu kau tahu!?" Sakura terbelalak medengar ucapan Sasuke barusan.
"Astaga! Aku tak menyangka kalau kau itu ternyata mesum! Hiihh.. sana-sana" Sakura berpura-pura mengusir Sasuke.
"Kau yakin mau mengusir ku?" Sasuke menggoda. "Hey! Sejak kapan kau jadi suka menggoda ku hah!?" Sakura menghadapkan tubuhnya pada Sasuke. Keheningan terjadi beberapa saat. "tidak, kau tidak boleh pergi Uchiha Sasuke." Sakura menarik tangan Sasuke dan memeluknya posesif.
"Aku bahkan tidak pernah berpikir melakukan itu," Sasuke pun menidurkan kepalanya disamping Sakura.
.
.
.
"Kau sudah makan obatmu?" Sasuke dan Sakura tengah berada di atap mansion Uchiha. Tsunade telah memperbolehkan Sakura pulang dari seminggu yang lalu tapi, pengobatan tetap harus Sakura lakukan karena kondisi fisiknya belum pulih sempurna.
"Sudah, berapa kali lagi kau harus bertanya sih?" Sakura merenggut kesal karena Sasuke terus-menerus bertanya. "jangan memanyunkan bibir mu seperti itu, aku hanya tidak mau kau sakit lagi," Sasuke berucap sambil mengacak-acak rambut Sakura yang tergerai. Sakura makin merenggut saat Sasuke mengusilinya.
"Hey, Sasuke,"
"Hn?" keduanya duduk bersebelahan dengan kaki diselonjor santai, sambil menunggu matahari terbit.
"Emm, apa status kita?" Sakura mengalihkan pandangannya seusai bertanya. Sasuke hanya bisa menatap kosong ke depan saat mendengar pertanyaan Sakura. "Well, aku teringat tentang ucapanku padamu sewaktu latihan wisuda itu. Kau masih ingat?" Sasuke masih terdiam, terlalu bingung apa yang harus dia katakan.
"Sasuke?" Sakura menuntut jawaban, karena setelah penyelamatan hingga sekarang baik Sasuke dan Sakura tidak membahas tentang status mereka.
'Lupakan tentang kita, lupakan kita pernah bersama. Lupakan tentang aku. Jangan pedulikan aku lagi. Jalani kehidupanmu, dan move on,'
Perkataan Sakura kembali terngiang, hening masih menyelimuti keduanya.
"Yaa, jujur, kata-kata mu saat itu sangat menyakitkan," Sasuke memutar arah duduknya menghadap Sakura dengan kaki bersila.
"Itu kan karena kau yang memutuskan ku tanpa alasan yang jelas, ditambah lagi aku baru bertemu dengan mu setelah hampir tiga minggu. Maaf," Sakura tidak berani untuk menatap bungsu Uchiha di hadapannya.
Sasuke memegang dagu Sakura dan mengangkatnya sehingga wajah Sakura tepat menghadapnya. "lihat aku. Aku tidak mungkin bisa melupakanmu, tidak akan mungkin itu terjadi." Sakura menatap pemuda di hadapannya
"Melupakan tentangmu yang ada di hidupku selama hampir dua tahun ini? Itu adalah hal paling mustahil yang pernah ku dengar. Tidak memperdulikan kamu sama saja tidak pernah menganggap mu ada di hidupku. Dan aku tidak akan mungkin bisa menjalani kehidupanku selanjutnya tanpamu, Sakura" Sakura sukses di buat menganga oleh Sasuke.
"Ka-kau," Sakura tidak bisa mengeluarkan kata-kata.
"How can i move on, when i'm still in love with you, Sakura?"
"A-ap-apa?" Sakura gagal memproses ucapan Sasuke, 'Astaga,' Sakura hanya bisa menatap tidak percaya pada Sasuke, pada apa yang ia katakan tepatnya.
"Bagaimana aku melanjutkan hidupku tanpamu, kalau aku masih mencintaimu, Haruno Sakura?" air mata pun terjun bebas dari sepasang emerald yang masih menatap tidak percaya. "Aku minta maaf atas keegoisanku dan aku tidak mau kita berpisah," Sakura memeluk Sasuke yang telah mengakhiri ucapannya.
"Aku bahkan tidak pernah berpikir ingin berpisah darimu," Sasuke menatap Sakura, menghapus air mata yang membajiri pipinya, dan mencium Sakura dengan lembut. "kau sangat menyebalkan. Sikap mu saja yang dingin, tapi saat kau berbicara, ya Tuhan," Sakura tidak dapat menjelaskan seberapa hebat keahlian menggombal pria dihadapannya.
.
.
"Sasuke!" seorang gadis yang telah memakai gaun pesta sebatas lutut, berlari menghgampiri kekasihnya yang berdiri menunggu di pintu masuk kampus dengan setelan jas berwarna hitam.
"Hey, awas terpleset. Bisa-bisa wajahmu terbentur lantai," Pacarnya mengingatkan. "Hehehe.. iya-iya." Sakura tersenyum membuat pacarnya, Sasuke ikut tersenyum –menyeringai-
"Heeyy, dokter, eksmud! Lihat ke sini!"
Cllick
Kilatan flash kamera mengenai Sasuke dan Sakura. "Yap, bagus sekali. Ini akan jadi cover majalah kampus. Juga untuk buku tahunan. Terima kasih kalian!" setelah mengambil gambar Sasuke dan Sakura, Sai –pacar Ino- segera pergi menuju kerumunan mahasiswa di aula kampus.
"Baiklah, ini tahun terakhir kita untuk prom night di kampus. Ayo, tidak boleh menyia-nyiakannya." Sakura menarik Sasuke untuk berjalan.
"Yaa, tahun terakhir juga sebelum kau menjadi nyonya Uchiha." Seketika Sakura membeku di tempat "Ayolah, Uchiha Sakura," Sasuke menggoda.
"Sasuke! Berhenti menggoda ku!" Sakura berteriak pada Sasuke yang menampilkan seringai tampannya saat melihat ekspresi Sakura.
Percayalah,
Semua orang disekitar mu
Diciptakan untuk sebuah alasan
Entah itu alasan yang baik, atau buruk
Tapi yang terpenting nikmati hidupmu
Karena hidup hanya sekali
THE END
.
.
.
Well, hulla! And this is it, gimana menurut kalian endingnya? Apa memuaskan? Yaa, saya harap memuaskan.
Fic ini banyak terinspirasi mulai dari novel, film, dan di beberapa scene ada cerita cinta sahabat saya dan masih banyak lagi. Saya gak percaya awalnya, banyak yang ngereview dan sebagainya. Tapi, dari review kalian para readers, saya bisa menyelesaikan fic ini.
My special thanks
GOD
Hanazono yuri, NikeLagi, suket alang alang, mantika mochi, zhoomima, marukocan, joanamandela, Star Dash, Jeremy Liaz Toner, Akiko asami, ayy1090, kyuaiioe, RovieUS, , Shizu F, Uchiha Erika, Jeremy Liaz Toner, Ray Uc, Shizu F, dan banyak lagi yang gak log in..
Banyak banget hiks hiks.. makasih banyak kalian semua. Maaf gak saya saya balesin reviewnya, buat saran dan review yang kalian kasih, saya hargai banget. Makasih juga buat angel, yang kisah cintanya dimuat di fic saya. Ade yang bertugas jadi editor buat fic ini. Yang nge-fav, nge-follow ahhh, semuanya!
Terima kasih banyak *membungkuk pada semua readers*
