LeChi's project proudly presents
.
.
.
CAFEIN for CAFEE: Everyday
.
.
.
Kuroko no Basuke (c) Fujimaki Tadatoshi
Kuroko no Basket milik Fujimaki Tadatoshi. Kami tidak mengeruk keuntungan materil atau komersil sama sekali dalam membuat fanfiksi bersama ini.
Senam Lantai
Latihan Khusus (c) Baka Ikemen
.
.
.
Di ruangan gim itu hanya terdengar suara Furihata yang terengah-engah dengan posisi badan terlentang di atas matras. Ia kini merasakan penderitaan anak kelas 1 yang diajari sensei yang baru beberapa bulan mengajar.
"Cih, ulangi," perintah Akashi-sensei.
Ia hanya bisa menurut. Serius, jika Akashi-sensei-nya itu seperti Kuroko-sensei dia pasti akan kabur dari latihan ini dan mendapatkan nilai pas-pasan.
BRUK!
Lagi-lagi dirinya gagal, bahkan sangat gagal. Kedua tangannya yang seharusnya menumpu badannya beberapa detik saja langsung lemas dan membuat dirinya jatuh.
Hei! Dia sudah mengulanginya lebih dari 50 kali dan gagal. Walaupun, sudah dengan bantuan tangan Akashi-sensei yang memegang kedua kakinya.
"Jika kau tak bisa melakukannya. Nilai milikmu pasti akan dibawah KKM," ucap Akashi-sensei sadis.
'Ya, benar! Aku tidak akan bisa melakukannya jadi bebaskan aku dari latihan ini,' teriak pilu hati Furihata, berdoa supaya Akashi-sensei-nya menyerah melatihnya. Nilainya di bawah KKM juga tak masalah!
Tapi bukan Akashi namanya kalau dia menyerah, dia pasti akan membuat nilai muridnya ini sempurna, bahkan melebihi Kagami yang notabenya jago olahraga. Lagipula sebelum berhenti dia sudah membuat target khusus, pokoknya hari ini dia sudah harus bisa mengrepe-grepe muridnya itu!
"Baiklah, kau bisa menganti gerakan merodamu dengan kayang dan sikap lilin," putus Akashi akhirnya. Well, kalian pasti sudah tahu apa yang di dalam pikiran Akashi-sensei, bukan?
"Bukankah itu gerakan untuk anak perempuan?"Furihata bertanya bingung, mengingat daftar gerakan untuk para siswa perempuan.
"Tak masalah jika kau melakukan kedua gerakan itu dan bertahan lebih lama."
Saat ini juga Furihata ingin mengutuk sensei-nya itu. Kalau bisa seperti itu kenapa tidak menyuruhnya dari tadi? Apa dia tak tahu bahwa sekujur tubuhnya itu sakit? Apa dia tak punya rasa manusiawi sedikit pun?
"Kita mulai dari kayang," perintah Akashi-sensei.
"Ha'i."
Dia berdiri ditengah-tengah matras dan dengan mudahnya melakukan gerakkan kayang.
"Kurang tinggi, dan telapak tanganmu terbalik," koreksi Akashi.
Furihata langsung membetulkan letak telapak tangannya dan mencoba meninggikan badannya.
GREP!
Kedua tangan Akashi-sensei memeluk pinggang Furihata dan mengangkat badannya.
"Jangan buat space yang lebar, masukkan kepalamu," intruskinya tenang, tangannya masih memeluk pinggang Furihata.
"Ha-Ha'i."
"... 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20."
Akashi-sensei menghitung, yang entah mengapa menurut Furihata sangat lambat. Tepat didetik ke-20 Akashi melepaskan pegangan tangannya dan Furihata langsung jatuh diatas matras yang kurang empuk itu.
"Baiklah, sekarang sikap lilin."
Furihata langsung tiduran terlentang dan mengangkat kedua kakinya.
GREP!
Kedua pantat Furihata dipegang dengan sedikit diremas oleh Akashi-sensei dan dinaikkan keatas. Furihata yang terkejut atas gerakan tiba-tiba dari sensei-nya itu, tak sengaja kedua kakinya jatuh diatas kedua pundak Akashi.
Oke, kini posisi mereka ambigu.
"Kau harus mengangkat pantatmu, jika seperti tadi keponakanku waktu TK juga bisa," ucap Akashi-senseitanpa rasa peduli. Seandainya Furihata tahu kalau sensei-nya ini ingin menerkamnya sekarang juga, tapi Akashi tidak ingin disamakan dengan Aomine—anak kelas 1 yang berani melakukan yang 'iya-iya' dengan kakak kelasnya.
Akashi-sensei pun dengan mudah memegang kedua kaki Furihata dengan satu tangan dan tangan lainnya tetap setia memegang pantat Furihata. Furihata juga tidak tinggal diam, kedua tangannya memegang pantatnya dan menaikkannya.
"... 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28,29, 30," hitung Akashi-sensei lagi, kali ini sedikit lebih lama dan tempo menghitungnya makin melambat.
"Yah, sudah selesai, berikan kertas nilaimu," pinta Akashi. Furihata menyerahkan selembar kertas yang berisi daftar hal yang harus dilakukan dalam ujian praktek olahraganya.
Setelah Akashi-sensei memberinya nilai dia menyerahkan kembali kertas itu kepada Furihata. Sang murid langsung sumringah begitu melihat nilai yang tertera di kertasnya.
'100'
Nilai yang sempurna, Kagami pasti akan kesal begitu melihat nilainya berada diatasnya.
(Seandainya Furihata tahu kalo nilai itu akibat senseinya bisa mengrepe-grepe dirinya.)
~Tsuzuku~
Special thanks: Baka Ikemen.
Readers and Reviewers, mind to give review? ;)
