By Tetsuya Ran

Rated : M

Pairing : AkaKuro

Genre : Gore, Romance , Fantasy

Disclaimers : Kuroko no basuke bukan punya saya. Saya hanya meminjam karakter dan menistai mereka wahahaha *ketawa jahat* . Tapi yang pasti dan tidak bisa dibantah adalah fic. ini milik saya.

Warnings : Bloody, Violence, Absurd , Typo(s) , etc

Happy Reading

.

.

.

Escape

"Tetsuya? Apa yang kau lakukan di situ?" Suara bariton milik kakak tercintanya terdeteksi oleh sensor pendengarannya. Tetsuya menoleh ke sumber suara.

Seijuurou sedang menggunakan kaos oblong berwarna putih, dengan celana jeans panjang. Handuk yang basah masih tersampir di pundaknya. Dengan sekali lihat pun Tetsuya sudah dapat menyimpulkan kalau kakaknya baru saja selesai mandi.

"Haruskah aku mengulangi pertanyaanku, Tetsuya?" Seijuurou mendekat, ia meletakkan tangannya di dahi Tetsuya. Wajahnya tampak sedikit heran melihat adiknya yang bersikap aneh.

"Kau tidak sakitkan?" Tanyanya. Tetsuya hanya menggeleng pelan. Diraihnya tangan yang lebih besar dari miliknya itu dan digenggamnya dengan erat, lalu meletakkan tangan itu di dada sebelah kirinya.

"Seijuurou-kun.. Beberapa waktu yang lalu dadaku terasa sakit sekali, lalu setelahnya aku tidak mengingat apapun dan tiba-tiba aku sudah berada di sini." Ucap Tetsuya dengan pandangan kosong ke arah lantai. Seijuurou mengernyitkan dahinya,mencoba berpikir.

"Hmm? Mungkin karena Tetsuya terlalu banyak mengonsumsi pil-pil yang sering kau beli itu.." Seijuurou melepaskan tangannya dari Tetsuya, lalu mengacak rambut Tetsuya pelan.

"Tapi aku merasa melakukan sesuatu" Sangkal Tetsuya, ia menatap Seijuurou.

"Lihat.. Bahkan pil itu juga membawa efek halusinasi padamu.." Seijuurou berdiri, tangannya terulur ingin membantu sang adik untuk berdiri.

Tanpa ragu Tetsuya meraih tangan itu dan ia pun berhasil berdiri. Namun langkah pertamanya agak sedikit goyah, tubuhnya masih sedikit bergetar entah karena apa.

Untung saja ketika tubuh mungil itu terhuyung ke depan dan hendak terjatuh, Seijuurou dengan gesit menangkapnya.

"Kau tidak baik-baik saja, Tetsuya" Desis Seijuurou. Pemuda berambut merah itu menggendong tubuh adiknya ala bridal dan langsung mendapat pukulan lemah dari sang adik di dada bidangnya.

"Berhentilah memberontak, Tetsuya. Kau sakit." Titah Seijuurou. Tapi pukulan tanpa tenaga itu masih menghujani dadanya. Seijuurou menghela nafas panjang, mencoba acuh tak acuh pada kegiatan adiknya.

Ia melangkahkan kakinya ke kamar Tetsuya. Setelah sampai di depan pintu kayu berukirkan nama Akashi Tetsuya, Seijuurou hendak menggapai handle pintu. Namun ia merasa sedikit kesulitan dengan posisinya yang masih menggendong Tetsuya.

Seijuurou mengalihkan pandangannya ke sosok yang tengah ia gendong. Wajahnya terlihat begitu damai dengan deruan nafas yang teratur. Tetsuya sedang tertidur.

Melihat adiknya tidur sedamai itu, tidak mungkin ia tega membangunkannya. Seijuurou pun memilih jalan terakhir.

'BRAK'

Pintu terbuka dengan keras ketika Seijuurou menendang pintu tak berdosa itu dengan sekuat tenaga.

Ia segera menoleh ke arah Tetsuya. Ternyata pemuda bersurai biru muda itu masih terlelap, tak merasa terganggu dengan suara keras yang terdengar akibat ulah Seijuurou.

Dengan hati-hati Seijuurou melangkah masuk dan menidurkan Tetsuya di ranjang berukuran King size itu. Ia juga menaikkan selimut tebal berwarna senada dengan rambut adiknya hingga menutupi dagu sang adik.

Tangannya membelai surai biru muda itu dengan lembut. Sebuah garis lengkung ke atas terbentuk di wajah tampan Seijuurou.

"Oyasumi, boku no Tetsuya." ucap Seijuurou sambil mengecup puncak kepala adiknya.

Mata berwarna merah – emas itu melirik ke arah jam dinding di ruangan berukuran 8m x 8m itu. Alisnya saling bertautan.

"Sudah jam delapan pagi tapi aku belum melihat okasan.. " Gumamnya. Ia pun memutuskan untuk mengecek keadaan ibunya di kamar sang ibu.

"Okasan" Panggilnya sambil mengetuk pintu.

"Okasan, sudah mulai siang. " Seijuurou kembali mengetuk pintu. Ia sedikit heran di sini. Seumur hidup ia tinggal bersama ibunya, ibunya tidak pernah bangun lebih dari jam delapan. Ada yang aneh.

Setelah mengetuk sekian lama, dan Seijuurou tak kunjung mendapatkan jawaban. Ia pun menurunkan handle pintu agar pintu terbuka, dan segera melesat ke dalam ruang tersebut, matanya menjelajah kamar yang lebih luas dari kamarnya dan kamar Tetsuya itu. Tapi nihil, Seijuurou tidak menemukan sosok ibunya.

Seijuurou berdecak sebelum meninggalkan ruangan itu. Ketika ia melewati kamar Tetsuya, ketika itu pula pemuda mungil yang berstatus sebagai adiknya itu membuka pintu kamar dengan rambut yang mencuat ke atas sambil mengucek salah satu matanya.

"Sudah bangun, Tetsuya?" Tanya Seijuurou sambil merapikan rambut adiknya dengan menyisirnya menggunakan jari-jarinya. Tetsuya hanya mengangguk lemah.

Setelahnya, suasana di antara keduanya sangat hening. Hanya suara kicauan burung yang terdengar.

"Ah, Tetsuya. Apa kau sudah melihat okasan pagi ini?" Tanya Seijuurou , memecah kehening di antara mereka.

"Tidak." Jawaban singkat pun keluar dari mulut Tetsuya.

Seijuurou mengangguk mengerti. "Ayo kita cari okasan" Ajak pemuda berambut merah itu sambil menggandeng tangan Tetsuya.

"Kau coba cek ke dapur dan kebun, aku akan mengecek ke perpustakaan dan ruangan lainnya . Oke?" Kata Seijuurou. Mereka berdua pun berpisah.

Tidak sampai lima belas menit keduanya kembali bertemu di depan laboratorium ibunya. Satu-satunya tempat yang belum mereka cek.

"Tinggal laboratorium ini, Tetsuya." Ucap Seijuurou sambil berjalan mendekat ke ruangan favorit ibunya saat menghukum Tetsuya .

"Kau siap?" Tanyanya pada Tetsuya sedangkan yang ditanya cuma mengangguk mengiyakan.

Mereka berdua kini berada tepat di depan pintu laboratorium. Kedua orang itu membulatkan mata mereka ketika mendengar suara-suara aneh dari dalam sana.

Baik Seijuurou maupun Tetsuya, keduanya menajamkan pendengaran mereka. Suara itu seperti suara orang minta tolong, namun suara itu terdengar sangat lemah.

"Aku akan membukanya dalam hitungan ketiga." Ucap Seijuurou sambil meletakkan tangannya ke handle pintu.

"Satu" Keringat dingin menetes dari pelipis Seijuurou.

"Dua" Tetsuya menelan ludahnya dengan susah payah.

"Tiga" Pintu pun terbuka. Dan yang mereka saksikan sekarang adalah sang ibu yang berada tepat di depan mereka. Merangkak dengan susah payah. Darah dimana-mana. Tiga pisau menancap di punggung. Tetsuya yang ketakutan pun segera bersembunyi di balik punggung Seijuurou.

Otak jenius Seijuurou segera bekerja. Ibunya telah di serang oleh seseorang. Tapi siapa? Bahkan pintu utama rumah mereka masih terkunci rapat.

Seijuurou duduk di lantai dan diikui oleh Tetsuya yang juga duduk di lantai di belakangnya. Ia mencabut pisau yang tertancap di punggung ibunya dengan hati- hati dan meletakkannya di sebelahnya. Seijuurou menelentangkan ibunya, lalu meletakkan kepala ibunya di pahanya.

"Siapa yang melakukan ini padamu?" Tanyanya lirih. Tetsuya yang ingin mendengar jawaban sang ibu pun kini keluar dari punggung Seijuurou dan berdiri, hendak duduk di samping kakaknya.

Belum sempat ia menyentuhkan bokongnya ke lantai. Ibunya menjerit dengan suara lemah sambil menunjuk-nunjuk ke arahnya.

"Tetsuya? Ada apa dengan Tetsuya?" Tanya Seijuurou pelan sambil mencoba menurunkan tangan ibunya yang teracung ke arah adiknya.

"Di-dia. A-nak Si-al. Pem-bun-nuh" Dengan susah payah, di sela nafasnya yang tersengal-sengal Yukino mengucapkan kalimat putus-putus itu.

"A-apa?" Tanya Seijuurou tak percaya. Ia menatap Tetsuya yang kini sedang memasang tampang bingung.

"Bu-bunuh. ." Yukino kembali melontarkan kalimat yang terdengar putus-putus. Seijuurou terdiam, wajahnya tertutup oleh helaian poni merahnya. Perlahan ia mengambil salah satu pisau yang ada di sampingnya.

Tetsuya melangkah mundur ketika merasakan aura yang sangat menyeramkan keluar dari kakaknya.

"Tu-tunggu... Seijuurou-kun, aku... Aku memang merasa melakukan sesuatu... Tapi sungguh, aku tidak pernah berniat membunuh-"

'Syut'

Sebuah pisau oprasi menyerempet pipi sebelah kanannya dan berakhir menancap di lukisan Monalisa di belakangnya. Darah segar keluar dari luka yang baru saja diperolehnya.

"Sei-Seiju-" Tetsuya kembali bungkam ketika melihat Seijuurou kembali mengambil sebuah pisau.

Keringat dingin sudah membasahi hampir seluruh tubuhnya. Kakinya bergetar.

'Syut'

Sekali lagi sebuah pisau dilayangkan menuju dirinya, atau lebih tepatnya di arahkan ke kakinya. Menyebabkan keseimbangan tubuh Tetsuya hilang seketika dan berakhir dengan terjatuh di lantai.

"Tetsuya" Suara bariton bernada rendah yang penuh penekanan itu terdengar bersama dengan bangkitnya seorang Akashi Seijurou dari duduknya dengan sebuah pisau di tangan kanannya.

"Biar kuberitahu kau sesuatu" Seijuurou melangkah mendekat ke arah Tetsuya. Pemuda yang terkenal dengan keabsolutannya itu terlihat begitu mengerikan sampai-sampai Tetsuya tidak bisa menggerakkan tubuhnya lagi.

Semuanya terasa kaku. Apa lagi ketika Seijuurou sudah berada di depannya. Ia mengatupkan bibirnya. Giginya saling beradu satu sama lain.

"Bu-nuh di-dia. Sei. " Sang ibu kembali membuka suara.

Seijuurou berjongkok di hadapannya dan membisikkan sesuatu. Tetapi Tetsuya tidak mengerti maksud bisikan Seijuurou tersebut.

Seijuurou mengangkat pisau yang tengah digenggamnya tinggi-tinggi. Hal itu membuat Tetsuya secara spontan melindungi dirinya dengan sedikit menunduk dan kedua tangan melindungi kepalanya. Matanya dipejamkan rapat-rapat, menunggu rasa sakit yang akan datang.

Namun rasa sakit itu tidak kunjung datang, dan Tetsuya malah mendengar rintihan lemah seorang wanita.

"Se-sei." Tetsuya segera membuka kedua matanya dan yang pertama kali ia lihat adalah wajah sang kakak yang sangat dekat dengannya sedang memandangnya dengan pandangan yang tak bisa diartikan.

Tetsuya pun segera berdiri dan matanya terbelalak ketika melihat sebuah pisau menancap di leher ibunya. Dan ibunya itu kini tengah kejang-kejang meregang nyawa. Sekitar duapuluh detik, tubuh wanita yang dulu mengandungnya itu kini sudah tak bergerak. Ibunya sudah tiada. Mati, di tangan kakaknya sendiri.

Dan kini, barulah ia sadar apa arti bisikan kakaknya.

.

.

.

"Kepada sisi lain dirimu, kuperingatkan. Jangan memulai sesuatu yang tidak bisa kau selesaikan."

To Be Continued

Fiuuuh.. Akhirnya chap. 2 update juga... Yah walaupun ini adalah ide yang dipaksakan sih hihihi

Makanya jadinya aneh seperti ini

Gomenasai gomenasai hontou ni gomenasai reader-sama apabila fic ini malah jadi semakin kacau.

Ah, terimakasih atas review , fav , dan follownya

I love you minna~ wkwk xD

Dan, apakah masih berminat untuk memberi ketiganya lagi di chapter ini?

Saya harap masih ^^ Karena saya rasa saya masih butuh saran dan kritik , terutama untuk fic ini ._.

Arigatou telah mampir dan membaca fic ini

:3

See you on next chapter :D *lambaikan tangan*