By Tetsuya Ran

Rated : M

Pairing : AkaKuro

Genre : Gore, Romance , Fantasy

Disclaimers : Kuroko no basuke bukan punya saya. Saya hanya meminjam karakter dan menistai mereka wahahaha *ketawa jahat* . Tapi yang pasti dan tidak bisa dibantah adalah fic. ini milik saya.

Warnings : Bloody, Violence, Incest, Absurd, Typo(s) , Tidak sesuai EYD, etc

Happy Reading

.

.

.

Escape

Pemuda bersurai merah itu menegakkan badannya dan berdiri. Sedikit membuat gerakan yang bisa meregangkan otot. Ia menatap wajah kaget adiknya dan mengelus helaian biru muda milik adik kesayangannya itu dengan lembut.

Lalu pemuda itu berbalik dan melangkah mendekati sang ibu yang sudah tergeletak tanpa nyawa di lantai marmer rumahnya. Seijuurou berjongkok , tangan kanannya mencabut pisau yang mengakhiri hidup ibunya itu. Ia memainkan pisau itu dengan melemparnya beberapa kali ke udara ,lalu menangkapnya. Mata heterokromnya mencari objek yang bisa menarik perhatiannya.

Pisau yang melayang di udara ditangkap dan digenggam erat ketika ia menemukan yang ia cari. Seijuurou kembali menancapkan pisau itu di tubuh sang ibu, membuat si pemuda biru muda memekik.

"Seijuurou-kun!" Reflek, Seijuurou menghentikan aktivitasnya dan menoleh ke arah orang yang memanggilnya.

"Ada apa, Tetsuya?" Tanyanya dengan santai , lalu kembali mengedarkan pandangan ke mayat ibunya yang berlumuran darah. Terlihat begitu menggiurkan bagi para psikopat. Dan beruntunglah karena pemuda merah ini merupakan salah satu dari mereka.

"Apa yang kau lakukan?" Sang adik yang terkenal beringas dan berandal kelihatannya masih belum bisa mencerna adegan yang dilakukan Seijuurou dengan otaknya. Gagal paham dengan semua kenyataan yang ada di depan matanya. Sang ibu yang di temukan di laboratorium. Kakaknya yang tiba-tiba menggila. Bisikan sang kakak. Ibunya yang mati. Kakaknya menusuk ibunya kembali dengan pisau. Semuanya terjadi terlalu tiba-tiba.

"Menyelesaikan karyamu yang belum tuntas, Tetsuya" Seijuurou menjawab dengan cuek. Pisaunya ia gunakan untuk merobek baju Akashi Yukino, berniat menelanjangi ibunya. Semua rentetan kejadian itu diperparah dengan kegiatan Seijuurou kali ini.

Melihat perbuatan tidak senonoh sang kakak membuat wajah Tetsuya memerah. Ia berjalan menuju sang kakak. Ikut berjongkok di sampingnya. Tangannya menghentikan gerakan sang kakak.

"He-hentikan! Dasar Seijuurou-kun mesum, Teme!" Ucapnya. Salah pengertian tentang apa yang sedang dilakukan Seijuurou. Orang yang dikatai malah terkekeh sambil mencubit pipi kenyal Tetsuya.

"Kau pikir aku berniat melakukan apa, Tetsuya?" Tanya Seijuurou dengan nada menggoda. Ia melepas satu per satu jari Tetsuya yang mencengkram tangannya.

"Berhenti menggodaku, brengsek! " Terpancing godaan sang kakak. Wajah Tetsuya semakin memerah, kini mungkin bisa disamakan dengan warna rambut manusia yang ada di sebelahnya. Tetsuya memalingkan wajahnya.

"Sekarang Tetsuya sudah punya nyali untuk mengataiku brengsek, eh? Padahal beberapa waktu lalu kau sangat ketakutan.. " Seijuurou mengapit pipi Tetsuya dengan satu tangannya, lalu memaksa Tetsuya untuk menatap dirinya.

"Di-diam. " Ucap Tetsuya, salah tingkah karena melihat wajah sang kakak yang begitu dekat. Bahkan hidung mereka nyaris bersentuhan.

"Tidak ada yang bisa memerintahku dan kau tahu itu, Tetsuya" Seijuurou melepas tangannya. Ia kembali melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda. Pisau di tangannya ia tusukkan tepat di tengah dada sang ibu, lalu ia menggerakkan pisau itu lurus ke bawah. Membuat sayatan panjang dari dada hingga perut.

Tetsuya meneguk ludah, melihat semuanya dalam diam. Walaupun dirinya adalah berandalan yang biasa berkelahi , yang biasa melihat darah segar milik lawannya,tapi semua itu tidak bisa dibandingkan dengan yang ia lihat saat ini.

Akashi memasukkan tangannya ke dalam sayatan yang telah ia buat. Mencari-cari sesuatu yang bisa di tebak oleh Tetsuya. Sesaat kemudian, tangan yang sudah berlumuran darah itu keluar sambil menarik sesuatu yang panjang. Terus menariknya keluar sampai organ yang biasa disebut sebagai usus itu keluar seluruhnya dari tubuh Yukino. Seijuurou meletakkannya di lantai.

"Tetsuya," Panggilnya. Ia melebarkan sayatan yang dibuatnya dengan tangannya. Lalu Seijuurou kembali memasukkan tangannya di tubuh Yukino, kini sasarannya adalah semua organ yang ada di belakang tulang rusuk Yukino.

"Ya?"

"Ambilkan peti kayu yang ada di sudut kamarku. " Titahnya, Tetsuya pun langsung menyanggupinya. Toh ia sekalian melindungi matanya dari adegan liar yang akan di lakukan Seijuurou nantinya. Pemuda bersurai biru muda itu pergi meninggalkan Seijuurou.

Tangan Seijuurou sedang berusaha menggapai organ kembar di dada ibunya. Dan bingo! Tangannya berhasil menyentuh sesuatu di dalam sana. Ia pun menarik organ yang berhasil ia temukan.

Tapi yang ia dapat bukan seperti dugaannya. Alih-alih kecewa, wajahnya terlihat tambah sumringah. Organ dalam pemompa darah, jantung. Seijuurou sedang menggenggam jantung ibunya. Ia menyeringai sambil meremas organ tersebut. Merasa bosan dengan organ ini, Seijuurou melemparnya ke arah onggokan usus halus yang ada di lantai. Lalu tangannya kembali mencari-cari sesuatu di dalam tubuh ibunya.

"Ah, " Seijuurou bersemangat ketika kedua tangannya menggapai gumpalan organ yang berukuran hampir sama. Ia mengeluarkannya dengan antusias. Dan benar saja, paru-paru sudah di dapat. Ia meletakkan paru-paru Yukino bersama dua organ lainnya.

"Ini Sei- " Tetsuya terperangah melihat onggokan organ yang berlumur darah segar sedang tergeletak di lantai rumahnya. Sepanjang ia mempelajari biologi, belum pernah barang sekali ia menyaksikan organ-organ manusia secara langsung.

Ia menyeka aliran keringat di dahinya, lalu berjalan menuju Seijuurou. Tetsuya metekkan peti berukuran sedang di samping Seijuurou, lalu ia ikut mendudukkan diri.

"Apa ini yang Seijuurou-kun maksud dengan karya?" Tanyanya takut-takut. Ia tidak berani melihat tubuh sang ibu dan lebih memilih memandangi lantai marmer di bawahnya.

"Tentu. Indah bukan ,Tetsuya?" Seijuurou tersenyum dengan tulus sambil membuka peti kayu yang baru saja dibawakan oleh Tetsuya. Sebuah alat mirip gergaji mesin versi kecil ia keluarkan dari sana. Seijuurou bangkit dan menancapkan alat tersebut di stop kontak terdekat.

"Tetsuya, keluarkan ginjal wanita ini. " Bahkan pemuda tampan satu ini sudah enggan menyebut Yukino dengan panggilan ibu. Kalau Tetsuya boleh menolak, tentu saja ia akan menolak dengan lantang. Tetsuya masih ragu dengan perintah kakaknya. Terlebih lagi, kalau kakaknya menolak, tidak ada yang bisa membantahnya.

"Tapi bukankah Seijuurou-kun sudah mengeluarkannya?" Tanya Tetsuya sambil menunjuk onggokan organ di dekatnya.

"Ck,sebuta itukah kau tentang biologi, hm?" Tanya Seijuurou sembari memencet beberapa tombol yang ada di alat kesayangannya.

"U-urusai ! " Ucap Tetsuya sambil menggembungkan pipinya, imut.

"Berhenti memasang ekspresi seperti itu, Tetsuya. Cepat lakukan perintahku!" Seijuurou sudah berbicara, Tetsuya tidak bisa membantah. Dengan agak ngeri, Tetsuya memandangi perut bagian bawah ibunya. Seingatnya dulu, ginjal terletak di situ. Ia memasukkan tangannya dengan amat ragu ke dalam tubuh ibunya melalui sayatan yang sudah di buat sedemikian rupa oleh kakaknya. Ia jijik bukan main ketika tangannya menyentuh sesuatu yang asing baginya.

"Kalau sudah ketemu, tarik keluar, Tetsuya. " Sang kakak memberi instruksi. Tetsuya pun mengikuti instruksi dari Seijuurou, ia menarik sebuah organ yang berhasil di temukan tangannya. Matanya sempat melihat organ berukuran tak seberapa yang berbentuk mirip kacang merah di tangannya.

"Bagus, letakkan di sana" Seijuurou menunjuk kumpulan organ yang ada di dekat Tetsuya. Tetsuya pun meletakkannya dengan hati-hati di sana.

Seijuurou yang sudah selesai dengan urusannya, meletakkan alat mirip gergaji mesin itu di samping kepala sang ibu. Dan dengan cekatan ia memasukkan tangannya ke tempat Tetsuya memasukkan tangannya tadi, lalu menarik ginjal ibunya dari sana tanpa ragu. Ia melempar ginjal itu ke tumpukan organ milik ibunya.

"Tetsuya, tolong kau pangku kepala wanita ini. " Titahnya sambil mengangkat kepala Yukino. Setelah Tetsuya memposisikan diri di dekat kepala Yukino, baru Seijuurou meletakkan kepala wanita yang dulu menyayanginya itu di atas pangkuan Tetsuya.

Seijuurou menekan tombol on dari alat yang ia pegang, gerigi yang ada di sekeliling alat itupun berputar, seperti gergaji mesin.

Tangan kirinya memegang kepala Yukino, menjaganya agar tidak bergeser. Sedangkan tangan kanannya menggunakan alat itu untuk membuat sayatan melingkar di kepala ibunya. Darah menyiprat ke berbagai arah, bahkan wajah Tetsuya sudah di penuhi cipratan darah Yukino. Kalau kalian tanya apa tujuan Seijuurou melakukan adegan yang satu ini. Tetsu saja tujuannya agar ia bisa mendapat organ paling berharga bagi manusia manapun. Otak.

Seijuurou menyingkirkan bagian kepala atas yang dengan mudah ia pisahkan berkat bantuan alat gergaji tadi. Dirinya kelewat senang memandangi organ yang satu ini. Dengan seluruh rasa kagumnya, ia mengeluarkan organ nomor satu manusia itu lalu membawanya bersamanya, melangkah ke kamarnya.

Sedangkan Tetsuya. Dia masih syok. Tangan mungilnya mengusap wajahnya yang penuh darah. Ia meletakkan kepala ibunya yang sudah tak berbentuk seperti kepala pada umumnya di lantai, lalu ia bangkit dan berjalan menuju kamar mandi dengan langkah lebar-lebar .

Tetsuya mengeluarkan isi perutnya di kloset. Maklum saja, ini pertama kalinya ia menyaksikan adegan macam itu. Kejam. Sadis. Tidak manusiawi. Gila. Dan keempat unsur itu telah membuat Tetsuya menciptakan stigma bahwa sang kakak adalah seorang psikopat gila.

Setelah menekan tombol yang ada di bagian atas kloset, pemuda mungil itu melangkah gontai menuju wastafel, ia membasuh wajahnya. Membersihkannya dari darah ibunya. Ia sempat merutuki dirinya. Kemarin lusa dirinya masih berada di rumah Aomine karena ia terlalu takut untuk tinggal sendiri bersama sang ibu di rumah. Andai saja ia tidak memutuskan untuk pulang hanya karena kakaknya sudah pulang dari lomba, ia tidak akan melihat, dan melakoni semua ini. Ia tidak pernah mengira kalau kakaknya yang selalu tenang ternyata adalah seorang psikopat gila.

Tetsuya memandangi wajahnya yang tampak kacau. Otaknya dipaksa berpikir. Apa yang harus ia lakukan? Lari? Ah, lari dari seorang Akashi Seijuurou adalah hal yang mustahil untuk dilakukan. Satu-satunya pilihan adalah menghadapi semua ini, ia harus rela menjadi rekan psikopat Seijuurou supaya ia selamat dari kejaran para polisi.

Kenapa ia berpikir demikian? Sebenarnya ada beberapa alasan. Pertama, di antara Seijuurou dan dirinya, dirinyalah yang paling berandal dan semua orang tahu itu. Otomatis hal itu membuka kemungkinan bahwa polisi akan menjadikannya tersangka. Kedua, kalau ia kabur dari Seijuurou atau menolak untuk menjadi rekan Seijuurou, bisa-bisa nasibnya berakhir seperti ibunya. Ketiga, Seijuurou adalah orang yang kelewat cerdas, mungkin saja Seijuurou bisa membuat dirinya tidak tertangkap polisi dengan merekayasa kejadian ini, entah bagaimana caranya, biarkan si merah yang memikirkannya.

Terlebih lagi, ibunya memiliki sahabat puluhan polisi, para polisi itu pasti akan mengusut kasus ini dengan seksama dan sangat teliti agar pelakunya tertangkap. Kalau ia tidak mengikuti Seijuurou, kemungkinan besar Seijuurou akan bercerita kalau yang melakukan semua ini adalah dirinya.

'TOK TOK TOK'

Seseorang yang Tetsuya yakini adalah Seijuurou mengetuk pintu kamar mandi berulang-ulang.

"Tetsuya,kau ingin aku mendo-"

'CEKLEK'

Dengan tampang masam Tetsuya membuka pintu. Seijuurou yang berhasil melihat wajah adiknya itu tersenyum lega sambil mengacak surai biru muda milik Tetsuya.

"Tetsuya, tolong bantu aku mengangkat wanita sialan ini, dan memindahkannya ke bathtub " Ucap Seijuurou sambil menarik paksa lengan Tetsuya. Mereka berhenti di hadapan Yukino yang sudah berbalut gaun merah mewah yang biasa Yukino kenakan ketika mendatangi pesta tahunan yang diadakan oleh perkumpulan ilmuwan di distrik ini.

Sayatan di tubuh itu sudah dijahit dengan rapi, termasuk bagian kepala. Yukino terlihat seperti seseorang yang sedang tertidur. Seijuurou juga mengenakan topi rajut kesayangan ibunya dibagian kepala. Tentu saja agar bekas jahitan di kepala Yukino tidak terlihat.

Kedua orang itu saling bekerja sama mengangkat tubuh sang ibu dan meletakkannya dengan hati-hati ke dalam bathtub. Seijuurou memutar keran air, membiarkan air dingin memenuhi bathtub yang sudah terisi mayat ibunya. Pemuda merah itu melangkah pergi menuju dapur. Ia mengangkat kotak berukuran sedang yang dipenuhi dengan es , lalu kembali menuju kamar mandi.

Setelah meletakkan kotak tersebut di samping bathtub, Seijuurou memasukkan seluruh es yang ada di dalam kotak itu ke dalam bathtub.

"Tetsuya, tolong kau kembalikan kotak ini ke dapur dan ambilkan seluruh lilin aroma terapi di kamar wanita ini" Perintah Seijuurou, sedangkan yang di perintah hanya mengangguk patuh. Pemuda merah itu tidak membiarkan dirinya menganggur.

Seijuurou melangkah keluar dari kamar mandi, berjalan menuju taman bunga indoor milik ibunya. Tangannya menyambar keranjang yang tergeletak di tanah ,dan dengan cekatan ia memetik seluruh mawar merah yang sedang bermekaran di taman tersebut. Setelah mawar yang ia petik berhasil memenuhi keranjang yang dibawanya. Ia kembali ke kamar mandi, di sana sudah ada Tetsuya yang membawa kotak bewarna merah muda.

Seijuurou menebarkan bunga yang tadi ia petik di bathtub. Setelah itu tangannya mengambil kotak merah muda berisi lilin aroma terapi dari tangan Tetsuya. Tak lupa ia memberi kecupan terima kasih di pipi Tetsuya.

Tidak percaya dengan yang barusan dilakukan oleh kakaknya, Tetsuya mengelus pipinya. Wajahnya sudah semerah tomat.

"Tetsuya tolong kau nyalakan AC nya. Setel di suhu paling rendah" Ucap Seijuurou sambil menata lilin-lilin yang berukuran lumayan besar itu di sudut-sudut bathtub. Tetsuya pun mengambil romete AC dan menyetelnya di suhu 16 derajat. Bertanya kenapa ada AC di dalam kamar mandi? Jawabannya adalah karena Yukino memiliki hobi berendam air hangat di dalam ruangan yang bersuhu rendah.

Seijuurou menggandeng tangan Tetsuya, keluar dari kamar mandi, lalu menutup ruang yang berisi mayat ibunya itu.

"Tetsuya tolong ambilkan koperku yang ada di kamar dan letakkan di ruang tamu," Ucap Seijuurou sebelum berlalu meninggalkan Tetsuya. Ia melihat genangan darah yang masih ada di lantai. Ia merasa sesuatu di dalam dirinya bergejolak ketika melihat cairan berbau anyir yang menggenang di lantai.

Tetsuya tidak menanggapi perasaan aneh tersebut, dirinya segera meniti anak tangga, berjalan menuju kamar kakaknya dan mengambil koper hitam. Menyeret koper itu menuju ruang tamu. Perintah sang kakak sudah dilaksanakan.

Kini manik azure nya tertuju pada sang kakak yang sedang membersihkan lantai yang semula di genangi darah dengan cairan berbau agak menyengat. Tangan sang kakak yang terbalut sarung tangan pun tak lusut dari perhatiannya.

"Kenapa pakai sarung tangan, Seijuurou-kun?" Tanya Tetsuya sambil berjongkok di hadapan Seijuurou.

"Ini pemutih Tetsuya, bisa merusak jaringan kulit tanganmu," Jawab Seijuurou sambil tetap membersihkan lantai di bawahnya. Tidak sampai 10 menit , akhirnya Seijuurou selesai dengan kegiatannya.

"Tetsuya, kau mandilah, setelah itu gunakan pakaian yang pantas. Kau ikut aku ke distrik sebelah. Oh, iya.. Nanti masukkan baju yang kau kenakan saat ini ke dalam koper saja. " Kata pemuda berambut merah itu sambil mengelap sarung tangan berbahan karet tersebut dengan tisu, lalu memasukkannya ke laci almari yang berada di laboratorium. Meletakkannya di tengah-tengah tumpukan sarung tangan yang serupa.

Tidak bisa menolak, Tetsuya segera melaksanakan perintah Seijuurou. Ia berlari kecil menuju kamarnya. Begitu pula dengan Seijuurou. Nampaknya pemuda berparas tampan ini juga ingin membersihkan tubuhnya yang penuh peluh.

.

.

.

Dua pemuda dengan warna rambut berbeda sudah berpakaian rapi, si merah sedang mengecek perlengkapan mereka, dan si biru sedang memasukkan pakaiannya yang dipenuhi bercak darah ke dalam koper.

"Sudah, Seijuurou-kun. " Ucap si biru setelah berhasil menyumpalkan bajunya ke dalam koper.

"Hn, kau keluar duluan, " Seijuurou berbalik dan melangkah menuju kamar mandi sambil membenarkan arlojinya.

Ia memutar kenop pintu, dikeluarkannya sebuah korek api dari saku kemeja merah marunnya. Setelah sampai di depan bathtub, tempat dimana ibunya yang telah terbujur kaku berada. Ia membelai pipi dingin sang ibu, wajahnya tanpa ekspresi.

"Terimakasih sudah melahirkanku dan Tetsuya ke dunia. Tapi, peranmu di dunia sudah berakhir, " Dia berbisik tepat di telinga sang Ibu. Ia menyulut lilin yang berada di sekitar bath up menggunak korek api yang ia bawa.

"Jaa ne, Okaa-san. " Seijuurou kembali memasukkan korek api itu ke dalam sakunya, lalu keluar dari kamar mandi.

Pemuda merah itu menghampiri adiknya. Ia menepuk pundak Tetsuya pelan. Membuat si mpu nya sedikit kaget dan segera menoleh padanya.

"Kita berangkat, " Kata Seijuurou pada Tetsuya sambil menutup pintu rumah tanpa menguncinya. Lalu ia berjalan menuju mobil sedan hitam yang terparkir di halaman rumah, sedangkan Tetsuya masih setia berdiri di depan pintu.

"Seijuurou-kun, pintunya belum dikunci," Kata Tetsuya mengingatkan. Seijuurou yang sedang sibuk memasukkan kopernya ke bagasi mobil tidak merespon Tetsuya.

Tetsuya yang merasa jengkel karena di acuhkan menggembungkan pipinya sambil berteriak.

"Seijuurou-kun teme!" Ia menghentakkan sebelah kakinya ke tanah. Seijuurou yang melihat kelakuan adiknya hanya terkekeh geli .

"Kau ingin cepat tertangkap eh, Bakashi Tetsuya?" Kata si pemilik iris heterokrom dengan nada mengejek. Kemudian Seijuurou masuk ke dalam mobil dan mulai menyalakan mesinnya.

"Ma-mana ku tahu soal itu! " Tetsuya yang salah tingkah pun segera berjalan menuju mobil. Ia membuka pintu mobil , duduk di bangku depan, lalu menutup pintu mobil itu keras-keras.

"Berhenti bertingkah seperti perempuan, Tetsuya. " Seijuurou menginjak pedal gas dengan kuat sehingga mobilnya langsung melesat. Bahkan ia menabrak pagar rumahnya sampai lepas dari engselnya.

"Seijuurou-kun bodoh! Apa yang kau lakukan?! Dan aku tidak bertingkah seperti perempuan!" Seru Tetsuya sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

"Ya yaaa... Terserah kau mau berkata apa, Tetsuya, " Kata Seijuurou acuh.

"Kau bodoh!" Si biru mulai mencaci sang kakak.

"Lalu?" Seijuurou memfokuskan pandangannya ke jalanan.

"Kau brengsek!"

"Lanjutkan.. " Pemuda merah itu menguap sambil mengusap wajah lelahnya.

"Mata belang sialan!" Suara Tetsuya semakin lama semakin memekakkan telinga.

"Kecilkan suaramu, Tetsuya. " Kata Seijuurou sambil melirik adiknya yang sedang mengerucutkan bibirnya imut.

"Aku benci Seijuurou-kun!" Bukannya mengecilkan suara, Tetsuya malah menambah volume suaranya.

"Terimakasih, "

"Aku tidak memujimu. Dasar baka!" Tetsuya semakin jengkel mendengar respon sang kakak yang menurutnya sangat menyebalkan.

Setelah itu keduanya saling terdiam. Seijuurou sibuk dengan kegiatan menyetirnya sedangkan Tetsuya sibuk memainkan ponselnya.

"Ne, Seijuurou-kun, " Suara Tetsuya akhirnya memecah keheningan.

"Apa ?" Tanya Seijuurou dengan nada datar setengah malas.

"Apa maksud Seijuurou-kun dengan sisi lain diriku?" Tanya si pemilik surai biru muda sambil memasukkan ponselnya ke dalam kantong celana. Tubuhnya terdorong ke depan ketika kakaknya tiba-tiba menginjak rem dengan kuat.

"Brengsek! Kenapa tiba-tiba di- " Tetsuya bungkam ketika ia merasakan sakit di sekitar perutnya. Mata azurenya membulat ketika melihat sang kakak tengah menusuk perutnya menggunakan pisau kecil. Wajahnya menampilkan sebuah seringai yang khas.

"Sei.. Seijuurou... kun "

.

.

.

To Be Continued

Akhirnya setelah sekian lama bisa kembalii :D Chapter tigaaaaa sudah bisa muncuuul wkwkwk

Oh iya... Maaf karena sudah menghilang terlalu lama dan membuat fic ini terbengkalai ._.

Oh iya, di bagian gore nya ituuu aneh ga sih? '-'

Arigatou for review, fav and follow

Minna daisuki :'D

Masih berkenan untuk meninggalkan 3 hal istimewa itukaaaaan? *kedip2*

xD

Terimakasih semuaaaanya , terimakasih sudah mampir dan membacaaaa

Sekalian mau membalas review :

kufufufu-chan : Iya, Sei-kun sudah tahu :D maaf juga saya update terlalu lamaa hehe ._. hontou ni gomenasai , thank you sudah mereview :D

Tetsu Baby Blue : Wah... setelah baca fic ini pasti semakin mikir kalau Sei mau bunuh Tetsu wkwkwk *author emang nakal xD* Arigatou sudah mereview

Flow L : Akashi memang dibikin sadis di sini hehehe... Tentu saja ada hubungan percintaan wkwk okeh, sudah di kasih di warning ^0^ Arigatou saran dan reviewnya

Mei Terumi : Arigatou TwT Iya Sei sudah tahu... Apasih yang engga Sei tahu *di gampar* wkwk Terimakasih sangat sudah mau mereview :'D

Nah , sampai di sini duluuuu... See you on chapter 4 ! ^0^