Authors/notes: Persembahan dari tim panitia #44/12Week untuk merayakan AkaFuri Day.

Disclaimer: Kuroko no Basket punya Fujimaki Tadatoshi. Kami tidak mengambil keuntungan komersil atau materil apapun dari membuat fanfiksi ini.

Warning: Alternate Reality, Male X Male, M for Safety, standard disclaimer and warning applied.


We proudly present our relau project Fanfiction:

.

To You, I Belong


Seijuurou menghempaskan badan kasar pada sandaran kursi kerjanya yang nyaman. Memutar kursinya menghadap jendela raksasa di sampingnya. Ia mengingat pertengkaran kecil semalam dengan Kouki.

Klise. Selalu saja yang dibahas masalah yang sama lagi.

Seijuurou menghela napas kasar, membuka berkas-berkas yang bertumpuk di atas meja. Membaca seksama perjanjian kerja sama dan materi untuk tender. Fokusnya sesekali teralih oleh foto Kouki dan Seijuurou yang mengenakan tuxedo putih berlatarkan pemandangan danau berair jernih dan pepohonan Sakura. Pigura hitam membingkai foto yang paling berharga baginya dan diletakkan di sudut meja kerja.

Pria itu menghentikan kegiatan membacanya, melihat sekilas foto mereka. Berpikir.

"Baiklah, aku akan mengajak Kouki kencan."

Gumamnya pada kesunyian, dan menenggalam diri dalam tumpukan pekerjaan.


Pukul sepuluh malam.

Keadaan kediaman pasangan Akashi sangat tenang walau terletak di perumahan mewah nan elit kawasan Tokyo yang selalu ramai setiap waktu.

Kouki melirik jam yang tertampang di laptopnya. Menghela napas gusar, mengingat Seijuurou belum pulang dan tidak mengabarinya. Mencoba kembali fokus dengan novel yang ia kerjakan, ia memutar lagu dari music player di laptopnya, membiarkan dirinya terhanyut dengan alunan lagu yang memengaruhi tulisannya.

Di pertengahan tulisan, Kouki tersentak kaget. Tangannya terangkat dari tuts keyboard, dahinya berkerut, berpikir ada yang salah dengan tulisannya. Membaca ulang rentetan kalimat yang telah ditulisnya.


[Malam dingin membuat gadis itu menggigil tebal tak cukup menghangatkan badan terlebih lagi hati. Giginya bergemelutuk gelisah, mata terus menatap jendela, berharap suaminya segera pulang.

Satu jam gadis itu menunggu sambil tertidur di atas sofa menghadap jendela. Ketika terbangun, gadis itu kaget bukan kepalang. Seorang gadis asing menginvasi rumahnya.

Lebih mengejutkan lagi, suaminya merangkul mesra gadis selain dirinya. Tanpa dosa berkata, "Maafkan aku."

"A-apa?" Gadis itu limbung, nyalang memandang antara suami dan gadis yang menggelayuti suaminya."Ke-kenapa?"

"Aku tidak tahan dengan sikapmu yang terus pesimis, kau selalu berkata kau tidak mencintaiku. Aku bahkan meragukan apa benar kau pernah mencoba berusaha untuk mencintaiku."

Kata-katanya bagai petir menyambar hingga ulu hati sang istri.

Suaminya berjalan masuk ke kamar, memberantaki seluruh isi lemari, menarik keluar sebuah koper dari bawah lemari di bagian gantungan baju. Mengemasi semua barangnya secara asal dijejalkan ke dalam koper.

"Kita akhiri sampai di sini saja."

Gadis itu masih bergeming. Menatap nanar suaminya bahkan tidak sudi lagi memandangnya, menyeret koper, meninggalkan kamar berantakan. Keluar dari pintu—pergi selamanya, sayup-sayup terdengar tawa bahagianya berpadu dengan gadis lain yang menjarah suaminya.

"Tidak! Itu tidak benar, tidak benar! Bukan seperti itu. Pe-perasaanku padamu … to-tolong dengar penjelasanku!"]


"Tidak. Itu tidak benar, tidak benar. Bukan seperti itu. Perasaanku padamu—"

Kouki kilat memutar kursi kerjanya mendengar gumam persis di telinganya. Terbelalak kaget.

"Se-Sei!" Refleks ia meng-klik close pada aplikasi menulisnya. "Ka-kapan kau pulang?"

"—tolong dengar penjelasanku." Seijuurou menggulir pandangan pada suaminya. "Kenapa tidak kauteruskan?"

Kouki kalah cepat. Kursinya didorong sampai membentur meja dan tertahan dengan kedua tangan bertengger manis di masing-masing sanggaan lengan. Seringai menghias wajah Seijuurou.

Gulp.

Kouki meneguk ludah. Panik. Peluh mengalir pelan di pelipis. Kepala tertunduk, pandangan mata terjatuh pada pangkuannya.

"Kouki, kenapa kau menulis seolah-olah kau adalah karakternya?"Seijuurou bergerak maju, tangan meraih mouse laptop Kouki, membuka lagi doc yang tadi ditutup, lantas men-scroll halamannya—kilat membaca.

"Uh." Kouki mengigit bibir.

"Apakah karakter laki-laki ini adalah aku, Kouki?"

"I-i-iya, aku terinspirasi darimu.T-ta-tapi jangan salah paham," jawab Kouki pelan.

"Ah. Kau takut aku selingkuh, Sayang?"Seijuurou mengelus pipi Kouki dan menyampirkan helaian rambut ke belakang telinga kepalanya dan saling menatap.

Jantung Kouki berdegup tidak memerah.

"Ungh … aku tidak tau, Sei." Kouki cemberut dan memalingkan kontak mata dengan Seijuurou.

Tertawa kecil, Seijuurou mengacak gemas rambut cokelat halus pemuda yang dia sayangi. Berdiri tegak dan mengubah posisinya, duduk di sanggaan lengan kursi kerja Kouki, membelakangi sang novelis.

"Aku sudah bersumpah setia sehidup-semati di hadapan Tuhan dan begitu banyak orang. Kau ingat, kan?"

Kouki masih ditaut tangan Seijuurou, jari-jemari suaminya nakal menyisip dalam genggamannya.

"Ingat, Sei. Aku tidak akan melupakan saat itu," jawabnya. Menoleh ke samping dan matanya bertemu dengan foto pernikahan mereka yang terpajang manis di atas rak buku modern. Kouki tersenyum manis.

"Nah, jadi tidak perlu kaurisaukan." Jeda sebentar."Aku tahu kau masih belum benar-benar aku tahu kau belajar menerima kehadiranku di dalam hidupmu, secara perlahan."

Alunan musik jazz menggema manis dari speaker di laptop Kouki menemani mereka berdua.

"Aku akan menunggu. Berapa lama pun, aku menunggumu. Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku. Sampai kau bosan dan tidak punya pilihan selain mencintaiku."

Seijuurou tersenyum merasakan Kouki menyandarkan kening di punggungnya.

"Maaf. Aku—" Kouki terbungkam mulutnya saat Seijuurou berdiri, menghadapnya, menadahkan tangan di hadapan Kouki. Kendati ragu, tangan mereka saling bersambut.

Seijuurou menarik Kouki bangkit dari kursi, membimbingnya ke beranda kamar. Seijuurou menarik Kouki sedikit kencang—membuat Kouki jatuh ke pelukannya dengan kedua tangan Kouki menekan dadanya.

Pria muda berambut merah itu tersenyum hangat. Senyum yang jarang diperlihatkan oleh siapapun kecuali kepada pasangan hidupnya, Akashi Kouki.

Terpesona.

Kouki tak mampu berkedip ketika rembulan menyimbah sinar menerangi Seijuurou—mata merahnya berkilauan dalam keremangan. Wajahnya memanas, Kouki menyadari pemuda yang memeluknya benar-benar mencintainya.

Dirinya yang notabane adalah anak dari keluarga biasa-biasa dan tak punya hal prestisius yang dapat dibanggakan.

Kadang Kouki berpikir—seperti saat ini, kenapa orangtuanya dan orangtua Seijuurou merestui mereka saling menikah—padahal gender mereka sama-sama lelaki. Ia tak habis pikir, mungkinkah orangtua mereka tidak ingin menimang cucu—dan jikalau mereka menginginkannya bagaimana caranya dan Seijuurou memberikan cucu sebagai penerus keluarga pada mereka.

Ah, sudahlah. Kouki menggelengkan kepalanya, mengusir lintasan pikiran aneh yang mengganggu perhatiannya.

Seijuurou memeluknya, erat penuh kasih sayang. Menjanjikannya bahwa dia tidak akan pergi dari Kouki.

Menenggelamkan kepalanya di dada suaminya, tanpa membalas pelukannya. Kouki masih ragu untuk mencintai sosok Seijuurou yang mengisi kehidupannya, kehidupan ada yang mengganjal di hatinya.

Tangan Seijuurou meraba pinggangnya, melingkari seluruh tubuhnya.

Kouki tersentak, menengadahkan kepalanya. Tanpa meminta persetujuan, Seijuurou melesakkan kepalanya di perpotongan leher Kouki. Masih dengan posisi itu, Seijuurou meraih satu lengan Kouki untuk tersampir di pundaknya. Tangan lain saling menggengam. Mencium leher Kouki lembut dan kembali menatapnya.

Senyum yang hanya ditunjukkannya pada Kouki setia menghias bibirnya. Pelukan Seijuurou melonggar, mundur satu langkah tanpa melepas pelukannya. Kouki mencengkeram pundak Seijuurou, seakan meminta agar mereka tidak saling melepaskan pelukan.

Alunan musik romantis, ballad berirama mellow mengalun dari laptop Kouki yang terbengkalai sampai ke beranda tempat mereka berada.

Seijuurou menarik badan Kouki merapat pada tubuhnya, mengangkat tangan mereka yang saling bertautan. Kaki bergerak maju-mundur mengikuti irama melodis. Kouki beradaptasi dengan situasi, langsung mengikuti pergerakan Seijuurou.

Mereka terus berdansa walau Kouki sangat kepayahan dengan mereka terlihat senang, dan menikmati dansa yang tak selaras dengan ketukan nada.

Mereka saling tersenyum, menunjukkan sisi lain mereka di hadapan pasangannya.

Sinar bulan berpendar menyinari keduanya. Terpaan angin dingin tak dihiraukan mereka Tetap berdansa, bertukar cerita, tawa lugu berderai di antara mereka. Dan baru saat ini menyadari mereka saling terpikat dengan cara tawa satu sama lain—mungkin karena baru pertama kali mereka benar-benar sedekat ini.

Air mata mengalir deras dari pelupuk mata Kouki. Ia mengerti malam ini mereka bisa seperti ini berkat inisiatif Seijuurou.

Menyandarkan dahinya di pundak Seijuurou, Kouki menangis tanpa suara. Teringat kisah yang diciptakan olehnya. Emosi berkecamuk dalam dirinya. Hanya kata kenapa, kenapa, dan kenapa yang menari-nari mengejek dalam kepalanya.

'Tuhan, kenapa aku tidak bisa mencintai pemuda di hadapanku ini. Kenapa? Kenapa Engkau tidak memberikanku perasaan cinta untuk Seijuurou? Sungguh, sangat sakit menyadari semua ini. Jika memang tidak bisa, setidaknya berikanlah cinta-Mu, untuk mencintai Seijuurou. Dia pantas bersama seseorang yang mencintainya setulus hati.'

Rintihan menjelma makian, antara doa dan caci-maki, Kouki berperang batin dengan dirinya sendiri.

Seijuurou merasakan basah di pundaknya. Terkesiap pelan menyadari kekasihnya menangis. Segera ia mengangkat kepala yang bersandar lesu pada pundaknya. Menempelkan dahinya dengan dahi Kouki—tidak ingin Kouki menyembunyikan apapun darinya. Menatapnya dalam-dalam.

Kouki memegang pinggang Seijuurou dengan kedua tangannya. Mencengkeramnya. Matanya tertutup rapat. Airmata mengalir kian deras. Kouki merasakan tangan Seijuurou mengelus pipinya. Mengusap airmatanya. Lalu mendekat dan berbisik.

"Tidak usah kaupaksakan. Aku akan menunggu, sampai kapanpun. Biarkan semua terjadi apa adanya."

Tangisnya luruh tak lagi disembunyikan, Kouki makin kalut. Lantas ia memeluk Seijuurou, erat-erat, menggumam maaf berkali-kali.

Seijuurou membelai rambut coklatnya, mencium lembut dan berbisik sayang, dan Kouki bersandar seutuhnya padanya.


Kouki bangun ketika sinar matahari menelisik dari sela-sela gorden yang masih menutupi jendela kamarnya. Mengulet pelan, sakit. Ia bergeming kaku. Mendongak takut-takut, Seijuurou pulas memeluk dirinya. Horror menyerbunya, Kouki beringsut melepaskan diri dari dekapan suaminya.

Setelah berhasil membebaskan diri, Kouki menyibak selimut yang menutupi tubuhnya dan sang suami hingga sebatas leher diturunkan ke pinggang. Ia mengerjapkan mata, memfokuskan pandangan—takut indera pengelihatannya tak berfungsi dengan benar. Meraba sekujur tubuhnya yang semula polos, kini dipenuhi bercak merah hampir di setiap sudut. Ketakutan menderunya, ia menyingkap selimut yang masih menutupi bagian bawah tubuhnya.

Keduanya tidak memakai sehelai benang pun.

Wajahnya memerah, antara malu dan marah. Agar kasar, Kouki menyentak pelukan Seijuurou. Bersungut-sungut menarik selimut hingga tubuh Seijuurou terekspos terang-terangan. Mengerang malu karena bagian privasinya terlihat, ia menarik bantalnya dan menaruhnya keras di area pinggang ke bawah Seijuurou—memblokir area privat sang suami dari pandangannya.

Seijuurou yang kehilangan kenyamanannya, tersentak bangun. Memegang kening, pusing karena dibangunkan dengan cara tak menyenangkan. Menoleh pada suaminya—sudah bangun, Menatapnya dilintas kebingungan, Kouki nyaris memelototinya dengan mata berkaca-kaca—sungguh ironi.

"Selamat pagi, Kouki," sapanya.

"Sei, kenapa kau melakukannya denganku?" tanyanya masih memegang selimutnya, melindunginya bagai kepompong.

"Bukankah wajar untuk pasangan yang sudah menikah?" Seijuurou bertanya hal yang memang benar adanya. "Ini malam pertama kita setelah sekian lama kita menikah."

"SEI-JUU-ROU!" isaknya. "Kau sudah lupa dengan apa yang kauucapkan? Kau berjanji akan menungguku untuk mencintaimu, tapi kenapa kau melakukan ini di saat aku bingung dengan perasaanku?!" Kouki mendampratkan gundah gulananya.

Sementara Seijuurou masih memproses penyebab Kouki marah padanya, Kouki membalikkan badan, berjalan terseok menuju kamar mandi. Badannya pegal serasa dililit tali dan bagian pantatnya sakit bukan main. Kouki tersandung beberapa kali dan hampir terjatuh, Seijuurou bergegas mendekat untuk menjaganya

"Kau baik-baik saja, Kouki?"

Kouki merentangkan tangannya, mengisyaratkan "Jangan mendekat.", matanya terpicing menyiratkan ia tidak mau didekati Seijuurou untuk saat ini. Dilanjutkannya langkahnya tertatih ke kamar mandi.

Berdecak, ia mengacak rambutnya yang berantakan—pasca aktifitasnya semalam dan baru bangun tidur. Seijuurou menyumpah—menyalahkan diri sendiri—dalam gumam. Tertegun saat Kouki membanting pintu kamar mandi hingga tertutup.

Pagi hari yang kisruh kendati tak ada rusuh di kediaman pasangan Akashi.

Seijuurou menerima telepon dari ayahnya yang mengatakan ia akan kembali ke Jepang untuk mengunjunginya dan suaminya minggu depan.

Suara dering ponsel Kouki yang tak berhenti—tak diangkat juga, Seijuurou meyakini yang menelepon pasangannya sepagi ini adalah editornya.

Ponsel Seijuurou berdering lagi menandakan email Tetsuya yang mengajaknya bertemu dengan tim basket semasa sekolahnya dulu.

Seijuurou mendengar suara Kouki yang mengerang kesakitan dari kamar mandi. Segera menghampiri Kouki setelah berpakaian mengenakan piyama handuk merah marun panjang menjuntai elagan sampai bawah yang ditahan dengan ikatan di pinggang. Mengetuk kamar mandi pelan.

"Kouki, kau kenapa?"

Tidak ada jawaban selain gema suara seseorang seperti sedang -kali. Napasnya terdengar memburu. Jeda sebentar dan kembali terdengar.

Seijuurou mengetuk kembali pintunya, kesabarannya dikikis kekhawatiran. "Kouki, kau sakit? Biarkan aku masuk."

Baru saja Seijuurou hendak mendobrak pintu kamar mandinya—karena tak ada tanda-tanda Kouki sudi membukakan pintu baginya, ponselnya berbunyi nyaring. Mendengus pelan, ia merogoh saku piyama handuk merahnya. Proses tender berlanjut pada anjwizing, Seijuurou harus menjadi representator dari perusahaan Akashi—seperti biasa.

Bad timing.

Ia sudah berencana mengajak Kouki pergi kencan, berinisiasi dengan mendekatinya, kejadian semalam, dan suara muntahan Kouki mengurungkan niatnya untuk mengajak Kouki ke suatu tempat—yang mungkin akan membuat mereka nostalgia.


CHAPTER 2

.

Mistakes

..

"When I want to love him so much

but didn't want him enough to making love with me."

Written by: Nenami Megumi


To be continue

.

.

Thank you so much for reading our fanfiction and give us reviews.

Please read and review our fanfiction again. :')