Authors/notes: Persembahan dari tim panitia #44/12Week untuk merayakan AkaFuri Day.
Disclaimer: Kuroko no Basket punya Fujimaki Tadatoshi. Kami tidak mengambil keuntungan komersil atau materil apapun dari membuat fanfiksi ini.
Warning: AU, Male X Male, M for Safety, standard disclaimer and warning applied.
We proudly present our relay project Fanfiction:
.
To You, I Belong
Seijuurou menyesal terlalu terbawa suasana kemarin malam. Ia seharusnya mendengarkan kata hatinya yang mendesaknya untuk berhenti. Namun apa daya, malam itu Seijuurou kalah oleh pesona suaminya.
Kalah.
Sungguh itu suatu kata yang eksistensinya sangat seijuurou benci.
Buktinya, lihat di mana ia sekarang! Terduduk menatap hampa laptopnya. Pekerjaan dari sekretarisnya untuk mengaprovasi proposal tidak tersentuh. Jangankan mengerjakan proposal atau menyusun presentasi untuk tender yang telah disiapkan sekretarisnya, ia bahkan tidak fokus sama sekali.
Pikirannya hanya terpusat pada seseorang.
Kouki.
Suaminya kini tengah pergi bertemu editornya—deadline tagihan naskah novelnya. Seijuurou sudah melarang, mengingat ia baru saja mendengar suaminya itu muntah-muntah di kamar mandi.
Kouki hanya menatap suaminya dengan pandangan yang tidak bisa Seijuurou paham. Ada apa dengannya? Seijuurou seharusnya selalu tahu, tapi entah sejak kapan ia tidak bisa mengetahui apa yang suaminya pikirkan.
"Kau tidak perlu khawatir. Aku tidak apa-apa."
Kouki memakai sepatunya. Sebelum benar-benar pergi, ia berbalik menatap Seijuurou.
"Sei, aku memang marah saat ini atas apa yang kaulakukan semalam. Tapi aku juga tidak bisa bilang aku mengerti bagaimana frustrasinya kau menungguku membalas mencintaimu—aku tidak mengalaminya sepertimu."
Jeda. Sehela napas.
"Tapi perasaan frustrasi kita sama, kau suamiku tapi aku belum bisa mencintaimu seutuhnya, Sei." Konotasi aktifitas semalam mereka. "Karena itu … bisa kauberi aku sedikit waktu lagi?" tanya Kouki. Airmata meleleh menggarisi pipinya.
Melihat tangis itu disebabkan olehnya, Seijuurou mendekap erat Kouki.
"Maaf. Semalam aku—"
Belum selesai Seijuurou bicara, Kouki menggeleng keras. Kouki tahu Seijuurou paling tidak suka di sela saat bicara, tapi ini penting. Jadi ia tidak peduli lagi tatapan tajam Seijuurou padanya.
"Sei, yang semalam … aku tidak meminta agar kita melupakan itu, tapi bisa kita bicarakan lain kali? Aku … masih harus memikirkan banyak hal dan menata perasaanku."
Seijuurou mengangguk paham, kemudian hanya mengecup sekilas dan lembut bibir kouki seraya mengucap 'itterashai'.
Kouki tersenyum sangat samar, tak membalas 'ittekimasu', langsung beranjak pergi.
Sejam setelah kouki pergi menemui editornya, Seijuurou masih duduk termenung tanpa mendapatkan solusi apapun—baik untuk pekerjaan maupun masalah rumah tangganya. Terdiam beberapa sesaat, ponselnya berdering—tanda ada pesan singkat masuk.
Ah, ayahnya bilang akan berkunjung. Kabar ini tidak membuatnya jadi lebih baik. Mengabaikan, Seijuurou meletakkan lagi ponselnya—bertopang dagu memejamkan mata dan berpikir keras.
Dering ponsel mengejutkan dirinya. Ia mengenali dering tersebut dan tanpa melihat ID caller-nya, seijuurou menjawab panggilan tersebut.
"Tetsuya, ada apa?"
/"Aku rasa itu kalimatku, Akashi-kun. Ada apa?"/
"Aku baik-baik saja. Hanya ada sedikit masalah."
/"…apakah tentang—"/
Kuroko menggantung kalimatnya. Ia sedikit banyak tahu tentang hubungan Seijuurou dan mantan teman setimnya.
"Masalah pekerjaan. Ada apa?" kilah Seijuurou. Ia bisa mendengar kuroko menghela napas di seberang sambungan telepon. Tapi Seijuurou tahu, Kuroko tidak akan memaksanya bicara.
/"E-mail. Kau tidak membalas E-mail-ku tentang pertemuan rutin Kiseki no Sedai."/
Seijuurou terdiam sebentar. Sejujurnya, ia lupa tentang hal itu jika tidak dikirim email dan ditelpon oleh Kuroko Tetsuya—mantan teman satu timnya, pemain bayangan Seirin yang akhirnya berhasil mengalahkannya di Winter Cup. Lintasan momen termengerikan seumur hidupnya itu, lantas mengingatkannya pada pemuda yang kini berstatus sebagai suaminya.
Seijuurou menghela napas mengingat masa lalu. Dulu semua terasa sangat mudah.
/"Akashi-kun? jika kau tidak bisa, tidak apa-apa. Kita bisa mengundurnya lain kali."/
"Maaf, Tetsuya, aku—"
/"Akashi-kun, kau tahu kau tidak sendiri. Kami tahu masalah yang kau hadapi saat ini. Kami bersedia membantumu sekuat tenaga. Sejak di Teikou, Kiseki no Sedai sudah seperti keluarga."/
Seijuurou tanpa sadar tersenyum kecil. Berbicara dengan Kuroko ataupun sahabatnya yang lain selalu membuatnya lebih tenang. Dan itu membuatnya bisa berpikir dari sudut pandang lain.
"Tetsuya, aku tidak bisa ikut pertemuan rutin Kiseki no Sedai saat ini. Ada yang harus kulakukan."
/"Butuh bantuan untuk mencuri hati Chihuahua kesayangan Seirin, Tuan Muda?"/ tanya Kuroko dengan nada profesional dibuat-buat.
Seijuurou membayangkan kuroko masih dengan wajah datarnya dan itu membuatnya terkekeh pelan. "Saat ini tidak. Mungkin nanti."
/"Baiklah. Satu hal lagi, semua akan baik-baik saja, Akashi-kun."/
"Tentu, Tetsuya. Aku selalu menang, bukan?" ujar Seijuurou dengan nada sombongnya dan itu membuat kuroko mendengus geli kemudian memutuskan hubungan telepon.
Seijuurou kembali fokus pada laptopnya. Berkat telepon yang menenangkan dari Kuroko itu, ia dapat menemukan solusi bagi problema pekerjaannya dan lekas diselesaikannya dalam sekerjap mata.
Berikutnya, ia membuka search engine guna browsing rencana yang akan ia persembahkan untuk suaminya—mengganti agenda kencan mereka yang terpaksa dibatalkan. Tapi ternyata setelah mencari hampir satu jam, Seijuurou tidak menemukan solusi yang cocok dengan keadaannya saat ini.
Ia melirik ponselnya dan sedikit merasa frustrasi. Baru satu jam, ia sudah seputusasa ini dan ingin meminta bantuan teman-temannya?
Tidak ada waktu lagi untuknya merasa bimbang. Ia harus segera bergerak cepat demi menyelamatkan pernikahannya, atau pernikahannya dengan Kouki hanya akan menjadi sejarah belaka. Seijuurou tidak menginginkan itu terjadi. Ia bertindak cepat mengetik email dan mengirimkannya pada group-chat Kiseki no Sedai.
Entah mereka memang sudah menunggu atau apa, tidak perlu menunggu sepuluh menit, sahabat-sahabatnya sudah membalas pesannya.
Kise: "Katakan semua dengan bunga, Akashicchi! ( /^o^\)"
Aomine: "Buat dia bertekuk lutut di depanmu, Akashi-sama. Kau, kan, paling ahli dalam hal itu."
Murasakibara: "Belikan snack kesukaannya~~"
Kuroko: "Ajak dia jalan-jalan di tempat kenangan kalian. Atau ajak Kouki-kun ke tempat yang dia sukai."
Midorima: "Keberuntungan Sagitarius saat ini tidak terlalu tinggi, tapi Scorpio menempati urutan kedua. Keberuntungan kalian bisa ditingkatkan dengan lucky item. Lucky item Sagitarius dan scorpio saat ini benar-benar sama yaitu tableware."
Kagami: "Akashi, aku yakin kau paham saran mana yang harus kau ikuti atau tidak (menunjuk pesan dari Kiseki no Sedai yang lain).
Dan ini opiniku, Furi-maksudku Kouki, dia bukan orang yang bisa dibuai dengan hal-hal mahal. Itu justru akan membuatnya menarik diri darimu. Cukup hal sederhana yang kau buat sendiri, misalkan membuat makanan kesukaannya—pokoknya hal sedehana yang berasal dari kau sendiri dan setulus hati.
Kalau itu sukses, kau bisa ikuti saran Kuroko. Kau tidak perlu berpura-pura di hadapannya. Kau tahu, Kouki sejak dulu sangat mengagumimu. Karena walau menakutkan tapi itulah dirimu, dan itulah yang membuatnya terus melihatmu. Tentu kini kau tahu apa yang harus kaulakukan.
Aku tidak tahu ini benar atau tidak, kurasa Kouki mencintaimu. Mungkin ia hanya masih bingung dengan perasaannya. Jika dia tidak mencintaimu, kau hanya tinggal membuatnya mencintaimu, 'kan? Ganbatte!"
Seijuurou tertawa pelan membaca balasan dari para sahabatnya. Dari keseluruhan saran, entah kenapa justru Kagami, keajaiban yang tidak tergabung dalam keajaiban, ternyata yang cukup logis dan memberikan saran masuk akal serta menyulut semangatnya.
Ia tak salah memilih teman. Walaupun jawaban mereka beragam, ada yang asal untuk menghibur, ada yang terlalu fokus pada ramalan, dan juga jawaban yang memberikan solusi, semuanya tetap membangkitkan semangatnya dan kepercayaan dirinya.
Seijuurou menyusun rencana sederhana. Ia akan memasak makan siang setelah memastikan lewat E-mail bahwa Kouki akan pulang saat makan siang. Suaminya sangat menyukai omelet-rice, jadi itulah yang dijadikan menu utama untuk makan siang mereka. Beruntung kulkas di rumahnya terisi penuh dengan berbagai macam bahan makanan.
Omelet-rice tersebut dibuatnya sesempurna mungkin, seluruh aspek hasil masakannya mulai dari rasa, penampilan, bentuk, warna, bahkan garnish, benar-benar diperhatikannya agar tak ada cacat cela. Disajikannya berdampingan dengan peralatan makan terbaik yang dimilikinya.
Sehubungan dengan lucky item yang Midorima sebutkan—entah ini akan meningkatkan peruntungannya dan Kouki atau tidak, ia kembali didera ide. Makan siang di beranda. Ia pun segera mengatur tableware dan kursi di beranda rumah lantai dua. Selagi menyiapkan makan siang di beranda, Seijuurou melihat sekeliling rumah, bersyukur rumah tidak butuh dibereskan atau dibersihkan lagi.
Setelah memastikan semua sempurna, makanan kesukaan Kouki telah tersaji apik di piring cantik, dua gelas jus dan air mineral, terletak di atas meja bertaplak bersih, menghadap dua kursi, dan entah kenapa terlihat berkilauan tertimpa cahaya matahari yang menghangatkan. Seijuurou turun ke bawah untuk mencuci peralatan bekas memasak. Ketika ia memutar keran air supaya tertutup—selesai mencuci, bertepatan dengan suara pintu yang terbuka.
"Sei, aku pulang."
"Selamat datang, Kouki."
Kouki tercenung ketika Seijuurou mendekatinya. Masih terlihat ragu didekati suaminya, tapi selama ia berada di luar rumah tadi, ia berjanji akan membiasakan diri dengan apapun yang dilakukan Seijuurou—semuanya berdasarkan cinta. Karena itulah, ia pasrah saja saat Seijuurou mengecupnya pelan. Walau begitu, percakapan tadi pagi terlintas di benaknya, ia kembali merasa canggung. Buru-buru melepas sepatu dan kaus kaki, berjalan menuju dapur.
"Sei… ka-kau sudah makan siang? Maaf tunggu sebentar, a-aku akan membuat—"
"Aku sudah masak."
Kouki memutar kepala, memandang suaminya yang ternyata mengikutinya berjalan ke dapur. Menatapnya, terkejut. "A-apa?"
"Aku sudah memasak untuk makan siang." Seijuurou meraih pergelangan tangan Kouki, pegangannya longer—tak mau menakutinya atau membuat suaminya menolaknya lagi. "Ayo kita makan bersama."
Seijuurou membawa Kouki ke beranda rumah mereka yang sudah ditata olehnya sebelum suaminya pulang. Dibiarkannya Kouki bergeming menatapi usahanya dengan ekspresi terkejut bukan kepalang.
"Kau … memasak."
"Ya. Apakah itu hal yang aneh?"
"Ti-tidak, bu-bukan begitu. Maaf, ma-maksudku … kau tidak pernah … ini pertama kalinya…" Kouki terlihat kesulitan mengungkapkan apa yang dirasakannya melihat Seijuurou menyiapkan semua ini untuknya.
Seijuurou menghela napas pendek. Menepuk sekilas puncak kepala suaminya yang masih kehilangan kata-kata. "Tak perlu kaupikirkan. Anggap saja permintaan maaf atas apa yang aku lakukan semalam."
Kouki refleks menoleh pada Seijuurou, wajahnya dinoda kebingungan. "Ta-tapi, semalam … seperti katamu itu memang sudah seharusnya karena kita—"
"Sudah seharusnya?" Sudut bibirnya terangkat, senyum hambar sekilas. "Benar. Tapi tidak ketika suamiku belum siap."
"Sei…" Kouki menundukkan kepala. Ia memang merasa marah, malu, dan kesal. Tapi, kini hanya perasaan bersalah yang menyelimutinya.
Seijuurou memikirkan masak-masak apa yang hendak dikatakannya, menelisik Kouki, akhirnya memutuskan untuk menyatakan yang ia ketahui selama ini.
"Kouki, aku tahu kau ingin semua ini berakhir karena kau tidak bisa mencintaiku dan merasa bersalah, tapi aku tidak ingin pernikahan ini berakhir. Karena itu, kau cukup nikmati apa yang kuberikan, dan biarkan aku membuatmu jatuh cinta padaku."
Kouki tercekat. Matanya terasa panas. Seijuurou tahu apa yang dirasakannya selama ini, dan perkataan Seijuurou barusan sungguh menyesakkannya.
Seijuurou mengecup pelan pipi Kouki, menyeka airmata yang terancam jatuh dari sudut mata suaminya. "Sssh. Kita lakukan pelan-pelan." Ia tersenyum tipis. "Lebih baik kita makan siang sekarang, sebelum semua makanan mendingin."
"Seijuurou, aku—" Kouki mengangkat kepala.
Tidak ingin mendengar pembenaran Kouki terhadap kenyataan yang barusan dilontarkannya—atau itu yang Seijuurou kira, pelan didorongnya Kouki untuk duduk di kursi. Setelah memastikan suaminya duduk manis di kursi, ia beranjak untuk duduk di kursinya sendiri.
Kouki tertunduk lesu, pelan mengucap "itadakimasu" tanpa semangat berlebih, menyuap makanannya. Ekspresinya mencerah merasakan kelezatan masakan suaminya. Mendesah pelan, iri karena suaminya memang serba bisa. Sempurna. Ia menyuap lagi, suapan lebih besar kali. Asyik mengunyah makanan—lupa membuka percakapan. Sadar sedang diawasi, ia mendongak.
"Apa masakanku enak? Atau tidak?"
"Ah—uhhm! Sa-sangat enak!"
"Bagaimana dengan naskah yang kauserahkan tadi? Apa kata editormu?"
"Err, masih harus kuperbaiki … terlalu cliffie, harus ada bagian resolusi."
"Padahal menurutku sudah bagus. Cliff-hanger membuat pembaca penasaran menunggu karyamu berikutnya."
"Memang iya. Tapi, kata editorku—"
Seijuurou memulai percakapan dan Kouki cukup terkejut. Suaminya tidak sekalipun menyelipkan kata-kata cinta yang terdengar omong kosong bagi Kouki. Tidak, Seijuurou mengajak bicara dirinya bermula dengan topik-topik sederhana. Mulai dari pekerjaannya—dan Kouki tersenyum menyadari Seijuurou menanyakan pekerjaannya adalah tanda kepedulian Seijuurou padanya. Berita-berita mengejutkan, hal-hal besar tentang dunia, hingga hal kecil remeh tentang kucing lucu yang Kouki lihat di jalan.
Untuk pertama kalinya juga, Kouki bisa menikmati pembicaraan dengan suaminya. Ia tidak merasa terbebani dengan ketidakmampuannya mengikuti wawasan atau gaya bicara elegan Seijuurou.
Menyadari Kouki merasa santai bicara dengannya—berceloteh ini-itu sembari menandaskan masakannya, ia sadar rencananya berhasil. Seijuurou menahan kembangan senyum, lekas merencanakan agenda berikutnya. Agenda yang dapat membuat suaminya jatuh cinta kepadanya.
Sedangkan Kouki, hatinya terus menerus berdoa agar Tuhan membuatnya bisa mencintai suaminya. Mungkin, sebentar lagi ia bisa mencintai Seijuurou. Mungkin saja ….
"Ah, aku lupa karena menyiapkan semua ini untukmu."
"A-ada apa, Sei?"
"Ayahku bilang dia akan datang mengunjungi kita minggu depan."
Kouki menelan ludah mendengarnya.
CHAPTER 3
.
Supports and Plans
..
"When you tried so hard to pleased me after that night."
...
Written by: Misa Kaguya Hime
To be continue
.
.
Thank you so much for reading our fanfiction and give us reviews.
Please read and review our fanfiction again. :')
