Authors/notes: Persembahan dari tim panitia #44/12Week untuk merayakan AkaFuri Day.

Disclaimer: Kuroko no Basket punya Fujimaki Tadatoshi. Kami tidak mengambil keuntungan komersil atau materil apapun dari membuat fanfiksi ini.

Warning: AU, Male X Male, M for Safety, standard disclaimer and warning applied.


We proudly present our relay project Fanfiction:

.

To You, I Belong


"Sei." Suara Kouki tertahan di tenggorokannya, ia berusah berucap namuan yang keluar hanya gumaman. " Aku masih tidak— "

Seijuurou yang dapat mengerti akan ketakutan yang dimiliki kekasihnya, langsung mengenggam tangannya.

"Kouki, lihat aku." Tersentak kaget dengan sentuhan tiba-tiba dari suaminya, Kouki hanya bisa menatap balik pandangan menenangkan yang diberikan Seijuurou. "Semuanya akan baik-baik saja."

"Sei, terima kasih." Kouki balas menatapnya. Meski masih merasa cemas.

Acara makan siang di beranda yang tadinya santai dan menyenangkan, kini kesan itu tidak ada lagi. Hanya ada suara sendok dan piring yang mengiringi mereka. Seijuurou mengerti, bahkan ia dapat menebak apa yang sedang dikhawatirkan Kouki.

"Sei, biar aku yang membereskannya." Tanpa menatap wajah Seijuurou, Kouki berdiri dan mengambil piring-piring bekas makan mereka.

"Kita lakukan bersama, Kouki." Tidak ada respon dari Kouki, ia hanya berjalan mendahului Seijuurou membawa peralatan makan ke kitchen-sink untuk dicuci.

Setelah selesai mencuci piring bersama, Seijuurou kembali mencoba mengajak Kouki berbicara, walau hanya ditanggapi dengan anggukan atau dengan sedikit sahutan, Seijuurou tetap tenang dan berpikir positif.


Malam ini Kouki berniat melanjutkan novelnya, tapi tidak bisa. Perhatiannya teralih dengan pemberitahuan Seijuurou tadi siang perihal kedatangan ayahnya. Mecoba untuk menenangkan diri, Kouki berjalan ke arah balkon rumahnya dan di sanalah ia berakhir menatapi bulan.

"Haaah." Kouki menghela napas untuk yang kesekiankalinya, lalu terperanjat kaget. Ia mengenali lengan kokoh yang melingkar di pinggangnya.

"Se-Sei—"

Mencoba menata suara dan detak jantungnya supaya lebih normal, Kouki menarik napas lalu bertanya kepada Seijuurou dengan suara yang masih sedikit bergetar.

"Ada apa?"

Kouki mencoba berbalik dan menatap wajah Seijuurou, tapi tidak bisa karena Seijuurou tersebut malah mengeratkan pelukannya kepada Kouki—mencegah usaha suaminya untuk mengetahui ekspresi Seijuurou saat itu.

"Boleh aku memelukmu seperti ini sedikit lebih lama, Kouki?" bisik Seijuurou seraya menyandarkan dagunya pada bahu suaminya.

Tidak biasanya Seijuurou meminta izin kepadanya. Sebagai balasan dari permintaan Seijuurou, Kouki hanya mengangguk kecil. Tanpa sadar tensi yang sedari tadi membalutnya berkurang, dan ia menyandarkan diri pada Seijuurou—kepalanya bersandar pada sisi kepala Seijuurou.


Ayah Seijuurou akan datang berkunjung. Kouki tahu itu. Tapi ia tidak tahu bahwa akan datang secepat ini.

Bagaimana tidak, kemarin malam Seijuurou hanya mengatakan bahwa ayahnya akan datang berkunjung. Tapi lihat sekarang—malam ini, seorang Akashi Masaomi sedang duduk di depannya dan menatap langsung ke arah mata Kouki.

"Kouki, lama tidak bertemu. Bagaimana hubunganmu dengan Seijuurou?" Kepala keluarga Akashi itu bertanya dengan tenang. Pertanyaan frontal padahal Kouki baru saja menghidangkan teh untuknya.

Kouki yang memang pada dasarnya tidak terlalu berani menatap balik orangtua Seijuurou itu hanya memilin ujung kain baju yang ia kenakan dan menyahut pelan.

"Umm, hubungan kami baik-baik saja." Pelan dan sedikit bergetar—meski berusaha tegar, Kouki mencoba mengeluarkan suaranya yang dari tadi tertahan karena merasakan tikaman rasa bersalah.

Mereka terus melanjutkan percakapan—atau interogasi bagi Kouki, selalu Masaomi yang bertanya dan menantunya hanya tinggal menjawab. Saat itu, Kouki benar-benar berharap Sei akan pulang lebih cepat dan menemaninya sekarang.

Ia terlalu takut. Takut dengan semua rasa cinta dari Seijuurou yang tak terbalaskan olehnya. Takut dengan ayahnya yang menuntutnya untuk mencintai putranya.

"Kouki, apa Seijuurou selama ini sering pulang larut malam?" Masaomi yang sudah kehabisan topik pembicaraan melirik jam dinding. Ia ingin bertemu dengan putranya juga.

"Tidak, Seijuurou pulang tidak terlalu malam. Kalaupun ia lembur di kantor, biasanya Seijuurou akan memberi kabar."

Kouki menatap wajah ayah mertuanya sekilas, gelisah berulangkali melirik kearah jam dinding lebih dari yang Masaomi lakukan.

"Err, ta-tadi aku sudah mengabari Seijuurou bahwa Ayah datang. Apakah Ayah ada urusan penting dengan Sei?"

"Tidak juga. Aku hanya sedikit mengkhawatirkan Seijuu—"

TINGTONG!

Percakapan mereka berdua terhenti karena bunyi bel, wajah Kouki mencerah, sopan dirinya meminta izin untuk membukakan pintu pada ayah mertuanya.

Masaomi mengangguk, memerhatikan menantunya berlari—yang tidak perlu sebenarnya—untuk membukakan pintu, ia mengulum senyum. Terlalu terlihat jelas, Kouki berharap Seijuurou yang pulang.

Pintu terbuka, Seijuurou tertegun tak sempat mengucapkan tadaima karena dikagetkan oleh Kouki yang membukakan pintu untuknya sembari tersenyum lega dengan mata berkaca-kaca menyambutnya. Tidak hanya disambut dengan "Okaeri, Sei!", Kouki bahkan memeluknya sekilas.

Astaga. Apa pengaruh ayahnya sehebat ini? Mendadak terlintas di pikiran Seijuurou, meminta ayahnya untuk sering-sering datang berkunjung dan menemani Kouki.

Seijuurou menuju ruang tamu untuk menemui ayahnya diiringi Kouki yang ekspresinya tidak lagi sesuram sebelum dirinya pulang.

"Selamat malam." Pemuda itu menyapa dengan tatakrama yang dipelajarinya sejak kecil. " Apakah ayah terlalu lama menungguku?"

Seijuurou duduk berseberangan sofa dengan ayahnya, ia menyamankan posisi duduknya seraya menaruh tas kerja di kaki meja. Alisnya terkernyit halus menyadari Kouki—tidak biasanya—duduk merapat padanya.

"Tidak perlu formal begitu, kita sekarang tidak berada di kantor, Seijuurou." Masaomi menghirup tehnya tenang. Matanya mendelik tajam, ia tahu ada ketidakberesan terjadi dalam rumah tangga anaknya. Menantunya bahkan tidak memperlakukan putranya sebagaimanamestinya.

Di saat seperti inilah, ia makin meragukan kebenaran keputusannya merelakan putranya menikah dengan pemuda ordinari itu.

Kedua pemuda itu berpandangan sesaat.

Menghembuskan napas panjang, Masaomi meluncurkan rencana terselubungnya.

"Aku mengundang kalian makan bersama di rumah besar. Besok, tepat pukul tujuh malam. Aku tidak menerima penolakan."

Masaomi tersenyum tipis. Menyiratkan ancaman—bagi Kouki, dan juga kelicikan—bagi Seijuurou. Tentu keduanya tidak bodoh untuk menolak undangan sang ayah. Urusan apapun besok harus dibatalkan, atau Masaomi yang akan menggunakan segala cara untuk membuat mereka datang—dan itu hal terakhir yang keduanya inginkan.

"Baiklah, kami akan datang." Seijuurou menyanggupi undangan ayahnya sambil mengerling Kouki. Ia yakin Kouki tampak keberatan, tapi juga tidak berdaya.

Kouki menghembuskan napas panjang, penuh pertimbangan, lantas menatap wajah ayah mertuanya. "Kami akan datang. Aku juga ingin mengunjungi makam Ibu."

Astaga. Kouki-nya jadi semakin aneh. Ia tidak biasanya berani menatap ayahnya tepat di mata—tidak walau tubuhnya bergetar. Biasanya Kouki terlalu terintimidasi untuk berani menghadapi ayahnya. Seijuurou hanya melirik suaminya, wajah menyiratkan keheranan.

Tampak puas, Masaomi meletakkan cangkir tehnya. "Hmm. Sebaiknya aku pulang sekarang, sudah malam."

"Hanya itu?" tanya Seijuurou tajam.

Masaomi yang baru bangkit, menyuruh Kouki mengambilkan mantelnya, melirik putranya. Dibiarkannya Kouki membantunya memakai mantel. "Apa kau keberatan aku mengajak kalian makan malam secara langsung?" Dia melirik Kouki yang mundur usai memakaikannya mantel. "Makan malam tadi tidak buruk."

Menantunya berjengit, buru-buru mengangguk, tersenyum lega karena mengerti maksudnya adalah masakannya sangat lezat. "Te-terima kasih, Ayah."

Selagi diantarkan ke pintu depan dengan kedua pemuda berjalan mengikutinya dari belakang, Masaomi mendengar percakapan pelan putranya dan menantunya.

"Kau memasak untuk Ayah?"

"Err … maaf kami makan duluan. Kau pulang kelewat malam, Sei."

"Tidak apa-apa. Aku bisa mengerti. Tapi aku belum makan."

"Aku sudah menyiapkan untukmu. Kau mandi saja, nanti aku hangatkan lagi makanan untukmu."

"Ehm-hmm."

Dehaman itu menginterupsi percakapan kedua pemuda tersebut, Masaomi menoleh ke belakang. Seijuurou yang memahami tatapan ayahnya, segera membukakan pintu. Mencari tangan kanan kepercayaan ayahnya untuk menyiapkan mobil, mungkin sang butler ada tak jauh dari mobil terparkir.

"Kouki."

Mendengar namanya disebut oleh ayah mertua, Kouki tersentak kaget.

Masaomi membalas tatapan ketakutan menantunya, menatapnya tajam. Ternyata tidak seperti kesan sebelumnya—bahwa Kouki tidak memperlakukan Seijuurou dengan sebaik-baiknya, ia bisa melihat perubahan dalam diri menantunya.

Kouki tidak lagi tidak menerima Seijuurou sebagai suami—dari caranya berlari menyambut Seijuurou di pintu dan ekspresinya berubah drastis seakan mendapat dukungan moral dari kepulangan putranya, tidak lagi merentangkan jarak dengan Seijuurou—dari caranya duduk mendekat pada putranya, tidak pula egois lagi karena kini ia terbukti memedulikan Seijuurou—dari caranya bicara meminta maaf dan ternyata sudah menyiapkan makan malam khusus untuk putranya.

Pandangannya meneliti fisik sang menantu. Tak ada perubahan signifikan. Tapi tak ada jaminan mereka tidak melakukannya. Mungkin saja sudah. Entahlah. Ada intimasi tersirat dari keduanya meski masih terasa canggung.

"Apakah kau tahu bahwa Seijuurou itu tidak akan pernah memperlihatkan ketakutannya, Kouki?"


CHAPTER 4

.

Their Closeness

..

"Someone realized before me that I've changed because of him."

...

Written by: Fifuri


To be continue

.

.

Thank you so much for reading our fanfiction and give us reviews.

Please read and review our fanfiction again. :')