Authors/notes: Persembahan dari tim panitia #44/12Week untuk merayakan AkaFuri Day.
Disclaimer: Kuroko no Basket punya Fujimaki Tadatoshi. Kami tidak mengambil keuntungan komersil atau materil apapun dari membuat fanfiksi ini.
Warning: AU, Male X Male, M for Safety, standard disclaimer and warning applied.
We proudly present our relay project Fanfiction:
.
To You, I Belong
Malam itu sungguh Kouki tidak bisa tidur. Pikirannya melayang ke ucapan mertuanya, Akashi Masaomi.
"Apakah kau tahu bahwa Sejuurou tidak akan pernah memperlihatkan ketakutannya?"
Kouki tidak mengerti apa yang dimaksud mertuanya. Apa ada hal yang bisa menakutkan Seijuurou? Setahunya tidak ada hal yang ditakutkan oleh Seijuurou, malah dia yang membuat takut orang lain.
Seingatnya, Kouki belum mengenal suaminya sebaik Seijuurou mengenalnya. Dia tidak tahu hal-hal kecil yang Seijuurou suka, tidak suka, kegiatan yang senang dilakukannya, dan yang dia tahu hanya hal-hal umum tentang Seijuurou.
Suaminya adalah pewaris dari Akashi Corporation yang merupakan perusahaan terbesar di Tokyo, berbakat dalam basket dan shogi, point-guard terbaik dalam basket yang pernah dikenalnya, salah satu dari generasi keajaiban …. apa lagi?
Apa lagi yang Kouki tahu tentang Seijuuro?
Meringis miris. Sudah, hanya itu yang Kouki tahu.
Kouki merasa jahat, Seijuuro begitu tahu segalanya tentang dirinya. Tapi dirinya?
Apakah ini yang membuat Kouki belum bisa mencintai Seijuurou? Karena dia tidak mencoba untuk lebih mengenal baik sosok Seijuurou? Hal-hal kecil yang menjadikan Seijuurou sebagai individu yang dielu-elukan penuh pesona?
Kouki tahu bagaimana perlakuan Seijuurou terhadapnya. Baik—terlalu baik, lembut, dan penuh perhatian.
Tapi apakah benar suatu saat nanti Kouki akan mencintai Seijuurou? Bagaimana jika dia malah menyukai orang lain—atau mencintai lagi orang yang pernah disukainya? Bukankah itu akan menyakiti Seijuurou?
Membulatkan tekad, mulai besok Kouki akan mencoba mengenal luar dan dalam sosok seorang Akashi Seijuurou.
Dengan berbagai ide untuk menghadapi hari esok, Kouki perlahan-lahan terlelap.
Mereka saat ini berada di meja makan—sedang sarapan. Kouki yang sesekali mencuri pandang ke arahnya membuat Seijuurou menghentikan suapannya.
"Ada apa, Kouki? Ada yang ingin kautanyakan?"
"Sei, soal nanti malam—"
Menghela napas. "Kouki, tenang saja."
"Bu-bukan itu. Karena akhir minggu hari ini kita tidak ada pekerjaan, bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan? Setelah itu, kita baru ke rumah Ayah untuk makan malam." Kouki melihat takut-takut ke arah Seijuurou. "Ba-bagaimana menurutmu?"
Sunyi.
Selama mereka tinggal bersama, baru kali ini Kouki mengajak Seijuurou untuk keluar bersama.
Seijuurou ingin mengantar Kouki kemana saja selalu Kouki tolak. Tapi kali ini, Kouki yang mengajaknya. Bahkan sebelum Seijuurou mengajak Kouki kencan, Kouki sendiri sudah mengajaknya duluan.
Ah, kencan. Perasaan Seijuurou menghangat mendengar ajakan Kouki.
"Ternyata kau ingin kencan denganku."Mengangguk-anggukan kepala seolah mengerti—halus menggoda, Seijuurou menyeringai khasnya.
"Bu-bukan seperti itu. Hanya saja ... aku ingin menghabiskan hari ini di luar rumah."
Kouki pura-pura sibuk dengan makanannya. Meski begitu, Seijuurou masih bisa melihat semu merah di pipinya.
"Lagipula ini bukan kencan, hanya sekedar jalan-jalan," bantah Kouki sambil menundukkan kepala.
Terserahlah Kouki mau berpikir ini kencan atau bukan, tapi yang pasti Seijuurou tidak akan melewatkan kesempatan ini.
Seijuurou tenang menanggapi. "Baiklah, ini bukan kencan. Jika seperti itu, kau yang menentukan kita akan ke mana."
"Eh, tapi kalau aku yang memilih tempatnya kau tidak akan suka, Sei." Kouki refleks mengangkat kepala mendengar tanggapan suaminya.
"Mengapa kau berpikir aku tidak akan menyukainya? Apapun yang kau suka, aku pasti menyukainya." Seijuurou tersenyum, senyum yang hanya di tunjukan untuk Kouki seorang.
Dan muka Kouki semakin memerah."Sebenarnya, aku ingin pergi ke tempat yang benar-benar Sei ingin datangi. Bukan karena aku yang meminta atau karena yang lain. Tempat yang Sei ingin datangi tapi tidak pernah di datangi. Tempat yang—"
"Benarkah?" Seijuurou memotong ucapan Kouki. Nadanya serius.
"Eh? Uhm."
Mengapa tatapan seperti itu yang ditunjukan oleh Seijuurou kepadanya. Tatapan yang di dalamnya terdapat kepedihan, kesedihan, dan keputusasaan? Kouki baru pertama kali melihat tatapan Seijuurou seperti itu.
Seandainya Kouki tahu bahwa Seijuurou selaluu memberikan tatapan itu di kala Kouki tidur terlelap. Andai saja Kouki tahu Seijuurou selalu memberikan tatapan itu di kala Kouki memunggunginya, selalu, di kala Kouki tidak menyadarinya.
Tatapan yang amat menyesakkan Kouki.
"Baiklah, aku sudah memutuskan akan kemana hari ini. Selesaikan makanmu, setelah itu kita berangkat."
Sarapan yang sempat tertunda itu berlanjut.
Hitachi Seaside Park adalah tujuan mereka setelah melakukan perjalanan sekitar dua-tiga jam dengan mobil. Setelah mengetahui tujuan mereka yang dicanangkan Seijuurou, Kouki bersemangat luar biasa. Di Hitachi Seaside Park, banyak sekali bunga beraneka ragam dan berwarna-warni, dan tentunya merupakan pemandangan yang sangat indah.
Dulu Kouki selalu ingin datang ke Hitachi Seaside Park—karena pernah beberapa kali diajak berwisata oleh keluarganya. Tapi sayang, tempatnya yang jauh dari daerah rumahnya dulu dan tidak ada yang bisa diajak ke sana.
Orang tuanya sibuk dan teman-teman lelakinya tidak ada yang mau ke sana, mereka sering mengejek Kouki karena menyukai taman beraura romantis bertaburan bunga-bunga cantik. Sedangkan untuk mengajak teman perempuannya, Kouki merasa malu—karena ia merasa seperti mengajak mereka berkencan padahal maksudnya sama sekali tidak seperti itu.
Seijuurou tersenyum melihat Kouki tampak begitu bahagia. Lantas mengingat, sudah lama rasanya dia tidak datang ke sini. Sudah lama tidak melihatnya. Senyuman itu muncul kembali, senyuman penuh kepedihan.
Di sinilah mereka berada, sedang melihat berbagai bunga yang mekar sempurna di musim ini. Seijuurou duduk di bangku taman yang kosong dan melihat Kouki sedang memfoto bunga-bunga tersebut.
Usai dengan pekerjaannya, Kouki menghampiri Seijurou. Mukanya berseri-seri. "Sei, terima kasih sudah membawaku ke sini. Di sini indah sekali dan memberiku banyak inspirasi. Hehehehe." Ia terkekeh riang.
Setelah berkata demikian, Kouki berlari di antara bunga-bunga itu dan Seijuuro seperti tak diacuhkan. Tapi toh bila dari dulu kenyataannya demikian, Seijuuro tidak pernah merasa begitu—tak dipedulikan. Bagaimanapun caranya Seijuurou akan membuat Kouki jatuh cinta kepadanya. Seijuurou tidak akan pernah melepaskan Kouki-nya, tidak akan lagi.
Kelelahan karena ekspedisi kecilnya mengitari taman, akhirnya Kouki mendudukkan diri di sebelah Seijuurou yang menyodorkan botol minum padanya. Diminumnya air pemberian Seijuurou.
"Taman ini sangat luas, lebih luas dari yang kuingat. Dari dulu aku ingin sekali ke sini lagi. Aku sangat menyukai bunga. Nah, kalau Sei sendiri bagaimana? Apakah Sei suka bunga? Bunga apa yang Sei suka?"
Bukannya menjawab pertanyaan Kouki, Seijuurou malah tertawa ringan, menyandarkan tubuh pada sandaran bangku taman.
"Dulu seperti ini, banyak bicara dan tidak pernah berhenti. Berlari seolah tidak akan kehabisan energi. Tidak banyak berubah."
Seijuurou memandang taman bunga dengan begitu lembut. Kouki menatapnya bingung, tak mengerti kenapa pertanyaannya tidak dijawab malah Seijuurou mengatakan hal-hal yang random.
"Sei, a-apa maksud—"
"Bukan apa-apa." Memotong ucapan Kouki dan lebih memilih melihat ke arah bunga-bunga. "Kau hanya mengingatkanku pada masa kecilku."
Mereka saling diam. Seijuurou masih melihat ke arah lain, dan Kouki yang melihat ke arah Seijuurou. Kouki yakin ada sesuatu dari ucapan Seijuurou tadi, dan memang benar. Dia benar-benar tidak mengenal dengan baik siapa Seijuurou sebenarnya. Suaminya mempunyai rahasia yang Kouki tidak tahu.
Apakah ini yang dimaksud oleh mertuanya?
Apa perihal mengingatkan pada masa kecil itu sesuatu menakutkan bagi Seijuurou?
Benarkah?
Kenapa ekspresi suaminya tak terbaca olehnya?
Kenapa ia tidak bisa mengetahui apa yang sedang dipikirkan atau dirasakan Seijuurou?
Kouki tidak tahu apa yang merasukinya, ia menggenggam tangan Seijuurou. Ia ingin tahu. Diremasnya pelan tangan Seijuurou.
Merasakan sentuhan di tangannya, Seijuurou menggenggam balik tangan suaminya. Tapi saat ini ia tidak ingin melihat ke arah Kouki. Tidak dengan kenyataan bahwa Kouki tidak menatapnya seperti caranya menatap Kouki. Mungkin, Kouki hanya bersimpati, pikir Seijuurou getir.
"Sei, jika kau ada masalah, atau sesuatu yang menggangu pikiranmu, tentang masa kecilmu, tentang pekerjaanmu atau apapun, kau bisa bercerita kepadaku. Mungkin jika urusan tentang perusahaan, aku memang tidak akan bisa membantu, tapi jangan sungkan-sungkan untuk bercerita kepadaku."
Tawaran itu menyejukkan. Menyakitkan. Seijuurou mengalihkan pandangan dari bunga-bunga yang bergoyang ditiup angin pada Kouki yang bersungguh-sungguh memandangnya.
Mereka bertatapan sesaat.
Kouki merasakan pipinya ditangkup dalam tangan hangat Seijuurou yang membawa wajah Kouki untuk semakin dekat pada wajahnya. Dan melumat bibir merah muda yang dari tadi terus berbicara serta menguntai senyum. Seijuurou melumat dengan sangat lembut, menghisap bibir bawah dan atas bergantian.
Kouki yang terkejut dengan aksi Seijuurou hanya bisa meremas lengan suaminya, melenguh pelan. Dilepaskannya cumbuan pada bibir Kouki, sebelum Seijuurou lepas kendali. Dilihatnya muka Kouki yang merah padam dengan lengan menutup bibir.
Ah. Sepertinya Kouki tidak suka ciumannya. "Jangan menatapku seperti itu seakan-akan aku yang salah. Kau dari tadi terus menggodaku." Seijuurou datar memandang suaminya yang membuang muka ke samping.
"Ta-tapi, ini di tempat umum, Sei. Dan meskipun bukan di tempat umum, be-belum tentu aku mau," bisik Kouki pelan.
Menahan kekecewaan, Seijuurou tak menanggapi respons Kouki barusan atas ciumannya—dan demi Tuhan itu hanya satu ciuman. Menenggak saliva pahit, ditariknya tangan Kouki. Bersama-sama mereka menelusuri jalan yang mengarah ke bukit. Sepanjang perjalanan berjajar bunga dengan Lily warna ungu.
Kouki tampak terpesona. "Indahnya…" Pemandangan dari atas bukit tentu saja menakjubkan.
Seijuurou melihatnya sepintas. "Kalau kau suka, kita bisa ke sini lagi kapan-kapan." Melihat hamparan bunga itu, mengingatkan Seijuurou pada masa lalu.
"Benarkah?" Mata berbinar yang seperti anak kecil, sungguh menggemaskan menatapnya.
Seijuurou mengalihkan tatapannya. Mata lurus menatap jalan setapak yang dipagari bunga-bunga indah.
"Iya, kita akan kembali ke sini nanti. " Ia tersenyum tipis, matanya memandang rindu keseluruhan taman berbunga-bunga indah tersebut. "Dulu aku cukup sering ke mari."
"Benarkah? Kau beruntung bisa sering ke sini." Kouki mendesah, iri. "Hmm … kenapa kau suka datang ke sini?"
"Aku suka datang ke sini untuk melihatnya menertawakan bunga-bunga di sini. Tidak bisa diam, mendadak hiperaktif di tempat ini, dan jika sudah waktunya pulang, ia tidak mau."
Seijuuro sepertinya tidak sadar bagaimana tatapan Kouki saat ini padanya. Kouki menatapnya kosong, tak paham sama sekali.
"Ah, sudah mulai sore rupanya. Sebaiknya kita segera ke rumah Ayah." Seijuurou mengecek arlojinya yang masih menggenggam tangan Kouki. Di saat itulah Seijuurou menyadari ada yang tidak beres dengan suaminya. "Kouki, ada apa?"
"Eh, a-aah, tidak ada apa-apa, sebaiknya kita segera ke tempat Ayah. Jangan sampai dia menunggu lama, Sei."
Kouki melepaskan genggaman tangan mereka, mendahului suaminya agar ekspresinya saat ini tidak terlihat. Seijuurou yang aneh hari ini, dan kata-katanya tentang seseorang—sepertinya punya kenangan berharga dengan suaminya, amat memengaruhi Kouki. Ia merasa tidak tenang. Gelisah. Gundah.
(Karena itu juga Kouki tidak melihat mata yang lagi-lagi menyiratkan keputusasaan ketika tangan mereka lepas bertautan.)
Kouki memutuskan untuk mengirimkan pesan pada salah satu teman yang paling dipercaya olehnya dan sekiranya tak banyak hal tentang Seijuurou. Berkali-kali ia mengirimkan pesan, tapi belum ada balasan. Imajinasinya merambah liar ke mana-mana.
/"Kuroko, aku ingin bertanya sesuatu." /
Drrt.
/"Ada apa, Kouki-kun?"/
Drrt.
/"Kuroko, maaf … apa kau tahu Seijuurou dulu paling dekat dengan siapa?"/
Drrt.
/"Setahuku dengan Midorima-kun."/
Membayangkan Seijuurou dan Midorima berdua di taman bunga. Midorima yang berlari-lari untuk melihat bunga, penuh semangat, dan tidak ada bosan-bosannya. Padahal tidak mungkin semasa kecil Midorima lucky-item-nya hanya bunga. Err, sepertinya mustahil. Menggeleng-gelengkankan kepala karena imajinasi berlebihannya itu, tidak sadar Seijuurou diam-diam mengawasinya—meliriknya tajam yang sibuk berkirim pesan singkat.
/"Maksudku bukan dekat seperti itu. Apakah dulu Seijuurou punya pacar atau orang yang istimewa? Misalkan, orang yang dia suka atau semacam itulah."/
Sudah delapan menit berlalu dan tidak ada juga balasan dari Kuroko. Itu membuatnya merasa gelisah. Tapi bukannya Seijuurou selalu bilang bahwa dia mencintai Kouki? Lalu kenapa kalau benar dulu ada orang istimewa bagi Seijuurou? Mengapa hatinya berdenyut sakit?
"Kouki, kau tidak apa-apa? Apakah kau sakit?"
Ditepisnya halus tangan Seijuuro sebelum menyentuh keningnya. Kouki merasa mual, entah kenapa amat mual. Semua ini membuatnya pusing. Ia menahan diri untuk tidak muntah.
"Aku tidak apa-apa, Sei. Aku hanya mengantuk."
Saat ini Kouki tidak ingin Seijuuro mengetahui kegundahannya. Perjalanan ini terasa sangat hampa. Kelelahan dengan dugaan-dugaan yang berseliweran dalam benaknya—dan kegiatannya hari ini karena melihat bunga-bunga yang disukainya, Kouki jatuh tertidur.
"Kouki, bangun. Kita sudah sampai. Kau bisa melanjutkan tidurmu di kamarku sebelum waktu makan malam."
Membuka mata sedikit demi sedikit, dan terlihatlah sebuah rumah yang sangat mewah dan besar di depannya. Agak lingkung Kouki keluar dari mobil, dan berjalan di sisi Seijuurou.
Drrrt. Pesan masuk. Kouki merogoh saku bajunya dan mengeluarkan ponsel, membaca balasan pesan dari Kuroko. Seketika langkahnya terhenti.
Merasakan bahwa pergerakan Kouki terhenti, Seijuurou berbalik hendak bertanya. Dan matanya melebar kaget melihat sebulir bening air menitik di atas ponsel yang Kouki pegangi sedari tadi.
Apa yang terjadi? Seijuurou sama sekali tidak mengerti ketika menemukan Kouki terlihat sedih sekali.
.
.
.
.
/"Sepertinya ada, Kouki-kun. Dulu saat di Teikou, Akashi-kun pernah cerita tentang cinta pertamanya di masa kecil saat kami main Truth or Dare dan dia pilih Truth. Mungkin dia masih mencintainya sampai sekarang."/
CHAPTER 5
.
Ruined Date
..
"When I want to know more about you,
the first thing I know is that you love someone else."
...
Written by: Minge-ni
To be continue
.
.
Thank you so much for reading our fanfiction and give us reviews.
Please read and review our fanfiction again. :')
