Authors/notes: Persembahan dari tim panitia #44/12Week untuk merayakan AkaFuri Day.

Disclaimer: Kuroko no Basket punya Fujimaki Tadatoshi. Kami tidak mengambil keuntungan komersil atau materil apapun dari membuat fanfiksi ini.

Warning: AU Male X Male, standar disclaimer and warning applied.


We proudly present our relay project Fanfiction

.

To You, I Belong


Replika belaka. Itu yang bisa Kouki simpulkan setelah sekian lama berpikir. Ia bukan orang yang buta asmara karena nyatanya dia adalah penulis novel dengan genre romansa. Kouki kini mengerti, seperti titik air mengikis pikirnya yang bebal dan bodoh tak terkira.

Jadi … ini alasan sebenarnya Seijuurou menikahinya, mencintainya?

Karena Kouki mengingatkan dirinya dengan 'dia' yang dulunya berada dekat dengannya. Karena kepribadian Kouki adalah replika dari wujud 'dia' yang kini sudah tiada dari sampingnya. Karena Kouki baginya adalah 'dia' yang pastinya Seijuurou cinta.

Sakit. Kenapa Kouki merasa seperti hatinya terkoyak menjadi serpih? Sakitnya dibalur oleh lara dan rusak menjadi buruk rupa. Ia sakit, sakit sekali.

"Kau tahu bahwa Seijuurou tidak pernah menunjukkan ketakutannya?"

Pikiranya dilubang oleh peluru kesadaran, Seijuurou takut—takut jika Kouki pergi darinya maka 'dia' akan kembali hilang.

"'Cause I do love you, Kouki."

Lalu apa yang Seijuurou maksud dengan cinta itu, cintanya pada 'dia' yang kouki representasikan oleh dirinya sendiri. Bagian-bagian dirinya yang merupakan 'dia'.

"Tahu apa kau tentang kebahagiaanku? Kau tidak akan pernah mengetahui perasaan orang lain dengan tepat dan sempurna, karena kau bukan orang lain itu. Kau bukan aku, Kouki."

Iya, Kouki memang tidak tahu apa-apa. Tidak tahu jika dia adalah pengganti yang dianggap Seijuurou adalah 'dia'. 'Dia' yang mungkin benar-benar mirip dengannya sampai-sampai Seijuurou mau bersamanya, menipu diri dengan semua kata cinta dan afeksi yang hanyalah tipuan untuk dirinya sendiri.

Dia.

Dia.

Dia.

Kouki terluka, tercenung semendung awan-awan berarak gelap—melukis isi hati Kouki laksana replika. Sakit adalah kata yang menggaung di telinga dengan putaran yang berulang-ulang—repetitif.

Keberadaanya kini ia pahami dengan baik, Seijuurou ingin dia bukan karena cintanya pada Kouki tapi pada 'dia'.

Hatinya diremas perih, menggelepar kesakitan seperti ikan dibakar matahari di atas pasir gurun sahara. Diamnya ditatapi Seijuurou dengan pandangan penuh khawatir, Kouki mencelos.

'Jangan membuatku berharap Sei, jangan membuatku merasa bahagia dan senang karena perhatianmu. Jangan memberiku banyak harapan jika itu palsu.'

Kemudian ia teringat, bukannya ia tak bisa mencintai Seijuurou. Bukankah kesadaran ini harusnya malah menjadi titik terang akan lebih baik bagaimana hubungan mereka?

Jika terbukti benar Seijuurou menjadikannya pengganti, tentunya ia bisa meninggalkan pemuda tampan itu dengan mudah. Karena ia ditipu, dia disakiti dengan cara yang setimpal atas yang telah dilakukannya pada Seijuurou—Kouki tak perlu merasa bersalah lagi.

"Kouki, bangun. Kita sudah sampai. Kau bisa melanjutkan tidurmu di kamarku sebelum waktu makan malam."

Sekali lagi hantaman kasar menumbuk hatinya, membuatnya ngilu dan ia hanya bisa tertunduk ketika suaminya kembali memanggil.

"Ya."

Rasanya Kouki ingin meneriaki lelaki itu, menghujatnya dan melontarkan sumpah-serapah. Tapi ia diam dan malah menunjukkan senyum yang sengaja ia biarkan melukiskan ekspresinya—senyum sedih karena disakiti.

Kilatan khawatir di mata Seijuurou bertambah parah, tapi Kouki mencibir itu semua karena lelaki itu khawatir dengan replika 'dia' yang tak tampak lagi seperti dia, manekinnya sudah tak lagi sempurna.

"Kau kenapa?"

'Jangan bertanya bodoh seperti itu, sialan. Brengsek, kau mempermainkanku.'

"Aku baik-baik saja." Ia berucap dengan pedih dan umpatan yang ia bendung di tenggorokan, menarik bibir yang sedari tadi ia gigiti membentuk senyum manis dan hatinya perih melihat Seijuurou tersenyum.

'Dan kau tersenyum, untuknya.'

Kenapa sakit sekali, kenapa dia merasa dikhianati? Kenapa ia kecewa luar biasa ketika memikirkan bahwa ucapan cinta Seijuurou untuknya sebenarnya tertuju pada 'dia'?

DEG!

DEG!

DEG!

'Apa aku sudah mencintainya? Menyadari aku mencintainya di saat aku tahu kenyataan yang sebenarnya.'

Ia tertunduk lesu, tragis sekali hidupnya. Bukan, yang tragis adalah kebodohannya keterlambatan menyadari semua ini.

"Kita sudah sampai di rumah Ayah," ulang Seijuurou.

"Ya."

Seijuurou menggenggam tangannya ketika menekan bel pintu masuk utama ke rumah besarnya, mencoba menenangkan namun bagi Furihata malah tambah menyakitkan.


Acara makan malam berlangsung hening, tak ada tanda aktifitas selain bunyi logam yang beradu kaca. Lampu gantung memancarkan silau gemerlap menenangkan dengan gurat biru dan nila, menghantarkan tenang selayak air yang terkandung dalam gelas-gelas berukir di meja saji.

Kouki masih disekap oleh pikirnya yang tak lagi bening, duduk hampir berhadapan dengan lelaki bersurai merah bergaris wajah tegas. Lelaki itu duduk di tengah meja sementara Kouki hanya dibatasi satu kursi dari sang kepala keluarga Akashi, hanya berdua—Seijuurou tadi terpaksa keluar karena katanya ada telpon genting, entah apa, Kouki tak tahu.

Denting logam menarik perhatian Kouki secepat bunyi petir menyambar, memperhatikan bagaimana lelaki itu menyapu mulut dengan sapu tangan lalu meminum air dengan gayanya yang aristockat.

Masaomi menyadari sesuatu jelas terjadi di antara putranya dan menantunya.

"Kau sudah paham apa arti dari ucapanku?"

Kouki ingin mengatakan jika ia bahkan sudah tahu makna sebenarnya dari ucapan mertuanya. Ia tahu bahwa sebenarnya anaknya hanya menganggapnya sebagai pengganti saja, lalu ia hanya manekin berupa 'dia'.

"Sepertinya aku paham, Ayah." –bahwa putramu menjadikanku replika cinta pertamanya karena ketakutannya bila tidak sehidup-semati bersama seseorang yang sesungguhnya dicintai.

Ia lagi-lagi mengigit bibir menahan satir yang memenuhi pengecapnya, meneguk semua isakan kembali masuk ke kerongongan.

"Kalau begitu pikirkanlah. Jangan membuat kalian berdua terluka. Sedikit banyak aku membencimu karena Seijuurou lebih memilihmu dan menolak semua wanita yang kusodorkan padanya—ini memalukan nama keluarga Akashi karena publik hanya tahu putraku seorang gay, padahal sama sekali bukan begitu.

"Jika tidak karena permintaan Seijuurou dan wasiat Shiori, aku tidak akan menerima orang sepertimu jadi keluarga Akashi."

Kouki terpekur.

Masaomi menghela napas panjang. Ia tidak ingin mengatakan hal ini, tapi apa boleh buat. Seseorang harus dihantam dengan realita menyakitkan. Dan Seijuurou yang mewarisi keabsolutan teguh atas keputusannya itu tidak bisa diajak berdiskusi mengenai hal ini.

"Tapi jika rumah tangga kalian hanya begini saja, akan lebih baik jika kalian bercerai. Baik untukmu—karena kau korban merasa terpaksa menikah dengan putraku, dan Seijuurou harus belajar dari kegagalan pernikahannya ini."

Ucapan sang mertua menyentaknya, linglung dan bingung. Seandainya saja dia tahu jika yang terluka adalah dia. Seandainya saja mertuanya itu tahu jika Seijuurou menyakiti dirinya sendiri dengan menganggap Kouki adalah 'dia' lalu berakhir dengan menyakitinya mungkin ucapannya akan lebih halus, mungkin saja.

"Aku mengerti, Ayah. A-aku … akan coba bicara pada Seijuurou."


Ketika Seijuurou selesai dari semua tugas dadakan yang diberitahukan lewat telepon itu, waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam.

Bergegas menuju kamarnya—yang pasti akan ditempati ia dan Kouki jika berkunjung ke rumah—hanya untuk menemukan ranjangnya kosong dan panik serta khawatir yang tadi memenuhi hatinya kembali melimpah ruah.

Yang dia takutkan adalah ketika Kouki akhirnya mengambil keputusan final untuk meninggalkannya karena menyadari ia tak kunjung bisa memandang Seijuurou dengan cinta. Lebih-lebih kekakuannya yang sepanjang jalan hanya berdiam dan sama sekali tak mau diajak bicara. Tingkah anomalinya hari ini.

"Kouki!"

Hatinya diggerogoti prasangka buruk yang memakannya seperti ulat memakan dedaunan. Membuat pikirannya tak tentu dan sesal kembali memenuhi hati. Ia takut, takut jika Kouki meninggalkannya sekali lagi.

"Kouki!"

Masaomi yang baru keluar dari ruang kerjanya usai menaruh bingkai foto Shiori, melihat putranya berlari ke sana ke mari mencari pasangan hidupnya. Ia hanya melihat, lalu mundur ke kegelapan menuju kamar tidurnya. Mudah-mudahan tidak ada pertengkaran di rumahnya. Kalaupun ada, tak masalah. Mungkin cukup seru mendapati tunas-tunas muda saling meregang dan berkaitan. Usia senja sepertinya butuh sedikit hiburan.

"Kouki!"

"Aku di sini."

Daun bersentuhan satu sama lain saling membelai, dikecupi oleh angin yang mencapai suhu sepuluh derajat.

Kouki duduk di bangku taman dengan kimono tidur dilapis selimut tebal. Rambutnya bergoyang syahdu mengikuti larut udara yang membelai. Jantung Seijuurou yang layaknya maraton perlahan merendahkan pacu, lega menyebar ke seluruh tubuh yang sedari tadi menegang.

"Kouki, kenapa kau ada di sini?"

Ingin Seijuurou memeluknya namun wajah lelaki itu kalut, secara tersirat menolak disentuh dengan cara menjauh setiap ia mendekat. Bibirnya yang selalu Seijuurou damba untuk kecupi terbuka tutup, ingin mengucap sesuatu namun begitu ragu.

Jeda melahap habis keberadaan mereka sampai suara Kouki yang bergetar memenuhi pendengarannya, langsung terjun ke hati.

"Sei," getaran timbul tenggelam dalam suara, wajahnya ditutupi helai-helai serak coklat karena ia menunduk. "Bi-bisakah kau ceritakan." Pahit nada tiada dapat ditahan," tentang dia padaku?"

"Dia?" Seijuurou paham namun masih bertanya, berusaha memastikan dengar walau berapa kalipun diulang maka yang terdengar akan tetap sama.

"Dia," ulang Kouki sambil meneguk ludah." Yang kauceritakan di taman itu." Tremor di badannya seolah memaksanya untuk terjatuh dan bercumbu dengan tanah, ia memaku diri untuk tetap duduk walau tulangnya rasanya hilang fungsi." Bisakah aku mendengarnya darimu?"

Rasa hangat sekaligus sakit menyebar di dada, ia menatap Kouki dengan senyum setengah miring.

"Kau benar-benar mau tahu?"

"Apa aku terlihat tidak mau tahu?"

Mungkinkah Kouki cemburu?

Bahu Seijuurou yang berlapis kemeja merah bergesekan dengan selimut tebal berwarna marun, ia bisa tahu bahwa Kouki tidak tenang dalam diamnya. Bahunya sedari tadi bergetar dan suara tegukan ludah seolah terdengar dari gerak dagu Kouki yang naik turun.

"Dia adalah orang yang kutemui saat berumur delapan tahun di Hitachi Seaside Park. Manis, baik dan juga periang. Awalnya aku tidak pernah menghitung eksistensinya karena dia penakut—melihat cicadas malah lari, cengeng—terjatuh sekali lalu menangis, dan aneh sekali karena dia selalu tertawa setiap melihat bunga-bunga bergoyang ditiup angin—aku tidak mengerti semua itu sampai hari ini. Tapi ternyata … dia berhati teguh—jika sudah bertekad, meski ketakutan, ia akan melakukannya. Sejak kecil, dia selalu begitu."

Kouki tercekat melihat Seijuurou tersenyum mengenang entah siapa dalam memori. Senyum yang ia kira hanya ditujukan padanya. Senyum yang menyurut seketika.

"Suatu waktu, aku bertemu lagi dengannya. Hanya sesaat. Aku melupakannya karena baru bertemu lagi dengannya tujuh tahun kemudian. Meski hanya pertemuan singkat dan aku lama mengingat, tapi waktu sesingkat itu sangat membekas di hatiku. Dia membuatku sadar arti perjuangan dan kemenangan yang sebenarnya. Ini karma … seperti aku melupakannya, dia pun melupakanku."

Angin malam menyebabkan keduanya menggigil. Dingin tak menggetar tubuh mereka, tapi hati yang tersepi.

" Kemudian entah bagaimana dan juga latih tanding—yang aku mau-mau saja menyejajarkan diri dengan sekolah baru lemah itu—kami menjadi dekat dan berteman. Berlibur beberapa kali ke tempat hiburan bersama teman-teman, sayangnya tidak ada jalan-jalan ke taman yang dulu sama-sama kami datangi. Selama waktu itu pun, dia tetap tidak ingat padaku. Sampai saat ini, kurasa dia tidak ingat padaku."

Helaan napas pelan menutup uraian suara Seijuurou yang bernada datar.

Rasanya Kouki ingin menangis, jika begini rasanya patah hati maka ia tidak akan pernah ingin tahu rasanya mencintai. Seijuurou jelas-jelas menunjukkan jika 'dia' menarik hati suaminya itu dan bahkan sampai sekarang. Namun ia sepertinya orang yang suka merasakan rasa sakit, belum terhapus senyum di bibir Seijuurou karena menceritakan 'dia'—meski matanya menyiratkan kepedihan, ia malah bertanya lagi.

"Kalau begitu—" Bibirnya bergetar hebat dan selimut yang membungkus tubuh diremas kuat, mendekap diri mencari kekuatan.

'Cukup, hentikan kebodohanmu sendiri, Kouki! Apa tidak puas rasanya sakit dijadikan pengganti? Oh, bahkan sekarang kau meminta penegasan dari orangnya sendiri. Berhenti, Kouki! Berhenti!'

Sayang, bibirnya lancang sekali tak menuruti perintah otak.

"—apa kau mencintainya, Sei?"


Esok harinya.

Getaran pelan diproduksi ponsel pintarnya saat ia sedang dalam perjalanan pulang, memelankan laju kemudi Lamborghini Aventador lp700-4 berharga belasan miliar—tangannya menggapai ponsel di saku saku kiri kaus berkerah yang dikenakannya.

/"Akashi-kun."/

Suara di seberangterdekar bergetar dan khawatir, mengusik jiwa Seijuurou yang sedari tadi sudah khawatir dengan seseorang di sisinya yang bermuram durja menatap ke luar jendela.

/"Kouki-kun bertanya padaku, 'Apakah ada seseorang yang istimewa di hatimu di masa lalu?'"/

Pikirannya dipaksa menguak masa lalu yang membuatnya harus membangun ulang puing-puing cinta lelaki berambut coklat itu padanya, dari nol dengan ingatan padanya yang bahkan tak lebih dari sekedar orang asing baginya.

/"Kuharap kau menjawabnya dengan baik."/ Nada ancam ia tekankan, namun hatinya ketar-ketir menunggu jawaban.

/"Kurasa tidak."/ Hela napas lalu suara dengan nada tegas. /"Tapi bagaimanapun jawabanku, lebih baik mendengarkan dari kau langsung daripada orang lain seperti aku, bukan?"/

Napas lega tak bisa Seijuurou tahan, ia mengucap terimakasih dalam diam pada Tuhan karena Kuroko-lah yang menjadi teman akrab Kouki—yang notabene memiliki visi jauh ke depan dan tentunya penuh perhitungan. Mungkin dengan ini, kabut yang menutupi ingatan Kouki akan terkikis sedikit demi sedikit.

/"Terima kasih untuk bantuanmu selama ini."/ Tak pernah rasanya mengucapkan kata lemah itu seringan ini di lidah Seijuurou, seperti keluar begitu saja.

Lelaki bersuarai biru di seberang telpon hanya mengumamkan /"Ya, tentu saja."/ Pelan, namun berjuntai ribuan harapan.


CHAPTER 6

.

Replacement

..

"My heart shattered into pieces when you tell me the painful truth

It's too late; I realized I love you."

...

Written by: Hi Aidi


To be continue

.

.

Thank you so much for reading our fanfiction and give us reviews.

Please read and review our fanfiction again. :')