Authors/notes: Persembahan dari tim panitia #44/12Week untuk merayakan AkaFuri Day.

Disclaimer: Kuroko no Basket punya Fujimaki Tadatoshi. Kami tidak mengambil keuntungan komersil atau materi apapun dari membuat fanfiksi ini.

Warning: AU, Male X Male, standar disclaimer and warning applied.

Full italic: flashback


We proudly present our relay project Fanfiction:

.

To You, I Belong


"Pulanglah."

"Ti- … dak mau."

"Nanti orangtuamu khawatir."

"A-aku masih mau di sini."

"Melihat bunga?"

"Uhm. Ka-kalau aku pergi, nanti kau sendiri."

"Sana pulang. Kau tidak mau kena marah, bukan?"

"Ngh … li-lihat! Itu bulannya bulat seperti kue manjuu!"

"Bulan purnama, tepatnya. Kau bilang ada alien mengendarai piring terbang di langit sekarang pun, tidak akan bisa mengalihkanku."

"Maaf. A-aku ingin menemanimu sampai kau dijemput. Ti-tidak boleh, ya?"

"…baiklah. Tapi tidakkah kau merasa bosan hanya diam saja?"

"Lalu kita harus apa?"

"Entahlah."

"Ki-kita menyanyi saja."

"Aku tidak bisa dan tidak suka bernyanyi."

"Eeeh … padahal kau bisa main biola sebagus itu."

"Main musik berbeda dari bernyanyi."

"Bagaimana kalau … mmh … main petak umpet?"

"Kau yakin bisa bersembunyi dalam malam seperti ini? Kukira kau takut gelap."

"Ti-tidak … kalau main shiritori? Jankenpon?"

"Kau pasti kalah dariku."

"Iya juga. Hah … oh, kita lihat saja bunga-bunga berpacaran! Hehehe."

"Berpacaran?"

"Kata Kakakku, bunga punya benang sapi dan butik, itulah yang nanti pacaran."

"Hmmph. Keliru. Benang sari dan putik. Bukan berpacaran, mereka bereproduksi."

"Sa-salah? Ma-maaf … aku hanya dengar dari Kakakku."

Ekspresi antusias bocah penakut itu menyurut, kekecewaan. Teman sepermainannya itu menepuk kepalanya, ia mendongak.

"Bukan salahmu. Begini saja, kita sama-sama memikirkan apa yang bisa kita lakukan sampai ada yang menjemput kita." meski sesungguhnya yang terlihat lebih dewasa tidak ingin salah satu dari keduanya lekas dijemput.

Sesaat ringkrik jangkrik menelan suara-suara mereka. Kedua bocah nakal di suatu taman bermain terkucil dari taman bunga ternama, duduk berdua di puncak panjatan mainan—tempat pertama mereka bertemu.

Angin melewati daerah yang ditimpa sinar rembulan. Tubuh keduanya menggigil sekilas, tapi bocah yang semula penakut itu kini memandang hamparan warna-warni bergoyang gemulai. Ia tertawa gembira, dan tak sadar tatapan bocah di sebelahnya kini melembut.

"Hei."

"Apa?"

"Aku pikir aku ingin menikahimu."

Angin berhembus menerbangkan kelopak-kelopak warna-warni menciumi kaki malam. Derik serangga di sela gemertak kaku leher.

"Ternyata benar dugaanku. Kau … a-aneh." Dahinya terkerut dalam, sebelah alis coklat terangkat.

"Kau yang membuatku jadi begini." Anak itu mengangkat bahu. Pandangannya menajam. "Kau tidak akan menolakku, 'kan?"

"E-eh … uhmm … err—" Bola mata sebulat purnama menaungi kepala itu bergerak nyalang mencari jawaban—tahu ia takkan kuasa menolak bocah yang sebenarnya hendak diselamatkannya itu namun malah berbalik menyelamatkannya, lalu berbinar. "—bo-boleh saja. Tapi nikahi aku pas musim semi."

"Karena banyak sakura dan kau suka itu." Dia mengangguk ringan. "Tentu."

Suara-suara orang dewasa terdengar oleh mereka. Bocah yang lebih cekatan memanjat turun, membantu bocah lain untuk menapak kembali ke tanah. Tangan mereka bergenggaman.

"Mungkin setelah ini Ayah akan menghukumku tidak boleh pergi-pergi lagi." Anak yang lebih tenang bersuara pelan, dalam hati berdoa semoga ibunya akan memohon pada ayahnya lagi untuk tidak terlalu keras padanya.

"Maksudmu … ki-kita tidak akan bertemu lagi?"

Kilat ia menoleh, menemukan bocah yang tangannya ia genggam, matanya berkaca-kaca. Ia mencelos. "Tidak. Aku akan cari cara untuk menemuimu lagi."

Bagai meneguhkan perkataannya yang terdengar seperti janji itu, ia mengeratkan genggaman mereka.

"A-aku juga … akan berusaha untuk sering-sering ke sini." Bocah itu buru-buru menyeka airmatanya, tak mau disebut cengeng lagi. Berusaha tersenyum, terlihat sepolos dan setulus kedip bintang di angkasa.

"Sampai kita bertemu lagi nanti … jangan lupakan aku, ya?"

Senyuman menyambutnya. Anak itu mengingat tanda sayang yang diajarkan ibunya padanya, ia mendekat pada bocah tersebut, mengecup halus kening yang diseraki helai coklat berharum bunga-bunga di taman ini.

"Tidak akan."


Seijuurou terbangun, duduk, menatap hampa kamar tidurnya dan Kouki. Mimpi masa lalu, terakhir kali bertemu.

Dua minggu berikutnya, setelah mereka kembali dari acara makan malam di rumahnya bersama ayahnya. Dua minggu sejak Seijuurou melihat Kouki menangis tiba-tiba menatap ponselnya—dan ia belum menemukan waktu yang tepat untuk bertanya mengenal hal itu. Seingatnya jawaban Kuroko harusnya mencerahkan ingatan Kouki. Seminggu setelahnya, tidak perlu jadi idiot untuk menyadari hubungan mereka makin merenggang.

Merenung berkali-kali, Seijuurou tak menemukan titik terang masalah rumah tangganya. Ia yakin absolut tak membuat kesalahan. Baik dalam perlakukan maupun perkataan.

Jadi, kenapa Kouki dari hari ke hari makin pucat? Kantung mata menghitam membengkak di pelupuk. Wajah yang sembab tiap pagi. Kondisi fisik yang menurun tiap hari. Mudah lelah dan menghabiskan waktu lebih lama dari biasanya di kamar mandi. Belum lagi usaha sia-sianya menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja pada Seijuurouyang gagal total dan membuat gemas setengah mati.

Pagi ini, akhir minggu lagi, Seijuurou bangun dan menemukan Kouki tidur memunggunginya. Ia memandang punggung suaminya lebih lama. Beringsut pelan, berhati-hati untuk tak membangunkannya. Membelai halus rambut coklat yang terurai di bantal. Mengecup pipinya dalam, dan lama.

Menelusuri roman wajah suaminya yang keruh kendati masih tertidur, Seijuurou mencium pelipis Kouki. Mengenyahkan asumsi-asumsi negatif yang dari kemarin tak bisa dicegahnya berguling-guling mengejek di benaknya. Lantas ia menyelimuti Kouki sebatas bahu dan bangun terlebih dulu.

Seijuurou pelan menutup pintu kamar tidur. Tak tahu Kouki sudah bangun.

Kouki yang tengah mengusutkan selimut dalam cengkeraman dan menggigit bibir keras—mengingat hari ini ia akan mengeksekusi rencana terakhir yang telah disiapkannya dua minggu terakhir setelah berpikir masak-masak.


"Selamat pagi, Sei."

Seijuurou menoleh dari konter dapur tempatnya tengah meracik kopi. Dilihatnya Kouki dengan wajah sembab dan pucat memaksakan senyum padanya. Langkahnya agak sempoyongan sehingga Seijuurou berniat menghampirinya untuk membantu menopangnya, usaha sia-sia karena Kouki bergegas menarik kursi meja makan untuk mendudukkan diri.

"Pagi, Kouki." Seijuurou menyapa tenang. Matanya meneliti fisik suaminya. "Apa kau sedang dalam deadline lagi?"

Kouki melipat kedua lengan. Cara matanya memandang Seijuurou berbeda—membuat pemuda berambut merah itu merasakan denyar yang menggetar rongga dadanya. "Bagaimana kau bisa tahu?"

"Kau terlihat … tidak baik-baik saja." Seijuurou mengalihkan pandangan dari suaminya, ia menuangkan aliran hitam yang menyerbak aroma khas kopi dari coffee-maker pada cangkir yang disiapkannya. Tawa geli pelan dari belakangnya membuat Seijuurou menghela napas lega sedikit.

Seijuurou tidak melihat ekspresi Kouki saat itu, berbanding terbalik dari tawa yang ia dengar. "Kau mau kubuatkan minuman juga?"

"…harusnya aku yang membuatkannya untukmu." Gumam pelan.

"Apa?" Putra tunggal keluarga Akashi itu tak menangkap jelas apa yang digumamkan suaminya.

"Terserah kau saja."

Seijuurou beranjak mendekati kompor untuk menjerang teh. Selagi ketel berisi air dan serbuk pucuk-pucuk daun teh terbaik mendidih, diambilnya setoples madu, buah lemon untuk diiris lalu ditaruh di sebuah piring tatakan kecil. Ketika ia tengah menunggu ketel berbunyi, tiba-tiba dirasakannya sentuhan di punggungnya. Seijuurou tercekat, terlebih ketika ada sepasang lengan melingkari pinggangnya. Memeluknya dari belakang.

Tindakan yang tak pernah dilakukan Kouki sebelumnya—dan tak pernah Seijuurou bayangkan Kouki akan melakukannya.

"Kouki—"

"—apa hari ini kau libur?" tanya Kouki perlahan. Tangannya meremas pelan kaus yang dikenakan suaminya.

"…" Seijuurou menjatuhkan pandangannya pada sepasang telapak tangan yang bertumpu di perutnya. Tangan yang bergetar, saling mengait. Pikirannya sejenak carut-marut tengah menganalisis semua yang telah terjadi selama ini, ketika Kouki bicara lagi.

"Jika kau tidak ada pekerjaan … apa kau mau kita jalan-jalan lagi ke suatu tempat?"

Refleks sudut-sudut bibir sang alumnus terbaik Rakuzan itu terangkat. "Kau mengajakku kencan lagi?"

Tak ada jawaban selain kausnya yang diremas. Gemas dengan kesunyian dan tingkah Kouki ini—yang dua minggu terakhir menyiksanya menjauh dari segala sentuhan dan kini malah mendahuluinya dengan memeluknya pagi ini, Seijuurou memutar tubuhnya. Dilihatnya wajah suaminya, bukan rona merah salah tingkah yang ditemuinya, tapi keseriusan. Senyumnya memudar.

"Kau mau kemana?" tanya Seijuurou yang kini melingkarkan lengannya di pinggang Kouki, merapatkan tubuh keduanya.

"Kemanapun yang kau mau," jawab Kouki yang membuang pandangan redupnya pada lantai linoleum yang mereka tapaki.

Kouki tersentak kaget ketika bibirnya disentuh ibu jari kapalan, dagunya diangkat, kepalanya didongakkan untuk menatap Seijuurou yang mendekat. Kian dekat, hingga Kouki memejamkan mata.

Bibir mereka bertemu dalam sentuhan inosen. Seijuurou menarik kepalanya, memerhatikan Kouki yang ternyata balas memandangnya. Ia menunggu penolakan, Kouki tak memberikannya.

Kouki menenggak ludah ketika mata Seijuurou membayangi bibirnya—tapi hanya diam, dan ia tidak bisa membaca pikiran Seijuurou. Kekhawatiran mengirik celah di hatinya, menepis ingatan akan jawaban Seijuurou dan kenyataan yang diketahui bahwa ia hanya replika masa lalu, Kouki mengangkat kedua lengannya untuk merengkuh leher suaminya, menariknya mendekat dan berjinjit sediki,t mengecup lagi bibir yang rapat—tak mengatakan apapun padanya serta membuat Kouki makin gelisah.

Inisiatif. Itu yang sebelumnya tidak pernah ada dalam diri Kouki. Sepasang mata merah terbeliak, ia tidak lagi menahan dirinya dan membalas ciuman suaminya lebih intens—tangannya memeluk Kouki erat-erat.

Lidahnya terjulur menjilati permukaan bibir dingin pun agak kering, terbuka, lantas menyelinap masuk—dibuat terkejut lagi karena organ lunak nan basah di balik lindungan pagar gigi itu menyambutnya. Selagi keduanya beradu, membelit lidah satu sama lain, menyebabkan campuran saliva mereka meleleh di sudut bibir Kouki, Seijuurou menyesap rasa pasta gigi mint yang tersisa di bibir pemuda bersurai coklat itu.

Ia memiringkan kepala untuk memperdalam ciuman mereka, menggigit pelan bibir bawah Kouki, membuat tangan pemuda berambut coklat itu beralih menjambak halus rambutnya. Respons mantan pebasket Seirin itu menjadi stimulus bagi Seijuurou yang merasa itu adalah lampu hijau baginya untuk melanjutkan aksi mereka ke sesi berikutnya.

Langkahnya keduanya saling tersaruk karena kelekatan tubuh keduanya.

Seijuurou mendorong Kouki hingga ke meja makan, tubuh bagian atas suaminya melengkung meniduri meja setengah badan.

Kouki yang kehabisan napas, mengaduh pelan karena punggungnya bergesekan dengan dingin permukaan meja, mengerang protes karena Seijuurou berhenti menciumnya, menyambar bahu suaminya—menarik Seijuurou menelungkup di atas dirinya. Mempertemukan bibir mereka lagi dalam kecupan yang menghabiskan napas.

Kouki melihat senyum di bibir Seijuurou yang menciumnya. Mata berpupil mungilnya berkaca-kaca, pening digiling kenikmatan yang membuat dirinya menggigil, mabuk akan Seijuurou. Terlebih ketika tangan suaminya itu bergerak membelai pinggangnya. Kulit di daerah pinggang meremang bukan kepalang.

Seijuurou memosisikan tangan kiri menyangga kepala Kouki agar tidak berbenturan dengan meja, tapi tangan kanannya merambah pelan, lambat menyiksanya, menelusuri perut suaminya.

"Nnh. Sei—"Tak tahan dengan rangsangan yang dilandaskan tangan Seijuurou, Kouki melepas ciuman mereka.

Dirasakannya bibir Seijuurou bergerak menuju telinganya, membelai indera pendengarannya dengan tarikan napas yang sama berantakannya, lalu mengecupnya. Bibir sang penggoda menggores kulit sensitif Kouki dengan ciuman dan hisapan dari telinga, pada tengkuk, berlabuh pada ceruk leher. Tepat di atas tulang selangka dan jilatan basah yang terlalu mahir, gerigi rapi menggigitnya membuat Kouki kelimpungan.

"—hng—ukh!"

Kaus pemuda yang terlentang di meja disibak. Tangan lihai men-dribble basket semasa dulu kini meliar merambahi seluk-beluk liatan otot apa adanya Kouki yang lunak dalam genggaman.

Kouki menanamkan ujung jari-jemarinya keras pada punggung bidang yang ditangkupnya, bergetar karena gejolak hasratnya dan Seijuurou yang saling bertemu.

"Seijuu—" Kouki tersedak ketika tubuhnya ditindih lebih keras hingga bahkan baju mereka yang tersisa tak terasa sama sekali masih melekati tubuh, menggelinjang saat Seijuurou menekan area paling panas mengeras dan sensitifnya dengan miliknya sendiri. "—rou—haanh!"

Wajah memerah parah, ditemukannya Seijuurou mengulum lembut kulit yang melapisi nadi berdenyut kuat di lehernya, menggoda meliriknya.

Kouki membalas perlakuan Seijuurou dengan membelai punggung pemuda itu, menahan kembangan senyuman kemenangan karena lenguhan pelan lolos dari bibir suaminya.

Kouki merinding ketika bersitatap dengan Seijuurou yang menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa ia artikan, hanya siratan absolut takkan kalah yang ia pahami. Jari-jemari yang tadi menyinggung pinggangnya sekarang meremas pinggulnya, menyentuh fabrik celananya. Tangan Kouki sendiri berlari mengacak rambut merah lembut.

"Kouki. Khh."

Seijuurou mendadak menghentikan serangannya pada Kouki. Sepersekian detik mengingat kesalahan yang beberapa waktu pernah dilakukannya, malam pertama. Ia tidak ingin melewati hari-hari mengerikan itu lagi jika mengulangi kesalahan yang sama.

Yang diucapkan namanya bergetar, nostalgia mendengar namanya diucapkan yang terdengar sebasah dan sepanas seperti malam pertama. Airmata, wujud kenikmatan dan himpunan emosi yang Kouki rasakan bergumul, meleleh dari pelupuk matanya. Disingkapnya kaus di bagian punggung suaminya, memilin kausnya ke pundak, meraba sayang punggung berkulit dan otot padat hasil bermain basket bertahun-tahun.

Ketika Seijuurou meradang karena rangsangannya dan menghunjamkan ciuman ke tengah dadanya, masih terhalang serat-serat kain, bibir dan lidah jahat itu menggigit puting yang menegang pedih hingga basah di luar kaus, menyebabkannya jadi transparan. Terlebih saat melakukan itu, pandangannya bertemu dengan Seijuurou, terlalu seksi dan Kouki takluk dalam cumbuannya.

"Seijuurou … ahn. Ja-jangan berhe—ngh!"

Kouki merintih. Hatinya perih dengan kebutuhan dan keinginan. Pikirannya blur mencoba mengingat apa waktu malam pertama pun juga membuatnya segila ini. Ditariknya lagi Seijuurou, menenggelamkan mereka dalam ciuman yang memeras habis sisa-sisa kewarasan mereka.

Ring ring ring.

Ting tong!

—bukan hanya telpon berdering, bel rumah berdenting, bahkan ketel melengking nyaring.

Kedua pemuda itu tersentak. Masih terkait benang liur, dan bibir saling mencium, mereka berpandangan. Sorot kosong sesaat.

Kemesraan mereka yang memanas seketika kandas.

Seijuurou yang pertama bangun, menyumpah entah apa perlahan. Menarik Kouki untuk bangun dari posisi terlentang di meja, dan memeluknya sembari tangannya terjulur mematikan nyala api di kompor.

"Sei … a-ah." Kouki mendesah pelan ketika Seijuurou masih sempat-sempatnya menghisap lembut tengkuknya.

Suaminya tersebut menghirup napas dalam-dalam untuk menenangkan diri. Menarik turun kaus Kouki yang terbuka—dan basah agak transparan di bagian tertentuterlihat amat menggoda, lalu membenarkan sendiri bajunya yang tadi disingkap oleh Kouki.

"Aku buka pintu, kau angkat telpon." Seijuurou menjilat perlahan luruhan campuran saliva mereka di bibirnya.

TING TONG!

TING TONG!

TING TONG!

Sebelum Seijuurou beranjak ke depan karena bel pintu rumah mereka sadis ditekan tanpa ampun, Kouki mengengggam tangannya—menariknya pelan. "Tu-tunggu! Ra-rambutmu, u-uhm—"

Seijuurou tentu tak bisa melihat sekacau apa tatanan rambutnya sekarang—karena tadi tangan Kouki hiperaktif mengacaknya penuh gairah. Dibiarkannya Kouki merapikan rambutnya asal tak mencuat dan menghancurkan image seorang Akashi Seijuurou. Tuan Rumah ini bersumpah untuk membunuh siapa saja yang:

1). Menelepon kediaman Akashi Seijuurou dan Akashi Kouki pagi ini.

2). Semena-mena memencet bel dan bertamu ke kediaman mereka.

Sementara Kouki berlari ke ruang tamu, masih dengan bibir membengkak merah muda, baju basah di bagian dada—sudah terpakai seperti semula, rambut acak-acakan, tubuh berkilat di beberapa bagian karena bening saliva yang Seijuurou basahkan padanya dan berpeluh.

Jantungnya berdegup gugup melampaui semarak kembang api di festival Hanabi musim panas. Disambarnya gagang telepon, terbata dan terengah.

"Se-selamat pagi. Kediaman Akashi di sini.

Suara formal dari seberang telepon.

"… ah ... baiklah. Te-terima kasih sudah mengirimkannya."


Segerombolan vokal bersatu padu, sumbang. "Oha—"

Tatapan mematikan menyambut mereka.

"—you."

Gulped.

"Ka-kalau kau sedang bertengkar lagi dengan Kouki-kun, tenang saja, Akashicchi! Kami datang ke mari untuk membantu."

"Aku lapar, belum sarapan dan sudah diseret ke mari, Aka-chin."

"Aku kebetulan membawakan lucky-item Sagitarius hari ini, nanodayo. Ini pasti akan meningkatkan peruntunganmu dan suamimu lagi."

"Furi—ah, Kouki mana? Aku sudah lama tidak bertemu dengannya. Aaargh, singkirkan Nigou dariku, Kuroko!"

"Tapi Kouki-kun pasti juga merindukan Nigou, Kagami-kun. Akashi-kun, Kouki-kun mana? Aku ingin bertemu dengannya."

Untuk kali ini, Aomine, yang biasanya paling gagal paham di antara mereka semua, mata azuranya menyipit tajam. Menelisik tampang berantakan pemimpin Kiseki no Sedai tersebut. Otaknya konek seketika. Matanya langsung melotot.

"A-apa … kami menginterupsi sesuatu, Akashi?" tanya si pemuda berkulit gelap itu horror.

BRAK.

Hempasan angin menghantamkan penolakan mentah-mentah dari pemilik real-estate Akashi tersebut, membanting pintu tertutup.

Para pemuda bersurai warna-warni itu terbengong di depan pintu.

Dari dalam terdengar ketukan tapak kaki dan percakapan.

"Sei, si-siapa yang datang?"

"Bukan siapa-siapa—"

Di tengah kekagetan tak terkira itukarena pemimpin Kiseki no Sedai itu menolak kedatangan mereka, seorang pria berseragam kantor pos mengucap permisi pada para pemuda yang masih melongo syok. Menekan bel lagi beberapa kali.

"Sei—"

"—tsk. Masuklah, Kouki. Biar aku yang bukakan."

"E-eh—"

Pintu terbuka lagi.

Sebelum Seijuurou mendampratkan amarahnya pada mereka yang ia pikir akan menyerukan protes karena pintu dibanting tertutup persis depan wajah, ternyata sahabat-sahabatnya masih melongo syok, menoleh pada pada orang inosen yang membungkuk sembilan puluh derajat padanya.

"Apa benar ini kediaman Akashi Kouki?"

Seijuurou menelitinya sesaat. Tukang pos. "Benar," jawabnya datar.

Pegawai pos tersebut membuka tasnya, menyerahkan selembar amplop putih tebal dan bon—bukti transaksi pembayaran dari pihak pengirim surat. Dikeluarkannya sebuah pulpen dan buku, tersenyum profesional. "Anda Akashi Kouki? Saya mohon tolong tanda tangan ini dulu."

Kouki yang sudah merapikan diri semampunya, muncul dari balik punggung Seijuurou. Terbelalak menemukan Kiseki no Sedai yang masih mematung di pintu. Ia menoleh pada pegawai pos. "Sa-saya Akashi Kouki."

Diambilnya bolpoin, dan menandatangani buku. Mengucapkan terima kasih pada tukang pos yang berlalu pergi, lalu memandang gugup para pemuda yang kini ia tahu menginterupsi aktifitas seksualnya dengan Seijuurou barusan.

Aomine berekspresi makin horror. Dugaannya terkonfirmasi, dari betapa berantakan penampilan Kouki (rambut acak-acakan, baju yang basah sedikit transparan dan kusut sekali, bibir yang membengkak, dan yang paling menonjol adalah kiss-marks di lehernya).

Pemuda dim itu berdeham kaku. "Sepertinya, kami harus—"

"Ma-masuklah." Kouki menggeser Seijuurou yang berdiri menghalangi pintu, mengabaikan lirikan tajam—isyarat rotes—dari suaminya. "Maaf, aku … uhm … permisi dulu."

Secepat kilat, Kouki kabur dari hadapan mereka. Menyisakan Kiseki no Sedai berdiri di sekitar pintu.

Pandangan Seijuurou menguliti mereka hidup-hidup. "Kenapa kalian ke sini?"

"Pertemuan rutin kita." Kuroko menjawab tenang, rona tak kentara di pipi—baru paham apa alasan Seijuurou tak menghendaki kedatangan mereka. Melangkah tenang masuk ke rumah.

"Akashicchi tidak merespons pesan kami, sih." Kise yang inosen melampauinya—memilih pura-pura tak sadar.

Murasakibara tak peduli dengan semua itu. Ia mengendus wangi teh dan perutnya protes minta diisi.

"…tidak seperti yang Kuroko katakan, sepertinya kau tidak butuh bantuan kami untuk mendekati Kouki." Kagami menggaruk pipi salah tingkah, berjalan menyusul yang lain masuk ke dalam.

Midorima melenggang, wajahnya kaku. "Sebaiknya kau mandi dan ganti baju, Akashi."

"Kalau kau mau menyusulnya mandi dan melanjutkan yang tadi, jangan lama-lama … oke." Aomine menepuk sekilas bahu mantan kapten tim basketnya.

Seijuurou menarik napas dalam. Berdecak pelan. Membanting pintu tertutup dan membiarkan teman-temannya sesuka hati berkeliaran di rumahnya sementara ia ke lantai dua menuju ruangannya dengan Kouki.


Pagi tadi sudah sempurna. Kouki mengajaknya kencan, bahkan berinisiatif banyak dalam sesi gulat panas di meja makan tadi pagi.

Tapi semua itu hancur sejak kedatangan Kiseki no Sedai, atas nama pertemuan rutin—reuni, mereka kini malah pergi bersama. Seijuurou—yang mengalah hanya karena bujukan Kouki—memboyong mereka ke peternakan keluarga Akashi. Selain karena ada padang rumput luas dan hijau, ada lapangan basket, tapi ada taman bunganya juga.

Kouki tidak berdekatan dengannya lagi—menjaga jarak karena ada teman-temannya. Seijuurou paham—walau tak puas, Kouki memang tidak suka memamerkan kemesraan di muka publik.

Bagian taman bunga dengan payung-payung besar, kursi dan meja taman, villa di dekat peternakan keluarga Akashi disulap jadi tempat pesta barbecue—dadakan.

Kouki yang baru saja mendapatkan seporsi—diberikan Kagami yang memasak untuk semuanya, mengedarkan pandangan. Tak menemukan Seijuurou—yang menghilang entah kemana karena katanya ada telepon dari relasi bisnis. Ia duduk di bangku sendiri, menyantap yakiniku. Lezat di lidah, hambar baginya. Tak ada rasa, malah membuatnya ingin muntah. Kouki memaksa mengunyah lamat-lamat, menekan kegundahannya dan memantapkan tekad, memandang bunga-bunga yang indah.

Hatinya tetap tak tenteram.

Di ujung jalan setapak, dilihatnya Seijuurou ada di antara liukan bunga-bunga, tengah mengelus kuda putih bersih kesayangannya. Jantungnya serasa jungkir balik, Kouki buru-buru menghabiskan makanannya. Dan melesat menghampiri suaminya.

Seijuurou menoleh ketika Kouki berlari menghampirinya, tersengal-sengal setiba di dekatnya.

"Su-sudah makan, Sei?"

Tangannya yang semula menepuk leher jenjang Yukimaru, beralih membelai punggung melengkuk—Kouki tengah membungkuk. "Tidak selera."

Kouki menormalkan napasnya. Ditegapkannya lagi tubuhnya, menatap cemas suaminya. "Apa … ka-karena kau tahu ada bumbu jahe di Yakiniku buatan Kagami? Atau karena onigiri yang dibuat Murasakibara pakai Wakame?"

Seijuurou mengerjapkan mata. "Kau tahu dari mana aku tidak suka?"

Garis bahunya menegang, menurun lesu. Kouki menghindari pandangannya. "Ta-tahu … dari Kuroko dan Midorima." Ia buru-buru menambahkan, "A-aku bertanya pada mereka. Aku ingin tahu…"

"Apa yang ingin kau tahu?" tanya Seijuurou tenang, ditariknya tali kekang Yukimaru agar kudanya itu tidak menyantap bunga.

Kouki pelan menjawab, "Tentang … kau." Kouki mengerling ke samping, bunga-bunga tak bersalah lebih menarik dipandangi. "A-aku … tidak tahu apa-apa te-tentangmu."

Seijuurou tertegun, tidak pernah merasakan hari lebih cerah, dan matahari sehangat hari ini. Pandangannya melembut. "Tanya saja padaku."

Sunyi. Alih-alih menanggapi, Kouki malah mengelus kuda kesayangan suaminya itu canggung.

Di hari sebenderang hari ini, Seijuurou melihat semu tipis di wajah Kouki. Ketika bersitatap dengan suaminya, ia didera firasat aneh lagi—karena sorot mata berpupil mungil itu yang menyesakkan. Semua itu teralih tatkala angin berhembus kencang, dan bunga-bunga di sekeliling mereka bergoyang seperti ilalang. Kouki instan tersenyum karenanya.

"Kenapa kau suka melihat bunga ditiup angin?"

Kouki menatap sendu bunga-bunga tersebut, seperti yang disukainya sejak kecil. "Karena … bunga-bunga itu terlihat seperti menari-nari. Seperti mereka bahagia karena angin berhembus, bernyanyi untuk mereka." Bibirnya mengulas senyum.

"Ibuku dulu bilang, bunga-bunga itu bahagia karena angin menyenandungkan lagu cinta untuknya."

Dan lagi-lagi Kouki meninggalkan Seijuurou, merambah petak-petak bunga, menggumamkan lagu yang nostalgia baginya. Lagu yang samar-samar ia ingat.

Seijuurou bergeming. Lagu yang pertama kali diajarkan ibunya, yang pertama kali dikuasainya dan sering dimainkan dengan biola.

Love's Joy.

Yukimaru meringkik pelan, menyantap sebarisan bunga lily dari sepetak bunga yang memisahkan tuannya dari suaminya.

"Kouki, kau pernah tanya saat kita bersama lagi di Hitachi Seaside Park, aku suka bunga apa."

"Uhm. Bunga apa yang kau suka?"

"Lily putih." Jeda. "Kau tahu artinya?"

Kouki menyadari kehadiran Seijuurou di belakangnya, pilu menatap bunga-bunga yang bahkan tak bisa menghiburnya. Dirinya pengecut, batal untuk mengutarakan apa yang telah dipikirkannya selama dua minggu terakhir.

"Pengabdian, persahabatan … err, cinta bertepuk sebelah tangan?" tawa kecil, enggan mengingat arti yang bunga yang diketahuinya hanya sebatas informasi dari internet.

Tawa rendah yang melodis. Bisikan, "Kau begitu suka tapi tak tahu arti sebenarnya." –itu tenggelam dalam ciuman Seijuurou pada Kouki.

Sebulir airmata jatuh menghujani sebuah kelopak lily putih.


Usai menurunkan Kuroko dan Kagamiyang menumpang di mobil Seijuuroudi halte agar mereka bisa naik bus dan pulang ke rumah masing-masing, Seijuurou bersama Kouki berkendara menembus malam dan kota, hendak pulang ke rumah. Keduanya tidak bicara apa-apa lagi.

Sampai Kouki menghembuskan napas panjang, beringsut mengambil ranselnya. "Sei."

"Hmm?"

"Aku … rindu keluargaku. A-aku … ingin pulang."

"Malam-malam begini? Tidak besok atau minggu depan saja?"

"…tidak. Kau … bisa pulang ke rumah duluan. Aku turunkan saja di halte bus setelah ini. Nanti aku ke sana sendiri."

"Sendiri?" Seijuurou mengerling Kouki. Dahinya berkerut dalam, denyar tak nyaman kembali merayapi hatinya. "Aku akan mengantarkanmu."

"Tapi kau besok harus bekerja. Na-nanti kau kelelahan—"

"—tidak masalah. Tidak mungkin aku membiarkanmu pulang sendirian."

Kouki membuka bibir, menutup lagi. Pasrah. Dibiarkannya Seijuurou mengantarkannya pulang ke rumah. Ia melirik berulang kali pada Seijuurou, suaminya terlihat berpikir keras—pasti menganalisis tingkahnya yang semakin aneh.

Arah rumah Kouki jelas berjauhan dari villa Akashi dan rumah keduanya. Mereka baru sampai ketika malam mulai meraja. Pekarangan rumah sederhananya diterangi lampu taman, tapi jendela-jendela dari kamar gelap—mungkin penghuninya sudah terlelap. Kouki keluar dari mobil, berkaca-kaca matanya menatap rumah yang telah ia tinggalkan selama dua bulan.

Seijuurou juga keluar dari mobil, tatapannya datar menatapi Kouki yang menyandang ranselnya. Suaminya berbalik, wajahnya sendu diterangi lampu pekarangan rumah. Dilihatnya Kouki membuka ransel, mengeluarkan selembar amplop putih padanya. Amplop tebal yang diantar tukang pos tadi pagi.

"Bu-bukalah … saat kau sampai di rumah nanti." Kouki menunduk memandangi sepatu keduanya.

Sepasang mata merah menyempitkan fokusnya pada Kouki. "Apa maksudmu? Tidakkah kau ingin aku juga menginap—"

"Pulanglah, Sei." Kouki maju, perlahan-lahan memeluknya, membenamkan wajah di ceruk lehernya, melirih sedih. "Kumohon." Merintih, "Kumohon, Sei…"

Seijuurou tergeming. Ini tidak seperti yang ia bayangkan sepanjang hari. Meski Kouki memohon dirinya untuk pergi—pulang ke rumah mereka, tapi pelukannya mengerat—seakan tak ingin melepaskannya.

Kouki tak tahu mana yang lebih menyesakkan baginya. Terharu pulang kembali ke rumahnya, atau Seijuurou yang balas mendekapnya. Mereka berpelukan lebih lama dari yang pernah mereka lakukan sebelumnya. Seakan tak ingin melepaskan satu sama lain. Seolah waktu bisa berhenti di detik ini.

Kouki yang pertama melepaskan. Matanya panas bukan main, ia ingin mengatakan sesuatu tapi lidahnya kelu. Dan Seijuurou malah mengecup bibirnya lembut, meremuk-redam hatinya.

"Aku akan menjemputmu nanti," ucapnya seperti janji. "Pulang ke rumah kita."

"Maafkan aku," ucap Kouki perlahan—tersisip penyesalan mendalam, "dan terima kasih untuk semuanya, Sei."

Kouki tersenyum semampunya, berbanding terbalik yang Seijuurou ingat tatkala dalam memori masa lalunya tentang bocah yang tersenyum polos menyeka airmata di bawah terang bulan, terasa seperti perpisahan lagi.

Perpisahan yang sesungguhnya Seijuurou takutkan.

Dalam kurungan malam, Kouki tidak melihat ekspresi suaminya saat itu.

Ia berbalik dari suaminya, menuju gerbang rumah, membuka kunci gesernya yang berderit pelan. Masuk ke dalam pekarangan, lalu menyelinap menuju pintu geser ruang keluarga yang ia tahu takkan dikunci untuk segera masuk. Dia tidak mau melihat Seijuurou lagi—karena keteguhan hatinya bisa seketika luluh-lantak.

Tak lama, terdengar suara deru mesin mobil menjauh, Kouki terduduk di dekat kotatsu ruang keluarga rumahnya yang gelap. Memeluk lutut, gemetar melirih "Aku pengecut." dan kenangannya bersama Seijuurou membuatnya merasa begitu buruk.


Ketika akhirnya gadis itu bertemu lagi dengan suaminya yang ia pikir pasti telah berbahagia dengan gadis lain, di tempat pertama kali mereka bertemu, disadarinya seseorang yang hanya berstatus formal suaminya bahkan sudah tak sudi lagi menatapnya.

Ia menguatkan diri, lalu berkata, "Aku … ingin minta maaf padamu. Maafkan aku … atas semua yang telah kulakukan padamu. Untuk semua sakit yang kaurasakan gara-gara aku."

"Untuk seorang pesimis sepertimu, aku tidak mengerti kenapa kau malah meminta maaf." Pemuda itu dingin menanggapinya.

"Tolong dengarkan aku dulu." Gadis itu mendesah. Memainkan jari-jemarinya yang berkeringat dingin dalam genggaman. "Aku ingin kau tahu … aku benar-benar belajar berusaha mencintaimu."

"Aku tidak melihat usahamu itu."

"Aku melakukannya." Gadis itu menyelipkan helai-helai rambutnya ke balik telinga. Wajahnya menyendu. "Saat bersamaku, aku benar-benar merasa dicintai olehmu. Mungkin kau tak mengerti seberapa stressnya aku mencoba balas mencintaimu dan merasa sangat bersalah."

"…" Pria itu meliriknya, seolah penjelasan itu terdengar meragukan.

"Tapi, aku tahu sekarang kau mencintainya. Dan aku ingin kau bahagia, walaupun kita tidak bersama."

Gadis itu menghirup napas dalam, menghelanya dalam kerelaan dan ketabahan. Nanar memandang suaminya.

"Jadi … pernikahan ini memang harus diakhiri."

Gadis itu menangis. Bibir merah mudanya bergetar, melukis senyum menyedihkan. Ia bergeser sedikit, memeluk suaminya untuk terakhir kali.

"Kita mungkin tak bisa bersama. Memang harus sampai di sini saja."

Pemuda itu hanya menatapnya hampa. Ia tidak sejahat itu untuk menatap perempuan ini dengan pandangan keji seperti saat ia pulang terakhir kali ke rumah sambil menggandeng gadis selingkuhannya, ia memeluk mantan istrinya itu, dan memejamkan mata.

Gadis tersebut membenarkan pernyataannya sejak pertama kali bertemu. Lelaki ini yang begitu menyukai kekerasan dan sering mengintimidasi, namun sentuhan dan cintanya sedemikian lembut.

Lelaki yang aneh, lelaki yang pernah jadi suaminya dan akan segera diceraikannya.

"Terima kasih … sudah sempat membuatku merasa begitu dicintai."


Dalam amplop yang Kouki berikan, adalah wujud nyata firasat yang dirasakan Seijuurou—bagaimanapun ia masih punya firasat tajam untuk memprediksi masa depan.

Penggalan akhir novel Kiriko.

Sebuah cincin pernikahan.

Selembar kertas alamat ke kantor Pemuka Adat dan satu jadwal.

Berlembar-lembar uang dengan selipan memo untuk membayar Pemuka Adat.

Satu konklusi: perceraian.

Jika pagi ini dilimpah anugerah indah, sepanjang hari ini amatlah cerah, maka malam ini adalah derita musibah.

Yang paling Seijuurou takutkan: kehilangan—terutama setelah ditinggal ibunya. Pernikahannya memang tak bisa diselamatkan lagi. Mungkin benar kecaman ayahnya, ia sudah terlalu banyak menyakiti Kouki dan dirinya sendiri.

Tempat tidurnya terlalu besar untuk dirinya seorang diri.

Sepi.

Mengerikan.

Seijuurou mendekamkan wajah depresifnya pada bantal Kouki, menghirup sisa-sisa wangi suaminya yang tertinggal.

Ini karmanya karena telah melupakan Kouki.


Pertemuan pertama mereka diiringi bisik-bisik angin pada rerumputan, pepohonan, dan bunga-bunga, tentang nada-nada melodis yang indah.

Alunan biola itu menuntun langkah mungil mendekat. Tangannya menyibak semak bunga yang bergoyang ditiup angin. Matanya menemukan seorang bocah sebaya dirinya tengah berdiri menjulang angkuh, menatap ke bawah dari atas puncak panjatan mainan, usai memainkan sebuah lagu.

Love's Joy.

Bocah yang baru datang menggigil ketakutan karena ditatap tajam begitu. Tubuhnya bergetar hebat, bersikeras memanjat pipa-pipa besi. Tangan kecilnya terulur, anak lelaki yang tengah memegang biola itu datar memandang tangannya.

"Tu-turun dari situ! A-awas nanti ka-kau jatuh!" serunya ketakutan. "Se-sebentar, a-aku akan menolongmu!"

Anak lelaki tersebut mengerjapkan mata. Berpikir bahwa bocah gemetaran itu aneh. Sudah tahu yang butuh ditolong adalah dirinya sendiri. Ia ingat dan sering lihat bahwa bocah ini adalah bocah yang suka berlari-lari gembira bersama kakaknya, riang bukan kepalang, tertawa mengagumi bunga di Hitachi Seaside Park. Tanpa sudut bibir tertarik ke atas, geli.

"Se-sedikit lagi, sa-sabar, jangan takut! Ah, kalau kau jatuh, nanti semak-semak bunga itu akan menolongmu—"

dan bocah yang kaku memanjat rangka balok mainan itulah yang gemetar ketakutan, berteguh hati untuk menolongnya—yang sebenarnya amatlah tak perlu, banyak bicara pula.

Sebelum bocah aneh itu tergelincir, anak tersebut menggenggam tangannya. Menariknya ke atas. Duduk di sampingnya.

"Kau nyaris mati—"

"—itu tadi musik yang bagus sekali! Tapi, aku khawatir kau ja-jatuh dari atas sini—"

Cengirannya polos. Memikat. Dan anak dengan harga diri tinggi itu melunak memandang bocah yang berseri-seri konyol memandangnya, berceloteh betapa menakjubkan lagu yang tadi ia mainkan.


Kuroko terbangun pagi ini, ketika ponselnya bergetar dua kali. Dua pesan masuk. Matanya yang masih belum fokus diusap, masih berat, pasti pagi masih terlalu muda atau ia terlalu letih karena reuni menyenangkan Kiseki no Sedai kemarin. Dilihatnya pengirim pesan singkatnya sepasang suami-suami.

Isinya sama.

Seketika ia tersentak bangun, tercenung syok.

/"Kuroko/Tetsuya, aku dan Seijuurou/Kouki akan bercerai besok lusa."/


Kedua orangtua itu terkejut ketika pagi menemukan si bungsu yang sudah menikah meringkuk di ruang keluarga. Kondisinya terlihat lebih buruk daripada penderita lepra. Dia benar-benar menderita.

Satu-satunya wanita dalam keluarga itu tak bertanya apapun, melihat putranya yang biasanya ceria itu kini tampak merana, ia beranjak memeluk pemuda yang telah meninggalkan rumah selama dua bulan. Airmata tumpah-ruah dalam pelukan sang ibu tanpa isakan. Ia membelai rambut coklat yang diwariskan darinya. Mengecupi lembut seluruh permukaan putra anaknya, ikut menangis.

Sang ayah menghembuskan napas panjang. Paham benar bahwa Kouki saat ini lebih membutuhkan ibunya, karena itulah ia beranjak menuju telepon rumah. Memencet sebuah nomor, menghubungi putra sulungnya.

Sebuah surat tergeletak di sisi telepon. Surat yang sudah mereka terima sejak tiga hari lalu, dikirim pada orangtua penyandang nama Akashi dan Furihata. Bertajuk memilukan.

Perceraian.

Kelelahan menangis sekian lama, Kouki terlelap dekat kotatsu.

Begitu terbangun, tak ada yang membahas tentang perceraian dalam waktu dua hari lagi. Orangtuanya menyambutnya seolah tidak terjadi apa-apa. Kouki tahu keputusannya dihargai oleh kedua orangtuanya, meski ada sesuatu dalam diri mereka yang terkesan menyayangkan keputusannya.

Kouki tidak banyak bicara, dan itu bisa dimengerti.

Jika tidak diomeli halus oleh ibunya, mungkin Kouki takkan berhenti melamun, diam saja, tidak mandi, tidak mau makan sesuap pun. Ayahnya berusaha membuat leluconsama sekali tidak lucu, Kouki tersenyum berusaha terlihat terhibur. Kakaknya menelepon ke rumah, bertanya tenang apa hari esok setelah lusa Kouki mau pergi ikut bersama keluarganya ke Hitachi Seaside Park, dan Kouki tercekat—teringat Seijuurou, tapi ia tidak kuasa menolak.

Ia mengecek ponsel. Puluhan SMS dan Misscall dari teman-temannya. Bertanya apa benar Kouki akan bercerai dari Seijuurou, jika iya mereka minta Kouki mempertimbangkannya lagi sekaligus turut berduka cita. Memutuskan setelah nanti ia resmi bercerai, baru akan mengonfirmasi semuanya pada teman-teman.

Kouki bersyukur punya keluarga yang lengkap dan teman-teman yang penuh perhatian. Selalu menjadi tempatnya berpulang, dan selalu mendampinginya dalam suka-duka.

Seijuurou tak mengirimkan pesan satu pun, tidak juga menelponnya. Bagaimana dia? Dengan pemikiran itu, keesokan harinya, Kouki makin tersiksa—frustrasi karena seluruh inci tubuhnya malah mengingat Seijuurou dan kenangan mereka.

Memaki diri sendiri betapa dulu dia dingin sekali pada suaminya.

Ia jahat pada … Seijuurou yang memberi kritik dan saran untuk novelnya, yang memasak makanan kesukaannya—mengejutkannya, yang sebenarnya ia tunggu kepulangannya setiap malam dan membuatnya gelisah kalau Seijuurou lembur, yang memberikan dukungan moral (langsung ataupun tidak) setiap berhadapan dengan Masaomi, yang selalu ekspresif di dekatnya—tawa dan senyumnya memesona, yang mengajarinya berdansa, yang mengajaknya ke Hitachi Seaside Park, yang memedulikannya.

Suami yang menggenggam tangannya, memeluknya hangat, dan yang bercinta dengannya. Seijuurou yang dirindukannya.

Seijuurou yang sadis, intimidatif, dan menjadikan dirinya replika.

Tidak hanya jwanya tersiksa mengingat Seijuurou, fisiknya yang sudah terasa tidak nyaman sejak sebulan lalu turut menyiksanya.

Seharian ini pula perutnya kram, seolah bagian organ-organ dalam berkelonjotan, bergolak tak nyaman memikirkan semua itu. Kouki semakin pusing, terlebih ia tidak bisa tidur sama sekali, bolak-balik ke kamar mandi karena mungkin ia menenggak ocha buatan ibunya—buang air kecil berkali-kali, tidak tahu kenapa ia menyukai sekali ocha buatan ibunya hari ini.

Ia lelah, dan beberapa kali muntah—pusing dan mual.

"Kouki, kau sakit, Sayang?" Ibunya mengkhawatirkannya.

Kouki menggeleng, kelelahan. Menggerung, "Aku … stress. Itu saja, Bu."

Ibunya menatapinya seksama. Meneliti dirinya, sesaat berpikir, lalu mengulas senyum sendu, menggeleng pada diri sendiri. Dipaksanya Kouki untuk kembali ke kamar dan tidur, menyelimutinya.

"Sebaiknya kau istirahat. Besok akan jadi hari yang berat."

Kouki mengangguk, bergelung dalam selimut. Bayangan akan perceraian hari esok mencegahnya untuk tertidur lelap. Tempat tidurnya sepi. Tak ada yang tidur di sisinya.

Seijuurou tidak tidur di sisinya.

Karma ini terlalu menyakitkan bagi Kouki.


Masaomi menghitung hari sejak surat itu dikirim. Menghembuskan napas panjang usai membaca surat dari menantunya. Ia tahu cepat atau lambat ini akan terjadi. Pernikahan ini tidak akan berhasil. Pandangannya teralih pada bingkai foto mendiang istrinya, menatapinya kecewa, merasa kepercayaannya untuk melaksanakan wasiat istrinya itu adalah keputusan yang salah.

"Harusnya kau mendengarkanku, Shiori. Semua ini hanya menyakiti Seijuurou."

Tepat empat hari kemudian, Seijuurou pulang ke rumah.

Masaomi ingin menjejalkan padanya tentang strata sosial, norma kenormalan bahwa takdir memasangkan lelaki dengan perempuan, pandangan muka umum bahwa seorang pewaris Akashi pernikahannya gagal itu sangat memalukan, dan sebagainya. Ini kesalahan fatal, tidak boleh terjadi lagi.

Tapi melihat roman kekalahan putranya, kehilangan mendalam—ekspresi seperti ketika mereka kehilangan figur ibu dan istri rumah ini, Masaomi tak jadi melakukan semuanya. Membatalkan semua pekerjaannya hari itu, mengajak Seijuurou pergi ke peternakan Akashi untuk bertemu Yukimaru, ditolak mentah-mentah.

Akhirnya ia memaksa Seijuurou main shogi melawannya, menyalakan televisi yang menayangkan pertandingan NBA, berniat mengalihkan pikiran putranya sedikit dari perceraian.

Setelah ronde (dan kekalahan telak) kesembilan, putra tunggalnya pelan bertanya kenapa dirinya berlaku tidak normal.

Masaomi lamat-lamat menyerahkan surat yang dikirimkan menantunya.

"Aku tahu besok kau dan Kouki akan bercerai."

Seijuurou datar memandang surat itu. Tertera surat dikirim untuk keluarga Akashi dan Furihata. Dikirim empat hari lalu. Ia memandang cincin nikah yang masih tersemat di jari manis tangan kanannya, punya Kouki pun ada padanya. Pahit menyimpulkan.

"Jadi Kouki sudah menyiapkan semuanya … dan aku yang terakhir tahu."

Masaomi tidak menanggapi, menyimpulkan bahwa dugaannya waktu terakhir kali bertamu ke rumah putra dan menantunya keliru, dugaannya ketika kedua pemuda itu makan malam di rumahnya dan Seijuurou berlari mencari Kouki itu tidak membuahkan perubahan seperti yang dipercayai istrinya.

Kekalahan ditelakkan dengan checkmate kesepuluh.


Kakaknya memeluknya lama ketika tiba di rumah pagi itu, tepat di hari perceraian Kouki. Berbisik penyesalan karena terlambat datang.

Kouki menggeleng, balas mendekapnya erat. Lalu keduanya masuk ke ruang keluarga, ayah mereka tengah menyiapkan mobil untuk keberangkatan mereka, dan ibunya yang sudah berpakaian rapi tengah membuka album foto lama.

Kakaknya lebih lihai membuat Kouki tersenyum, meledek ringan ketika melihat foto bayi, batita, dan balita Kouki—terutama yang sedang telanjang. Mengacak-acak rambutnya gemas, berpura-pura berkeluh-kesah.

"Kenapa Adikku terlalu cepat dewasa, sih? Dia tidak lucu lagi."

Kouki berpura-pura cemberut, mengelak dari sentuhan nakal kakaknya lagi. Bersungut sebal. "Tidak selamanya aku jadi anak kecil, Aniki."

Album berikutnya di buka. Masa kanak-kanak yang menggemaskan. Sampai ke bagian mereka sering berwisata ke taman bunga kesukaan Kouki.

Ibunya bertopang dagu, ikut berpura-pura kecewa, "Kenapa kalian terlalu cepat besar, sih?" Kendati matanya melembut memandang momen-momen itu, jari-jari yang dikeruti penuaan membelai sayang setiap lembaran foto dalam album.

Sampai ada sebuah foto terselip, foto ibunya dengan seorang wanita muda bermata dan berambut merah.

Kouki mencelos, teringat Seijuurou. "Ini siapa, Bu?"

Kakaknya menjitak kepalanya. "Kau ini, kouki! Masa mertua sendiri tidak tahu?"

Ibunya mengerjapkan mata pada putra bungsunya. "Akashi Shiori-san. Masa kau tidak ingat?"

Mata Kouki terpancang kaku pada foto ibunya dan ibu Seijuurou yang duduk berdampingan di taman, melambai ke kamera.

"Okaa-san jadi ingat … dulu Shiori-san bilang padaku, Seijuurou adalah putra kesayangannya, anak satu-satunya … jadi anak yang terlalu dewasa karena suaminya terlalu tegas dan keras padanya. Seijuurou jarang berekspresi dan berbahagia, sampai bertemu denganmu, Kouki."

Sepasang mata terbelalak. Kouki tercenung bingung.

Ibunya tidak menyadari kedua putranya terdiam, ia membalikkan lembaran album, tertawa pelan melihat foto sepasang anak kecil yang duduk di atas panjatan mainan. Yang satu tengah bermain biola, yang satu lagi tengah bertepuk tangan kekanak-kanakan dan tertawa gembira.

"Okaa-san jadi ingat malam itu … kami semua pusing mencari kalian berdua hilang kemana. Okaa-san dan Shiori-san bahkan sudah menangis karena kalian tidak juga ditemukan. Ternyata kalian muncul sendiri, Seijuurou saat itu masih polos … bilang ingin menikahimu, melamarmu. Dan kau juga tertawa senang sekali."

"Aku juga ingat momen epic itu! Astaga, aku masih tidak bisa lupa ekspresi Ayah dan Masaomi Ojii-san saat itu!" Kakaknya tergelak mengingat saat itu.

"Okaa-san … Aniki … ka-kalian bicara apa?"

Gelak tawa dan senyum pupus seketika. Mereka menoleh pada Kouki yang wajahnya bingung, ketakutan, dan gelisah bukan main.

"Kouki … kau tidak ingat?" tanya kakaknya, tak kalah bingung.

"Kau pernah bertemu Seijuurou dulu, saat kau masih delapan tahun." Ibunya bertutur pelan, ia pun sama bingung karena Kouki malah tidak ingat.

"Kau pernah mencoba menolongnya karena kau pikir dia tersangkut di atas panjatan bilang kau bertemu anak lelaki aneh, dan akhirnya sering bermain bersamanya saat keluarga kita kebetulan sama-sama berlibur di dekat Hitachi Seaside Park."

Pening. Pusing. Kepalanya berputar-putar seperti pusara, mendongkrak memorinya. "A-aku ingat, samar-samar kurasa … ta-tapi—"

Horror.

"—itu … Seijuurou?"

Ibunya menatapnya tidak mengerti. "Kupikir kau menikahi Seijuurou karena kalian menepati janji semasa kecil."

"Bu-bukan. I-itu karena Ayah dan ibu … bahkan Kakak juga … begitu bertemu Seijuurou langsung menyukainya, terlebih kalian menerima saat Seijuurou dengan aneh melamarku yang laki-laki—"

Kouki merasakan kepalanya pusing, hatinya perih mengingat memori yang terlupa.

"—itu karena kalian. Aku bahkan bingung kenapa Ayah, Ibu, dan Masaomi-san tidak membicarakan bahwa kalian mustahil tidak punya anak dariku dan Seijuurou."

"Kouki…" Ibu dan kakaknya berpandangan tak mengerti. Bingung kenapa Kouki ternyata selama ini tidak menyadari Seijuurou suaminya sama dengan bocah yang dulu ditemuinya di Hitachi Seaside Park.

Ayahnya mendengar seluruh percakapan mereka sejak masuk dan hendak memberitahukan bahwa mobil sudah siap. Ia menghampiri Kouki, menghela napas panjang. Mengusap kepala anaknya.

"Kami merestui kalian … karena ada sesuatu yang kau, dan mungkin juga Seijuurou, belum ketahui tentangmu, Kouki."

Perkataan ayahnya sambil lalu tak dicerna olehnya. Memori mengalir deras ke benak pemuda yang merasakan matanya memanas. Teringat cara pandang mata Seijuurou yang menyesakkannya—ternyata merindukannya. Terngiang perkataannya.

.

.

"Dulu seperti ini, banyak bicara dan tidak pernah berhenti. Berlari seolah tidak akan kehabisan energi. Tidak banyak berubah."

.

.

"Aku suka datang ke sini untuk melihatnya menertawakan bunga-bunga di sini. Tidak bisa diam, mendadak hiperaktif di tempat ini, dan jika sudah waktunya pulang, ia tidak mau."

.

.

"Dia adalah orang yang kutemui saat berumur delapan tahun di Hitachi Seaside Park. Manis, baik dan juga periang. Awalnya aku tidak pernah menghitung eksistensinya karena dia penakut—melihat cicadas malah lari, cengeng—terjatuh sekali lalu menangis, dan aneh sekali karena dia selalu tertawa setiap melihat bunga-bunga bergoyang ditiup angin—aku tidak mengerti semua itu sampai hari ini. Tapi ternyata … dia berhati teguh—jika sudah bertekad, meski ketakutan, ia akan melakukannya. Sejak kecil, dia selalu begitu."

.

.

.

.

/"Sepertinya ada, Kouki-kun. Dulu saat di Teikou, Akashi-kun pernah cerita tentang cinta pertamanya di masa kecil saat kami main Truth or Dare dan dia pilih Truth. Mungkin dia masih mencintainya sampai sekarang."/

.

.

"Kalau begitu … apa kau mencintainya, Sei?"

"Sangat."

.

.

"Sampai kita bertemu lagi nanti … jangan lupakan aku, ya?"

"Tidak akan.

.

.

"Suatu waktu, aku bertemu lagi dengannya. Hanya sesaat. Aku melupakannya karena baru bertemu lagi dengannya tujuh tahun kemudian. Meski hanya pertemuan singkat dan aku lama mengingat, tapi waktu sesingkat itu sangat membekas di hatiku. Dia membuatku sadar arti perjuangan dan kemenangan yang sebenarnya. Ini karma … seperti aku melupakannya, dia pun melupakanku."

.

.

" Kemudian entah bagaimana dan juga latih tanding—yang aku mau-mau saja menyejajarkan diri dengan sekolah baru lemah itu—kami menjadi dekat dan berteman. Berlibur beberapa kali ke tempat hiburan bersama teman-teman, sayangnya tidak ada jalan-jalan ke taman yang dulu sama-sama kami datangi. Selama waktu itu pun, dia tetap tidak ingat padaku. Sampai saat ini, kurasa dia tidak ingat padaku."

.

.

"Ada sesuatu yang aneh tentang lelaki itu."

.

.

("Cause I do love you, Kouki.")

.

.

Tangis meleleh.

"KOUKI!"

Keluarganya berteriak kaget. Kouki tidak ingat apa-apa lagi, ia berlari keluar rumah, berlari menuju ke tempat cerainya dan Seijuurou.


Masaomi mengerling Pemuka Adat yang menyiapkan meja berlapis taplak hitam, mengawasinya memberikan palu pada putranya. Ia ada di sini sebagai saksi untuk melihat perceraian, dan sebagai orangtua yang tidak bisa menghibur anaknya selain ada di sisinya.

Seijuurou melepaskan cincin nikah yang dikenakannya. Mengeluarkan cincin yang Kouki kembalikan padanya.

Bukan sepasang cincin ini yang ingin Seijuurou remukkan, melainkan palunya. Kenyataan pedih ini.

"Apa pasanganmu akan datang,Tuan Akashi?"

Seijuurou tidak menatap Pemuka Adat yang tenang dan sopan bertanya padanya. Ia menghela napas pendek, wajahnya dingin—tak mau memperlihatkan ketakutan dan kelemahannya. "Mungkin tidak akan datang."

"Jika tidak datang, prosesi bisa dilakukan seorang diri. Serpihan cincin bisa Anda kirimkan pada mantan pasangan Anda nanti. Dan … publikasi." Pemuka Adat itu sudah menyaksikan begitu banyak perceraian, namun ia membaca roman pemuda ini yang begitu tersiksa. Berkesimpulan yang meminta cerai pasti pasangannya dan bukan pemuda ini sendiri.

"Aku mengerti."

Seijuurou telah belajar bahwa keajaiban itu tidak ada. Tidak jika tak diusahakan. Bisa menikah dengan Kouki, memilikinya selama dua bulan, merasakan perhatian Kouki untuknya, bertemu dengannya lagi—bahkan setelah Seijuurou melupakannya begitu saja karena sedih dengan kematian ibunya, dan tak ada keajaiban karena ibunya tak terselamatkan …

Seijuurou telah berhenti berharap akan keajaban. Karena itulah kini ia beranjak, menaruh cincin miliknya di permukaan meja bertaplak hitam, mengangkat palu. Memejamkan mata, mengingat Kouki, berpikir akan memikirkan segala konsekuensi kegagalan pernikahannya nanti, dan mengayunkan palu.

Derap langkah rusuh.

Palu nyaris menghantam cincin, menghancurkannya, seperti kelibatan kenangan pernikahan di musim semi—yang telah mati.

"SEI!

Pintu digebrak terbuka.

"SEIJUUROU!"

Seisi ruangan terkejut melihat seorang pemuda begitu lancang menggebrak ruangan sakral perceraian, bermandikan peluh—dan wajahnya basah bukan hanya karena keringat, terengah-engah dengan wajah memerah layaknya seseorang habis sprint marathon sekian puluh kilometer.

Seijuurou menatap tidak percaya.

Kouki terseok berjalan menghampiri Seijuurou, seisi ruangan hening diisi gaung langkah-langkah tergesa keluarga Furihata yang mengejar-mengejar si bungsu.

"Sei … haah … ja-jangan…" Kouki merintih pilu. Ia tidak kuat lagi. "A-aku—"

"Kouki!"

Seijuurou melepaskan palu yang mendepak kedua cincin mereka, jatuh dari meja bertaplak hitam, teronggok di lantai dekat Kouki yang ambruk pingsan dalam pelukannya.

Darah perlahan mengalir dari seseorang yang pingsan, menodai baju sesoerang yang memeluknya, menggenang di lantai putih bersih itu.

Orang-orang menjerit.


Para pemuda itu datang berhamburan ke rumah sakit. Perawat-perawat sudah memelototi dan judes mengingatkan untuk tidak membuat keributan di sana.

Beberapa waktu lalu mereka dapat kabar hari ini Seijuurou dan Kouki akan bercerai. Tapi kini mereka malah dapat kabar Kouki masuk ke rumah sakit. Sesampainya di institut gawat darurat, ternyata sudah ada keluarga Akashi dan Furihata di sana menunggu dengan cemas.

Melihat kedatangan mereka, seorang lelaki yang terlihat berusia tiga puluhan memandang seksama para pemuda yang tersengal-sengal. "Teman-teman Kouki … dan Seijuurou? Kiseki no Sedai?"

"Furihata-san." Kuroko menganggukkan kepala, ia mengenal kakak dari kawannya semasa bersekolah di Seirin itu.

"Sial, berapa hari lalu aku yakin kami datang menginterupsi kalian melakukan ini-itu, aku lihat kalian ciuman di taman bunga," geram Aomine merasa dipermainkan. Tidak peduli betapa vulgarnya ia blak-blakan di rumah sakit, ketika pihak keluarga Akashi dan Furihata lengkap.

"Aku bahkan belum sarapan dan sudah lari ke sini," erang Murasakibara, ia kelaparan.

Kagami yang berada di sisi Aomine mendengus keras. "Tahu-tahu kami dapat kabar dari Kuroko bahwa kalian cerai! Apa-apaan ini? Kami lihat kalian baik-baik saja saat reuni Kiseki no Sedai!"

"A-apa yang sebenarnya terjadi—" Kise yang pertama buka suara, dilihatnya Seijuurou duduk bersandar pada kursi dengan mata terpejam, berdarah-darah. "Astaga, Akashicchi!"

"Ssst. Ini rumah sakit, nanodayo," tegur Midorima keras. "Jangan berisik."

"Semuanya, tenanglah." Kuroko menenangkan semuanya. Prihatin melihat Seijuuruo yang diam saja tak merespons mereka. "Bukan hanya kita yang tidak mengerti apa yang terjadi."

Tepat saat itu, dokter keluar dari ruangan. Ia tidak terkejut lagi melihat dalam sekerjap mata lorong tunggu telah dipenuhi oleh kerabat terdekat pasiennya. Wajahnya terlihat berduka.

"Bisa aku bicara dengan keluarga Akashi Kouki?"

Seijuurou segera berdiri. "Saya suaminya."

"Kami keluarganya," imbuh Masaomi mewakili keluarga Furihata.

Dokter itu terperanjat kaget. Suster di belakangnya juga syok bukan kepalang, beberapa saat berpandangan dan menggumam, "Suami?"

Baruah dokter tersebut berdeham kaku, cepat-cepat memulihkan diri. Ia mengajak pihak keluarga untuk bicara di ujung buntu koridor. Suaranya tegas dan pelan, bertanya gejala sakit Kouki, yang hanya dijawab oleh keluarganya—Seijuuruo hanya memandang kosong tak percaya. Setelah mendengar semuanya, dokter itu menyampaikan diagnosis sementara.

Para pemuda yang ditinggalkan berusaha menajamkan pendengaran. Sayup-sayup terdengar "perdarahannya untung telah berhenti", "tumor", "mungkin sudah lama dirasakannya", "mungkin tumor ganas karena—" dan ucapan belangsungkawa.

Satu-satunya wanita di sana terisak, berpelukan dengan suaminya. Keduanya menangis pilu. Sang kakak sulung menahan isakan, menyeka guguran airmatanya, dan meremas bahu suami adiknya yang tergeming kaku.

"Aku akan berikan apapun…" Seijuurou akhirnya angkat bicara setelah terdiam seribu bahasa, "tolong selamatkan dan sembuhkan Kouki."

Semua yang ada di sana menatap pemuda berambut merah itu tak percaya. Mereka tak pernah melihat Seijuurou setakut itu. Sesedih itu.

"Pasti kami akan memberikan yang terbaik untuknya, Tuan Akashi." Dokter itu meneguhkan sumpahnya. Ini bukan pertama kalinya ia melihat raut depresif dari keluarga yang menerima kabar duka.

Seijuurou bergegas mengikuti sang dokter yang hendak masuk lagi ke ruangan IGD—hendak menginstruksikan untuk menyiapkan ruang rawat-inap bagi pasien Akashi Kouki.

"Boleh aku … melihat Kouki?"

Dokter itu tersenyum simpatik. "Maaf. Untuk saat ini belum bisa. Begitu kondisinya stabil dan ia sudah siuman, kami akan segera memberitahu kalian."

Sebelum dokter itu masuk ke ruangan IGD yang kacau-balau lagi, suara tawa rendah memecahkan koridor ruang tunggu. Semua refleks menoleh.

Akashi Masaomi, tertawa setelah menganalisis seluruh perbincangan yang ada—terlebih dari yang Aomine Daiki ucapkan, tampak makin berbahaya, matanya berkilat dengan kepicikan tua-tua keladi.

"Ayah merasa puas, 'kan?" desis Seijuurou marah. Ia tahu ayahnya pasti bahagia, ayahnya yang selalu menentang pernikahannya dengan Kouki. Di saat seperti ini, tertawa di atas duka dan derita seluruh orang.

"Tentu saja." Masaomi menyurutkan tawanya. Ia mendudukkan diri dengan tenang dan anggun. Terlampau tenang, terlihat senang menatap sang dokter. "Dokter, kau tidak perlu melakukan check-up menyeluruh atau CT-scan. Kouki tidak butuh itu."

"Ayah—!"

Kakak Kouki menahan Seijuurou yang nyaris menerjang ayahnya. Berusaha menyabarkannya, dirinya juga emosi mendengar perkataan mertua adiknya itu. Giginya bergermertak seperti Seijuurou, menahan bludakan amarah.

Masaomi tersenyum, angkuh penuh kemenangan.

"Cek saja Akashi Kouki ke … USG."


Beberapa jam kemudian.

Erangan.

"—ki?"

Suara itu.

Kouki membuka matanya. Meringis kesakitan dengan kondisinya saat ini, tubuhnya seakan berdemonstrasi, sakit menyerang setiap inci tubuhnya. Ia merintih kesakitan. Tapi semuanya lenyap tatkala ia menemukan Seijuurou tengah meremas tangannya.

"Sei…" Suaranya serak.

"Kouki." Seijuurou menghela napas lega, mengecup punggung tangan yang tidak ditempeli jarum infus.

Kouki tersentak, teringat semua yang terjadi. Ia menatap takut Seijuurou. "Ma-maafkan aku … ja-jangan hancurkan cincin kita. A-aku tidak ingin—"

"Sssh." Seijuurou menghentikan racauannya. Tangannya yang tidak menggenggam tangan Kouki membelai rambutnya lembut. "Tenanglah."

Airmata meleleh di pipinya. Sakitnya terasa nyata. Tapi Seijuurou yang tengah tersenyum padanya lebih terlihat seperti ilusi. Terlebih ini ruangan serba putih, berbau memuakkan, Kouki tak tahu dirinya di mana—mungkin surga namun entahlah. Ada setangkai lily putih menghias meja di sisi ranjang yang ditempatinya.

"A-aku…" Kouki menunduk, menutup wajahnya dengan punggung lengan—tak mau Seijuurou melihat kecengengan, kebodohan, dan kepengecutannya lagi. "…sudah ingat. Dulu, tentang kita."

Suara tetes infus bergema di ruangan. Seijuurou tenang mendengarkan, sudah paham bahwa Kouki memang tidak ingat dirinya selama ini.

"Maaf … aku … me-melupakanmu." Kouki bergetar menarik napas. "A-aku ingat, tapi aku tidak ingat itu kau. Kita tidak pernah berkenalan dengan nama."

"Ini juga salahku. Waktu kita bertemu pertama kali lagi di pembukaan Winter Cup, aku tidak mengingatmu. Padahal aku yang berjanji tidak akan melupakanmu." Seijuurou mengeratkan genggaman tangan mereka.

"Kau … dulu … tidak seperti pertama kita bertemu, tidak juga seperti ketika menikah, Sei."

"Aku berubah. Kau tidak. Banyak hal yang terjadi."

"Aku … bodoh sekali, 'kan?"

"Memang."

"Ukh. Ah … sekarang aku mengerti kenapa aku merasa ada yang aneh denganmu."

"Dari dulu juga kau selalu bilang aku ini aneh."

"Bu-bukan. Aku merasa … aneh, kau begitu mudah dekat denganku, tapi aku tidak merasa begitu. Aku baru mengerti tadi … ka-kau mencintaiku … dari dulu sampai sekarang."

Kouki bisa merasakan senyuman di wajah Seijuurou saat berkata, "Tentu saja."

Seijuurou menggeser lengan yang menutupi wajah suaminya, bersimbah airmata. "Bagaimana dengan kau? Kau memperbolehkanku menikahimu begitu saja."

Kouki terkesiap. Rona kembali menghiasi wajahnya yang memucat entah sudah berapa lama. Ia berpaling ke samping, berkelit dari pandangan Seijuurou yang melelehkannya.

"I-itu dulu … saat aku masih, err, bocah." Kouki memutuskan untuk berkata jujur. "Ingatlah, kau menikahiku tanpa mempertimbangkan perasaanku yang biasa-biasa saja padamu, aku yang belum mengingat apa-apa bahwa kita pernah bersama."

Sunyi.

"Apa itu penolakan?" Seijuurou mundur sedikit. Senyumnya hilang. "Kalau kau tidak mencintaiku, kenapa kau tadi menghentikan aku menghancurkan cincin kita?"

"Tu-tunggu!" Kouki panik, ia memandang lurus pada Seijuurou. Bersungguh-sungguh. "I-itu dulu … se-sekarang sudah berbeda, ini berkat kau membuatku jatuh cin—" Pipinya makin bersemu sehat. "—cincin! Cincin kita mana?"

"Tsk. Jangan mengelak, Kouki."

"Ci-cincin mana?!"

Seijuurou menjawab dengan mengangkat genggaman tangan mereka, menunjukkan jari manis keduanya yang dilingkari cincin pernikahan.

Kouki berkaca-kaca menatapnya, cincin yang sungguh serasi. Ia tercekat tatkala Seijuurou bangun, melekatkan kening mereka satu sama lain.

"Aku mencintaimu."

Seijuurou selalu tegas mengatakannya. Bersungguh-sungguh, jujur, tapi lembut. Harapan tertera di mata merah yang selalu memesona Kouki lagi dan lagi.

"Ungkapkan perasaanmu. Jujurlah. Ini menentukan nasib pernikahan kita. Ini perintah absolut dariku: katakan, Kouki."

Tak sanggup menatap Seijuurou, Kouki mengangkat lengannya untuk memeluk leher suaminya. Melirih, "A-aku … juga. Bukan karena kau yang dulu, tapi sekarang." Kejujuran pertama kali, pada Seijuurou.

Menyeka airmata suaminya, Seijuurou bangkit sedikit, mengecup lembut bibir kekasihnya. Ciuman halus yang lama, tak ada nafsu, hanya afeksi. Atau begitulah yang dia inginkan, jika saja Kouki tidak meraup bibirnya duluan dan menjambak halus rambutnya lagi. Seijuurou bersitatap dengan suaminya, hatinya menghangat menemukan Kouki memandangnya dengan cara yang sama seperti ia memandang Kouki—cinta terlihat bahkan dari matanya. Ia balas melumat bibir yang mencandu dirinya, saling menghisap, keintiman yang mereka rindukan.

Tok!

Tok!

Tok!

Suara berat khhas. "He-hei, jangan masuk seenaknya, Bodoh! Nanti kalau kita—"

"Permisi~ orangtuamu dan Kouki serta kakaknya, sedang sibuk mengurus administrasi rawat-inap, jadi kami diminta memberitahukan hasilnya, Akashicchi—"

"AAARRRGHH!"

Para pemuda itu berteriak kaget. Aomine menepuk dahi. Teman-temannya tak belajar dari pengalaman. Kali ini lebih horror, mereka masuk tepat ketika sepasang suami-suami tengah berciuman.

"Setidaknya kabari kami kalau Kouki sudah sadar, nanodayo!" seru Midorima, wajahnya memanas lagi melihat sahabatnya tengah mencium intim suaminya sendiri.

"Ya Tuhan. Aka-chin sedang makan."

"DENGAR, YA, KALIAN BERDUA!" Kagami berkacak pinggang. Mendampratkan amarahnya, emosional. "Pertama, Akashi minta saran kami untuk memperbaiki hubungan dengan Kouki. Karena khawatir, kami datang dan sepertinya menginterupsi kalian melakukan semua-tahu-apa, lalu selama pertemuan rutin berlangsung, kalian terlihat baik-baik saja—for god's sake kami bahkan lihat kalian ciuman juga di taman!—lalu tahu-tahu Kuroko memberitahu kalian akan bercerai, semua berusaha menghubungi kalian, tak satu pun dari kalian memberi kabar.

"Kemudian kami dapat kabar Kouki masuk ke rumah sakit, kami dengar ada tumor di perut Kouki dan mungkin itu ganas—kira-kira sudah lama Kouki merasakannya, tapi sekarang kami dapat konfirmasi hasil USG bahwa Kouki hamil. FOR LORD'S SAKE, Furihata Kouki, ah ... AKASHI KOUKI, laki-laki, HAMIL SEBULAN! WHAT THE HELL IS GOING ON HERE!" Kagami mengacak-acak rambutnya gemas.

"Kalian tidak mengerti betapa kami merasa di-troll." Kuroko melontar datar, merasa kesal, tapi bibirnya menguntai senyum lega.

Kouki melepaskan ciuman dari suaminya, menyusut malu, dan menenggelamkan diri dalam pelukan Seijuurou yang mengerling jahat mereka semua.

"Tidak bisakah kalian semua pergi sekarang dan biarkan aku berdua dengan Kou—" Seijuurou yang mendekap Kouki, menatap Kagami, "—apa katamu tadi?"

"KAU MAU AKU MENGATAKAN ULANG SEMUANYA, HAAAH?!"

"Kagamicchi, sudahlah! Ini rumah sakit!" Kise terkekeh geli karena Kagami mewakili kebingungan dan kekesalan mereka semua atas apa yang terjadi. "Selamat, Akashicchi, Kouki-kun! Kami juga berbahagia kalian ternyata bisa punya anak berdua!"

Seijuurou menegakkan tubuhnya. Raut ketidakpercayaan melukisi wajahnya, matanya terbeliak. "Benarkah?"

"Ini hasil USG yang dititipkan keluarga kalian, nanodayo." Midorima membuka map yang berisi hasil foto USG janin mungil, calon bayi pewaris keluarga Akashi, menyerahkannya pada Seijuurou.

"Ha- … hamil?" Suara bingung Kouki membungkam kerusuhan yang Kiseki no Sedai timbulkan.

Seijuurou memandang foto hitam, remang, tak terlihat apa-apa baginya. Tapi itu buah cinta keduanya. Senyumnya mengembang. Dan ini dua bulan setelah Kiseki no Sedai melihat ekspresi Seijuurou, kebahagiaan tak tertara, setelah waktu itu melihatnya menikahi pemuda ordinari tersebut.

"Kouki." Seijuurou impuls mencium singkat bibir suaminya. "Terima kasih."

"A-aku tidak mengerti—a-apa yang terjadi?"

Seijuurou mendudukkan diri ke ranjang Kouki. Mengelus rambut coklat yang teruntai di bantal. Ia mulai bertutur.

"Tadi kau datang ke tempat perceraian … pingsan, berdarah-darah. Kami membawamu ke rumah sakit. Dokter bilang pendarahanmu telah berhenti, tapi itu berasal dari perutmu—karena ada anomali di sana. Diagnosis dugaan saat itu adalah ada tumor ganas di perutmu.

"Tahu-tahu Ayahku tertawa dan menyuruh dokter mengecek USG untukmu. Bahkan orangtuamu yang semula menangis sedih, langsung tertawa bahagia. Selagi dokter mengecekkan USG padamu, aku diceritakan semuanya yang sebenarnya.

"Ternyata kedua orangtuamu selama ini menyembunyikan rahasia bahwa kau lahir dengan kelainan sangat langka. Yaitu memiliki organ reproduksi ganda, secara fisik, pertumbuhan dan perkembangan, kau besar sebagai lelaki. Tapi ada kemungkinan kau bisa hamil meski tidak mengalami menstruasi. Mereka sengaja menyembunyikannya karena tidak mau kau terbebani dengan identitas gendermu semasa besar nanti.

"Dan Ibuku tahu dari dulu aku mencintaimu, ia ingin aku bahagia bersamamu. Karena itu ibuku meminta izin pada ibumu agar kau bisa bersamaku—saat kita sering bertemu di Hitachi Seaside Park, ibumu juga menyukaiku, dan tak sengaja membocorkan rahasia itu.

"Karena itulah, Ibuku yang sejak dulu memang sakit-sakitan memberi wasiat pada Ayahku, bahwa jika aku bertemu denganmu lagi dan ingin menikahimu, Ayahku harus merestui—karena ada harapan akan keajaiban bahwa kau bisa punya anak. Garis keturunan keluarga Akashi tidak akan mati."

Seijuurou mencium halus mata Kouki yang mengerjap bingung, tak percaya memandangnya.

"Tadi juga Dokter telah meralat diagnosis setelah kau terbukti hamil. Pendarahanmu tadi bukan semengerikan yang semua bayangkan. Melainkan karena perutmu membuka ruang untuk janin, organ-organmu tertekan. Dan organ vitalmu reaktif dengan perubahan itu, nanodayo." Midorima turut menjelaskan.

Semua terdiam menyimak penjelasan yang nyaris tak masuk di akal sehat itu.

Kouki melongo bodoh. Kesulitan mencerna informasi yang dijejalkan padanya.

"Well, kalau kau tadi menolakku pun dan bersikeras kita tetap cerai, tentu aku akan memanfaatkan anak kita ini untuk mencegahmu cerai dariku." Seijuurou mengulas senyum puas. Kemenangan absolut ada pada dirinya. Kouki tidak punya cara untuk berpisah darinya.

'Akashi menjadikan anak sebagai senjata.' Kiseki no Sedai serentak sweatdrop mendengarnya.

"Ta-tapi … bagaimana dengan orang yang kau cintai?" Kouki memijat kepalanya yang berdenyut sakit, pening karena semburansegala berita yang tiba-tiba.

"Aku hanya mencintaimu."

Pemuda-pemuda lain mengerang sebal mendengar kefrontalan Seijuurou pada Kouki.

"A-ada. Kuroko bilang ada. Ma-makanya … aku ingin cerai. Kau menjadikanku replika dari cinta masa la-lalu."

"Itukah yang membuat Kouki menangis dan minta cerai dariku?" Seijuurou menatap tajam Kuroko yang merinding sebentar.

Sang bayangan mengeluarkan ponselnya, membuka sebuah pesan terkirim beberapa waktu silam.

"Kalian berdua SMS padaku. Aku sudah bilang, Kouki-kun bertanya apa ada orang yang pernah Akashi-kun suka atau cinta, kujawab jujur: mungkin ada. Dulu waktu di Teikou saat kita masih Truth or Dare, Akashi-kun pilih truth, dan bercerita tentang orang yang dicintainya. Aku bilang mungkin masih dicintainya sampai sekarang."

Kuroko tetap tenang menjelaskan, meski kini nada suaranya agak geli.

"Jika Kouki-kun bilang dia menangis membaca pesan itu dan salah paham—Akashi-kun juga tidak bilang bahwa yang kaumaksud adalah Kouki-kun, itu berarti Kouki-kun mencintaimu."

"Jadi—" Kouki memandang suaminya yang balas memandangnya.

"Bukan replika." Seijuurou mengecup keningnya halus, lama. "Itu memang kau."

Kouki masih ternganga tak percaya dengan segala hal yang terjadi dalam hidupnya, yang sebenarnya ada dalam dirinya, yang sesuungguhnya terjadi. Tak ada yang berniat memecahkan keheningan itu sampai pintu terbuka dari luar.

Suster datang, bertanya ramah. "Ada Tuan Akashi Seijuurou?"

"Ya?" Seijuurou beranjak bangun.

"Anda ditunggu oleh Dokter spesialis kandungan bersama kedua orangtua Anda dan Akashi Kouki. Kami membutuhkan Anda untuk registrasi sebagai orangtua dari calon anak yang dikandung Akashi Kouki, dan daftar check-up rutin untuk USG serta kontrol setiap bulan."

Setelah mengatakan itu, menahan senyum mencurigakan—yang dideteksi oleh seluruh pemuda yang ada dalam dalam ruangan—memandang senang pada Seijuurou dan Kouki, suster itu terlebih dahulu keluar ruangan menuunggu di pintu.

Seijuurou akan pergi, tapi tautan tangan mereka tidak dilepaskan Kouki. Ia menoleh, menemukan raut memohon untuk tidak ditinggalkan. Dia dibutuhkan untuk ada di sisi Kouki, dan memahami hal itu, Seijuurou tertawa pelan dan mengecup halus pipi suaminya.

"Aku akan segera kembali, Kouki." Seijuurou kini menatapi teman-temanya. Tersenyum penuh kemenangan—dan terlihat menyebalkan—di mata para sahabatnya. "Tolong jaga Kouki dan anakku."

Mereka mengusir Seijuurou untuk segera pergi dari ruangan—agar tidak meninggalkan Kouki terlalu lama.

Kouki menatap nanar kepergian suaminya, ia ingin Seijuurou bersamanya. Baru sekian hari mereka berpisah, terasa seperti selamanya. Terlalu banyak hal aneh dan menakjubkan yang terjadi padanya, dan ia bahkan masih berusaha meyakinkan diri bahwa dirinya paham semua yang terjadi.

Pintu ditutup.

Kiseki no Sedai mengerubunginya, sibuk bertanya apa yang sesungguhnya terjadi selama ini.

Tempat tidur rumah sakit itu posisinya ditinggikan oleh Midorima agar Kouki bisa duduk lebih tegak sementara Kuroko mengganjal punggung temannya dengan bantal.

Kagami pamit sebentar menelepon Fukuda, Kawahara, dan alumni tim basket Seirin yang mengenal Kouki, menyampaikan kabar gembira dan aneh luar biasa; Kouki hamil sebulan.

Aomine malah bertanya bagaimana bisa Seijuurou membuat Kouki hamil, dan menyarankan mungkin Kiriko bisa menjadikan kisah ini sebagai proyek novel berikutnya.

Kise menyerahkan bingkisan yang tadi sempat mereka beli di supermarket dekat rumah sakit—selama Kouki belum siuman dan telah dipindahkan ke ruang rawat-inap, buah-buahan, yang malah dimakan Murasakibara.

Beberapa saat mereka berbincang, Kouki meringis nyeri. Perutnya sakit. Midorima mengusir mereka semua untuk tidak terlalu dekat dengan pemuda yang hamil itu. Hanya Kuroko yang dibiarkan tetap duduk di kursi pengunjung dekat ranjang pasien, menatap hangat temannya yang—antara sakit dan bahagia luar biasa—mengelus perutnya.

"Kau keajaiban, Kouki-kun."

Kouki tertawa kecil, menggeleng. "Ini tidak akan terjadi kalau aku tidak bersama Sei." Dia beringsut membenarkan posisinya, melihat setangkai lily putih menghiasi vas bunga di meja di sisi ranjang rumah sakitnya. Pandangannya melunak.

"Begitu tahu mendengar seluruh cerita keluarga kalian berdua tadi, dan mendengar diagnosis penuh harapan dokter bahwa kau kemungkinan besar memang hamil—karena gejalanya sama persis, Akashi-kun segera ganti bajunya yang ternoda darahmu, berlari pergi mencari bunga ini, dia membelikannya untukmu."

Kuroko menepuk punggung tangan sahabatnya. "Dia sangat tahu kau suka bunga."

Kouki menggeleng lagi. "Ini bunga yang Sei suka."

"Oh." Kuroko tersenyum tulus pada kawannya. "Sangat indah."

Kouki menggerutu pelan. Tangannya masih membelai perutnya yang belum berlekuk. Mencoba mengenali kehidupan lain dalam dirinya.

"Seijuurou bilang aku tidak tahu arti bunga lily putih. Tapi kulihat di internet, artinya memang pengabdian, persahabatan, malah cinta yang bertepuk sebelah tangan."

Kuroko tertawa pelan, geli. "Itu arti yang keliru."

"Hee? Lalu arti sebenarnya apa?"

"Dalam bahasa bunga asli yang diadopsi zaman Victorian, arti bunga lily putih adalah—"

Begitu mendengar jawaban Kuroko, Kouki terpaku. Rona di wajahnya, mata berkaca-kaca. Hatinya menghangat.

Seijuurou kini datang bersama keluarga mereka. Baru masuk pintu, dan muncul di ruang pandang suaminya, Kouki nyengir ceria seperti yang selalu Seijuurou ingat selama ini, tersenyum selayaknya yang membuat Seijuurou jatuh cinta padanya sejak dulu.

"Sei, sini!" serunya.

Mengabaikan kehadiran keluarga mereka yang tengah bertegur sapa dengan teman-teman mereka, Seijuurou bergegas mendekat pada suaminya—dan Kuroko sangat santun untuk tidak mengganggu privasi keduanya lantas menyingkir dengan sendirinya.

Kouki melingkarkan lengannya di leher Seijuurou, berbisik mesra arti bunga yang akhirnya ia ketahui—

Kerabat terdekat mereka tertawa melihat Kouki yang berinisiatif lebih dulu mengecup sayang bibir Seijuurou lebih dulu. Seijuurou tersenyum, membalas ciumannya, memeluk Kouki erat-erat.

Janji tak terucap seperti dulu ketika mereka mengucapkan ikrar saat musim semi dan bunga Sakura menghujani dunia.

Bersumpah takkan mau kehilangan dan berpisah dari yang tercinta lagi.


CHAPTER 7

.

To You, I Belong

..

"After all we've gone through, only to you, I belong

And it's heavenly to be with you."

...

Written by: Light of Leviathan


Fin

.

.

A/N: HAPPY AKAFURI DAY! This is our climax of 4/12 WEEK!

Kinana: Jangan membacanya terlalu serius, nanti kokoro kalian hilang dalam lembah angsty dan surga fluffy. Para panitia adalah dalang yang hebat.

Nenami Megumi: Terima kasih semuanya yang sudah mengikuti ff estafet ini. Semoga bisa menghibur(?) kalian semua dan berkenan di hati kalian.

Misa Kaguya Hime: Semuanya terima kasih banyak. ini fanfic estafet pertama yang aku buat bersama author-author lain. rasanya sangat "wow". Deg-degan setiap waktu, bagaimana ya reaksi para reader? Suka gak ya? Aneh gak ya? Tapi senangnya melihat respon yang baik dari kaliab semua XD (kecup basah kalian semua). Para authors, otsukare sama deshita~~ dan jujur gak tahu mau bicara apa lagi. intinya sih, terima kasih banyak semua. mari kita sebarkan terus cinta manis dari emperor singa dan chihuahua kita XD

Fifuri: Sejujurnya aku masih trauma karena gak begitu bisa nulis. Terima kasih sama yang lain, sama Hi-senpai terutama, mau aja kurusuhin bantu aku nulis part-ku. Pokoknya, makasih untuk semua yang mau baca FF ini.

Minge-ni: Selamat menikmati ff estafet dari kami, semoga memuaskan. Dan entah kenapa jd angst bgitu tp yang pasti happy ending Hahahahha. Pengalaman yang seru bngt bisa bkin ff bareng lechi tachi yg laen. Mari kita sebarkan benih benih cinta akafuri. Yyyeeaaayyyy XD

Hi Aidi: Aku gak tahu harus ngomong apa mengenai bagianku yang super mellow tapi...tetap bersama AkaFuri! Dan *lirik Light di belakangku* aku mengandalkanmu!

Light of Leviathan: *nyengir* nulis fic ini sama yang lain memang ajaib banget rasanya, terlebih aku juga masih ngurusin yang lain sama panitia dan admin CAFEIN. Dan selama nunggu giliran nulis, tiap chapter baca dan aku dibuat kaget (waku-waku, doki-doki) beragam macam ekspresi. XD Ini pengalaman baru dan berharga bagiku. Terima kasih untuk teman-teman panitia setim dan LeChi-tachi yang setia RnR fanfiksi kami ini sampai tamat. Salam cinta dari kami untuk AkaFuri dan Lechi-tachi! Sampai jumpa lagi di event 4/12 dan 12/4 Day berikutnya! /hearts/

*kasih sebuket bunga Lily putih untuk AkaFuri, dan bagi-bagi setangkai Lily putih untuk LeChi-tachi*

.

.

White Lily: "It's heavenly to be with you."